Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Tutankhamon’

Sabtu, 21 Juli 2012, saya berdua suami ‘ngabuburit ‘, istilah bahasa Sunda untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa, dengan mengunjungi expo « Tutankhamon,  makam dan harta peninggalannya ». Pameran ini diselenggarkan Paris Expo, di hall 8 Porte De Versailles, Paris,  selama 3.5 bulan, sejak tanggal 12 Mei 2012 hingga 1 September 2012. Tujuan utama pameran ini adalah untuk  memperlihatkan hasil temuan Howard Carter, arkeolog Inggris pada tahun 1922 lalu, lengkap dengan prosesnya, melalui video serta replika temuan spektakuler tersebut.

Tak dapat dipungkiri, berita mengenai Mesir dengan fir’aun dan temuannya selalu menarik untuk disimak. Bahkan sampai muncul imu untuk mempelajari hal ini. Egyptology, begitulah nama ilmu tersebut. Ilmu ini secara khusus mempelajari sejarah Mesir kuno, yaitu Mesir sejak tahun 5000 SM hingga abad 4 AD. Termasuk didalamnya tentang bahasa, agama, seni dan segala hal yang berhubungan dengannya.

Saya sendiri secara pribadi tertarik mengikuti sejarah firáun karena  Al-Quran dan juga hadist banyak menyinggung hal ini. Kisah nabi Ibrahim as bersama istri pertamanya Saras, pergi ke Mesir hingga akhirnya kembali ke negri asalnya dengan membawa Siti Hajar yang merupakan hadiah dari fir’aun, nabi Yusuf as dengan kisah panjang hidupnya hingga diangkat menjadi penasehat fir’aun di Mesir dan yang paling ‘heboh’ adalah kisah nabi Musa as.

Kisah nabi bertubuh gagah perkasa ini diabadikan dalam Al-Quran dalam banyak surat, secara acak. Dari beliau masih bayi dan dihanyutkan di sungai hingga dewasa, menikah dan berdakwah melawan kekejaman fir’aun yang tak lain ayah angkatnya sendiri.

« Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak“, sedang mereka tiada menyadari ».(QS.Al-Qashash(28) :8-9).

Rasulullah bersabda, “Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, istri Fir’aun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwalid, istri Rasulullah SAW; dan Fatimah binti Muhammad” (HR Bukhari).

Istri fir’aun yang dimaksud ayat 9 surat .Al-Qashash di atas adalah Asiah binti Muzahim, sebagaimana sabda Rasulullah di atas. Rasulullah saw menyebutkan bahwa Asiah sederajat dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwalid, dan Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah karena  meski suami Asiah seorang tokoh yang sangat kejam, zalim dan menuhankan diri, Asiah tetap kokoh berani mempertahankan keimanannya.

“Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.”.  ( QS. An-Naziyat (79):20-24).

Pada beberapa kisah nabi Musa juga disinggung adanya Karun, pembesar Mesir kaya raya yang bahkan kunci-kunci gudang hartanya saja harus dipikul sejumlah bodyguard, saking beratnya.

“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(QS.Qashash(28):76).

Sementara kehidupan nabi Yusuf as diabadikan dalam surat 12 dengan nama yang sama yaitu, surat Yusuf.  Ini merupakan satu-satunya kisah nabi Allah yang diceritakan secara utuh dan berurut  dalam satu surat Al-Quranul Karim. Ayat 54 dan ayat 55 surat Yusuf berikut adalah ayat yang menunjukkan bahwa nabi yang dikisahkan sebagai nabi yang paling tampan ini, pernah menduduki jabatan penting di Mesir.

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”  

Sedangkan kisah nabi Ibrahim di Mesir diceritakan oleh Rasulullah melalui beberapa hadist. Disamping itu masih ada ayat lain tentang negri Mesir yang juga cukup menarik. Yaitu kisah Dzul Qarnain, yang berarti si pemilik dua tanduk. Dikisahkan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang  raja yang sangat adil dan bijaksana. Kekuasaannya meluas hingga ke dataran tinggi Cina dimana disana ia membangun tembok besi. Al-Quran menceritakan bahwa di akhir zaman nanti tembok ini akan dihancurkan oleh Ya’juj Ma’juj, orang-orang jahat bermata sipit pembuat kerusakan,  sebagai salah satu tanda datangnya Hari Kiamat.

Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” “.(QS.Al-Kahfi(18):94).

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar“.(QS.Al-Kahfi(18):98).

Meski Al-Quran tidak menerangkan lebih jauh siapa raja adil tersebut, namun ada sebagian cendekiawan Muslim yang memperkirakan bahwa raja tersebut adalah salah satu fir’aun, yaitu Akhenaton. Sejarah mengatakan bahwa Akhenaton adalah satu-satunya raja Mesir yang menganut Monotheisme ( satu tuhan), berlawanan dengan fir’aun lain yang Polytheisme ( banyak tuhan) dan Paganisme.

Menariknya lagi, raja tersebut ada kemungkinan adalah orang dekat fir’aun yang hidup pada zaman nabi Musa as dan diam-diam calon raja tersebut telah beriman kepada Tuhan-nya Musa. Dengan lantang, laki-laki ini berani menantang fir’aun, sang tirani, dengan membela Musa dan ajaran Tauhidnya.

 “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.(QS.Al-Ghafir(40):28).

Pendapat lain mengatakan bahwa Dzulqarnaen kemungkinan adalah Alexander the great, raja dari Masedonia yang terkenal itu. Namun mayoritas ulama menolaknya.

Kembali ke expo tentang Tutankhamon. Howard Carter ( 1874-1939) memulai karirnya di Mesir pada tahun 1891 di usianya yang ke  17 tahun sebagai seorang seniman. Ia dipekerjakan tim expedisi penggalian makam para firáun karena keahliannya dalam menggambar dan meniru dekorasi peninggalan barang-barang berharga temuan tim. Ia mewarisi bakat seni tersebut dari darah ayahnya, yang memang seorang seniman.

Howard mulai bergabung pada tahun 1907 dengan tim expedisi yang dipimpin Lord Carnavon, seorang bangsawan milyarder Inggris yang sangat terobsesi dengan sejarah para firaun. Pada tahun 1922, setelah melalui perjuangan yang panjang dan sempat terhenti oleh adanya PD I ( 1914 – 1917 ) akhirnya Howard dan timnya berhasil menemukan makam Tutankhamon, fir’aun ke 11 dari dinasti ke 18, Kerajaan Baru ( the New Kingdom).

Kompleks pemakaman spektakuler ini ditemukan di Valley of the king ( Wadi Al-Mulk atau lembah para raja) yang  terletak  di bukit Theban di tepi sungai Nil, Thebes ( Luxor)  900 km di selatan Kairo. Ini adalah kompleks makam raksasa milik para firaun dari dinasti 18- dinasti 19 yang berlangsung selama 5 abad, yaitu dari 16 SM hingga 11 SM. Di bawah lembah inilah selama kurang lebih 3700 tahun tersembunyi 63 makam dan ratusan ruangan berisi peninggalan berharga para firaun, penguasa Mesir yang sering dianggap dan menggagap diri tuhan itu.

Sesuai adat dan kebiasaan Mesir kuno, jenasah para fir’aun itu ditemukan dalam keadaan sudah dibalsem alias dibuat menjadi mumi. Diantara mumi para fir’aun ini terdapat mumi Ramses II, fir’aun terakhir The New Kingdom. Ramses II terdaftar sebagai firaun ke 3 dari dinasti ke 19.  Ia  memerintah Mesir dari tahun 1279 SM hingga 1213 SM. Ia mendapat julukan Ramses the Great karena dianggap sebagai firaun yang paling sukses dan terkenal.

Lebih menarik lagi, Ramses II inilah yang paling sering dianggap sebagai firaun yang hidup pada zaman nabi Musa as. Dasarnya adalah karena muminya mengandung kadar garam yang sangat banyak, cocok dengan firaun yang ditenggemkan Sang Khalik di laut Merah.

“ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”. Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka”. (QS. Toha(20):77-78).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

( Bersambung).

Read Full Post »

Mei  2008. Setelah Masjidil Aqsho, kunjungan ke Kairo adalah merupakan tujuan terakhir dari paket umrah kami kali ini. Pesawat Air Jordan yang kami tumpangi terbang lumayan rendah  diatas gurun Sinai di perbatasan  Yordania-Mesir. Lautan pasir gersang tersebut terlihat angker dengan bukit-bukit batu  cadas disana sini. Bayangan nabi Musa as dan saudaranya nabi Harun as secara spontan terlintas di benak saya.    Tak dapat dibayangkan betapa beratnya perjuangan kedua nabi Allah itu ketika harus memimpin bani Israil lari dari kejaran tentara Firaun. Entah berapa lama perjalanan yang mereka butuhkan hingga sampai ke gurun Sinai. Di tempat ini pulalah Musa as dan kaumnya terpaksa harus menetap selama 40 tahun disebabkan sifat pengecut dan tidak setianya bani Israil. Mereka enggan memenuhi perintah rasul-nya untuk  memasuki tanah Palestina yang ketika itu dijanjikan Tuhannya.

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (QS.Al-Maidah (5):22).

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. …“(QS.Al-Maidah (5):26).

Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak pula laut Merah yang memisahkan benua Asia dari benua Afrika. Saya berusaha keras membayangkan bahwa laut tersebut berwarna merah sesuai dengan namanya namun tidak berhasil. Dari pesawat udara laut tersebut memang  tidak sebiru seperti umumnya laut tetapi juga tidak merah.

Pikirannya saya kembali menerawang , kira-kira bagian mana  laut tersebut yang berabad-abad tahun yang lalu pernah   terbelah dan menenggelamkan  Fir’aun dan bala tentaranya.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”.(QS.Al-Baqarah(2):50).

Ingatan saya kembali ke Palestina, tepatnya ke makam nabi Musa as yang terletak sekitar 11 km dari kota Jericho.  Kalau dipikir sungguh keterlaluan kaum Yahudi ini. Mereka sama sekali tidak tahu berterima-kasih. Musa as yang telah demikian bersusah payah berjuang membawa keluar bani Israil dari kekejaman Firaun, penguasa Mesir ketika itu , ternyata  makamnya amat sangat sederhana. Padahal kaum yang dulunya hanya diperlakukan sebagai budak belian itu sekarang telah menjadi kaum yang berpendidikan tinggi dan terkaya di dunia.

Modern Kairo

Modern Kairo

Tak lama kemudian pesawatpun  mendarat di bandara Kairo.  Suhu udara di ibu kota Mesir tersebut sangat panas dan berdebu.  Mula-mula perjalanan dari bandara menuju pusat kota melalui jalan utama Kairo cukup mengesankan. Jalan raya  dengan jalur hijau yang ditanami pohon palem terlihat relatif teduh dan bersih. Bangunan-bangunan disepanjang jalan juga tertata rapi bahkan ada sedikit kesan ‘eropa’di sana sini.  Apalagi menjelang jembatan utama yang menyeberangi sungai Nil, kota Kairo terlihat indah, tak kalah dengan kota-kota besar dunia lain, khas kota metropolis.

Namun makin lama makin terlihat wajah asli kota Kairo seperti yang dilukiskan Habibul Rahman dalam novel “ Ayat-ayat Cinta”nya. Kairo terlihat ‘crowded’   dan kumuh.  Berbagai jenis angkutan umum bercampur baur lengkap dengan klaksonnya yang memekakkan telinga. Para pejalan kaki menyebrang  sembarangan. Saya teringat apa yang dikatakan guide kami tentang trik menyebrang jalan di kota ini. Satu, tutup telinga, tutup mata. Dua mantapkan hati untuk menyebrang dan terakhir baca doa! Alhasil, saya dan suamipun sampailah di mal yang terletak diseberang hotel walaupun dengan hati ketar-ketir karena memang kami nyaris tertabrak!

Dilihat dari sejarah dan bentuk bangunannya, Kairo terbagi menjadi 2, yaitu Kairo modern dan Kairo kuno. Pemerintah tampaknya tidak mungkin merenovasi wajah Kairo kuno karena selain sarat sejarah juga padatnya penduduk. Namun di sisi lain ia tetap ingin menggunakan kota tersebut sebagai ibu kota. Oleh karenanya dapat kita saksikan sekarang adanya berkilo-kilo meter bangunan tua dan kumuh sepanjang jalan yang sudah tidak digunakan dan akhirnya dimanfaatkan penduduk sebagai kuburan dan ditinggali penduduk miskin sebagai penjaganya.

Hal pertama yang bagi sebagian besar wisatawan sebuah surprise adalah kenyataan bahwa  pyramid raksasa ‘The Great Pyramid of Giza’ ternyata  hanya terletak beberapa km dari pusat kota. Bahkan ketika kami sedang menyantap makan siang di hari pertama kunjungan kami, ujung pyramid terlihat dari meja makan kami. Namun demikian keadaannya  langsung berubah begitu mendekati lokasi. Piramid berdiri kokoh  menjulang di gurun tinggi berpasir dan berdebu  tebal dengan ‘Sphink’nya, patung singa berkepala manusia, yang dengan  gagah perkasa seolah sedang menjaga agar lokasi tetap eksis tanpa harus bercampur dengan  riuh rendahnya suasana kota.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Malam  harinya pemandangan tampak lebih mengesankan lagi. Dengan bantuan beberapa lampu sorot yang diarahkan ke pyramid dan sang body guard ‘ sphink’ , para wisatawan dapat  duduk-duduk  di kursi yang ditata rapi menghadap pyramid sambil menghayal dan membayangkan kehidupan beribu-ribu tahun yang lampau.

Piramid Giza yang merupakan 1 dari 97 piramid yang ada di seluruh Mesir ini merupakan piramid terbesar dengan tinggi 146 m. Piramid ini terdiri dari 3 bangunan pyramid. Yang terbesar dibangun oleh  Raja Cheops (Khufu) pada 2500 an SM dalam waktu 20 tahun. Sedangkan pyramid kedua dibangun oleh putanya, raja Chepren ( Khafra’). Piramid selain menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raja konon juga dimaksudkan sebagai tangga menuju hidup abadi di singgasananya yang tertinggi yaitu di langit. Karena para fir’aun menganggap dirinya Tuhan.

Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.(QS.Al-Qashash(28):38).

Esok harinya kami pergi mengunjungi museum of Cairo. Berbagai peninggalan sejarah Mesir kuno terlihat di museum ini. Peradaban negri yang telah tumbuh subur sejak 7000 tahun silam ini memang menarik. Namun yang paling menarik adalah sejarah dan cerita tentang Fir’aun. Menurut sejarah, Mesir kuno pernah diperintah oleh 330 Fir’aun yang terbagi menjadi 31 dinasti. Setelah itu Mesir sempat takluk dibawah Iskandar Agung, Romawi dan kemudian Yunani sebelum akhirnya ditaklukkan Islam dibawah kepemimpinan panglima ‘Amru bin ‘Ash pada tahun 641 M pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab ra.

Adalah Tutankhamon, firaun yang diperkirakan meninggal dalam usia amat muda, yaitu 18 tahun. Makamnya ditemukan di ‘Lembah Para Raja’ atau ‘Valley Of The King’ pada tahun 1922 lalu setelah diperkirakan terkubur selama lebih 3220 tahun! Tidak hanya itu, para arkeolog bahkan  berhasil menemukan harta karun yang disimpan di sejumlah peti bersama jasadnya yang telah dimumikan. Harta yang berupa berbagai pajangan dan patung besar dan kecil yang terbuat dari emas dan marmer, perhiasan emas dan permata bahkan sejumlah kursi yang ditatah emas dan permata yang sungguh nilainya tak terkira itu sekarang memenuhi seluruh lantai 2 Museum Kairo.

Ironisnya, di lantai berikutnya dipajang pula keranjang kecil sederhana yang konon menyimpan jasad rakyat miskin yang tidak mempunyai apa-apa untuk menemaninya di alam berikutnya. Selanjutnya ada pula peti dengan gambar berbagai macam makanan, buah-buahan dan sayur mayur sebagai teman si mati yang hanya mampu membuat gambar apa yang dibutuhkannya di alam berikut.

Esoknya, karena pihak travel tidak mengadakan jadwal khusus kunjungan, saya,suami dan salah seorang diantara rombongan setanah air memutuskan mengunjungi piramid tertua di Mesir. Piramid yang berada di padang pasir Sakkara, 25 Km Kairo ini dibangun oleh Raja Zoser. Di lokasi pyramid ini masih terlihat adanya peninggalan bangunan kuno dengan pilar-pilar besar dengan berbagai lukisan yang menghiasi dinding marmernya yang berwarna merah muda kecoklatan.

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

Perjalanan dengan kendaraan pribadi milik seorang mahasiswa Al-Azhar yang hari itu merangkap menjadi guide sekaligus sopir kami ini berlanjut ke Memphis. Disini dapat kita temui patung raksasa Ramses II. Sayangnya, ntah mengapa patung setinggi 13 m ini tidak berhasil dibuat berdiri oleh para pembuatnya sehingga pengunjung hanya bisa melihatnya dalam keadaan terbaring.

Anehnya lagi, dari sekian banyak patung yang kami jumpai, sebagian besar hidungnya dalam keadaan rusak. Menurut beberapa guide, konon, mereka mempunyai anggapan bahwa orang yang telah meninggal pada suatu saat  dengan kembalinya roh si mati, ia akan hidup kembali. Dan melalui hidung inilah roh akan masuk ke jasad. Oleh karenanya untuk menghalangi agar mayit tidak hidup lagi, para musuh seringkali  merusak hidung patung musuh-musuhnya!

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Pada hari terakhir  kami mengunjungi peninggalan sejarah Islam. Kairo memiliki lebih dari 150 masjid bersejarah,diantaranya adalah Benteng Salahudin, Masjid Amr Bin Ash, Masjid Ahmad Ibnu Talon, Masjid Muhammad Ali Pasha,  Masjid Saiyedah Zenab, dan Masjid Al-Azhar. Masjid Amr Bin Ash tercatat sebagai masjid tertua di Mesir yang didirikan Gubernur Islam pertama di negeri itu, Panglima Amr Bin Ash, pada tahun 21 Hijriyah atau 721 Masehi.

Masjid Ali Pasha

Masjid Ali Pasha

Masjid Muhammad Ali Pasha yang berada didalam kompleks Benteng Salahuddin adalah peninggalan Islam pertama yang kami kunjungi. Masjid dengan arsitektur Turki ini sangat mirip dengan masjid Biru, Blue Mosque di Istambul. Masjid ini terlihat sangat menonjol karena selain memang megah dan besar juga terletak di ketinggian. Nama Ali Pasha sendiri diambil dari nama seorang panglima berdarah Albania yang ditugasi sultan Turki Ottoman untuk memerintah Mesir pada tahun  1800an. Sedangkan benteng Salahuddin adalah benteng yang dibangun oleh Sultan Salahuddin Al-Ayubbi pada abad 10 dari ancaman serangan pasukan Salib  ke negri tersebut. Meskipun ternyata pasukan ini pada akhirnya tidak pernah sampai ke daerah pusat kekuasaan sultan yang sangat dikenal keadilannya itu.

Selanjutnya adalah masjid Al-Azhar. Masjid yang hingga kini dikenal sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam ini dibangun  pada tahun 970M dan merupakan bagian dari universitas Al-Azhar. Di masjid ini kami sempat melaksanakan shalat Jumat yang diikuti banyak sekali jamaah perempuan.

Sayangnya, dari sekian banyak masjid dan peninggalan Islam hanya sebagian saja yang masih terlihat terawat dengan baik.

Jadwal acara malam terakhir kunjungan kami ke Kairo yang telah disusun pihak travel adalah makan malam di kapal pesiar. Namun kami mendengar bocoran bahwa di atas kapal tersebut biasanya di suguhkan acara tari perut ! Tentu saja kami protes. Bagaimana mungkin mereka tega mengotori wisata umrah ini dengan hal-hal yang tidak pantas.

Setelah melalui pembicaraan yang lumayan alot, orang Mesir memang terkenal dengan sifat keras kepalanya, akhirnya disepakati bahwa ketika penari akan masuk kami akan segera diberi kode. Dengan demikian kami bisa pergi keluar ke dok kapal.

Yang juga cukup mencengangkan adalah soal makanan. Makanan yang disediakan di kapal sungguh luar biasa buanyaknya. Namun ternyata orang Arab, yang merupakan tamu terbanyak di kapal, mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan tersebut dalam jumlah yang juga banyak hingga ada saja tamu yang tidak kebagian makanan. Namun apa yang terjadi? Makanan-makanan tersebut disisakan begitu saja di dalam piring hingga terbuang percuma…

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya ”.(QS. Al-Isra(17):26-27).

Esok paginya, kamipun pulang ke Jakarta dengan transit beberapa jam  di Bangkok dengan membawa kenangan dan hikmah yang banyak, Insya Allah…Terima-kasih Ya Allah …

Jakarta, Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »