Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

( Sambungan : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/  )

Begitulah kami mengakhiri malam itu dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Esok paginya, sesuai rencana kami kembali lagi ke Parthenon. Resepsionis hotel memberi saran, dengan waktu yang hanya 3-4 jam kami hanya memiliki 2 pilihan. Mengunjungi Parthenon dan the New Acropolis Museum yang letaknya masih di kompleks Acropolis. Atau mengunjugi Parthenon dan berkeliling kompleks Acropolis serta sebagian kota dengan kereta mini. Pilihan kompak, jatuh pada piihan ke 2, Alhamdulillah ..

Di depan sebuah bangunan di kaki bukit menuju Acropolis dimana kami bertemu dengan pria Muslim asli Aljazair kemarin, kami berhenti dan berfoto sebentar. Bangunan yang sebagiannya dipagari karena sudah menjadi puing tersebut adalah bekas masjid dan sejak lama telah berubah fungsi menjadi sebuah museum.

Setelah puas memandang bekas masjid ber-arsitektur Usmaniyah ini kamipun segera menuju kereta mini merah yang di parkir tidak jauh dari tempat tersebut. Singkat cerita, kereta lalu bergerak perlahan menaiki bukit dimana kompleks reruntuhan bangunan peninggalan Yunani/Romawi kuno berdiri tegak. Kereta ini berhenti di beberapa situs penting. Penumpang dapat turun dan naik lagi sesuka hati. Namun kereta baru akan datang lagi setiap setengah jam sekali. Sesuai kesepakatan, kamipun lalu turun di Parthenon yang terletak di puncak tertinggi bukit.

Dari ketinggian  ini kota Athena yang berada di pinggir laut Aegea dapat kita nikmati. Demikian juga sisa-sisa peninggalan kuno Yunani yang berada di kompleks ini. Diantaranya yaitu amphiteater kuno dimana pertunjukkan barbar di masa lalu, antara para tahanan dan binatang buas sering dipertontonkan.

Parthenon

Parthenon

Ketika kami sedang asyik-asyiknya mengamati Parthenon, kuil marmer berwarna putih gading,  berpilar raksasa tanpa atap, tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencangnya. Refleks, saya langsung berpegangan pada tambang yang sengaja dipasang memagari kuil agar pengunjung tidak menjamah dinding-dindingnya. Saya sempat melihat beberapa pengunjung yang hampir jatuh terpeleset. Maklum, sisa lantai yang sempal disana sini memang terbuat dari marmer yang amat licin.

Saat itulah saya melihat prasasti tentang Parthenon yang berada di samping tambang yang saya jadikan pegangan. Dari situ saya baru tahu ternyata Parthenon pernah dijadikan masjid, yaitu pada era Ottoman berkuasa di Yunani. Masjid tersebut berfungsi dengan baik selama 229 tahun ( 1458-1687) sebagaimana tertulis pada paragraf 2 dan 3 terakhir prasasti.

Yunani memang memiliki sejarah yang teramat panjang. Negri ini pernah menjadi bagian dari kekaisaran Romawi, Byzantium dan kesultanan Ottoman. Kekuasaan Turki Ottoman mulai menjamah Yunani di akhir abad ke 14, yaitu pasca jatuhnya Konstatinopel ( Istanbul) dari Romawi Timur di tahun 1453. Romawi sejak dulu memang memiliki arti khusus bagi kaum Muslimin.

« Telah dikalahkan bangsa Rumawi,di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). ” (QS.Ar-Ruum(30):2-4).

Ayat yang turun di abad ke 7 ini menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Quran, sekaligus tanda awal kemenangan dan kejayaan Islam. Karena, Rumawi yang ketika itu adalah kerajaan besar memang jatuh tak lama setelah turunnya ayat di atas. Yaitu ketika Rumawi kalah terhadap kerajaan Parsia/Byzantium yang selalu bermusuhan dan secara silih berganti mereka kalah dan menang. Peperangan yang melelahkan ini akhirnya membuat keduanya mudah dijatuhkan oleh pasukan Muslim. Dan sejak itulah Islam berkibar.

Rasulullah bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad].

Hadist diatas baru terealisasi pada tahun 1453 M dan penakluknya adalah Sultan Muhammad al-Fatih. Inilah awal Islam memasuki bumi Yunani. Sementara Parthenon, kuil yang awalnya dipergunakan untuk memuja dewi Yunani kuno ternyata juga pernah digunakan sebagai gereja oleh umat Kristen Ortodoks, sebelum penaklukan Ottoman. Yaitu pada masa Byzantium berkuasa.

Parthenon menjadi seperti sekarang ini, tanpa atap dan hancur disana sini setelah pasukan Venesia membombardir Ottoman di Athena pada abad 17 lalu. Ketika itu orang-orang Ottoman menjadikan Parthenon yang masih berfungsi sebagai masjid sebagai tempat perlindungan.  Padahal di salah satu bagian bangunan raksasa itu pula pasukan Ottoman menyimpan bubuk mesiu. Akibatnya dapat dibayangkan. Parthenon hancur bersama ratusan orang yang bersembunyi di dalamnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiún ..

Namun, Parthenon tidak sepenuhnya hancur. Bagian tengahnya memang rusak parah, tetapi pilar-pilar luarnya masih banyak yang berdiri kokoh dan tegak. Seolah menantang orang-orang yang memandangnya. Menjadi saksi bisu kebrutalan orang-orang yang menyerang mereka yang berlindung di rumah-Nya.

Sejak itulah kesultanan Islam Ottoman dan pengaruhnya lenyap dari bumi Yunani. Tidak pernah ada satupun masjid berdiri di negri yang konon dipercaya sebagai tempat lahirnya Demokrasi ini. Tidak ada bukti bahwa toleransi pernah ada di negri ini. Kecuali di Santorini. Di pulau yang terbentuk melalui proses yang memilukan tersebut terdapat bukti nyata bagaimana Islam dibawah Ottoman merealisasikan toleransi.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS.An-Nahl(16):125).

Penduduk pulau yang mayoritas beragama Kristen Orthodox itu dibiarkan menjalankan agama mereka. Puluhan gereja cantik berwarna putih biru menjadi lambang kemakmuran dan kejayaan pulau ini. Santorini faktanya memang mencapai puncak kemakmuran di era Ottoman. Padahal pulau ini sangat jauh letaknya dari pusat pemerintahan Konstantinopel yang Islam. Namun kebutuhan penduduknya tetap menjadi prioritas dan perhatian pusat.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari).

Akhirnya kamipun menutup perjalanan ini dengan berkeliling kota, dengan perasaan yang kacau. Dengan meneruskan menaiki kereta mini berwarna merah itu, kami beruntuing karena sempat menyaksikan pertukaran penjaga kediaman resmi sang presiden.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 2 November 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

IMG_2456IMG_2691IMG_3079IMG_2864Santorini saat ini adalah bagian dari Yunani yang mampu mendatangkan devisa yang tidak sedikit. Tiap tahun jutaan turis datang mengunjungi pulau ini untuk mengagumi keindahannya yang begitu eksotis. Tak sedikitpun tampak kepedihan atau kenangan buruk dimasa lalu. Semuanya terkubur dan menguap ntah kemana.

Seolah tak mampu mengambil pelajaran dan hikmah hilangnya separuh pulau ini, Mykonos, salah satu pulau di kepulauan Cyclades yang lebih dekat letaknya dengan Athena, kabarnya adalah surga bagi kaum Homoseksual yang makin lama makin populer diduna yang fana ini. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan kaum nabi Luth yang kemudian di azab oleh Yang Maha Kuasa. Di pulau yang kabarnya tak kalah cantiknya dengan Santorini ini mereka berkumpul dan berpesta tanpa sedikitpun rasa khawatir azab bakal menerkam sebagaimana tetangga mereka ribuan tahun lalu. Naúdzubillah min dzalik.

Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,  yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”.(QS.Huud(11):81-83).

Dan disinilah kami berada. Semoga banyak hikmah yang dapat kami ambil, aamiin. Di pagi hari bulan Juni, dibawah matahari yang bersinar cerah itu, kami bertiga menyusuri Santorini bagian utara. Dengan mengendarai mobil kecil yang kami sewa di bandara kami memulai penjelajahan, dimulai dari bandara yang terletak di pesisir timur pantai bagian tengah menuju lokasi-lokasi menarik yang biasa dikunjungi wisatawan. Bersyukur petugas yang mengurus mobil sewaan kami orang yang benar-benar ramah. Apalagi mengetahui kami datang dari Perancis dan bisa berbahasa Perancis. Sontak, dengan bahasa Perancisnya yang lumayan lancar, ia menandai tempat-tempat tersebut di atas peta kami, sembari berceloteh panjang.

« Jangan khawatir. Semua makanan di pulau ini halal koq », katanya mengejutkan, yakin tamunya pasti Muslim. Apalagi mengetahui bahwa kami adalah orang Indonesia. « Asal tidak lupa membaca Basmallah », lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Mau shalat juga g masalah, bukankah bumi Allah ini luas”, tambahnya lagi, sambil mengutip sebuah ayat Al-Quran, dalam bahasa Arabnya pula, membuat kami terbelalak kagum.

Usut punya usut, ternyata ia pernah 9 tahun tinggal dan bekerja di Riyad. “ Santorini juga aman lho, bebas dari kejahatan. Karena disini hukum pancung dan potong tangan juga berlaku”, sindirnya lagi sambil tersenyum-senyum.

Saya dan suami hanya saling pandang, sama sekali tidak berminat menanggapi ocehannya itu. Pernyataannya tentang kehalalan makanan di pulau ini lebih menarik untuk dicari maksudnya apa.

Fira, ibu kota Santorini; Imerovigli, kota dimana hotel kami berada, hingga Oia, kota yang paling disenangi turis di ujung utara kepala pulau dan  Amoudi bay di ujung selatan kepala pulau kami tandangi pagi hingga menjelang sore hari itu juga. Ini berarti setengah Santorini bisa dijelajahi dalam satu hari saja. Santorini memang hanya pulau kecil. Namun sungguh mati, pemandangannya benar-benar menakjubkan. Subhanallah .. Alangkah indahnya ciptaan-Mu ya Allah ..

Kemanapun kami berjalan, laut biru tua tenang nan jernih dengan tebing-tebing panjang curamnya yang berliku-liku memenuhi pandangan mata kami. Beberapa kali kami berpapasan dengan motor-motor besar yang di kendarai pasangan-pasangan bule bercelana pendek, berkaos tank top lengkap dengan topi dan kaca mata hitamnya. Santorini dengan mataharinya yang bersinar terik tampaknya benar-benar surga bagi mereka, mengingat matahari yang demikian hanya berlangsung 2 atau 3 bulan saja, yaitu pada waktu musim panas.

Setelah makan siang yang kesorean di salah satu restoran sea food dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan kamipun menuju hotel untuk beristirahat. Selama perjalanan tersebut rasanya tak satupun resto berlabel “Halal”kami lewati.

Besok kita cari kebab yuk, mungkin baru tuuh halal ”, ucap suami, menghibur.

Sorenya, menjelang magrib kami kembali meninggalkan hotel untuk kembali berkeliling menikmati keindahan pulau. Magrib sengaja kami niatkan untuk digabung dengan Isya, nanti sepulang bepergian. Kami kan musafir, jadi tidak masalah.

Sun set kami lewati di tengah perjalanan, di antara kelokan-kelokan  tajam jalanan. Sayang, info  tempat terbaik untuk menyaksikan sun set ini terlambat kami dapatkan. Mustinya Ioa adalah tempatnya. Namun kami cukup puas. Malam itu kami kembali ke hotel dan tidur dengan lelap. Sarapan di teras dengan pemandangan super menakjubkan telah menanti keesokan paginya.

“ Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.(QS.Ar-Rahman(55):13).

Hari-hari berikutnya kami memuaskan mata dan hati menikmati kebesaran-Nya dengan berkeliling pulau, baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki. Permukaan pulau yang sama sekali tidak datar memaksa penduduk Santorini agar membangun rumah tinggal mereka dengan cara memahat dan memotong tebing-tebing curamnya. Hotel, villa, toko dan rumah penduduk setempat berbaur menjadi satu, berdiri berdempetan di gang-gang sempit yang juga berkelak-kelok dan naik turun. Tembok yang diwarnai putih dan biru terlihat mendominasi Santorini. Demikian pula puluhan gereja sederhananya yang bertebaran di seantero pulau berpenduduk mayoritas Kristen ini.

Tapi jangan membayangkan hotel atau villa bertingkat 5, misalnya, sama dengan hotel pada umumnya. Karena  rata-rata hotel dan villa disini setiap lantainya hanya mempunyai dua bahkan ada yang cuma 1 kamar. Villa 2 kamar yang kami tempati tercatat di lantai 5. Namun ternyata kami bukannya harus naik tapi sebaliknya malah harus turun tangga, bukan lift, hingga 5 lantai ke bawah. Itupun tangganya benar-benar super terjal. Jadi siap-siap saja badan pegal-pegal dan tangan ber-spir karena kita harus mengangkat sendiri koper dan barang bawaan kita. .. 🙂 …

3 hari 2 malam puas sudah kami menikmati pulau cantik karya-Nya meski melalui latar belakang yang memilukan. Pemandangan dari bagian atas pulau baik dari gang-gang sempit di sela-sela rumah-rumah penduduk dan villa-villanya maupun dari atas cable car, dari pelabuhan tua di bagian terendah pulau hingga pesisir pantai putih maupun pantai tanah merahnya dengan airnya yang biru, tenang dan super jernih, semuanya sungguh mengagumkan mata dan hati ini. Subhanallah .. Sungguh indah ciptaan-Mu ya Allah .. Semoga Kau berikan orang yang memandangnya kemampuan untuk mengambil hikmah dibalik semua itu. Allahu Akbar !

(Bersambung : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/ )

Read Full Post »

Peran pemimpin dalam Islam

Pesawat Air Turkish yang kami tumpangi mengudara on schedule, tinggal landas dari bandara Charles de Gaule Paris menuju Istanbul, Turki. Tujuan akhir kami adalah Jakarta, untuk berkumpul dengan keluarga besar di hari Lebaran. Sengaja kami memilih penerbangan milik Turki dengan transit sekitar 20 jam agar dapat mengunjungi BlueMosque sekaligus merasakan buka puasa di bekas ibu kota kekhalifahan Ottoman itu. Ketika itu memang bulan Ramadhan.

Sebenarnya kami pernah mengunjungi Istanbul beberapa tahun lalu. Tapi kurang begitu puas karena kami datang pada waktu yang kurang tepat, yaitu bulan Desember. Baru ketika itu kami menyadari bahwa Istanbul ternyata sama dengan kota-kota Eropa lainnya, dingin plus salju turun di bulan tersebut, meski tidak terlalu tebal. Mungkin karena hujan hampir setiap hari turun. Namun tetap saja cukup mengganggu dan mengurangi keleluasaan kami menikmati keindahan kota legendaris tersebut. Itu sebabnya pada penerbangan mudik kali ini kami memilih Air Turkish dengan tujuan utama bisa memuaskan keinginan mengunjungi lagi masjid biru yang terkenal itu.

Singkat cerita, beberapa waktu setelah pesawat mengudara, kereta dorong berisi makananpun datang, menawarkan hidangan makan siang. Pria berusia 35 tahunan yang duduk di sisi jalan deretan kursi kami segera menentukan pilihan makanan yang ditawarkan pramugari berambut pirang dengan wajah khas Turkinya.

Sementara kami berdua dengan halus mengatakan bahwa kami tidak makan karena sedang berpuasa.  Mendengar itu, sontak pria berkulit hitam itupun segera menoleh dan menunjukkan rasa jengahnya.

“ Je suis Musulman. Je ne jeune pas car je dois prendre le vol jusqu’a … », ia menyebut nama sebuah  kota yang rasanya kami tidak pernah mendengarnya. Intinya, ia adalah seorang Muslim. Namun ia tidak berpuasa karena ia masih harus melakukan perjalanan panjang ke sebuah  kota.

Itulah awal percakapan dan perkenalan kami dengan seorang Muslim, imigran Perancis asal Pantai Gading. Pantai Gading atau Cote d’Yvoire adalah sebuah negara di pantai Barat benua Afrika,  bertetangga dengan Ghana di sisi utara dan barat, laut Guinea di sisi selatan. Negara bekas jajahan Perancis ini awalnya hanyalah sebuah perkampungan terisolasi yang dihuni sekitar 60 suku bangsa.

Portugis dan Perancis yang menemukannya pada  abad 15.  Ketika itu kedua bangsa besar ini sedang berseteru mencari gading dan budak untuk dibawa ke Negara mereka. Namun akhirnya Perancislah yang berhasil menaklukkan perkampungan tersebut dan memberinya nama  Cote d’Yvoire yang artinya pantai gading. Negara ini baru memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960, atas pemberian Negara penjajahnya itu. Jadi tak aneh bila kemudian presiden yang diangkatpun adalah orang pilihan pemerintahan Perancis, seorang pemeluk Kristen. Ia berkuasa selama 30 tahun hingga tahun 1990.

Jujur, sebelum bertemu dengan pria tetangga di pesawat di bulan Ramadhan itu, saya tidak begitu mengenal sejarah Pantai Gading. Yang saya tahu hanya kerusuhan yang sering melanda negri tersebut. Saya baru tahu bahwa kerusuhan yang terjadi adalah kerusuhan antar umat agama dari pria tadi.

Ia menceritakan bahwa mayoritas penduduk negrinya adalah Muslim. Tapi tak pernah sekalipun seorang Muslim menduduki posisi tertinggi pemerintahan. Politik adalah tabu bagi Muslim Pantai Gading. Mereka lebih senang menjadi pedagang.

Namun ia sendiri adalah seorang mantan polisi. Kerusuhan yang terjadi antara tahun 1990 an hingga 2000 menyebabkan dirinya terpaksa meninggalkan tanah air yang dicintainya. Perancis sebagai Negara yang pernah berabad-abad menjajah negrinya merupakan pilihan sebagian besar rakyat yang mengungsi. Untuk diketahui, hingga kini pantai Gading masih menjadikan bahasa Perancis sebagai bahasa persatuan mereka.

Maka sejak itu pula pria yang belakangan menikah dengan perempuan sebangsanya itu berstatus sebagai imigran gelap. Ia tidak menceritakan mengapa harus gelap. Yang pasti, status inilah yang menyebabkan dirinya sulit untuk keluar masuk Perancis.

Itu sebabnya mengapa ia menumpang Air Turki dan transit di Istanbul. Dari kota ini baru ia meneruskan perjalanan ke tujuan yang  sebenarnya.  Sementara istrinya, meski sama-sama imigran tapi bukan imigran gelap, bersama anaknya bisa terbang langsung ke tujuan. Masalah keimanan anaknya yang masih kecil ini, juga menjadi topik pembicaraan kami.

“ Saya benar-benar pesimis dengan keimanan putra kami bila kami terpaksa benar-benar tidak bisa kembali ke tanah air”, keluhnya.

Saya jadi teringat jargon “ Islam Yes Partai Islam No” yang dipopulerkan almarhum Nurcholis Madjid  beberapa belas tahun lalu. Jargon ini benar-benar berhasil membuat kalangan muda Muslim ‘alergi’ dari partai berbau Islam.  Seolah-olah partai Islam itu ketinggalan zaman, tidak rasional bahkan kampungan ! Apakah pendiri lembaga Paramadina sekaligus bapak Pluralis dan Sekuleris yang memang sempat lama menetap di Amerika dan mengambil ilmu filsafat itu tidak menyadari dampak pemikirannya yang kontroversial itu?

Pantai Gading adalah hanya salah satu buktinya. Jutaan rakyat negri ini harus menderita akibat tak pernah sekalipun mempunyai pemimpin yang seiman. Tercatat selama 52 tahun negri ini memperoleh kemerdekaan hanya satu saja calon  dari kalangan Muslim yang maju dalam pemilihan. Itupun gagal pula. Dan kegagalan ini disebabkan ia Muslim !

Adalah Alassane Ouattara, seorang tokoh Muslim mantan perdana mentri Pantai Gading. Ia tertantang untuk mengikuti pemilihan presiden karena presiden yang menjabat waktu itu sectarian. Dengan sengaja pemilik kekuasaan tertinggi Negara ini memunculkan rasa kesukuan salah satu suku rakyatnya dan menciptakan opini bahwa suku lain, dalam hal ini suku-suku Pantai Gading sebelah utara yang mayoritas Muslim, adalah bukan bangsa Pantai Gading. Persis kasus etnis Rohingya di Myanmar yang tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah pusat yang mayoritas beragama Hindu.

Akibatnya dapat diduga, pencalonan Ouatarra tersendat. Pemberontakanpun tak terhindarkan. Timbullah berbagai kerusuhan, menuntut keadilan. Sejarah mencatat bahwa Islam datang ke negri ini pada abad 13, dibawah kejayaan kerajaan Mali. Sementara Kristen masuk pada abad 17. Dengan kata lain,  sebenarnya ajaran Islam telah masuk ke negri ini, 4 abad lebih dulu dibanding ajaran Kristen.

Patut menjadi catatan, Islam  adalah ajaran yang sangat spesifik. Ia memiliki sejumlah aturan sendiri yang wajib dipatuhi pemeluknya. Itu sebabnya umat Islam memerlukan pemimpin yang benar-benar mengerti, memahami dan menguasai kebutuhan mereka. Dan tentu saja kalau bukan dari kalangan umat Islam sendiri siapa lagi yang lebih patut menjadi pemimpin tersebut. Apalagi Allah swt dengan tegas telah memerintahkan hal tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Artinya, bila kita tetap nekad memilih pemimpin yang bukan dari kalangan kita sendiri ( baca Islam), Allah swt tidak lagi mau melindungi kita. Dan dampak perbuatan ini tidak saja ‘hanya’ kita terima di akhirat nanti, tapi juga di dunia ini. Seperti yang terjadi terhadap saudara-saudari kita di Pantai Gading diatas.

Karena, seperti yang telah disebutkan diatas, umat Islam itu membutuhkan komunitas, fasilitas  dan kebijaksanaan yang sangat khas. Misalnya, kebutuhan akan masjid, melaksanakan shalat pada jam kerja, shalat berjamaah di masjid pada hari Jum’at, menjalankan puasa pada bulan Ramadhan, penentuan hari raya iedul fitri dan iedul adha, mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari, pemotongan hewan halal, menjauhi riba, minuman keras, perjudian dan pelacuran, hukum waris, hukum perkawinan  dan masih banyak lagi.

Umat Islam semustinya harus tahu apa yang menjadi kebutuhan utamanya, mana yang  prioritas dan mana yang sekunder. Kebutuhan akhirat adalah yang paling utama. Meski untuk itu kemudahan duniawi berarti juga kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Karena dunia adalah tempat beramal demi bekal kehidupan akhirat kelak. Untuk itu, kemudahan hidup harus diusahakan.

Sebaliknya, seorang pemimpin harus sadar bahwa dirinya adalah pengemban terberat amanah rakyat. Amanah yang dititipkan umat agar ia mengurusi kebutuhan spiritual dan material rakyat yang dipimpinnya. Memberikan kemudahan agar umat dapat beribadah, memuji Tuhannya dengan sebaik mungkin.  Menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya, apapun agama, suku dan rasnya. Dan semuanya ini dilakukannya demi mencari ridho Sang Khalik, Allah Azza wa Jallat, penciptanya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Sabtu, 21 Juli 2012, saya berdua suami ‘ngabuburit ‘, istilah bahasa Sunda untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa, dengan mengunjungi expo « Tutankhamon,  makam dan harta peninggalannya ». Pameran ini diselenggarkan Paris Expo, di hall 8 Porte De Versailles, Paris,  selama 3.5 bulan, sejak tanggal 12 Mei 2012 hingga 1 September 2012. Tujuan utama pameran ini adalah untuk  memperlihatkan hasil temuan Howard Carter, arkeolog Inggris pada tahun 1922 lalu, lengkap dengan prosesnya, melalui video serta replika temuan spektakuler tersebut.

Tak dapat dipungkiri, berita mengenai Mesir dengan fir’aun dan temuannya selalu menarik untuk disimak. Bahkan sampai muncul imu untuk mempelajari hal ini. Egyptology, begitulah nama ilmu tersebut. Ilmu ini secara khusus mempelajari sejarah Mesir kuno, yaitu Mesir sejak tahun 5000 SM hingga abad 4 AD. Termasuk didalamnya tentang bahasa, agama, seni dan segala hal yang berhubungan dengannya.

Saya sendiri secara pribadi tertarik mengikuti sejarah firáun karena  Al-Quran dan juga hadist banyak menyinggung hal ini. Kisah nabi Ibrahim as bersama istri pertamanya Saras, pergi ke Mesir hingga akhirnya kembali ke negri asalnya dengan membawa Siti Hajar yang merupakan hadiah dari fir’aun, nabi Yusuf as dengan kisah panjang hidupnya hingga diangkat menjadi penasehat fir’aun di Mesir dan yang paling ‘heboh’ adalah kisah nabi Musa as.

Kisah nabi bertubuh gagah perkasa ini diabadikan dalam Al-Quran dalam banyak surat, secara acak. Dari beliau masih bayi dan dihanyutkan di sungai hingga dewasa, menikah dan berdakwah melawan kekejaman fir’aun yang tak lain ayah angkatnya sendiri.

« Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak“, sedang mereka tiada menyadari ».(QS.Al-Qashash(28) :8-9).

Rasulullah bersabda, “Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, istri Fir’aun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwalid, istri Rasulullah SAW; dan Fatimah binti Muhammad” (HR Bukhari).

Istri fir’aun yang dimaksud ayat 9 surat .Al-Qashash di atas adalah Asiah binti Muzahim, sebagaimana sabda Rasulullah di atas. Rasulullah saw menyebutkan bahwa Asiah sederajat dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwalid, dan Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah karena  meski suami Asiah seorang tokoh yang sangat kejam, zalim dan menuhankan diri, Asiah tetap kokoh berani mempertahankan keimanannya.

“Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.”.  ( QS. An-Naziyat (79):20-24).

Pada beberapa kisah nabi Musa juga disinggung adanya Karun, pembesar Mesir kaya raya yang bahkan kunci-kunci gudang hartanya saja harus dipikul sejumlah bodyguard, saking beratnya.

“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“.(QS.Qashash(28):76).

Sementara kehidupan nabi Yusuf as diabadikan dalam surat 12 dengan nama yang sama yaitu, surat Yusuf.  Ini merupakan satu-satunya kisah nabi Allah yang diceritakan secara utuh dan berurut  dalam satu surat Al-Quranul Karim. Ayat 54 dan ayat 55 surat Yusuf berikut adalah ayat yang menunjukkan bahwa nabi yang dikisahkan sebagai nabi yang paling tampan ini, pernah menduduki jabatan penting di Mesir.

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”  

Sedangkan kisah nabi Ibrahim di Mesir diceritakan oleh Rasulullah melalui beberapa hadist. Disamping itu masih ada ayat lain tentang negri Mesir yang juga cukup menarik. Yaitu kisah Dzul Qarnain, yang berarti si pemilik dua tanduk. Dikisahkan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang  raja yang sangat adil dan bijaksana. Kekuasaannya meluas hingga ke dataran tinggi Cina dimana disana ia membangun tembok besi. Al-Quran menceritakan bahwa di akhir zaman nanti tembok ini akan dihancurkan oleh Ya’juj Ma’juj, orang-orang jahat bermata sipit pembuat kerusakan,  sebagai salah satu tanda datangnya Hari Kiamat.

Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” “.(QS.Al-Kahfi(18):94).

Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar“.(QS.Al-Kahfi(18):98).

Meski Al-Quran tidak menerangkan lebih jauh siapa raja adil tersebut, namun ada sebagian cendekiawan Muslim yang memperkirakan bahwa raja tersebut adalah salah satu fir’aun, yaitu Akhenaton. Sejarah mengatakan bahwa Akhenaton adalah satu-satunya raja Mesir yang menganut Monotheisme ( satu tuhan), berlawanan dengan fir’aun lain yang Polytheisme ( banyak tuhan) dan Paganisme.

Menariknya lagi, raja tersebut ada kemungkinan adalah orang dekat fir’aun yang hidup pada zaman nabi Musa as dan diam-diam calon raja tersebut telah beriman kepada Tuhan-nya Musa. Dengan lantang, laki-laki ini berani menantang fir’aun, sang tirani, dengan membela Musa dan ajaran Tauhidnya.

 “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.(QS.Al-Ghafir(40):28).

Pendapat lain mengatakan bahwa Dzulqarnaen kemungkinan adalah Alexander the great, raja dari Masedonia yang terkenal itu. Namun mayoritas ulama menolaknya.

Kembali ke expo tentang Tutankhamon. Howard Carter ( 1874-1939) memulai karirnya di Mesir pada tahun 1891 di usianya yang ke  17 tahun sebagai seorang seniman. Ia dipekerjakan tim expedisi penggalian makam para firáun karena keahliannya dalam menggambar dan meniru dekorasi peninggalan barang-barang berharga temuan tim. Ia mewarisi bakat seni tersebut dari darah ayahnya, yang memang seorang seniman.

Howard mulai bergabung pada tahun 1907 dengan tim expedisi yang dipimpin Lord Carnavon, seorang bangsawan milyarder Inggris yang sangat terobsesi dengan sejarah para firaun. Pada tahun 1922, setelah melalui perjuangan yang panjang dan sempat terhenti oleh adanya PD I ( 1914 – 1917 ) akhirnya Howard dan timnya berhasil menemukan makam Tutankhamon, fir’aun ke 11 dari dinasti ke 18, Kerajaan Baru ( the New Kingdom).

Kompleks pemakaman spektakuler ini ditemukan di Valley of the king ( Wadi Al-Mulk atau lembah para raja) yang  terletak  di bukit Theban di tepi sungai Nil, Thebes ( Luxor)  900 km di selatan Kairo. Ini adalah kompleks makam raksasa milik para firaun dari dinasti 18- dinasti 19 yang berlangsung selama 5 abad, yaitu dari 16 SM hingga 11 SM. Di bawah lembah inilah selama kurang lebih 3700 tahun tersembunyi 63 makam dan ratusan ruangan berisi peninggalan berharga para firaun, penguasa Mesir yang sering dianggap dan menggagap diri tuhan itu.

Sesuai adat dan kebiasaan Mesir kuno, jenasah para fir’aun itu ditemukan dalam keadaan sudah dibalsem alias dibuat menjadi mumi. Diantara mumi para fir’aun ini terdapat mumi Ramses II, fir’aun terakhir The New Kingdom. Ramses II terdaftar sebagai firaun ke 3 dari dinasti ke 19.  Ia  memerintah Mesir dari tahun 1279 SM hingga 1213 SM. Ia mendapat julukan Ramses the Great karena dianggap sebagai firaun yang paling sukses dan terkenal.

Lebih menarik lagi, Ramses II inilah yang paling sering dianggap sebagai firaun yang hidup pada zaman nabi Musa as. Dasarnya adalah karena muminya mengandung kadar garam yang sangat banyak, cocok dengan firaun yang ditenggemkan Sang Khalik di laut Merah.

“ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”. Maka Fir`aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka”. (QS. Toha(20):77-78).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

( Bersambung).

Read Full Post »

Hikmah Dibalik Kesulitan

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.(QS.Al-Insyirah(94):5-6).

Sebagian besar diantara kita pasti hafal betul ke dua potongan ayat surat Al-Insyirah diatas, yang juga sering disebut surat Alam Nasyrah karena bunyi awal surat tersebut memang demikian. Meski mungkin dalam penerapan kesehariannya tidak semua orang memahami dan menguasai ayat pamungkas mengatasi kesulitan tersebut.

Kesulitan dalam hidup adalah hal biasa. Bahkan hidup tanpa sedikitpun kesulitan rasanya tidak akan menarik. Karena justru dengan adanya kesulitan atau masalah maka kemudahan akan lebih terasa nikmatnya. Inilah tantangan hidup.

Setiap orang pasti pernah mengalami masalah yang kurang menyenangkan dalam hidupnya. Ntah itu sakit, kecewa, sakit hati atau berbagai kegagalan dalam hal apapun. Kegagalan dalam mengikuti pelajaran sekolah, dalam berkarier atau dalam cinta dan berumah-tangga, misalnya. Walaupun mungkin  berbeda tingkat kesulitannya, bagaimana cara memandang dan menghadapinya.

Dan  yang terpenting, sebenarnya bangkit atau keluar dari kesulitan itu sendiri merupakan hikmah yang mustinya dapat menambah kwalitas hidup seseorang. Asam garam kehidupan , begitu kira-kira. Inilah seninya hidup, kesulitan dan kemudahan yang silih berganti membentuk roda kehidupan. C’est la vie, kata orang Perancis, yang artinya : Itulah hidup!

Hingga suatu saat Sang Khalik memintanya kembali, tentu saja.

Saya jadi teringat “ The Truman Show”, film tahun 1998 yang dibintangi actor komedi Jim Carrey itu. Jujur, sebenarnya saya bukan penggemar Jim Carrey, aktor favorit anak saya yang jago mempermainkan mimik muka itu , dan bukan juga penggemar film, jenis apapun. Namun film yang satu ini sungguh menarik untuk dicermati.

Film ini bercerita tentang ambisi seorang produser  televisi yang ingin menaikkan rating acara televisinya.  Truman, tokoh utama film ini, yang bertugas menarik perhatian sebanyak mungkin penonton. Ia sengaja “dipersiapkan”  sejak  bayi agar melakukan tugas tersebut, tanpa disadarinya.  Tujuannya supaya  film terlihat “hidup”, jadi  bukan sekedar acting, seperti layaknya sebuah film.

Sebelum itu sang sutradara telah mempersiapkan “dunia” buatan bagi tokohnya itu. Dunia tersebut terbuat dari bola super raksasa dimana didalamnya ia merekayasa sebuah kota lengkap dengan orang tua “ buatan”,  teman-teman dan orang –orang yang bakal menjadi pelengkap lingkup hidupnya.

Disanalah kehidupan Truman dipotret dan diikuti oleh penggemarnya, dari seluruh penjuru dunia. Ratusan alat perekam  dipasang di seluruh perabot rumah Truman dan seluruh jalanan yang bakal dilewati Truman.

Hingga suatu waktu, ketika Truman telah dewasa, ia berkeinginan  ke luar dari kota yang dirasa mulai membosankan dan mengungkungnya. Disinilah masalah mulai timbul. Puncaknya adalah ketika sang sutradara  yang mengganggap dirinya Tuhan bagi mahluk rekayasanya itu mulai panik. Karena akhirnya Truman mendapati bahwa dunianya adalah hanya sebuah balon raksasa buatan. Dan ia memutuskan untuk keluar, baik dari dunia palsunya maupun cengkeraman rekayasa sang Tuhan palsu.

“ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” .(QS.Al-Hadid(57):20).

Ya, itulah kehidupan kita, persis Truman dalam shownya.  Bedanya, karena Tuhan dalam show tersebut hanyalah tuhan palsu, maka ia tidak dapat mencegah keinginan aktornya untuk keluar dari kendalinya. Sebaliknya dalam kehidupan nyata, dimana Tuhan adalah Allah Azza wa Jalla, mustahil kita minta berhenti alias pensiun atau keluar dari panggung buatan-Nya itu. Bunuh diri mungkin satu-satunya jalan. Itupun bila Sang Khalik tidak mengizinkan, mustahil akan berhasil .. L. Sialnya, kalaupun berhasil, hukuman maha berat telah menantinya di alam akhirat nanti. Na’udzubillah min dzalik ..

« Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes  air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya) ».(QS. Al-Mukminun(40):67).

Jadi memang tidak ada jalan lain. Kita harus menjalani peran yang telah ditetapkan-Nya, senang atau tidak senang, sulit atau mudah, terpaksa maupun tidak terpaksa. Sang Khalik menuntut para aktor dan aktris-Nya itu agar berusaha sekuat tenaga menjalani peran tersebut, dengan tetap berpegang teguh pada aturan-Nya, bila ingin berhasil, sukses di panggung ( dunia) maupun di « kehidupan nyata » (akhirat) .

Apakah aturan tersebut ? Bagi aktor dan aktris yang hidup setelah turunnya ayat-ayat suci kepada Rasulullah Muhammad saw hingga akhir zaman nanti, itulah kitab suci Al-Quran.  Sedangkan bagi mereka yang hidup sebelum itu, Allah swt telah menurunkan beberapa kitab melalui para Rasul-Nya. Dengan catatan, sebelum ayat-ayat tersebut diselewengkan.

Dan yang tak kalah pentingnya,  kita harus yakin bahwa  tidak mungkin Allah swt memberikan beban dan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.  … …”.(QS.Al-Baqarah(2):286).

Sekedar sharing. Belakangan ini, hanya dalam waktu 2 bulan saya mengalami cobaan beruntun. Diawali dengan sakit di kepala, mual dan akhirnya hampir kehilangan kesadaran, ketika di dalam pesawat terbang, sendirian pula, kemudian terpaksa di rawat di RS dengan keluhan yang sama. Disusul dengan kejadian yang sama pula, ketika terbang kembali menemui suami tercinta di rantau.

Dua minggu kemudian, pulang berlibur bersama anak dan suami, ke 4 roda mobil kami raib dilucuti maling ! Ironisnya, hal ini terjadi di garasi apartemen kami sendiri yang kebetulan memang rusak pintunya, hingga orang bebas keluar masuk, siang malam. Suami saya mengetahui hal tersebut ketika pukul 4 pagi menuju garasi hendak berangkat ke masjid untuk Subuh berjamaah.  Kami tidak habis berpikir, bagaimana nasib suami kalau pada pagi buta tersebut, maling masih berada di garasi, berkutat melepas ban-ban tersebut dan kemudian mengganjal mobil  dengan 2 ban butut, yang pastinya butuh waktu yang tidak sedikit . Allahuakbar .. Terima-kasih Ya Allah ..

Belum lepas dari keterkejutan ternyata Paris sama dengan kota –kota besar dunia lainnya, dalam hal keganasannya, kembali kami harus terhenyak.  Di suatu pagi, kali ini sekitar pukul 10 pagi, pintu apartemen kami tiba-tiba dibuka orang dengan kunci, dari luar. Namun kali ini saya hanya terpaksa dapat mengelus dada. Karena orang yang membuka pintu tersebut adalah petugas penyemprot insektisida. Ia dapat  masuk karena penjaga apartemen meminjamkan kunci apartemen, yang memang resmi haknya.

Yah begitulah, nasib tinggal di apartemen yang dibayar oleh perusahaan dimana suami bekerja.  Judulnya, kan hanya numpang .. Meski sebenarnya bukan numpang juga. Ini adalah hubungan timbal balik; anda bekerja kami membayar .. Namun begitulah kenyataaannya …

Nah, kalau  begitu apalagi kita hidup di dunia ini .. Kita ini sebenarnya benar-benar hanya numpang di bumi, milik Allah. Yang bukan saja tanpa dipungut bayaran alias gratis, tapi juga diberi segala fasilitas memuaskan seperti udara, air, matahari, tanaman, buah-buahan dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Subhanallah ..

«  Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu ».(QS.An-Naziat(79) :30-33).

Lalu apa pula hikmah sakit yang saya alami beberapa hari itu? Salah satunya, adalah kesendirian ..  Doa yang saya panjatkan secara serius waktu itu adalah agar saya tidak dipanggil-Nya di tempat asing tanpa seorangpun yang saya sayangi dan menyayangi saya.  Jujur, pengalaman tersebut benar-benar pengalaman yang sungguh menakutkan.

Sementara beberapa malam di rawat dan tidur  di RS memberikan beberapa hikmah lain. Meski sempat ditemani  anak perempuan yang pasti amat menyayangi ibunya,  tetap saja ketika malam terbangun karena merasakan sakit, saya musti menghadapinya sendiri.

Jangankan ketika sakit. Bahkan ketika kita dalam mimpipun, kebetulan saya adalah orang yang hampir tiap malam “ hobby” mimpi, sangat terasa bahwa kita itu sendirian dalam menghadapi hidup. Karena meski suami berada pada satu ranjang, dan sudah berpesan berkali-kali untuk membangunkannya jika saya bermimpi menakutkan, tetap saja ia tidak dapat “masuk” dalam dunia mimpi buruk tersebut

Hikmah lain adalah betapa hebat dan makin canggihnya ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu.  Para dokter dengan bantuan teknologi  terbarunya dapat mendeteksi dan mengetahui berbagai penyakit.  Anehnya, berbagai pengobatan yang mereka usahakan secara maksimal itu tetap tidak dapat menjadi jaminan bahwa  pasien bakal sembuh 100 persen !

Saya yakin, hal ini pasti membuat para dokter yang benar-benar pintar  tersebut menjadi makin “ melek” dan makin terkagum-kagum dengan ciptaan Sang Khalik yang satu ini; manusia dengan berbagai kerumitan sistim kerja tubuhnya.

Terakhir,  adalah apa yang dialami anak gadis kami. Ia bercerita bahwa bahwa pada detik-detik terakhir penerbangannya, dari Paris ke Jakarta, pesawat hampir  mengalami kecelakaan. Pesawat  yang nyaris mengeluarkan roda dan mendaratkannya di rerumputan tersebut tiba-tiba terbang lagi dan berputar-putar rendah di atas laut, membuat panik seluruh penumpangnya.

“ Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.”(QS.Al-An’am(6):63).

Demikianlah Allah menciptakan kesulitan. Karena  dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.  Pasti ada hikmah dibalik segala peristiwa.  Kita harus mencarinya bila tidak menemukan hikmah tersebut. Dan hanya dengan sabar, shalat serta tawakal sajalah maka Allah swt akan menolong kita.

“ Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45).

Dalam sebuah hadist dikatakan,

“Jagalah Allah maka engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu, kenalilah Allah di kala senang maka Dia akan mengenalmu di kala susah. Ketahuilah sesungguhnya apa yang tidak menimpamu maka dia tidak akan menimpamu dan apa yang akan menimpamu pasti dia akan menimpamu (tidak akan meleset). Dan ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Paris, 17 Juli 2012.

Vien AM.

 

 

 

Read Full Post »

Copy Paste dari : http://arrahmah.com/read/2012/06/30/21300-bukti-kebesaran-allah-pada-tulang-ekor.html

Sabtu, 30 Juni 2012 06:14:41

(Arrahmah.com) – “Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat” ( HR. Al Bukhari , Nomor : 4935 )

Belasan abad lamanya, hadits tersebut menjadi hal yang gaib yang tidak mungkin bisa dijelaskan dengan logika. Seiring berjalannya waktu beberapa penelitian ilmiah mampu menjelaskan kebenaran hadits tersebut dikemudian hari.

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS. Yasin : 78-79).

Adalah Han Spemann, Ilmuwan Jerman yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Darinyalah makhluk hidup bermula. Dalam penelitiannya ia memotong tulang ekor dari sejumlah hewan melata, lalu mengimplantasikan ke dalam embrio Organizer atau pengorganisir pertama.

Pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovumtelah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak. Sehingga terbentuklah embryonic disk (lempengan embrio) yang memiliki dua lapisan.

Han Spemann, Ilmuwan Jerman

Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus, dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus.

Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana).

Dari sinilah beberapa unsure dan jaringan, seperti ectoderm,mesoderm, dan endoderm terbentuk.

– Ectoderm, membentuk kulit dan sistem syaraf pusat.

– Mesoderm, membentuk otot halus sistim digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem limpa, limpa dan kulit luar.

– Sedangkan, Endoderm, membentuk lapisan pada sistim digestive, sistem pernafasan, organ-orang yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pancreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran. Gumpalan sederhana inilah yang mereka sebut sebagai TULANG EKOR.

Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.

Dr. Othman al Djilani dan Syaikh Abdul Majid juga melakukan penelitian serupa. Pada bulan Ramadhan 1423 H, mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama 10 menit. Tulang pun berubah, menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al Olaki, profesor bidanghistology dan pathologi di Sana’a University, ditemukanlah bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama.

Lebih dari itu berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day; Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik-buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energy positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energy negative atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya.

Dari sinilah, balasan pada hari kiamat kelak tidak akan pernah tertukar. Dari tulang ekor inilah, manusia akan kembali dicipta, dan mereka akan diberi balasan sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Ajaibnya, ini semua sudah disabdakan oleh Nabi berpuluh abad yang lalu.

“Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah) kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat.” (HR. al Bukhari, nomor 4935).

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (nomor 2955),

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor, darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.”

Dari petunjuk hadist di atas, Ilmuwan muslim pada paruh kedua abad ke-20 telah mendasarkan pemahaman mereka mengenai kemukjizatan hadis tentang tulang ekor ini pada kaidah pengetahuan yang paling dasar, yaitu “Tulang ekor merupakan bagian pertama yang tumbuh dari janin, biasa disebut dengan primitive streak, yaitu bagian utama yang terbentuk pada minggu ketiga”.

“Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami pada alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”(Fushshilat: 53)

Wallahu alam bish showab.

(saif/zzl/arrahmah.com).

Subhanallah Allahuakbar !!

Semoga semakin menambah tebalnya keimanan.

Paris, 13 Juli 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »