Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Pegunungan Apennis adalah rantai pegunungan sepanjang 1000 km di Italia yang membentang dari Italia bagian utara hingga Italia bagian selatan. Secara geografis pegunungan ini dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu Apennis utara, Appenis Tengah dan Apennis Selatan. Di Appenis Selatan inilah berdiri 2 gunung berapi teraktif  di Eropa yaitu gunung Etna ( 3330 m) dan gunung Vesuvius ( 1281 m ).

Gunung Etna tercatat sebagai salah satu gunung paling berbahaya di dunia. Hampir setiap tahun gunung ini memperlihatkan kemarahannya dengan menumpahkan lahar merah panasnya. Bahkan hingga detik ini pemerintah Italia belum bisa mengendurkan pengawasannya terhadap kegiatan berbahaya gunung yang terletak di pulau Sisilia  itu.

Sementara gunung Vesuvius yang terletak di teluk Naples di pantai Tirrenia tercatat sebagai gunung paling terkenal di dunia karena akibat letusannya mampu mengubur kota Pompei dan sekitarnya plus ribuan penduduknya yang tidak berhasil menyelamatkan diri.  Ironisnya lagi, bekas dan sisa kejadian memilukan yang  terjadi pada tahun 79 M ini hingga kini masih dapat kita saksikan. Mayat-mayat bergelimpangan di seluruh penjuru kota dengan berbagai posisi mengerikan. Dari ekspresi wajahnya jelas tampak bahwa mereka ini meninggal dunia dalam keadaan menahan sakit luar biasa. Para peneliti menemukan fakta bahwa leher dan rongga pernafasan korban disesaki lumpur dan debu ! Astaghfirullahaladzim ..

( Youtube Pompei, The Lost City, click :  http://www.youtube.com/watch?v=gmwylbF3-CA&feature=related )

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.(QS.Ali-Imran (3):137).                

Masyarakat Romawi dibawah raja Nero Claudius pada awal Masehi adalah masyarakat pagan. Mereka menyembah dewa dewi seperti Isis, Eleusis dan Mithras. Nero sendiri diangkat sebagai raja pada tahun 54 M pada usia 17 tahun.. Ia dikenal sebagai raja yang amat kejam. Bahkan kakak tiri dan ibunya sendiri dikabarkan dibunuh atas perintahnya ! Nero juga adalah raja yang mempopulerkan adu antara manusia dengan singa sebagaimana film The Gladiator yang mengerikan itu. Ironisnya, ia sendiri meninggal bunuh diri karena khawatir dibantai rakyatnya. Ini terjadi ketika militer melakukan kudeta terhadap kekuasaannya pada tahun 68 M.      

Yerusalem sebelum datangnya nabi Isa as.

Yerusalem di bawah kekuasan nabi Daud dan nabi Sulaiman  ( King Solomon) pada 1000 SM berada pada masa puncak kejayaan Yahudi. Sayang masa keemasan kerajaan ini hanya berlangsung tidak lebih dari 80 tahun saja. Setelah nabi Sulaiman wafat, kerajaan terpecah-pecah dibawah para raja yang zalim. Mereka tidak lagi mau mentaati dan menjadikan bekas raja mereka yang sholeh itu sebagai panutan. Perintah Allah yang tertulis pada kitab suci Taurat yang dibawa nabi Musa as tidak dijalankan dengan baik. Bahkan sebagian besar ayat-ayat tersebut mereka sembunyikan dan diputar balikan.

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?”….”.(QS. Al-An’am(6):91).

Akibatnya pertolongan Allahpun menjauh. Yerusalem kini menjadi bulan-bulanan para penguasa asing yang datang menjajah mereka.  Syria, Assyria, Babylon, Mesir dan  Romawi adalah diantaranya. Bahkan orang-orang Yahudi ini beberapa kali harus mengulangi sejarah pahit sebagai budak belian, persis seperti ketika mereka berada dibawah kekuasaan Fir’aun di Mesir pada masa nabi Musa as. Mereka hidup sebagai budak di negrinya sendiri, dibawa ke berbagai negri yang menjajahnya sebagai budak atau dipaksa pergi meninggalkan negrinya dan hidup terlunta-lunta. Inilah yang di kemudian hari dikenal dengan istilah Diaspora.

Bahasa Aramaic, bahasa asli bangsa Yahudi juga terkena dampaknya. Sedikit demi sedikit bahasa ini punah digantikan oleh bahasa Yunani. Ironisnya, kitab Tauratpun tak bisa mereka pertahankan dalam bahasa aslinya. Kitab ini diterjemahkan kedalam bahasa Yunani, diutak atik dan diubah disana sini hingga akhirnya jauh dari aslinya.      

Setelah beberapa ratus tahun berlalu, bangsa Yahudi akhirnya dapat kembali dan berkumpul di Yerusalem. Dengan sangat antusias mereka kembali mendirikan tempat peribadatan yang dulu sempat dihancurkan para penguasa. Ajaran Yahudi kembali dihidupkan walaupun sebenarnya telah mengalami penyimpangan. Namun tak lama   kemudian Yerusalem jatuh ke tangan kekaisaran Romawi. Pada masa inilah ajaran Yunani yang pagan masuk kedalam ke ajaran Yahudi. Karena penguasanya ketika itu memang memerintahkan hal tersebut.

Tentu saja para ulama dan penganut fanatik Yahudi memberontak. Namun dengan tangan besi mereka ini ditangkapi dan dikucilkan. Bahkan dibawah raja Herod I, raja Yahudi penguasa Yerusalem yang diangkat Romawi, mengeluarkan perintah agar seluruh anak lelaki Yahudi yang berumur dibawah 2 tahun dibasmi. Ini dilakukannya agar Romawi tetap memberinya kepercayaan sebagai penguasa Yerusalem. Herod I memegang tampuk pemerintahan tertinggi antara tahun 37 SM hingga  4 M.

Pada masa inilah Allah swt mengutus nabi Isa as ke kota Yerusalem. Ia diutus kepada  bangsa Yahudi agar mereka kembali ke jalan yang lurus. Yang menjadi raja Yerusalem ketika itu adalah pengganti Herode I yaitu Pontius Pilate yang naik tahta karena ditunjuk Romawi. Dibawah kekuasaannya bangsa Yahudi benar-benar mengalami penderitaan berat. Siapapun yang menentang kebijaksanaan Romawi harus dibunuh dengan cara disalib atau dibakar hidup-hidup !

Nabi Isa as dengan susah payah mengingatkan kaumnya agar tetap bertahan dan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah swt. Namun hingga akhir hayatnya murid setianya hanya 12 orang. Itupun salah satunya mengkhianatinya. Nabi Isa  dijebak dan difitnah hingga akhirnya penguasa menangkap dan memutuskan bahwa beliau harus dihukum salib. Namun atas izin-Nya Isa as diselamatkan-Nya dari kematian yang hina tersebut. Peristiwa ini terjadi pada tahun 33 M.     

“ dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.(QS. An-Nisa (4):157).

Meletusnya Gunung Vesuvius.

Hingga wafatnya nabi Isa as tidak berhasil mengajak kaumnya ke jalan yang benar. Baik penduduk Yerusalem maupun penduduk Romawi, keduanya sama. Mereka bergelimang dalam kesesatan. Ritual dan penyembahan dewa dewi terjadi dimana-mana. Akhlak merekapun sungguh bejat. Perebutan kekuasaan, fitnah, saling bunuh dan kemaksiatan terus saja terjadi. Sementara pengikut nabi Isa yang hanya sedikit itupun terus diburu dan dibunuh. Murkakah Sang Khalik akan hal tersebut ??

Sejarah mencatat bahwa pada masa kekuasaan raja Nero, yaitu pada tahun 62 M terjadi gempa hebat di kota Pompei dan sekitarnya. Sejak itu gempa terjadi hampir  setiap tahun dan mengakibatkan kerusakan yang tidak sedikit. Ketika itu belum diketahui apa penyebabnya. Selanjutnya pada suatu malam ditahun 64 M, terjadi kebakaran besar di kota Roma. Kebakaran hebat yang hanya menyisakan 4 dari 14 distrik Roma ini berlangsung hingga 6 hari tujuh malam.    

Puncaknya adalah bulan Agustus tahun 79 M. Sumur-sumur dan sumber air mengering. Disusul dengan terjadinya gempa selama 4 hari yang makin lama makin kuat. Kemudian tepat satu hari sebelum Vulcanalia, perayaan hari besar dewa api Yunani, terjadi letusan hebat gunung Vesuvius yang terletak tidak jauh dari Naples. Letusan ini didahului dengan terjadinya hujan batu runcing hingga menutupi permukaan tanah Pompei setebal 2.8 m.  Ini terjadi hanya dalam waktu 2 jam yaitu pukul 18.00 hingga 20.00 !.

Setelah itu baru keluar awan panas yang membakar apa saja yang ditemuinya. Gunung Vesuvius meletus. Debu super tebal berterbangan dan mengubur habis kota Pompei, Herculanum, Oplontis dan Stabies berikut penduduknya  yang tidak mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. 

Dan hingga detik ini atas kehendak-Nya kita dapat menyaksikan Pompei yang diselimuti debu dan lumpur tebal berikut jasad-jasad dengan berbagai posisi  masih utuh ditempatnya. Betulkah ini azab Allah swt ? Wallahu’alam ..

 “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong”. (QS.Ali Imran (3):55-56).

Lalu bagaimana pula dengan berbagai bencana yang akhir-akhir ini terus bermunculan di sekitar kita. Apakah ini tanda-tanda  kemurkaan-Nya?  Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat-Nya apalagi mengingkarinya .. Astaghfirullahaladzim ..  

Lebih ironis lagi, ratusan tahun kemudian kitab yang dibawa nabi Isa as ( Injil) malah disatukan dengan Taurat yang jelas-jelas sudah diselewengkan itu. Taurat dinamakan perjanjian lama dan Injil disebut perjanjian baru. 

Wallahu’alam bishawab.

Pau – France, 11 Februari 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

( dari milis tetangga,  OASE IMAN Eramuslim ).

An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa was up early sitting at the kitchen table reading his Qur’an. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in everyway he could.

One day the grandson asked, “Grandpa, I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?”

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again.

This time the boy ran faster, but again the basket was empty before he returned home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again.

At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show this grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty.

Out of breath, he said, “See Grandpa, it’s useless!”
“So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal-basket and was now clean, inside and out.

“Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You might not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah (SWT) in our lives.”

Read Full Post »

Belum lagi trauma gempa yang terjadi di Yogya dan gempa yang mengakibatkan gelombang tsunami raksasa di Aceh pada tahun 2005 hingga menyebabkan hilangnya nyawa ratusan ribu orang, gempa kembali terjadi susul menyusul di bumi kita tercinta, Indonesia. Di Padang, di Kuningan, di Sulawesi dan ntah dimana lagi selanjutnya. Mengapa kita harus terus menerus dalam duka nasional yang begitu mendalam ? Ada apakah ini sebenarnya? Dan apa pula hikmah dibalik semua ini?

Harus disadari bahwa Indonesia adalah negara yang rawan gempa. Karena tanah  air kita  ini selain memang terletak di pertemuan dua gugusan pegunungan api aktif dunia juga terletak di atas pertemuan patahan lempeng bumi. Sementara  itu perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia demikian rawannya terhadap bencana alam. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami adalah satu diantaranya.

Namun betulkah semua ini semata-mata bencana alam ataupun takdir yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan prilaku kita, manusia ?  Pernahkah kita terpikir siapa sebenarnya yang kuasa mengatur semua ini ?

Sebagai negri yang mayoritas beragama Islam tentu kita yakin bahwa  prilaku kita tak pernah sedikitpun luput dari pengawasan-Nya, bukan ? Yaitu dengan adanya malaikat Munkar dan Nakir yang selalu mencatat amal perbuatan kita.

“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS.Qaaf(50):16-17).

Kita juga tahu bahwa Allah swt mewajibkan kita agar shalat  5 waktu  dalam sehari, membayar zakat dan infak, berpuasa dalam bulan Ramadhan serta menunaikan haji bila mampu. Dan yang tak kalah pentingnya, semua ini harus dilakukan dalam rangka ketundukkan serta ketaatan kita kepada-Nya. Bukan karena riya/pamer  atau hal lainnya. Karena ibadah yang  dilaksanakan bukan dalam rangka ketakwaan hanya akan menghasilkan keburukan seperti kesombongan, korupsi, penindasan dll. Namun tahukah atau pedulikah kita akan akibat dan konsekwensinya bila kita tidak melakukan perintah tersebut?

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”.(QS.Al-An’am ( 6: 42 ).

Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu agar kita dapat mengambil hikmahnya. Allah swt sengaja menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan  dengan tujuan agar mereka mau memohon pertolongan dan  bantuan kepada-Nya. Dengan cara bagaimana ? Yaitu dengan cara tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Menyadari bahwa diri mereka hanyalah hamba yang amat tergantung kepada kekuasaan dan kemauan-Nya. 

Namun bagaimana bila mereka tidak mau menuruti perintah tersebut?  Bahkan mereka menjadi sombong dan congkak! Merasa diri berkuasa, serba pintar dan serba tahu. Padahal semua  yang berada di langit, bumi dan diantaranya itu semua bertasbih, memuja kebesaran-Nya. Mereka ini bergerak hanya sesuai kehendak dan perintah-Nya. Bumi berputar mengelilingi matahari, angin bergerak karena adanya perbedaan tekanan udara, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, adanya gravitasi bumi yang membuat manusia tidak terpental keluar angkasa dsb.

Ini semua adalah aturan-Nya yang sengaja diperlihatkan kepada kita agar kita mau berpikir dan bisa mengambil pelajaran. Allah swt amat menghargai dan bahkan mengangkat derajat orang yang mau mencari ilmu dan pengetahuan. Namun agar mereka lebih bersyukur dan membesarkan-Nya bukan malah menentangnya ! Kesombongan inilah yang menyebabkan hati menjadi keras hingga syaitanpun masuk dan membisiki hati kita bahwa apa yang kita lakukan tersebut adalah baik dan benar.    

“ Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan” .(QS.Al-An’am ( 6: 43).

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.(QS.Al-An’am ( 6: 44-45).

Na’udzubillah min dzalik.. Inikah yang saat ini sedang terjadi di bumi pertiwi?? Betulkah kita telah mengabaikan peringatan-Nya? Adakah satu diantara kita yang tidak melaksanakan perintah shalat 5 waktu ? Adakah saudara-saudara kita yang tidak menyalurkan zakat dan infak kepada yang berhak? Adakah diantara kita yang mampu namun terus menunda-nunda keberangkatannya ke tanah suci? Bagaimana pula dengan peringatan keras Rasulullah agar para lelaki shalat secara berjamaah di masjid, setidaknya ketika  shalat Subuh dan Isya? Berapa banyakkah yang telah melaksanakannya? Belum lagi para muslimah yang masih saja senang mempertontonkan auratnya dengan penuh kebanggaan pula … Ya Allah Ya Robb, bukalah hati dan pikiran kami untuk mau memikirkan hal-hal tersebut.

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya marilah bersama kita mengingat-ingat adakah kita telah menerima dan menikmati pintu-pintu kesenangan yang telah dibukakan-Nya lebar-lebar bagi kita? Betapa banyak buah-buahan, sayur-mayur, padi, kentang dll yang Kau tumbuhkan hingga kami tidak menderita kelaparan…  Betapa berlimpahnya kekayaan terpendam bumi pertiwi ini seperti minyak, gas, tambang, mas dll yang Kau tanamkan hingga pihak asing berdatangan dan berebut mengelolanya.  Yang dengannya sebagian dari kami menjadi gembira karena dapat hidup berkecukupan bahkan berkelebihan..Inikah yang dimaksud Istidraj itu ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Uqbah bin Amr bahwa Rasulullah saw bersabda : “ JIka kamu melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba yang bermaksiat sesuai kesenangannya maka itu merupakan Istidraj..”

Ya Allah Ya Tuhan kami.. itukah sebabnya Kau izinkan gunung-gunung memuntahkan isinya, lempengan bumi bergesekan, bumi yang makin hari makin panas serta gempa yang susul menyusul ini ? Kau musnahkan saudara-saudara kami di berbagai tempat dengan sekonyong-konyong hingga ke akar-akarnya…

Inikah peringatan-Mu bahwa hari Akhir  sudah makin dekat sementara kami masih saja terlena dan terbuai akan kenikmatan duniawi yang begitu memabukkan?? Ya Allah Ya Robbi mengapa kami tidak mampu mendengar firman-Mu yang begitu jelas, yang telah Kau sampaikan melalui Rasul-Mu Muhammad saw di dalam kitab suci Al-Quran yang mustinya kami baca setiap waktu dan kami  pelajari baik-baik…

Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  mengapa kami tidak juga mampu mengambil hikmah atas apa yang bolak balik terjadi di bumi kami Indonesia tercinta ini…. Haruskah kami menunggu hingga kesengsaraan dan petaka ini terjadi terhadap keluarga dekat kami atau bahkan diri kami sendiri agar kami sadar atas teguran-Mu??     

” Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa“. (QS.Al-An’am(6):69).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 19 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Bukan lagi rahasia bahwa belajar Piano ( klasik) dipercaya mampu meningkatkan intelegensia seseorang, terutama pada anak usia sekitar 10 tahun. Itu sebabnya sejak lama banyak orang tua berlomba memasukkan anaknya ke sekolah musik untuk belajar piano. Mereka ini minimal meyakini bahwa musik mampu membantu mengoptimalkan sekaligus menyeimbangkan antara kemampuan otak kanan dan kemampuan otak kiri. Mereka beranggapan bahwa pendidikan di negri kita yang terlalu berlebihan dalam memberi pengajaran matematika ( IPA) hanya mampu mengasah kemampuan otak kiri. Sementara otak kanan yang mengatur masalah kreativitas, emosi, pengenalan waktu, dan ruang kurang diperhatikan.

“Musik klasik akan membawa otak pada gelombang alpha. Gelombang itu menstimulasi serabut-serabut neuron korteks hingga bekerja maksimal. Selain itu gelombang ini mampu membuat suasana menjadi rileks sehingga orang lebih aware, sadar dalam menerima informasi. Nah, itulah yang disebut Efek Mozart” , begitulah salah satu difinisi yang diberikan para pakar musik mengenai Efek Mozart.

Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) adalah satu diantara komponis besar dunia sekelas Haydn, Beethoven dan Bach. Jenis musik pada masa mereka ini dianggap memiliki keunggulan karena iramanya yang teratur dan teksturnya yang sederhana. Hal ini mampu membuat jantung berdenyut dengan normal selain juga dapat membangkitkan perasaan dan ingatan. Sejumlah peneliti menemukan bahwa siswa yang secara teratur mendengarkan musik klasik, terutama karya Mozart, tampak lebih mudah menyimpan informasi dan memperoleh nilai IQ lebih tinggi. Namun mengapa Mozart?

Adalah Dr. Alfred A Tomatis, seorang dokter spesialis THT yang membuat penelitian hubungan antara telinga, suara dan sistim syaraf otak. Ilmuwan Perancis inilah yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa karya Mozart memiliki kemampuan menyembuhkan sekaligus meningkatkan kemampuan otak. Ayah Tomatis adalah seorang penyanyi opera kenamaan. Ialah yang memperkenalkan teman2nya sesama penyanyi ketika mereka mendapat masalah terhadap suara emas mereka.

Berdasarkan pemeriksaan inilah akhirnya Tomatis mengambil kesimpulan bahwa “Suara tidak menghasilkan kecuali apa yang didengarnya”. Selanjutnya iapun berkeyakinan bahwa musik klasik terutama karya Mozart terbukti paling mampu memberikan efek positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Berdasarkan penelitiannya itu, melalui bukunya “Pourquoi Mozart?” yang diterbitkan pada tahun 1991, ia mempopulerkan istilah “ Efek Mozart”.

Benarkah temuannya ini ? Entahlah…. Yang jelas hingga kini teorinya ini masih banyak diperdebatkan orang. Ini pengalaman saya pribadi. Ketika kecil saya pernah belajar bermain piano meski hanya sebentar sekali dan tidak seintensif orang lain atau taruhlah adik saya yang dapat bertahan lebih dari 6 tahun kursus piano di sebuah sekolah musik terkenal di Manggarai, Jakarta Selatan. Saya tidak ingat, atas sebab apa saya tidak serius dan tidak melanjutkannya. Sebaliknya saya justru benar-benar jatuh cinta kepada (suara ) piano setelah dewasa.

Namun pelajaran penting yang dapat saya petik dikemudian hari yang utama adalah keseriusan. Untuk dapat memainkan musik klasik melalui piano seseorang wajib menguasai not balok. Not ini sebenarnya tidak sulit. Yang diperlukan hanyalah konsentrasi. Sementara untuk menguasai hitungan sebuah not diperlukan banyak latihan dan kesabaran. Tetapi untuk menjadi lihai itu saja tidak cukup. Diperlukan adanya keterlibatan emosi, yaitu dengan banyak mendengar karya-karya klasik komponis besar. Padahal untuk mendengar musik jenis ini diperlukan ‘kekhusyukan’ dalam arti, tidak dalam keadaan tergesa-gesa dan brisik. Perlu suasana yang tenang.

Sekarang mari kita bandingkan dengan mendengar dan membaca Al-Quranul Karim. Membaca Al-Quran jelas ada aturannya. Yang pasti kita harus kenal huruf, sifat dan cara pengucapannya yang benar dan tepat. Setelah itu kita harus tahu hitungan panjang pendeknya ; 2, 3, 4 atau 5 harakat. Atau singkatnya Tajwidnya. Dengan mengetahui harakat inilah akhirnya akan terbentuk nada indah suatu ayat. Untuk membaca Al-Quran dengan benar diperlukan keseriusan. Kita dituntut untuk awas. Karena sebelum selesai membaca huruf yang ada dihadapan kita, kita sudah harus tahu huruf, panjang dan sifat huruf selanjutnya. Kita juga dituntut untuk tahu dimana kita harus berhenti, sebaiknya berhenti atau jangan berhenti. Karenanya kita diminta untuk membaca kitab suci ini dengan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa.

 “…. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.(QS.Al-Muzammil (73):4).

Sebagian diantara kita mungkin pernah mengetahui adanya anjuran agar ibu yang sedang mengandung banyak mendengar ayat-ayat Al-Quran. Kita juga tentu tahu adanya perintah untuk diam ketika ayat-ayat suci dilantunkan, bukan?

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.(QS.Al-‘Araf(7):204).

Demikian juga ketika kita shalat, Allah memerintahkan kita agar membaca ayat-ayat dengan suara yang sedang, tidak terlalu keras hingga mengganggu orang lain tetapi juga tidak terlalu pelan. Para ulama sepakat cukup terdengar oleh telinga kita.

 “ Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu“(QS.Al-Isra (17):110).

Mengapa Allah swt memerintahkan yang demikian ? Seorang Muslim yang taat dan patuh tentu tidak memerlukan jawaban. Karena ia yakin dibalik semua perintah-Nya pasti ada hikmah terselubung. Namun dengan adanya temuan Dr. Tomatis diatas sekarang kita tahu persis apa hikmah terselubung tersebut. Yaitu bahwa pendengaran, suara dan syaraf adalah sebuah mata rantai yang saling berkaitan secara amat  istimewa.

Saya sering mendengar kabar bahwa orang tua / uzur yang rajin membaca Al-Quran meskipun ia tidak memahaminya jauh lebih baik daya ingatnya dibanding orang tua yang jarang atau tidak pernah membaca Al-Quran. Mereka lebih sehat dan tidak cepat pikun bahkan dibanding orang yang dulunya aktif bekerja sekalipun.

Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan.”

Saya juga pernah membaca berita tentang cara pengobatan baru di sebuah rumah sakit di  Belanda dimana terapis ( bukan Muslim ) melatih pasien ( yang juga bukan Muslim) untuk melafalkan kata ‘Allah ‘ dengan pengucapan khas Muslim sebanyak mungkin. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Kemampuan syaraf mereka yang tadinya terganggu menjadi membaik !

Jadi jelas, hikmah dari membaca Al-Quran secara teratur dan benar sekalipun tidak mengerti maknanya ternyata tidak hanya mendatangkan pahala di akhirat nanti namun juga bermacam kebaikan, diantaranya yaitu tadi, dapat meningkatkan daya ingat, membersihkan,  menentramkan sekaligus  melembutkan hati baik si pembaca maupun si pendengar.

“ …. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia“, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“.(QS.Al-Baqarah( 2):200-201).

Akhir kata, semua kembali kepada niat kita. Allah akan mengabulkan permohonan dan usaha seseorang sesuai dengan niatnya ; duniawi, akhirat atau keduanya. Alangkah beruntungnya manusia yang meminta kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sungguh Al-Quran itu petunjuk sekaligus obat dan penyembuh baik penyakit fisik maupun mental.

 “ …… Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”.(QS.An-Nahl(16):69.

“ Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.(QS.Yunus (10):57).

Sayang Dr Tomatis tidak sempat ( atau tidak mau ?) meneliti hal ini. Kalau sempat saya yakin pasti ia akan langsung mengakui kebesaran-Nya dan  ber-syahadat !

Berikut tulisan menarik dari milis tetangga, click here.

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 13 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( QS. Al-Baqarah ( 2) : 183)

Berpuasa dalam arti sekedar menahan makan dan minum di bulan Ramadhan bagi sebagian Muslim  mungkin tidak seberapa berat.  Apalagi bagi yang tinggal di negri2 dimana mayoritas penduduknya Muslim. Belum lagi ditambah dengan adanya tempat2 yang menjual aneka jajan pasar spesial Ramadhan alias tajil yang tiba2 bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Nyammm..…

Namun masalahnya apakah puasa yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan yang dimaksudkan-Nya?  Puasa yang bagaimanakah yang dimaksud dapat menyebabkan seseorang mencapai takwa itu?

Banyak difinisi yang dapat diberikan kepada kata Takwa. Namun dengan satu kata yang paling pendek  tapi pas mungkin adalah Pasrah.  Mudah ? Selintas mungkin  mudah. Tetapi benarkah demikian?  Mari kita merenung sebentar.

Terus terang saya selalu terkesan pada salah satu jenis permainan yang kerap diadakan pada kegiatan ‘Outbond’. Permainan ini biasanya dilakukan secara beramai-ramai.  Setiap tim terdiri  dari 3 orang yang berdiri berjajar.  Dua orang yang di pinggir berdiri menghadap yang di tengah sementara yang tengah berdiri menghadap ke arah depan. Dengan demikian bahu si tengah berada didepan kedua temannya. Setelah semua tim siap, panitia memberi tanda permainan dimulai. Segera salah satu dari dua orang yang berdiri di pinggir mulai mendorong bahu teman yang berada di depannya  ke arah teman yang satu lagi. Selanjutnya teman tersebut harus  menahan tubuh teman yang didorong tadi agar  jangan sampai terjatuh dan kembali mendorongnya ke arah teman yang tadi mendorongnya. Demikian seterusnya hingga waktu beberapa menit yang diberikan panitia habis.

Memang hanya sebuah permainan sederhana. Namun apa yang dituntut dari si tengah sebenarnya mencerminkan sebuah kepasrahan. Ia harus mau  mengikuti irama dorongan kedua temannya, tidak boleh kaku  apalagi menahan diri agar tidak jatuh. Ia harus mampu mengendurkan perasaan tegangnya. Sementara yang dituntut dari kedua orang teman yang saling dorong  adalah kekuatan untuk menahan dan mendorong si tengah. Bila tim ingin menang disinilah kuncinya. Si tengah harus pasrah kepada kedua temannya. Yakin bahwa ia tidak akan dijahili. Yakin bahwa kedua temannya itu cukup kuat untuk mendorong dan menerima dirinya yang  sewaktu-waktu bisa jatuh. Yakin bahwa temannya tidak akan mendorong dirinya terlalu keras hingga teman yang satu lagi tidak sanggup menahan bobot tubuhnya apalagi bila ia merasa gemuk dan berat!

( Saya sendiri terus terang kalau harus menjadi yang berdiri di tengah, saya  lebih memilh menutup mata alias merem dari pada menanggung perasaan takut terjatuh. Itupun tentu saja setelah saya yakin bahwa ke dua orang teman saya bakal mampu menahan beban tubuh saya.  Namun tetap saja dengan perasaan was-was … )

Nah, kepasrahan total yang seperti inilah yang dimaksud dengan pasrah kepada-Nya . Pasrah kepada kehendak dan kekuatan Sang Pencipta. Yakin pada kekuatan, kasih sayang dan kesetiaan-Nya hingga akhirnya sepenuhnya kita rela dan mau menggantungkan diri kepada-Nya tanpa sedikitpun rasa khawatir dan was-was bahwa Dia akan meninggalkan, mengabaikan apalagi melukai kita. Keyakinan inilah yang mula-mula  harus kita bangun. Namun demikian bagaimana mungkin kita dapat meyakini semua itu bila bahkan mengenal-Nyapun tidak ?!?

Ada beberapa cara dan tahapan untuk mengenal Sang Khalik. Diantaranya yaitu dengan mengenali ciptaan-Nya. Ini bisa kita lakukan  dengan banyak berpikir mengenai alam semesta . Bagi yang kebetulan menyukai tanaman mungkin berpikir  bagaimana tanaman yang sudah hampir mati ; layu dan kering tapi keesokkan harinya ternyata bisa hidup dantumbuh kembali adalah contoh yang tepat. Bagi para petani, penjual buah, bunga dan siapa saja yang menyukai keduanya, seharusnya mulai berpikir bagaimana buah-buahan atau bunga-bungaan bisa begitu banyak ragam, warna, bentuk bahkan juga rasanya. Sementara semua orang dapat saja mulai memperhatikan dan berpikir bagaimana matahari, bumi dan bulan dapat berjalan/berputar  dengan begitu teraturnya  tanpa harus  bertabrakan. Mengapa pula burung-burung bahkan yang baru lahirpun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terbang. Mengapa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dari mana angin datang  dll .

Dapat pula kita memikirkan diri dan tubuh kita sendiri. Mengapa tanpa disuruh  mata dapat berkedip, gigi dapat tumbuh, kulit dapat membedakan rasa rasa  panas dan  dingin. Bagaimana pula darah, jantung dan seluruh organ tubuh kita ini tidak pernah merasa lelah menjalankan fungsi dan tugas masing-masing. Hidung tanpa diperintah secara otomatis senantiasa menghirup dan mencari oksigen. Pernahkah  terlintas dalam pikiran  bagaimana bila suatu ketika pasokan oksigen di muka bumi habis ?!?

Tahap berikutnya  adalah mencoba memahami Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, yaitu  Asmaul-Husna. Dan selanjutnya adalah membaca, memahami serta mengkaji  Al-Quranul Karim. Cobalah bandingkan ayat-ayat dalam kitab suci ini dengan apa yang terjadi di hadapan kita tadi.

“  Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman “.( QS. An-Nahl ( 16):79)).

“ Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.(QS. Ibrahim ( 14:33)).

“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.(QS. Al-Mukminun ( 23):12-14)

Dengan banyak merenung dan memikirkan hubungan antara keduanya, dengan izin-Nya banyak hikmah yang dapat kita ambil. Dengan cara ini kita akan mengenal-Nya dengan lebih baik lagi. Namun demikian, tidak semua ayat Al-Quran  dapat dengan mudah kita pahami. Perlu adanya bimbingan ahlinya ( Alim Ulama seperi Uztad, uztadzah). Akan lebih baik bila uztad/uztadzah lebih dari satu selain agar masukan lebih bervariasi juga agar tidak terjebak ke dalam aliran sesat yang belakangan ini makin menjamur. Disamping itu mengkaji Al-Quran secara  berkelompok juga baik. Gunanya adalah  agar ada yang mengingatkan  ketika kita sedang lalai, lupa atau malas.

Satu hal penting yang harus diingat. Akal dan pikiran manusia itu terbatas. Walaupun dengan bantuan ahlinya sekalipun tidak semua ayat dapat kita pahami maknanya dengan benar. Memahami suatu ayat ada tahapannya. Pertama adalah dengan memahami hubungan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Kedua dengan memahami cara turunnya ayat ; bagaimana  suasana dan keadaan ketika ayat datang. Inilah salah satu kegunaan mempelajari  Sirah Nabawiyah, sejarah kehidupan Rasulullah saw, yaitu untuk mengetahui Asbabun Nuzul, asal mula turunnya  ayat . Berikutnya adalah dari penuturan para sahabat yang hidup pada zaman Rasulullah. Terakhir baru dari segi bahasanya.

Dengan kata lain , jangan pernah merasa bahwa ayat tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia.  Hingga tingkatan tertentu manusia memang memiliki kemampuan untuk mengikuti pikiran-Nya. Namun tidak setelah itu. Ini yang menjadi penyebab utama mengapa para orientalis dan orang-orang tertentu tidak mampu meraih hidayah-Nya. Kesombongan bahwa akal dan pikirannya adalah yang paling benar  serta hati yang kotor karena tujuan mempelajari ayat-ayat Al-Quran tidak dalam rangka mencari kebenaran dan mencari ridho’ Nya ; mungkin kebencian, materi ataupun  ketenaran dll, sangat berpotensi memancing kemurkaan-Nya.

Sebaliknya membaca Al-Quran ( bukan hanya terjemahan saja) secara tartil ( benar, teratur dan tidak terburu-buru) sekalipun tidak mengerti , selama dalam rangka mencari ridho’Nya, dapat membersihkan hati. Dengan jauhnya hati dari prasangka buruk, dengan izin-Nya, Allah swt akan  memberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Di atas dasar hati yang bersih inilah, perlahan keimanan akan tumbuh dengan subur bagai menabur benih tanaman unggul di atas tanah yang gembur dan disirami dengan air yang bersih secara teratur.

“ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.(QS.Ibrahim (14):24-25)

Setelah kita mengenal Sang Khalik langkah selanjutnya adalah memenuhi  perintah dan larangan-Nya. Ayat-ayat Al-Quran, diperinci dan dicontohkan pelaksanaannya oleh Rasulullah saw sebagai sang penyampai adalah panutan terbaik yang tidak dapat disangkal  lagi kebenarannya. Dengan modal inilah kita seharusnya mengarungi kehidupan.  Disiplin, jujur,  kerja keras serta tak kenal putus asa, berbuat baik kepada sesama, saling membantu dalam kebaikan seperti memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberikan bantuan kepada yang memerlukan, memberikan nasehat bagi yang kesusahan dll akan mendatangkan kemudahan dalam hidup ini.

“ Rasulullah bersabda : “  Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak”.”

Dengan berbuat dan bertindak segala sesuatu atas nama takwa kepada-Nya maka Allah akan mencintai kita. Sebagai balasannya Ia pun akan membuka hati hamba-hamba-Nya yang lain agar merekapun  mencintai kita! Subhanallah…

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda:
“Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka  ” Cintailah si Fulan itu “. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah kecintaan padanya di kalangan penghuni bumi”. ( HR. Muttafaq ‘alaih)

“ Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Al-Lukman (31):22)

Kembali kepada ‘game outbond’ di awal tulisan,  bila kedua orang yang bertugas mendorong dan menahan beban si tengah tentunya hanya mampu    ‘ menjalankan tugas’ selama beberapa menit saja, tidak demikian dengan-Nya.  Selama hidup kita Ia selalu siap menjaga dan menemani kita tanpa sedikitpun rasa lelah, ngantuk dan bosan.  Ia bagaikan tali super kokoh yang mengikat diri kita selama kita tidak melepasnya.

“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(QS.Al-Baqarah ( 2): 255).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, September 2009/ 19 Ramadhan 1430 H.

Vien AM.

Catatan : Hukum Puasa, Click : http://rohiminalasror.com/fiqih/fiqih.html

Read Full Post »

Anak adalah buah hati. Anak adalah penghibur dalam suatu keluarga idaman. Mereka adalah penyemarak keluarga yang dapat menambah kebahagiaan dan keceriaan sebuah keluarga. Islam mengajarkan pentingnya hubungan yang sangat baik dan mesra antara ayah, ibu dan anak. Islam  mengajarkan betapa pentingnya menyayangi anak dan memperlihatkan kasih sayang tersebut.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : ” Rasulullah saw mencium Hasan bin Ali dan disisinya ada Al Aqro bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Lalu Al Aqro berkata : ” Sesungguhnya aku mempunyai 10 anak. Aku tidak mencium salah seorangpun dari mereka”. Lalu Rasulullah memperhatikan Aqro kemudian berkata: ”Barangsiapa tidak menyayangi tidak akan disayangi.”

Anaklah yang diharapkan kedua orang-tuanya dapat meneruskan keturunan, mewarisi kekayaan dan harta sekaligus mengurus berbagai urusan kekeluargaan dan urusan-urusan penting lainnya. Mereka adalah tumpuan keluarga. Mereka adalah kebanggaan apalagi bila anak-anak ini kelak menjadi orang yang sukses, yang mampu menjaga nama baik orang-tuanya. Hal ini tidak dapat disangkal.

Ironisnya, anak juga dapat menjadi musuh dan lawan, yaitu ketika mereka tidak mau lagi mendengar dan tidak mau menerima nasihat ke dua orang-tuanya. Al-Quran dengan tegas melarang  anak berkata kasar apalagi membentak keduanya. Bahkan  berkata “ ah”  sajapun Allah SWT melarangnya terutama letika keduanya telah lanjut usia.

” ……. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ”. (QS.Al-Isra’(17):23).

Namun demikian tidak seorangpun di dunia ini yang pernah membayangkan kehilangan orang-tua terutama ketika anak masih belia. Menjadi yatim apalagi piatu ketika seseorang masih begitu membutuhkan perhatian, bimbingan serta kasih-sayang dari kedua orang-tua adalah hal yang sungguh menyakitkan. Itu sebabnya Islam mengajarkan agar kita mau menyantuni anak-anak yatim.

Anas bin Malik ra berkata: “Sebaik-baik rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan secara baik dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang disia-siakan. Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang yang memperlakukan anak yatim  dan janda dengan baik”.

Tidak seperti hubungan antara suami-istri yang bisa saja tidak kekal dan abadi, hubungan antara anak dan kedua orang-tuanya mustahil terputus. Itu sebabnya Islam melarang adopsi atau mengangkat anak, dalam arti mengakui anak sebagai anak sendiri/ kandung. Memelihara anak yatim/ piatu dan memperlakukannya seperti anak sendiri apalagi di rumah sendiri  memang sangat mulia namun bukan mengakuinya sebagai anak kandung.

Hak dan kewajiban manusia selaku anak (kandung) maupun selaku orangtua dan ibu yang pernah melahirkan seorang anak tidak pernah mungkin bisa dicabut.. Bahkan menurut hukum Islam, anak perempuan ketika menikah memerlukan kehadiran ayah kandung sebagai walinya. Demikan pula dalam hal waris. Kedudukan anak angkat dan anak kandung tidaklah  sama.

Dalam dunia kesehatan modern, pelarangan adopsi dengan menghilangkan asal usul keluarga aslinya, terbukti sangat penting. Ini terkait ketika anak adopsi akan melakukan pernikahan. Karena perkawinan incest / perkawinan antar anggota keluarga yang memiliki hubungan darah yang dekat dapat mengakibatkan penyakit / cacat seumur hidup. Ini bisa saja terjadi diantaranya karena ketidak tahuan bahwa calon pasangan pengantin tersebut mungkin sebenarnya bersaudara. Karena salah satu diantara mereka   adalah anak adopsi yang tidak diketahui asal-usul kedua orang-tuanya.

”…….  Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):5).

Tampaknya ini adalah salah satu sebab mengapa orang Arab selalu mencantumkan ”bin/binti ” mereka. Bin/binti menunjukkan nama bapak, kakek dan moyang mereka. Dengan demikian seseorang dapat mengetahui dengan pasti garis keturunannya. Ini adalah hal yang amat jarang ditemukan di negri kita. Penggunaan bin/binti di negri tersebut tidak dapat disamakan dengan penggunaan nama keluarga seperti halnya beberapa suku di Indonesia, sepeti Siregar, Tamin, Malaiholo dsb. Karena anak perempuan Arab tetap menggunakan binti bapaknya walaupun ia telah menikah. Ia tidak berganti nama dengan nama suami atau keluarga suami.

” Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;…….  Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab (33):4)

Ayat diatas menunjukkan bahwa seorang manusia tidak mungkin mampu memperlakukan anak angkat sama persis dengan anak kandungnya. Secara materi hal ini mungkin saja terjadi namun secara hati adalah sesuatu yang mustahil. Allah swt sebagai Sang Pencipa telah memperkirakan hal tersebut. Ini adalah penyebab lain mengapa seseorang dilarang mengakui anak angkat sebagai anaknya sendiri. Walaupun tentu saja hal ini baru akan terasa bila seorang yang mengangkat anak angkat suatu ketika dianugerahi anak kandung. Allahuakbar …Maha benar segala firman-Nya.

Tentu dapat kita bayangkan bagaimana sakitnya perasaan hati seorang anak yang merasa dibedakan dengan saudaranya sendiri. Akan berbeda halnya bila sejak awal ia memang telah mengetahui bahwa ia adalah anak angkat.

Berikut adalah apa yang dialami Rasulullah sehubungan dengan permasalahan anak angkat dan kaitannya.

Zaid bin Haritsah adalah seorang anak yang sejak kecil telah menjadi tawanan. Suatu hari ia dibeli oleh  Hakim bin Hizam untuk diberikan kepada saudarinya, Khadijah binti Khuwailid. Selanjutnya Zaid diberikan Khadijah kepada Rasulullah saw sesudah Khadijah menikah dengan beliau. Selanjutnya kita mengetahui betapa Zaid berkembang menjadi seorang pemuda yang bukan hanya sholeh namun juga  tawakkal. Karenanya ia menjadi kesayangan Rasulullah saw hingga para sahabat sering menyebutnya  dengan nama Zaid bin Muhammad. Hal yang ketika itu adalah hal biasa.

Bertahun-tahun kemudian,  bapak kandung Zaid mengetahui bahwa anaknya berada dalam pemeliharaan Rasulullah. Maka iapun segera mendatangi beliau dengan maksud meminta anaknya kembali. Tetapi Rasulullah saw menyuruh Zaid sendiri yang membuat keputusan. Ternyata Zaid lebih senang memilih Rasulullah  sebagai ayahnya  daripada ayah kandungnya  sendiri. Tak lama kemudian turun  ayat 5 surat Al-Ahzab diatas. Maka sejak itupun Zaid dipanggil dengan nama Zaid bin Haritsah. Haritsah adalah nama ayah kandung Zaid.

” Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi ”.(QS. Al-Ahzab (33):37)

Ayat diatas adalah ayat yang menerangkan bahwa bila mau seseorang dibolehkan menikahi mantan istri anak angkatnya setelah keduanya ( mantan pasangan suami istri ) telah menyelesaikan segala urusannya, yaitu resmi bercerai dan tidak ada lagi hal yang menghambat urusan perceraian mereka. Karena sebelumnya hal tersebut adalah sesuatu yang tabu.

Ini yang terjadi pada Zaid dan istrinya, Zaenab binti Jahsy. Pernikahan pasangan ini sangatlah rapuh. Zainab terus menerus mengeluh bahwa latar belakang diri dan suaminya terlalu jauh hingga ia merasa Zaid tidak akan mampu membahagiakannya. Zaid tidak tahan diperlakukan demikian. Beberapa kali ia meminta Rasulullah sebagai ayahnya agar beliau bersedia mengizikannya menceraikan istrinya itu. Namun beliau menasehati keduanya agar bersabar dan tetap mempertahankan perkawinan mereka.

Hingga suatu ketika akhirnya keduanya tidak tahan lagi dan sepakat untuk berpisah secara baik-baik. Dalam tradisi Arab jahiliyah sudah menjadi kebiasaan bahwa bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi ayah anak angkat yang bersangkutan. Namun dengan turunnya ayat 37 surat Al-Ahzab diatas Allah swt  membatalkan larangan tersebut. Rasulullah Muhammad saw diperintah agar mengawini Zainab binti Jahsy, mantan istri Zaid, anak angkat beliau. Dalam beberapa riwayat dikisahkan, salah satu Umirul Mukminin ini sangat bangga akan kelebihan tersebut.

Wallahu’alam bishawab.

Semoga bermanfaat.

Pau-France, 23 Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »