Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Air Hexagon

Beberapa tahun belakangan ini di sejumlah toko besar dapat kita temui air hexagon dalam kemasan. Bahkan dipasarkan pula suatu alat yang dipromosikan sanggup menghasilkan air hexagon. Bila sebelumnya kita telah mengenal berbagai jenis air minum kemasan, mulai dari air murni biasa, air yang mengandung mineral,air mineral hingga air beroksigen,maka yang terakhir ini meng’klaim’ bahwa air hexagon jauh lebih berkwalitas daripada air minum biasa. Ia diyakini mampu mencegah kekurangan cairan penting dalam tubuh, membantu penyerapan nutrisi penting, sangat effektif sebagai pembuang racun dalam darah serta mampu meningkatkan effisiensi metabolisme cairan dalam tubuh. Dengan demikian wajar saja bila air jenis ini harganya jauh lebih mahal dari air kemasan yang lain.

Penemuan Dr Masaru Emoto

Dr Masaru Emoto adalah seorang ilmuwan Jepang, lahir di Yokohama pada tahun 1943. Pada tahun 1992, ia menerima sertifikat dari Open International Univercity Yokohama sebagai Dokter Pengobatan Alternatif dengan tesisnya yang berjudul “Concept of Micro Cluster Water in the US and Magnetic Resonance Analysis Technique”. Ia melakukan penelitian secara intensif terhadap sifat dan prilaku air. Dengan mengambil sample air dari P. Honshu yang dikategorikan merupakan air murni nan jernih, air tersebut kemudian dibacakan doa secara agama Shinto dengan penuh khidmat.

Setelah itu air dibekukan hingga -25°C selama 3 jam di dalam laboratorium. Setelah itu molekul air tersebut difoto dengan menggunakan microscop electron berkecepatan tinggi didalam ruangan bertemperatur -5°C. Ternyata hasil foto menunjukkan bahwa air membentuk kristal segi 6 atau hexagon yang sangat indah. Dr Masaru melanjutkan penelitian dengan berbagai bacaan dengan mengambil sample air dari berbagai tempat. Ternyata hasil menunjukkan bahwa air yang dibacakan bacaan yang baik memberikan hasil yang sama yaitu kristal hexagon yang indah.

Sebaliknya air yang dibacakan bacaan kasar, molekul air berubah menjadi bentuk yang samasekali tidak beraturan.Semua itu dengan syarat air adalah air murni yang tidak terkontaminasi apapun. Penemuan ini kemudian dituliskan dalam buku-bukunya a.l: “The hidden message”, “ Message from water” dan “ The true power of water”. Saat ini Dr Masaru menjabat sebagai kepala IHM General Research Institute merangkap President of The International Water of Life Foundation, suatu organisasi non profit di Jepang. Ia melakukan banyak perjalanan ke berbagai negara untuk mempromosikan sekaligus memasarkan air hexagon temuannya tersebut.

(Lihat www.hado.net.)

Arti air dalam kehidupan kaum Muslimin

Sejak awal ke-Islaman, kaum muslimin telah diperkenalkan akan air sebagai unsur yang amat fital dalam kehidupan mereka. Lebih dari sekedar kebutuhan hidup. Bahkan untuk berkomunikasi dengan Nya melalui shalatpun kita diwajibkan untuk berwudhu’ dan berdoa terlebih dahulu. Air yang digunakan juga harus memenuhi beberapa persyaratan. Selain itu tentu kita tidak lupa bagaimana Rasullullah sering diminta para sahabat untuk mengobati berbagai penyakit. Dengan menggunakan air zamzam yang merupakan air murni yang berasal dari sumur yang telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun ataupun air minum biasa bila tidak memungkinkan, maka setelah dibacakan doa memohon ridhoNya, beliau memberikan air tersebut kepada si sakit untuk diminum. Hal yang sama kemudian banyak dicontoh para sahabat dan para kiai di zaman sekarang sebagai pengobatan alternatif.

Dan akhirnya, pada abad 21 ini, lebih dari seribu tahun kemudian, dengan adanya temuan Dr; Masaru, terbukti bahwa air memang mampu bereaksi terhadap getaran suara. Suatu ketetapan hukum alam atau sunatullah yang sungguh menakjubkan sebagaimana tetapnya sifat air yang cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah. Sungguh beruntung kaum muslimin yang mau berdoa dengan khusyu’, mereka tidak perlu bersusah-payah mengeluarkan biaya extra untuk mendapatkan air yang berkwalitas tinggi seperti air hexagon tersebut.

Maha benar Allah dengan segala firmannya.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”( QS.Al Isra’ (17):44)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS.Al Mukminun (23):1-3).

Walahu’alam bishawab.

Jakarta, 24 Juni 2006

Vien AM.

Read Full Post »

Oleh : Dr. Sath-han Ahmad (United State of America)

ٍSudah menjadi sesuatu yang diketahui umum, yaitu adanya dampak yang sangat kentara dari alkohol terhadap otak dan kerja hati (liver), kecuali apabila hal itu digunakan untuk tujuan-tujuan sosial atau untuk medis. Ada sebuah pemahaman yang menyatakan bahwa penggunaan alkohol dalam jumlah kecil tidak berdampak pada toksin atau mempengaruhi anggota tubuh lainnya sehingga tidak boleh melarang penggunaan alkohol.

Oleh karena itu, aku melaksanakan penelitian ini untuk memastikan ada-tidaknya dampak yang signifikan terhadap jantung bagi manusia. Penelitian juga aku lakukan terhadap zat aditif “khomer” bagi responden. Tes percobaan adalah 6 jenis alkohol dengan kandungan 43% saya berikan kepada orang biasa yang sehat yang berusia 23 – 30 tahun selama 2 jam, bagi kelompok pertama, dan 1 jam bagi kelompok kedua. Dan ternyata, kerja jantung jadi berdebar kencang.

Terhadap kelompok pertama, setelah berselang 60 menit (1 jam), kandungan al-kohol menjadi + 74 mcm/ml ada penambahan selama pemompaan darah 90 – 96 mili kedua. Dan penambahan waktu kepastian 44 – 52, bertambah persentase keduanya dari 0,299 sampai 323. Dan mulai menurun setelah 2 jam pertama padahal jumlah alkohol dalam darah bertambah sampai 111 mg dengan peningkatan yang sangat cepat/drastis (pada kelompok kedua) dan terjadi dis-fungsi organ perut bagian kiri setelah 30 menit. Hal ini terjadi ketika keadaan alkohol dalam darah mencapai 50 mg/100ml.

Adapun pada kelompok ketiga. Kami melakukan studi komparasional terhadap 5 orang yang aku beri saccharine dan terjadi penurunan pada tiga hal tersebut pada setiap orang.

Oleh karena itu, penggunaan alkohol dengan dosis “kecil/atau tidak seberapa” akan menyebabkan terjadinya disfungsi organ secara berkala; dan pada orang-orang biasa bila tidak berkala. Dan untuk menganalisis kerja jantung pada pada saat diberi zat aditif tersebut di atas, maka 3 orang yang sudah kecanduan khomer, kami melakukan studi komparasinya dengan kelompok orang-orang biasa yang sehat. Berdasarkan hipotesis : Ada perbedaan yang jelas pada keadaan dan gejala-gejala jantung, maka diketahui bahwasanya ditemukan keadaan yang sangat jelas pada setiap responden tentang disfungsi organ perut bagian kiri, baik besar atau pun kecil. Dan disfungsi ini lebih jelas lagi pada orang yang sedang sakit yang relatif lebih lama pada lama-tidaknya kerja jantung. Pada 12 pasien tidak mengetahui penyebab pembengkakan jantung, sebab ukuran/volume organ perut bagian kiri dan volume darah dan terbuang berbeda lebih jelas dibandingkan pada responden orang biasa.

Dan pada 11 orang yang menderita sakit tambahan, tidak mengetahui pembengkakan jantung dengan perbedaan yang jelas, yaitu adanya penambahan atau pengurangan volume pompa darah.

Pada 18 pasien, mengetahui adanya pembengkakan jantung tanpa diserta gejala, terjadi penurunan atau dis-fungsi kerja pompa jantung secara jelas dan disertai penurunan volume dan darah yang terbuang.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan alkohol (sebagai zat aditif) adalah kritis secara terus-menerus terhadap jantung. Hal ini diawali dengan berdebarnya detak jantung dan sampai pada tahapan berikutnya, sakit; penurunan stamina tubuh pada kerja pompa darah, kemudian pembengkakan jantung, munculnya dis-fungsi jantung. Dan informasi yang diperoleh dari percobaan terhadap sejumlah anjing menguatkan data kami ini, dimana kami telah memberi makan 7 anjing tersebut secara paralel 5 kebutuhan anjing tersebut akan energi panas melalui alkohol selama 18 bulan. Maka, terjadilah dis-fungsi/penurunan yang sangat jelas pada jumlah yang terbuang dari organ perut bagian kiri, dan pada kekuatan tulang biseps. Adapun pembengkakan pada organ perut dan inflamasi ataupun perubahan pada keduanya, maka hal itu tidak terjadi, dan terjadinya penurunan potassium dengan adanya catatan pada biseps jantung anjing (64, dimana sebelumnya 72).

Berdasarkan hal tersebut, pengunaan alkohol dengan dosis apapun dan dalam kondisi apapun bukan hanya mempengaruhi aqidah saja, bahkan berdampak kepada jantung dengan dampak yang sangat berbahaya.

Sesungguhnya hukum pengharaman di dalam Islam adalah sesuatu yang sudah dogmatis dan terbatas yang tidak ada porsi sedikitpun untuk meragukannya atau mengingkarinya. Sikap Islam terhadap penggunaannya minuman beralkohol dalam dosis kecil adalah sangat jelas yang tidak perlu penjelasan tambahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah. Adapun orang-orang kafir dan kalangan pendosa, mereka mengikuti kaidah-kaidah mereka dari aspek kemanusiaan dan medik untuk melegalkan penggunaan alkohol dalam dosis rendah … . Maka mereka akhirnya menyangka bahwa dosis rendah tidak akan berdampak secara signifikan, tidak jadi haram, dan tidak membahayakan tubuh. Dari hal ini pun akhirnya dimungkinkan penggunaan alkohol dalam dosis sedang untuk tujuan-tujuan medik.

Oleh karena itu, dipandang perlu bahwa kita dalam setiap moment selalu mengedepankan ilmu dan dalil untuk memuaskan mereka-mereka yang tidak yakin dengan asas komitmen dalam kita bertahkim dengan hukum ilahi.

Sumber : http://www.muhammadiyah-tabligh.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1

Read Full Post »

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Sebagai seorang Rasul sekaligus pemimpin umat dan panglima perang sudah sewajarnya bila segenap perintahnya dituruti dan dipatuhi. Suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut. Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah. Tentu saja sebagian besar sahabat sangat kecewa dan tidak mau menerima keputusan tersebut.

Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali. Setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Tampak bahwa para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Lalu apakah kemudian Rasulullah marah dan mengecam mereka? Tidak! Rasulullah hanya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah ra, istri Rasulullah yang ketika itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurut beliau lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Rasulpun menyetujui usul istrinya tersebut. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Hal yang penting dicermati dalam kasus ini adalah sikap Rasulullah yang mau menerima dengan lapang dada pendapat istrinya. Padahal Ummu Salamah ketika itu hanya sekedar memberikan pendapat tanpa mengajukan dalil apapun. Jelas disini bahwa Rasulullah tidak merasa rendah dan hina ketika seorang perempuan memberikan pendapatnya.

Contoh lain keteladanan Rasulullah adalah sebagai berikut. Dalam perjalanan pulang dari Perang Musthaliq, Rasulullah dan rombongan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Aisyah ra yang kali ini mendapat giliran menemani Rasulullah berperang, turun dari sekedup, tandu tertutup tempat para perempuan ketika itu duduk dalam perjalanan, untuk buang hajat kecil. Namun ketika ia kembali ke sekedupnya Aisyah baru menyadari bahwa ia kehilangan kalung yang dikenakannya. Maka tanpa sepengetahuan yang lain, Aisyahpun segera turun untuk mencari kalungnya yang hilang tersebut. Sementara itu mengira rombongan telah lengkap, rombongan meneruskan perjalanan kembali. Maka ketika akhirnya Aisyah kembali ke tempat dimana sebelumnya rombongan berhenti, ia mendapati bahwa ia telah tertinggal. Aisyah tidak tahu harus berbuat apa di padang pasir nan luas tersebut. Ia hanya dapat menangis dan pasrah akan keadaannya.

Tak lama kemudian terlihat Shafwan bin Mu’aththal, seorang sahabat, nampaknya ia juga tertinggal rombongan. Ketika ia mengetahui bahwa umul mukminin ini tertinggal dengan penuh kesopanan ia segera menawarkan kudanya untuk ditunggangi Aisyah. Kemudian ia menuntunnya hingga Madinah. Setiba di Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul, si Munafikun yang memang dikenal sebagai penyebar fitnah, segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghembus-hembuskan berita bahwa Aisyah ra, seorang umul mikminin telah berbuat keji dengan seorang laki-laki. Berita ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW.

Namun Aisyah sendiri tidak mendengar desas-desus busuk itu karena sekembali dari peristiwa tersebut ia jatuh sakit. Yang ia ketahui hanya perlakuan Rasulullah, suami tercintanya itu berubah 180 derajat. Ia baru menyadari penyebab perubahan sikap Rasulullah yang dingin dan tidak bersabahat itu ketika ia sembuh dan mendengar berita miring tentang dirinya. Namun apakah Rasulullah langsung melampiaskan kemarahan tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut? Sama sekali tidak, Rasulullah memang jelas amat kecewa dan marah namun beliau berusaha menahan perasaannya. Rasulullah tidak ingin bertindak gegabah. Beliau ingin memastikan dari mulut Aisyah sendiri apakah berita itu benar.Sebulan lamanya Rasulullah dalam keadaan seperti itu. Beliau menunggu hingga istri tercintanya itu sembuh. Namun belum sampai Rasulullah menanyakan hal yang sebenarnya terjadi, turun ayat yang menerangkan tentang kebersihan dan ketidak bersalahan Aisyah.

” Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu”. (QS.An-Nur(24):11-14).

Dengan segera Rasulullahpun meminta maaf akan kecurigaan dan perlakuan yang menyangsingkan kesetiaan istrinya itu. Inilah tauladan Rasulullah yang mustinya diambil kaum lelaki dalam menghadapi kecurigaan terhadap istrinya.

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nur(24):4).

Ayat diatas menerangkan bahwa diperlukan paling tidak 4 orang saksi ketika seseorang menuduh seorang perempuan berbuat zina. Dan ganjaran bagi orang yang menuduh tanpa dapat mengajukan saksi adalah didera sebanyak 80 kali dera/cambukan. Sedangkan bila yang menuduh adalah suami namun ia tidak dapat mengajukan seorangpun saksi, maka sebagai gantinya ia dapat bersumpah dengan nama Allah sebanyak 4 kali bahwa ia menyaksikan sendiri apa yang dituduhkannya itu. Kemudian ia harus menutup sumpahnya tersebut dengan sumpah ke 5 untuk menegaskan bahwa bila ia berdusta, laknat Allah akan mendatanginya.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta”.( QS.An-Nur(24):6-7).

Sebaliknya istripun diberi kesempatan untuk membela diri dengan bersumpah atas nama Allah sebanyak 4 kali sebagaimana suaminya. Sumpah ke 5 boleh di ucapkan untuk menegaskan bahwa ia tidak bersalah, dengan taruhan ia siap dilaknat bila ia memang bersalah.

Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”. (QS.An-Nur(24):6-9).

Rasulullah adalah seorang yang sangat menghormati kaum perempuan. Suatu ketika datang seorang perempuan tua mengunjunginya. Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah segera membuka jubahnya dan menghamparkan jubah tersebut untuk diduduki perempuan tersebut. Begitu pula ketika suatu ketika Rasulullah pulang larut malam dan beliau dapati istrinya telah masuk kamar tidur. Rasulullah tidak mau mengganggunya maka beliaupun menunggu dan tidur di depan pintu hingga waktu subuh! Suatu ketika Aisyah ra pernah berkata, agar memudahkan istrinya untuk menaiki kudanya Rasulullah terbiasa merundukkan punggungnya sebagai pijakan. Beliau juga terbiasa membantu istrinya meringankan pekerjaan sehari-hari di rumah seperti menjahit bajunya yang sobek, menambal terompah, mencuci pakaian, memerah air susu domba dll.

Dan sesungguhnya bagi kamu ( Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.Al-Qalam(68):3-4).

Rasulullah saw memberi giliran diantara istrinya –istrinya lalu menetapkannya dengan adil. Kemudian beliau berdoa, ” Ya Allah, inilah tindakanku terhadap apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencela apa yang Engkau kuasai dan yang tidak aku kuasai.” ( HR Ahmad ).

Inilah yang dibaca Rasulullah setiap kali beliau berkeliling mengunjungi para istrinya. Rasululullah begitu khawatir bila beliau tidak dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Beliau menyadari bahwa keadilan yang diberikan kepada mereka tidak mungkin sebagaimana adilnya Allah swt. Rasullullah hanya manusia biasa yang hanya memiliki satu buah hati. Sulit bagi beliau untuk membagi hatinya sama persis bagi semua istri yang dimilikinya. Beliau hanya sanggup berusaha membagi waktu dan perhatian yang sama dan adil. Padahal sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah untuk menggilir dan menggauli mereka sesuka beliau. Tidak berdosa bila Rasulullah misalnya melebihkan sebagian waktunya untuk yang lain.

Namun Rasulullah tidak mau memanfaatkan kesempatan dan kelebihan tersebut. Rasulullah tidak ingin mengecewakan dan menyakiti hati istri-istri beliau walaupun mereka mengatakan ridha’ sekalipun. Beliau sangat memahami sifat dan hati perempuan.

Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki……..”. (QS.Al-Ahzab( 33):51).

Tidak dapat dipungkiri bahwa para sahabat dan istri beliaupun mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah memiliki rasa cinta yang lebih besar terhadap Aisyah ra daripada istri-istri yang lain diluar Khadijah ra. Alkisah, suatu ketika sebagaimana sifat manusia perempuan biasa, Aisyah yang memang masih sangat muda usianya ingin agar Rasulullah menyatakan kelebihan kecintaan tersebut di hadapan istri-istri beliau yang lain. Aisyah memohon agar Rasulullah mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa hanya dirinya yang menerima uang sebesar 1 dinar sebagai ungkapan rasa cinta yang lebih besar. Rasulullah mengabulkan permintaan Aisyah.

Para Umirul Mukmininpun dikumpulkan. Kemudian Rasululullah meminta agar mereka yang pagi ini menerima pemberian uang 1 dinar dari Rasulullah mengacungkan jarinya. Maka dengan penuh rasa bangga Aisyah segera mengangkat tangannya. Namun apa yang terjadi? Ketika Aisyah menengok ke kiri dan ke kanan ternyata seluruh Umirul Mukmininpun mengangkat jari tangannya sambil tersenyum simpul penuh arti!

Sebaliknya ketika Rasulullah memasuki sakratul maut. Beliau merasa bahwa harinya telah dekat. Maka ketika Rasulullah mulai merasakan sakit dan demam, beliau bertanya : ” Dimanakah giliranku hari ini?” . Ketika ia mendapat jawaban bahwa hari-hari akhir beliau bukan berada di rumah Aisyah, beliau meminta pengertian istri yang lain agar selama sakit beliau diizinkan untuk terus berada di rumah Aisyah.

Dan dirumah inilah, di pangkuan Aisyah ra akhirnya Rasulullah menghadap Sang Khalik sambil berbisik 3 x : ” Ya Allah, Rafiqul A’la ” . Padahal sekali lagi Rasulullah diberi kebebasan untuk menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Namun nyatanya demi keadilan, Rasulullah tetap merasa perlu mendapatkan izin istri-istri yang lain. Betapa mulia keteladanan yang diberikannya. Subhanallah.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Agustus 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Khilafah Islamiyah adalah kerajaan Islam yang menaungi negara-negara Islam di dunia, yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China juga termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia.( lihat bab ‘Khilafah Islamiyah’). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel atau yang sekarang dinamakan Istanbul, Turki.

Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius. Adalah Paus Urban, seorang pemimpin yang berkedudukan di Perancis Selatan. Ialah yang menyeru umat Nasrani di seluruh dunia agar merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. Hal ini terjadi sekitar 350 tahun setelah pasukan Muslim tanpa kekerasan berhasil menguasai kota suci tersebut. Sejarah mencatat, penyerahan kunci kota berlangsung secara khusus dan damai, dari pemuka ( patriakh) Yerusalem langsung kepada Umar bin Khatab RA, sang khalifah Islam. Didampingi pemuka tersebut, khalifah Umar memasuki gerbang kota dan berkeliling melihat keadaan. Dengan penuh ketakjuban penduduk menyaksikan betapa sederhananya pimpinan tertinggi Islam tersebut.

Akan tetapi apa yang terjadi pada tahun 1099 adalah kebalikannya. Pasukan bentukan Paus Urban yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib memang berhasil menguasai Yerusalem. Namun setelah berperang selama 3 hari 3 malam dengan membantai lebih dari 30.000 penduduk kota, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis ke Yerusalem secara brutal dan kejam.

Delapan puluh delapan tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa bersejarah ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem.

Sesungguhnya perseteruan antara Islam dan para ahli kitab telah terjadi sejak masa awal kerasulan di Madinah. Orang-orang Yahudi yang ketika itu memang banyak bermukim di kota tersebut amat kecewa ketika mengetahui bahwa nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, Taurat (dan juga Injil) ternyata bukan datang dari kaum mereka, melainkan datang dari bangsa Arab, bangsa yang selama ini mereka remehkan. Inilah bibit awal kebencian dan kedengkian sebagian ahli kitab.

Namun mereka akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat ditaklukan secara perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itu mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Nasrani (bergabung dengan orang-orang Yahudi) mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari jalan lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu?

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109)

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Nasrani ( ahli kitab) datang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu baik ilmu pengetahuan umum dan sains maupun ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran.

Sayangnya, sebenarnya banyak diantara mereka ini, datang dengan tujuan untuk mencari celah dan kemudian menyerang Islam secara diam-diam. Mereka kemudian melemparkan fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari sini mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan berbagai cara.

Inggris contohnya. Ratu Inggris berkenan untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Sir” kepada pengarang buku “Ayat-ayat Setan “atau yang di Barat dikenal “The Satanic Verses”, Salman Rushdi. Padahal buku karangannya tersebut jelas-jelas melecehkan ajaran Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia. Apa kepentingan dan keinginan pemerintah Inggris dengan adanya pemberian penghargaan tersebut ??

Mereka juga menyerang dengan terobosan-terobosan baru dalam bidang kebudayaan dan peradaban, yang tidak semuanya sesuai dengan akidah Islam, yaitu dengan melontarkan berbagai pemikiran seperti feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme dan nasionalisme yang berlebihan. Dengan alasan itu pula pemerintah Perancis mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri.

Juga di Denmark, salah satu negara Skandinavia ini dikenal sering sekali memancing emosi kaum Muslim dengan berbagai karikatur Rasulullah. Bahkan saat ini salah satu partai di negara tersebut, dengan dalih kebebasan berpendapat, mereka menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Ntah apa tujuan utamanya. Yang Padahal pasti mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun. Berbagai hal diatas sengaja dilakukan dengan maksud dan harapan agar rasa persatuan Islam menghilang. Ini yang kelak disebut Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri.

Saat ini dapat kita amati dengan jelas hampir semua negara-negara Islam di dunia memiliki wajah baru yang tidak sedikitpun menyisakan ke-Islam-annya. Budaya Barat telah jauh merasuk kedalam kehidupan masyarakat. “Barangsiapa yang menyerupai (kebiasaan jelek) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ibnu Daud).

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan pendidikan dan hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam. Bahkan para tokoh agamapun bobol pertahanannya. Hingga lahirlah apa yang disebut JIL ( Jaringan Islam Liberal) dan berbagai jaringan dan aliran Islam lainnya, yang mengedepankan SIPILIS yaitu Sekulerisasi ( pemisahan kehidupan beragama dengan kehidupan sehari-hari), Pluralisasi ( semua agama adalah benar) dan Liberalisme ( penafsiran Al-Quran sebebas-bebasnya), dan akhirnya berkembang liar tanpa dapat dicegah, hingga hari ini.

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120).

Hal ini pula yang sebenarnya mempercepat kejatuhan kekhilafahan Ustmaniyah pada masa lalu selain tentunya berbagai penyebab seperti ketidak-adilan, perpecahan antar umat, tidak majunya ilmu pengetahuan dan juga kebobrokan iman sebagian pemimpinnya. Mereka telah menukar keimanan dengan keduniawian.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS.Al-Maidah(5):50).

Dan seakan belum puas dengan semua ini, saat ini kaum kafir tengah menambah gempurannya dengan serangan psikologi mutakhirnya yaitu dengan melempar isu Terorisme dan Extrimisme seperti tercermin dengan adanya peristiwa biadab 11 September 2001. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern.

Padahal ini adalah fitnah besar. Sesungguhnya tidak saja sebagian besar muslimin yang meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah rekayasa, namun juga sejumlah pakar sains. Salah satunya adalah Professor Thomas W Eager, seorang guru besar Material Engineering and Engineering System pada sebuah institut terkenal di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti struktur bangunan baja, ia berpendapat bahwa mustahil sebuah bangunan sekokoh menara WTC dapat ambruk hanya dikarenakan ditabrak 2 pesawat komersial. Bahkan sebenarnya dari cara Pemerintahan Bush membersihkan lokasi reruntuhanpun terkesan begitu terburu-buru sehingga menimbulkan kecurigaan seolah-olah ia ingin segera menghilangkan bukti-bukti penting.

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan! Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang. Namun kali ini mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap perang senjata secara terbuka. Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal.

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh. Padahal sebaliknya, mari kita perhatikan. Amerika Serikat adalah sebuah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan kedamaian dan keamanan. Namun sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Mereka tengah melempar batu sembunyi tangan.

Negara-negara Muslim tersebut tengah diadu domba disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara produsen senjata terbesar di dunia. Menurut harian The Strait Times, 24 Mei 2007, negara ini pada 2001 meraup US$ 10 milyar hingga US$ 13 milyar dari penjualan senjata. Dan angka ini terus melonjak tiap tahunnya. Negara adi kuasa, mitra kental Yahudi ini memang punya kepentingan pribadi dengan adanya perang yang terus diupayakan terjadi agar keuntungan yang diraihnya terus berkepanjangan setelah sebelumnya mencekoki rakyatnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari produksi mereka. Sebuah modus yang mirip dengan produsen obat-obatan terlarang yang dilakukannya ke berbagai negara. Jadi siapakah sesungguhnya sang raja teroris?

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan menang.

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku memohon kepada Tuhanku atas tiga perkara. Maka Allah mengabulkan dua perkara untukku sedangkan yang satu ditolak. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan musim paceklik maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan air bah (banjir bandang) maka Dia mengabulkannya. Aku mohon pada-Nya agar tidak menjadikan mereka saling berperang namun Dia menolak permohonanku itu”. (HR Muslim).

Akan tetapi hadis diatas bukanlah alasan bagi kita untuk terus menjadi pasrah dan menerima kenyataan tersebut. Seharusnya kita malah lebih berhati-hati agar perbedaan yang ada, selama masih sesuai dengan nash-nash Al-Quran dan hadits,  tidak menjadikan kita berperang sendiri sehingga kita mudah dikalahkan.

Beruntung Allah SWT berkenan menepati janji-Nya untuk terus menegakkan Islam dimuka bumi. Hal ini terbukti dengan malah makin banyaknya orang yang berpindah dan memeluk agama Islam secara sukarela.

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”(QS.Ash-Shaff(61):8).

Dan kebanyakan dari mereka ini justru lebih baik akidah dan keimanannya daripada orang-orang yang terlahir Islam. Lalu kita sebagai umat yang disebut belakangan ini alias Islam ‘terlahir’ bagaimanakah sikap kita? Akankah kita ini hanya menjadi bagian dari yang menyaksikan kebesaran Islam tanpa ikut serta didalamnya??

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS.Al-Maidah(5):51).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Agustus 2008

Vien AM.

Read Full Post »

Banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan kemurkaan Allah SWT terhadap kaum yang mendustakan ayat-ayat-Nya, yang membunuh utusan-utusan-Nya, yang berbuat kejahatan serta kerusakan sehingga akhirnya Allah SWT mengazab negri mereka. Padahal negri-negri mereka ketika itu telah begitu maju. Allah menghukum mereka disebabkan kesalahan mereka sendiri.

“…… yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”.(QS.Al-Fajr (89):11-14).

Beberapa kota atau negri ada yang telah diketahui secara pasti lokasi dan bekas-bekasnya namun tidak sedikit pula yang tidak diketahui lokasi maupun asal-usulnya. Yang pasti sejarah mencatat bahwa pada tahun 1812 Johann Ludwig Burckhardt, seorang penjelajah mualaf berkebangsaan Swis telah menemukan sebuah situs arkeologi yang amat spektakuler, yaitu Petra yang berarti batu dalam bahasa Yunani, ’The Lost City’ di Yordania. Ketika itu Burckhardt datang ke lokasi tersebut karena mendengar kabar bahwa Harun as, saudara Musa as dimakamkan ditempat itu.

Kota ini terletak beberapa km disebelah selatan laut Mati, tersembunyi dibalik pegunungan Wadi Musa, sebuah pegunungan yang penuh bebatuan raksasa. Peninggalan kota ini sungguh menakjubkan. Tampaknya mereka telah berhasil mendirikan rumah dan istana mereka di lembahnya dengan cara memahat dinding-dinding batunya. Kota ini diperkirakan dibangun pada tahun 400 SM dan telah mengalami beberapa gempa bumi serta banjir besar hingga akhirnya hilang dalam kegelapan sejak sekitar tahun 400M. Yang menarik mereka menyembah berhala-berhala yang mereka namakan Al-Uzza, Al-Latta dan Al-Manna. Nama berhala yang sama yang disembah orang-orang Arab termasuk suku Quraisy di Mekah dan sekitarnya.

”Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.(QS.An-Najm (53):19-23).

Sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 97 M sebuah gunung bernama Vesuvius di Italia meletus dengan begitu hebatnya hingga menyebabkan kota Pompei hilang terkubur debu tebal serta lahar yang keluar dari gunung tersebut. Namun Allah SWT berkehendak agar kota tersebut tidak lenyap 100 persen. Saat ini dapat kita saksikan bahwa kota tersebut masih meninggalkan sisa-sisa yang sungguh mengerikan. Disana-sini berserakan jasad-jasad manusia yang masih dalam keadaan sempurna dengan berbagai posisi namun telah tidak bernyawa!

Sejarah juga mencatat bahwa peradaban Romawi ketika itu amat bejat. Mereka gemar berbuat maksiat. Hidup mereka bergelimang dengan kemewahan namun meraka melupakan nasib rakyatnya yang miskin dan menderita kelaparan. Korupsi dan perbudakan meraja-lela. Pada masa pemerintahan ini pula dijatuhkan ’ hukuman penyaliban ’bagi Isa as, yaitu pada sekitar tahun 33 M.

”dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian”.(QS.Az-Zukhruf(43):56).

Berikut beberapa contoh yang tertulis dalam Al-Quran mengenai kaum dan negri yang dimusnahkan karena berbagai prilaku menyimpang penduduknya. Ini adalah kemurkaan  Allah  yang datang kepada mereka. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

1. Kaum Nabi Nuh as.

Kaum Nuh as diperkirakan hidup pada sekitar 4000 SM atau lebih dari 25 abad setelah Adam as. Mereka menempati wilayah sekitar sungai Tigris dan sungai Efrat di Irak. Masyarakatnya sebagian besar hidup sebagai petani. Mulanya mereka menyembah Allah SWT semata namun seiring dengan berlalunya waktu merekapun menyembah berhala dan patung-patung.

Nabi Nuh as selama 950 tahun terus berdakwah mengajak kaumnya agar kembali ke jalan yang benar namun mereka tetap berkeras hidup dalam kesesatan. Hingga akhirnya Nuh as menyerah dan memohon kepada Allah SWT agar memberika hukuman kepada mereka.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir..”.(QS.Nuh(71):26-27).

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan..”(QS.Huud(11):37).

Begitulah akhir nasib kaum yang mendustakan Sang Khalik, Yang Maha Kuasa berbuat apapun. Kemudian dengan izin Allah, perahu besar itu terdampar di gunung Judi (pegunungan Ararat, wilayah timur Turki). Di tanah ini mereka membentuk masyarakat yang takwa dibawah bimbingan Nuh as, salah satu ulul azmi, Sang Rasul pilihan. Setelah jumlah mereka semakin banyak merekapun kemudian berpencar ke berbagai arah, sebagian pergi ke Jazirah Arab,sebagian lagi menuju ke Irak dan yang lainnya ada yang ke Utara, Barat maupun Selatan.

2. Kaum Nabi Hud as

Kaum ini dinamakan kaum ‘Aad, kotanya dinamai kota Iram. Mereka termasuk bangsa Arab dan tinggal di kawasan Al-Ahqaaf (kini Hadramaut), Yaman. Pada masa Nabi Hud as kaum ini telah mampu membangun gedung-gedung tinggi yang mewah. Mereka adalah orang-orang pertama yang membangun gedung-gedung seperti itu. Mereka memiliki harta yang melimpah. Sayang mereka tidak pandai bersyukur. Sebaliknya mereka malah menyombongkan diri dan merasa diri tidak ada yang lebih kuat dari mereka.

Adapun kaum `Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami”. (QS.Fushilat(41):15).

Bahkan penduduknya lebih memilih menyembah berhala daripada menyembah Allah SWT. Nabi Hud as datang untuk memberi peringatan tetapi mereka terlalu congkak untuk mengakui kesalahan mereka. Oleh sebab itu Allah SWT menimpakan azab kepada mereka.

“Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka”.(QS.Al-Haqqah(69):6-8).

Namun Allah SWT berkehendak agar bekas-bekas kota dimana kaum ’Aad pernah hidup tidak sama sekali lenyap. Pada tahun 1980 sekelompok peneliti yang tertarik akan keberadaan kota Iram di masa lalu, sengaja mengadakan penelitian di daerah Hadramaut. Dengan bantuan peralatan canggihnya, mereka berhasil merekam bekas kota tersebut melalui Pesawat Luar Angkasa The Challenger walaupun hanya sedikit sekali. Kota ini diperkirakan ada lebih dari 3000 tahun yang lalu di perbatasan antara Yaman dan Oman. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya! Ini adalah peringatan bagi kaum yang akan datang.

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS.Al-Ahqaaf (46):25).

3. Kaum Nabi Shaleh as.

Mereka adalah kabilah Tsamud, penduduk yang mendiami kawasan Al-‘Ala yang terletak diantara Madinah dan Tabuk. Mereka datang setelah kaum ‘Aad dan sebagaimana kaum ‘Aad mereka juga menyembah berhala-berhala. Mereka mendirikan rumah dan istana mereka dengan jalan memahat gunung-gunung.

”Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”. (QS.Al-Araaf (7):74).

Nabi Shaleh as diutus untuk memperingatkan mereka agar mereka tidak mencontoh perbuatan kaum ’Aad. Nabi Shaleh diberi mukjizat seekor unta yang tidak akan habis air susunya walapun diminum oleh banyak orang. Namun mereka malah melecehkan peringatan Nabi Shaleh as dengan membunuh unta tersebut.

”Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.(Q.Al-Araaf(7):77-78).

4. Kaum Nabi Syuaib as.

Penduduk Madyan tinggal di wilayah barat laut jazirah Arab, di wilayah antara Tabuk dan selatan Yordania. Penduduk daerah ini selain tidak mau menyembah kepada Allah juga sejak lama telah terbiasa berbuat kejahatan dan kecurangan. Perawakan mereka besar lagi kasar prilakunya. Mereka gemar mengurangi takaran dan timbangan dalam mencari keuntungan berdagang. Ditengah kaum yang seperti inilah Nabi Syuaib diutus. Ia dikenal sebagai seorang yang pandai dan penyantun di kalangan kaumnya. Keluarganya adalah keluarga yang dihormati.

”Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (QS. Huud (11):84).

Penduduk Madyan adalah bukan orang-orang terpelajar. Mereka mengira bahwa kedudukan dan kehormatan di dunia adalah lebih mulia daripada Tuhan, Allah SWT yang telah menciptakan mereka. Oleh karena itu mereka tidak mau dan tidak mengerti apa yang dikatakan Syuaib as. Maka mereka tetap meneruskan kebiasaan buruk mereka hingga akhirnya Allah SWT menjatuhkan hukuman bagi mereka.

”Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya”. (QS. Huud(11):94).

5. Kaum Nabi Luth as.

Nabi Luth as adalah kemenakan Nabi Ibrahim as. Sebagaimana pamannya Luth juga diberi tugas ke-Rasul-an. Ia tinggal di kota Sodom, sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Masyarakat kota ini benar-benar telah tersesat jauh. Merekalah kaum pertama di dunia ini yang mempraktekkan perbuatan homoseksual, sebuah perbuatan yang sungguh hina dan nista.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. (QS.AL-A’raaf(7):80-82).

Nabi Luth berulang kali mengingatkan kaumnya agar mereka segera insyaf dan kembali ke jalan yang benar namun mereka malah berusaha mengusirnya, padahal Luth juga telah mengingatkan akan adanya azab Allah SWT yang berat. Luth sungguh merasa tidak berdaya. Akhirnya Allah SWT mengutus 2 malaikat untuk datang menemui Luth dengan menyamar sebagai manusia lelaki biasa.

Akan tetapi kaum yang terlaknat ini sungguh telah kehilangan akalnya. Mereka malah berusaha masuk kedalam rumah dan memaksa Luth as agar menyerahkan ke 2 tamunya tersebut. Demikian pula istri Luth as, ia termasuk orang-orang yang zalim.

”Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”.(QS.Al-Qamar(54):37).

”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”. (QS. Huud(11):82-83).

Itulah akhir kaum yang tidak mau menuruti hukum dan aturan-aturan Yang Menciptakannya, Yang Memilikinya, Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Dan Allah SWT berkehendak agar kota tersebut menyisakan tanda-tandanya agar dijadikan pelajaran bagi kaum yang berikutnya.

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)”. (QS.Al-Hijr(15):75-76).

Kota itu adalah kota Sodom, yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Yang hingga kini masih meninggalkan sisa-sisanya.

6. Kaum Nabi Musa as.

Nabi Musa as diutus mengajak kaum Fir’aun di Mesir yang selama berabad-abad menyembah dewa-dewa bahkan menganggap Fir’aun adalah Tuhan. Mereka adalah kaum yang amat tersesat dan tidak tahu bersyukur padahal Allah SWT telah menganugerahi negri ini dengan kekayaan yang begitu melimpah. Namun pemimpinnya sangat jahat dan keji.

”Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Al-Qashash(28):4).

Ketika Musa as memperkenalkan diri bahwa ia adalah utusan Allah dan Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah SWT mereka malah mengolok-ngolok dengan membangun sebuah bangunan tinggi untuk ’melihat ’ Tuhannya Musa as. Setelah bertahun-tahun lamanya Nabi Musa mengajak Fir’aun dan kaumnya agar kembali ke jalan yang benar tanpa hasil yang memuaskan akhirnya Musa as memohon agar Allah SWT memberi mereka pelajaran.

”Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih“. (QS.Yunus(10):88).

Namun meskipun Allah SWT telah memberikan begitu banyak cobaan dan Musa pun telah berulang kali memperingatkan akan adanya azab Allah, Fir’aun dan kaumnya tetap membangkang. Akhirnya Musa as bermunajat agar Allah SWT mendatangkan azab yang pedih.

”Kemudian Musa berdo`a kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”. (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”.(QS.Ad-Dukhan(44):22-24).

Ketika Fir’aun melihat bahwa ajalnya telah hampir tiba ia segera mengakui kesalahan dan bertaubat. Namun nasi telah menjadi bubur, Allah SWT tidak menerima pengakuan dan taubat orang yang dalam sakratul maut, dimana ia telah melihat azab di pelupuk matanya, dimana ia tidak mempunyai pilihan selain bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah. Sebaliknya Allah SWT berkenan menjadikan Fir’aun sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian yaitu dengan menyelamatkan badannya. Saat ini kita dapat menyaksikan jasad Fir’aun yang baru-baru ini ditemukan setelah ribuan tahun lamanya tenggelam di telan air laut. Jasad ini diabadikan di ’Museum of Cairo’, Mesir yang dapat dikatakan masih utuh bahkan pakaiannya hanya sebagian saja yang hancur!

7. Kaum Tubba’.

Kaum Tubba’ dan kaum Saba’ adalah dari keturunan yang sama. Mereka menempati wilayah yang sama pula, yaitu Yaman.  Kaum yang hidup pada zaman Ratu Bilqis disebut kaum Saba’  sedangkan kaum Tubba’ hidup pada masa kerajaan Himyar. Berkat adanya waduk raksasa Ma’arib, daerah mereka subur dan makmur namun dengan hancurnya bendungan tersebut kini Yaman adalah daerah yang tandus, kering dan gersang. Daerah tersebut hanya ditumbuhi sedikit pepohonan, itupun kurang manfaatnya.

Sejarah mencatat bahwa pada sekitar tahun 525 M, raja Himyar yang bernama Dhu Nuwas mempunyai hubungan yang buruk dengan kerajaan Kristen Aksum di Etiopia. Ia melakukan penyerangan terhadap wilayah kerajaan Aksum yang terletak di jazirah Arab, yaitu kota Najran dan Zafar. Mereka membunuhi dan membantai musuh-musuhnya secara kejam dan biadab di kedua kota tersebut.

”Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba` dan orang orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa”.(QS.Adh-Dukhan(44):37).

Akibat kebiadaban tersebut Romawi yang juga penganut Kristen menyerang Himyar hingga akhirnya kerajaan ini takluk dibawah kekuasaan Romawi. Namun beberapa waktu kemudian Abrahah, yang ketika itu adalah salah seorang raja muda kerajaan Aksum berhasil menguasai Himyar. Ia adalah seorang penganut Nasrani penyembah berhala. Raja ini mendirikan sebuah gereja besar di kota Sana’a, ibu kota Himyar. Gereja ini berdiri tinggi menjulang ditaburi dengan batu permata di setiap penjurunya dengan maksud agar dapat menyaingi Ka’bah di kota Mekkah yang ketika itu menjadi pusat pemujaan berhala di semenanjung Arab. Selanjutnya terjadilah persaingan sengit yang menjurus kepada kerusakan sehingga akhirnya Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya berangkat ke Mekkah dengan maksud akan menghancurkan Ka’bah. Inilah yang dimaksud pasukan gajah dalam surat Al-Fiil.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.(QS.Al-Fiil(105):1-5).

Peristiwa ini terjadi pada tahun 570M , yaitu tahun kelahiran Rasulullah (oleh sebab itu tahun tersebut juga dikenal dengan nama tahun Gajah). Suku Quraisy tidak mampu menahan serangan pasukan Abrahah yang kuat. Abdul Muththalib, kakek Rasulullah, sebagai pemimpin ketika itu hanya mampu menyarankan agar sukunya bersembunyi. Ia mengatakan kepada Abrahah bahwa Ka’bah bukan milik suku Quraisy, Sang Pemiliklah yang akan mempertahankannya sendiri.

Setelah itu, orang-orang Quraisy yang bersembunyi di atas gua Hira’ menceritakan bahwa mereka melihat segerombolan burung-burung penyambar muncul dari arah lautan. Masing-masing burung tersebut membawa tiga buah batu, dua batu di masing-masing kedua kakinya dan satu batu lagi di paruhnya. Burung-burung tersebut menjatuhkan batu-batu yang dibawanya ke arah pasukan gajah yang dibawa Abrahah hingga sebagian besar mati. Abrahah sendiri dikabarkan pulang ke negrinya, Yaman dalam keadaan badannya hancur penuh luka bakar dan nanah. Ia tewas beberapa saat setelah tiba di tanah airnya.

Dan tak berapa lama kemudian terdengar berita bahwa waduk di negri tersebut ambruk. Berita yang sampai ke Mekkah ketika itu bermacam-macam. Ada yang mengatakan waduk ambruk karena hujan yang turun terus menerus, ada pula yang mengatakan karena gempa namun ada pula yang mengatakan karena adanya wabah tikus yang menggerogoti dasar waduk!

”Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”. (QS.Saba’(34):15-17).

Bagaimana pula dengan keadaan kita sekarang ini? Bukankah maksiat dan kejahatan telah merajalela ? Akankah Allah mengazab kita? Kapan? Sungguh beruntung, Rasulullah Muhammad saw adalah benar-benar seorang yang sangat sabar. Suatu ketika Rasulullah berdakwah, mengajak penduduk Tha’if, sebuah kota sejuk beberapa km tenggara kota Makkah agar mereka menyembah Allah swt. Namun Rasulullah malah diolok-olok, dikejar dan dilempari batu oleh penduduknya.

Dalam keadaan terluka, Rasulullah kemudian bersembunyi di sebuah kebun anggur. Tak lama kemudian muncul malaikat Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi antara dirimu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

Namun apa jawaban Rasulullah saw? “Walaupun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” . Begitu jawaban Rasul.

Tampaknya inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa ajaran Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah swt tidak berkehendak menurunkan azab-Nya yang pedih terhadap umat Muhammad saw begitupun Rasul.  Bahkan sebagian ulama mengatakan tidak ada azab setelah turunnya Islam. Allah sungguh mengasihi umat akhir zaman dimana kita sekarang ini hidup. Namun jangan kita terus terbuai karena Allah hanya menunda azab tersebut bukan menghapusnya. Maka dimanakah rasa syukur kita yang telah diberi kesempatan begitu besar untuk bertaubat ? Hingga nafas di kerongkongankah sebagaimana yang diperbuat Fir’aun? Bukankah  taubat yang demikian tidak bakal ditrima-Nya ?

… hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Yunus(10):90-91)

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Agustus 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

”…… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(QS:At-Thalaq(65):2-3).

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ankabut(29):40).

Itulah 2 janji Allah yang pasti akan dipenuhinya. Kemudahan urusan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat bagi siapa yang takwa dan kesengsaraan serta kenistaan baik di dunia apalagi di akhirat bagi siapa yang mendurhakai-Nya.

Berikut adalah janji Allah terhadap orang dan kaum yang taqwa.

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS.Ibrahim(14):7).

Begitu banyak, berat dan kuat gangguan yang dihadapi manusia dalam perjalanannya menuju taqwa. Namun demikian sesungguhnya Allah SWT tetap menghendaki agar manusia dapat melewati rintangan dan hambatan-hambatan tersebut. Hal ini terbukti dengan banyaknya Nabi dan Rasul yang diutus untuk membimbing manusia menuju jalan yang lurus, yaitu untuk senantiasa menyembah kepada Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Pada setiap umat setiap zaman sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang utusan, baik itu Nabi maupun Rasul. Untuk itulah Allah SWT mengajarkan kita agar mengadakan perjalanan di muka bumi agar kita memperhatikan dan kemudian mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah ditinggalkan-Nya di muka bumi ini, yaitu melalui peninggalan-peninggalan kuno bersejarah dan sisa-sisa ajaran terdahulu.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.An-Nahl(16):36).

Jumlah Nabi menurut hadis adalah 124.000 orang, 315 diantaranya adalah Rasul. Sedangkan yang tersebut dalam Al-Quran hanya 25 saja. Jadi tidak mengherankan bila belakangan ini ditemukan peninggalan-peninggalan kuno dan sisa-sisa ajaran yang mencerminkan adanya ajaran Monotheisme ataupun Tauhid di setiap belahan dunia.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat di atas menunjukkan bahwa siapapun yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian serta beramal saleh maka mereka akan menerima pahala serta akan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani sekalipun bila mereka beriman kepada Allah, Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan diperanakkan, meyakini seluruh utusan Allah termasuk Muhammad saw serta Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang diturunkan kepadanya kelak mereka akan dimasukan ke dalam surga-Nya. Jadi orang Yahudi dan Nasrani yang dimaksud ayat diatas adalah pengikut Musa as dan Isa as yang taat pada jamannya dahulu ketika ajarannya belum diselewengkan, ketika Islam belum datang. Waraqah bin Nufail dan pendeta Bukhaira adalah salah satu contohnya.

Sedangkan yang dimaksud orang-orang Shabiin adalah penduduk negri Haran, yaitu kaum Shabi’ah. Haran adalah sebuah kota kuno di dataran Mesopotamia, kota dimana Ibrahim as pernah menetap sebelum pindah ke Kana’an di Palestina. Penduduk negri tersebut terpecah menjadi 2, sebagian penyembah patung dan sebagian lainnya penyembah agama tauhid yang dibawa nabi-nabi jaman dahulu. Shabi’ah kelompok kedua inilah yang djanjikan surga pada ayat di atas. Namun ada juga sebagian mufasirin yang berpendapat bahwa kaum Shabiin adalah kaum yang karena ketidak-tahuannya menyembah benda-benda langit seperti bintang dan lain-lain sebagai rasa syukur dan keyakinannya akan ke-Esa-an Sang Pencipta.

Namun memang tidak mudah mengajak manusia untuk kembali ke ajaran yang benar. Buktinya banyak diantara para Nabi dan Rasul yang dilecehkan oleh masyarakatnya hingga akhir hidup mereka sehingga ajarannyapun tidak berkembang. Banyak pula diantara mereka yang berhasil namun begitu mereka tiada ajarannyapun terhenti. Yang pasti, sebuah ajaran akan berhasil berkembang dengan baik dan memberikan hasil yang maksimal ketika pemimpinnya juga menerima dan mendakwahkan ajaran tersebut. Karena dengan demikian rakyat memiliki pelindung yang juga berpegang teguh pada hukum Allah SWT sehingga mereka dapat dengan tenang menjalankan kehidupan keberagamaan mereka.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4):59).

Banyak bukti dan contoh keberhasilan orang-orang taqwa yang berhasil menjadi pemimpin masyarakat bernegara yang tercatat dalam Al-Quran dan sejarah, diantaranya adalah nabi Yusuf as yang pernah menjabat sebagai mentri Mesir, nabi Daud as dan putranya nabi Sulaiman as yang merupakan pendiri kerajaan Yahudi ribuan tahun yang lalu, kerajaan Himyar dan Aksum di Afrika serta yang terbesar adalah Madinah Al-Munawaroh, kota binaan Rasulullah Muhammad saw yang merupakan cikal bakal berdirinya kekhalifahan Islam yang agung. Kerajaan Islam ini membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia. Kekhalifahan ini berdiri selama 13 abad sejak tahun 622 M hingga tahun 1924 yang lalu.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik “.(QS.An-Nuur(24):55)

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 9/2008.

Vien AM

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »