Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Bahagiakah anda ??? Pertanyaan yang mudah namun ternyata tidak mudah menjawabnya.

Tiap orang berbeda dalam mempersepsikan rasa bahagia yang dialaminya. Sebagian orang menjadikan tolok ukur kebahagiaan dengan apa yang terlihat secara kasat mata/materi, seperti harta yang melimpah, karir yang melejit, ketenaran nama, anak yang pintar, dan yang semacamnya. Sebagian lain berpendapat bahagia itu sehat dan punya banyak teman.

Sementara ada juga berpendapat bahagia itu letaknya di hati. Yaitu hati yang tenang, senang dan damai, bisa menolong dan berbagi dengan orang lain. Dan ada juga sebagian orang yang memaknai bahagia  itu dengan membandingkan antara bayaknya kejadian yang menyenangkan dengan kejadian yang menyedihkan. Ada juga yang ketika cita-cita atau tujuan hidup sudah tercapai, itulah bahagia.

Yang pasti semua orang dapat dipastikan ingin hidupnya bahagia. Dengan kata lain kebahagiaan adalah tujuan utama manusia. Untuk itu manusia berusaha keras agar tujuan tersebut bisa tercapai.

Beberapa tahun belakangan ini bermunculan berbagai lembaga survey tentang kebahagiaan yang dicapai tiap negara. Ide tersebut pertama kali digagas pada tahun 1972 oleh Raja Bhutan ke 4, yang memasukan kebahagiaan rakyat atau Gross National Happiness (GNH) sebagai target pencapaian pemerintah. Ia berpendapat bahwa pembangunan suatu negara sebaiknya tidak hanya fokus kepada pencapaian produk domestik bruto ( PDB/GDP) semata.

Selanjutnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi berjudul “Kebahagiaan, Menuju pendekatan holistik untuk pembangunan yang menyatakan bahwa “mengejar kebahagiaan adalah tujuan dasar manusia”, dan, “Mengakui bahwa indikator produk domestik bruto secara alami tidak dirancang untuk dan tidak cukup mencerminkan kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang di suatu Negara”.

Selama ini memang PDB yang bertujuan menghitung pendapatan nasional dijadikan standard kebahagiaan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit ditemukan kasus paradox bahwa negara dengan PDB tinggi masyarakatnya tidak bahagia.

Selain itu ditemukan bahwa kebahagiaan penduduk pedesaan lebih tinggi dibanding kebahagiaan penduduk perkotaan. Namun minat penduduk desa untuk pindah ke kota tetap tinggi karena harapan akan kesempatan kerja dan upah yang lebih tinggi. Meski pada akhirnya ada titik di mana peningkatan pendapatan tidak mampu lagi meningkatkan kesejahteraan. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu.

Happiness Research Institute, sebuah survei yang bertugas menilai tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup masyarakat suatu negara, pada 2021 menetapkan Finlandia, Denmark, Swiss dan Islandia di urutan 1 sd 4 dari 156 negara yang diteliti. Indonesia berada di urutan ke 82. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar yang berbasis di Prancis, Ipsos, dengan mengukur tingkat kebahagiaan di 27 negara di seluruh dunia, pada tahun 2020 lalu menetapkan bahwa Arab Saudi menempati peringkat negara paling bahagia ketiga, setelah China dan Belanda.

Seorang tenaga ahli Indonesia di Jeddah, Saudi Arabia, menceritakan bahwa ada 2 hal yang membuatnya terheran-heran atas sikap rekan-rekan kerjanya yang asli Arab, yang sering dikatakan orang malas dll.

Yang pertama, begitu azan berkumandang mereka akan segera meninggalkan kantor untuk shalat. Tidak peduli sedang meeting ataupun pekerjaan penting lainnya.  Yang kedua, mereka sangat patuh pada ibu mereka. Mereka akan segera pulang begitu mendengar kabar ibu mereka sakit atau ada keperluan penting. Dua hal yang memang diajarkan Islam agar menjadi orang yang takwa.

Mereka terlihat begitu percaya diri, seolah tidak memerlukan pekerjaan dan tidak takut di pecat. Dan hal tersebut ternyata dilakukan mayoritas penduduk Arab Saudi. Toko-toko tutup begitu adzan terdengar. Ayat berikut tampaknya yang membuat mereka seperti itu,

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”.  ( Terjemah QS. At-Tholaq (65):2-3).

Dapat kita saksikan betapa kayanya Arab Saudi yang hingga hari ini masih mampu bertahan menggunakan syariat Islam dalam sistim pemerintahannya. Bagaimana mewah dan megahnya Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah yang setiap saat selalu ramai didatangi jamaah dari seluruh penjuru dunia. Tanah mereka yang kering dan tandus atas izin-Nya ternyata menyimpan kekayaan minyak bumi yang berlimpah mampu membuatnya rakyatnya bahagia.

Sementara Indeks Kebahagiaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menyatakan Yogyakarta berada di peringkat delapan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia. Padahal pada saat yang sama BPS menyatakan bahwa Yogyakarta berada di urutan 12 angka kemiskinan tertinggi se Indonesia, termiskin di Pulau Jawa. Ini disebabkan propinsi tersebut sejak lama menjadikan upah rendah sebagai daya tarik investasi. Dan ini diterima warganya dengan lapang dada.

“Nrima ing pandum” yang artinya menerima segala pemberian memang adalah falsafah Jawa yang sejak lama dianut masyarakat Jawa. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap manusia sebaiknya bisa ikhlas atas apa yang diterima dalam kehidupan atau legowo dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan.

Pertanyaan menggelitik, bagaimana definisi bahagia dalam Islam? Samakah dengan standar umum manusia di dunia ini??

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Islam mengajarkan awal kebahagiaan hidup adalah menikah, sesuai syariah, karena Allah swt. Maka Ialah nanti yang akan mendatangkan rasa tentram/damai (sakinah), kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah).

Rasa tentram dan damai akan datang ketika ada perasaan aman dari segala gangguan, baik fisik maupun mental. Apalagi bila tercukupi pangan, sandang dan papan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Sedangkan rasa kasih dan sayang akan muncul diawali dengan adanya rasa saling memiliki, saling memberi dan saling memahami diantara keduanya.

Namun kebahagiaan tertinggi yang seharusnya dimiliki manusia adalah adanya rasa syukur sebagai manusia yang diciptakan Allah swt, dengan segala keunikannya. Yang menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat istimewa. Perumpamaannya adalah sebuah jam tangan Swiss edisi khusus yang diciptakan penciptanya khusus bagi dirinya semata, yang tidak memiliki persamaan sedikitpun dengan jam tangan milik orang lain.

Harus diakui manusia adalah memang mahluk istimewa. Tak satupun manusia dari zaman nabi Adam as hingga akhir zaman nanti yang memiliki sidik jari yang sama. Manusia diciptakan atas dasar kasih sayang yang sangat besar dari Tuhannya, Allah Azza wa Jala. Maka sebagai manusia yang tahu diri harusnya ia akan rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, yang dengan demikian Sang Pencipta kelak akan memasukannya ke surga-Nya. Orang yang demikian tidak akan takut menghadapi hidupnya betapapun sulitnya hidup.

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ (kaya) adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Sebaliknya selama harta dipergunakan untuk kebaikan, untuk menolong orang yang kesulitan, berinfak dan berjihad di jalan Allah, untuk menjaga silaturahim dll, ini lebih utama.  Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah 2 contoh tokoh Muslim takwa dan kaya raya yang hartanya bermanfaat bagi manusia hingga hari ini.

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69.

Hebatnya lagi, kebahagiaan dalam Islam bukan milik perorangan tapi juga tanggung jawab pemimpin/penguasa. Itu sebabnya zakat yang bertujuan agar harta tidak hanya beredar di antara kelompok tertentu, penguasalah yang harus mengambilnya. Penguasa juga diberi tanggung-jawab mengatur agar riba yang merupakan dosa besar dan merugikan rakyat kecil untuk dicegah.  

Demikian pula pengadaan lembaga pendidikan dan pesantren, rumah sakit, penyelenggaraan shalat Jumat yang sekaligus sebagai ajang silaturahim mingguan, pengadaan pemakaman Islam dll. Ini yang terjadi pada ke-khalifahan dan kesultanan Islam pada masa keemasannya berabad-abad silam yang terkenal dengan Baitul Maalnya yang berfungsi semacam lembaga keuangan negara.

Syukur Alhmdulillah Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini membawa kabar gembira. Yaitu bahwa hanya dengan menunjukkan kartu penduduk negara bersangkutan, mereka akan mendapatkan berbagai fasilitas seperti tanah/rumah, pendidikan, kesehatan, bahkan upacara pernikahan dan pemakaman. Dan itu semua gratiiis !!!

Namun apabila warga negara tersebut menikah dengan warga negara lain semua fasilitas istimewa tersebut tidak berlaku. Harap maklum, pendatang asing di UEA jauh lebih banyak dibanding penduduk asli. Di Dubai yang merupakan kota terpadat dan termodern di negara tersebut pendatang asing mencapai 85% dari total penduduk.

Dubai kaya berkat kekayaan minyak bumi yang melimpah. Namun sejak tahun 2000, sektor property, industry penerbangan, pelabuhan serta parawisata menjadi penyumbang pendapatan terbesar negara. Produksi minyak bumi tercata hanya 7 persen dari total pendapatan negara

Gedung-gedung megahnya seperti, Burj Khalifa yang merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia,  Burj Al-Arab hotel super mewah termahal di dunia,  Museum of the Future yang sangat futuristic serta Jumeirah Village sebuah kompleks kepulauan mewah berbentuk  kelapa yang dibangun di atas laut yang dikeruk berhasil memancing turis mancanegara untk berdatangan ke negara tersebut.

Namun yang lebih menarik lagi adalah adanya monument berbentuk kepalan dengan 3 jari terangkat yaitu ibu jari, telunjuk serta jari tengah. Monumen yang terletak di depan museum of the Future ini melambangkan bahwa UEA sangat menghargai agamanya yaitu Islam. Monumen ini menunjukkan hadist Rasulullah tentang makan dengan 3 jari.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sunnahnya adalah makan dengan tiga jari, sekalipun lebih dari tiga jari dibolehkan”. (Fathul Bari).

Pemerintahan UEA memang kurang berhasil mempertahankan kota-kota besarnya dari serangan kultur Barat. Tapi Sarjah yang merupakan kota ke 3 terbesar UEA berhasil mempertahankannya, yaitu dengan larangan alohol, hari libur tetap Jumat dan Sabtu, tidak seperti kebijakan pemerintah baru-baru ini bahw Sabtu dan Minggu adalah hari libur resmi.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. … “ (Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Jadi bahagia dalam kamus Islam adalah orang yang mampu mengenal Tuhannya hingga rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, termasuk di dalamnya membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan juga menjaga silaturahim dengan saudaranya.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Sedangkan sehat, makmur, tenang bersama  keluarga yang harmonis, dalam lingkungan yang aman dan nyaman, adalah sempurnanya kebahagiaan yang sifatnya duniawi.  

Itulah dasyatnya Islam, Buthan sebagai negara pertama di dunia memelopori berdirinya negara yang rakyatnya bahagia pada tahun 1972, Islam telah melakukannya sejak datangnya Islam 15 abad lalu!  

Semoga tidak lama lagi negara-negara mayoritas berpenduduk Islam termasuk negara kita tercinta Indonesia, mampu bangun dari tidur panjang mereka demi terbentuknya negara dengan rakyat yang bahagia sesuai syariat Islam.  Yaitu diawali dengan kesadaran rakyat dalam  memilih pemimpin yang takwa yang benar-benar memahami syariat Islam dan mengamalkanya secara kaffah, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 November 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Al-Quran Sebagai Cahaya.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Secara Bahasa Al-Qur’an memiliki arti bacaan. Sedangkan secara istilah, Al-Quran memiliki arti firman Allah SWT yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an bagi umat Islam adalah kitab suci yang bukan hanya wajib dibaca, tetapi juga dipelajari, diterapkan, diamalkan, dan dijadikan petunjuk bagi kehidupan manusia.

Al-Quran mempunyai beberapa nama lain. Diantaranya yaitu Al-Furqan yang artinya pembeda, At-Tanzil yang  artinya  diturunkan langsung dari Allah,  Az-Zikri yang artinya pemberi peringatan, Al-Huda yang artinya petunjuk, As-Syifa artinya penyembuh, An-Nuur artinya cahaya dan lain sebagianya.

Al-Quran sebagai cahaya atau An-Nuur. Kita semua pasti tahu betapa pentingnya cahaya bagi kehidupan. Tanpa cahaya meski kita memiliki mata, kita tidak akan dapat melihat apapun. Dalam ilmu kesehatan kita diajarkan bahwa  tubuh kita memerlukan sinar matahari  diantaranya agar tulang kita kuat. Tumbuh2an perlu sinar matahari untuk proses fotosintesis. Demikian pula dalam dunia fotografi, tanpa cahaya keindahan suatu objek foto akan berkurang.

Tak dapat dipungkiri kita amat sangat tergantung pada cahaya. Siang hari Allah swt anugerahkn kita matahari. Bagaimana dengan malam hari. Bersyukur Allah kirimkan Thomas Alva Edison sang penemu lampu hingga dng demikian kita tetap bisa beraktivitas pada malam hari.

Meski sebenarnya ada hikmah besar dibalik gelapnya malam hari. Yaitu selain untuk istirahat juga agar kita memiliki waktu untuk merenungi luasnya langit nan indah dimana milyaran bintang-bintang bertaburan. Malam hari nan pekat gelap gulita dimana benda-benda langit dapat terlihat jelas. Mengingatkan bahwa ada kehidupan lain selain di dunia yang fana ini.

Allah swt berfirman dalam ayat 191 surat Ali Imran sebagai berikut :

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Tidak sedikit ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah cahaya, diantaranya adalah :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):174).

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. ( Terjemah QS.Ibrahim (14):1)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Terjemah QS. Asy-Syuraa (42):52).

Demikian pula hadist yang menyiratkan bahwa Al-Quran adalah cahaya. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Sesungguhnya, rumah yang dibacakan di dalamnya Alquran, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi” (HR Ahmad).

Masya Allah … kita penduduk bumi yang senantiasa terkagum-kagum akan indahnya bintang-bintang di langit. Ternyata malaikat sebagai penduduk langit bisa memandang kita penduduk bumi sebagaimana kita bintang-bintang di langit … Allahu Akbar …

Dengan kata lain Al-Quran akan menjadi cahaya ketika kita baca. Apalagi bila dibaca dengan tartil, dengan tajwij yang benar maka akan sempurnalah cahaya tersebut.

Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat Hasanat/ kebaikan dan tiap Hasanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim).

Pada tahun 2003, Masaru Emoto seorang seorang peneliti dari Jepang, melalui penelitiannya mengungkapkan bahwa susunan partikel molekul air bisa berubah ketika dibacakan kata-kata ke dalamnya. Bila yang disebutkan kata-kata yang baik partikel air tersebut membentuk kristal yang indah. Sebaliknya bila kata-kata buruk yang terbentuk adalah susunan kristal air yang juga buruk .

Apabila kata-kata baik saja mampu membentuk susunan molekul yang indah apalagi bacaan Al-Quranul Karim !

Sementara dalam penelitian lain diketahui, hanya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Quran, ternyata mampu menimbulkan efek terapeutik sekalipun pada orang yang tak mengerti isi ataupun arti dari ayat-ayat Quran yang didengarnya.

Seorang dokter spesialis kanker dari rumah sakit Beirut, Lebanon, menyatakan bahwa bacaan ayat suci Al-Quran mampu meningkatkan aktivitas sel-sel sehat dan membangkitkan sistem imun yang melemah agar dapat bertempur melawan sel-sel tumor atau kanker yang paling berbahaya sekalipun. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Dan kami turunkan Alquran sebagai penawar ( as-syifa)  dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Terjemah QS. Al-Isra (17): 82).

Al-Quran adalah As-Syifa yang artinya penawar atau penyembuh penyakit. Sungguh dasyat energy yang dikeluarkan orang yang membaca Al-Quran sekalipun yang bersangkutan tidak memahaminya. Ia mampu mengeluarkan yang membacanya dari segala macam kegelapan seperti penyakit, menuju cahaya yang terang, yaitu kesembuhan.

Pada ayat 35 surat An-Nuur (24) Allah berfirman,

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Nuur ala nuur, cahaya di atas cahaya. Tidak seperti sinar matahari ataupun sinar lampu yang dapat terhalang oleh sesuatu, seperti awan, gunung, bangunan, topi dll, cahaya Al-Quran tidak mungkin dihalangi dan terhalangi oleh apapun. Cahaya Al-Quran tidak hanya mampu menembus batu hitam yang berada di dasar lautan nan gelap gulita tapi juga hati manusia. Dengan Al-Quran hati siapapun yang membacanya secara berulang-ulang akan menjadi tenang. Ayat 23 surat Az-Zumar menyiratkan hal tersebut.  

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Dengan cahaya inilah kita dapat dapat berjalan kemanapun/ kapanpun, dengan tenang tanpa khawatir tersesat. Di bawah cahaya Al-Quran inilah kita dapat membedakan mana yang baik/haqq dan mana yang buruk/bathil. Itu sebabnya Al-Quran juga disebut dengan Al-Furqon yang artinya adalah Pembeda.  

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika makan siang sering kali saya tidak menyalakan lampu karena saya pikir sudah cukup terang. Namun rupanya putri kami tidak menyukainya. Sambil menyalakan lampu ia berkata ”Bukannya enak gini bu,  teraaang”. Spontan sambil tersenyum saya mencadainya, “ Naah persis nih Al-Quran sebagai cahaya … jadi kelihatan jelas semuaa … bayam beda dengan kangkung, buncis g sama dengan kacang, wortel orange, tomat merah”.      

Bicara mengenai cahaya, Rasulullah pernah bersabda bahwa umatnya nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka.

Di akhirat nanti, cahaya tersebut akan menerangi kubur orang Mukmin, menolong perjalanannya menyeberangi jembatan Shiratal Mustaqin serta membelanya pada pengadilan hari akhir nanti. Cahaya ini akan sangat kita butuhkan karena pada hari Kiamat nanti,  matahari yang selama ini menjadi sumber cahaya bumi akan hilang. Pada hari itu bumi menjadi rata dan gelap gulita.

Jadi sungguh benar, cahaya adalah sesuatu yang mutlak kita butuhkan, baik ketika kita masih di dunia apalagi di akhirat nanti. Namun demikian hanya membaca Al-Quran dengan tujuan agar kita mendapatkan cahaya-Nya tidaklah cukup. Kita harus mentadaburi agar kita benar-benar faham apa yang dikehendaki-Nya, agar menjadi petunjuk atau Al-Huda … kemudian mengamalkannya agar Allah swt meridhoi kita agar kelak bisa masuk ke surga-Nya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 3 Oktober 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam terkemuka yang banyak memberikan sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia digelari Hujjatul Islam berkat kemampuan daya ingatnya yang luar biasa dan bijak dalam berhujjah/argumentasi.

Al-Ghazali dikenal sebagai ulama yang sangat kuat beribadah, wara’, zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan serta kemegahan. Dan itu semua ia lakukan demi mencari ridha Allah SWT.

Al-Ghazali banyak menulis buku dalam berbagai bidang seperti tasawuf, filsafat dan logika. Diantaranya yang paling menonjol adalah Ihya Ulumuddin yang berarti Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama. Kitab ini membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, pengobatan dan bagaimana cara mengasahnya.

Patut diketahui ulama yang lahir di kota Tus, Khurasan pada 450 H/1059 M ini hidup pada masa kemunduran pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah yang memerintah sejak abad 8 di wilayah bekas kekuasaan Persia tersebut. Pada masa itu penyakit hati dan kemerosotan ahlak sedang menjangkiti banyak umat Islam. Dalam pemerintahanpun terjadi berbagai konflik internal yang berlangsung berkepanjangan  tiada henti.  

Al-Ghazali sendiri mengalami 2 fase kehidupan. Yang pertama adalah fase dimana ia sangat semangat menekuni ilmu hingga akhirnya mencapai puncak kesuksesan dengan diangkatnya sebagai penasehat kerajaan sekaligus pengajar di Perguruan Nizamiyah yang sangat bergengsi. Kehidupannya saat itu diliputi ketenaran dan kekayaan.

Sedangkan fase kedua adalah fase dimana ia mulai jenuh dengan segala kemewahan yang didapatnya. Al-Ghazali mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya setelah mempelajari ilmu tasawuf. Ia meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya dan mengembara demi mencari ketenangan dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Pada tahap inilah ia banyak menulis kitab termasuk kitab tasawuf Ihya Ulumuddin.

Dalam kitabnya tersebut, Al-Ghazali salah satunya mengutip perkataan Khalil bin Ahmad, seorang ulama ahli Bahasa dan sastra Arab  yang hidup pada abad 7, bahwa manusia terbagi atas 4 golongan berdasarkan tahu dan tidak tahunya seseorang.Yang pertama yaitu, Tahu dan Ia Tahu, 2.  Tahu tapi Ia Tidak Tahu, 3. Tidak Tahu tapi Ia Tahu, 4. Tidak Tahu dan Ia Tidak Tahu.

1.Tahu Ia Tahu.

Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu/berilmu, dan Tahu kalau ia Tahu). Yaitu seorang yang Tahu (berilmu), dan ia Tahu kalau dirinya Tahu (berilmu). Inilah yang disebut Al-‘Alim yang artinya adalah Mengetahui.

Al-‘Alim adalah golongan manusia terbaik. Manusia yang memiliki kemapanan ilmu dan ia tahu persis hal tersebut. Maka ia gunakan ilmunya semaksimal mungkin agar benar-benar bermanfaat tidak hanya bagi dirinya tapi juga orang sekitarnya, bahkan bagi seluruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191)

Pada masa kejayaan Islam orang-orang seperti ini banyak jumlahnya. Salah satunya adalah Ibnu Sina, sang bapak kedokteran modern” yang ilmunya tidak lagi diragukan. Hebatnya ia mengawali ilmunya dengan banyak mempelajari ilmu ke-Islam-an. Bahkan pada usia 10 tahun ia telah menjadi penghafal Al-Qur’an. Pada masa itu ilmu memang belum terbagi-bagi dan terkotak-kotak seperti saat ini. Tak heran pada masa itu tak sedikit ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus. Baik ilmu pengetahuan umum, sains maupun agama ( Islam).    

Orang seperti ini sudah seharusnya kita ikuti dan teladani. Apalagi bagi golongan awam yang masih butuh banyak ilmu. 

2. Tahu tapi Ia Tidak Tahu.

Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu).

Yang dimaksud dalam golongan ini adalah orang yang berilmu namun sayang ilmunya tidak sampai pada hakekat, yaitu tidak hingga mengenal Tuhan Yang Menciptakannya. Tidak jarang kita menemukan orang jenis ini. Al-Ghazali menyebutnya bagaikan orang yang tertidur.

Untuk itu adalah tugas kita untuk membangunkannya agar ilmunya berguna dunia maupun akhirat sebagaimana manusia golongan pertama. Karena pada dasarnya ilmu itu milik Allah swt dan dari Allah swt. Dengan bekal ilmunya itu seharusnya ia mengenal Sang Pemilik Ilmu.   

3. Tidak tahu tapi Tahu kalau Ia Tidak Tahu.

Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi tahu alias sadar diri bahwa ia tidak tahu).

Ini masih tergolong baik. Sebab meski tidak berilmu tapi menyadari kekurangannya hingga mau  memperbaiki dan berusaha untuk menuntut ilmu agar dapat mengejar ketertinggalannya. Maka dengan demikian tidak tertutup kemungkinan golongan ini naik menjadi golongan manusia tingkat pertama, yaitu Tahu dan Ia Tahu.

4. Tidak Tahu tapi Tidak Tahu kalau Tidak Tahu.

Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu).

Ini adalah golongan manusia terburuk. Al-Ghazali bahkan menyebutnya manusia dungu. Mereka adalah manusia yang merasa ber-ilmu, merasa tahu dan benar padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia seperti ini sulit disadarkan. Orang seperti ini tidak perlu diajak berdebat karena percuma hanya membuang waktu dan tenaga. Cukup kita doakan saja semoga Allah swt memberinya hidayah. Semoga Allah azza wa jala menjauhkan kita dari sifat-sifat buruk tersebut, aamiin yaa robbal ‘alaamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Juli 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Kemuliaan Semu.

Abu Lahab bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang pemuka Quraisy kaya raya yang dimuliakan dan disegani kaumnya. Namun ia dimuliakan dan disegani bukan hanya karena hartanya tapi juga karena ia berasal dari suku yang terhormat. Suku Quraisy dimuliakan karena kedudukannya sebagai penjaga Ka’bah di Makkah. Disinilah pusat peribadatan haji yang umurnya sudah ribuan tahun itu dilakukan, baik oleh penduduk Makkah maupun penduduk jazirah Arab.

Berhaji lengkap dengan tawaf dan sainya adalah ritual ibadah yang diwariskan oleh nabi Ibrahim as dan putranya yaitu nabi Ismail as. Meskipun dengan akidah yang sudah diselewengkan. Selain peribadatan, suku Quraisy  juga mendapat kehormatan untuk mengelola air Zam-zam yang juga telah ribuan tahun usianya.  

Pada saat Abdul Mutholib, ayah Abu Lahab, menjabat sebagai penjaga Ka’bah, terjadi peristiwa menakjubkan. Yaitu berhamburannya pasukan yang terdiri dari ribuan burung Ababil yang mencerai-beraikan pasukan gajah pimpinan Abrahah yang bermaksud  menghancurkan Ka’bah. Penguasa Habasyah ( Ethiopia) di Yaman ini marah besar karena gereja besar yang dibangun olehnya dikotori tinja oleh orang Quraisy. Padahal ia membangun gereja megah di Yaman tersebut demi menyaingi Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi jamaah manca negara. 

 “Kami tidak berniat melawan pasukan tuan karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib menjawab pernyataan Abrahah yang ketika itu mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah yang dibencinya. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

Jawaban Abdul Mutholib di atas menyiratkan bahwa orang-orang Quraisy sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Tuhan mereka. Tapi syaitan telah menyesatkan mereka dengan menjadikan berhala sebagai sesembahan disamping Allah swt. Ini tercermin dari nama Abu Uzza nama asli Abu Lahab yaitu hamba Uzza. Uzza adalah nama salah satu berhala yang mereka sembah.       

Peristiwa spektakuler tersebut akhirnya malah membuat  Abdul Mutholib dengan Ka’bahnya makin harum namanya. Tahun dimana peristiwa tersebut terjadi dikenal dengan nama tahun Gajah. Pada tahun itu pulalah lahir Rasulullah Muhammad saw. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Al-Fiil yang artinya gajah, sebagai berikut:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Suku Quraisy juga terkenal sebagai pedagang ulung yang terbiasa melakukan perniagaan barang-barang berkwalitas tinggi ke kota-kota yang jaraknya ribuan kilometer. Dari Mekah ke Syam pada musim dingin dan dari Mekah ke Yaman pada musim panas. Surat Al-Quraisy menceritakan hal tersebut.

Dalam keadaan itulah Abu Lahab hidup, dengan segala kemewahan dan kekuasaan, dikelilingi oleh orang-orang yang tunduk patuh pada segala perintahnya. Istrinya yang juga seorang perempuan Quraisy terhormat, dijuluki ummu Jamil yang artinya ibu yang cantik. Ia adalah saudara perempuan Abu Sufyan.

Pasangan suami istri ini sangat menyayangi Muhammad, keponakan mereka, sejak lahir hingga sebelum diangkat menjadi utusan-Nya. Ketika budaknya menyampaikan berita kelahiran sang keponakan, Abu Lahab langsung membebaskan budaknya tersebut. Ini sebagai tanda suka cita mereka karena Muhammad adalah putra dari Abdullah bin Abdul Mutholib, adik bungsu yang sangat dicintainya. Abdullah wafat dalam usia muda ketika Rasulullah masih dalam kandungan Aminah, ibundanya. Bahkan ketika Rasulullah telah menikah dan memiliki beberapa putri, Abu Lahab menikahkan kedua putranya dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayah dan ummu Kultsum binti Muhammad.

Namun sejak Rasulullah diangkat menjadi utusan Allah Abu Lahab dan istrinya mulai membencinya. Ajaran yang disampaikan Rasulullah itu dianggap melecehkan berhala sesembahan mereka sekaligus mengancam  kedudukan dan kehormatan mereka sebagai pemuka agama. Untuk itu mereka tidak saja memerintahkan orang-orangnya untuk mengejek Rasulullah namun juga rela membuntuti Rasulullah kemanapun pergi untuk mengejek sang keponakan.  

“Hai bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid’ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti”, ucap Abu Lahab penuh kebencian.

Sementara istrinya, ia suka menebarkan duri ke jalan-jalan yang biasa dilalui Rasulullah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa istri Abu Lahab ini memiliki sebuah kalung berharga. Dengan kalungnya itu ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menentang dakwah Rasulullah.

Hingga suatu hari turun ayat Al-Quran yang memerintahkan Rasulullah agar secara terbuka mendakwahi keluarga dekat beliau. Maka Rasulullahpun naik ke atas bukit Shafa lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berseru, ‘Sekiranya aku sekarang mengatakan kepada kalian bahwa pasukan musuh akan menyerang kalian di pagi ini atau sore ini, apakah kalian akan mempercayainya?’

Mereka serentak menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku sekarang memberi peringatan kepada kalian terhadap akan datangnya azab yang pedih.’

Mendengar ucapan tersebut, Abu Lahab yang hadir di tempat tersebut langsung mengumpat, ‘Celaka engkau, apakah hanya untuk menyampaikan hal ini engkau mengumpulkan kami!?’ sambil meninggalkan tempat.

Tak lama turunlah surat Al-Lahab yang berisi laknat Allah Azza wa Jala kepada Abu Lahab dan istrinya sebagai berikut:

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Demikian yang dikisahkan Ibnu Abbas ra dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Ke 5 ayat surat Al-Lahab diatas adalah balasan atas segala prilaku busuk pasangan suami istri pemuka Quraisy tersebut. Surah Al-Lahab secara harfiah berarti ”yang menyala-nyala” atau ” gejolak api’ sesuai dengan nama Abu Lahab. Nama yang diberikan karena wajahnya yang sejak kecil tampak selalu cerah kemerahan. Julukan yang indah namun ternyata adalah calon ahli neraka yang apinya bergejolak dan menyala-nyala seperti wajahnya.  

Ayat 1 “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” menunjuk pada perbuatan yang dilakukan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh Abu Lahab yang terus menerus menteror dakwah Rasulullah. Yang akibatnya akan membinasakan dan merugikan dirinya sendiri. Yaitu masuk neraka sebagaimana ayat 3.

Ayat 2 yang berbunyi “Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” adalah tanggapan Allah swt atas perkataan Abu Lahab. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ketika Rasulullah SAW menyeru kaumnya kepada iman. Abu Lahab berkata, “Jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari azab dengan harta dan anak-anakku.”

Rupanya Abu Lahab merasa bahwa hartanya yang berlimpah dan anak-anaknya dapat menyelamatkannya dari kemurkaan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Karena kesombongannya ia lupa bahwa harta dan anak hanyalah titipan-Nya.

Sementara ayat 4 dan 5 adalah tanggapan Allah swt atas sumpah istri Abu Lahab tentang kalung berharganya yang akan ia tebus mati-matian demi menentang dakwah Rasulullah. Ibnu Jarir mengatakan bahwa al-masadd dalam ayat 5 tersebut artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sedangkan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Alangkah marah dan kesalnya Abu Lahab dan istrinya mendengar hal itu. Segera mereka memerintahkan kedua anak lelaki mereka untuk menceraikan istri-istri mereka. Kebencian merekapun semakin memuncak.

Kebencian kepada Rasulullah juga diperlihatkan salah satu anak Abu Lahab, yang tak lain adalah bekas menantu Rasulullah. Hingga suatu hari karena sudah keterlaluan Rasullah memohon agar Allah swt mengirim azab-Nya.

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.”

Abu Lahab dan putranya sangat ketakutan. Apalagi kafilah dagang mereka akan melakukan perjalanan jauh. Maka Abu Lahabpun memerintahkan pengawalan extra ketat untuk putranya. Namun ternyata Allah swt mengabulkan permohonan rasul-Nya. Maka terjadilah apa yang diminta Rasul. Ia diterkam seekor singa ketika sedang tidur. Ironisnya hal tersebut tidak membuat jera Abu Lahab dan istrinya. Kebencian mereka bahkan makin menjadi-jadi. 

Sepuluh tahun kemudian yaitu pada tahun 2 H terjadilah  Perang Badar yang berakhir dengan kekalahan pihak musyrikin Quraisy dengan sangat memalukan. Pada perang tersebut Abu Lahab tidak ikut berperang. Ia hanya menyetor 4.000 dirham dan meminta seseorang menggantikannya di medan perang.

Sepekan setelah itu Abu Lahab diserang penyakit lepra hingga dijauhi sanak keluarganya dan akhirnya tewas mengenaskan. Selama tiga hari jasadnya tidak segera dikuburkan karena tak seorangpun tahan dengan bau menyengat yang keluar dari mayatnya. Tidak juga orang-orang yang dulu selalu mengelilingi dan memujanya. Ini yang juga terjadi terhadap Kemal Ataturk, Yahudi pendiri Turki sekuler. Hingga hari ini bau busuk tetap keluar dari kuburnya hingga terpaksa diberi pewangi sepanjang waktu.

Dengan terpaksa para tetangganya akhirnya memasukkan mayat pemuka Quraisy tersebut ke dalam sebuah kotak kayu dan menguburkannya dalam-dalam. Sesudah itu mereka melemparinya dengan kerikil dan tanah hingga rata.

Dalam sebuah riwayat dikabarkan setiap hari Senin mantan pemuka tersebut dibebaskan dari siksa kubur. Ini sebagai penghargaan atas kebaikannya membebaskan budak yang mengabarkan kelahiran Rasulullah.

Beberapa kesimpulan dan hikmah yang bisa diambil:

  1. Harta kekayaan, anak, kehormatan, jabatan dll hanyalah cobaan dan titipan. Ia tidak dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Kecuali digunakan di jalan yang diridhoi-Nya.
  2. Laknat dan janji Allah pasti terjadi. Bisa di dunia maupun di akhirat ataupun di akhirat saja kelak.  Abu Lahab merasakan keduanya , di dunia dan akhirat.       
  3. Pemimpin mendapat balasan berlipat atas kebaikan dan keburukannya. Tak seperti biasanya Allah swt melaknat langsung nama seseorang. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang bersangkutan sudah ketelaluan. Abu Lahab adalah seorang pemuka yang dengan kedudukannya seharusnya bisa mengajak ke jalan yang lurus. Tapi ia malah  bersengkongkol bersama istri dan anaknya mati-matian memusuhi dakwah Rasulullah, pada awal dakwah Islam pula. Mirip dengan apa yang dilakukan Iblis yang melawan nabi Adam as pada awal penciptaan. Dan Allahpun melaknatnya.
  4. Hati-hati dengan memberi nama anak. Abu Uzza yang artinya hamba Uzza berhala sesembahan Quraisy membuat hatinya keras membatu tidak mampu menerima kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Maret 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

SIBAQ

“Fastabiqul khoirot” (maka berlombalah kamu dalam kebaikan ).  

Ini adalah potongan ayat 148 surat Al-Baqarah yang sudah sepatutnya dijadikan pegangan umat Islam dalam mengarungi kehidupannya. Stabiqu berasal dari kata dasar yang sama dengan Sibaq, Musabaqoh yaitu Sabaqo – Yasbiqu yang arti harfiahnya adalah  memenangkan suatu lomba.

Hidup sejatinya adalah berlomba dalam kebaikan. Siapa yang menang ia akan memasuki surga dan siapa yang kalah akan masuk neraka. Tidak ada pilihan lain, senang atau tidak, terpaksa atau tidak, hanya itu pilihannya.

Lomba adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihindarkan. Setiap manusia sadar atau tidak sebenarnya memiliki nafsu untuk menang dalam lomba, lomba apapun. Lomba ini bahkan telah dimulai sejak awal kehidupan seorang anak manusia. Yaitu pada awal proses pembuahan dimana satu dari 100 juta sperma memenangkan lomba menggapai sebuah sel telur. Sperma pemenang ini sudah pasti adalah sperma kuat dan sehat, bibit unggul cikal bakal anak manusia yang nantinya akan siap melakukan lomba yang diperintahkan Tuhannya, Allah Azza wa Jala.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(67):2).

Lomba ini juga dimaksudkan sebagai ujian, siapa yang amalnya lebih baik (bukan lebih banyak) itulah yang lulus. Uniknya ujian tidak hanya dalam bentuk kesusahan namun juga kesenangan. Karena sesungguhnya susah maupun senang adalah dari-Nya. Allah subhana wa ta’ala ingin mengetahui bagaimana reaksi kita ketika diberi kesusahan, apakah kita bisa bersabar dan tetap mensyukurinya.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.(Terjemah QS. Al-Mulk(67):23).

Dan ketika diberi kesenangan apakah menjadi lupa diri, sombong, pongah, bahkan takabur dan riya. Karena kesenangan dan kesuksesan sejatinya adalah uji kepekaan, jangan sampai orang lain yang dalam kesulitan menjadi tersinggung. Di hari Pengadilan nanti kita harus mempertanggung-jawabkan semua itu.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”.(Terjemah QS. At-Takasuur(102):8).

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud amal yang baik pada ayat di atas. Definisi baik mungkin banyak, tergantung sudut pandang. Namun Islam menegaskan bahwa baik adalah segala sesuatu yang sumbernya dari Allah subhana wa ta’ala. Karena ‘kebenaran hakiki itu hanya 1, yaitu yang dari-Nya. Jadi jangan pernah merasa ragu dengan banyaknya orang atau golongan yang berusaha membujuk rayu bahwa kebenaran itu relative. 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):147).

Apapun perintah dan larangan-Nya pasti baik, dan pasti bermanfaat bagi manusia. Meski bisa jadi kelihatannya tidak sesuai dengan akal apalagi nafsu manusia. Ajaran Islam sejatinya adalah fitrah manusia, tidak ada yang menyimpang dari fitrahnya. Ia hanya mengukuhkan yang sudah ada, membatasi agar tidak berlebihan serta mengarahkan supaya tetap berada di rel yang benar. Yang baik/haqq pasti dari Allah swt sedangkan yang buruk/bathil dari yang selain –Nya.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, …” (Terjemah QS. Al-Isa(17):7).

Keyakinan yang demikian itulah yang pasti akan melahirkan manusia yang takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):102).

Takwa terdiri atas 2 macam, takwa pertama adalah takwa dalam hal  meninggalkan larangan sejauh-jauhnya/sekuat-kuatnya dan takwa kedua adalah dalam menjalankan perintah semampunya. Yang dimaksud menjalankan perintah semampunya adalah dalam hal ibadah sunnah bukan ibadah wajib, kecuali ada halangan yang dibenarkan secara syar’i. Misal shalat ketika sakit. Dalam keadaan normal harus berdiri, namun bila tidak sanggup boleh duduk, bila tidak sanggup juga boleh dalam posisi tidur. Dan bila tidak sanggup juga dengan kedipan matapun diperbolehkan.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…. …”. ( Terjemah QS. At-Taghaabun(64):16).

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah 2:148).

Ayat diatas membuktikan bahwa lomba dalam kebaikan tidak hanya terhadap sesama muslim tapi juga dengan umat lain. Termasuk juga arah kiblatnya. Setiap orang/umat pasti mempunyai tujuan dan minat masing-masing. Akan tetapi prinsip dasar/orientasi seorang Muslim harus sama, yaitu bahwa hidup adalah untuk menyembah kepada Allah Azza wa Jala.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. ( Terjemah QS.Ads-Dzariyah (21):56)

Seperti kita ketahui kiblat pertama umat Islam adalah menghadap Masjidil Aqsho. Perintah pemindahan kiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Mekah untuk menguji ketaatan sekaligus untuk membedakan dari umat Yahudi dan Nasrani yang memang berkiblat ke Masjidil Aqsho. Ka’bah bukan tujuan apalagi untuk disembah sebagaimana yang sering dituduhkan orang-orang kafir. Apa yang dikatakan Umar bin Khattab ra di hadapan Hajar Aswad yang terletak di salah satu sisi Ka’bah adalah bentuk ketaatan sekaligus ketauhidan yang harus kita contoh.

“Demi Allah aku akan benar-benar menciumnya dan aku sungguh tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu. Sungguh, kau tak bisa mendatangkan marabahaya dan tak bisa memberikan keuntungan. Sandainya aku tak pernah melihat Rasulullah mencium kamu tentu aku tak akan mencium.” 

Ketaatan dasar dalam bentuk perbuatan yang wajib dikerjakan umat Islam adalah mendirikan shalat wajib 5x sehari sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Namun jangn lupa Allah swt juga mewajibkan umat yahudi dn nasrani untuk shalat, rukuk dan sujud sebagaimana umat Islam. Walaupun Al-Quran tidak menrangkan persisnya bagaimana. Dan itu tidak penting bagi kita. Yang pasti ternyata Allah melaknat mrk. Tidak sedikit ayat2 quran menerangkn hal tsb diantaranya yg sering kita baca adalah ayat 6 Alfatihah. Pelajaran bagi kita agar kita mampu mengambil hikmah kesalahan mereka. Jangn sampai kita malah mengulang kesalahan tersebut.  

“Katakanlah, maukah kalian kuberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Terjemah QS.Al-Kahfi (18):103-104).

Shalat yang merupakan tiang agama itu sebenarnya bukan sekedar bentuk ketaatan kepda-Nya, namun juga latihan kedisiplinan. Shalat berjamaah ke arah yang sama yaitu Ka’bah adalah lambang persatuan. Sementara wudhu/thoharoh,  gerakan, bacaan dan waktu shalat memiliki cara dan urutan yang tertentu, tidak boleh sesukanya. Maka sudah sewajarnya shalat yang benar akan membuahkan ahlak yang baik. Dalam ayat 1-11 surat Al-Mukminun diterangkan kriteria ahlak seorang yang Mukmin.

Artinya shalat memiliki filosofi yang dalam yaitu hidup harus dinamis, semangat dengan ilmu yang benar dalam segala bidang, tidak boleh mudah menyerah dan putus asa. Bukankah hidup adalah ujian sebagaimana dijelaskan di atas. Umat Islam wajib bersatu agar dapat memenangkan lomba. Jangan pernah menunda amal baik.Umat Islam harus punya skala prioritas amal.

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”(HR Muslim).

Sementara ayat 4-8 surat Al-Maaun menjelaskan tentang shalat yang lalai. Diantaranya yaitu riya. Riya adalah amal ibadah yang dikerjakan untuk dilihat orang lain bukan karena ketaatan kepada-Nya, Sebaliknya Allh jg menegaskn bahwa kita adalah umat terbaik. Mak dengan berbekal modal itu semua seharusnya kita, umat Muslim dapat memenangkn lomba ini dan memasuki surga Firdaus yang dijanjikan bagi sang pemenang.

Hikmah Sibaq:

1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan dan tugas.

2. Effektif dalam waktu. Usia biologis harus melampaui usia manfaat. Bisa jadi usia biologis seseorang pendek namun tabungan pahalanya melebihi usianya. Contohnya, ganjaran malam Lailatul qadar yang 1000 bulan atau 86 tahun, shalat jamaah 27x ganjaran, shalat 2 rakaat sebelum Subuh dll.

3. Meminimalisir godaan syetan. Dengan banyak berbuat baik ruang keburukan menjadi berkurang.

4. Terwujudnya self control dan integritas yang tinggi.

“Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat.” (Ali bin Abi Thalib ra).

“Siapa yang hidup untuk orang lain  maka akan hidup sebagai orang besar. Dan siapa yang hidup untuk diri sendiri maka akan hidup sebagai orang kecil”. (Sayyid Qutb).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Februari 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Devide et Impera Gaya Baru

Devide et Impera adalah kosa kata bahasa Spanyol (atau Prancis ??)yang dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan pecah belah atau adu domba. Devide berarti memecah belah, et berarti dan, impera berarti menguasai.

Devide et Impera digunakan untuk menunjuk sebuah strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis sejak abad 15. Bangsa-bangsa Eropa tersebut melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam, terutama di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia.

Caranya yaitu dengan menimbulkan perpecahan di wilayah yang dituju hingga mudah untuk dikuasai dan ditaklukkan. Atau dengan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat hingga berpotensi mengadakan perlawanan. Dengan cara inilah Belanda berhasil menguasai negara kita tercinta. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang luas, komunikasi dan transportasi antar pulau yang sulit, terpaksa takluk tak berkutik.

Hanya atas izin Allah swt, dengan memanfaatkan momen kalahnya Jepang pada PD II, perjuangan panjang para pejuang akhirnyapun membuahkan hasil. Pada 17 Agustus 1945, di rumah Faradj Martak, seorang pengusaha Arab Indonesia kelahiran Yaman, Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan. Di pekarangan rumah jalan Pegangsaan Timur ( sekarang jalan Proklamasi) no 56 Jakarta Pusat yang  kemudian dihibahkan kepada pemerintah Indonesia tersebut itulah berkibarlah bendera Merah Putih untuk pertama kalinya. Rumah tersebut sekarang telah berubah menjadi Gedung Perintis Kemerdekaan.

Kini kita telah merdeka, lepas dari penjajahan. 75 tahun berlalu sudah, namun benarkah kita bisa benar-benar lepas dari strategi pecah belah tersebut?? Strategi yang seiring dengan berjalannya waktu telah mengalami perkembangan. Pecah belah tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun telah menjadi strategi politik, yang menggabungkannya dengan strategi militer , ekonomi dan budaya.

Tak dapat dipungkiri penduduk Indonesia beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan terpecah, yaitu sejak adanya kasus Al-Maidah.  Kasus Al-Maidah adalah kasus yang disebabkan pernyataan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) yang ketika itu menjabat sebagai gubernur DKI, bahwa orang Indonesia tidak boleh dibohongi oleh orang-orang yang menggunakan surah Al-Ma’idah ayat 51 supaya tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Pernyataan kontrovesial ini terjadi pada tahun 2016 di kepulauan pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di hadapan pada para nelayan dan penduduk lokal lainnya.  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Kasus tersebut tentu saja memicu kemarahan kaum Muslimin yang merupakan mayoritas penduduk. Maka terjadilah demo yang melibatkan jutaan orang, menjadikannya demo terbesar yang pernah terjadi di seantero dunia. Demo yang kemudian dikenal dengan nama Aksi Damai 4 November (411) dan Aksi Damai 2 Desember (212) ini diikuti tidak saja umat Islam namun juga mereka yang merasa bahwa pernyataan tersebut sangat tidak pantas, dan berpotensi memecah persatuan. Aksi Damai yang selanjutnya diperingati tiap 2 Desember sebagai Reuni 2012 ini menuntut penahanan Ahok atas tuduhan menista dan menghujat Al-Qur’an.

Ahok memang akhirnya menjalani vonis penjara namun dampak dari pernyataannya ternyata masih terus bergaung bahkan lebih hebat lagi. Penduduk Indonesia hingga saat ini bisa dibilang terpecah menjadi 2 kelompok. Perseteruan antara pemilih Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 seolah mencerminkan antara pembela dan penentang Ahok. Lebih parah lagi pembela Ahok diposisikan sebagai Pancasilais, cinta NKRI dll. Sebaliknya penentang Ahok adalah kaum Muslimin pro kekhalifahan pemecah NKRI yang ingin men-Suriah-kan Indonesia.  Ada apakah gerangan???

Isu ini terus digodog dengan berbagai cara hingga makin lama makin terkuak bahwa sejatinya Islamlah sasaran tembak. Namun yang lebih menyedihkan lagi banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya.

Tengoklah berbagai prilaku dan pernyataan yang memojokkan Islam. Contohnya ditangkapinya sejumlah ulama oleh petugas khusus yang menangani masalah terorisme hanya karena alasan pernah di Afganistan, pernah memberi bantuan ke Suriah dll.  Pernyataan jangan merasa bahwa agama hanya Islam yang benar, berdoa tidak perlu harus bahasa Arab, berbusana tidak perlu meniru bangsa Arab dll. Bahkan dimunculkan pula Islam Nusantara sebagai Islam yang sesuai dengan orang Indonesia. Inilah Devide et Impera gaya baru yang harus kita waspadai. Siapa sebenarnya yang paling diuntungkan bila kita berpecah belah???  

Saat ini umat Islam di seluruh penjuru dunia memang sedang dalam keadaan terpuruk. Cahaya Islam nyaris tidak menampakkan semburatnya. Budaya Barat mulai dari cara pergaulan, cara berpakaian hingga sistim ekonomi yang jauh dari syariah telah merasuki kehidupan sebagian besar kaum Muslimin dimanapun berada. Belum lagi isu teroris yang terus dihembuskan musuh-musuh Islam. Membuat kaum Muslimin makin tidak percaya diri. Lupa, bahwa delapan abad lamanya Islam pernah menguasai dunia, menjadi negara super power layaknya AS saat ini.

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):109).

Thomas W. Arnold (1864-1930), seorang orientalis berkebangsaan Inggris dalam bukunya “The Preaching of Islam” mengungkapkan bahwa satu di antara faktor suksesnya Islam adalah ketinggian moral umat Islam dibandingkan dengan umat Kristen. Disamping juga kemakmuran rakyatnya. Hingga rakyat Italiapun ingin menjadi bagian dari Turki Ustmani melihat tetangga mereka, Yunani, menjadi makmur dibawah kekhalifahan Islam tersebut. Bahkan perseteruan antara sesama umat Kristen yang sebelum sering terjadi, menjadi sangat berkurang. Ini membuktikan betapa toleransinya umat Islam.

Bukan rahasia lagi bahwa salah satu kunci utama kejayaan Islam adalah kuatnya persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Hal ini diketahui musuh-musuh Islam. Tak heran bila akhirnya musuh-musuh Islam menggunakan politik Devide et Impera untuk menjatuhkan Islam. Diantaranya yaitu dengan cara menggunakan isu kebangsaan, persamaan hak, demokrasi, HAM dll.  

Ditambah lagi dengan adanya peristiwa 911 yang menyudutkan umat Islam hingga melahirkan Islamophobia akut, tidak hanya bagi orang lain tapi terlebih lagi sebagian umat Islam sendiri. Padahal tidak sedikit orang Barat yang justru memeluk Islam setelah tragedy mengerikan tersebut karena rasa penasaran.    

Pertanyaannya sampai kapan kaum Muslimin mau terus diperlakukan seperti ini?? Tidak dapatkah kita bersatu menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan Islam seperti di masa kejayaan Islam? Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah, Islam yang kaffah yaitu yang tidak memilih-milah ayat sesuai hawa nafsu dan keinginan, Islam yang benar-benar rahmatan lillalamin, Islam yang penuh kedamaian, yang tidak hanya milik kaum Muslimin namun juga pemeluk agama lain yang menginginkan hal yang sama, dan juga seluruh isi dunia ini, termasuk binatang, tumbuhan dan alam ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Desember 2021.

Vien AM. 

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »