Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Kemuliaan Semu.

Abu Lahab bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang pemuka Quraisy kaya raya yang dimuliakan dan disegani kaumnya. Namun ia dimuliakan dan disegani bukan hanya karena hartanya tapi juga karena ia berasal dari suku yang terhormat. Suku Quraisy dimuliakan karena kedudukannya sebagai penjaga Ka’bah di Makkah. Disinilah pusat peribadatan haji yang umurnya sudah ribuan tahun itu dilakukan, baik oleh penduduk Makkah maupun penduduk jazirah Arab.

Berhaji lengkap dengan tawaf dan sainya adalah ritual ibadah yang diwariskan oleh nabi Ibrahim as dan putranya yaitu nabi Ismail as. Meskipun dengan akidah yang sudah diselewengkan. Selain peribadatan, suku Quraisy  juga mendapat kehormatan untuk mengelola air Zam-zam yang juga telah ribuan tahun usianya.  

Pada saat Abdul Mutholib, ayah Abu Lahab, menjabat sebagai penjaga Ka’bah, terjadi peristiwa menakjubkan. Yaitu berhamburannya pasukan yang terdiri dari ribuan burung Ababil yang mencerai-beraikan pasukan gajah pimpinan Abrahah yang bermaksud  menghancurkan Ka’bah. Penguasa Habasyah ( Ethiopia) di Yaman ini marah besar karena gereja besar yang dibangun olehnya dikotori tinja oleh orang Quraisy. Padahal ia membangun gereja megah di Yaman tersebut demi menyaingi Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi jamaah manca negara. 

 “Kami tidak berniat melawan pasukan tuan karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib menjawab pernyataan Abrahah yang ketika itu mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah yang dibencinya. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

Jawaban Abdul Mutholib di atas menyiratkan bahwa orang-orang Quraisy sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Tuhan mereka. Tapi syaitan telah menyesatkan mereka dengan menjadikan berhala sebagai sesembahan disamping Allah swt. Ini tercermin dari nama Abu Uzza nama asli Abu Lahab yaitu hamba Uzza. Uzza adalah nama salah satu berhala yang mereka sembah.       

Peristiwa spektakuler tersebut akhirnya malah membuat  Abdul Mutholib dengan Ka’bahnya makin harum namanya. Tahun dimana peristiwa tersebut terjadi dikenal dengan nama tahun Gajah. Pada tahun itu pulalah lahir Rasulullah Muhammad saw. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Al-Fiil yang artinya gajah, sebagai berikut:

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Suku Quraisy juga terkenal sebagai pedagang ulung yang terbiasa melakukan perniagaan barang-barang berkwalitas tinggi ke kota-kota yang jaraknya ribuan kilometer. Dari Mekah ke Syam pada musim dingin dan dari Mekah ke Yaman pada musim panas. Surat Al-Quraisy menceritakan hal tersebut.

Dalam keadaan itulah Abu Lahab hidup, dengan segala kemewahan dan kekuasaan, dikelilingi oleh orang-orang yang tunduk patuh pada segala perintahnya. Istrinya yang juga seorang perempuan Quraisy terhormat, dijuluki ummu Jamil yang artinya ibu yang cantik. Ia adalah saudara perempuan Abu Sufyan.

Pasangan suami istri ini sangat menyayangi Muhammad, keponakan mereka, sejak lahir hingga sebelum diangkat menjadi utusan-Nya. Ketika budaknya menyampaikan berita kelahiran sang keponakan, Abu Lahab langsung membebaskan budaknya tersebut. Ini sebagai tanda suka cita mereka karena Muhammad adalah putra dari Abdullah bin Abdul Mutholib, adik bungsu yang sangat dicintainya. Abdullah wafat dalam usia muda ketika Rasulullah masih dalam kandungan Aminah, ibundanya. Bahkan ketika Rasulullah telah menikah dan memiliki beberapa putri, Abu Lahab menikahkan kedua putranya dengan dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayah dan ummu Kultsum binti Muhammad.

Namun sejak Rasulullah diangkat menjadi utusan Allah Abu Lahab dan istrinya mulai membencinya. Ajaran yang disampaikan Rasulullah itu dianggap melecehkan berhala sesembahan mereka sekaligus mengancam  kedudukan dan kehormatan mereka sebagai pemuka agama. Untuk itu mereka tidak saja memerintahkan orang-orangnya untuk mengejek Rasulullah namun juga rela membuntuti Rasulullah kemanapun pergi untuk mengejek sang keponakan.  

“Hai bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid’ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti”, ucap Abu Lahab penuh kebencian.

Sementara istrinya, ia suka menebarkan duri ke jalan-jalan yang biasa dilalui Rasulullah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa istri Abu Lahab ini memiliki sebuah kalung berharga. Dengan kalungnya itu ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menentang dakwah Rasulullah.

Hingga suatu hari turun ayat Al-Quran yang memerintahkan Rasulullah agar secara terbuka mendakwahi keluarga dekat beliau. Maka Rasulullahpun naik ke atas bukit Shafa lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Kemudian Rasulullah berseru, ‘Sekiranya aku sekarang mengatakan kepada kalian bahwa pasukan musuh akan menyerang kalian di pagi ini atau sore ini, apakah kalian akan mempercayainya?’

Mereka serentak menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku sekarang memberi peringatan kepada kalian terhadap akan datangnya azab yang pedih.’

Mendengar ucapan tersebut, Abu Lahab yang hadir di tempat tersebut langsung mengumpat, ‘Celaka engkau, apakah hanya untuk menyampaikan hal ini engkau mengumpulkan kami!?’ sambil meninggalkan tempat.

Tak lama turunlah surat Al-Lahab yang berisi laknat Allah Azza wa Jala kepada Abu Lahab dan istrinya sebagai berikut:

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

4. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.

5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Demikian yang dikisahkan Ibnu Abbas ra dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Ke 5 ayat surat Al-Lahab diatas adalah balasan atas segala prilaku busuk pasangan suami istri pemuka Quraisy tersebut. Surah Al-Lahab secara harfiah berarti ”yang menyala-nyala” atau ” gejolak api’ sesuai dengan nama Abu Lahab. Nama yang diberikan karena wajahnya yang sejak kecil tampak selalu cerah kemerahan. Julukan yang indah namun ternyata adalah calon ahli neraka yang apinya bergejolak dan menyala-nyala seperti wajahnya.  

Ayat 1 “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” menunjuk pada perbuatan yang dilakukan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh Abu Lahab yang terus menerus menteror dakwah Rasulullah. Yang akibatnya akan membinasakan dan merugikan dirinya sendiri. Yaitu masuk neraka sebagaimana ayat 3.

Ayat 2 yang berbunyi “Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” adalah tanggapan Allah swt atas perkataan Abu Lahab. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ketika Rasulullah SAW menyeru kaumnya kepada iman. Abu Lahab berkata, “Jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari azab dengan harta dan anak-anakku.”

Rupanya Abu Lahab merasa bahwa hartanya yang berlimpah dan anak-anaknya dapat menyelamatkannya dari kemurkaan Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala. Karena kesombongannya ia lupa bahwa harta dan anak hanyalah titipan-Nya.

Sementara ayat 4 dan 5 adalah tanggapan Allah swt atas sumpah istri Abu Lahab tentang kalung berharganya yang akan ia tebus mati-matian demi menentang dakwah Rasulullah. Ibnu Jarir mengatakan bahwa al-masadd dalam ayat 5 tersebut artinya sabut. Urwah ibnuz Zubair mengatakan bahwa al-masadd artinya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sedangkan As-Sauri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Alangkah marah dan kesalnya Abu Lahab dan istrinya mendengar hal itu. Segera mereka memerintahkan kedua anak lelaki mereka untuk menceraikan istri-istri mereka. Kebencian merekapun semakin memuncak.

Kebencian kepada Rasulullah juga diperlihatkan salah satu anak Abu Lahab, yang tak lain adalah bekas menantu Rasulullah. Hingga suatu hari karena sudah keterlaluan Rasullah memohon agar Allah swt mengirim azab-Nya.

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.”

Abu Lahab dan putranya sangat ketakutan. Apalagi kafilah dagang mereka akan melakukan perjalanan jauh. Maka Abu Lahabpun memerintahkan pengawalan extra ketat untuk putranya. Namun ternyata Allah swt mengabulkan permohonan rasul-Nya. Maka terjadilah apa yang diminta Rasul. Ia diterkam seekor singa ketika sedang tidur. Ironisnya hal tersebut tidak membuat jera Abu Lahab dan istrinya. Kebencian mereka bahkan makin menjadi-jadi. 

Sepuluh tahun kemudian yaitu pada tahun 2 H terjadilah  Perang Badar yang berakhir dengan kekalahan pihak musyrikin Quraisy dengan sangat memalukan. Pada perang tersebut Abu Lahab tidak ikut berperang. Ia hanya menyetor 4.000 dirham dan meminta seseorang menggantikannya di medan perang.

Sepekan setelah itu Abu Lahab diserang penyakit lepra hingga dijauhi sanak keluarganya dan akhirnya tewas mengenaskan. Selama tiga hari jasadnya tidak segera dikuburkan karena tak seorangpun tahan dengan bau menyengat yang keluar dari mayatnya. Tidak juga orang-orang yang dulu selalu mengelilingi dan memujanya. Ini yang juga terjadi terhadap Kemal Ataturk, Yahudi pendiri Turki sekuler. Hingga hari ini bau busuk tetap keluar dari kuburnya hingga terpaksa diberi pewangi sepanjang waktu.

Dengan terpaksa para tetangganya akhirnya memasukkan mayat pemuka Quraisy tersebut ke dalam sebuah kotak kayu dan menguburkannya dalam-dalam. Sesudah itu mereka melemparinya dengan kerikil dan tanah hingga rata.

Dalam sebuah riwayat dikabarkan setiap hari Senin mantan pemuka tersebut dibebaskan dari siksa kubur. Ini sebagai penghargaan atas kebaikannya membebaskan budak yang mengabarkan kelahiran Rasulullah.

Beberapa kesimpulan dan hikmah yang bisa diambil:

  1. Harta kekayaan, anak, kehormatan, jabatan dll hanyalah cobaan dan titipan. Ia tidak dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Kecuali digunakan di jalan yang diridhoi-Nya.
  2. Laknat dan janji Allah pasti terjadi. Bisa di dunia maupun di akhirat ataupun di akhirat saja kelak.  Abu Lahab merasakan keduanya , di dunia dan akhirat.       
  3. Pemimpin mendapat balasan berlipat atas kebaikan dan keburukannya. Tak seperti biasanya Allah swt melaknat langsung nama seseorang. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang bersangkutan sudah ketelaluan. Abu Lahab adalah seorang pemuka yang dengan kedudukannya seharusnya bisa mengajak ke jalan yang lurus. Tapi ia malah  bersengkongkol bersama istri dan anaknya mati-matian memusuhi dakwah Rasulullah, pada awal dakwah Islam pula. Mirip dengan apa yang dilakukan Iblis yang melawan nabi Adam as pada awal penciptaan. Dan Allahpun melaknatnya.
  4. Hati-hati dengan memberi nama anak. Abu Uzza yang artinya hamba Uzza berhala sesembahan Quraisy membuat hatinya keras membatu tidak mampu menerima kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Maret 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

SIBAQ

“Fastabiqul khoirot” (maka berlombalah kamu dalam kebaikan ).  

Ini adalah potongan ayat 148 surat Al-Baqarah yang sudah sepatutnya dijadikan pegangan umat Islam dalam mengarungi kehidupannya. Stabiqu berasal dari kata dasar yang sama dengan Sibaq, Musabaqoh yaitu Sabaqo – Yasbiqu yang arti harfiahnya adalah  memenangkan suatu lomba.

Hidup sejatinya adalah berlomba dalam kebaikan. Siapa yang menang ia akan memasuki surga dan siapa yang kalah akan masuk neraka. Tidak ada pilihan lain, senang atau tidak, terpaksa atau tidak, hanya itu pilihannya.

Lomba adalah fitrah manusia yang tidak dapat dihindarkan. Setiap manusia sadar atau tidak sebenarnya memiliki nafsu untuk menang dalam lomba, lomba apapun. Lomba ini bahkan telah dimulai sejak awal kehidupan seorang anak manusia. Yaitu pada awal proses pembuahan dimana satu dari 100 juta sperma memenangkan lomba menggapai sebuah sel telur. Sperma pemenang ini sudah pasti adalah sperma kuat dan sehat, bibit unggul cikal bakal anak manusia yang nantinya akan siap melakukan lomba yang diperintahkan Tuhannya, Allah Azza wa Jala.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( Terjemah QS. Al-Mulk(67):2).

Lomba ini juga dimaksudkan sebagai ujian, siapa yang amalnya lebih baik (bukan lebih banyak) itulah yang lulus. Uniknya ujian tidak hanya dalam bentuk kesusahan namun juga kesenangan. Karena sesungguhnya susah maupun senang adalah dari-Nya. Allah subhana wa ta’ala ingin mengetahui bagaimana reaksi kita ketika diberi kesusahan, apakah kita bisa bersabar dan tetap mensyukurinya.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.(Terjemah QS. Al-Mulk(67):23).

Dan ketika diberi kesenangan apakah menjadi lupa diri, sombong, pongah, bahkan takabur dan riya. Karena kesenangan dan kesuksesan sejatinya adalah uji kepekaan, jangan sampai orang lain yang dalam kesulitan menjadi tersinggung. Di hari Pengadilan nanti kita harus mempertanggung-jawabkan semua itu.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu”.(Terjemah QS. At-Takasuur(102):8).

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud amal yang baik pada ayat di atas. Definisi baik mungkin banyak, tergantung sudut pandang. Namun Islam menegaskan bahwa baik adalah segala sesuatu yang sumbernya dari Allah subhana wa ta’ala. Karena ‘kebenaran hakiki itu hanya 1, yaitu yang dari-Nya. Jadi jangan pernah merasa ragu dengan banyaknya orang atau golongan yang berusaha membujuk rayu bahwa kebenaran itu relative. 

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):147).

Apapun perintah dan larangan-Nya pasti baik, dan pasti bermanfaat bagi manusia. Meski bisa jadi kelihatannya tidak sesuai dengan akal apalagi nafsu manusia. Ajaran Islam sejatinya adalah fitrah manusia, tidak ada yang menyimpang dari fitrahnya. Ia hanya mengukuhkan yang sudah ada, membatasi agar tidak berlebihan serta mengarahkan supaya tetap berada di rel yang benar. Yang baik/haqq pasti dari Allah swt sedangkan yang buruk/bathil dari yang selain –Nya.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, …” (Terjemah QS. Al-Isa(17):7).

Keyakinan yang demikian itulah yang pasti akan melahirkan manusia yang takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( Terjemah QS. Ali Imran(3):102).

Takwa terdiri atas 2 macam, takwa pertama adalah takwa dalam hal  meninggalkan larangan sejauh-jauhnya/sekuat-kuatnya dan takwa kedua adalah dalam menjalankan perintah semampunya. Yang dimaksud menjalankan perintah semampunya adalah dalam hal ibadah sunnah bukan ibadah wajib, kecuali ada halangan yang dibenarkan secara syar’i. Misal shalat ketika sakit. Dalam keadaan normal harus berdiri, namun bila tidak sanggup boleh duduk, bila tidak sanggup juga boleh dalam posisi tidur. Dan bila tidak sanggup juga dengan kedipan matapun diperbolehkan.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…. …”. ( Terjemah QS. At-Taghaabun(64):16).

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Baqarah 2:148).

Ayat diatas membuktikan bahwa lomba dalam kebaikan tidak hanya terhadap sesama muslim tapi juga dengan umat lain. Termasuk juga arah kiblatnya. Setiap orang/umat pasti mempunyai tujuan dan minat masing-masing. Akan tetapi prinsip dasar/orientasi seorang Muslim harus sama, yaitu bahwa hidup adalah untuk menyembah kepada Allah Azza wa Jala.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. ( Terjemah QS.Ads-Dzariyah (21):56)

Seperti kita ketahui kiblat pertama umat Islam adalah menghadap Masjidil Aqsho. Perintah pemindahan kiblat ke arah Ka’bah di Masjidil Haram di Mekah untuk menguji ketaatan sekaligus untuk membedakan dari umat Yahudi dan Nasrani yang memang berkiblat ke Masjidil Aqsho. Ka’bah bukan tujuan apalagi untuk disembah sebagaimana yang sering dituduhkan orang-orang kafir. Apa yang dikatakan Umar bin Khattab ra di hadapan Hajar Aswad yang terletak di salah satu sisi Ka’bah adalah bentuk ketaatan sekaligus ketauhidan yang harus kita contoh.

“Demi Allah aku akan benar-benar menciumnya dan aku sungguh tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu. Sungguh, kau tak bisa mendatangkan marabahaya dan tak bisa memberikan keuntungan. Sandainya aku tak pernah melihat Rasulullah mencium kamu tentu aku tak akan mencium.” 

Ketaatan dasar dalam bentuk perbuatan yang wajib dikerjakan umat Islam adalah mendirikan shalat wajib 5x sehari sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Namun jangn lupa Allah swt juga mewajibkan umat yahudi dn nasrani untuk shalat, rukuk dan sujud sebagaimana umat Islam. Walaupun Al-Quran tidak menrangkan persisnya bagaimana. Dan itu tidak penting bagi kita. Yang pasti ternyata Allah melaknat mrk. Tidak sedikit ayat2 quran menerangkn hal tsb diantaranya yg sering kita baca adalah ayat 6 Alfatihah. Pelajaran bagi kita agar kita mampu mengambil hikmah kesalahan mereka. Jangn sampai kita malah mengulang kesalahan tersebut.  

“Katakanlah, maukah kalian kuberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Terjemah QS.Al-Kahfi (18):103-104).

Shalat yang merupakan tiang agama itu sebenarnya bukan sekedar bentuk ketaatan kepda-Nya, namun juga latihan kedisiplinan. Shalat berjamaah ke arah yang sama yaitu Ka’bah adalah lambang persatuan. Sementara wudhu/thoharoh,  gerakan, bacaan dan waktu shalat memiliki cara dan urutan yang tertentu, tidak boleh sesukanya. Maka sudah sewajarnya shalat yang benar akan membuahkan ahlak yang baik. Dalam ayat 1-11 surat Al-Mukminun diterangkan kriteria ahlak seorang yang Mukmin.

Artinya shalat memiliki filosofi yang dalam yaitu hidup harus dinamis, semangat dengan ilmu yang benar dalam segala bidang, tidak boleh mudah menyerah dan putus asa. Bukankah hidup adalah ujian sebagaimana dijelaskan di atas. Umat Islam wajib bersatu agar dapat memenangkan lomba. Jangan pernah menunda amal baik.Umat Islam harus punya skala prioritas amal.

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”(HR Muslim).

Sementara ayat 4-8 surat Al-Maaun menjelaskan tentang shalat yang lalai. Diantaranya yaitu riya. Riya adalah amal ibadah yang dikerjakan untuk dilihat orang lain bukan karena ketaatan kepada-Nya, Sebaliknya Allh jg menegaskn bahwa kita adalah umat terbaik. Mak dengan berbekal modal itu semua seharusnya kita, umat Muslim dapat memenangkn lomba ini dan memasuki surga Firdaus yang dijanjikan bagi sang pemenang.

Hikmah Sibaq:

1. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan dan tugas.

2. Effektif dalam waktu. Usia biologis harus melampaui usia manfaat. Bisa jadi usia biologis seseorang pendek namun tabungan pahalanya melebihi usianya. Contohnya, ganjaran malam Lailatul qadar yang 1000 bulan atau 86 tahun, shalat jamaah 27x ganjaran, shalat 2 rakaat sebelum Subuh dll.

3. Meminimalisir godaan syetan. Dengan banyak berbuat baik ruang keburukan menjadi berkurang.

4. Terwujudnya self control dan integritas yang tinggi.

“Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat.” (Ali bin Abi Thalib ra).

“Siapa yang hidup untuk orang lain  maka akan hidup sebagai orang besar. Dan siapa yang hidup untuk diri sendiri maka akan hidup sebagai orang kecil”. (Sayyid Qutb).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Februari 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Devide et Impera Gaya Baru

Devide et Impera adalah kosa kata bahasa Spanyol (atau Prancis ??)yang dalam bahasa Indonesia biasa diartikan dengan pecah belah atau adu domba. Devide berarti memecah belah, et berarti dan, impera berarti menguasai.

Devide et Impera digunakan untuk menunjuk sebuah strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis sejak abad 15. Bangsa-bangsa Eropa tersebut melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam, terutama di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia.

Caranya yaitu dengan menimbulkan perpecahan di wilayah yang dituju hingga mudah untuk dikuasai dan ditaklukkan. Atau dengan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat hingga berpotensi mengadakan perlawanan. Dengan cara inilah Belanda berhasil menguasai negara kita tercinta. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang luas, komunikasi dan transportasi antar pulau yang sulit, terpaksa takluk tak berkutik.

Hanya atas izin Allah swt, dengan memanfaatkan momen kalahnya Jepang pada PD II, perjuangan panjang para pejuang akhirnyapun membuahkan hasil. Pada 17 Agustus 1945, di rumah Faradj Martak, seorang pengusaha Arab Indonesia kelahiran Yaman, Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan. Di pekarangan rumah jalan Pegangsaan Timur ( sekarang jalan Proklamasi) no 56 Jakarta Pusat yang  kemudian dihibahkan kepada pemerintah Indonesia tersebut itulah berkibarlah bendera Merah Putih untuk pertama kalinya. Rumah tersebut sekarang telah berubah menjadi Gedung Perintis Kemerdekaan.

Kini kita telah merdeka, lepas dari penjajahan. 75 tahun berlalu sudah, namun benarkah kita bisa benar-benar lepas dari strategi pecah belah tersebut?? Strategi yang seiring dengan berjalannya waktu telah mengalami perkembangan. Pecah belah tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun telah menjadi strategi politik, yang menggabungkannya dengan strategi militer , ekonomi dan budaya.

Tak dapat dipungkiri penduduk Indonesia beberapa tahun belakangan ini dalam keadaan terpecah, yaitu sejak adanya kasus Al-Maidah.  Kasus Al-Maidah adalah kasus yang disebabkan pernyataan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) yang ketika itu menjabat sebagai gubernur DKI, bahwa orang Indonesia tidak boleh dibohongi oleh orang-orang yang menggunakan surah Al-Ma’idah ayat 51 supaya tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin mereka. Pernyataan kontrovesial ini terjadi pada tahun 2016 di kepulauan pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di hadapan pada para nelayan dan penduduk lokal lainnya.  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

Kasus tersebut tentu saja memicu kemarahan kaum Muslimin yang merupakan mayoritas penduduk. Maka terjadilah demo yang melibatkan jutaan orang, menjadikannya demo terbesar yang pernah terjadi di seantero dunia. Demo yang kemudian dikenal dengan nama Aksi Damai 4 November (411) dan Aksi Damai 2 Desember (212) ini diikuti tidak saja umat Islam namun juga mereka yang merasa bahwa pernyataan tersebut sangat tidak pantas, dan berpotensi memecah persatuan. Aksi Damai yang selanjutnya diperingati tiap 2 Desember sebagai Reuni 2012 ini menuntut penahanan Ahok atas tuduhan menista dan menghujat Al-Qur’an.

Ahok memang akhirnya menjalani vonis penjara namun dampak dari pernyataannya ternyata masih terus bergaung bahkan lebih hebat lagi. Penduduk Indonesia hingga saat ini bisa dibilang terpecah menjadi 2 kelompok. Perseteruan antara pemilih Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 seolah mencerminkan antara pembela dan penentang Ahok. Lebih parah lagi pembela Ahok diposisikan sebagai Pancasilais, cinta NKRI dll. Sebaliknya penentang Ahok adalah kaum Muslimin pro kekhalifahan pemecah NKRI yang ingin men-Suriah-kan Indonesia.  Ada apakah gerangan???

Isu ini terus digodog dengan berbagai cara hingga makin lama makin terkuak bahwa sejatinya Islamlah sasaran tembak. Namun yang lebih menyedihkan lagi banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya.

Tengoklah berbagai prilaku dan pernyataan yang memojokkan Islam. Contohnya ditangkapinya sejumlah ulama oleh petugas khusus yang menangani masalah terorisme hanya karena alasan pernah di Afganistan, pernah memberi bantuan ke Suriah dll.  Pernyataan jangan merasa bahwa agama hanya Islam yang benar, berdoa tidak perlu harus bahasa Arab, berbusana tidak perlu meniru bangsa Arab dll. Bahkan dimunculkan pula Islam Nusantara sebagai Islam yang sesuai dengan orang Indonesia. Inilah Devide et Impera gaya baru yang harus kita waspadai. Siapa sebenarnya yang paling diuntungkan bila kita berpecah belah???  

Saat ini umat Islam di seluruh penjuru dunia memang sedang dalam keadaan terpuruk. Cahaya Islam nyaris tidak menampakkan semburatnya. Budaya Barat mulai dari cara pergaulan, cara berpakaian hingga sistim ekonomi yang jauh dari syariah telah merasuki kehidupan sebagian besar kaum Muslimin dimanapun berada. Belum lagi isu teroris yang terus dihembuskan musuh-musuh Islam. Membuat kaum Muslimin makin tidak percaya diri. Lupa, bahwa delapan abad lamanya Islam pernah menguasai dunia, menjadi negara super power layaknya AS saat ini.

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):109).

Thomas W. Arnold (1864-1930), seorang orientalis berkebangsaan Inggris dalam bukunya “The Preaching of Islam” mengungkapkan bahwa satu di antara faktor suksesnya Islam adalah ketinggian moral umat Islam dibandingkan dengan umat Kristen. Disamping juga kemakmuran rakyatnya. Hingga rakyat Italiapun ingin menjadi bagian dari Turki Ustmani melihat tetangga mereka, Yunani, menjadi makmur dibawah kekhalifahan Islam tersebut. Bahkan perseteruan antara sesama umat Kristen yang sebelum sering terjadi, menjadi sangat berkurang. Ini membuktikan betapa toleransinya umat Islam.

Bukan rahasia lagi bahwa salah satu kunci utama kejayaan Islam adalah kuatnya persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Hal ini diketahui musuh-musuh Islam. Tak heran bila akhirnya musuh-musuh Islam menggunakan politik Devide et Impera untuk menjatuhkan Islam. Diantaranya yaitu dengan cara menggunakan isu kebangsaan, persamaan hak, demokrasi, HAM dll.  

Ditambah lagi dengan adanya peristiwa 911 yang menyudutkan umat Islam hingga melahirkan Islamophobia akut, tidak hanya bagi orang lain tapi terlebih lagi sebagian umat Islam sendiri. Padahal tidak sedikit orang Barat yang justru memeluk Islam setelah tragedy mengerikan tersebut karena rasa penasaran.    

Pertanyaannya sampai kapan kaum Muslimin mau terus diperlakukan seperti ini?? Tidak dapatkah kita bersatu menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan Islam seperti di masa kejayaan Islam? Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah, Islam yang kaffah yaitu yang tidak memilih-milah ayat sesuai hawa nafsu dan keinginan, Islam yang benar-benar rahmatan lillalamin, Islam yang penuh kedamaian, yang tidak hanya milik kaum Muslimin namun juga pemeluk agama lain yang menginginkan hal yang sama, dan juga seluruh isi dunia ini, termasuk binatang, tumbuhan dan alam ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Terjemah QS. Al-Hujurat(49):13).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Desember 2021.

Vien AM. 

Read Full Post »

Berita mengenai keberhasilan Taliban menguasai kembali Afganistan pada pertengahan Agustus lalu hingga hari (26/6/2021) ini masih menjadi berita hangat. Sebelumnya yaitu pada periode 1996 – 2001 Taliban pernah memegang kekuasaan di Afganistan setelah akhirnya digulingkan Amerika Serikat dengan dalih Taliban tidak mau menyerahkan Osama bin Laden yang dituduh sebagai pelaku peledakan gedung WTC pada peristiwa 911.

Kantor-kantor berita resmi mainstream juga dengan gencar memberitakan potensi terjadinya perang saudara paska berkuasanya kembali Taliban. Yang dimaksud perang saudara tersebut adalah antara pendukung rezim lama yaitu presiden Ashraf Ghani, dan pendukung pejuang Taliban. Padahal jauh sebelum itupun perang saudara sudah sering sekali terjadi. Dan pemicu utamanya sebenarnya terlalu banyaknya campur tangan asing. Diantaranya adalah Amerika Serikat, Inggris dan Rusia.

Dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring pada Sabtu (21/8), Yusuf Kalla (JK) mantan wakil presiden RI yang juga ketua Dewan Masjid Indonesia  menyatakan bahwa perang yang terjadi di Afghanistan sebenarnya iadalah antara Taliban dengan Amerika Serikat (AS).

Jadi sebenarnya ini dari tiga kelompok : Amerika, pemerintah Presiden Ghani dan Taliban. Ada tiga pihak sebenarnya berada dalam situasi perang. Tapi perang sebenarnya adalah Taliban dengan Amerika,” kata JK saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring, Sabtu (21/8).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210821155925-20-683438/jusuf-kalla-perang-sebenarnya-adalah-taliban-dengan-as

Sejarah Singkat Afganistan.

Afghanistan adalah negara yang terletak diantara  Asia Selatan dan Asia Tengah, terkurung tanpa memiliki akses ke laut. Wilayahnya meliputi 652.000 km², menjadikannya negara terbesar ke-41 di dunia. Dengan penduduk sekitar 32 juta, mendudukannya sebagai negara ke 42  padat penduduk di dunia. Negara ini berbatasan dengan Pakistan di selatan dan timur, Iran di barat, Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan di utara, serta Tiongkok di timur laut. Lokasinya yang strategis di sisi sepanjang jalur sutra menghubungkannya dengan budaya Timur Tengah dan Asia bagian lain.

John Ford Shroder dalam Afghanistan Archived menyebutkan, para arkeolog telah menemukan tempat tinggal manusia di Afghanistan kuno sejak sekitar 50 ribu sebelum Masehi (SM). Dari artefak yang ada diketahui bahwa masyarakat adat berprofesi sebagai petani dan para gembala. Mereka mengelompokkan diri menjadi suku dan membentuk kerajaan kecil selama berabad-abad. Sementara peradaban perkotaan yang mencakup modern Afghanistan, India Utara, dan Pakistan dimulai pada 3000-2000 SM.

Afghanistan yang merupakan bagian dari Khurasan Raya menjadi rebutan banyak kekuatan politik maupun militer. Secara bergantian wilayah ini dikuasai sejumlah dinasti dan kerajaan besar. Tercatat Aleksander Agung dari Macedonia, bangsa Maurya, Arab Muslim, Mongolia hingga dunia Barat seperti Inggris dan Rusia di era modern, pernah menguasai Afghanistan. Sebagian besar wilayah Afghanistan baru masuk wilayah Islam pada tahun 882 M, sekitar 150 tahun paska penaklukan Persia dibawah pimpinan panglima Khalid bin Walid di masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada 633 M. Khurasan sendiri sudah pernah disebutkan Rasulullah dalam banyak hadist tentang akhir zaman.

Negara dengan wilayah pegunungan dan gurun yang sulit dilalui ini sebelum menjadi bagian dari dinasti Safawiyah yang berdiri pada tahun 1500-an adalah bagian dari kerajaan Parsi Islam. Pada puncak kejayaan dinasti Safawiah meliputi Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian besar Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, dan sebagian Pakistan, Turkmenistan dan Turki. Dinasti Safawiyah yang menjadikan Syiah sebagai agama resmi pemerintah adalah cikal bakal Iran modern.

Kesultanan Afganistan.

Afganistan yang mayoritas Islam Sunni, memiliki banyak etnis, budaya dan bahasa ini baru lepas dari dinasti Safawiyah pada tahun 1709. Mirwais Hotak, dari etnis Pashtun, etnis terbesar di Afganistan, yang memimpin negara tersebut keluar dari wilayah kekuasaan Safawiyah hingga akhirnya berdirilah dinasti Hotak dengan Kandahar sebagai ibu kotanya. Dari kata Pashtun ini lahir nama Afghanistan sebagai negara kerajaan.

Dinasti Hotak tidak berlangsung lama. Pada tahun 1747 dinasti Durrani menggantikan dinasti Hotak dan selanjutnya dianggap sebagai pendiri dari negara Afghanistan modern. Pada masa itulah ibu kota dipindahkan ke Kabul hingga saat ini. Dinast atau kekaisaran Durrani juga sering disebut kekaisaran Afgan atau kesultanan Afghan yaitu kerajaan Islam Afghanistan.

Pada akhir abad 19 kekaisaran Rusia ( Uni Sovyet) dan kerajaan Inggris sebagai negara supremasi terlibat perseteruan ketat memperebutkan kekuasaan di wilayah Asia Tengah dan selatan. Selama tiga kali, yaitu pada 1839-1919, Inggris berusaha menginvasi Afghanistan, karena khawatir didahului Rusia.  

Invasi Inggris ke Afganistan.

Pada serangan pertama, selama tiga tahun (1839-1841) pasukan Inggris memang berhasil merebut Afganistan. Tapi setelah itu negara adi daya yang ketika itu dikenal memilki persenjataan terbesar dan terkuat di dunia tersebut harus menanggung malu. Ia dikalahkan oleh suku-suku Afghan yang hanya bermodalkan persenjataan amat sangat sederhana. Rakyat Afgan berhasil mengusir pasukan Inggris dari ibu kota Kabul.

Nyaris empat dekade kemudian, Inggris mencoba lagi menguasai Afganistan. Perang yang terjadi pada 1878-1880 tersebut berakhir dengan masuknya Afghanistan menjadi protektorat Inggris. Meski akhirnya Inggris memilih untuk mendukung emir Afghan yang baru dan menarik pasukan dari negara tersebut.

Namun pada 1919, Perang Anglo-Afghan pecah kembali, yaitu saat emir Amanullah Khan mendeklarasikan kemerdekaan dari Inggris. Pada saat yang sama ancaman Rusia terhadap Inggris memudar, ditambah lagi Perang Dunia I telah menguras dana perang Inggris. Maka setelah empat bulan berperang, Inggris akhirnya menyerah dan secara resmi mengakui kemerdekaan Afghanistan.

Masa Keemasan Kesultanan Afganistan.

Tahun berikutnya yaitu pada 1920 emir Amanullah Khan mencoba mereformasi Afghanistan, salah satu upayanya yaitu menghapuskan kewajiban burqa bagi kaum perempuan. Tetapi hal tersebut mendapatkan perlawanan dari para kepala suku dan tokoh ulama, yang kemudian memicu terjadinya perang sipil berkepanjangan. Hingga akhirnya terjadi kudeta.

Afganistan mengalami masa damai dibawah pemerintahan Zahir Syah yang berkuasa selama empat puluh tahun, yaitu pada tahun 1933 -1973. Pemerintah Afganistan memberinya gelar kerajaan “He who puts his trust in God, follower of the firm religion of Islam” (“Dia yang menaruh kepercayaannya kepada Tuhan, pengikut agama Islam yang teguh”) pada hari penobatannya sebagai raja/syah/sultan. Ketika itu ia baru berusia 19 tahun.

Zahir Shah membuktikan keseriusannya dalam menegakkan persaudaraan sesama Muslim yang memang merupakan salah satu tonggak Islam dengan memberikan bantuan persenjataan, dan pejuang Afghanistan kepada Muslim Uighur dan Kirghiz yang telah mendirikan Republik Turkestan Timur Pertama. Meski republik tersebut hanya bertahan selama 1 tahun sebelum akhirnya kembali menjadi wilayah Republik Cina yang menganut faham komunis.

Namun demikian sebenarnya Zahir baru efektif memegang pucuk pemerintah 20 tahun setelah diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang terbunuh. Ia menyerahkan urusan pemerintahan pada pamannya. Baru pada tahun 1964 sang raja mengumumkan konstitusi baru. Ia membuat program modernisasi politik dan ekonomi, membuat legislasi demokratis, dan pendidikan untuk kaum perempuan.

Selama pemerintahannya Afganistan mengeluarkan setidaknya 5 keping receh bertuliskan “Al-Mutawakkil ‘ala Allah Muhammad Zahir Shah” dalam tulisan Arab yang berarti “Yang Tawakal/Berserah Diri pada Allah, Muhammad Zahir Shah”.

Namun Afganistan dibawah Zahir Syah juga menjalin hubungan yang baik dengan dunia Barat. Terbukti dengan masuknya sebagai anggota PBB meski menolak memihak dalam Perang Dunia II. Menjadikannya satu dari sedikit negara di dunia yang memilih netral. Dalam sebuah wawancara Zahir Shah mengatakan bahwa ia bukan seorang kapitalis tapi juga tidak menginginkan sosialis. Ia menyatakan tidak ingin menjadi budak negara manapun dan akhirnya menjadi tergantung.

Walaupun paska berakhirnya Perang Dunia II ia menyadari perlunya modernisasi Afghanistan. Untuk itu ia terpaksa merekrut sejumlah penasihat asing, juga meminta bantuan keuangan baik dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Membuatnya menjadi satu dari sedikit negara yang menerima bantuan dari kedua musuh dalam Perang Dingin. Selama periode itu pula universitas modern pertama Afghanistan didirikan.  

Ironisnya pada tahun 1973 ketika sang Syah pergi ke Italia untuk berobat Mohammed Daoud Khan, sepupunya melakukan kudeta.  Perang sipilpun tak terhindarkan hingga sebagian besar Afganistanpun luluh lantak. Zhahir Syah selanjutnya hidup di pengungsian di Roma Italia bersama istri dan sejumlah keluarga besarnya. Zahir baru kembali ke negaranya pada tahun 2002 dan mendapat gelar Bapak Bangsa. Ia wafat pada tahun 2007.

( Bersambung).

Read Full Post »

Gagal Faham.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):155).

Ayat di atas menerangkan bahwa ketakutan, kelaparan dan kemiskinan adalah cobaan atau ujian dari-Nya.  Termasuk di dalamnya virus Covid-19, pandemi yang sudah memasuki tahun ke 2 ini.

Seperti juga layaknya suatu ujian yang pasti pernah dialami semua orang, ntah itu ujian memasuki jenjang pendidikan, seperti test masuk sekolah , ujian kenaikan tingkat, ataupun ujian kepegawaian atau ujian-ujian lain, tak jarang seseorang mengalami kegagalan.

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika kegagalan bukan disebabkan kita salah, melainkan akibat gagal memahami maksud pertanyaan. Gagal faham atau galfok alias gagal fokus, istilah anak muda zaman Now. Misalnya ketika kita diminta menerangkan sesuatu lalu dengan penuh keyakinan kita menjawabnya dengan tulisan panjang lebar yang ternyata tidak sesuai pertanyaan. Yang lebih celakanya lagi kita baru menyadari kesalahan tersebut begitu kita menyerahkan lembar jawaban. Sungguh menyesakkan bukan ???       

Begitupun ujian Covid-19. Supaya tidak gagal faham, sebagai orang beriman kita harus memahami apa yang diinginkan Sang Pencipta dengan ujian tersebut.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Terjemah QS.Al-Anfal(8):28).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Terjemah QS.Al-Anbiya (21):35

Dari ayat-ayat di atas dapat kita ketahui bahwa :

1. Ujian dibuat sebaga seleksi masuk surga.

2. Orang-orang terdahulu juga mengalami ujian dan cobaan.

3. Ujian dan cobaan bisa berupa malapetaka dan kesengsaraan.

3. Bisa juga harta kekayaan dan anak-anak kita.

4. Pertolongan Allah amat dekat.

5. Semua manusia pasti akan mati dan kembali pada Sang Pencipta.

Dengan demikian, artinya semua yang kelihataannya baik dan menyenangkan dalam pandangan kita seperti kekayaan, kesehatan bahkan anak-anak kita, maupun yang tampaknya buruk seperti kemiskinan, kesengsaraan, mala petaka dan berbagai penyakit seperti Covid-19, adalah ujian dan cobaan. Persis seperti ujian berpuasa di bulan Ramadhan, yang tujuannya adalah takwa. Karena hanya orang-orang takwa yang bisa memasuki surga-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Manusia diciptakan sebagai mahluk terbaik dan terpandai di muka bumi ini agar dapat menjadi khalifah/pemimpin, minimal pemimpin bagi keluarga dan dirinya sendiri agar tidak mudah dipengaruhi bisikan syaitan terkutuk. Puncaknya adalah pemimpin yang mampu menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur, dibawah ketundukan kepada Sang Khalik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.       

Covid-19, pandemi yang sedang melanda dunia saat ini sungguh terasa berat. Hampir setiap hari setiap saat kita mendengar kabar kerabat dan handai taulan yang wafat dalam perjuangan melawan virus yang makin mengganas tersebut. Tak tanggung-tanggung dalam 1 keluarga bisa beberapa anggotanya meninggal dalam waktu berdekatan.

Hingga pemerintahpun mengeluarkan peraturan yang membatasi pergerakan kita. Diantaranya tidak ke luar rumah kecuali mendesak, tidak berkumpul banyak orang,  termasuk shalat Jumat. Sungguh menyedihkan. Pertanyaannya murkakah Allah hingga tidak sudi melihat hamba-2nya memasuki rumah-Nya?!? Benarkah ini yang diinginkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala???

Tidak dapat kita pungkiri negeri kita tercinta ini sarat dengan keboborokan. Mulai dari pejabat korup, perzinahan dan mabuk2an yang terus meraja-lela, perempuan-perempuan berlomba memamerkan auratnya, ayat2 suci diabaikan, Al-Quran yang hanya menjadi pajangan, dll.

Salah siapakah ini?? Bukankah Islam mengajarkan untuk saling menasehati, saling mengingatkan. Tak pelak, ini adalah kesalahan bersama yang akibatnyapun harus ditanggung bersama pula.

Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia  tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’

Sungguh disayangkan tapi apa mau dikata. Padahal negara kita termasuk relative aman damai dibanding dengan negara-negara Timur Tengah seperti Palestina dan Suriah yang hampir setiap hari terjadi ledakan bom. Mengapa kita tidak mensyukurinya, syukur dengan cara yang benar. Yaitu memperbaiki ibadah dan hubungan dengan-Nya.        

Mengapa Allah Azza Wa Jala turunkan pandemi ini baru kita mau bertobat?? Kematian adalah hak prerogative Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dapat ditawar-tawar, yang tidak dapat dihindari kemanapun kita bersembunyi. Yang penting dalam keadaan bagaimana kita wafat.Sementara bagi keluarga yang ditinggalkan, tidak boleh merasa kecewa apalagi marah. Ini adalah ketetapan-Nya. Sebaliknya ketika seseorang sembuh dari Covid, atau bahkan sehat terhindar dari virus tersebut, tidak sepatutnya merasa “jumawa”. Seharusnya ia lebih bersyukur lagi karena Allah telah memberinya kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki amal ibadah, bukannya malah melanjutkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.  

Begitupun dengan yang sudah melakukan vaksinasi. Jangan  takabur bahwa Covid tidak akan menyentuhnya. Jangan pernah lupa, tanpa izin-Nya, vaksin, obat-obatan, prokes dll tidak akan menyelamatkannya dari bencana. Manusia hanya bisa ikhtiar yang memang merupakan bagian dari ibadah. Termasuk berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, yang isinya mencerminkan bahwa keselamatan dalam ber-agama adalah no 1, baru setelah itu kesehatan dll. Doa tersebut juga berisi permohonan agar dimudahkan ketika sakratul maut.

Akhir kata, jangan sampai kita gagal paham terhadap ujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti halnya dalam ujian-ujian keduniawian kita. Karena akibatnya benar-benar fatal. Kalo saja kita bisa melihat catatan malaikat tentang hasil ujian Covid yang pasti berbeda jauh dengan catatan WHO yang hanya mencatat korban wafat, korban terinfeksi, persentase yang sudah di vaksin dll ….           

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Adalah kodrat manusia, perempuan tertarik kepada lelaki, dan lelaki tergoda kepada  perempuan. Yang tidak normal, di luar kodrat bahkan haram dalam pandangan Islam adalah tertarik ( secara hubungan seksual) dengan sesama jenis. Namun demikian ketertarikan dua jenis kelamin berbeda tersebut harus dikendalikan, diatur sesuai kehendak Sang Khalik, tidak diumbar dan dibiarkan lepas begitu saja tanpa kendali. Itulah perbedaannya dengan binatang.

Rasulullah saw bersabda, ”Pernikahan adalah sunnah-ku, karena itu barangsiapa yang tiada menyukainya maka ia bukan termasuk umatku .”

Sunnah terbagi atas dua jenis sebagaimana sabda Rasulullah: ”Sunnah itu ada dua macam : (1) sunnah yang merupakan suatu kewajiban, yang jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Dan (2) sunnah yang bukan kewajiban, yang bilamana dikerjakan niscaya mendapat pahala (keutamaan) dan jika ditinggalkan bukan merupakan suatu kesalahan.”

Pernikahan dalam Islam hukumnya adalah sunnah yang termasuk dalam sunnah kelompok pertama, yaitu jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Artinya, Allah swt mengganjar hambanya yang mau menikah bukan saja dengan pahala yang banyak namun lebih utama lagi beroleh petunjuk. Karena menikah  dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan zina yang sangat dilaknati dan dimurkai-Nya.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, ……” ( Terjemah QS. Al Furqon(25): 68-70).

Zina bukan hanya melakukan persetubuhan antar pasangan yang bukan muhrim, tapi juga termasuk perbuatan-perbuatan yang membangkitkan syahwat.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Terjemah QS. Al Isro’(17): 32).

Hukuman perbuatan zina amatlah berat karena zina merampas kehormatan dan merusak nasab. Padahal ajaran Islam itu menjaga kehormatan jiwa, agama, nasab, akal dan harta. Bahkan seluruh agama menyatakan bahwa zina itu terlarang, tidak ada satu pun agama yang menyatakan halal.

Ironis bagi rata-rata orang Barat ( non Islam ) zina adalah hal biasa, bukan perbuatan buruk. Menurut mereka zina adalah kebutuhan dan kesenangan manusia yang harus tersalurkan seperti juga kebutuhan makan dan minum. Setidaknya itulah pemikiran yang dipopulerkan Sigmund Freud pada awal abad 20. Freud adalah seorang Yahudi asal Austria yang dikenal sebagai bapak teori Psikoanalisis. Freud seperti juga temannya sesama ahli psikologi kenamaan Friedrick Nietzsche adalah penganut Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan. “ Tuhan telah mati” itu yang mereka katakan.

Namun demikian, hukum pernikahan dalam Islam tidaklah bersifat kaku dan mengikat sehingga dapat menyulitkan para hamba-Nya.  Karena pada dasarnya Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia. Karenanya bila ada sebagian kecil manusia yang disebabkan satu dan lain hal merasa tidak sanggup menikah, hal ini masih dapat dibenarkan.

Contohnya adalah  orang  yang sakit  parah dan  laki-laki impoten. Sebagian ulama bahkan berpendapat haram hukumnya. Sebab hal ini dapat mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan ketidak-bahagiaan sepihak. Itu sebabnya Islam tidak mengharamkan perceraian bila memang benar-benar tidak dapat dihindarkan. Misalnya ketidak-cocokan yang mengakibatkan pertengkaran yang berkepanjangan hingga membuat anak menjadi korban ketakutan, suami yang tidak menafkahi keluarga hingga waktu tertentu. dll.

Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai.

Abu Yusuf berkata, “Ketahuilah –barakallahu fikum– bahwa asal hukum cerai adalah makruh dan terlarang, namun bisa berubah pada hukum lainnya. Hal ini sangat tergantung pada kondisi rumah tangga tersebut, bisa menjadi haram, boleh, sunah bahkan wajib.“.

Perceraian menjadi wajib hukumnya ketika salah satu pasangan murtad.

Namun demikian pernikahan dalan Islam bukan hanya sekedar untuk  menghindarkan zina, melainkan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah wa rahmah. Yaitu keluarga yang tenang, terhormat, aman, penuh cinta dan kasih sayang, saling menjaga dan melindungi, dibawah naungan ridho Allah Azza wa Jala. Hingga dengan demikian hubungan seksual yang dilakukan sepasang suami istri akan mendatangkan kenikmatan, kesenangan serta kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan semu dan sesaat apalagi sekedar pelepasan nafsu birahi.

Tanda keluarga yang demikian terlihat dengan antara lain adanya kesetiaan dari masing-masing pasangan, anak-anak yang berbakti kepada kedua orang-tuanya serta lingkungan sosial yang sehat serta rizki yang dekat.

Itu sebabnya pernikahan memerlukan saksi agar dapat ditrima masyarakat sekitar. Karena sejatinya keluarga adalah bagian atau kelompok terkecil dari sebuah masyarakat. Masyarakat yang akan dapat saling melindungi dan mengingatkan. Dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur inilah, Islam mengajarkan agar perempuan dan laki-laki yang telah cukup umur segera melangsungkan pernikahan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemah QS.Ar-Rum(30):21).

Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”.

Namun dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah sebuah perencanaan masa depan berjangka panjang.  Maka diperlukan kesiapan dalam banyak hal, diantaranya dalam memilih calon pasangan. Diperlukan pula tanggung jawab tinggi agar pernikahan dapat berjalan lancar sesuai apa yang di kehendaki-Nya.

Akhir kata, pernikahan, perceraian dan segala tindakan dalam hidup ini harus berlandaskan ketaatan pada-Nya.

Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juni 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »