Feeds:
Posts
Comments

Pada suatu hari Minggu, kami pergi mengunjungi Pay Basque. Provinsi di ujung Barat Daya Perancis yang berbatasan dengan Spanyol dan teluk Gasconi di Samudra Atlantik ini  ini terbagi menjadi 2, bagian utara milik Perancis dan bagian selatan dibawah kekuasaan Spanyol. Hendaye (Pay Basque Perancis ) dan Irrun ( Pay Basque Spanyol ) adalah dua kota  berdampingan yang menjadi batas  negara antara keduanya. Di Pay Basque yang dikuasai Spanyol sejak lama telah sering terjadi pembrontakan. Mereka  ingin lepas dari kekuasaan pusat karena merasa berbeda dalam segala hal, baik budaya maupun bahasanya.  Bahkan hanya dua hari setelah tulisan ini dibuat, sebuah bom kembali meledak di wilayah tersebut.

Tujuan pertama kami hari ini adalah La Rhune, puncak gunung terendah Pyrene ( 907 M). Jarak Pau dengan tempat ini tidak lebih dari 2 jam dengan kecepatan mobil rata-rata 120 km/jam.  Pemandangan disini  sungguh menakjubkan, saking dekatnya, laut dan pegunungannya seperti tak berjarak, . Pada musim dingin pegunungan yang dikenal dengan nama Pyrene ini menjadi tujuan kedua pecinta  olah raga ski dunia setelah Alpen. Pegunungan Pyrene terdiri lebih dari 30 puncak gunung. Sebagian diantaranya memiliki ketinggian diatas 3000 m.

puncak La RhuneUntuk mencapai La Rhune, dari St Jean De Luz kami menumpang ‘petit train’, kereta api mini yang dirancang khusus untuk para turis yang ingin mengunjungi gunung tersebut. Tak sampai 30 menit kemudian kami telah sampai di puncak gunung. Dari ketinggian ini kita dapat melihat perbatasan Perancis – Spanyol dengan sangat jelas. Dari sini bila mau, kita dapat turun dengan berjalan kaki selama 2 jam sambil menghirup udara segar pegunungan.

Setelah puas menikmati keindahan panoramanya kamipun turun dengan menumpang kereta yang sama yang siap melayani wisatawan setiap 30 menit sekali. Selanjutnya kami  menyusuri  ’ La Corniche ’ , jalan yang menghubungkan kota-kota di sepanjang pantai teluk Gasconi dari St Jean De Luz hingga Hendaye. Pay Basque ditambah dengan kecantikan bangunan kayunya yang khas gaya Basque rupanya hampir setiap waktu ramai dikunjunjungi wisatawan manca Negara. Kota-kota yang kami lewati, sekalipun kota kecil, tampak teratur dan tidak semrawut walaupun  kemacetan terjadi di sana sini. Tampak jelas  bahwa ekonomi negri ini telah merata hingga ke seluruh pelosok. Dua abad terakhir ini  Perancis atau Eropa secara umum memang telah jauh meninggalkan tehnologi dan peradaban Islam.

Namun dilihat dari segi peradaban, kesan tersebut segera hilang begitu kami  memasuki  pantai. Di tempat ini makhluk perempuan yang dalam pandangan Islam sangat dihormati, dengan teganya telah mempermalukan dan merendahkan diri mereka sendiri. Tidak cukup hanya dalam  bikininya, diantara mereka ini bahkan dengan santainya berjalan-jalan di tepi pantai  tanpa penutup dada !  Astaghfirulah…dalam hati saya berpikir apa bedanya mahluk terhormat yang diciptakan-Nya dengan sempurna ini dengan  (ups.. maaf.. ) anjing yang mereka bawa?? Bahkan binatang kesayangan peliharaan rata-rata orang Perancis ini  saja di beberapa tempat diharuskan memakai  penutup….

Menjelang sore, di sebuah kota kecil kami mencari restoran untuk makan siang. Namun mungkin karena sudah lewat waktu makan, hanya sedikit resto yang masih buka. Disamping itu banyak resto dan juga toko yang memang tutup dari jam 14.00 hingga jam 16.00. Karena tidak banyak pilihan, kamipun masuk ke salah satu resto terdekat yang masih buka. Setelah memperhatikan menu, sekilas saya bertanya apakah menu ayam yang tersedia tidak bercampur dengan babi. Dengan spontan sang pelayan yang asli bule Perancis itu segera  menjawab tentu saja tidak. Diluar dugaan ia malah menambahkan  bahwa restonya menyediakan menu  kebab yang pastinya halal.  Jadilah kami memesan 2 kebab  dan 2 menu sosis ayam . Namun ia segera menyela bahwa ia tidak yakin sosisnya tidak dicampur dengan daging babi. Terpaksa kamipun membatalkan pesanan sosis. Menu sosis diganti salad dengan ikan salmon untuk suami. Sementara saya sendiri kehilangan nafsu makan, jadi saya tidak memesan apapun.

Namun baru beberapa detik kami bernafas lega, anak muda tadi muncul lagi  di hadapan kami. Kali ini dengan raut wajah menyesal  ia berkata bahwa menurut bossnya isi kebab memang halal namun agar empuk rotinya diolah dengan bantuan minyak babi sebagai emulsi! Inna lillahi …..yaaahhh apa boleh buat, kebabpun batal. Akhirnya anak-anak terpaksa memesan baguette, roti panjang khas Perancis,namun  isinya tetap  daging kebab… Alhamdulillah bisa makan.

Namun yang membuat kami terheran-heran sekaligus kagum adalah sikap si pelayan tadi.  Dengan  besar hati dan sabar, tanpa takut kehilangan pelanggan, ia mau memberi tahu hal  yang sebenarnya. Disini terlihat bahwa ia sangat menghargai tamunya yang dalam hal ini tidak mengkonsumsi daging babi. Ia bahkan tahu mana yang halal dan haram bagi kami. Hal yang sangat patut untuk  dicontoh.  Kami angkat  topi untuknya.

Biarritz dari balik batu karang pantai
Biarritz dari balik batu karang pantai

Menjelang  pukul 6 sore kami tiba di Biarritz. Ini adalah kunjungan ke dua kami ke kota pantai tersebut. Sejak kunjungan pertama 6 tahun yang lalu, anak-anak sudah meng- ‘claim’ bahwa kota ini adalah kota favorit mereka. Belakangan kami baru tahu ternyata Biarritz adalah termasuk salah satu kota favorit dunia yang sering menjadi tuan rumah kejuaraan surfing dunia.

Sebelum turun, kami terlebih dahulu melaksanakan shalat zuhur dan ashar berjamaah yang diqodho, didahului dengan tayamum. Shalat terpaksa dilaksanakan  di dalam mobil.  ( Ketika itu Zuhur  sekitar pukul 14.00, Ashar  18.00, Magrib 21.50 dan Isya pukul 23.15). Kami memang hampir selalu melakukan shalat seperti ini ketika bepergian karena sulit menemukan Masjid. Untuk saya pribadi, pengalaman ini sungguh memberikan kesan yang sangat mendalam. Walaupun bisa jadi tidak semua orang setuju dengan shalat yang demikian.

Biarritz diantara laut & pegunungan
Biarritz diantara laut & pegunungan

Biarritz harus diakui memang sangat indah. Kota ini terletak  di sebuah teluk yang melengkung dengan latar belakang pegunungan. Hotel-hotel tinggi berdiri  berjejer di sepangjang pantai. Untuk menikmati keindahan pantai kita tidak harus turun dari kendaraan. Namun bila kita ingin menyusurinya dengan berjalan kaki tanpa kaki kita harus menjadi basahpun bisa. Jalan untuk pejalan kaki dibuat naik turun dan berkelok-kelok mengikuti garis pantai.

Di sebuah toko souvenir saya dan anak perempuan saya menyempatkan diri masuk dan melihat-lihat koleksinya . Namun tanpa disengaja anak saya menyenggol sebuah pajangan hingga mengalami sedikit kerusakan. Tanpa berkata sepatah katapun si penjaga segera menghampiri kami dan berusaha memperbaikinya.  Anak saya merasa serba salah. Saya sendiri perlahan-lahan keluar sambil berpikir apa yang sebaiknya kami lakukan. Anak saya juga menyusul keluar.

Tetapi  tak lama kemudian, merasa tidak nyaman, ia masuk lagi dan menanyakan apa yang harus dilakukannya. Dengan sopan si penjaga menjawab : ” Vous pouvez le remboursez ou bien se degager vite”, artinya kira-kira, dibeli atau mending buru-buru kabur aja!  Olala…g enak bener jawabnya… Terpaksa anak saya akhirnya membeli pajangan tersebut walaupun dengan mengomel pelan bahwa mungkin saja barang tersebut sudah rusak sebelum ia menyenggolnya…” Masa’ kesenggol pelan begitu aja udah patah…”, begitu keluhnya…:-(..

Belakangan anak saya bercerita, sambil membungkus barang yang sedikit rusak tadi sipenjual  berkomentar bahwa ibu kamu yang tadi berjilbab kan .? Aduuuh..untung anak saya segera memutuskan membeli barang tersebut, kalau tidak.. mau dikemanakan muka ini…  Yah itulah resikonya, tampaknya tidak ringan mengenakan jilbab, nama Islam adalah taruhannya..Ya Allah semoga Kau berikan aku kekuatan untuk istiqomah, amin.

Sunset di Biarritz
Sunset di Biarritz

Pukul 10 malam, setelah puas menikmati keindahan terbenamnya matahari di pantai, kami meninggalkan Biarritz menuju rumah dengan membawa sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. Alhamdulillahi robbil ’alamin, segala puji hanya bagi –Mu, Ya Allah .. begitu banyak tanda kekuasaan yang Kau berikan dan tunjukkan  kepada manusia..semoga hidayah senantiasa  menyertai para hamba yang pandai mensyukurinya, amin.

Pau- France, Agustus 2009.

Vien AM.

20 Juli 2009 pukul 19.30 WIB, kami berempat telah  berada di dalam sebuah pesawat menuju Paris,  Perancis.  Di dalam pesawat ini kami  melaksanakan shalat magrib dan Isya dengan di-jama’. Wudhu’ terpaksa kami lakukan secara tayamum karena air sangat terbatas. Penerbangan yang membutuhkan  waktu  kurang lebih 17 jam termasuk transit di Singapore ini sebagian besar adalah pada malam hari. Pesawat seakan berjalan di tempat tak mampu ‘ mengejar’ matahari.

Akibatnya kami kesulitan menentukan waktu  subuh. Sebaliknya bila mau kita mempunyai kesempatan yang  sangat banyak untuk bertahajud sembari  duduk menikmati kegelapan  di dalam benda  yang terbang tinggi mengarungi  samudra langit  luas nan gulita dan  sesekali merasakan guncangan  ketika pesawat  harus menembus awan tebal. Sebuah keheningan  menakjubkan  yang membuat diri terasa  teramat kecil  dan tak berarti. Akhirnya  pesawatpun mendarat dengan selamat di Charles de Gaule Airport Paris, Perancis pada pukul 6.20 waktu Paris atau pukul 10.20 WIB. Alhamdulillah.

Beberapa jam kemudian setelah mendapat taxi dan menitipkan  koper di hotel, dengan menumpang metro kami pun tiba di pelataran Arc de Triomphe. Dari sini kami menyusuri Champs Elysee, salah satu  boulevard  paling terkenal di dunia yang setiap  hari selalu dipenuhi turis mancanegara. Kunjungan ke kota Paris kali ini sebenarnya  sebuah napak tilas. Tepat  sembilan  tahun yang lalu, kami berada di tempat ini. Bedanya   ketika itu kami berlima. Saat ini si sulung tidak bisa ikut bergabung karena sibuk dengan  pendaftaran program S2 di UI Jakarta. Dan lagi, dulu ayahnya anak-anak mendapat pos di Paris sedangkan kali  ini di Pau, sebuah kota di dekat perbatasan Perancis-Spanyol di kaki gunung Pyrene,  sekitar 800 km selatan Paris.  Seperti ketika di Paris, kali ini kami juga akan menetap di Pau selama 3 tahun.

Di sebuah kedai  roti yang menyediakan meja kursi di trotoir kami beristirahat sebentar,  menyantap baguette ; roti besar khas Perancis,  sambil menikmati keramaian di sekitarnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Place de La Concorde hingga kelelahan dan kembali ke hotel.

Esok sorenya  setelah mengunjungi  menara Eiffel , gedung pertunjukkan Opera yang cantik, Place de Tokyo; pelataran dimana si tengah dulu sering bermain papan seluncur, Sacre Coeur, gereja tua yang anggun di atas bukit yang merupakan tempat favorit si bungsu, kamipun pergi ke La Defense yang terkenal  dengan Grand  Arche-nya itu. Kami menutup perjalanan napak tilas sore itu dengan mampir ke Neuilly sur Seine, quartier elit dimana Sarkozy, presiden Perancis saat ini, dulu pernah menjadi  walikota. Di daerah inilah dulu kami tinggal.

Saya bersama si bungsu sedang duduk-duduk di taman  ketika seorang laki-laki setengah baya  ikut duduk di bangku di sebelah kami.  Setelah sedikit berbasa-basi, tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan tak terduga. Ia bertanya mengapa saya menutup rambut dan dada saya. Tentu saja dengan senang hati saya jawab bahwa agama saya yang memerintahkannya. Namun kemudian tanggapannya sungguh di luar dugaan. Ia berkata bagaimana mungkin orang zaman sekarang masih juga mempercayai kitab yang ditulis 14 abad yang lalu!  … Haaah?!?..kaget saya dibuatnya..

Apa boleh buat perdebatan ringanpun tak mungkin dihindari. Terus terang bahkan dalam bahasa ibupun bukan hal mudah untuk mempertahankan dan menerangkan  ajaran Islam. Apalagi dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa Perancis. Beruntung suami dan anak lelaki saya  kemudian juga ikut dalam perdebatan tersebut.  Namun ketika akhirnya saya bertanya apakah ia percaya pada kehidupan setelah mati dan jawabannya ‘ Non’, maka kami memutuskan untuk menghentikan perdebatan…Percuma.. Saya katakan  padanya : “ Oh, le pauvre..la  vie  n’est pas si simple , monsieur” ; hidup tidak sesederhana itu. Kemudian kami tinggalkan pria tersebut dalam keadaan tertegun-tegun. Alangkah malangnya, rupanya ia salah seorang diantara banyak orang Perancis yang atheis

Malam harinya, setelah sore itu kami pulang ke hotel dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan, ditemani si tengah suami,  pergi ke kedai kebab milik orang Turki yang terletak tidak berapa jauh dari hotel.  Mengetahui bahwa mereka berdua dari Indonesia dan muslim, mereka disambut dengan anthusias oleh si pemilik kedai. Sambil menunggu kebab siap dibawa pulang, keduanya diperkenalkan kepada para langganan yang sedang makan di tempat tersebut. Suasana akrab  menyelimuti mereka. Setelah berbasa basi mereka menanyakan tentang bom yang baru-baru ini meledak di Jakarta. Percakapan melebar hingga ke pertayaan mengapa Uztad Baasyir tidak juga dibebaskan dan  mengapa pula di Aceh yang katanya menerapkan syariah Islam tapi klub malam masih juga banyak bertebaran. ( ?1??)..apa ya jawabnya…

Percakapan berakhir ketika kebab siap. Si pemilik bermaksud memberikan potongan harga sementara  si pembeli berniat membayar lebih! Ikatan persaudaraan muslim terasa  sekali ditempat yang bermil-mil jauhnya  dari negri sendiri ini. Subhanallah…

Kunjungan ke Paris selama 3 hari tidak terasa usai sudah. Kami harus segera menuju Pau, besok suami sudah harus mulai bekerja kembali. Dengan mengendarai taxi kami menuju airport Orly, Paris. Didalam taxi inilah kami mengobrol dengan si sopir. Mungkin karena  saya memakai jilbab, sopir tersebut tanpa ditanya memperkenalkan dirinya  bahwa ia seorang Muslim. Walaupun ia lahir dan besar di Paris ia mengaku darah Aljazair dari kedua orang-tuanya tetap kental mengalir didalam tubuhnya. Dengan bangga ia menambahkan bahwa istrinya yang asli Perancis juga seorang Muslimah.Alhamdulilah…

Hari Jumat. Beberapa hari setelah kami tiba di Pau, suami mengajak saya dan kedua anak kami untuk shalat jumat di satu-satunya masjid di Pau. Masjid terletak di kawasan perumahan . Walaupun tidak terlalu besar tapi masjid terlihat bersih dan terawat. Ketika kami sampai disana khutbah baru saja dimulai. Sayangnya  khutbah diberikan dalam bahasa Arab(*). Saya perhatikan sebagian jamaah memang keturunan Arab.

Masjid Pau - France

Masjid Pau – France

Bagian perempuan  terletak di lantai atas. Khutbah disiarkan melalui layar tv yang dipasang di ruang ini. Kedatangan kami berdua, saya dan si bungsu,  rupanya cukup menarik perhatian. Selain karena jumlah jamaah yang tidak begitu banyak ( sekitar 50 an jamaah perempuan) hingga mereka hafal dan satu sama lain saling kenal  mungkin wajah kami juga asing bagi mereka. Beberapa diantara mereka melempar senyum ramah kepada kami. Suasana di dalam masjid hening. Kami perhatikan setiap kali penceramah bershalawat, jamaahpun ikut bershalawat dengan khidmat.

Shalat dilaksanakan setelah khutbah selesai. Imam membaca bacaan shalat dengan logat yang sangat kental  Arabnya  hingga saya merasa seperti di Mekah atau di Madinah saja. Hmm..sungguh syahdu. Usai  shalat, imam membacakan  syahadat beberapa kali dan diikuti seseorang. Rupanya siang  itu ada bule yang berikrar masuk Islam,  Allahuakbar!

Tak lama kemudian, sebelum bubar, tanpa kami duga seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan  menghampiri  kami  dan langsung mencium kedua pipi kami. Ia mengaku senang melihat kami berdua shalat di masjid tersebut. Perempuan berhidung mancung yang mengenakan abaya hitam itu berdarah Aljazair. Ia lahir dan besar di Perancis. Ia juga berbicara Perancis dengan fasih. Setelah sedikit berbasa-basi ia menanyakan apakah jumat depan kami akan kembali datang. Insya Allah..

( Bersambung)

(*) Pada kedatangan shalat Jumat berikutnya, kami baru menyadari ternyata khutbah yang kami dengar ketika itu adalah khutbah kedua. Khutbah pertama  dalam bahasa Perancis, Alhamdulillah..

Pau – France, 31 Juli 2009.

Vien AM.

Marilah kita merenung sejenak. Sesungguhnya siapakah kita ini? Mengapa dan atas kehendak siapakah sehingga kita ini lahir di dunia?Siapakah yang berkuasa menentukan dari ayah dan ibu mana kita lahir? Kemudian pada saatnya nanti, siapa pula yang berkuasa mencabut nyawa kita? Sanggupkah kita menghindarinya?

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…………..”. (QS.Ali Imran(3) :145).

Tidak ada keraguan, Dia yang telah menciptakan tentu kepada-Nya pulalah kita dikembalikan. Dialah, Sang Pencipta yang Satu, Dia pula yang kuasa menciptakan bumi dan langit dan apa yang ada diantara keduanya.

Maka dengan keyakinan yang demikian, tidak ada sesuatupun yang berhak kita takuti. Hanya kepada-Nya lah kita mengabdi dan hanya Dialah yang sanggup menolong kita keluar dari berbagai kesulitan dan permasalahan bila Dia menghendaki. Hidup kita akan bebas dan merdeka dari segala macam kebiasaan, budaya&tradisi, peraturan bahkan doktrin sekalipun yang dibuat dan dikendaki oleh sekelompok manusia. Karena manusia mempunyai kepentingan, tidaklah demikian dengan Nya.

Dialah yang telah mengutus seluruh Rasul dan nabi ke bumi, dari  Adam hingga  Muhammad saw, termasuk diantaranya Ibrahim, Musa, Daud , Sulaiman  dan juga Isa  as. Rasul yang datang kemudian, selalu membenarkan Rasul yang sebelumnya dan apa yang dibawanya. Para rasul tersebut diutus untuk mengajarkan hakekat dan makna hidup ini, apa tujuan manusia diciptakan, siapa yang menciptakannya, bagaimana menjalani dan mengisi hidup ini, apa hak dan tanggung jawabnya. Juga dijelaskan  kejadian yang lalu dan  yang akan datang.

Hingga kemudian Dia mengutus Muhammad saw untuk menyempurnakan ajaranNya, ajaran yang sebetulnya sama dengan ajaran para rasul terdahulu, menyeru agar manusia mau berpikir dan kembali ke fitrah sekaligus menceritakan segala penyimpangan yang terjadi sepeninggal para rasul.

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah ………Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, ……… (QS.An-Nisaa(4):171).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS.Al-Maidah(5):72).

Dia juga mengingatkan apa yang telah terjadi dialam ruh , alam sebelum manusia dilahiran ke bumi.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(QS.Al Araf(7):172).

Karenanya sungguh mustahil bila agama-agama yang dibawa para rasul tersebut saling bertentangan.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini,adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka(masing-masing).Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” ( QS.Al Mu’minuun (23):53-54).

Yang berbeda, hanyalah cara beribadah atau syariatnya.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Kita, umat Islam sebagai umat rasul penutup, berkewajiban menyampaikan apa yang tertulis dalam kitab suci kita, Al Quran, secara keseluruhan tidak sebagian-sebagian.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Wallahua’lam bi shawab.

Jakarta,26/9/2006.

Vien AM.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.(QS.Al Baqarah(2): 183)).

Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sebagian besar umat Islam tentunya telah menyadari kewajiban melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun sudahkah puasa yang kita laksanakan tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya?

Tidak seperti ibadah-ibadah lain seperti shalat, zakat dll, puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak mungkin diketahui orang lain. Puasa adalah hubungan langsung dengan Tuhannya, karena hanya Dia dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui apakah ia berpuasa atau tidak.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaaf(50):16))

Tiga macam tingkatan puasa .

Para ulama sepakat bahwa puasa terbagi atas 3 tingkatan, yaitu:

1.Puasa yang dibangun diatas pengertian menahan makan dan minum saja. Puasa semacam ini tidak akan mengakibatkan perubahan atau peningkatan spiritual, sebagaimana pernyataan sebuah hadits :

Banyak orang yang melakukan shaum (puasa) akan tetapi tidak ada hasil untuknya kecuali haus dan lapar saja”.

2.Puasa yang dibangun dengan pengertian dan pemahaman yang benar yaitu mengendalikan segala perbuatan yang bersifat keduniawian seperti menahan nafsu makan, minum,syahwat, amarah dan juga dari perbuatan dan perkataan kotor.

3.Puasa yang tidak hanya mengendalikan segala perbuatan keduniawian saja namun juga menahan hati dari mengingat  selain Allah.

Pengertian takwa.

Berdasarkan ayat Al-Baqarah 183 diatas, jelas dapat diketahui bahwa puasa yang dimaksud adalah puasa yang dapat mengakibatkan manusia menjadi  takwa. Lalu seperti apakah manusia yang takwa itu?

Manusia takwa adalah manusia yang menyerahkan dan menggantungkan dirinya kepada kehendak Allah swt. Manusia takwa adalah manusia yang tak  takut akan apapun kecuali kepada Allah swt, Tuhan yang telah menciptakannya.  Oleh karenanya manusia seperti ini menjadi  tegar dan berpendirian teguh.  Karena takut yang dimaksud disini adalah takut ditinggalkan oleh-Nya, takut tidak mendapatkan  perhatian dan kasih sayang-Nya.

Itu sebabnya pula manusia takwa ingin selalu membersihkan diri dari segala yang tidak disukai-Nya. Untuk itu ia rela menjauhi segala larangan dan mengerjakan segala perintah-Nya. Manusia yang takwa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar atas musibah yang menimpanya. Dan itu dilaksanakan setelah berijtihad yaitu berupaya keras dan maksimal agar dapat mencapai apa yang diinginkannya sesuai dengan ketentuan-Nya.

“…….akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al Baqarah(2):177)).

Sedangkan imbalan yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa ,

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya……” (QS. Ath Thalaaq(65):2,3)).

“…………Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS.Ath Thalaaq(65):4)).

Ciri-ciri orang takwa terlihat jelas dari prilakunya, mereka tidak berpenyakit hati (sombong, dengki, iri, riya dll), ber-akhlakul-khorimah atau mempunyai akhlak yang baik dan hidupnya senantiasa tenang dan tentram.

Sebagai kesimpulan agar puasa  mencapai takwa,  beberapa persyaratan selain menahan nafsu makan, minum dan syahwat maka harus dipenuhi hal-hal  a.l:

-Puasa karena iman.

-Meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, termasuk diantaranya adalah  meninggalkan ‘ghibah’( membicarakan kejelekan orang lain) dan menghindari pertengkaran.

-Melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti dzikir, membaca Al-Quran, melaksanakan shalat-shalat sunnah ( shalat rawatib, tarawih/tahajud, dhuha dll).

– Memberi makan dan minum bagi orang yang berpuasa ketika waktu berbuka.

–  dll.

Sebagai tambahan, ada hadits mengatakan tidak diterima puasa orang yang tiga hari menjelang puasa (Ramadhan) tidak bertegur sapa dengan pasangannya (suami-istri) ataupun tetangga terdekatnya.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran(3):102).

Wallahua’lam bish shawab.

Jakarta,22/9/2006

Vien AM.

 Ashadu an la ilaha illa Allah  wa ashadu  anna Muhammadan rasulullah”

Kalimat yang berarti aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah ini adalah  ucapan  yang wajib diikrarkan seseorang yang ingin memeluk Islam. Ini yang dinamakan kalimat Syahadat.

Rasulullah bersabda: “Bersaksilah kalian : bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah. Tidak akan menemui Allah dengan kalimat syahadat itu seorang hamba selain yang meragukannya sehingga surgapun tertutup baginya”.

Dengan diikrarkannya kalimat syahadat, secara otomatis iapun  terikat pada syariat Islam yaitu, shalat 5 kali sehari semalam, membayar zakat 2.5 %,  puasa di bulan Ramadhan serta menunaikan haji ke Mekkah bila mampu.

Rasulullah bersabda: “Islam itu ialah engkau akan menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya akan sesuatu, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Baitul Haram (masjidil haram dan sekitarnya)”. (HR. Bukhari-Muslim).

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157).

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Allah swt berfirman, alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani beliau namun juga mau memuliakan, menolong, mengikuti serta mencontohnya dalam mentaati perintah dan larangan-Nya.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab(33):36).

Namun sungguh ironis, belakangan ini santer diberitakan akan adanya segolongan umat ( Islam ) yang berpendapat, berkeyakinan dan menyebarkan keyakinannya itu bahwa mengucapkan syahadat tidak perlu memakai embel-embel “ Wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Dan membaca shalawat nabi ( Nuhammad saw) adalah tidak penting! Alasannya bermacam-macam. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa shalawat sama saja dengan mengkultuskan Muhammad saw dan membaca 2 kalimat syahadat sama saja dengan ajaran ’trinitas’ nya umat Nasrani! Ada apakah ini?

Ibnu Mas’ud ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Orang yang terdekat kepadaku pada hari kiamat ialah yang terbanyak membaca shalawat kepadaku.” (HR. At Tirmidzi).

Ka’ab bin Ujroh ra. berkata: Ketika Nabi saw keluar kepada kami, kami bertanya kepadanya: “Ya Rasulullah, kita telah mengerti mengucapkan shalawat kepadamu, maka bagaimanakah membaca shalawat atasmu?” Jawab Nabi Muhammad saw: “Bacalah: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shalaita ‘ala Ibrahim  innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala ali Ibrahim innaka hamidun majid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. ”.(QS.Al-Ahzab(33):56).

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa Allah menyuruh kita, umatnya, untuk menghormatinya. Bahkan Allah dan para malaikatpun bershalawat untuk nabi!  Dalam arti Allah dan para malaikat ridho’; memuji dan puas atas apa yang diperbuat Rasulullah saw. Ini adalah perintah yang tertulis dalam Al-Quran. Jadi tidak alasan apapun yang dapat digunakan agar kita tidak bershalawat untuk Rasulullah, untuk tidak mengagungkannya sebagaimana layaknya manusia yang pandai berterima-kasih atas jasa-jasa yang tak terhitung banyaknya dalam  memperjuangkan dan mempertaruhkan seluruh waktu dan hidupnya agar ajaran Islam bisa sampai kepada kita hingga detik ini.

Ini adalah bagian penting dari ajaran akhlak dan adab yang tinggi. Agar umat Islam pandai menghargai jasa dan pengorbanan seseorang. Agar umat pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.

Disamping itu bunyi kalimat dalam syahadatpun jelas. Kita mengakui dan mengagungkan Muhammad saw sebatas seorang utusan Allah, tidak lebih. Begitu pula yang dicontohkan Rasulullah. Beliau hanya menyuruh kita bershalawat, mendoakan beliau dan keluarganya agar keselamatan dan keberkahan senantiasa dilimpahkan kepadanya sebagaimana Allah swt memberkahi nabi Ibrahim dan keluarganya.  Tidak berlebihan bukan?

Apalagi bila kita perhatikan sejumlah ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan bagaimana Sang Khalik sendiri  begitu memperhatikan, melindungi serta menyayangi Muhammad saw, sang kekasih, rasul pilihan yang amat dicintai-Nya.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS.Al- Hujurat(49):2-3).

 ” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” .(QS.Al-Ahzab(33):57).

Bila Allah swt saja begitu mengistimewakan dan melebihkannya dari yang lain dan bahkan jelas-jelas menyuruh kita menghormati dan meninggikannya mengapa pula kita harus mencari berbagai alasan dan pembenaran agar kita tidak mengagungkannya apalagi enggan menjadikannya contoh dan keteladanan?

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat ni’mat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” ( QS.Al-Qalam (68):1-4).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS. Al-Ahzab(33):21)

Ali ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda:Orang bakhil (kikir) yaitu yang disebut namaku kepadanya lalu ia tidak membaca shalawat untukku.” (HR. At Tirmidzi)

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Dapat kita saksikan betapa dari hari kehari makin  banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah.. Maha benar  segala firman Allah. Ironisnya sejalan dengan itu justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan tidak saja sejumlah hadis namun bahkan seluruh hadis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadis teramat sangat banyak. Hadis-hadis tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah bahkan palsu.

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157)..

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun untuk memahami kitab ini tidaklah mudah. Itu sebabnya  Allah swt mengutus rasulullah saw agar menjelaskan dan  mencontohkannya. Dengan demikian sudah semestinya beliaulah yang paling tahu dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani namun juga mau mengikuti dan mencontoh rasulullah  dalam mentaati perintah dan larangan-Nya. Inilah yang lazim dinamakan hadis. Segala sesuatu baik  perbuatan, perkataan maupun sikap yang disandarkan atas rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya penolakan terhadap hadis bukan hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadis. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu  khusus tentang  hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat(49):6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat diatas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadis, shoheh tidaknya hadis. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya dengan sendirinya riwayat yang disampaikannyapun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim dll adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negri ke negri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi ( orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad saw), Diantaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, dimana ia hidup, kemana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shoheh tidak shohehnya suatu hadis.

Dengan kata lain, shoheh atau tidak shohehnya hadits itu bukan berdasarkan masuk atau tidak masuk akalnya berita  namun lebih disebabkan berdasarkan pertimbangan jujur atau tidaknya jujur seorang perawi. Karena pada intinya perawi hanyalah orang yang menyampaikan apa yang dikatakan atau dilihatnya atas apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah.

Setelah itu baru hadis dikelompokkan atas beberapa kategori.  Apakah hadis tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang (hadis Mutawatir atau hadis Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan  tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya dsb.

Dari sinilah baru diputuskan apakah hadis tersebut dapat diterima atau harus ditolak atau malah hadis palsu! Jadi hadis-hadis tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadis dhoif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman & kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadis tersebut dhoif.

Disamping itu untuk menerapkan suatu hadits kita  harus ekstra waspada dan hati-hati. Begitupun untuk memahaminya, baik  secara maknawi/bahasa maupun secara istilah. Ditambah lagi dengan keterkaitannya antara hadist yang satu dengan hadist yang lain. Karena ada saja hadist yang sepintas tampak bertentangan padahal tidak demikian bila kita memahaminya. Oleh karenanya agar hadits tidak disalah artikan  diperlukan bantuan orang yang benar-benar memahaminya, termasuk juga keadaan dan situasi ketika Rasulullah mengatakan atau mengerjakannya. .

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadis. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah! Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Quran dapat diterma penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam.

Sang pembawa berita yaitu Rasulullah Muhammad saw adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikanrisalah secara terang-terang, kalimat pertama yan gdiucapkan Rasul adalah : ” Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?”. Tanpa ragu sedkitpun mereka menjawab spontan :“Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata  dusta !” .

Namun demikian ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan  terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan ghonimah ( pampasan perang ). Tiba-tiba seorang diantara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak : ”Hai Rasul, berbuat adillah!” Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab: ” Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah”. Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat tidak adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaan-Nya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab ra yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap  : ” Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal  kepala orang ini!”. Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.  Rasul bahkan mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya.  Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima  hadis  selama menurut mereka isi hadis tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka menolak mengakui tak satupun hadis! Disamping itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim as dengan alasan semua agama ( samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu meng-esakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyariatkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. Padahal pada Haji Wada Rasulullah berpesan : ” Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan sunnahku”.

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Quran dan hadis. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam!. Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat diantara umat. Mereka juga tahu bahwa hadis ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadis lemah dan palsu yang menurut ilmu hadis harus dicantumkan bahwa ia hadis lemah mereka sebarkan tanpa keterangan apapun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadis mutawatir dan hadis shohehpun mereka bahas isinya dan diadu dengan  akal dan pemikiran sains dan ilmu pengetahuan sehingga hadis terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim dkk yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Quran sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadist mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadist ini adalah jelas hadist shoheh. Namun hingga kini ada sebagian umat yang meragukan keshohehan hadist tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian  bersikukuh bahwa Allah swt sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadist diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadis tersebut memberi hikmah bahwa Allah swt mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayat-Nya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaan-Nya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukan-Nya. Allah berkehendak agar para hamba-Nya mau menggunakan pikirannya  sehingga manusia lebih dapat memahami ke-Cerdas-an-Nya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayang-Nya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa as.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah baik Al-Quran dan hadits beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung hingga yang vulgar, kasar dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus  dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadis sekalipun hadis tersebut shoheh bahkan juga ayat Al-Quranpun bisa dipertanyakan! Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan dan atas nama hak azazi manusia tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standard yang dipergunakan. Bagi sebagian orang standard yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standard kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syariat Muhammad saw sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Quranul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad saw serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknati-Nya, amin.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan.