Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 12th, 2012

Nicolas Zarkozy, presiden Perancis itu akhirnya tak tahan juga untuk menyembunyikan keberpihakannya kepada Yahudi, agama nenek moyangnya. Selama 5 tahun menduduki jabatan tertinggi Negara, sepintas ia memang tidak begitu memusuhi Islam. Paling tidak ketika ia masih menduduki posisi mentri dalam negri, ia pernah mendukung berdirinya CFCM (Conseil Français du Culte Musulman), sebuah organisasi Islam Perancis. Meski pada akhirnya sebagian Muslim negri tersebut mengklaim bahwa wadah Islam tersebut kurang berfungsi dan tidak mewakili aspirasi Islam pada umumnya.

Sebaliknya, UOIF (Union des Organisations Islamiques de France),  organisasi Islam lain, yang dikabarkan lebih dapat mewakili Muslim Perancis, baru-baru ini harus menelan pil pahit. Kongres yang sedianya diseleggarakan beberapa hari lalu terpaksa pasrah terhadap pernyataan sang presiden yang memerintahkan jajarannya untuk mencekal 6 undangan kehormatan mancanegara. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, ulama besar Mesir yang dikenal sangat keras terhadap Yahudi, DR Aidh Al-Qarni, yang di Imdonesia terkenal dengan kitab La-Tahzannya serta seorang syeikh masjid Al-Aqsho adalah termasuk 3 diantaranya.  Keenam ulama besar tersebut, melalui berbagai penyataannya  dianggap memusuhi Yahudi.

Islam beberapa minggu belakangan ini memang semakin terlihat disudutkan oleh berbagai pihak. Skandal Muhammad Merah, warga Toulouse, Muslim imigran Aljazair, telah resmi ditetapkan pemerintah sebagai penanggung jawab skandal terbunuhnya 3 militer di kota tersebut dan meledaknya bom di sekolah Yahudi yang memakan korban 3 orang anak dan 1 orang dewasa. Semuanya Yahudi. Sementara 2 diantara militer yang ditembak adalah Muslim imigran Magreban. ( Baca : https://vienmuhadi.com/2012/03/26/merncermati-perkembangan-islam-di-perancis-6/  )

Tariq Ramadhan, cucu almarhum ulama besar Mesir, Hasan Al- Banna,  yang kini menjadi warga Swis dan dikenal sebagai cendekiawan Muslim terkenal, berpendapat bahwa Muhammad Merah hanya korban konspirasi politik elit Perancis.  Masih menurut Tariq, pemuda yang mati ditembak oleh 15 anggota pasukan khusus setelah bertahan lebih dari 30 jam di apartemennya ini sama sekali tidak mewakili figur Islam. Kalaupun ia memang terbukti bersalah, tidak berarti bahwa seluruh umat Islam terutama kaum Muslimin imigran yang ada di Perancis ini harus mempertanggung-jawabkan kesalahan tersebut.

Namun dengan penuh emosi, Sarkozy malah mengeluarkan pernyataan bahwa Perancis adalah Negara Laic ( sekuler), tidak ada perbedaan pelayanan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada daging  khusus untuk golongan tertentu. Pernyataan ini jelas ditujukan bagi umat Islam yang memang membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk ibadah, dokter perempuan untuk Muslimah, daging halal dll.

Karenanya dalam kongres UOIF yang diselenggarakan beberapa hari lalu, Tariq mengingatkan agar Muslim Perancis tidak perlu menanggapi pernyataan tersebut secara serius.  Ia justru meminta agar Muslim Perancis bersatu, tidak terpecah-pecah seperti sekarang ini.  Perlu dicatat, Muslim Perancis saat ini kebanyakan adalah imigran Maroko, Aljazair dan Tunisia. Ketiga Negara bekas jajahan Perancis ini di Perancis dikenal dengan nama Magreban. Namun demikian kultur ketiga Negara di Afrika Utara tersebut  berbeda. Itu sebabnya mereka kurang bisa berbaur. Masing-masing memiliki komunitas sendiri-sendiri. Bahkan masjid dan organisasi yang ada sekarang ini sebetulnya hanya mewakili masing-masing komunitas tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat“.(QS.Al-Hujrat(49):10).

Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah(9):24).

Dengan kata lain, semangat kebangsaan yang sering kali menjadi ikatan terkuat dalam suatu masyarakat sebenarnya bukanlah ajaran Islam. Islam tidak mengenal batas negara, bahasa, warna kulit dan kultur. Perseteruan tersembunyi antara Negara kita tercinta, Indonesia dengan Negara tetangga, Malaysia, contohnya, harusnya tidak perlu terjadi. Benih-benih permusuhan dan kebencian dua Negara saudara seiman ini sebenarnya sangat berbahaya. Ini adalah bagian dari Ghazwl Fikri alias Perang Pemikiran yang dirancang Barat (Kristen–Yahudi) untuk mengadu domba dan mengikis persaudaraan serta dan persatuan Islam.

Pemersatu utama dalam Islam adalah ketakwaan. Hal yang wajar saja karena bumi ini seluruhnya adalah  memang milik-Nya. Tidak ada istilah Barat dan Timur. Yang ada hanya ketakwaan atau kekafiran. Yang diridhoi hanyalah Negara dan bangsa yang tunduk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya”.

Dalam Islam tidak ada kata, kebencian karena iri dan dengki. Dakwah dilakukan berdasarkan rasa kasih sayang antara sesama manusia, untuk mengingatkan betapa banyak nikmat yang diberikan Allah swt kepada manusia yang menjadikan kita ini mahluk terbaik, termulia dan terpandai hingga pantas diberi kesempatan menduduki jabatan khalifah di muka bumi ini. Namun sebagai konsekwensinya kita harus mempertanggung-jawabkan kenikmatan tersebut.  Wajar saja bukan?

Jadi tidak ada pemisahan antara kehidupan duniawi dengan kehidupan akhirat. Keduanya saling mengikat dan saling berhubungan. Kehidupan duniawi adalah ladang sementara akhirat adalah buahnya. Dengan kata lain, semua kegiatan kita di dunia ini adalah ibadah, demi mencari ridho-Nya. Tidak ada kata sekuler dalam kamus Islam.

Namun dalam kenyataannya, sebagian besar Negara di dunia ini adalah sekuler. Dalam keadaan seperti ini bagaimana mungkin kita bisa memohon keberkahan, kemakmuran dan kemajuan bagi bangsa ini? JIka saat ini kita melihat Negara-negara Barat yang notabene kafir itu maju,  ini hanya bagian dari sifat Rahman Sang Khalik yang memang diberikan-Nya kepada orang yang berilmu, yang mau mencari,  mempelajari dan menggali fenomena alam ciptaan-Nya. Namun bila rahasia besar yang menakjubkan itu telah terungkap mereka tetap kafir, maka balasan-Nya pasti ada. Bisa di dunia sedangkan di akhirat pasti.

Global warming atau pemanasan global adalah contoh yang paling nyata. Begitu banyak rahasia alam semesta terungkap, dengan izin-Nya. Orang-orang pandai bermuncullan dan ilmu berkembang pesat. Namun sanggupkah ilmu tersebut mencegah datangnya bahaya dan bencana alam?

Gempa bumi, tsunami, banjir badang, kekeringan, angin topan dan puting beliung bahkan perubahan iklim yang tidak menentu, yang kelihatannya sederhana padahal dampaknya bisa fatal.  Seperti yang saat ini terjadi di Perancis, bulan April yang ‘seharusnya’sudah mulai hangat namun nyatanya, udara dingin tetap menggigit. Ini bisa berakibat kepada kacaunya musim panen yang pasti akan mengganggu kehidupan kita.

Lembaga Islam di Perancis yang biasa mengurusi jadwal shalatpun ikut menjadi pusing 7 keliling. Karena tidak mampu lagi memperkirakan waktu shalat yang tepat kecuali hanya untuk 2 hari ke depan. Padahal biasanya mereka bisa memprediksi sebulan sebelumnya. Begitupun lembaga meteo yang biasa memberikan perkiraan cuaca kepada masyarakat.

Kerusakan tidak hanya kerusakan alam, kerusakan iman alias kekafiran adalah yang paling parah. Ironisnya, dampak tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang kafir saja namun juga orang-orang beriman.

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS. Al-Anfal(8):25).

Tampaknya kita harus segera bersiap-siap menghadap hari-hari akhir alam semesta ini. Hari dimana kita harus mempertanggung-jawabkan perbuatan dan sepak terjang kita. Bukankah 14 abad silampun Rasulullah saw telah mengisyaratkan bahwa jarak hari Kiamat hanya tinggal 2 jari saja ? Jangan lupa, Al-Quran telah  memperingatkan bahwa perhitungan manusia di dunia ini tidaklah sama dengan perhitungan-Nya.

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.Al-Hajj(22):47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS.As-Sajdah(32):5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. (QS.Al-Ma’rij(70):4).

Kembali kepada sikap keras Nicolas Zarkozy terhadap umat Islam di negeri yang dipimpinnya. Jejak pendapat untuk sementara memang menempatkan Zarkozy di tempat teratas, mengungguli Francois Holland, saingan terdekatnya. Ini tampaknya yang membuat sang presiden bertahan menjadi congkak dan besar kepala hingga tiba2 berani memperlihatkan keberpihakannya yang sangat kepada Yahudi, agama nenek moyangnya, tanpa rasa khawatir kehilangan suara umat Islam yang cukup signifikan.

Untuk itu Tariq Ramadhan dalam kongresnya beberapa hari lalu mengingatkan agar seluruh Muslim Perancis yang memiliki hak suara bersatu, menggunakan haknya dengan benar, memilih pemimpin yang mempunyai harapan dapat melindungi keimanan umat. Jangan golput karena hal ini dapat menguntungkan pihak yang tidak diharapkan dan merugikan diri sendiri.

Allah swt tidak pernah melanggar janji-Nya. Makar dan tipu daya hamba tidak mungkin menyaingi tipu daya Sang Pemilik.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Menjadi Muslim adalah pilihan, sementara warna kulit dan bangsa adalah ketetapan-Nya.  Bumi Allah itu luas. Maroko, Tunisia, Aljazair, Turki, Iran, Afganistan atau bangsa apapun, dimanapun ia berada, tetap bisa hidup aman dan tentram, berbaur dengan masyarakat dimana ia berada, selama ia tetap bisa menjaga ke-Islam-annya. Menjadi Muslim tidak berarti merubah warna kulit,  bangsa dan kewarga-negaraan.  Ketakwaanlah yang menjadi perekat ukhuwah Islamiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 April 2012.

Vien AM.

Read Full Post »