Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Semua orang pasti tahu apa itu raja/khalifah/kaisar/king/roi/malik  dan apa itu kerajaan/kekhalifahan/kekaisaran/monarki/kingdom/royaume/mamalik.   Dalam bahasa Indonesia  kata Raja ( Rani bila perempuan), yaitu pemimpin/penguasa tertinggi  dalam sebuah kerajaan, berasal dari Rājan yang merupakan bahasa Sangsekerta.

Sedangkan kata kerajaan atau monarki  berasal dari bahasa Yunani, monos yang berarti satu, dan archein yang berarti pemerintah. Kerajaan/monarki merupakan sejenis pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa monarki.

Seorang raja sudah pasti mempunyai wilayah kerajaan yang dikuasainya,  dan di masa lalu, biasanya secara absolut.  Seorang raja biasanya berkuasa hingga seumur hidupnya, dan biasanya yang menggantikan kedudukannya bila ia wafat adalah sang putra mahkota yang telah dipersiapkan secara matang.

Raja bisa menguasai daerah kekuasaan yang sangat luas, namun bisa juga kecil, kerajaan Monaco, misalnya.  Kerajaan ini hanya mempunyai luas wilayah sekitar 2 km2. Bandingkan dengan Jakarta yang luasnya 650km2. Suatu kerajaan dapat dikatakan besar dilihat dari beberapa faktor, antara lain luasnya, populasinya, ekonominya, lama kekuasaannya, bagaimana sang pemimpinnya berkuasa, bagaimana kehidupan rakyatnya dsbnya.

Kerajaan adalah sistem pemerintahan tertua di dunia. Tercatat pada suatu masa dulu pernah ada lebih dari 900 kerajaan di dunia ini. Kini yang masih bertahan hanya tinggal 40 buah saja, Arab Saudi, Yordania, Maroko, Malaysia, Inggris, Belanda, Spanyol, Kamboja dan Thailand adalah diantaranya.  Dari jumlah tersebut, hanya 4 yang mempunyai penguasa mutlak, selebihnya terbatas kepada sistem konstitusi.

Di masa lalu, kerajaan bisa berkuasa hingga ratusan tahun, dan daerah kekuasaannyapun bisa mencakup berpuluh-puluh Negara yang ada saat ini. Yang terpanjang adalah kerajaan/kekhalifahan Islam Ottoman. Kerajaan ini berkuasa selama hampir 7 abad lamanya, yaitu sejak tahun 1299 hingga 1923 lalu. Kekuasaannya terbentang dari Afrika Utara dan Spanyol di ujung Barat hingga perbatasan sebelum Cina di ujung Timur, Austria di ujung paling utara hingga Yaman di ujung selatan.

http://yusranyusufnur.blogspot.co.id/2012/11/10-kerajaan-terbesar-dalam-sejarah-dunia.html

Disamping mempunyai daerah kekuasaan dan rakyat yang dipimpin, sebuah kerajaan juga pasti mempunyai pasukan/tentara yang bertugas menjaga wilayahnya agar aman dari serbuan musuh, juga aparat yang bertugas menjalankan pemerintahan.

Demikian pulalah kerajaan Allah Azza wa  Jalla, kerajaan terbesar dan terluas di sepanjang sejarah kehidupan yang ada di alam semesta ini. Kerajaan ini meliputi langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):107).

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allahlah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(Terjemah QS. Ath-Thaggabun(64):1).

IMG_2722IMG_2864Kerajaan Allah yang teramat sangat luas ini seperti juga kerajaan dunia lainnya tidaklah kekal. Meski usianya sangat amat jauh dibanding kerajaan biasa yang umurnya “ hanya” ratusan tahun. Kerajaan Allah diciptakan jauh sebelum manusia ada, dan akan hancur nanti bersamaan dengan orang terakhir di dunia, yaitu pada hari Kiamat. Paling tidak itulah yang terjadi pada galaksi yang kita tempati ini.

 “ Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”.

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap,

lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (Terjemah QS. Fushshilat(41):9-12).

Setelah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya, Allahpun bersemayam di atas Arsy, yaitu di Kursy-Nya.  Arsy itu sendiri dijunjung oleh 8 malaikat.  Sementara jarak Kursy Allah ini dengan Arsy mencapai ratusan tahun ( cahaya ?) sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Muhammad saw.

Dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya ‘antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun.”

Abu Dzar radhiallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah Kursy di banding Arasy kecuali bagaikan cincin yang dilempar di atas padang di muka bumi.”

“ Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia” .(Terjemah QS. Al-Furqon(25):59).

“ Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Terjemah QS.Al-Haqqah(69):17).

“ Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. (Terjemah QS. Al-Qaariah(101):1-5).

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan,” (Terjemah QS. At-Takwir(81):1-6).

Uniknya meski kerajaan Allah yang begitu luas ini akan hancur pada saatnya nanti, tidak demikian dengan “ Sang Raja di Raja”. Jadi terbalik dengan kerajaan dunia yang bila rajanya suatu hari nanti wafat dan digantikan putra mahkota, maka kerajaan akan terus berlangsung.

IMG_3079Jadi pada sistim kerajaan Allah, Raja lebih dominan dari pada kerajaan. Ia akan tetap eksis meski kerajaannya telah hancur. Karena memang Dialah yang menciptakan kerajaan, kerajaan ada karena ada raja, bukan raja ada karena ada kerajaan.  Sang Raja hidup abadi, kekal selamanya. Itu sebabnya Ia tidak memerlukan pewaris, putra mahkota, keturunan atau apapun.

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya” .(Terjemah QS. Al-Isra(17):111).

Disamping itu seperti juga kerajaan dunia, kerajaan Allah juga memiliki pasukan yang senantiasa patuh pada perintah-Nya, tanpa syarat. Itulah malaikat yang senantiasa berzikir memuji dan memuja kebesaran Tuhannya. Malaikat yang tercipta dari cahaya, bersayap dan berukuran extra besar ini selain jumlahnya  amat sangat banyak juga mempunyai fungsi dan tugas yang beraneka ragam.

“Tidaklah ada tempat kosong  dengan ukuran empat jari tangan di semua lapisan langit, kecuali pada tempat tersebut ada Malaikatyang sedang berdiri, ruku’ atau sujud (artinya semuanya dalam keadaan beribadah kepada Allah)”. (HR Tirmidzi).

“ Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” . (Terjemah QS. Fathir(35):1).

Ada yang bertugas menjunjung  Arsy, ada yang bertugas membawa angin, membagikan rezeki, meniup terompet kematian dan kebangkitan, mencabut nyawa, mencatat amal manusia, menjaga surga, menjaga neraka dll. Dan yang tertinggi adalah malaikat Jibril, yaitu yang menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Jibril inilah yang pernah dilihat Rasulullah Muhammad saw, yaitu ketika menyampaikan wahyu dari Allah Azza wa Jalla.

Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang” . (QS. At-Takwir(81):23).

“ Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),  yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy,  yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (Terjemah QS.At-Takwir(81)19-21).

Dari [‘Ashim] dari [Abu Wa`il] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya, ia memiliki enam ratus sayap, setiap sayap dapat menutupi antara langit dan bumi, dari sayapnya berjatuhan aneka warna warni, mutiara dan yaqut. Allah Maha Mengetahui itu semua. (Musnad Ahmad No Hadist 3561)

Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan,  dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya,   dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya,   dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya,  dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,”  (Terjemah QS.Al-Mursalat(77):1-5).

“ Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” . (Al-Fathir(35):1).

2010-02 La Mongie - Pyrenee_35IMG_0761Namun demikian sesungguhnya Allah swt tidak memerlukan siapapun dan apapun termasuk pasukan elit malaikat yang dimiliki sekaligus diciptakannya sendiri itu. Karena hanya dengan kalimat “ Kun Fayakun” saja sebenarnya semuanya bisa terjadi.  Penciptaan malaikat dan keberadaannya di sekeliling kita lebih ditujukan untuk kepentingan manusia.  Agar manusia dapat mengerti dan lebih memahami apa tujuan dan hikmah dibalik kehidupan ini. Agar dapat mengikuti dan memahami ilmu-Nya meski hanya secuil . Itulah sunatullah.  Allah terlalu suci dan agung untuk mengurusi langsung para hamba ciptaan-Nya di muka bumi ini.

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.  Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).  Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah”. (Terjemah QS.Fathir(35):15-17).

Intinya kerajaan Allah dengan segala cakupannya, seperti para malaikat, langit dengan segala perhiasannya, bumi dengan segala isinya seperti gunung, sungai, aneka binatang dan lain lain adalah bukti keberadaan Sang Khalik, Raja dari segala raja, yang tak terbantahkan.

Allah swt yang memiliki Asmaul-Husna,  99 nama indah untuk mencerminkan sifat-sifat-Nya, yang dengan menyebut nama-nama tersebut memohonlah orang-orang beriman pertolongan dan perlindungan-Nya.

Alhasry 22-24

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemah QS.Al-Hasyr(59):22-24).

ayat kursi

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):255).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 23 Oktober 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

 Kejahatan Syiah di Tanah Haram Dalam Kurun Sejarah

Saat ini, terkadang sulit bagi kita membedakan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah. Terkadang pihak yang salah, melakukan penghianatan dan kejahatan, melemparkan ungkapan-ungkapan yang menjelek-jelekkan orang lain sehingga kita menangkap orang yang salah ini adalah orang yang benar dan pihak yang benar adalah mereka yang melakukan kesalahan. Hal ini telah dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati,…” (HR. Hakim).

Hal itu juga terjadi pada klaim-klaim kebenaran yang dilemparkan oleh salah satu kelompok yang memiliki sejarah berdarah dalam Islam, yaitu kelompok Syiah. Orang-orang Syiah pada hari ini menuding Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni sebagai kelompok yang tidak mencintai keluarga Nabi, kelompok yang radikal, teroris, dan ekstrimis. Setelah itu, mereka menambahkan kebohongan-kebohongan untuk menguatkan pendapat mereka.

Jika kita membaca sejarah, maka akan kita dapati bahwa Syiah merupakan suatu sekte yang banyak menebarkan kebencian dan peperangan di tengah umat Islam. Tentang hancurnya Baghdad, lalu bagaimana Dinasti Fatmiyah berkuasa, dll. kali ini kita akan mengangkat sejarah tentang kejahatan Syiah di tanah Haram. Sebelum masuk pembahasan, kita ketahui terlebih dahulu bagaimana kedudukan Mekah dan Madinah bagi orang Syiah.

Kedudukan Karbala Setara Kedudukan Mekah

Di dalam kitab referensi utama Syiah seperti Biharul Anwar diriwayatkan,

قال جعفر …”فأوحى الله إليها أن كفي وقري، ما فضل ما فضلت به فيما أعطيت كربلاء إلا بمنزلة الإبرة غرست في البحر فحملت من ماء البحر، ولولا تربة كربلاء ما فضلتك، ولولا من تضمنه أرض كربلاء ما خلقتك ولا خلقت البيت الذي به افتخرت، فقري واستقري وكوني ذنبًا متواضعًا ذليلاً مهينًا غير مستنكف ولا مستكبر لأرض كربلاء، وإلا سخت بك وهويت بك في نار جهنم”

Ja’far berkata, “…Sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Kabah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam”.

Datang ke Karbala Lebih Mulia dari Haji

Masih merujuk kitab-kitab referensi utama Syiah, tercantum sebuah riwayat tentang keutamaan ziarah ke tanah Karbala di Irak lebih dari ibadah haji ke Mekah.

إن زيارة قبر الحسين تعدل عشرين حجة، وأفضل من عشرين عمرة وحجة

“Sesungguhnya ziarah (berkunjung) ke kubur Husein sebanding dengan (pahala) haji sebanyak 20 kali. Dan lebih utama dari 20 kali umrah dan 1 kali haji.” (Furu’ al-Kafi, 1: 324).

Salah seorang penganut Syiah menyatakan,

إني حججت تسع عشرة حجة، وتسع عشرة عمرة”، أجابه الإمام بأسلوب يشبه السخرية قائلاً: “حج حجة أخرى، واعتمر عمرة أخرى، تكتب لك زيارة قبر الحسين عليه السلام

“Sungguh saya telah menunaikan haji sebanyak 19 kali dan umrah juga 19 kali.” Lalu imam menjawabnya dengan perumpamaan yg mengejek, “Berhajilah sekali lagi dan umrahlah sekali juga, maka akan dicatatkan untukmu (pahala yang sama) dengan berziarah ke kubur Husein ‘alaihissalam”. (Biharul Anwar, 38: 101).

Perdana mentri Irak, penganut Syiah 12 Imam, menyatakan bahwa tanah Karbala lebih berkah untuk menjadi kiblat umat Islam dunia. Ia beralasan, karena di Karbala terdapat Husein radhiallahu ‘anhu. Dan ia akan berusaha mewujudkan hal itu.

Berikut pernyataannya:

Nah.. setelah mengetahui kedudukan Mekah bagi orang-orang Syiah, kita pun mengetahui mengapa mereka melakukan pengrusakan dan perbuatan onar di tanah Haram. Kita juga menyadari potensi kecemburuan mereka terhadap Mekah ini akan senantiasa muncul. Sekarang akan kita lihat sejarah prilaku teror orang-orang Syiah di tanah haram.

1. Kejahatan Syiah di Masa Silam

Pertama: Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah mencatatkan suatu peristiwa pembantaian jamaah haji oleh orang-orang Syiah Qaramithah. Pada tahun 312 H, orang-orang Syiah Qaramithah yang dipimpin oleh Abu Thahir, Husein bin Abi Said al-Janabi menyerang jamaah haji yang baru saja pulang dari Baitullah al-Haram selesai melaksanakan kewajiban mereka menunaikan ibadah haji. Mereka membunuh sejumlah besar jamaah, mengambil harta yang mereka inginkan, memilih para wanita dan anak-anak untuk mereka tawan, kemudian mereka tinggalkan orang-orang yang tersisa dengan mengambil onta-onta sebagai rampasan.

Kedua: masih dalam al-Bidayah wa an-Nihayah. Imam Ibnu Katsir juga mencatat kejadian pada tahun 317 H. Orang-orang Qaramithah dengan pemimpin mereka Abu Thahir, Husein bin Abi Said al-Janabi, memasuki Masjidil Haram dan membunuh jamaah haji yang sedang beribadah di sana. Peristiwa itu terjadi pada hari tarwiyah 8 di bulan haram, bulan Dzul Hijjah, dan tanah haram, Mekah al-Mukaramah. Para jamaah haji sampai berlindung di  kiswah Ka’bah, namun orang-orang Syiah ini tidak peduli dan tetap menumpahkan darah mereka. Mengapa hal ini terjadi? Karena mereka tidak memuliakan tanah haram sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Kemudian dengan sombongnya Abu Thahir memerintahkan jasad-jasad jamaah haji yang tewas di masukkan ke dalam sumur zam-zam, melepas kiswah dan pintu Ka’bah, dan yang keterlaluan ia mencongkel hajar aswad dan membawanya ke tempat mereka. Imam Ibnu Katsir menyebutkan pada tahun 339 H barulah mereka mengembalikannya lagi ke Mekah.

2. Kejahatan Syiah di Zaman Modern.

Pertama: Pada tahun 1406 H/1986 M, pihak keamanan Arab Saudi berhasil mengamankan bahan peledak yang dibawa jamaah haji Iran memasuki Mekah.

Kedua: Di tahun berikutnya, 1407 H/1987 M, kembali jamaah haji Syiah Iran mengadakan kerusuhan di tanah haram. Mereke berdomonstrasi anti Amerika di tanah suci dan di bulan suci dengan membawa senjata tajam.

Video:https://youtu.be/Ef6nNOGufWI

Ketiga: Pada tahun 1414 H/1994 M orang-orang Syiah mengadakan pengrusakan di dekat Masjid al-Haram. Mereka juga membunuh beberapa jamaah haji. Mereka adalah orang-orang Syiah dari Kuwait dan satu orang dari Arab Saudi sendiri. Saat itu, Allah bukakan kebusukan yang mereka tutupi dengan istilah toleransi atau persaudaraan Sunni-Syiah, di hadapan jamaah haji dari seluruh dunia.

Salah satu petinggi Hizbullah Lebanon menyatakan akan menyerang Mekah:

https://youtu.be/8PQJv5Esh8k

Sebenarnya masih sangat banyak sekali kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Syiah di tanah haram, baik secara perorangan atau kelompok yang terorganisir. Mereka melakukan pencurian terhadap jamaah haji, membunuh jamaah yang berada antara shafa dan marwa, dll.

Penulis serahkan kepada pembaca sendiri yang menilai slogan-slogan persatuan yang digembar-gemborkan oleh orang-orang Syiah di negeri ini, apakah itu sebuah bualan atau memang sebuah kebenaran.

Siapa yang tidak membaca sejarah, maka ia akan dihukum dengan melakukan kesalahan yang sama dengan kesalahan di masa lalu.

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Di copy dari : http://kisahmuslim.com/kejahatan-syiah-di-tanah-haram-dalam-kurun-sejarah/

Read Full Post »

Hikmah Kurban

Hari Raya Haji yang merupakan hari raya kedua  setelah Iedul Fitri, sebentar lagi akan tiba. Inilah saatnya untuk berkurban bagi yang mampu membeli hewan ternak kurban tentunya.  Yaitu kambing, sapi atau unta yang harganya sudah pasti tidak murah itu. Namun tetap saja setiap kali tiba saatnya, umat Islam berbondong-bondong melakukan ritual potong kurban tersebut.   Muslim di Negara-negar Timur Tengah bahkan merayakan hari yang juga disebut Iedul Adha tersebut, lebih meriah daripada Iedul Fitri. Apa sebetulnya hikmah dibalik itu semua.

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):34).

Penyembelihan kurban adalah syariat yang usianya sudah amat tua, yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as. Syariat ini pertama kali dimulai dengan turunnya perintah Allah swt kepada nabi Ibrahim as agar menyembelih  Ismail, satu-satunya putra beliau ketika itu. Perintah itu datang berupa mimpi sebagaimana tercermin pada terjemahan surat As-Shaffat ayat 102 – 110 dibawah ini.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi  balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.              

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim“. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dari ayat-ayat diatas dapat kita ketahui bahwa perintah Sang Khalik untuk menyembelih Ismail, putra Ibrahim as, sejatinya hanya untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat ketaatan Ibrahim kepada Tuhannya, Tuhan yang menciptakannya. Dan sebagai imbalan atas ketaatan keduanya, baik Ibrahim maupun Ismail maka Allah swt pun menggantikan Ismail dengan kambing sembelihan yang besar.  Maka sejak itulah penyembelihan kurbanpun menjadi syariat turun temurun, hingga ke umat nabi Muhammad saw detik ini.

Ada 3 macam faktor timbulnya ketaatan, yaitu rasa takut, rasa harap dan rasa syukur. Dan yang paling sempurna adalah ketika ketiganya ada menyatu di dalam jiwa seorang Mukmin.

Rasa takut atau khouf seorang Mukmin timbul karena ia tahu dan yakin akan adanya siksa, baik di dunia, alam kubur maupun di akhirat nanti.  Oleh karenanya ia berusaha sekuat mungkin agar tidak melanggar apa-apa yang dilarangnya.

Sedangkan rasa harap atau roja’ muncul karena ia tahu dibalik kerasnya siksa Allah ada rahmat-Nya. Yang dengan demikian ia akan berusaha sebanyak mungkin melakukan perbuatan baik. Perbuatan yang mendatangkan kasih sayang-Nya, agar Ia menjauhkan dirinya dari segala macam siksa.

Sementara itu rasa syukur, yang hanya mungkin timbul bila seseorang banyak merenung, memikirkan betapa banyaknya kenikmatan yang telah ia rasakan di dunia ini, akan menimbulkan keinginannya untuk selalu berusaha memenuhi keinginan-Nya. Dengan kata lain, ia ingin “ membalas” segala kebaikan-Nya, sesuatu yang tentu saja amat sangat mustahil. Hal yang perlu selalu diingat, kenikmatan tidak hanya dalam bentuk kekayaaan/harta benda namun juga nikmat sehat/bisa melihat/mendengar dll, ketenangan hidup dan yang puncaknya adalah nikmat Iman dan Islam.

Maka dengan adanya ke 3 unsur yang menyatu tersebut, lahirlah ketaatan. Yang dengan demikan seberat apapun perintah dan larangan-Nya ia akan berusaha memenuhinya. Contohnya yaitu tadi, nabi Ibrahim yang rela menyembelih putra satu-satunya yang bertahun-tahun lamanya ia tunggu kehadirannya. Juga ketabahan Ismail yang masih belia tapi memahami benar artinya pengorbanan.

Jadi sungguh sebenarnya tidak ada apa-apanya pengurbanan kita membeli seekor kambing atau bahkan seekor sapi, bila kita bandingkan dengan apa yang dikurbankan nabi besar Ibrahim as. Meskipun akhirnya Allah swt menggantinya dengan seekor kambing.

Namun kurban seberapapun besarnya bila tidak didasari atas ketaatan, tidak ada rasa takut, harap ataupun syukur kepada-Nya, tidaklah akan mendatangkan ridho-Nya. Sebaliknya kurban meski hanya seekor kambing kecil itupun untuk satu keluarga, bila dilandasi ketakwaan, ketundukan demi mencari ridho-Nya, akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka” ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):35).

Meskipun besar tidaknya kurban sepatutnya tentu sesuai kemampuan, tidak melulu hanya atas dasar takwa. Seharusnya malu seseorang yang telah diberi harta melimpah ruah namun hanya berkurban sedikit, tidak sesuai dengan apa yang dimikilinya, yang diterimanya. Resesi ekonomi yang belakangan ini sedang terjadi bukan alasan untuk tidak menjalankan syariat mulia ini. Disinilah keyakinan kita diuji, bahwa apabila kita bersyukur pasti Allah akan menambah nikmat-Nya.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Terjemah QS. Ibrahim(14):7).

Disamping itu kurban juga memiliki hikmah lain, yaitu kepedulian sosial. Allah swt memerintahkan kita untuk menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi atau unta bukannya tanpa tujuan.  Hewan ternak yang dalam bahasa Arabnya adalah An’am artinya adalah yang diberi nikmat.

Ya hewan ternak terutama kambing, sapi dan unta, adalah hewan yang mempunyai kenikmatan yang amat banyak. Mulai dari fungsinya, kambing dan unta yang bisa dijadikan alat transportasi,  sapi sebagai bajak sawah, hingga manfaatnya; dari susu, daging, kulit hingga bulunya.  Rasanya tak satupun Negara di dunia ini yang tidak memanfaatkan ketiga hewan tersebut, ntah itu untuk dikonsumsi susu/dagingnya atau/dan diambil kulit serta bulunya.

Sungguh tak salah Sang Khalik memerintahkan kita untuk berkurban ketiga hewan tersebut. Setelah hewan disembelih dengan cara dan syarat-syarat yang telah ditentukan, daging, kulit serta bulunya dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang berkurban boleh ikut menikmatinya tapi tidak boleh lebih dari 1/ 3 bagiannya. Dengan demikian, secara zahir,  paling tidak ada 3 pihak yang diuntungkan pada hari kurban, yaitu si penjual hewan,  fakir miskin dan si pemberi kurban.

Jadi tidaklah benar persangkaan sebagian orang yang berpendapat bahwa kurban dalam Islam tidak ada bedanya dengan persembahan sesajian dalam agama lain. Kurban dalam Islam benar-benar untuk kemaslahatan umat, bahkan bukan hanya Muslim saja yang boleh menikmatinya.

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu” . (Terjemah QS. Al-An’am(6):136).

Maka alangkah anehnya bila saat ini ada Negara, contohnya Belgia, yang baru-baru ini mengeluarkan larangan berkurban bagi umat Islam. Apa alasannya? Bila cara penyembelihannya yang dipertanyakan, ketahuilah bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah mahluk Allah yang paling menyayangi mahluk ciptaan Allah, termasuk hewan.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan (tidak menyiksa) sesembelihannya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya didekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan, pen)?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (H.R. Ath Thabrani dengan sanad shahih)

Pengalaman pribadi kami dengan seorang sahabat non Muslim  yang asli Perancis, ia lebih senang membeli daging halal yang ada di kotanya. Alasannya, dagingnya lebih empuk dibanding daging standard yang dijual di kota tersebut. Tidak mengherankan bukan? Karena hewan yang dipotong secara syar’i memang  dalam keadaan santai alias tidak tegang hingga dagingnya lebih empuk dibanding yang tidak dipotong secara syar’ i.  Perumpamaannya, persis ketika seseorang akan diambil darahnya, si perawat pasti selalu mengingatkan agar kita tidak tegang, supaya darah lebih mudah diambil.

http://www.arrahmah.com/kajian-islam/jelang-idul-adha-4-syarat-syarat-penyembelihan-hewan-kurban.html

Mungkin yang masih harus menjadi PR bagi kita umat Islam, adalah penyelenggaraannya yang kadang kurang memperhatikan faktor kebersihan dan area pemotongan yang sering kali terkesan sembarangan.

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 7 September 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada hari Minggu 16 Agustus 2015 lalu ratusan ribu umat Islam ibu kota dari berbagai ormas bersatu padu merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Sebagai tanda syukur atas keberhasilan bangsa Indonesia keluar dari penjajahan selama 3.5 abad tersebut umat Islam menggelar apa yang disebut  Parade Tauhid Indonesia. Parade ini digelar dengan long march bolak balik menyusuri rute  pintu 7 Senayan  hingga bundaran air mancur HI yang setiap Minggu pagi memang dicanangkan sebagai  Car Free Day.  Artinya jalur tersebut setiap hari tersebut memang bebas dari segala jenis kendaraan kecuali bus way yang mempunyai jalur tersendiri. Ini biasanya dimanfaatkan masyarakat ibu kota untuk berjalan kaki, lari pagi atau bersepeda santai.

Pada panggung utama pintu 7 tampak sejumlah ulama diantaranya, KH. Abdullah Syafi”i, KH. Cholil Ridwan, KH. Abu Jibriel, KH. Arifin Ilham, KH. Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Syiahb, KH. Muhammad al-Khathththath, Ustadz Edi Mulyadi dan Ustadz Haikal Hasan. Dari tempat tersebut, setelah mendengarkan tausiyah dari beberapa ulama yang hadir, paradepun dilepas oleh ustadz Fadzlan Garamatan. Selanjutnya dibawah pimpinan laskar FPI,  dengan mengusung  bentangan bendera sepanjang 3 km dengan tulisan kalimat tauhid di atasnya ( Laa ilah ill Allah yang artinya Tidak ada Tuhan selain Allah), peserta berjalan menuju bunderan HI.

-ribuan-warga-dari-sejumlah-ormas-islam-menggelar-parade-_150816144743-896parade tauhidTak ayal lagi pemandangan bak lautan putih yang merupakan “Dress Code “ peserta memenuhi jalan protokol ibu kota. Acara ini berlangsung tertib aman dan terkendali dari pukul 7 pagi hingga menjelang Zuhur. Berbagai spanduk berisikan pesan Islami terlihat bertebaran, seperti “ Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”, “ Tauhid itu beriman kepada qada dan qadar”, “ Tauhid itu memilih pemimpin ber-Tauhid”, “ Tolak Komunis dan Syiah di wilayah NKRI”, “ Nikah itu tidak sama dengan Mut’ah” dsb.

Acara ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah di tempat acara dibuka, yaitu pintu 7 Senayan.   Selanjutnya ratusan relawan kebersihan yang memang sudah disiapkan sebelumnya dengan sigap membersihkan jalanan yang baru saja digunakan parade.

Pertanyaannya apa sebenarnya tujuan acara perayaan kemerdekaan yang tak seperti biasanya ini. Meski parade tauhid seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali diadakan, karena pada tanggal 15 Mei lalu Solo menyelenggarakan acara yang sama.

“Dengan semangat menyambut Ramadhan 1436 ini semoga acara Parade Tauhid ini menjadi ajang kembalinya Ummat Islam kepada fitrah mereka dan tauhid yang murni dan tegaknya kalimah Allah subhanahu wata’ala. Aammiin,” demikian ustadz Lim panggilan ustadz Abdul Rochim Baasyir, dari Dewan Syariah Kota Surakarta berpesan sebelum acara dimulai.

Berikut rekaman video penjelasan ustadz Haikal Hasan sebagai ketua Parade Tauhid Indonesia di Jakarta.

https://www.youtube.com/watch?v=_FXyDfpbYLc

Intinya tujuan parade Tauhid baik yang diselenggarakan di Solo maupun di Jakarta adalah sama, yaitu mengingatkan kembali perlunya persatuan dibawah panji Laa ilaha illaAllah. Karena memang yang menjadi awal kekuatan untuk keluar dari berabad-abad penjajahan kolonial Belanda dan Jepang adalah agar dapat bebas menjalankan kemurnian ibadah kepada Allah Yang Satu. Itu sebabnya mengapa gaung  “Allahuakbar “ yang artinya Allah Maha Besar, menjadi kalimat penyemangat ketika pertempuran sengit merebut kemerdekaan terjadi.

Ironisnya kalimat takbir yang terdengar begitu menakutkan telinga penjajah yang notabene kafir itu, belakangan mulai dicoba untuk dikecilkan dan dikucilkan. Ajaibnya lagi, hal ini dilakukan oleh sekelompok pihak yang mengaku Muslim,  dengan alasan mengganggu ketenangan lingkungan. Oleh karenanya hanya boleh dikumandangkan di lingkungan masjid, itupun tidak boleh sampai terdengar dari luar masjid. Na’ udzubillah min dzalik … Ini Indonesia lho yang mayoritas penduduknya Muslim, bukan Perancis atau Negara Barat lainnya dimana Muslim adalah minoritas. Apa yang terjadi dengan negri ini???

IMG-20150823-WA0005Bahkan belum lama ini pemerintah, kemendagri dalam hal ini, telah melontarkan ide Islam Nusantara dengan fiqih nusantaranya yang salah satunya menyatakan bahwa pemimpin tidak harus beragama Islam. Tampak bahwa pemerintah kurang peka terhadap rakyatnya. Karena ketika untuk pertama kali istana menyelenggarakan suatu acara dengan pembukaan pembacaan ayat suci dengan langgam Jawa, sebagian besar ulama telah memprotesnya. Namun ternyata inilah yang terjadi, pemikiran Islam Nusantara tetap direalisasikan. Tak tanggung-tanggung bahkan kemendagri telah resmi mengeluarkan ajakan siapapun yang berminat dipersilahkan mengirimkan tulisan/hasil karya yang mendukung ide tersebut dengan imbalan 50 juta rupiah !!IMG-20150823-WA0006 (2)

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya(isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya”.  Lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga sedikit. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan” .(Terjemah QS. Ali Imran(3):187).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Tampak jelas bahwa para pemimpin hari ini telah menyia-nyiakan amanah yang mereka pegang. Mereka telah memilah-milah ayat Al-Quran dan hadist demi kepentingan kelompok tertentu. Seperti juga yang dilakukan orang-orang Syiah dan JIL ( Jaringan Islam Liberal ) yang demi mencari muka dan simpati orang-orang kafir, berani menyatakan bahwa semua agama adalah benar, agama adalah urusan pribadi yang sifatnya ukhrawi maka harus dipisahkan dari urusan duniawi. Serta menakwilkan ayat-ayat sesuai kebutuhan mereka.

Disamping pentingnya rasa persatuan, parade Tauhid juga bertujuan menyadarkan kembali bahwa hidup ini senantiasa diawasi Sang Khalik, Allah swt, penguasa bumi dan langit, raja dari segala raja. Jangan lupa, sila pertama kita adalah Ketuhanan, yang berarti setiap warga negara baik Muslim maupun tidak, harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang dengan demikian maka seharusnya semua orang  Indonesia wajib takut berbuat kejahatan, salah satunya yaitu korupsi. Sebuah penyakit mental kronis yang tampaknya telah melanda hampir semua pejabat dan mantan pejabat di negri tercinta ini.  Padahal penyakit ini sejatinya lebih parah dari “ sekedar” makan babi, karena bagaimanapun perbuatan ini masih bisa dimaafkan dalam keadaan amat sangat terpaksa. Tapi tidak demikian dengan korupsi. Karena perbuatan memakan hak orang lain itu haram hukumnya tanpa ada kekecualian.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . ( Terjemah QS. An-Nahl(16):115).

Yang juga tak kalah pentingnya, parade Tauhid sebenarnya juga adalah ajang unjuk kekuatan demi menjaga jalannya pemerintahan yang baik. Ini penting, agar para pemimpin tidak seenaknya saja mengelola Negara. Mereka harus ingat dan menyadari bahwa mereka dipilih dan diangkat oleh rakyat, dengan tujuan untuk melindungi rakyat, menjaga kepentingan rakyat agar seluruh rakyat dan bangsa ini dapat hidup tenang, aman, makmur dan  sejahtera. Hingga dengan demikian dapat beribadah kepada Tuhannya dengan tenang.

“ Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Terjemah QS. Az-Zariyat(56):51).

Parade unjuk kekuatan seperti ini pernah dilakukan Rasulullah dan pasukannya ketika memasuki Mekah yaitu pada Fathu Makkah atau penaklukan Mekah . Waktu itu Mekah masih dikuasai Musryikin Quraisy. Sementara Islam di Madinah telah berhasil menaklukan hati banyak orang. Mekah harus dikuasai karena disinilah Kabah berada  dan di kota ini pula ayat suci Al-Quranul Karim turun untuk pertama kalinya. Disamping Mekah memang adalah kota kelahiran kaum  Muhajirin dimana mereka harus berhijrah ke Madinah meninggalkan sanak saudara dan perniagaan mereka demi dapat menjalankan agama barunya itu, yaitu Islam.

Namun demikian Rasulullah ingin agar korban jatuh sesedikit mungkin. Beliau tidak ingin perang saudara terjadi  di kota suci ini, kecuali terpaksa. Sementara itu sehari sebelum hari penaklukan, Abu Sufyan, pemimpin Quraisy Mekah,  telah masuk Islam walaupun secara paksa. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah sekaligus sahabat Abu Sufyan yang memaksanya masuk Islam. Ini ia lakukan  karena ia tahu sebenarnya Abu Sufyan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang sesungguhnya dan Muhammad adalah Rasul-Nya.  Namun karena gengsi dan kebiasaannya yang gila hormat dan kebesaran ia masih ragu untuk bersyahadat. Ia khawatir ditinggalkan masyarakat dan pendukungnya.

Untuk itulah maka Rasulullah memutuskan untuk memasuki Mekah dengan segenap atribut kebesaran dan kemegahannya. Rasulullah datang dengan membawa 100 ribu pasukannya.  Tujuan tak lain agar Abu Sufyan, benar-benar takluk dan hatinya mantab  memeluk Islam.  Hingga dengan demikian ia dapat mempengaruhi penduduk Mekah agar mau menerima Islam tanpa banyak perlawanan.  Hingga dengan demikian tidak perlu terjadi pertumpahan darah.

“ Selamatkanlah kaummu !”, ujar Abu Sufyan yang memasuki Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Begitulah, ternyata strategi yang digunakan Rasulullah ini benar-benar berhasil. Mekkah segera takluk tanpa perlawanan kecuali sedikit. Seluruh penduduknyapun lalu bersyahadat.  Di kemudian hari,  Abu Sufyan sendiri berhasil membuktikan keseriusannya dalam ber-Islam. Ia tercatat telah ikut berperang beberapa kali bersama pasukan Islam. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia bahkan kehilangan salah satu matanya.

( Baca:  http://vienmuhadisbooks.com/2011/05/27/xxv-penaklukkan-mekah-fathu-makkah-1/ ).

Dengan mengambil hikmah peristiwa diatas itulah panitia penyelenggara ingin menyentil kaum Muslimin terutama yang kurang PD atas ke-Islam-annya seperti Abu Sufyan di awal ke-Islam-annya. Untuk menunjukkan betapa Islam adalah ajaran yang sempurna. Bahwa Islam bukanlah agama teror seperti yang dituduhkan Barat selama ini. Bahkan banyak sekali aturan dan hukum Islam bila diterapkan dengan baik pasti dapat mengeluarkan bangsa ini dari segala kesulitan.

Islam menawarkan berbagai solusi, diantaranya bagaimana mengatasi kemiskinan di negri yang dianugerahi kekayaan alam tak terhingga ini. Pemberdayaan zakat umat Muslim yang merupakan 87 % penduduk Indonesia adalah salah satu contohnya.  Bila zakat sebesar 2.5 % per  wajib zakat ini bisa dikelola pemerintah dengan baik, dapat dipastikan Indonesia tidak perlu harus berhutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, ADB dll yang pasti memiliki kepentingan tertentu dan membuat bangsa ini sulit menentukan masa depan sendiri.  Tidak perlu bangsa ini merengek minta dibelas-kasihani bangsa lain dan merendahkan harga diri bangsa. Apalagi hingga menjual keimanan.

Baitul Maal, yang bisa disamakan dengan Lembaga Keuangan Negara saat ini, telah diterapkan sejak awal Rasulullah menjadi pemimpin di Madinah.  Rasulullah mengangkat secara langsung petugas yang harus memungut zakat sekaligus mendistribusikannya kepada yang berhak. Para petugas ini dibekali dengan petunjuk tehnis operasional, bimbingan sekaligus ancaman sanksi agar zakat dapat dikelola dengan sebaik-baiknya.  Muadz bin Jabal adalah salah satu petugas yang ditunjuk Rasulullah untuk mengurusi zakat di Yaman.

Begitu pula di zaman Khalifatul Rasyidin. Baik Abu Bakar, Umar, Ustman maupun Ali menerapkan sistim yang sama. Baitul maal bukan hanya sekedar mengurusi zakat, tapi juga sebagai lembaga keuangan Negara yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk kepentingan umum. Seperti rumah sakit umum, sekolah, perumahan rakyat dan lain-lain. Dan ini semua hanya dapat terlaksana ketika setiap orang sadar harus menjalankan Islam dengan iman dan ihsan, secara kaffah/menyeluruh, tidak setengah-setengah.

Termasuk didalamnya menerapkan toleransi terhadap umat beragama lain. Ketika itu umat Yahudi dan Nasrani diberi kebebasan menjalankan agama masing-masing, selama mereka mau tunduk kepada negara. Dan  sebagaimana umat Islam yang wajib membayar zakat, mereka juga dikenai pajak yang disebut jiziyah. Bersama mereka membangun Negara.  Inilah kunci keberhasilan dan kejayaan Islam di masa lalu.

Ini baru zakat belum lagi infak sodaqoh serta wakaf yang jumahnya juga pasti sangat besar. Malaysia dan Brunei Darusalam adalah contoh 2 negara tetangga yang sukses menjadikan negaranya kaya berkat sistim ini.

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Agustus 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Tragedi Tolikara

Tolikara, sebuah kabupaten di propinsi ujung timur sana tiba-tiba namanya mencuat. Distrik subur yang terletak di Papua bagian tengah dan terdiri atas 4 kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.234 km2 dan penduduk sebanyak 54.821 jiwa (2003). Ibukota Tolikara terletak di Karubaga. Tolikara mempunyai 2 bandara yaitu di Karubaga dan Kanggime. Selain ke dua kota tersebut wilayah ini sangat sulit dijangkau baik melalui darat maupun udara. Dari udara,  Karubaga dan Kanggime dapat ditempuh dalam waktu 20  menit melalui Wamena.

Berita dari Tolikara datang karena adanya penyerangan terhadap jamaah yang sedang melakukan shalat Ied di halaman Koramil 1702 / JWY tepat pada hari Raya Iedul Fitri 1436 H yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli lalu. Saat itu imam sedang mengucapkan takbir pertama ketika tiba-tiba sekelompok orang mendekati jamaah sambil berteriak-teriak dan melempari jamaah dengan batu.

Jamaahpun segera bubar ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri ke markas Koramil. Namun tak lama kemudian terlihat asap api membumbung tinggi. Rupanya sejumlah rumah milik kaum Muslimin,  pasar dan masjid yang terletak tak jauh dari lokasi telah habis dilalap api.

masjid Tolikara dibakar saat solat iedul fitriApa yang sebenarnya terjadi??? Berita yang kemudian muncul terlihat simpang siur dan berubah-rubah. Metro tv yang tercatat melaporkan berita paling awal, yaitu tak sampai 1 jam setelah tragedi, juga segera meralat berita yang disebarkannya sendiri. Tampak jelas bahwa kantor-kantor berita sekuler ( baca : pro non Muslim ) seperti Metro tv, Kompas dan Tempo tidak ingin memberikan kesan bahwa umat Islam adalah pihak yang dirugikan. Meski jelas terbukti kegiatan shalat Ied telah terganggu bahkan masjid, sejumlah kios dan puluhan rumah penduduk Muslim telah hangus terbakar!

Dengan teganya mereka meralat bahwa yang terbakar bukan masjid melainkan “hanya”musola, itupun karena terkena imbas api yang membakar deretan kios dan rumah penduduk. Ini masih ditambah pernyataan bahwa itu semua terjadi gara-gara pasukan keamanan yang tidak dapat mengatasi massa yang berusaha berkomunikasi mencegah dilaksanakannya shalat Ied, hingga menyebabkan adanya yang tertembak dan akhirnya membuat mereka mengamuk. ???

Belum lagi pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa pengeras suara masjid adalah biang keladinya, karena telah mengganggu mayoritas penduduk yang memang non Muslim itu. Padahal kenyataan di lapangan mengatakan bahwa umat Islam di Tolikara sejak dulu tidak pernah menggunakan pengeras suara. Kapolres Tolikara AKBP Suroso yang ikut shalat Ied ketika kejadian adalah salah satu saksi yang mengatakan tidak ada speaker saat pelaksanaan shalat tersebut.

Tolikara1Bahkan ketika terdapat laporan bahwa di Tolikara bendera dan lambang Israel banyak ditemui di wilayah tersebut dengan ringannya Tedjo Edy, menko polhukam meminta semua pihak tidak mempersoalkan hal tersebut. Mungkin pak mentri lupa bahwa Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik  dengan negara Zionis tersebut, karena tidak sesuai dengan UUD kita. Lebih-lebih lagi yang dijajah adalah Palestina yang tidak dapat dipungkiri mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dengan rakyat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” (Pembukaan UUD 1945)

“Memang mereka mengundang, ya kayak kita mengundang dari Arab, dari mana, ya sama saja, dibagi undangan. Tapi yg saya dengar ya itu penggeraknya orang-orang kita juga, dibagi undangan,” pungkas dia. Ntah apa alasannya harus membandingkannya dengan orang Arab.

( http://www.merdeka.com/peristiwa/menko-polhukam-minta-bendera-israel-ada-di-tolikara-tak-dipersoalkan.html ).

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/24/nrz2yy257-gidi-denda-warga-yang-tak-mengecat-rumah-dengan-warna-israel ).

( http://www.dakta.com/news/2039/ada-apa-hubungan-gidi-dengan-israel ).

Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sejumlah ulama yang peduli akan hal tersebut segera membentuk tim pencari fakta dengan nama  Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT). Komite yang diketuai uztad Bachtiar Nasir ini pada hari Selasa (21/7/2015) memberangkatkan tim penyidik langsung ke lokasi. Tim kecil dibawah pimpinan uztad  Fazdlan Garamatan, yang merupakan putra asli Papua ini datang ke lokasi bersama 7 anggota tim dari berbagai latar belakang ilmu. KOMAT mendesak TNI dan Polri untuk menindak unsur-unsur dan atribut yang mengarah pada keterlibatan pihak asing yang tidak bertanggungjawab. Berikut 7 poin pernyataan sikap KOMAT:

http://www.jurnalislam.com/nasional/read/695/pernyataan-sikap-komite-umat-untuk-tolikara.html

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI ( Gereka Injil Di Indonesia) di Jayapura, disebutkan jelas bahwa pada 15 Juli-19 Juli GIDI akan menyelenggarakan seminar dan KKR ( Kebaktian Kebangunan Rohani) Internasional DIGI di Kaburaga kabupaten Tolikara. Acara ini akan dihadiri pendeta asal Israel bernama Benjamin Berger. Maka demi suksesnya perhelatan akbar tersebut dikeluarkanlah surat edaran Badan Pekerja Wilayah Toli Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), dengan nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015. Surat edaran tersebut antara lain melarang umat Islam melakukan shalat Ied yang jatuh di antara hari-hari acara, yaitu Jumat tanggal 17 Juli di wilayah mereka. Ini masih ditambah lagi dengan pelarangan pemakaian jilbab pada tanggal-tanggal tersebut!

Untuk diketahui bupati Tolikara, Usman Wanimbo menyatakan Tolikara adalah rumah GIDI berkat adanya perda yang telah disahkan DPRD pada tahun 2013. Jadi menurutnya sah-sah saja bila wilayahnya itu melarang rumah  ibadah lain termasuk gereja selain milik GIDI. Musola ada karena sebelum itu memang sudah ada, ujarnya. Usman sendiri menjabat sebagai bupati Tolikara sejak 10 Juli 2012

(http://www.dakwatuna.com/2015/07/22/71924/benarkah-ada-perda-atur-hanya-gereja-gidi-yang-boleh-berdiri-di-tolikara/#axzz3hA1S0MEI ).

Sementara itu kapolri jenderal polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa pertemuan internasional yang diselenggarakan GIDI di Tolikara bermasalah. Karena acara internasional yang mengundang orang asing itu tidak mengajukan izin ke Mabes Polri.

Pada Rabu, 22 Juli 2015 di Jakarta, Badrodin juga memastikan bahwa surat edaran yang diterbitkan GIDI tersebut asli, dan tengah dikoordinasikan agar segera dicabut.

( http://www.atjehcyber.net/2015/07/kapolri-surat-edaran-gidi-di-tolikara.html?m=1 ).

Ia menjelaskan, ketika surat edaran itu diterima oleh kapolres Tolikara, kapolres langsung berkoordinasi dengan presiden GIDI dan bupati Tolikara yang tengah berada di Jakarta. Bupati kemudian berkoordinasi langsung dengan panitia di Tolikara dan meminta agar surat tersebut dicabut.

“Kemarin saya cek, memang penjelasan dari pendeta yang menandatangani, surat itu sudah dicabut. Tapi, sampai kejadian itu, kapolres belum menerima (surat) tertulisnya,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu ada sumber yang mengatakan bahwa OPM ( Organisasi Papua Merdeka) terlibat  pada kerusuhan Tolikara. Referendum yang kabarnya pernah dilontarkan Jokowi adalah salah satu pemicunya.

http://berita-nasional-aktual.blogspot.com/2015/07/isu-jokowi-janjikan-referendum-papua.html

“Pak Jokowi memang banyak memberikan janji yang tidak dipenuhinya. Tapi isu janji untuk referendum bagi Papua, ini saya kira sudah kelewatan. Karena itu Jokowi harus segera menyikapinya karena ini masalah yang sangat penting dan bukan sekedar janji kampanye biasa,” ujar pakar Hukum Tata Negara Margarito, Kamis (23/7).

Menurut Margarito, isu ini kembali muncul dikaitkan dengan terus bergejolaknya Papua. Padahal ujarnya, isu ini sudah lama beredar sejak kampanye Pilpres 2014 lalu dan kembali hangat dibicarakan karena insiden Tolikara.

Selanjutnya setelah melakukan penelusuran, Tim Pencari Fakta (TPF) KOMAT berkesimpulan bahwa insiden yang terjadi di Tolikara bukanlah kriminal biasa. Bahkan ada indikasi bahwa  korban yang meninggal tertembak kabarnya terjadi sebelum aparat memberikan tembakan peringatan kepada massa yang jumlahnya makin menggurita hingga 3000 orang.

 “Insiden Tolikara sama sekali bukan kasus kriminal biasa. Dan bukan kasus spontanitas. Namun ditengarai ada upaya untuk menciptakan dan mengusik kehidupan beragama secara sistematis. Faktanya massa yang mengepung jamaah shalat Ied berasal dari tiga titik, dan ada suara-suara yang mengomando penyerangan,” jelas Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan saat jumpa pers di Jakarta, pada Jumat (31/07/2015).

http://nasional.kompas.com/read/2015/07/22/19264031/Komite.Umat.untuk.Tolikara.Tak.Ada.Sejarahnya.Orang.Papua.Perang.karena.Agama

Di samping itu, Komat juga berkesimpulan bahwa presiden GIDI patut menjadi tersangka. Sebab ia tidak mengindahkan serta abai terhadap peringatan yang telah diberikan Kapolres hingga mengakibatkan insidenpun terjadi.

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/31/tpf-tragedi-tolikara-termasuk-pelanggaran-ham-berat.html

Akhirnya, TPF menyimpulkan dengan yakin tanpa keraguan bahwasanya GIDI adalah teroris Zionis yang bukan hanya menistakan Islam, namun ia juga telah menistakan Kristen, bahkan menistakan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwa GIDI adalah teroris Zionis internasional yang sangat berbahaya.

Namun dibalik itu semua ada hikmah yang lebih penting dari segalanya, diantaranya yaitu dibangunnya sebuah masjid yang sejatinya ingin dilarang di Tolikara. Terlebih lagi masjid itu bukan masjid seadanya seperti yang telah dibakar sebelumnya melainkan masjid besar dengan fondasi yang kokoh. Dan ini semua berkat partisipasi sebagian besar umat Muslim di Indonesia. Yang kedua bahwa sejak lama Islam telah tersebar di bumi Cendrawasih, Papua. Bahkan uztad Fadzlan memperkirakan tidak kurang dari 40 % penduduk Papua saat ini adalah Muslim.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian lakukan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Akhir kata, semoga pemerintah mau mendengar dan menindak-lanjuti temuan berharga di atas. Karena ada kabar tokoh agama Islam di kabupaten Tolikara yaitu uztad Ali Muchtar sepakat agar penyelesaian masalah di Tolikara diselesaikan secara adat. Ia meminta agar proses hukum yang sedang ditangani pemerintah dihentikan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/30/nsax45354-proses-hukum-insiden-tolikara-minta-dihentikan-ini-jawaban-polda-papua

Berikut sebuah pesan dari Buya Gusrizal Gazahar yang sangat baik untuk kita renungkan.

“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

(Pesan dari Ranah Minang Untuk Penguasa Negeri)

Toleransi yang tuan-tuan minta, telah diberikan oleh umat Islam dalam kurun waktu yang begitu lama.

Tak pernah terhambat lonceng gereja berbunyi di tengah mayoritas negeri ini.

Tak pernah terhalang hio terbakar walaupun dilakukan oleh mereka yang minoritas.

Kalau ada insiden yang terjadi di tengah mayoritas negeri ini, cobalah telusuri akar permasalahannya !

Ketika berbagai aturan diterabas dan mereka masuk ke jantung umat Islam dengan kepalsuan dan kebohongan untuk melakukan pemurtadan, reaksi umat yang tersinggung tak pernah melampaui batas melainkan setelah didiamkan tanpa mendapatkan keadilan.

Para penganut ajaran sesat SEPILIS dan lainnnya bisa saja melemparkan tuduhan berbungkus kalimat “berkaca diri” kepada umat Islam.

Tanpa peduli fakta di lapangan, mereka menyalahkan mayoritas sesuai “tradisi nusantara mereka” selama ini.

Namun kami tak akan bergeming dari prinsip karena mereka adalah agen-agen yang melacurkan diri demi kenikmatan duniawi.

( Baca lengkap :

https://www.facebook.com/permalink.php?id=347742858765176&story_fbid=395357670670361 ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Agustus 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadar yang berarti malam kemuliaan, sebagaimana digambarkan surat ke 97 yaitu surat Al-Qadar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud Al Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan ( Lailatul Qadar) adalah Al-Quran yang diturunkan ke langit dunia ( Daarul Izzah). Seperti kita ketahui Al-Quran itu turun ke langit dunia sekaligus. Setelah itu baru diturunkan ke dunia dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafatnya  beliau.

Imam An-Nasa’I (no. 7991) meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : “……dan Al-qur’an diletakkan di Baitil Izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad saw.”

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( Terjemah QS. Al Isra (17):106).

http://zarkasih20.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran-lailatul-qodar-atau-17.html

Asbabun Ayat surat Al-Qadar:

Ibnu Abi Hatim dan al Wahidi dari Mujahid meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menyebut tentang seorang laki-laki dari bani Israel yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan secara berterusan. Kaum Muslimin berasa kagum dengan perjuangan orang tersebut, sekaligus merasa iri atas ketangguhan dan keberuntungan lelaki bernama Syam`un Al-Ghazy tersebut. Mereka merasa tak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk beribadah dalam kurun waktu selama itu mengingat usia kaum Muslimin yang tidak sepanjang umur umat nabi-nabi lain.

Untuk itu maka Allah menurunkan surah Al- Qadr, yang menerangkan bahwa satu malam Lailatul Qadar itu lebih lebih baik daripada perjuangan lelaki dari bani Israel selama 1000 bulan tersebut.

http://asbabunnuzulharjin.blogspot.com/2013/07/surah-al-qadr.html

Dari Aisyah ra bahwasanya ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

I’tikaf adalah diam/menetap di masjid dalam rangka mengingat kebesaran Allah swt, bertafakur, berzikir, bersyukur atas segala yang telah diberikan kepada kita. Caranya dengan memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Quran serta mengkajinya.

Sebenarnya di zaman sebelum kenabian, Rasulullahpun sudah terbiasa melakukan kegiatan semacam itu. Yaitu ber-khalwah / tahanuts di gua Hira. Ketika itu Rasulullah merasa sangat prihatin atas keadaan masyarakat Mekkah yang bejat dimana perzinahan, mabuk-mabukan dan yang semacamnya sudah menjadi kelaziman. Rasulullah berkhalwah selama 3 tahun di bulan Ramadhan hingga datangnya masa kenabian. Dan sejak turunnya surat Al-Qadar diatas Rasulullah mengganti kegiatan tersebut dengan I’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Perumpamaan I’tikaf sebagaimana dicontohkan Rasulullah adalah seperti grasi yang diberikan kepala Negara kepada seorang tahanan. Nah bila seorang kepala Negara saja bisa dan mempunyai hak untuk mengampuni seseorang apalagi Allah swt Yang Maha Pengampun.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam pengampunan itu terjadi pada malam Lailatul Qadar yaitu pada salah satu malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Allah swt sengaja merahasiakan malam tersebut agar umat Islam yang menginginkan pengampunan tersebut benar-benar berusaha mencarinya secara serius. Tentu bukan hal yang memberatkan bila dibandingkan ganjarannya yaitu seolah berjihad sepanjang 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun!

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa berikut:

”Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni”, yang artinya: “Ya Allah Engkau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku”.

Ada riwayat mengatakan “afuwwun” lebih tinggi dari pada “ ghofur” karena afuwwun bermakna tidak hanya mengampuni dosa tapi juga menghapus catatan dosa tersebut. Sedangkan ghofur mengampuni tapi catatan dosa tersebut masih tetap ada.

Malam itu  para malaikat memenuhi bumi untuk melihat dan mencatat siapa saja hamba Allah yang malam itu hadir menghidupkan malamnya demi meraih “grasi”keberkahan istimewa dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Tentunya hanya hamba yang takwa, yang selama awal Ramadhan telah sungguh-sungguh mempersiapkan peristiwa istimewa ini, atau bahkan mungkin selama setahun terakhir, yang beruntung didatangi para  malaikat di malam penuh berkah tersebut. Dan untuk mengetahui bahwa seseorang telah sukses meraih malam tersebut pasti akan terlihat dari sikapnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juli 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »