Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Tragedi Tolikara

Tolikara, sebuah kabupaten di propinsi ujung timur sana tiba-tiba namanya mencuat. Distrik subur yang terletak di Papua bagian tengah dan terdiri atas 4 kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.234 km2 dan penduduk sebanyak 54.821 jiwa (2003). Ibukota Tolikara terletak di Karubaga. Tolikara mempunyai 2 bandara yaitu di Karubaga dan Kanggime. Selain ke dua kota tersebut wilayah ini sangat sulit dijangkau baik melalui darat maupun udara. Dari udara,  Karubaga dan Kanggime dapat ditempuh dalam waktu 20  menit melalui Wamena.

Berita dari Tolikara datang karena adanya penyerangan terhadap jamaah yang sedang melakukan shalat Ied di halaman Koramil 1702 / JWY tepat pada hari Raya Iedul Fitri 1436 H yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli lalu. Saat itu imam sedang mengucapkan takbir pertama ketika tiba-tiba sekelompok orang mendekati jamaah sambil berteriak-teriak dan melempari jamaah dengan batu.

Jamaahpun segera bubar ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri ke markas Koramil. Namun tak lama kemudian terlihat asap api membumbung tinggi. Rupanya sejumlah rumah milik kaum Muslimin,  pasar dan masjid yang terletak tak jauh dari lokasi telah habis dilalap api.

masjid Tolikara dibakar saat solat iedul fitriApa yang sebenarnya terjadi??? Berita yang kemudian muncul terlihat simpang siur dan berubah-rubah. Metro tv yang tercatat melaporkan berita paling awal, yaitu tak sampai 1 jam setelah tragedi, juga segera meralat berita yang disebarkannya sendiri. Tampak jelas bahwa kantor-kantor berita sekuler ( baca : pro non Muslim ) seperti Metro tv, Kompas dan Tempo tidak ingin memberikan kesan bahwa umat Islam adalah pihak yang dirugikan. Meski jelas terbukti kegiatan shalat Ied telah terganggu bahkan masjid, sejumlah kios dan puluhan rumah penduduk Muslim telah hangus terbakar!

Dengan teganya mereka meralat bahwa yang terbakar bukan masjid melainkan “hanya”musola, itupun karena terkena imbas api yang membakar deretan kios dan rumah penduduk. Ini masih ditambah pernyataan bahwa itu semua terjadi gara-gara pasukan keamanan yang tidak dapat mengatasi massa yang berusaha berkomunikasi mencegah dilaksanakannya shalat Ied, hingga menyebabkan adanya yang tertembak dan akhirnya membuat mereka mengamuk. ???

Belum lagi pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa pengeras suara masjid adalah biang keladinya, karena telah mengganggu mayoritas penduduk yang memang non Muslim itu. Padahal kenyataan di lapangan mengatakan bahwa umat Islam di Tolikara sejak dulu tidak pernah menggunakan pengeras suara. Kapolres Tolikara AKBP Suroso yang ikut shalat Ied ketika kejadian adalah salah satu saksi yang mengatakan tidak ada speaker saat pelaksanaan shalat tersebut.

Tolikara1Bahkan ketika terdapat laporan bahwa di Tolikara bendera dan lambang Israel banyak ditemui di wilayah tersebut dengan ringannya Tedjo Edy, menko polhukam meminta semua pihak tidak mempersoalkan hal tersebut. Mungkin pak mentri lupa bahwa Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik  dengan negara Zionis tersebut, karena tidak sesuai dengan UUD kita. Lebih-lebih lagi yang dijajah adalah Palestina yang tidak dapat dipungkiri mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dengan rakyat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” (Pembukaan UUD 1945)

“Memang mereka mengundang, ya kayak kita mengundang dari Arab, dari mana, ya sama saja, dibagi undangan. Tapi yg saya dengar ya itu penggeraknya orang-orang kita juga, dibagi undangan,” pungkas dia. Ntah apa alasannya harus membandingkannya dengan orang Arab.

( http://www.merdeka.com/peristiwa/menko-polhukam-minta-bendera-israel-ada-di-tolikara-tak-dipersoalkan.html ).

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/24/nrz2yy257-gidi-denda-warga-yang-tak-mengecat-rumah-dengan-warna-israel ).

( http://www.dakta.com/news/2039/ada-apa-hubungan-gidi-dengan-israel ).

Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sejumlah ulama yang peduli akan hal tersebut segera membentuk tim pencari fakta dengan nama  Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT). Komite yang diketuai uztad Bachtiar Nasir ini pada hari Selasa (21/7/2015) memberangkatkan tim penyidik langsung ke lokasi. Tim kecil dibawah pimpinan uztad  Fazdlan Garamatan, yang merupakan putra asli Papua ini datang ke lokasi bersama 7 anggota tim dari berbagai latar belakang ilmu. KOMAT mendesak TNI dan Polri untuk menindak unsur-unsur dan atribut yang mengarah pada keterlibatan pihak asing yang tidak bertanggungjawab. Berikut 7 poin pernyataan sikap KOMAT:

http://www.jurnalislam.com/nasional/read/695/pernyataan-sikap-komite-umat-untuk-tolikara.html

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI ( Gereka Injil Di Indonesia) di Jayapura, disebutkan jelas bahwa pada 15 Juli-19 Juli GIDI akan menyelenggarakan seminar dan KKR ( Kebaktian Kebangunan Rohani) Internasional DIGI di Kaburaga kabupaten Tolikara. Acara ini akan dihadiri pendeta asal Israel bernama Benjamin Berger. Maka demi suksesnya perhelatan akbar tersebut dikeluarkanlah surat edaran Badan Pekerja Wilayah Toli Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), dengan nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015. Surat edaran tersebut antara lain melarang umat Islam melakukan shalat Ied yang jatuh di antara hari-hari acara, yaitu Jumat tanggal 17 Juli di wilayah mereka. Ini masih ditambah lagi dengan pelarangan pemakaian jilbab pada tanggal-tanggal tersebut!

Untuk diketahui bupati Tolikara, Usman Wanimbo menyatakan Tolikara adalah rumah GIDI berkat adanya perda yang telah disahkan DPRD pada tahun 2013. Jadi menurutnya sah-sah saja bila wilayahnya itu melarang rumah  ibadah lain termasuk gereja selain milik GIDI. Musola ada karena sebelum itu memang sudah ada, ujarnya. Usman sendiri menjabat sebagai bupati Tolikara sejak 10 Juli 2012

(http://www.dakwatuna.com/2015/07/22/71924/benarkah-ada-perda-atur-hanya-gereja-gidi-yang-boleh-berdiri-di-tolikara/#axzz3hA1S0MEI ).

Sementara itu kapolri jenderal polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa pertemuan internasional yang diselenggarakan GIDI di Tolikara bermasalah. Karena acara internasional yang mengundang orang asing itu tidak mengajukan izin ke Mabes Polri.

Pada Rabu, 22 Juli 2015 di Jakarta, Badrodin juga memastikan bahwa surat edaran yang diterbitkan GIDI tersebut asli, dan tengah dikoordinasikan agar segera dicabut.

( http://www.atjehcyber.net/2015/07/kapolri-surat-edaran-gidi-di-tolikara.html?m=1 ).

Ia menjelaskan, ketika surat edaran itu diterima oleh kapolres Tolikara, kapolres langsung berkoordinasi dengan presiden GIDI dan bupati Tolikara yang tengah berada di Jakarta. Bupati kemudian berkoordinasi langsung dengan panitia di Tolikara dan meminta agar surat tersebut dicabut.

“Kemarin saya cek, memang penjelasan dari pendeta yang menandatangani, surat itu sudah dicabut. Tapi, sampai kejadian itu, kapolres belum menerima (surat) tertulisnya,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu ada sumber yang mengatakan bahwa OPM ( Organisasi Papua Merdeka) terlibat  pada kerusuhan Tolikara. Referendum yang kabarnya pernah dilontarkan Jokowi adalah salah satu pemicunya.

http://berita-nasional-aktual.blogspot.com/2015/07/isu-jokowi-janjikan-referendum-papua.html

“Pak Jokowi memang banyak memberikan janji yang tidak dipenuhinya. Tapi isu janji untuk referendum bagi Papua, ini saya kira sudah kelewatan. Karena itu Jokowi harus segera menyikapinya karena ini masalah yang sangat penting dan bukan sekedar janji kampanye biasa,” ujar pakar Hukum Tata Negara Margarito, Kamis (23/7).

Menurut Margarito, isu ini kembali muncul dikaitkan dengan terus bergejolaknya Papua. Padahal ujarnya, isu ini sudah lama beredar sejak kampanye Pilpres 2014 lalu dan kembali hangat dibicarakan karena insiden Tolikara.

Selanjutnya setelah melakukan penelusuran, Tim Pencari Fakta (TPF) KOMAT berkesimpulan bahwa insiden yang terjadi di Tolikara bukanlah kriminal biasa. Bahkan ada indikasi bahwa  korban yang meninggal tertembak kabarnya terjadi sebelum aparat memberikan tembakan peringatan kepada massa yang jumlahnya makin menggurita hingga 3000 orang.

 “Insiden Tolikara sama sekali bukan kasus kriminal biasa. Dan bukan kasus spontanitas. Namun ditengarai ada upaya untuk menciptakan dan mengusik kehidupan beragama secara sistematis. Faktanya massa yang mengepung jamaah shalat Ied berasal dari tiga titik, dan ada suara-suara yang mengomando penyerangan,” jelas Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan saat jumpa pers di Jakarta, pada Jumat (31/07/2015).

http://nasional.kompas.com/read/2015/07/22/19264031/Komite.Umat.untuk.Tolikara.Tak.Ada.Sejarahnya.Orang.Papua.Perang.karena.Agama

Di samping itu, Komat juga berkesimpulan bahwa presiden GIDI patut menjadi tersangka. Sebab ia tidak mengindahkan serta abai terhadap peringatan yang telah diberikan Kapolres hingga mengakibatkan insidenpun terjadi.

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/31/tpf-tragedi-tolikara-termasuk-pelanggaran-ham-berat.html

Akhirnya, TPF menyimpulkan dengan yakin tanpa keraguan bahwasanya GIDI adalah teroris Zionis yang bukan hanya menistakan Islam, namun ia juga telah menistakan Kristen, bahkan menistakan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwa GIDI adalah teroris Zionis internasional yang sangat berbahaya.

Namun dibalik itu semua ada hikmah yang lebih penting dari segalanya, diantaranya yaitu dibangunnya sebuah masjid yang sejatinya ingin dilarang di Tolikara. Terlebih lagi masjid itu bukan masjid seadanya seperti yang telah dibakar sebelumnya melainkan masjid besar dengan fondasi yang kokoh. Dan ini semua berkat partisipasi sebagian besar umat Muslim di Indonesia. Yang kedua bahwa sejak lama Islam telah tersebar di bumi Cendrawasih, Papua. Bahkan uztad Fadzlan memperkirakan tidak kurang dari 40 % penduduk Papua saat ini adalah Muslim.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian lakukan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Akhir kata, semoga pemerintah mau mendengar dan menindak-lanjuti temuan berharga di atas. Karena ada kabar tokoh agama Islam di kabupaten Tolikara yaitu uztad Ali Muchtar sepakat agar penyelesaian masalah di Tolikara diselesaikan secara adat. Ia meminta agar proses hukum yang sedang ditangani pemerintah dihentikan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/30/nsax45354-proses-hukum-insiden-tolikara-minta-dihentikan-ini-jawaban-polda-papua

Berikut sebuah pesan dari Buya Gusrizal Gazahar yang sangat baik untuk kita renungkan.

“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

(Pesan dari Ranah Minang Untuk Penguasa Negeri)

Toleransi yang tuan-tuan minta, telah diberikan oleh umat Islam dalam kurun waktu yang begitu lama.

Tak pernah terhambat lonceng gereja berbunyi di tengah mayoritas negeri ini.

Tak pernah terhalang hio terbakar walaupun dilakukan oleh mereka yang minoritas.

Kalau ada insiden yang terjadi di tengah mayoritas negeri ini, cobalah telusuri akar permasalahannya !

Ketika berbagai aturan diterabas dan mereka masuk ke jantung umat Islam dengan kepalsuan dan kebohongan untuk melakukan pemurtadan, reaksi umat yang tersinggung tak pernah melampaui batas melainkan setelah didiamkan tanpa mendapatkan keadilan.

Para penganut ajaran sesat SEPILIS dan lainnnya bisa saja melemparkan tuduhan berbungkus kalimat “berkaca diri” kepada umat Islam.

Tanpa peduli fakta di lapangan, mereka menyalahkan mayoritas sesuai “tradisi nusantara mereka” selama ini.

Namun kami tak akan bergeming dari prinsip karena mereka adalah agen-agen yang melacurkan diri demi kenikmatan duniawi.

( Baca lengkap :

https://www.facebook.com/permalink.php?id=347742858765176&story_fbid=395357670670361 ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Agustus 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadar yang berarti malam kemuliaan, sebagaimana digambarkan surat ke 97 yaitu surat Al-Qadar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud Al Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan ( Lailatul Qadar) adalah Al-Quran yang diturunkan ke langit dunia ( Daarul Izzah). Seperti kita ketahui Al-Quran itu turun ke langit dunia sekaligus. Setelah itu baru diturunkan ke dunia dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafatnya  beliau.

Imam An-Nasa’I (no. 7991) meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : “……dan Al-qur’an diletakkan di Baitil Izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad saw.”

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( Terjemah QS. Al Isra (17):106).

http://zarkasih20.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran-lailatul-qodar-atau-17.html

Asbabun Ayat surat Al-Qadar:

Ibnu Abi Hatim dan al Wahidi dari Mujahid meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menyebut tentang seorang laki-laki dari bani Israel yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan secara berterusan. Kaum Muslimin berasa kagum dengan perjuangan orang tersebut, sekaligus merasa iri atas ketangguhan dan keberuntungan lelaki bernama Syam`un Al-Ghazy tersebut. Mereka merasa tak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk beribadah dalam kurun waktu selama itu mengingat usia kaum Muslimin yang tidak sepanjang umur umat nabi-nabi lain.

Untuk itu maka Allah menurunkan surah Al- Qadr, yang menerangkan bahwa satu malam Lailatul Qadar itu lebih lebih baik daripada perjuangan lelaki dari bani Israel selama 1000 bulan tersebut.

http://asbabunnuzulharjin.blogspot.com/2013/07/surah-al-qadr.html

Dari Aisyah ra bahwasanya ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

I’tikaf adalah diam/menetap di masjid dalam rangka mengingat kebesaran Allah swt, bertafakur, berzikir, bersyukur atas segala yang telah diberikan kepada kita. Caranya dengan memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Quran serta mengkajinya.

Sebenarnya di zaman sebelum kenabian, Rasulullahpun sudah terbiasa melakukan kegiatan semacam itu. Yaitu ber-khalwah / tahanuts di gua Hira. Ketika itu Rasulullah merasa sangat prihatin atas keadaan masyarakat Mekkah yang bejat dimana perzinahan, mabuk-mabukan dan yang semacamnya sudah menjadi kelaziman. Rasulullah berkhalwah selama 3 tahun di bulan Ramadhan hingga datangnya masa kenabian. Dan sejak turunnya surat Al-Qadar diatas Rasulullah mengganti kegiatan tersebut dengan I’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Perumpamaan I’tikaf sebagaimana dicontohkan Rasulullah adalah seperti grasi yang diberikan kepala Negara kepada seorang tahanan. Nah bila seorang kepala Negara saja bisa dan mempunyai hak untuk mengampuni seseorang apalagi Allah swt Yang Maha Pengampun.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam pengampunan itu terjadi pada malam Lailatul Qadar yaitu pada salah satu malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Allah swt sengaja merahasiakan malam tersebut agar umat Islam yang menginginkan pengampunan tersebut benar-benar berusaha mencarinya secara serius. Tentu bukan hal yang memberatkan bila dibandingkan ganjarannya yaitu seolah berjihad sepanjang 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun!

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa berikut:

”Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni”, yang artinya: “Ya Allah Engkau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku”.

Ada riwayat mengatakan “afuwwun” lebih tinggi dari pada “ ghofur” karena afuwwun bermakna tidak hanya mengampuni dosa tapi juga menghapus catatan dosa tersebut. Sedangkan ghofur mengampuni tapi catatan dosa tersebut masih tetap ada.

Malam itu  para malaikat memenuhi bumi untuk melihat dan mencatat siapa saja hamba Allah yang malam itu hadir menghidupkan malamnya demi meraih “grasi”keberkahan istimewa dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Tentunya hanya hamba yang takwa, yang selama awal Ramadhan telah sungguh-sungguh mempersiapkan peristiwa istimewa ini, atau bahkan mungkin selama setahun terakhir, yang beruntung didatangi para  malaikat di malam penuh berkah tersebut. Dan untuk mengetahui bahwa seseorang telah sukses meraih malam tersebut pasti akan terlihat dari sikapnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juli 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com

Dalam perjalanan sejarah Islam terdapat beberapa negeri yang memiliki pemikiran yang menyimpang dan melakukan kekerasan terhadap umat Islam untuk memaksakan pemikiran mereka. Seperti yang dilakukan negeri-negeri berpaham Syiah semisal; Daulah Fatimiyah, Qaramithah, Buwaihiyah, dan Shafawiyah. Cara negeri-negeri ini bergaul dengan masyarakat Islam yaitu dengan cara permusuhan, menolak pemikiran-pemikiran pihak lain dengan kekerasan dan terorisme, siapa saja yang menolak pemikiran mereka, maka kematian adalah jawaban yang tak terbantahkan. Selain itu, negara-negara ini tidak malu-malu menjalin aliansi dengan negara-negara Salib saat Perang Salib antara muslim dan Kristen sedang berkecamuk.

Oleh karena itu, apa yang hendak kami sampaikan ini sangat penting untuk kita petik hikmahnya agar kita bisa memahami realitas kekinian dengan membandingkan apa yang terjadi pada sejarah kita. Tidak diragukan lagi, dan kita melihat dengan mata kepala kita bahwa apa yang terjadi di masa lampau terulang kembali di era modern ini. Sulit bagi kita memahami apa yang terjadi saat ini, kecuali dengan membandikannya dengan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mirip keadaannya dengan masa kini.

Jika kita mendalami sejarah, maka kita bisa menentukan sikap dimana kita akan meletakkan kaki kita. Dengan memahami sejarah Daulah Shafawi, maka kita bisa melihat negara mana di era modern ini yang rekam jejaknya mirip dengan Daulah Shafawi.

Siapakah Yang Disebut Shafawi?

Nasab orang-orang Shafawi merujuk kepada Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili (650-735 H/1251-1334 M), ia adalah kakek kelima dari Syah Ismail as-Shafawi, pendiri Daulah Shawafiyah di Iran. Ardabil adalah sebuah wilayah yang terletak di Azerbaijan. Wilayah itu banyak dihuni oleh orang-orang Turki dan Armenia atau secara umum bangsa Turk menghuni daerah tersebut.

Sebagian orang menyatakan bahwa nasab Shafiyuddin Ishaq al-Arbadili sampai kepada salah seorang putra ahlul bait, Musa bin Ja’far rahimahullah, orang Syiah menyebut beliau dengan Imam Musa al-Kazhim. Namun pendapat ini disanggah oleh para sejarawan dengan beberapa alasan:

– Istri dari Shafiyuddin Ishaq al-Ardabili, yang merupakan kerabatnya yang paling dekat tidak mengetahui nasab suaminya sampai kepada Musa al-Kazhim ‘alaihissalam (Tarikh ash-Shafawiyin wa Hadharatihim, Hal: 29).

– Para sejarawan Syiah di masa hidup Shafiyuddin Ishaq al-ardabili, tidak pernah menuliskan bahwa ia termasuk ahlul bait dari keturunan Musa bin Ja’far (Shilatun baina Tasawwuf wa Tasyyau’, Hal: 140.).

– Penulis-penulis pada masa Daulah Shafawi menisbatkan nasab Shafiyuddin Ishaq kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib, namun anaknya, Musa bin Shafiyuddin Ishaq, tidak tahu nasab ayahnya ini terhubung ke Husein atau Hasan.

– Pengakuan nasab tersebut hanya bertujuan politis untuk menjadi penguasa dan mendapat simpatik rakyat.

Berdirinya Kerajaan Shafawi, Rakyat Dipaksa Menjadi Syiah

Sebelum Daulah Syiah Shafawi berkuasa di Iran, wilayah tersebut dikuasai oleh orang-orang Mongol Dinasti Ilkhan. Madzhab resmi negeri ini adalah Ahlussunnah namun sudah terkontaminasi dengan paham tasawwuf.

Pada masa Shafiyuddin Ishaq, situasi politik di Iran dan sekitarnya dalam kondisi tidak stabil, rakyat merasa tidak puas terhadap pemerintahnya, perbuatan keji tersebar di kalangan penguasa, dll. Syiah membaca hal ini sebagai peluang mereka. Pada awalnya Syiah hanya sebagai gerakan keagamaan, namun pada masa al-Junaid –cucu Shafiyuddin Ishaq- gerakan madzhab ini berubah menjadi gerakan politik dan Sultan Haidar menetapkan bahwa nasab keluarga Shafawi bersambung dengan Musa bin Ja’far al-Kazhim (Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah fi Iran, Hal: 38).

Deklarasi Syiah sebagai gerakan politik atau pengakuan masuknya kader Syiah dalam ranah politik bertujuan untuk memperluas pengaruh mereka dan sebagai sinyal perlawanan terhadap Dinasti Ilkhan yang mulai sakit. Gerakan perlawanan mereka dimulai pada masa Fairuz Syah yang memimpin revolusi perlawanan terhadap Ilkhan dan puncaknya dicapai pada masa Syah Ismail ash-Shafawi dengan berdirinya Daulah Syiah ash-Shafawi tahun 1501. Saat itulah madzhab resmi Iran berganti menjadi Syiah, dan rakyat dipaksa untuk memeluk pemahaman ini. Syah Ismail tidak peduli bahwa mayoritas rakyatnya adalah orang-orang berpaham Ahlussunnah. Ia mengerahkan seluruh kemampuan dan pengaruhnya untuk memaksa warga beralih madzhab menjadi Syiah.

Tidak berhenti memberlakukan kebijakan tersebut di dalam negerinya, Syah Ismail juga berupaya menyebarkan paham Syiah di Daulah Ahlussunnah seperti Daulah Utsmaniyah. Masyarakat Utsmani menolak keras ajaran Syiah yang pokok pemikirannya adalah mengkafirkan para sahabat Nabi, melaknat generasi awal Islam, meyakini adanya perubahan di dalam Alquran, dll. Ketika Syah Ismail memasuki wilayah Irak, ia membunuhi umat Islam Ahlussunnah, menghancurkan masjid-masjid, dan merusak pekuburan.

Pemimpin Utsmaniyah, Sultan Salim, menanggapi serius upaya yang dilakukan oleh Syah Ismail terhadap rakyatnya. Pada tahun 920 H/1514 M, Sultan Salim membuat keputusan resmi tentang bahaya pemerintah Iran ash-Shafawi. Ia memperingatkan para ulama, para pejabat, dan rakyatnya bahwa Iran dengan pemerintah mereka ash-Shafawi adalah bahaya nyata, tidak hanya bagi Turki Utsmani bahkan bagi masyarakat Islam secara keseluruhan. Atas masukan dari para ulama, Sultan Salim mengumumkan jihad melawan Daulah Shafawiyah. Sultan Salim memerintahkan agar para simpatisan dan pengikut Kerajaan Shafawi yang berada di wilayahnya ditangkap dan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dijatuhi sangsi hukuman mati (Juhud al-Utsmaniyin li Inqadz al-Andalus).

Persekutuan Daulah Shafawiyah dengan Pasukan Salib Melawan Umat Islam

Peperangan antara Daulah Syiah Shafawi dengan umat Islam yang diwakili Turki Utsmani pun benar-benar terjadi. Sadar bahwa Turki Utsmani begitu besar untuk ditaklukkan, ash-Shafawi menjalin sekutu dengan orang-orang kafir Eropa yakni orang Kristen Portugal kemudian Kerajaan Inggris. Di antara poin kesepatakan kedua kelompok ini adalah Portugal membantu Shafawi dalam perang terhadap Bahrain, Qathif, dan Turki Utsmani.

Panglima Portugal, Alfonso de Albuquerque, mengatakan, “Saya sangat menghormati kalian atas apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Nasrani di negeri kalian. Sebagai balas jasa, saya persiapkan armada dan tentara saya untuk kalian dalam menghadapi Turki Utsmani di India. Jika kalian juga ingin menyerang negeri-negeri Arab atau Mekah, saya pastikan pasukan Portugal ada di sisi kalian, baik itu di Laut Merah, Teluk Aden, Bahrain, Qathif, atau di Bashrah, Syah Ismail akan melihat saya di Pantai Persia dan saya akan melakukan apa yang dia inginkan.” (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin).

Tawaran kerja sama Portugal ini bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, mereka menginginkan membangun sebuah pangkalan di Teluk Arab. Bantuan kerja sama militer ini juga menjanjikan pembagian wilayah taklukkan; Shafawi mendapatkan Mesir dan Portugal diiming-imingi dengan tanah Palestina (Qira-ah Jadidah di Tarikh al-Utsmaniyin). Pasukan Salib Portugal mengtahui, bekerja sama dengan negeri-negeri muslim Teluk atau mengadakan kontak senjata dengan mereka akan berbuah kegagalan terhadap misi mereka. Shafawi adalah pilihan tepat bagi mereka untuk masuk memuluskan misi mereka di dunia Arab.

Selain bekerjasama dengan Portugal, Shafawi juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Inggris untuk memerangi umat Islam di Irak. Di Irak mereka membunuh 7000 warga Ahlussunnah dari Suku Kurdi, melarang mereka menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan memaksa umat Islam di sana untuk berhaji ke Kota Masyhad, Iran, kota yang mereka yakini tempat kelahiran imam mereka, Imam Ali bin Musa ar-Ridha.

Inilah fakta yang terjadi, dibalik slogan-slogan persatuan ternyata ada tikaman dari belakang. Di balik kesan pahlawan, Syiah bagaikan serigala yang mengindati domba-domba yang akan dimangsa.

Pelajaran:

Sejarah mengajarkan kepada kita sebuah pengalaman berharga, betapa orang-orang Syiah melalui Daulah Shafawiyah (dan Daulah Fatimiyah, Qaramithah, dll) menaruh kebencian terhadap umat Islam. Mereka tidak pernah mengumandangkan jihad terhadap tentara salib berbeda halnya dengan umat Islam, mereka benar-benar menunjukkan permusuhan, melakukan pembunuhan dan pengrusakan, serta mengumandangkan peperangan. Sebaliknya mereka menjalin hubungan yang harmonis dengan pasukan salib dan Yahudi, bahkan terhadap orang-orang majusi penyembah api.

Hal serupa kita dapatkan di era modern ini, dimana kerajaan Shafawi modern, Republik Syiah Iran, melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Mereka berteriak-teriak lantang memerangi Amerika dan Israel, tapi tidak pernah kita dapati mereka berperang melawan Amerika dan Yahudi di Palestina. Sementara ribuan bahkan jutaan Ahlussunnah mereka bunuh. Dengan kekuatan media, mereka putar balikkan fakta bahwa negara-negara Ahlussunnah lah yang menjadi kaki tangan Barat Amerika dan pelindung Israel.

Pelajaran lainnya adalah Syiah selalu memanfaatkan instabilitas politik di suatu negeri untuk mencuri kekuasaan. Mereka memanfaatkan status ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya dengan iming-iming perubahan dan janji manis, namun kenyataannya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Semoga Allah senantiasa melindungi negeri kita dari maker-makar yang dibuat oleh orang-orang Syiah..

( Bersambung).

Sumber:
– Tarikh ad-Daulah ash-Shafawiyah di Iran
– Majalah al-Furqon al-Kuwaitiyah, dll.

Dicopy dari :

http://kisahmuslim.com/trilogi-kisah-iran-dan-daulah-shafawi-munculnya-daulah-shafawi-13/

Read Full Post »

Lebih dari 500 warga Indonesia dilaporkan telah bergabung dengan ISIS (Islamic State in Iraq and al-Syam). Mereka masuk ke  Suriah atau Irak yang merupakan basis  ISIS melalui Turki. Sebagian menyamar sebagai turis tetapi sesampai tujuan memisahkan diri.

Menurut beberapa sumber, Indonesia memang menjadi tujuan empuk perekrutan anggota ISIS. Dengan terang-terangan ISIS berani mempromosikan sepak terjang mereka. Iming-iming surga karena jihad disamping gaji tinggi adalah imbalannya. Jadi tidak perlu heran mengapa organisasi ini begitu diminati warga Indonesia.

Yang patut menjadi pertanyaan betulkah ISIS yang meng-klaim berjuang memerangi segala kekafiran dan kedzaliman itu murni karena Sang Khalik, Allah swt, dengan menjadikan Al-Quranul Karim dan As-Sunah sebagai pegangan??

Sementara kita tahu bagaimana ulah ISIS menyebarkan terror, membakar musuh, membunuhi kaum perempuan dan anak-anak, bahkan merekrut gadis-gadis untuk dijadikan pemuas seksual para anggotanya ?? Dengan teganya, para orang-tua anggota kelompok yang mencuat pada tahun 2013 itu  menyuruh anak-anak gadis mereka yang baru berusia 14-15 tahun agar mau, berkali-kali, melayani nafsu seksual anggota ISIS.  Setiap perbuatan dibuatkan akadnya, digauli lalu diakhiri dengan kalimat cerai dan imbalan sejumlah uang. Begitu hingga 5-6 kali, dalam sehari. Ironisnya. putri-putri malang tersebut diyakinkan bahwa itulah jihadnya perempuan ! Persis ajaran mut’ah dalam Syiah.

Berikut pengakuan mantan ISIS yang hengkang dari kelompok tersebut.

http://internasional.kompas.com/read/2015/03/18/11252901/Mantan.Anggota.ISIS.Beberkan.Alasan.Ia.Tinggalkan.Kelompok.Itu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Islam saat ini memang dalam keadaan terpuruk. Keterpurukan tersebut menyebabkan umat begitu mudah dibohongi. Sebaliknya harapan segera berakhirnya keterpurukan dengan kembalinya zaman kejayaan Islam sebagaimana yang telah diprediksi juga dengan mudah mengecoh umat. Itulah ISIS, yang mengumumkan diri sebagai kekhalifahan Islam, lambang keemasan Islam yang dulu hilang, dan di nanti-nantikan kembalinya oleh sebagian umat.

Umur umat Islam dan kembalinya kejayaan Islam.

Sebagian ulama sepakat bahwa umat Islam akan melewati 5 fase/ tahapan.

“Periode An-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. … ,” (HR Ahmad 17680).

Para ulama juga sepakat bahwa saat ini umat Islam berada di akhir fase ke 4 yaitu periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Atau berada di tahap awal datangnya fase akhir, yaitu fase 5, periode Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah, alias kekhalifahan Islamiyah sebagaimana di zaman Rasulullah dan para sahabat dulu. Itulah zaman kejayaan Islam, zaman yang amat dimimpikan seluruh umat Islam di dunia. Zaman dimana kekuasaan Islam membentang dari Spanyol hingga ke perbatasan Cina, yang kini paling tidak terdiri atas 20 negara.

Tentu saja bukan hal yang mengherankan mengingat saat ini kita hidup di zaman Islam amat sangat terpuruk. Islam yang menjadi bulan-bulanan Barat hingga umat Islam tidak mempunyai rasa Percaya Diri yang tinggi. Hingga apapun yang dikatakan Barat ditelan mentah-mentah meski bertentangan dengan ajaran Islam. Kebodohan, kemunduran, kemiskinan bahkan label terorisme seolah melekat erat dengan Islam. Islamophobia atau ketakutan terhadap Islam terjadi dimana-mana.

Ironisnya korbannya bukan hanya non Muslim tapi juga Muslim itu sendiri. Apalagi kalau sudah berbicara jihad. Slogan Barat bahwa “Islam adalah agama pedang”, tampaknya berhasil membuat umat Islam begitu trauma akan kata ini. Padahal berapa banyaknya ayat jihad diturunkan demi membela Islam, jiwa dan kebesaran Islam itu sendiri. Jihad memang tidak selalu berperang dengan mengangkat senjata, tapi manakala keadaan memaksa, jihad seperti ini wajib dilakukan. Tapi hari ini, dengan dalih Islam adalah rahmatan lillalamiin, sebagian besar umat Islam memilih berdiam diri meski melihat saudara-saudari kita di berbagai belahan bumi ini terinjak-injak, terdzalimi dan tertindas demikian parahnya.

Munculnya JIL ( Jaringan Islam Liberal) juga adalah akibat rasa tidak PD terhadap ke-Islam-an mereka. Lagi-lagi dengan dalih toleransi dan “Islam adalah Rahmatan lilalamin” mereka mengklaim bahwa semua agama adalah sama.

Sebaliknya bagi sebagian kecil umat Islam yang dapat ikut merasakan penderitaan saudara/saudarinya, dan tertantang untuk membantu, kehadiran ISIS bagaikan mata air di tengah padang pasir. Apalagi yang juga meyakini hadist diatas bahwa kita telah berada di penghujung fase ke 4. Maka berbondong-bondonglah mereka bergabung ke dalam organisasi yang dalam waktu singkat berhasil merekrut anggota dan meluaskan jajahan kekuasaannya itu.

Masalahnya, betulkah ISIS sesuai dengan hadist yang dimaksuf diatas? Apalagi mengingat cara “jihad” yang ditempuh? Membakar, memperkosa, memanfaat anak-anak sebagai tentara dan berbagai cara yang jauh dari ajaran Islam? Berikut perintah Rasulullah ketika fitnah terhadap Islam makin menjadi-jadi.

“Jika kalian menangkap si A, bunuhlah dan jangan kalian bakar. Karena tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhannya api (yaitu Allah).” (HR. Abu Daud).

Hadist mengenai tanda-tanda akhir zaman sangatlah banyak dan sangat rinci. Diantaranya yang sangat penting untuk diketahui saat ini adalah ciri-ciri Imam Mahdi, yang merupakan pemimpin umat Islam yang akan datang nanti.

Bersabda Rasulullah saw, “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah swt akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumipun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun.” (HR. Thabrani).

Telah bersabda Rasulullah saw, “Akan terjadi suatu perselisihan ketika meninggalnya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk Madinah dan ia lari ke Makkah. Lalu datanglah kepadanya orang-orang yang berasal dari penduduk Makkah, dan mereka membawa laki-laki tersebut dengan paksa. Kemudian mereka membaiatnya antara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim. Lalu diberangkatkanlah sekelompok tentara dari Syam untuk mengejarnya. Maka mereka ditelan bumi di daerah Baidaa’, antara Makah dan Madinah. Maka ketika orang-orang melihat hal itu, wali-wali Abdal dari Syam dan orang-orang mulia dari Irak mendatanginya. Mereka membaiatnya antara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Thabrani).

https://netlog.wordpress.com/category/tanda-tanda-kemunculan-al-mahdi/

Dari hadist diatas dapat kita simpulkan bahwa Imam Mahdi bukanlah seorang yang  ambisius, yang sangat ingin menjadi pemimpin umat Islam. Imam Mahdi, pemimpin masa depan Islam yang dimaksud Rasulullah adalah seorang yang diangkat menjadi pemimpin secara paksa. Ia adalah seorang penduduk Madinah bernama Muhammad bin Abdullah yang ntah atas karena alasan apa melarikan diri menuju Makkah. Hal ini terjadi paska suatu perselisihan setelah meninggalnya seorang raja Arab Saudi. Ia akan dibaiat di Makkah, diantara sudut Ka’bah dengan maqam Ibrahim.

Kini, orang bisa saja memang merekayasa seorang bernama Muhammad bin Abdullah dan mengangkatnya seolah-olah ia adalah orang yang dimaksud hadist diatas. Tetapi peristiwa detail yang mengawalinya, rasanya sulit untuk dapat direkayasa. Sejarah mencatat betapa banyaknya orang yang mengaku-ngaku sebagai Imam Mahdi.

Berdasarkan hadist yang jumlahnya sangat banyak akan kita ketahui bahwa hal pertama yang akan dilakukan Imam Mahdi adalah membersihkan Makkah dan Madinah dari segala kekufuran. Kemudian bersama pasukan Rum ( Barat) memerangi Syiah di Syam ( Iran), berperang melawan Yahudi dan kaum Salibis, baru membebaskan Palestina dengan Al-Qudsnya ( Masjidil Aqsha). Disamping itu, sejak awal kekhalifahan, khalifah terakhir ini sudah akan menjadikan Madinah, bukan kota di Suriah maupun Irak, sebagai pusat pemerintahan, persis seperti kekhalifahan di zaman nabi 15 abad silam.

Artinya, dapat disimpulkan bahwa ISIS dengan Abu Bakr al-Baghdadinya jelas bukanlah khalifah yang kita nanti-nantikan itu. Apalagi dengan adanya tindakan ceroboh yang baru-baru ini mereka lakukan, yaitu penyerangan terhadap kamp pengungsi Palestina Yarmouk di Suriah yang menelan korban ratusan jiwa itu. ISIS tampaknya benar adalah ciptaan musuh Islam untuk mendiskreditkan Islam, yang sudah terpuruk makin terpuruk saja.

http://mirajnews.com/id/internasional/amerika/hillary-clinton-isis-produk-untuk-pecah-timteng/

http://www.voa-islamnews.com/index.php/2015/10/07/pengakuan-mengagetkan-as-tentang-aset-mereka-suriah/

Semoga umat Islam tidak mudah terpedaya tipuan jahat musuh-musuh Islam yang kelihatannya juga rajin mempelajari hadist. Dengan tujuan agar ketika Imam Mahdi datang nanti, umat Islam tidak mau mendukungnya.

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi),  maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah  Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074).

Na’udzubillah min dzalik.

Jakarta, 13 April 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Yaman membara. Serangan yang dillakukan koalisi Arab sejak 26 Maret 2015 lalu dilaporkan telah menelan banyak korban tewas. Serangan gabungan Negara-negara teluk dibawah pimpinan Arab Saudi ini dilakukan atas permintaan presiden resmi Yaman yang dikudeta kelompok Syiah Houthi Februari lalu. Disinyalir, Iran berada di belakang kelompok pemberontak tersebut. Ini menambah jumlah perang dan kerusuhan yang melanda Timur Tengah yang telah terlihat tanda-tandanya sejak 2010 lalu, yaitu Arab Spring.

Ketika itu para pimpinan tertinggi Negara-negara Arab seperti Tunisia, Libia, Mesir,  Suriah, Aljazair, Maroko, Irak, Sudan dll didemo rakyatnya karena dianggap telah menjalankan pemerintahan secara tidak demokratis alias otoriter. Akibatnya, secara serempak, pemberontakan dan kerusuhanpun melanda Negara-negara tersebut. Tampaknya ini adalah buah dari gembar-gembor Demokrasi ala Barat yang berhasil menarik simpati dunia Islam, karena Islam saat ini memang sedang mengalami masa keterpurukannya. Sayangnya, hingga detik ini, meski presiden telah diganti melalui cara demokrasi, perang saudara masih terus saja terjadi. Ada apakah gerangan ??

Mesir, contohnya. Presiden Husni Mubarak telah djatuhkan, pemilu  secara demokratis telah dijalankan, dengan Mohammad Mursi sebagai pemenangnya. Namun tak sampai setahun jendral Abdul Fattah al-Sisi dan kelompoknya meng-kudeta Mursi.  Bahkan resmi menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin yang merupakan pendukung kuat Mursi adalah organisasi teroris. Tak tanggung-tanggung ratusan anggota organisasi yang dibentuk Hassan al Banna pada tahun 1928 dengan tujuan agar umat Islam bersatu dibawah payung Al-Quran dan As-Sunnah, di-eksekusi mati, dan ribuan lainnya dijebloskan ke bui.

Demikian pula Libia. Padahal dulu, sebelum pemberontakan, dibawah presiden Muammar Ghadaffi, meski dikenal otoriter, Libia cukup maju dan makmur. Ini berkat dibangunnya sebuah sungai buatan sepanjang 2800 km, yang berhasil membuat padang tandus Libia menjadi lahan hijau yang menghasilkan buah dan sayur -sayuran.

Uztad Arifin Ilham melalui status FB-nya berkata, “Alhamdulillah, sudah tiga kali ke Libya, dan dua kali shalat berjamaah di lapangan Moratania dan Lapangan Tripoli. Shalat berjamaah yang dihadiri 873 ulama seluruh dunia dan rakyat Libia, dengan Imam langsung Muammar Ghadaffi, bacaan panjang hampir 100 ayat Al Baqarah, sebagian besar jamaah menangis, sebelumnya diawali dengan syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, dakwah beliau selalu mengingatkan tentang ancaman zionis dan blok Barat, pemimpin Arab boneka AS, dan selamatkan Palestina…”.

Suriah dan Irak lebih parah lagi. Perang saudara antara sesama bangsa dan sesama Muslim, yaitu Sunni dan Syiah berkecamuk dengan dasyatnya. Presiden Suriah, Bashar al-Assad yang menganut Syiah Rafidhah, secara brutal membantai rakyatnya sendiri yang beraliran Sunni.

Seperti diketahui, Sunni dan Syiah sejak dulu memang tidak pernah dapat disatukan. Awalnya perbedaan hanya pada pendapat siapa yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam paska wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Namun demikian istilah Syiah baru muncul setelah terjadinya perseteruan antara keponakan Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, khalifah ketika itu. Kelompok yang mendukung Ali menamakan diri sebagai “Shi’at Ali”, atau pengikut Ali, yang di kemudian hari berkembang menjadi Syiah. Saat ini dilaporkan, anggota Syiah berjumlah sekitar 10-15% dari Muslim di dunia.

Dengan berkembangnya waktu, Syiah makin terpecah menjadi banyak sekali kelompok kecil-kecil. Namun sebagian ulama sepakat bahwa Syiah terpecah menjadi 3 kelompok besar. Diantara 3 kelompok tersebut, yang sesat dan perlu diperangi adalah kelompok Syiah Istna Asyariah ( Syiah 12 imam). Nama lain kelompok ini adalah Syiah Rafidhah/Syi’ah Ja’fariyyah/Syiah Imamiyyah. Mayoritas dari mereka saat ini berada di Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia, di beberapa daerah di Suriah dan beberapa daerah bekas Uni Sovyet.

Sedangkan Syiah yang lain bukan diperangi tapi cukup dibina dan disadarkan. Sayangnya, justru Syiah Rafidhah inilah yang terbesar, yang merupakan mayoritas dan terus berkembang pesat termasuk yang masuk ke Indonesia. Padahal kesesatannya dari hari ke hari makin menjadi-jadi, terakhir pada masa kekuasaan Ayatullah Khomeini di Iran pada tahun 1979.

Syiah sejak lama berkeyakinan bahwa Alquran yang ada sekarang ini telah dipalsukan. Karena ayat yang menyatakan bahwa Ali telah ditunjuk langsung oleh Allah swt untuk menggantikan Muhammad saw telah dihapuskan. Tentu saja ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Bukanlah Allah sendiri yang mengatakan bahwa melalui para malaikat Al-Quran akan terus dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh??  Bukankah sejak dahulu penghafal Al-Quran sudah ada, dan jumlahnyapun banyak sekali.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr(15):9).

Syiah juga berpendapat bahwa para imam maksum alias tidak mungkin berbuat kesalahan. Kedudukan mereka bahkan lebih tinggi dari para nabi dan malaikat. Mereka juga menuhankan Ali. Syiah mengenal kawin mut’ah, menyiksa diri pada hari Asyura, mengkafirkan para sahabat sejati dan istri nabi serta menjadikan cercaan terhadap mereka sebagai ibadah !.

Patut menjadi pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang paling senang ketika Sunni dan Syiah berperang? Siapa musuh terbesar Islam kalau bukan Israel dan sekutunya yaitu Amerika Serikat.

Ya, jurang perbedaan antara Sunni dan Syiah memang sengaja dibuat makin lama makin jauh, dengan tujuan agar umat Islam lupa kepada musuh aslinya, yaitu Yahudi. Agar Zionis Israel bebas mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri, dan membangun bait mereka di Yerusalem.

Tapi tindakan koalisi Arab menyerang Yaman juga bukan berarti salah. Karena Syiah di Yaman yang merupakan perpanjangan Syiah Iran adalah musuh dalam selimut kaum Muslimin, yang sewaktu-waktu bisa menusuk dari belakang. Keberhasilan Syiah merebut kekuasaan di Yaman sebagai tetangga terdekat Arab Saudi, sangat berpotensi membahayakan Mekah dan Madinah, 2 kota tersuci umat Islam.

Simak pengakuan sultan Salahuddin, khalifah yang berhasil merebut kembali  Masjid al-Aqsha di Jerusalem dari tangan pasukan Salib pada tahun 1187. Dari kisah tersebut kita juga akan tahu bahwa Syiah Rafidhah sudah ada sejak zaman tersebut.

“Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, ada yang bertanya:

Mengapa anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?

Beliau menjawab: “Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan ‘punggung’ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!”

Maka beliau pun membasmi Daulah Syiah al-‘Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam, lalu mengembalikan kebesaran Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni di negri-negri yang tadinya memang ber-mahzab Sunni tersebut.  Setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis, membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis dan mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/kenapa-raja-salman-tidak-serang-israel.html

http://kisahmuslim.com/dendam-syiah-kepada-shalahuddin-al-ayyubi/.

Simak pula prilaku busuk kerajaan Syiah Shafawi ( di daerah Iran sekarang ) pada abad 13 yang bersekongkol dengan pasukan Salib demi menjatuhkan kerajaan Islam Turki Ottoman yang dulu pernah berjaya selama berabad-abad.  Kemudian memaksa dengan kekerasan rakyatnya yang ketika itu mayoritas Sunni untuk berpindah ke Syiah.

http://kisahmuslim.com/trilogi-kisah-iran-dan-daulah-shafawi-bersama-kristen-eropa-memerangi-turki-utsmani-23/

Kini, menjadi pertanyaan akankah raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi, yang merupakan pimpinan operasi militer gabungan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC) bertajuk “Aashifatul Hazm” (Badai Penghancur) mengikuti jejak pendahulunya ? Yaitu menaklukkan kembali Jerusalem dengan Masjidil Aqshanya setelah serangannya ke Yaman ? Sebuah mimpi besar bagi umat Islam yang sejak berdirinya Negara Israel di tanah Palestina terpaksa terus menyaksikan kebiadaban Zionis terhadap saudara-saudari kita di sana.

Berikut penegasan raja Salman dalam sambutannya pada pembukaan KTT Liga Arab ke-26 di Mesir, Sabtu (28/03/2015) yang baru lalu.

Sesungguhnya urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Arab Saudi terhadap masalah ini ( penyerangan Syiah Yaman, red) dari dahulu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan berdirinya negara Palestina yang berdaulat serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia sebagai ibu kotanya. Hal ini sejalan dengan keputusan Resolusi Legitimasi Internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, keputusan ini disambut hangat oleh dunia internasional tetapi Israel merasa tidak mengetahuinya”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/raja-salman-palestina-dan-suriah-babak.html

Ya Allah kabulkanlah keinginan raja Salman dan satukan umat Islam dalam menghadapi Zionis Israel, agar dapat segera keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan serta permainan licik musuh-musuh Islam, aamiin YRA.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya“.(QS.Ali Imran(3):54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Tantangan Islam Masa Kini

Kementrian agama hari-hari ini dikabarkan sedang sibuk menyusun draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Umat Beragama (PUB). Menurut   Lukman Hakin Saifuddin, sang mentri agama rezim Jokowi ini, RUU PUB dibuat agar bisa memberikan jaminan perlindungan kepada seluruh warga Negara Indonesia, baik mayoritas maupun minoritas. Hal ini sesuai dengan pasal 29 ayat 2 yang isinya menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut ajaran agama masing-masing. Ini diutarakan Lukman saat mengunjungi kantor Republika di Jakarta pada Senin 22/12/2014 lalu. Lukman menyatakan hal ini diperlukan karena pasal tersebut tidak berjalan dengan baik, buktinya yaitu adanya pengaduan  dari kaum minoritas yang merasa terpinggirkan.

Dalam wawancara tersebut setidaknya disimpulkan ada 5 poin yang akan dibidik depag. Kita tentu semua tahu bahwa selama Indonesia  secara resmi “hanya” mengakui 6 agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Inilah poin pertama bidikan tersebut. Yang kedua, isu pendirian rumah ibadah, berikutnya isu penyiaran agama atau dakwah, isu kekerasan pada minoritas dan terakhir demi meningkatkan sikap toleransi antar pemeluk agama.

Pertanyaannya, agama apa lagi kira-kira yang ingin dilegalkan depag? Mengapa tiba-tiba depag merasa  6 agama saja yang ada tidak cukup, bahkan ingin juga melegalkan aliran kepercayaan sebagai agama ?  Bukankah dengan yang 6 saja tidak jarang terjadi gesekan, meski itupun sebenarnya hanya belakangan ini saja terasa dibesar-besarkan ?  Bukankah dunia internasionalpun mengakui bahwa Indonesia adalah Negara yang dikenal menjunjung tinggi toleransi dan bisa dikatakan tidak ada masalah agama sebagaimana Negara-negara lain di dunia ini. Minoritas diakui dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya dengan baik.

Bandingkan dengan Perancis, Negara Barat maju yang konon begitu mendewakan toleransi, demokrasi dan menjunjung tinggi HAM.  Di negri sekuler  ini, kaum Muslimin yang hanya minoritas, jangankan merayakan Iedul Fitri dan Iedul Adha, di kalender resmipun tidak pernah tercantum adanya 2 hari terbesar umat Islam ini.  Padahal Islam di negri ini menduduki peringkat 2 setelah Kristen, dan jumlahnyapun tak kurang dari 10 persen.  Bahkan kabarnya makin diminati warganya yang kebanyakan Atheis ini. Tidak hanya itu, jilbabpun dilarang digunakan murid di sekolah. Sama halnya dengan azan dan menara masjid.  Itu sebabnya kaum Muslimin di seantero negri ini terpaksa shalat Jumat di jalanan karena jumlah masjid amat sangat tidak memenuhi kebutuhan umat.

MUI beberapa waktu lalu mengeluh, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memang terasa terus digoyang  di era Jokowi saat ini. Berbagai isu yang erat kaitannya dengan ke-Islam-an terus dipermasalahkan.   Slogan-slogan memojokkan Islam seperti “ Lebih baik kafir jadi pemimpin daripada Islam tapi korupsi”, “Lebih baik bertato, merokok bahkan hanya lulusan SMP daripada berjilbab tapi korupsi” dan yang semacamnya terus di–dengung-dengungkan. Seolah-olah semua orang Islam itu koruptor, semua Muslimah berjilbab itu munafik !

Kejahatan besar seolah tidak ada lain kecuali perbuatan korupsi yang memang saat ini tengah melanda hampir semua pejabat negri, Muslim maupun Non Muslim. Tapi karena Indonesia memang mayoritas Muslim tentu saja yang terlihat mencolok ya yang Muslim saja. Sementara perzinahan dan prilaku menyimpang seperti Homoseksual yang dalam kacamata Islam jauh besar dosanya malah didiamkan saja. Tampak jelas bahwa hukum Islam telah diabaikan. Citra buruk seperti Islamophobia yang di Barat bagai momok tampak ingin dikembangkan juga di negri ini.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqon(25):68-70).

Imam besar Masjid Istiqlal, Mustafa Ali Yakub, bahkan berani mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan  bahwa  Protocol Zionisme sedang berjalan lancar.  Ini adalah tanggapan atas isu mendagri tentang doa pembuka dan penutup di sekolah negri beberapa waktu lalu.

Aneh bila mau direvisi, seperti ada skenario untuk berupaya melakukan penghapusan agama seperti dalam protokol Zionisme nomor 14,” ujar Mustafa kepada ROL, Rabu (10/12).

( lihat : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/12/10/ngcy00-imam-istiqlal-revisi-doa-di-sekolah-bagian-dari-protokol-zionisme ).

Lebih jauh,  dalam salah satu tausiyah yang saya hadiri, uztad Syamsul Arifin Nababan, seorang mantan pendeta, mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan tentang peta Kristenisasi  di Indonesia. “ Tahun 2000 atau abad milenium pernah menjadi target  bahwa 50 persen penduduk Indonesia adalah Kristen”.

( Baca : https://vienmuhadi.com/2015/01/04/kisah-ke-islam-an-pendeta-bernard-nababan/ ).

Memang target tersebut tidak terpenuhi namun perlu dicermati bahwa fenomena itu ada. Muslim di negri ini makin hari makin berkurang. Yang tadinya 98 % sekarang ini telah surut menjadi 82 %. Bila Kristenisasi yang terus terjadi ini didiamkan saja tidak mustahil Indonesia akan mengalami nasib seperti Filipina saat ini, yaitu Muslim sebagai minoritas. Yang sulit menjalankan ibadahnya. Maukah kita ???

(Baca:http://www.suaranews.com/2015/01/astaghfirllah-riset-dalam-data-ini.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook )

Maka dengan adanya rencana RUU diatas sangat mungkin sekali Islam di Indonesia akan semakin tergerus.  Meski sebenarnya banyak atau tidaknya umat Islam tidak menunjukkan kwalitas ke-Islam-an seseorang, persis seperti perkiraan Rasulullah 15 abad lalu sebagaimana diriwayatkan  Thauban ra.

Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat? “

Sabda baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih banyak tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa sebanyak itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit Al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu Al-Wahn?

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

Ya sebagian besar umat Islam di Indonesia  saat ini memang cenderung kepada ke-dunia-wian dibanding ke-akherat-annya.  Target maju dibidang ekonomi, kaya-raya, pintar dan yang semacamnya telah mengalahkan pentingnya ridho Allah swt. Mereka ini sudah tidak takut akan ayat-ayat Allah bahkan cenderung mempermainkannya. Demi alasan toleransi dan menyenangkan sesama manusia, saudara atau kerabat mereka bisa mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan benar. Tampak jelas bahwa mereka ini tidak terlalu yakin bahwa Islam adalah agama yang benar dan paling benar.

Maka dengan adanya RUU PUB diatas umat Islam yang kurang PD akan ke-Islam-an, yang jarang menimba dan memperdalam wawasan ilmu ke-Islam-annya, apalagi yang cuwek alias tidak peduli akan agamanya, tampaknya bakal menjadi korban yang paling awal. Mereka inilah yang akan paling mudah terombang-ambing.

Untuk mencegah semua itu mari kita bergandengan-tangan,  ajak keluarga kita untuk memperbaiki kwalitas ke-Islam-an kita. Sudah bukan lagi waktunya ber-Islam hanya karena keturunan, dari lahir, dan memang sudah dari “sono”nya. Tanpa ilmu dan bekal kuat seorang yang mengaku Islam akan mudah kehilangan kendali dan akhirnya tersesat.

… … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. … ,” (QS. Al-Maidah(5):48).

Berlomba dalam “kebaikan”, dakwah diantaranya, sebenarnya merupakan kordrat manusia. Allah swt menyuruh hamba-hambaNya  untuk itu.  Umat Kristen memiliki landasan Matius 28:19 dan Markus 16:15 untuk mendakwahkan ajaran mereka. Maka tak perlu heran bila melihat ada umat Kristen berdakwah, karena itu berarti mereka adalah hamba yang patuh pada perintah Tuhannya. Meski cara yang digunakan seringkali kasar dan tidak etis, antara lain yaitu  dengan membagikan kebutuhan bahan pokok kepada kelompok miskin, sebagai iming-iming, contohnya.

Mereka juga tak ragu mendirikan sekolah-sekolah teologi yang khusus mempelajari Al-Quran dan hadist namun dengan tujuan menyelewengkannya. Juga adanya berbagai jenis yayasan Kristenisasi dengan target spesialisasi masing-masing seperti kaum gelandangan, pengamen, orang sakit dll. Contohnya adalah  yayasan Doulus di Cilangkap yang pernah digrebeg beberapa tahun lalu. Ini benar-benar terbalik dengan ajaran Islam yang melarang umat Islam memaksa seseorang untuk masuk Islam. Bahkan dakwahpun ada tata kramanya, tidak boleh memaki sesembahan mereka.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ».(QS. Al-Baqarah(2):256).

« Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan …. « .(QS. Al-Anám(6) :108).

Sebaliknya, kitalah yang harus kritis, betulkan ajakan dan ajaran mereka itu benar ??? Mana yang benar Al-Quran, Injil atau Taurat?

Sungguh beruntung kita, umat Islam memiliki kitab suci yang terjaga kesucian dan kemurniannya hingga sepanjang masa. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak seperti kitab suci umat Kristiani,  yaitu Injil yang secara berkala mengalami perbaikan meski pun itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka anggap suci.

Sebagian umat Kristiani beranggapan bahwa Al-Quran adalah kitab buatan manusia ( Muhammad saw) yang isinya mencomot sebagian isi kitab Yahudi dan kitab mereka. Alasannya karena banyak kisah-kisah di Al-Quran yang sama dengan kisah yang tertulis di kitab Taurat dan Injil.

Padahal bila mereka tidak membacanya separoh-separoh,  justru inilah yang bisa menjadi sebagian bukti  bahwa Al-Quran datang dari zat yang sama, yaitu Tuhan seluruh manusia dan alam semesta.  Bahwa Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran datang dari Tuhan yang sama.  Bahwa sesungguhnya seluruh nabi dan utusan, mulai nabi Adam, nabi Idris, nabi Musa, nabi Isa ( Yesus) hingga nabi Muhammad saw, mendapat perintah yang sama, yaitu, menyembah Allah swt, Tuhan Yang Esa, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. ( QS. Al-Ikhlas(112):1-4).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.  ( di banyak surat Asyu’ara dll).

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An-Nisa(4):171).

Namun demikian dakwah umat Kristiani jauh lebih gigih daripada umat Islam. Betapa banyak bukti ketika mereka mendapat kesempatan menjadi pemimpin, gereja-gereja tumbuh pesat. Sementara pembangunan masjid dihambat. Tidak seperti ketika umat Islam yang memimpin dan membiarkan gereja terus dibangun tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya … ???

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah(2):120).

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS. AlimImran(3):119).

Umat Islam juga banyak yang tidak mempedulikan hadist dan sunnah Rasul padahal ini adalah kekayaan Islam yang amat sangat penting. Bagaimana mungkin kita dapat menguasai ayat-ayat suci Al-Quran tanpa mempelajari kedua hal diatas, tanpa mengenal sejarah kehidupan nabi ( Sirah Nabi) dan Asbabun Nuzul ayat-ayatnya. Tidak sedikit pula umat Islam yang terlalu mendewakan akal mereka hingga lupa diri dan menjadi sesat. Lupa apa hebatnya akal manusia dibanding kehebatan, kedasyatan dan kebesaran Sang Pencipta akal itu sendiri.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »