Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…………” ( Al Baqarah (2:256))

 

         Untuk menjadi seorang muslim, diwajibkan baginya untuk bersyahadat, yaitu dengan menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Dengan kata lain, iapun wajib mengakui dan mengimani bahwa sebagai utusan Allah beliau telah menerima wahyu (melalui malaikat Jibril). Itulah pintu gerbang masuk Islam. Dan sebagai konsekwensinya seorang muslim dituntut untuk menjalankan ajaran-ajaran Al-Quran dan hadis Rasulullah. Maka bila suatu ketika seorang yang mengaku muslim namun kemudian ia meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran, dengan menyatakan bahwa Al-Quran bukanlah Kalamullah ataupun bila ia Kalamullah tetapi redaksinya Muhammad saw, masih dapatkah kita katakan bahwa ia seorang muslim? Bila yang menyatakan hal tersebut seorang orientalis mungkin kita masih dapat memakluminya, tetapi bagaimana bila hal itu keluar dari mulut seorang yang notabene tokoh Islam?

      

         “ Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keraguan-raguan terhadap Al-Quran, hingga datang kepada mereka saat(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat”.(Al Hajj (22:55)

        

            Beberapa tahun belakangan ini muncul sebuah disiplin ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum kampus berlabelkan Islam yaitu Hermeneutika. Ilmu ini sebetulnya bukanlah ilmu baru, terutama di negara-negara barat. Ilmu ini adalah teori yang mengajarkan bagaimana mengartikan atau menafsirkan suatu text atau pernyataan tertulis. Hal utama yang harus diperhatikan dalam Hermeneutika adalah latar belakang dan kepentingan si penulis, struktur bahasa dan hubungannya dengan keadaan sekarang.  Seorang hermeneut, orang yang mendalami hermeneutika, diwajibkan untuk kritis dalam mempelajari sebuah text. Di barat, sudah sejak lama ilmu ini diterapkan untuk mempelajari text-text Injil. Itulah salah satu sebab mengapa Injil mengalami beberapa kali revisi. Dan hal tersebut resmi disetujui Vatikan.

 

           Nah, saat ini sejumlah pemikir Islam yang telah mengecap dan memperdalam ilmu serta mengambil gelar doktoralnya di negara-negara barat, membawa ‘oleh-oleh’ ilmu Hermeneutika tersebut ke tanah air untuk diajarkan kepada para mahasiswanya di kampus-kampus Islam. Celakanya, ilmu tersebut digunakan untuk menafsirkan Al-quran! Padahal, sebagaimana dijelaskan diatas, untuk menerapkan ilmu tersebut, seseorang harus mengenal dan mengetahui cara berpikir si penulis. Sebaliknya, bukankah Al-Quran diturunkan kepada umat manusia agar dapat mengenal Sang Pencipta? Lebih jauh lagi, mereka bahkan meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran dengan menyatakan keraguan atas  niat Ustman bin Affan dalam membukukan mushaf Al-Quran yang mereka anggap sebagai kepentingan politik kubu beliau ketika itu. Tentu saja hal itu tidaklah masuk akal. Ustman bin Affan adalah salah satu sahabat nabi yang dijanjikan surga, ahlaknya begitu terpuji. Bila hal itu memang benar, tentunya kekuatan-kekuatan politik sepeninggal Ustman akan berusaha membuat mushaf baru. Nyatanya hingga saat ini,lebih dari 1400 tahun setelah Al-Quran dibukukan, tidak pernah ada perubahan secuilpun dalam Al-Quran. Janji Allah untuk memelihara Al-Quran akan ke-otentisitas-annya memang terbukti. Tidak ada satupun bacaan di dunia ini yang dihafal oleh jutaan manusia dengan ejaan dan lafal yang tidak berubah sebagaimana  aslinya selama ribuan tahun.

  

 

        “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab(Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas kemudian mereka dibakar di dalam api  (Al Mu’min (40:69-72))       

    

           Memang banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerlukan penafsiran yang mendalam, yang mungkin dapat berkembang mengikuti zaman. Namun hal tersebut lebih disebabkan pemahaman atau pengetahuan yang waktu itu memang masih terbatas. Maka sebetulnya bukan Al-Quran yang mengikuti zaman, melainkan zamanlah yang akan membuktikan kebenaran Al-Quran apabila manusia mau belajar memahaminya atau menafsirkannya. Itulah sebetulnya tugas umat Islam, khususnya para cendekiawan muslim.

 

           Patut dicermati latar belakang seorang Abu Zayd, seorang hermeneut yang menjadi guru besar di Leiden, Belanda dan banyak menjadi panutan para kelompok liberalis di Indonesia. Nasr Hamid Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo,Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania,Amerika Serikat. Sekembalinya ia menulis sejumlah buku yang dianggap bermasalah oleh pemerintah Mesir. Kemudian pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor  karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Ia kemudian protes dan membawanya ke pengadilan, namun kalah. Bahkan di sejumlah mesjid-mesjid besar para khatib menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, maka ia dan keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden. Demikian pula perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikat tidak mau ketinggalan menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus  mereka.

 

             Namun yang lebih aneh,di Indonesiapun ia diundang dan disambut meriah. Gagasan-gagasannya diadopsi dan dipropagandakan secara besar-besaran. Maka demikianlah, saat ini para pengikutnya yang kebanyakan  dari kalangan intelektual Islam, dengan dalih mengikuti perkembangan zaman, mereka mencoba mengutak-ngatik ayat-ayat Al-Quran untuk disesuaikan dengan selera dan kepentingan duniawi. Mereka melontarkan ide-ide bahwa semua agama sama atau pluralisme,sekulerisme dan liberalisme. Hal ini sungguh mengkhawatirkan dan akan dapat memberikan kesan bahwa yang diperlukan seseorang cukup hanya mengimani adanya Sang Pencipta tanpa kewajiban untuk melaksanakan apa yang telah dilakukan dan dicontohkan nabi kita Muhammad saw.

 

        “Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu-kota itu seorang. Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka;  dan  tidak   pernah  (pula)   Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. (Al Qasas(28:59).

 

         Tidak cukupkah segala bencana alam yang menimpa negeri kita tercinta ini, sehingga kita harus menambah kerusakan-kerusakan moral seperti hal tersebut diatas?

 

Jakarta, 3/8/2006

Vien AM.  

       

Sumber: Hegemoni Kristen-Barat ( dalam studi Islam di perguruan tinggi ) oleh Adian Husaini.

Read Full Post »

Keluasan Rahmat Allah.

“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”.(QS.Al-Furqon(25): 68 – 69).

Inti ajaran Islam adalah Tauhid yaitu menyembah hanya kepada-Nya, Sang Khalik yang telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, tempat mengadu. Tidak ada yang selain Dia, tidak pula yang bersama Dia. Penyembahan mutlak yang dilakukan dengan hati yang ridho’, ikhlas dan tulus hanya kepada-Nya yang bila diikuti dengan amal perbuatan shaleh kelak akan mengantarkan manusia untuk kembali ketempat yang mulia disisi-Nya, yaitu Surga. Sesungguhnya perbuatan syirik, membunuh tanpa alasan yang sesuai syariat dan berzina adalah dosa-dosa besar yang tak terampuni. Allah SWT amat murka dan tidak meridho’i manusia yang berbuat demikian.

Namun disebabkan kecintaan Allah SWT yang begitu besar kepada manusia maka bila orang yang telah tersesat jauh tersebut mau memohon ampunan yang sebenar-benar ampunan, ampunan dan taubat yang disertai janji bahwa ia tidak ingin dan tidak akan mau mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut serta kemudian ia mengerjakan amal saleh maka Allah SWT, Sang Pemberi Taubat akan membukakan pintu maaf dan pintu ampunan bagi siapa yang dikendaki-Nya.

“ kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.(QS.Al-Furqon(25): 70 – 71).

” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, …………….”QS.At-Tahrim(66):8).

Namun Allah SWT mengingatkan Dia tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika seseorang dalam keadaan sakratul maut, yaitu saat-saat menjelang kematian ketika tidak ada jalan lain baginya kecuali harus menyerah dan mengakui kesalahan serta terpaksa mengakui ke-Besar-an dan ke-Esa-an-Nya.

”Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”.(QS.Al-Mukmin(40):84-85).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Aku mengetahui penduduk neraka yang terakhir keluar dari neraka dan penduduk surga yang terakhir masuk ke surga. Ada seseorang ditampilkan. Allah berfirman :“ Enyahkanlah dosa-dosanya yang besar dan lucutilah dosa-dosanya yang kecil”. Kemudian dikatakan kepadanya, “ Kamu telah melakukan anu dan anu pada hari anu ”. Orang itu membenarkannya. Dia tidak dapat mengelak sedikitpun. Kemudian dikatakan: ” Setiap keburukanmu menjadi kebaikan”. Dia berkata : ” Ya Tuhanku, aku telah melakukan aneka kesalahan. Namun aku tidak melihatnya dalam catatan amalku ”. Maka Rasulullahpun tertawa hingga terlihat gigi taringnya.” ( HR Muslim ).

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”.(QS. Al-Zalzalah(99):7-8).

Hanya berkat rahmat-Nyalah seseorang bisa masuk surga, karena sesungguhnya sebesar apapun pahala dan amal ibadah seseorang tidak mungkin mampu menebus apa yang telah Allah SWT limpahkan kepada manusia. Namun sebagai penghormatan dan tanda kasih sayang-Nya terhadap Rasulullah Muhammad SAW, Allah SWT memberikan izin kepada beliau untuk memberikan syafaat , yaitu memohonkan ampunan kepada-Nya bagi seorang yang mau meminta kepada beliau. Dan bila orang tersebut sebelumnya telah pula memohon ampunan kepada-Nya maka Allah SWT pun akan berkenan memberikan pengampunan kepada orang tersebut.

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS(An-Nisa’(4):64).

“ Katakanlah: ” Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Az-Zumar(39):53).

Demikianlah janji Allah SWT, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang, Sang Maha Pengampun. Ia memberikan harapan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, ampunan yang seluas-luasnya sebagai tanda kasih-sayang-Nya kepada seluruh umat manusia. Allah SWT tidak menghendaki rasa putus-asa menyelimuti hati mahluk yang dicintai-Nya.


Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 25/9/2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Manusia pada umumnya amat mencintai kehidupan dunianya. Untuk mencapai itu semua ia rela bersusah-payah bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah. Ia merasa hidupnya menderita bila kebutuhan hidupnya tidak semua terpenuhi. Ia merasa kurang sempurna bila tidak memiliki keturunan. Ia merasa terhina bila dirinya tidak mendapat penghargaan dari orang lain. Namun demikian pada kenyataannya, tidak semua orang yang kebutuhan materi dan dunianya terpenuhi merasa bahagia dan tenang hidupnya. Jika demikian dimanakah sebenarnya letak permasalahannya?

Sebagai orang beriman, kita tentunya tahu dan yakin bahwa kita ini hidup karena Allah SWT. Dialah yang menciptakan kita. Dengan demikian tentu Dia pulalah yang mengetahui segala kebutuhan kita. Dialah yang berkuasa atas segala yang ada pada diri kita termasuk diantaranya kemudahan rezeki, kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Oleh sebab itu disamping bekerja keras seharusnya kita selalu bermohon kepada-Nya agar usaha kita tersebut memberikan hasil yang terbaik. Kita mohon ridho-Nya. Allah dengan jelas telah memberikan petunjuk bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada-Nya.

“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabut(29):45).

Allah mewajibkan setiap umatnya agar menikah dan berkeluarga. Demikian pula hadist rasulullah. Karena dengan berkeluarga hidup akan lebih tenang dan tentram.Masing-masing anggota keluarga mempunyai kewajiban dan hak. Seorang laki-laki yang telah menikah adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia wajib bekerja dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Ia juga harus bertanggung-jawab atas prilaku dan moral istri dan anak-anaknya itu.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS.Taahaa(20):132)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.At-Tahriim(66):6).

Sedangkan seorang perempuan sebagai istri, ia wajib menjaga diri dan mematuhi suaminya.

“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nuur(24):31)

Ayah dan ibu adalah dua orang yang harus paling bertanggung-jawab terhadap anak-anaknya. Allah telah memilih mereka berdua agar menyayangi, menjaga serta mendidik putra-putrinya. Adalah tugas keduanya untuk mengingatkan bahwa kehidupan di dunia adalah cobaan. Bahwa tempat kembali kelak adalah akhirat.  Alkisah terjadi percakapan di alam ruh sebagai berikut :

Bayi : “ Ya Allah kenapa aku harus meninggalkan surga yang begitu indah ini ?”

Allah swt :  “ Karena aku ingin mengujimu

Bayi : “ Tapi siapa yang kelak akan menjaga dan menyayangiku seperti Kau menjaga dan menyayangiku ? ”

Allah swt: “ Aku akan mengirimkanmu malaikat yang akan menjaga dan menyayangimu”.

Bayi : “ Namun bagaimana bila aku rindu pada-Mu?” , rengek si bayi dengan nada penuh keberatan.

Allah swt : “ Malaikatmu itulah yang akan mengajarimu bagaimana kau dapat menghubungiku”.

Bebe: “ Kalo begitu katakanlah padaku, siapa malaikat  yang akan menjagaku,menyayangiku dan mengajariku ketika aku rindu pada-Mu , Ya Allah ?”

Allah swt : “ Malaikat itu adalah AYAH dan IBU-mu”.

Jadi sungguh berat tugas kedua orang tua itu. Di tangan merekalah nasib dan masa depan mereka berada.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan suci dan islam, yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi adalah orang tuanya“. (HR.Al-Bukhori).

Namun dalam kenyataannya, berapa banyak orang-tua yang lebih marah dan kecewa ketika mendapati anaknya tinggal kelas, malas belajar atau bahkan ‘hanya’ lupa menggosok gigi dibanding anaknya yang lupa mengerjakan  shalat, menghafal ayat-ayat Al-Quran atau bahkan menutup auratnya dengan baik.

Karenanya wajib bagi seorang anak agar menyayangi keduanya, terutama ibu yang telah dengan susah-payah mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Itu sebabnya Allah SWT memerintah seorang anak agar menghargai dan menghormati ibu tiga kali lebih besar dari ayahnya.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. ” Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi.“Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.(QS.Luqman(31):14).

Al-Quran menyebutkan manusia yang tidak mau menjalankan perintah Allah bagaikan seekor binatang bahkan lebih buruk lagi. Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali neraka jahanam.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(QS.Al-Araf(7):179).

Kemudian kelak ketika ajal menjelang, ketika diperlihatkan neraka sebagai tempat mereka kembali ,mereka amat menyesal dan ingin diberi kesempatan sekali lagi agar dapat memperbaiki cara hidup mereka. Namun semuanya telah terlambat.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mu’minuun(23):99-100).

Seperti kita ketahui, umur manusia rata-rata pada zaman sekarang tidak lebih dari 100 tahun bahkan 80 tahunpun jarang. Setelah itu kita akan dikembalikan kepada Sang Pemilik yang telah menciptakan kita dan kita harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia. Kemudian setelah itu kita akan memasuki babak baru yaitu babak kehidupan setelah mati, kehidupan akhirat yang kekal, yaitu surga atau neraka. Maka alangkah meruginya manusia yang hanya sibuk memikirkan kehidupan dunianya tanpa mempersiapkan kehidupan selanjutnya.

“Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim)

 

Wallahu’alam.

Jakarta, 6/12/2006.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts