Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Ahok Dan Toleransi Beragama

Kasus pelecehan ayat 51 surat Al-Maidah oleh Ahok, gubernur DKI yang menggantikan Jokowi karena Jokowi terpilih sebagai presiden, bergulir makin tak terkendali. Demo yang terjadi pada Jumat 14 Oktober di Jakarta dan 22 Oktober di kota-kota besar lainnya, dengan tujuan agar pemerintah segera mengadili Ahok, berbuntut panjang. Padahal demo yang diikuti ratusan ribu orang dari berbagai ormas, dengan Habib Riziek dari FPI sebagai pimpinan, berjalan damai.

Ironisnya lagi, MUI, yang beberapa hari sebelumnya mengeluarkan fatwa bahwa orang no 1 di DKI tersebut terbukti telah melecehkan Al-Quran dan ulama, justru di-bully. Demikian pula para ulama yang mayoritas memang sependapat dengan keputusan MUI.

Perbuatan Ahok jelas telah melanggar rambu-rambu toleransi. Apa maksudnya “ dibohongi (pake) Al-Maidah 51”, dengan atau tanpa kata pake”, yang isinya jelas-jelas melarang umat Islam memilih pemimpin kafir alias non Muslim sementara ia sendiri adalah si calon pemimpin kafir??? Ayat tersebut jelas merugikannya maka tak heran bila ia berkata demikian dengan tujuan agar kaum Muslimin mengabaikan ayat tersebut dan tetap memilihnya. Itu sudah teramat sangat jelas, tanpa perlu bantuan ahli bahasa awampun sudah dapat menangkapnya. Demi ambisi politiknya yang demikian menggebu dilanggarnyalah pembatas toleransi

Bila ia mengomentari ayat suci umat Islam tersebut di dalam gereja di depan para pemeluknya mungkin masih bisa ditrima. Tapi di depan pejabat negara dan warga sebuah pulau tak jauh dari daerah kekuasaannya, dengan mengenakan seragam kerja pula??

Untuk diingat, pelecehan terhadap Rasulullah dan ayat-ayat Allah sudah ada sejak zaman hidup Rasulullah, yaitu oleh orang-orang Yahudi dan musyrikin Mekah. Pengusiran perkampungan Yahudi bani Qainuqa di sekitar Madinah pada awal tahun 2 H yang akhirnya dilakukan Rasulullah, adalah buntut dari pelecehan terhadap seorang Muslimah.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/11/xvi-pengkhianatan-pertama-yahudi-dan-munculnya-tanda-tanda-kemunafikan/ .

https://almanhaj.or.id/3015-hukum-istihza-bid-din-memperolok-agama.html

“Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (Terjemah QS. At-Taubah [9]: 12)

Indonesia memang bukan negara Islam meski mayoritas penduduknya Muslim. Oleh sebab itu para ulama berusaha menahan diri untuk tidak menuntut Ahok secara hukum syariat. Namun sebagai negara hukum sudah sepantasnya bila kemudian kaum Muslimin berdemo menuntut agar pemerintah segera mengadili Ahok.

Tapi mengapa justru MUI, FPI dan para ulama yang jadi sasaran tembak? Bahkan orang yang merekam dan menyebarkan video rekaman peristiwa tersebut secara resmi telah diadukan ke kepolisian.

http://islamedia.id/din-syamsuddin-luar-biasa-hukum-negeri-kita-ini-yang-salah-itu-ahok-kok-malah-buni-yani-yang-mau-jadi-tersangka/

Anehnya lagi, hal tersebut juga dilakukan oleh orang yang mengaku Muslim. Padahal jangankan menyalahkan, membela dan sekedar mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan saja Allah melarangnya.

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.” (Terjemah QS. An-Nisa’ (4): 140)

Tampak jelas, Ahok secara sengaja atau tidak telah berhasil memecah-belah bangsa yang dibangun oleh darah para syuhada dengan susah payah ini. Demi mengejar ambisinya, koar-koarnya di awal agar tidak menggunakan isu SARA menjelang pilkada nyatanya justru dilanggarnya sendiri. Mungkinkah Ahok tidak menyadari akibat perbuatan busuknya itu ??? Adakah ia mempunyai tujuan dan maksud tertentu ???

Sebaiknya kita segera mengingat apa yang terjadi di sebagian negara di Timur Tengah, khususnya tragedi memilukan Suriah, yang telah memasuki tahun ke 5. Tragedi mengerikan ini diawali dengan adanya tuntutan rakyat terhadap pemerintahan Basar Assad yang dinilai tidak adil memperlakukan rakyatnya. Untuk diingat, Basar adalah penganut Syiah yang merupakan minoritas di tengah rakyatnya yang mayoritas Sunni.

Di Indonesia, Syiah baru belakangan ini saja berhasil menyusup ke tengah masyarakatnya yang mayoritas Sunni. Ini semua tak terlepas dari makin menguatnya pengaruh paham liberal dengan JILnya ( Jaringan Islam Liberal) yang terus merongrong aqidah umat Islam di bumi tercinta ini.

Nusron Wahid, contohnya, yang walaupun berlatar belakang NU, namun kenyataannya amat sangat membela Ahok. Dengan “ gagah” jurkam sekaligus ketua tim pemenangan Pilkada  Golkar untuk Ahok – Djarot ini berkata “ Yang paling tahu tentang apa yang disampaikan Ahok di Pulau Seribu, ya Ahok sendiri”.

Ia juga menyalahkan para ulama yang dianggapnya sok pintar dengan pernyataan “ “Yang namanya Alquran, yang paling sah untuk menafsirkan dan paling tahu tentang Alquran itu sendiri adalah Allah SWT dan Rasul SAW !” .

Pernyataan tersebut sungguh tidak sejalan dengan paham Liberal yang dianutnya selama ini, yaitu bahwa segala sesuatu harus sesuai dengan akal dan pikiran manusia. Bagaimana manusia harus menyikapi Al-Quran bila hanya Allah dan Rasulullah yang memahaminya. Lagi pula ayat yang di-lecehkan Ahok itu adalah ayat yang jelas, tidak perlu penafsiran khusus. Bahkan terjemah “teman setia” untuk kata “ awliya” yang dikeluarkan depag secara resmi beberapa tahun yang lalu, tidak menggugurkan keharaman memilih pemimpin kafir. Bayangkan bila teman setia saja dilarang, apa lagi pemimpin. Bukankah seorang pemimpin lebih bisa memaksakan kehendak dari pada teman setia ?? Anehnya lagi, bila hanya Allah dan Rasulullah  yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, mengapa Ahok bisa, padahal meng-iman-inyapun tidak ???

Mungkin inilah yang Allah sering namakan “ menjual ayat” dan menukarnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Yaitu demi mensukseskan Ahok, agar tidak terjegal di pilkada apalagi gagal menjadi DKI1 maka diplintirnyalah ayat-ayat Allah, apapun resikonya.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):174).

https://rumaysho.com/14628-surat-al-maidah-ayat-51-jangan-memilih-pemimpin-non-muslim.html

Kembali kepada fenomena yang terjadi di Timur Tengah. Perpecahan dan perang saudara antar sesama Muslim, sudah pasti membuat umat ini lemah, yang akibatnya dengan mudah menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam yang telah lama mengincar dan mengharapkan jatuhnya Islam. Lihat apa yang dilakukan pasukan Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dll di negri-negri Islam tersebut?? Apa kepentingan mereka ???

Sejarah membuktikan betapa semangat jihad kaum Muslimin di masa lalu sungguh tidak terkalahkan. Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin tapi bukan berarti bisa dihina dan dilecehkan. Hukum Allah untuk ditegakkan bukan hanya untuk dibaca dan disimpan di hati. Dakwah dan ajakan untuk memeluk Islam, menyembah hanya kepada-Nya adalah demi menjalankan perintah-Nya, dan untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk Nya.

Namun orang-orang yang berpenyakit hati tidak mau menerimanya, bahkan memusuhinya. Maka dicarilah strategi baru untuk mengalahkan Islam, yaitu melalui isu toleransi dan demokrasi yang berlebihan, liberalime bahwa semua agama adalah sama dan benar, dll. Syariat Islam seperti jihad membela agama dan  persaudaraan sesama muslim dicitrakan sebagai hal yang negative. Celakanya, semua itu dikemas sedemikian halusnya hingga kaum Muslimin tidak menyadarinya, hingga sedikit demi sedikit merasa malu dan merasa tidak percaya diri dengan ajarannya. Itulah yang dinamakan perang pemikiran atau Ghazwul Fikri.

Toleransi contohnya. Dengan kasat mata kita bisa menyaksikan bagaimana Barat memusuhi Islam. Bahkan calon presiden AS, Donald Trump terang-terangan tidak akan mengizinkan Islam berkembang di negaranya bila ia terpilih sebagai presiden nanti. Hak Muslim yang hidup di negara-negara yang katanya toleran itu juga tidak terpenuhi. Masjid terbatas, shalat, jilbab dipersulit dll. Demo anti Islam di negara-negara dimana Islam hanya minoritas hampir setiap hari terus berjalan. Belum lagi apa yang terjadi terhadap Muslim di Myanmar yang merupakan minoritas. Para perempuan yang diperkosa, rumah dijarah dan dibakar.

http://www.reuters.com/article/us-myanmar-rohingya-exclusive-idUSKCN12S0AP

Sebaliknya, di negara-negara mayoritas Islam demo anti agama di luar Islam hampir tidak pernah ada. Di Indonesia, gereja jumlahnya tak terhingga, orang memakai salib tidak ada yang mempermasalahkan, hari besar keagamaan libur, dll.

Ironisnya, kantor-kantor berita main stream termasuk di Indonesia, selalu memberitakan hal-hal buruk mengenai Islam, bahwa Islam adalah agama yang tidak toleran, radikal, teroris dll. Bahkan Muslim Palestina yang setiap hari ditindas Zionis Israel, di negaranya sendiri pula, tetap selalu disalahkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]

Dan beginilah akhirnya. Umat Muslim akhirnya terpecah belah, bahkan dalam hal memilih pemimpin padahal sangat jelas ayatnya.  Kini kita tinggal menanti, apakah para pemimpin republik ini mau mendengar seruan para ulama yang berpegang teguh pada Al-Quranul Karim dan As-Sunnah agar segera mengadili Ahok yang telah melanggar toleransi beragama, atau tetap mendiamkannya hingga kesabaran umat yang sudah memanas ini makin meluap tak terkendali. Yang  juga patut menjadi catatan, bila negri tercinta ini sampai mengalami nasib seperti Suriah, na’udzubillah min dzalik, bukan hanya umat Islam yang menderita, tapi juga umat agama lain. Sementara hidup di pengungsianpun bukan hal yang menjanjikan.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan” [HR Tirmidzi].

Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya’ [HR Imam Malik].

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (awliya); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):57).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 24 Oktober 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja., … … ”. ( Terjemah QS. Al-Mumtahanah(60):4).

Keteguhan nabi Ibrahim dalam mempertahankan aqidah inilah yang membuat Allah swt menjadikannya sebagai keteladanan. Untuk itu pula nabi Ibrahim as disebut sebagai bapak tauhid. Juga sebagai bapak para nabi, karena semua nabi yang diutus setelah nabi Ibrahim as adalah keturunan dari kedua putra beliau, yaitu nabi Ismail as dan nabi Ishaq as. Dan ini semua tidak terlepas dari doa dan permohonan Ibrahim as yang kemudian dijabah Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):40).

“ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya ( khalilullah)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):125).

Maka tak salah bila Allah swt kemudian menjuluki bapak para nabi ini dengan gelar kekasih Allah ( khalilullah). Sedangkan yang dimaksud orang yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus di ayat di atas adalah nabi Muhammad saw.

Kepasrahan dan ketaatan Ibrahim  kepada Tuhannya sungguh tak dapat diragukan lagi. Puncaknya adalah ketika Allah swt memerintahkannya agar menyembelih putra beliau satu-satunya ketika itu, yaitu nabi Ismail as.  Padahal telah lama Ibrahim merindukan hadirnya seorang anak. Dan baru ketika usia lanjut, yaitu 99 tahun, beliau mendapatkannya. Untuk itu Sang Khalik maka mengabadikan peristiwa fenomenal tersebut dalam surat Asf-Shaffat (37) ayat 102 berikut :

Maka tatkala anak itu ( Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia ( Ismail ) menjawab:

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Namun yang lebih mencengangkan lagi adalah jawaban sang putra tercinta yang menurut riwayat baru berusia sekitar 7 tahun ( ada yang berpendapat 13 tahun). Bagaimana mungkin anak seusia itu sudah mempunyai tingkat ketakwaan yang begitu tinggi?? Darimana ia mendapatkan keberanian dan kesabaran rela disembelih sang ayah yang bahkan pernah “membuangnya” ke gurun sahara yang tak berpenghuni ketika bayi dulu ??

Ada baiknya kita tengok sedikit ke belakang siapa sebenarnya Ibrahim, ayah yang begitu beruntung mendapat anugerah anak yang sangat patuh, berbakti kepada orang-tua sekaligus takut pada Tuhannya.

Nabi Ibrahim as di Kaldan.

Ibrahim sejak kecil telah terbiasa menjajakan berhala buatan ayahnya, Aazar. Ketika itu penduduk Kaldan, kota dimana beliau tinggal memang  dikenal sebagai penyembah berhala, termasuk bulan, bintang, matahari dll. Namun demikian Ibrahim tidak pernah percaya bahwa segala macam sesembahan tersebut mampu memberikan manfaat. Kegelisahan Ibrahim tersebut tercatat dengan apiknya pada ayat 75-79 surat Al-An’am, yang berakhir dengan penyerahan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta sekaligus Pemilik alam semesta dan seluruh isinya.

Berangkat dari keyakinan tersebut maka Ibrahimpun mulai berani memprotes keyakinan ayahnya, dengan cara yang santun, tidak kasar, bahkan cenderung mengajak untuk berpikir. Dan ketika akhirnya ayahnya tetap menolak ajakannya bahkan mengancamnya, Ibrahim tetap mendoakannya. Ini mencerminkan betapa tingginya akhlak beliau. Berikut percakapan yang terekam dalam surat Maryam  ayat 46-48:

Berkata bapaknya:

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

Berkata Ibrahim:

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo`a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo`a kepada Tuhanku”.

Ibrahim juga pernah dihukum bakar oleh raja Namrud karena berani memotong kepala berhala sesembahan raja dan penduduk Kaldan. Hal ini sengaja beliau lakukan untuk membuktikan bahwa berhala yang mereka sembah itu sama sekai tidak bermanfaat, yang bahkan untuk melindungi dirinya sendiri saja tidak mampu. Kisah menantang dan lucu ini diabadikan dalam surat Al-Anbiya ayat 52-66, diantaranya sebagai berikut :

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata:

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata:

“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata:

“(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya:

“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab:

“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Nabi Ibrahim as berhijrah.

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. ( Terjemah QS. Al-Anbiyya (21):69.

Dengan rahmat Allah swt Ibrahim as dibebaskan dari panasnya kobaran api raja Namrud. Setelah itu Ibrahimpun pergi meninggalkan negri Kaldan dan tinggal selama beberapa tahun di Mesir sebelum akhirnya menetap di Palestina hingga akhir hayat beliau. Hijrah ini persis seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw yang pergi meninggalkan Makkah ke Madinah karena penduduk Mekkah semakin memusuhi nabi dan tidak mau menerima ajakan nabi untuk bertauhid, menyembah hanya kepada Allah swt, Sang Pencipta Yang Satu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Dalam pengembaraan panjang tersebut Ibrahim as tetap menjalankan dakwah menuju Tuhannya. Hingga ketika Ibrahim mencapai usia senja Allah swt tidak juga menganugerahi seorangpun keturunan, Sarah, istri Ibrahim, meminta suaminya agar mau menikahi Hajar, budak pemberian raja ketika mereka tinggal di Mesir. Dan Allahpun mengabulkan keinginan pasangan tersebut. Tidak hanya dengan lahirnya Ismail dari rahim Hajar, naum juga menyusul Ishaq yang lahir dari rahim Sarah yang telah berusia tua.

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. ( Terjemah QS. Ibrahim (14):39-41).

Namun demikian untuk membuktikan ketakwaan keduanya, bapak maupun anak, Allah swt mengujinya lagi dengan cobaan yang maha berat, yaitu penyembelihan ! Meski akhirnya Allah berkenan mengganti sang anak yang telah pasrah sementara sang ayah dengan tegar siap melaksanakan perintah, dengan hewan sembelihan besar. Allahuakbar …

“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. ( Terjemah QS. Asf-Shaffat(37):103-108).

Ibrahim as dan Ismail as membangun Ka’bah di Makkah.

Nabi Ibrahim as meski tetap tinggal di Palestina bersama Sarah dan putranya ishaq as namun secara berkala beliau datang mengunjungi Hajar dan Ismail di Mekah. Mekah, berkat sumber air zam-zam yang terus mengucur deras sejak peristiwa Hajar yang berlarian bolak-balik  7x demi mendapatkan air untuk putranya tercinta, tidak lagi sepi seperti ketika Ismail dan ibunya ditinggalkan Ibrahim beberapa tahun lalu.

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37)

Ya doa nabi Ibrahim as diatas itulah tampaknya yang menjadi penyebab kota Mekah yang tadinya tandus dan tak berpenghuni berkembang menjadi kota yang subur, yang buah-buahannya menjadi sumber rezeki bagi penduduknya.  Di kota inilah Ismail tumbuh menjadi anak yang sholeh, yang senantiasa mendirikan shalat.

Ibrahim dan Ismail ini pulalah yang diberi kepercayaan Allah Azza wa Jalla agar meninggikan Ka’bah yang berdasarkan mayoritas pendapat ulama pertama kali dibangun oleh nabi Adam as. Inilah rumah ibadah tertua yang pernah ada di muka bumi.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Dan untuk mengembalikan kesucian dan kemurnian ajaran Ibrahim as yang sepeninggal beliau telah diselewengkan selama ribuan tahun, Allahpun menurunkan rasulullah Muhammad saw dengan kitab suci Al-Quran sebagai pegangannya. Itu sebabnya hari ini bisa kita saksikan jutaan umat Islam setiap tahun berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan berbagai rangkaiannya, seperti tawaf, sai, lempar jumrah, potong hewan kurban dll. Jadi ritual haji yang dilakukan umat Islam setiap bulan Dzulhijjah itu sebenarnya sudah ada sejak zaman nabi Ibrahim as. Begitupun perintah-perintah lain seperti shalat, zakat dll.

“ … … (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu ( Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22);78).

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.Ali imran(3): 68).

Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “ Para nabi diperlihatkan kepadaku. Aku melihat Musa as, ternyata ia seperti seorang laki laki dari Syanuah. Aku melihat Isa ibnu Maryam as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah Urwah ibnu Mas’ud. Kemudian aku juga melihat Ibrahim as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini ( maksudnya, Rasulullah saw sendiri). (HR Tirmidzi, Muslim dan Ahmad).

Itulah skenario Allah swt  mengapa Ibrahim meninggalkan Ismail di lembah tandus Mekah ketika bayi dulu. Keyakinan bahwa Tuhannya tidak akan “mendzaliminya” membuatnya mantab meninggalkan istri dan putranya tercinta di lembah sepi tak berpenghuni tersebut. Dari alur Ismail inilah, satu-satunya keturunan Ibrahim menjadi nabi yaitu Muhammad saw, yang ditakdirkan sebagai nabi penutup guna meluruskan ajaran Ibrahim. Padahal dari jalur Ishaq banyak keturunan beliau yang menjadi nabi, diantaranya yaitu Musa as, Daud as dan Isa as. Sungguh betapa beruntungnya orang yang dberi hidayah agar mengenal Islam, memeluknya lalu mentaati serta mencontoh nabinya.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam. (Terjemah QS. Al Baqarah (2): 132)

Demikian pula perintah berkurban setahun sekali pada hari raya Haji dengan menyembelih kambing, sapi atau unta sungguh tidak ada artinya dibanding perintah Ibrahim as agar menyembelih putranya tercinta.

Ironisnya, Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam, dan tercatat sebagai negara yang tiap tahun terbanyak mengirimkan jamaah haji, ternyata sebagian dari mereka tidak menunjukkan ke-Islam-annya dengan baik. Ini terbukti dari banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh orang yang mengaku Islam bahkan sudah berhaji, prostitusi yang makin hari makin merajalela, berbagai kejahatan seperti pemerkosaan, narkoba, perjudian dll yang makin tak terbendung.

Menjadi pertanyaan besar, sudahkah para orang-tua mendidik anak-anaknya dengan baik, dengan men-tarbiyah diri sebagaimana yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya ? Mengajarkan dengan santun pentingnya ber-tauhid, menggantungkan diri secara total kepada Allah Yang Esa ? Yakin bahwa rezeki itu telah diatur Sang Khalik hingga tidak perlu mengemis kepada sesama manusia ? Bahwa hidup hanyalah sementara dan akhirat adalah tujuan yang dengan demikian orientasi berpikirnya tidak melulu duniawi?

Pendek kata sudahkan kita menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai panduan hidup, secara kaffah, tidak setengah-setengah dan memilah-milah sesuai keinginan dan nafsu? Tak dapat dipungkiri lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apalagi di zaman dimana demokrasi ala Barat yang sudah kebablasan ini. Adalah tugas orang-tua untuk mencarikan lingkungan yang baik bagi anak-anaknya, yaitu lingkungan yang bersih dari kekufuran bukan sekedar bersih secara fisik.

Semoga Allah swt memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk mengikuti rasulullah saw dalam mencontoh Ibrahim as sebagai panutan, aamiin Allahumma aamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. … … … … … … …“ (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):183 – 184).

Beberapa hari tertentu yang dimaksud tersebut adalah 29 atau 30 hari penuh selama bulan Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan yang merupakan bulan ke 9 dalam tahun Hijriyah memang bulan yang sangat istimewa. Pada bulan inilah tidak saja kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, namun juga kitab suci umat Yahudi yaitu Taurat maupun kitab suci umat Nasrani yaitu Injil, diturunkan.

Namun bedanya bila Taurat dan Injil diturunkan sekaligus maka Al-Quran diturunkan dalam 2 tahapan. Tahap pertama Allah swt menurunkannya secara langsung dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah. Yang ke dua, dari Baitul Izzah kepada Rasulullah Muhammad  saw melalui malaikat Jibril as secara bertahap selama hampir 23 tahun, dan permulaannya diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yaitu pada malam-malam di bulan Ramadhan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. ( Terjemah QS. Al-Qadr (97):1-3).

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/nuzulul-qur-an.htm#.V2qfSbh96Uk

Jadi sungguh tidak aneh mengapa Allah swt memilih bulan Ramadhan sebagai bulan dimana umat Islam mengalami penggeblengan, fisik maupun mental, agar menjadi hamba-Nya yang takwa. Yang dengan demikian akan menambah limpahan cinta dan ridho Sang Khalik atas umat yang telah dilebihkannya atas umat yang lain itu.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Terjemah QS. Ali Imran (3):110).

Ayat diatas menjelaskan secara gamblang mengapa Allah swt menyebut kita, umat Islam, adalah umat terbaik. Yaitu karena Islam menyuruh kepada yang ma`ruf ( kebaikan) dan mencegah dari yang munkar ( kejahatan), selain beriman kepada-Nya, tentunya. Untuk itulah setiap tahun diadakan pelatihan dan penggemblengan diri, agar kita tidak lupa akan fitrah tersebut. Itulah Ramadhan, bulan penggemblengan.

Selama hari-hari bulan suci tersebut Allah swt  memerintahkan kita agar berpuasa menahan lapar dan haus serta hubungan badan antara suami dan istri, dimulai dari terbitnya fajar hingga tenggelam matahari. Selama satu bulan penuh itu pula di perintahkannya agar kita dapat menguasai segala macam emosi buruk kita, seperti marah, iri, dengki, bergunjing dll, termasuk mempertontonkan aurat. Allah swt juga memerintahkan agar kita memperbanyak perbuatan baik, seperti berinfak, membantu orang yang dalam kesulitan dll, disamping menjalankan shalat malam dan membaca kitab suci Al-Quran.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. ( HR.Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079).

Agar suasana kondusif, karena Allah swt maklum bahwa godaan syaitan amatlah berat dan dasyat, maka dibelengguNya syaitan-syaitan terkutuk. Dan sebagai penyemangat dibukaNya pintu-pintu surga lebar-lebar serta ditutupNya rapat-rapat pintu-pintu neraka. Dengan kata lain bila pada bulan suci tersebut kita tidak dapat juga menguasai diri kita sendiri dari sifat2 syaitan terkutuk, sungguh alangkah meruginya kita.

Ibaratnya sekolah, bulan Ramadhan adalah ujian akhir sekolah. Dan agar para murid dapat melaksanakan ujian dengan baik, adalah kewajiban sekolah untuk meng-kondisikan suasana sekolah yang tenang, jauh dari hingar bingar yang berpotensi mengganggu konsentrasi murid.

Jadi sungguh aneh bila kemudian di negri yang katanya mayoritas Islam ini, ternyata ada pejabat tinggi, yang tidak mau memerintahkan warung makan agar menutup warungnya di siang hari. Alasannya demi menghormati mereka yang tidak berpuasa. Inikah toleransi kebablasan?

https://www.nahimunkar.com/kebijakan-nyeleneh-hormati-tidak-puasa-dikecam-ulama/

http://www.suara-islam.com/read/index/18606/Hormati-yang-Tidak-Puasa–Habib-Rizieq–Itu-Logika-Kaum-Zindiq

Ironisnya, tidak sedikit pula orang yang nyinyir berkomentar “ Masak diiming-imingi makanan gitu aja jadi pingin batal puasa. Justru itu tantangannya!”.

Kalau kita tinggal di negara dimana kita minoritas, di Eropa atau Amerika misalnya, masih bisa ditrima. Tapi ketika kita di rumah sendiri, sebagai mayoritas pula, apakah itu tidak aneh? Sementara Sang Khalik saja sebagai Penguasa Tertinggi telah memberikan keistimewaan bagi kita, dengan diberinya suasana kondusif …

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):119).

Ayat diatas ditujukan kepada kaum Muslimin yang hidup pada zaman Rasulullah saw dimana hidup pula di sekitar mereka orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu layaknya musuh dalam selimut yang dari luar kelihatannya sama dengan kaum Muslimin pada umumnya. Namun sesungguhnya mereka tidak menyukai kaum Muslimin.

Tapi yang lebih ajaib lagi ketika ada pejabat gubernur yang memerintahkan agar sekolah tidak membuat aturan siswa perempuan wajib berjilbab di bulan Ramadhan. Apa urgensinya seorang non Muslim meski ia seorang gubernur, ikut repot dengan urusan yang tidak menjadi wewenangnya ?

Namun ya sudahlah, inilah ketetapanNya yang harus kita ambil hikmahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Ramadhan adalah bulan penggemblengan agar kita menjadi manusia yang takwa, yang ber-akhlak mulia. Bila ketika di bulan Ramadhan kita terbiasa menjaga emosi agar tidak suka berbohong, tidak mudah marah, tersinggung, jauh dari ghibah dll. Maka kebiasaan baik tersebut harus kita pertahankan walaupun Ramadhan telah usai.

Bila ketika Ramadhan murid-murid perempuan mengenakan jilbab karena adanya aturan sekolah. Maka usai Ramadhan tetap mengenakannya, karena memang itu adalah perintah-Nya.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami, … … “. (Terjemah QS. An-Nuur(24):31).

Bila ketika Ramadhan kita semua menantikan waktu datangnya Magrib, dengan tidak sabar, untuk berbuka. Maka seperti itu pula nantinya, di 11 bulan lainnya, kita semua juga menanti Magrib, bukan untuk berbuka, tapi untuk bersegera menjalankan shalat Magrib secara berjamaah, di masjid.

Bila ketika Ramadhan kita berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Taraweh, maka di bulan-bulan lain kita juga berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Isya berjamaah. Dan bila ketika Ramadhan kita bangun pagi sebelum waktu Subuh untuk sahur, maka di bulan-bulan lain kita bangun untuk shalat Tahajud dan bersiap menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

“Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 645, 646 dan Muslim no. 649, 650)

Meski bagi Muslimah shalat jamaah di masjid, terutama shalat fardhu, tidaklah wajib. Karena shalat di rumah bagi mereka lebih baik. Sebaliknya shalat sunnah seperti Taraweh boleh dilakukan di masjid dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya yaitu atas izin suami, dan bila keadaan aman.

https://cahayawahyu.wordpress.com/religion/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita-dari-berbagai-pendapat/

Jadi sungguh tepat ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, yang berarti semoga Allah menerima ( amalan) kami dan ( amalan) kalian. Bukan “ Minal Aizin wal Faidzin” yang selama ini lazim digunakan masyarakat Indonesia tanpa sadar bahwa itu bukan hal  yang diajarkan Rasulullah saw. Apalagi dengan tambahan ucapan “ maaf lahir dan bathin” seolah itu adalah terjemahan “ Minal Aizin wal Faidzin”.

Permintaan maaf dan saling memaafkan dalam Islam bisa dilakukan kapanpun tanpa menunggu hari Raya Lebaran/Iedu Fitri. Bahkan bila kita berbuat kesalahan sebaiknya segera meminta maaf, tidak menunda-nundanya.

Jubair bin Nufair berkata, “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Juni 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Darurat Kristenisasi

Perkembangan Kristen terpesat di dunia ada di Indonesia. 140 persen selama lima tahun. dan pemurtadan besar-besaran Muslim ada di negara Muslim terbesar di dunia, itulah Indonesia. Dua juta pertahun murtad !” .

Pernyataan tersebut diucapkan Brigjen Pol (purn) Anton Tabah, anggota Komisi Hukum dan HAM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, saat menghadiri soft launching Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/4/2016).

Menurut Anton presentase penduduk Muslim di negri kita tercinta saat ini mengalami penurunan drastis. Menurut data yang dilansir, Muslim Indonesia saat ini hanya tinggal 73 persen. Bandingkan dengan tahun 1950 yang sebanyak 99 persen, 89 persen paska lengsernya Suharto dan terus menurun  sejak adanya reformasi.

http://www.nugarislurus.com/2016/04/polemik-temuan-data-2-juta-muslimin-indonesia-murtad-setiap-tahun.html

Pakar Kristenisasi kenamaan, ustad Munzir Situmorang, menegaskan kabupaten Sukabumi, Cianjur,  Ciamis dan sekitarnya sejak beberapa tahun belakangan telah menjadi target kristenisasi para misionaris. Di kabupaten Cianjur, tak jauh dari tempat wisata Taman Bunga Cipanas, berdiri sebuah tempat wisata ziarah Kristen terbesar di Asia tenggara. Di tempat ini ratusan pasien setiap hari datang untuk berobat gratis untuk kemudian dimurtadkan.

Sedangkan untuk Sumatra, ustad Munzir mendapat informasi bahwa Lampung, Jambi, Bengkulu dan Palembang  adalah daerah yang masuk target pemurtadan. Bahkan Aceh yang selama ini dikenal dengan julukan Serambi Mekah dan Sumbar yang dikenal sebagai gudangnya para ulama, tak luput dari sasaran kristenisasi ! Naudzubillah min dzalik.

Ustad asli Medan ini juga mengingatkan betapa para pemuda Muslim di negri mayoritas Muslim ini amat sangat rentan di murtadkan. Keimanan yang tipis dan pengetahuan keislaman minim adalah penyebab utamanya.

“Berapa banyak lulusan S2 luar negri namun jadi imam shalat jenazah orang-tuanya saja tidak mampu. Bahkan tidak sedikit shalat Subuh saja terlewat. Ironisnya, orang-tuanya tidak menganggap sebagai masalah serius !”, keluh ustad Munzir.

“Jangankan shalat Subuh berjamaah, cobalah tengok sekeliling bapak-ibu sekalian, adakah anak muda di ruangan ini ???  “, tanyanya lagi, getir.

Kegelisahan ustad Munzir tampaknya sangat beralasan. Benteng keimanan terkuat adalah keluarga. Sekalipun miskin, iming-iming bantuan keuangan maupun pelayanan kesehatan gratis yang menjadi ujung tombak misionaris, tapi bila keimanan kuat tentu tak mudah pemurtadan terjadi. Ironisnya, pemurtadan tak jarang dilakukan oleh umat Islam sendiri !

Bahkan belakangan muncul pula ulama-ulama NU nyleneh yang kerap membuat pernyataan menyimpang, seperti yang diakukan Said Aqil Siraj, yang belakangan terindikasi beraliansi dengan Syiah. Terakhir ia menyatakan bahwa pemimpin kafir yang baik lebih utama dari pada seorang Muslim tapi dzalim. Untuk itu ia nekad mengajak dan mempromosikan Hari Tanoe kepada para santri suatu pesantren. Di tempat tersebut konglomerat non Muslim sekaligus politikus yang dikenal kerap berpindah dari satu partai ke partai lain tersebut, disambut bak seorang ulama besar. Para santri berebut bersalaman dan mencium tangannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Ayat di atas menunjukkan bahwa dzalim menurut kriteria Allah swt adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jadi bagaimana mungkin seorang Said Aqil bisa mengatakan hal yang bertolak belakang. Anehnya ia bisa berhasil kembali terpilih sebagai ketua umum PBNU meski banyak tokoh NU menolaknya. Hingga akhirnya lahir NU garis lurus untuk menunjukkan bahwa ada NU yang tidak lurus alias melenceng.

Belum lagi tokoh-tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal) yang dengan ringannya suka menafsirkan ayat-ayat suci Al-Quran sesukanya tanpa mengacu hadist shoheh, dan seenaknya menyamakan semua agama adalah sama. Dengan lihainya mereka bertutur bahwa Injil maupun Al-Quran sama-sama diturunkan oleh  Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala, Tuhannya semua orang, tanpa menerangkan terjadinya penyimpangan terhadap kitab yang dibawa nabi Isa as tersebut. Tentu bagi Muslim yang cetek ilmunya terdengar mengesankan, sekaligus menyesatkan!

Ini makin membuktikan bahwa JIL dan Syiah memang bukan Islam, dan sedang berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah JIL dan Syiah adalah bagian dari “ The Grand Design New World Order Dajjal Si Mata Satu”?? Seperti juga penyebar isu Islam adalah teroris, penggagas ISIS yang jauh dari Islam dll, yang menjadi penyebab lahirnya Islamophobia akut. Ironisnya, korbannya bukan hanya non Muslim yang tidak pernah mengenal ajaran Islam tapi juga kaum Muslimin itu sendiri. Yaitu dengan munculnya rasa tidak percaya diri terhadap ke-Islam-annya … 😦

Ntahlah, yang pasti, Kristenisasi bukan isapan jempol belaka. Para misionaris tidak main-main dengan “ Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi 2005-2020”, sebuah program kristenisasi yang terdiri atas W10/40  dan W4/14. W10/40 atau Window 10/40 adalah sebuah kode untuk kawasan yang terbentang dari 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa. Itulah negara-negara dari Afrika Barat sampai Asia Timur. Negara-negara  mayoritas berpenduduknya Muslim ini adalah sasaran misionaris untuk pemurtadan.

( Lihat   http://misi.sabda.org/tantangan-dari-jendela-1040 ).

Sedangkan W4/14 atau Window/14 adalah rentang anak usia 4 hingga 14 tahun yang disasar misionaris untuk   digarap menjadi ujung tombak Kristenisasi. Mengapa 4 hingga 14 ? Karena itu adalah usia rentan dimana anak mudah diiming-imingi “kesenangan sesaat”. Diantaranya melalui hiburan seperti game online, mainan boneka, permen dan aneka permainan lain. Apalagi dengan kondisi saat ini dimana kedua orang-tua sibuk bekerja mencari nafkah dan mengejar karir.

Mereka menargetkan kedua program tersebut sepanjang tahun 2005-2020. Dapat dibayangkan bila sekarang saja, yaitu tahun 2016, mereka telah berhasil memurtadkan 2 juta Muslim pertahun, dan membuat persentase Muslim merosot hingga menjadi 73 persen, bagaimana pada tahun 2020 nanti ???  Alangkah mengerikannya !! Sementara kita tahu di Barat masyarakat, sebagian besar ilmuwannya pula, justru berbondong-bondong memeluk Islam.

( Lihat http://www.renunganharian.net/23-sisipan/juli-2012/349-jendela-4-14.html ).

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Junaidi Salat, pemeran film tahun 70-an “ Ali Topan anak jalanan” yang menikahi gadis Batak kemudian murtad dan kini menjadi pendeta. Dengan lancang ia mengatakan bahwa sebagian besar orang Islam itu bodoh hIngga dengan mudahnya bisa dimurtadkan.  Pendeta ini menyatakan bahwa gereja tempat ia berdakwah, ditargetkan menjadi gereja yang diisi seluruhnya oleh jamaah mantan Muslim.

“Mantan Muslim yang jadi jamaah saya awalnya hanya 5 orang, Sekarang sudah mencapai ratusan”, aku pendeta yang suka memalsukan ayat-ayat Quran itu, dengan bangga.

http://www.kabarmakkah.com/2016/04/inna-lillahi-pdt-junaedi-palsukan-ayat.html

https://www.youtube.com/watch?v=AOnFr1SJ1PM

Video diatas memperlihatkan bagaimana seorang murtad memurtadkan teman dan keluarganya sendiri tanpa dalil yang jelas. Naudzu’billah min dzalik …

Berikut adalah ayat 30 – 36 surat Maryam yang menunjukkan Isa as hanyalah seorang nabi seperti juga nabi Muhammad saw, nabi Musa as, nabi Ibrahim as dll.

Berkata Isa:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya:

“Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus”. 

Yang juga memprihatinkan adalah peran pemerintah yang terkesan tidak peduli terhadap fenomena ini. Salah satu contohnya adalah Fauzi Bowo. Mantan gubernur  DKI ini di akhir jabatannya malah meletakkan batu pertama pembangunan sebuah gereja raksasa seluas 6000m2 dengan kapasitas 6000 jamaah. Padahal penghuni area yang meliputi 5 kelurahan di Cipayung Jakarta Timur tersebut bukan mayoritas Kristen. Tentangan dari warga sekitar yang masih terus terjadi hingga detik ini sama sekali tidak digubris.

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Papua ketika kaum Muslimin ingin membangun rumah ibadah meski hanya sekedar mushola, bukan masjid. Dengan beringas dengan celurit di tangan warga menghancurkan dan membakar mushola sederhana tersebut. Tidak hanya itu, bahkan Persekutuan Gereja resmi menolak adanya pembangungan masjid di Papua. Namun adakah media main stream yang menyoroti hal tersebut ? Dimana suara Komnas  HAM??

http://islamedia.id/komnas-ham-membisu-melihat-umat-islam-papua-dilarang-membangun-masjid/

Mungkin inilah saatnya para ulama dan pendakwah harus bersatu, menjauhkan perbedaan dan merekatkan persamaan. Bukan lagi saatnya mempermasalahkan perbedaan kecil apalagi hanya di cabang. Aqidah umat harus diperkuat. Dakwah harus dari segala arah, disesuaikan dengan yang didakwahi. Anak-anak muda sudah waktunya mendapat perhatian khusus, didakwahi dengan materi dan cara yang sesuai dengan perkembangan jiwa dan kebutuhan mereka. Merekalah yang kelak akan  meneruskan perjuangan dakwah yang makin lama makin berat.

Yang juga patut diingat, Islam bukan melulu agama langit yang mengabaikan kesejahteraan kehidupan dunia. Artinya zakat infak sedekah harus benar-benar mengena sasaran yaitu menghilangkan kemiskinan. Karena kemiskinan beresiko melunturkan keimanan. Oleh karenanya masjid harus dikembalikan fungsinya bukan sekedar sebagai tempat shalat tapi juga sebagai pelayanan bantuan rakyat miskin, baik untuk bantuan keuangan maupun kesehatan.

Kristenisasi lewat perut yaitu mereka yang miskin harta dan aqidah, layanan kesehatan dan anak-anak muda yang lemah iman memerlukan perlawanan dan persatuan dari seluruh komponen Islam. Islamphobia harus segera diatasi agar rasa tidak percaya diri kaum Muslimin yang imannya sejak awal memang sudah tipis tidak makin menjadi tipis bahkan pudar dan hilang.

Untuk itu diperlukan tokoh panutan demi mengembalikan rasa percaya diri mereka. Para ulama harus dapat meyakinkan umatnya perlunya mempelajari dan memperdalam ilmu agama, tidak hanya puas sebagai Islam terlahir. Pentingnya ber-akhlak mulia, menjaga silaturahmi, hormat kepada orang-tua dll.

Akhir kata, semoga Allah swt ridho menjaga kita dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman yang sungguh mengerikan tersebut. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi kita kekuatan dan kesabaran di tengah keterasingan  seperti terasingnya para sahabat 14 abad silam, aamiin Allahumma aamiin …

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Mei 2016.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Bagi seorang Muslim Hawqalah yaitu lafaz ‘ Laa hawla wa laa quwwata illa billah “ tentu bukan hal yang asing. Ucapan tersebut sering kali diucapkan secara spontan ketika seseorang dalam kesulitan, dalam keadaan tertekan atau bisa juga ketika seseorang terkagum-kagum menyaksikan keajaiban yang terjadi, yaitu suatu kejadian yang mustahil terjadi menurut pikiran manusia.

Namun demikian mungkin tidak semua Muslim menyadari betapa dasyatnya Hawqalah tersebut. Karena sesungguhnya kalimat ringkas ini sarat makna dan memiliki keutamaan yang luar biasa.

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada ‘Abdullah bin Qois,

“Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386).

“ Laa hawla wa laa quwwata illa billah “ biasa diartikan dengan beberapa arti yang mirip satu sama lain. Sebagian ulama mengartikannya dengan “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata “. Sementara sebagian lain mengartikannya dengan “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.” Dan ada pula ulama yang menafsirkannya dengan “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah”.

Ibnu Mas’ud berkata,“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan, “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27).

Lafaz “Laa haula wa laa quwwata illa billah” sesungguhnya adalah ungkapan penyerahan diri dalam segala urusan, khususnya sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak diharapkan,  kepada Allah Azza wa Jalla sebagai Sang Pemilik. Tidak seorang hambapun mampu berbuat sesuatu bila Allah tidak berkehendak. Pun tidak kuasa menolak sekecil apapun bencana bila Allah menghendakinya.

Manfaat dan kelebihan memperbanyak Hawqalah diantaranya adalah :

  1. Sebagai simpanan kekayaan yang berlimpah di surga, dan pengaruhnya sangat menakjubkan.

Dari Abi Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam syurga?”, Maka aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah”. Maka beliau menjawab: “Ucapkanlah Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah”

Suatu ketika Al Asyja’i melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa anaknya yang bernama Auf telah ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah berpesan kepadanya agar Al Asyja’i mengutus seseorang untuk menemui anaknya dan menyampaikan agar Auf memperbanyak membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah”.

Maka setelah hal tersebut disampaikan dan Auf memperbanyak membaca “Laa Haula wa La Quwwata Illa Billah” terjadilah bermacam keajaiban. Betapa tidak, tali kulit yang mengikat tangan Auf tiba-tiba terlepas maka Auf pun kabur dengan menunggang onta milik musuh.

Bahkan saat Auf di kejar dan bertemu dengan musuhnya kembali dia dapat terlepas setelah membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah.”

Orang tua Auf menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullahpun mengijinkan Auf untuk mengambil onta yang telah dicurinya dari musuhnya tersebut. Setelah itu turunlah ayat Al-Qur’an:

“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar,” ( Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):2)

Rasulullah saw bersabda: “ Perbanyaklah membaca ‘La Haula wa La Quwwata Illa Billah’, karena sesungguhnya ia merupakan perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan Surga. (HR.Ahmad)

  1. Penawar bagi segala penyakit dan penderitaan seperti rasa bimbang.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka hal itu sebagai penawar baginya dari 99 penyakit dan yang termudah adalah rasa bimbang”. (HR. Tabrani).

Hubaib bin Salamah rahimmullah saat menghadapi musuh atau mengepung sebuah benteng sangat senang memperbanyakkan ucapan “ Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah “.

Diceritakan bahwa suatu hari ia mengepung sebuah benteng milik bangsa Romawi sehingga ia putus asa, lalu tentara kaum Muslimin membaca zikir tersebut sambil bertakbir, akhirnya benteng tersebut hancur.

Pengalaman luar biasa juga pernah diceritakan oleh Abu Khair, Ishaq Al Gharawi. Dia menceritakan bahwa mereka pernah diserang sebuah pasukan dengan delapan puluh ekor gajah. Akibatnya pasukan mereka, termasuk pasukan berkuda menjadi berantakan.

Peristiwa ini, ujar Abu Khair membuat Muhammad bin Qasum panik. Melihat kondisi ini dia kemudian membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah” berkali-kali.

Tak lama kemudian tiba-tiba saja gajah-gajah tersebut berhamburan mencari sumber air. Para pawang mereka tak mampu mengendalikan tingkah aneh gajah-gajah peliharaan mereka itu. Ternyata Allah swt telah memberikan rasa panas dan haus yang amat sangat kepada para gajah ciptaan-Nya tersebut.

Akhirnya, para pasukan Ishaq Al Gharawi pun dapat melanjutkan perjalanan, bahkan dengan menaiki gajah yang sudah ditaklukkan tersebut.

  1. Pencegah bahaya, dan bahaya yang paling rendah adalah bahaya kemiskinan.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan “ Kalimat Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah” mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

Makhul rahimahullah berkata: “ Barangsiapa yang yang mengatakan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka akan lenyap dari dirinya tujuh puluh pintu petaka, yang paling rendah adalah bencana kemiskinan”.

Tentang keutamaan kalimat ini, banyak hadits meriwayatkannya.

Nabi saw yang mulia bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat yang berasal dari bawah ‘Arsy dari pusaka surga? Katakanlah olehmu: Laa Haula wa La Quwwata Illa Billah”, niscaya Allah akan mengatakan, ‘hambaKu telah menyerahkan dirinya dan meminta perlindungan.”(HR Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a)

“Perbanyaklah Al-Baaqiyaat Al-Shaalihaat, yaitu tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan laa haula wa laa quwwata illa billah.”(HR Ahmad, Ibn Hibban dan Al-Hakim dari Abu Sa’id r.a)

Begitu juga hadis dari Abu Musa ra, beliau berkata:

‘Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Maukah aku tunjukkan salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan syurga? Saya menjawab: “Mau ya Rasulullah”. Kemudian baginda bersabda: “La haula wala quwwata illa billah.”’

Imam a-Nawawi berkata: “La haula wa la quwwata illa billah”, itulah kalimat yang digunakan untuk menyerah diri dan menyatakan bahwa kita tidak mempunyai hak untuk memiliki sesuatu urusan. Ia kalimah yang menyatakan bahawa seseorang hamba tiada mempunyai daya upaya untuk menolak sesuatu kejahatan (kemudaratan) dan tiada mempunyai daya kekuatan untuk mendatangkan kebaikan kepada dirinya melainkan dengan kudrat iradat Allah subhnahu wa ta’ala juga.”

Itu sebabnya seorang mukmin yang senantiasa mengucapkan kalimat “La Haula wala Quwwata illa billah” berulang-ulang kali, menyerahkan segenap hatinya kepada Sang Khalik, insya Allah jiwanya akan tenang, tenteram, dan segala urusan kembali kepada Allah Ta’ala.

Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa mukjizat pertolongan Allah swt bukan hanya hak monopoli para nabi. Seperti ketika nabi Ibrahim as yang tetap bugar meski dibakar api oleh raja Namrud atau nabi Musa as yang dikejar musuh dan tersudut di tepi laut hingga Allah swt memberikan pertolongan-Nya dengan terbelahnya laut. Ataupun nabi Yunus as yang dalam keadaan putus asa terbuang dari kapal kemudian dimakan seekor ikan hiu tapi bisa tetap hidup.

HauqalahJuga ketika Rasulullah saw dikejar musuh hingga mulut gua bersama sahabat Abu Bakar as-Siddiq, tetapi musuh  tidak dapat melihatnya. Pertolongan Allah swt yang semacam itu juga diperuntukkan kaum Muslimin melalui Hawqallah yaitu lafaz “La haula wa la quwwata illa billah”. Secara lengkap kita juga dapat menambahkan lafaz ” alliyil adzim” yang berarti ” Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” di belakangnya.

Masya Allah … Sungguh, alangkah beruntungnya kita umat Islam.

Wallahu’ alam bish shawab.

Jakarta, 18 April 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

“ Lebih baik kafir tapi tidak korupsi dari pada Muslim tapi korupsi” !

Ungkapan diatas tiba-tiba menjadi demikian populer, khususnya menjelang di gelarnya pesta demokrasi dalam rangka pemilihan kepala daerah(pilkada) DKI 1 2017 mendatang. Padahal Al-Quran jelas-jelas melarang kaum Muslimin memilih pemimpin dari golongan orang kafir.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” ( Terjemah QS. An-Nisaa’ (4): 144).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” ( Terjemah QS. Al-Maa-idah (5): 57).

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” ( Terjemah QS. Ali ‘Imraan (3): 28).

Ironisnya, ungkapan tersebut justru datang dari kaum Muslimin sendiri !  Orang-orang ini ngotot berpendapat “ Hanya Allah yang berhak menghakimi siapa yang kafir siapa yang tidak, bukan manusia ”.

Ada apakah gerangan ? Siapakah yang tidak benar, masyarakat yang tidak memahami ajaran agamanya atau pemimpin yang selalu mengecewakan masyarakatnya ???  Yang pasti ungkapan diatas jelas sama sekali tidak benar. Karena dosa terbesar dalam kacamata Islam adalah dosa syirik yaitu menyekutukan Sang Khalik, Azza wa Jalla. Itulah orang kafir.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Jadi bagaimana mungkin orang yang mengaku beriman namun memilih pemimpin yang menanggung dosa besar bahkan dosa terbesar yang tidak diampuni-Nya. Pemimpin yang bukan saja tidak bisa memahami kitab kita, bahkan percayapun tidak ! Yang bahkan setuju dengan prostitusi, lgbt, melarang takbir keliling dan lain-lain yang berhubungan erat dengan Islam. Bagaimana mungkin Allah swt akan memberikan berkah-Nya kepada kita umat Islam?? Padahal sebagai orang beriman itulah yang paling dinantikan.

” Indonesia bukan negara Muslim mengapa pula memilih pemimpin harus membawa-bawa agama?”, begitu alasan sebagian masyarakat.

Ini tidak ada hubungannya dengan negara Islam atau bukan. Adalah tanggung-jawab setiap Muslim menjalankan agamanya. Muslim yang benar, baik itu pemimpin ataupun bukan, adalah mereka yang takut pada Tuhan-Nya, yang melaksanakan segala perintah dan menjauhi semua larangan.

Bila kemudian timbul pertanyaan mengapa ada orang yang mengaku Muslim, menjalankan shalat, puasa, zakat, haji dll tapi tetap korupsi ?

Jawabnya, yaitu karena ia melaksanakan kewajiban tersebut hanya ala kadarnya, sekedar menunaikan kewajiban, tanpa ilmu. Mungkin ia lupa bahwa segala amal ibadah itu sejatinya merupakan gabungan antara gerakan fisik/amal jasadiyah dan niat di hati/amal bathiniyah. Amal bathiniyah didasarkan atas beberapa hal, diantara karena adanya iman, yaitu yakin terhadap adanya rukun Iman yang 6, adanya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, rasa takut ( khouf) dan harap ( roja’) serta adanya rasa pasrah dan kemauan untuk bertaubat. Pada tingkat inilah betul, hanya Allah swt yang berhak menilai seseorang itu kafir atau tidak. Tapi selama ia telah bersyahadat dan mendirikan shalat ia adalah Muslim.

Bukan lagi menjadi rahasia bahwa sebagian besar Muslim Indonesia adalah Muslim sejak lahir. Mereka lahir dari orang-tua Muslim dan hidup di lingkungan Muslim walau belum tentu Islami. Mereka mungkin shalat, puasa dll. Namun belum tentu melibatkan bathin, karena bisa jadi hanya menuruti perintah orang-tua dan guru di sekolah.

Sebaliknya dengan mualaf, yang hijrah, kembali ke fitrah karena mereka memang mencarinya. Mereka mau belajar hingga akhirnya menemukan kebenaran sejati. Dan akhirnya sadar bahwa shalat, puasa dll itu bukan sekedar gerakan fisik yang dikerjakan karena perintah, namun lebih karena kebutuhan. Mereka mengerjakannya dengan hati, karena yakin Allah itu ada, dan senantiasa mengawasi gerak-gerik manusia. Mereka percaya adanya segala yang ghaib seperti malaikat, surga, neraka dll.

Di atas itu, rasa syukur mereka atas segala nikmat seperti nikmat iman, islam, hidup, sehat, rezeki dll telah mampu melahirkan cinta mereka yang sangat besar kepada Tuhannya. Disamping juga rasa takut ditinggalkan dan dijauhi-Nya serta takut tidak mendapatkan cinta  dan perhatian-Nya dll. Disamping juga takut akan siksa dan azab-Nya. Jadi takutnya bukan seperti takut kepada orang jahat atau binatang buas atau yang semacamnya. Inilah yang akan melahirkan Muslim yang ber-akhlakul khorimah/ akhlak yang baik. Yaitu Muslim yang amanah, jujur dan santun.

Tapi tentu saja ini bukan berarti bahwa Muslim yang sejak lahir tidak mengamalkan amal bathiniyah. Mantan presiden RI ke 3 BJ Habibie adalah salah satu dari banyak contoh yang ada. Pada suatu kesempatan mantan ketua ICMI ( Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pertama ini berkomentar  bahwa bila waktu bisa diputar ulang beliau lebih memilih ilmu agama dari pada sains yang sekarang disandang dan telah membesarkan namanya. Kedekatannya dengan anak-anak yatim piatu selain pribadi yang dikenal bersih bebas dari korupsi membuktikan hal tersebut.

Kemudian ada juga ibu Risma (walikota Surabaya), Ahmad Heryawan ( gubernur Jawa Barat), Ridwan Kamil (walikota Bandung),  M. Zaenal Majdi ( gubernur NTB), Adhyaksa Dault ( mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga) yang sering menjadi khatib shalat Jumat, atau pengusaha muda Sandiago Uno ( mantan ketua umum HIPMI ) yang rajin tahajud, dan masih banyak lagi.

Dari dunia internasional ada presiden Turki Tayyib Erdogan, Sultan Bolkiah dari Brunei serta Ahmed Aboutaleb, wali kota Roterdam di Belanda yang terbukti sukses menjadi pemimpin di kota dan negaranya masing-masing tanpa harus kehilangan identitas Muslim yang baik.

Tidak ada manusia yang sempurna, itu sudah pasti. Itu pentingnya ada pengawasan. Bukankah Islam mengajarkan agar saling mengingatkan dalam kebaikan ?

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” .(Terjemah QS. Al-Ashr(103):2-3).

Yang juga patut menjadi catatan, ungkapan “ Lebih baik kafir tapi tidak korupsi dari pada Muslim tapi korupsi”  di klaim sebagai pernyataan dari khalifah sekaligus sahabat dan ponakan nabi Muhammad saw yaitu Ali bin Abi Thali ra. Padahal sebenarnya adalah hanya pernyataan Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus, dikenal dengan sebutan Sayyid Ibnu Thawus, seorang tokoh ulama Syiah asal Irak yang lahir tahun 589 M.

http://manhajuna.com/sumber-ungkapan-pemimpin-kafir-yang-adil-lebih-baik-dari-pemimpin-muslim-yang-zalim/

Akhir kata, bila merasa Muslim pilihlah pemimpin Muslim, tapi jangan sembarang Muslim melainkan pilihlah Muslim yang berkwalitas.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 21 Maret 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Belakangan ini marak beredar pemberitaan tentang Gafatar, yang kemudian berlanjut dengan keluarnya fatwa MUI tentang kesesatan organisasi tersebut. Heboh tentang Gafatar muncul paska adanya laporan kehilangan demi kehilangan orang, khususnya di kantor polisi DIY Yogyakarta.

Pada akhir Desember 2015 seorang dokter bernama Rica Tri Handayani dilaporkan hilang bersama putranya yang masih balita. Ketika itu ia baru datang dari Lampung ke Yogya untuk menjenguk suaminya yang sedang mengambil spesialisi dokter, tetapi nyatanya sang suami tidak pernah bertemu dengan sang istri. Setelah lebih kurang 2 minggu, akhirnya polisi berhasil menemukan dokter muda tersebut di bandara Pangkalan Bun – Kalteng, bersama 6 orang lainnya. Memang selama 2 minggu dan beberapa hari setelahnya polisi kebanjiran pengaduan orang hilang.

Anehnya, setelah melalui pemeriksaan, pengakuan dokter Rica terhadap polisi tidak sama dengan pesan yang ditinggalkannya untuk sang suami. Kepada polisi ( sama dengan pengakuan 2 sepupu Rica yang sementara dituduh sebagai pelaku penculikan) Rica beralasan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sementara kepada suaminya ia berkata ingin berjuang di jalan Allah.

Yang pasti pada akhirnya polisi berkesimpulan bahwa Rica adalah mantan anggota Gafatar, sebuah organisasi yang mendeklarisasikan sebagai ormas yang bergerak di bidang sosial. Di situs resminya ormas yang didirikan pada tahun 2012 ini mencantumkan ketahanan dan kemandirian pangan sebagai program kerja mereka. Mereka memajang dokumentasi berbagai kegiatannya, diantaranya perkemahan, pelatihan kebencanaan, pelatihan untuk remaja, dan lain-lain.

“Gafatar bukan organisasi keagamaan,” demikian aku ketua umumnya yang di posting pada Februari 2015.

Namun Abu Deedat, anggota MUI, seorang kristolog sekaligus ketua umum Fakta ( Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan) mengingatkan agar umat Islam waspada terhadap sepak terjang dan ulah Gafatar.

“Di beberapa daerah termasuk di Jakarta mereka banyak mendompleng kegiatan PMI seperti donor darah dan aksi sosial lainnya hingga menjerumuskan banyak orang ke dalam ormas tersebut,” ungkapnya.

Dari penelusurannya, terbongkar Gafatar yang merupakan sempalan NII, adalah organisasi terlarang yang beberapa kali berganti nama.  Adalah Abdus Salam alias Ahmad Mushaddeq yang  mengikrarkan diri sebagai rasul melalui aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah pada tahun 2006. Aliran ini berusaha merangkul sebanyak mungkin pengikut dengan cara mencampur-adukkan ajaran Islam, Nasrani dan Yahudi. Dan mengklaim bahwa Mushaddeq adalah sang messiah yang ditunggu ke 3 agama besar tersebut. Aliran ini juga tidak mau mempercayai hadist. Selain itu juga tidak mewajibkan shalat dan puasa bagi pengikutnya karena dianggap masih dalam periode Mekkah. (?).Aliran ini diperkirakan sempat memiliki 60 ribu pengikut, kebanyakan pelajar dan mahasiswa.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(Terjemah QS. Al-Ahzab(33):40).

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Aku dilebihkan dari para nabi yang lain dengan enam hal: aku diberi ‘jawa’i’ al-Kalim (kalimat yang singkat tapi padat), aku ditolong dengan rasa takut pada musuh, dihalalkan bagiku harta rampasan (ghanimah), bumi dijadikan masjid dan suci bagiku, aku diutus kepada segenap makhluk dan aku menjadi penutup para nabi.” (HR.at-Turmudzy dan Ibn Majah).

Dari Jabir bin ‘Abdullah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan para Nabi seperti perumpamaan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah lalu ia sempurnakan dan buat indah kecuali ada satu tempat ubin lagi. Siapa saja yang memasukinya lalu melihatnya pastilah berkata, ‘Alangkah indahnya kecuali tempat ubin ini. Maka, akulah tempat ubin itu, para nabi ditutup denganku.” (HR.al-Bukhary dan Muslim)

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, sehingga tidak ada Rasul atau pun nabi setelah (sepeninggal)-ku.” …. (HR.at-Turmudzi dan Ahmad).

Syukurlah setahun kemudian yaitu pada tahun 2007, MUI menetapkan bahwa aliran ini sesat,  dan sang nabi palsu itupun dijebloskan ke penjara. Selanjutnya Al-Qiyadah Al-Islamiyah merubah namanya menjadi Milah Abraham, kemudian  Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA) dan terakhir sebagai Gafatar. Gafatar sendiri diresmikan pada tahun 2012 dengan merubah wajahnya aslinya namun sebenarnya masih tetap dengan misi lamanya.

( http://sangpencerah.com/2016/01/membongkar-kesesatan-gafatar.html ).

Bukankah nabi sendiri sudah memperkirakan bahwa  Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya 1 yang masuk surga. Dan saya yakin Milah Ibrahim inilah yang satu itu”, demikian alasan yang dikemukakan seorang kenalan ketika saya menanyakan mengapa ia mau menjadi pemeluk aliran sesat tersebut.

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’ (HR. Ibnu Majah).

(http://almanhaj.or.id/content/453/slash/0/kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam/).

Link diatas adalah beberapa hadist mengenai adanya golongan yang terpecah tersebut. Namun kalau diperhatikan lebih seksama, sebenarnya aneh juga. Aliran tersebut tidak mempercayai hadist namun mengapa ia justru menjadikan hadist diatas sebagai pegangan??

Dan lagi jelas dikatakan bahwa satu golongan yang benar dan masuk surga tersebut adalah Al-Jamaah, yaitu mereka yang berpegangan pada Al-Quran dan As-Sunnah atau Al-Hadist. Apalagi dengan adanya temuan MUI baru-baru ini bahwa terdapat lebih dari seratus aliran sesat di Jawa Barat. Apakah itu berarti perkiraan Rasulullah salah ?? Jawabannya pasti tidak ! Bukankah Allah swt telah menjamin segala apa yang dikatakan dan dikerjakan Rasul itu tidak mungkin menyimpang dari kebenaran ?

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya”. (Terjemah QS. An-Najm(53):1-3).

Dan kalaupun terjadi kekhilafan Allah yang akan langsung menegurnya. Seperti yang diabadikan-Nya melalui surat ‘Abasa misalnya. Surat ini turun menegur Rasulullah yang bermuka masam ketika ada orang buta datang menghadapnya. Ketika itu Rasul memang sedang berusaha mengajak pemuka-pemuka Quraisy agar mau mendengar ajaran Islam. Beliau tidak mempunyai maksud sedikitpun melecehkan orang buta tersebut. Hal sepele sebenarnya namun nyatanya Allah tetap menegurnya. Atau dalam surat AL-Kahfi yang menegur Rasulullah karena lupa mengatakan “ Insya Allah”.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. ( Terjemah QS. Al-Kahfi(18):23-24).

Jadi sudah pasti kitalah yang salah memahaminya. 73 golongan yang dimaksud Rasulullah itu tidak terbentur oleh nama seperti Muhamadiyah, NU, Salafi, Wahabi, FPI, Ahlusunnah Waljamaah ( Aswaja) dll. Namun isinya. Selama golongan tersebut menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pegangan, itulah golongan yang satu itu, yaitu golongan yang benar, yang dijanjikan masuk surga-Nya, apapun namanya.

Sebaliknya golongan/kelompok/aliran/sekte yang tidak demikian, antara lain mempercayai adanya nabi setelah Muhammad saw seperti Ahmadiyah, Gafatar/Milah Ibrahim, Lia Eden dll, tidak mau mengikuti sunnah/hadist seperti Ingkar Sunnah, menghalalkan mut’ah, memfitnah Umirul Mukminin ( istri-istri nabi) dan para sahabat ( kaum Anshar dan Muhajirin) seperti ajaran Syiah, memelesetkan dan memlintir ayat-ayat Al-Quran seperti orang-orang JIL yang menghalakan homoseksual, dll, apapun namanya, itulah golongan sesat yang 72 itu.

“Salah seorang dari kalian akan menjumpai seorang yang bersandar pada kursi sofanya. Datang kepadanya sebuah perintah dari perintahku yang aku perintahkan atau perkara yang aku larang. Kemudian ia menjawab: “Aku tidak tahu perkara itu. Apa yang kami temukan dalam Al-Quran itulah yang kami ikuti.” (HR. Abu Dawud: 3989, Ibnu Majah: 13, At-Tirmidzi: 2587).

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Terjemah QS. An-Nisa’(4): 80).

“ (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):13).

Ironisnya, MUI, lembaga dimana berkumpul para ulama yang seharusnya dapat menjadi pengayom tertinggi umat Islam di negri ini, kurang menunjukkan pengaruhnya. Ntah karena kurang didukung pemerintah era ini atau ntah mengapa fatwa mereka sering kali tidak didengar. Akibatnya berbagai aliran yang telah dinyatakan sesat seperti Syiah dan JIL terus saja berkembang tanpa banyak hambatan, hingga detik ini.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Februari 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »