Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Serba-serbi Perjalanan Haji’ Category

Sabtu, 5 November 2011 / 9 Zulhijjah 1433H.

Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan itu. Itulah hari Arafah, hari yang ditunggu seluruh umat Islam sedunia baik yang sedang berhaji maupun yang tidak. Bagi yang sedang mengerjakan haji, inilah puncaknya.  Sedangkan bagi yang tidak berhaji, puasa pada hari tersebut adalah keutamaan.

“Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari  Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa keinginan mereka (akan Ku kabulkan)?‘” (HR. Muslim).

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Segera setelah menyelesaikan shalat subuh, kami diberangkatkan menuju padang Arafah, yang letaknya sekitar 14 km dari Mina. Kami memasuki perkemahan yang masih sepi ini dalam keadaan masih agak gelap. Udarapun masih terasa sejuk. Karena masih sepi kami bahkan dapat memilih 2 diantara kemah yang disediakan bagi kami, jamaah perempuan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“ Jangan berdesakan. Kita akan berada di dalam tenda ini hingga magrib. Siang nanti udara bakal panas menyengat. Kita mendapat jatah 2 kemah. Silahkan pindah ke kemah sebelah”, begitu pembimbing kami mengarahkan.

Tenda di tempat ini agak berbeda dengan tenda di Mina. Tenda di Arafah tidak sebesar di Mina. Bagian dalamnya berwarna merah tua dengan motif bunga abstrak mirip batik. Begitupun karpetnya. Karpet berwarna merah tua ini jauh lebih bagus dan lebih empuk daripada karpet di Mina. Saya merasa nyaman begitu melihatnya. Semoga saya bisa berdzikir dengan khusuk, batin saya, penuh harap.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”

Tidak ada doa khusus pada hari Arafah ini. Yang dianjurkan hanyalah memperbanyak dzikir dan doa, sedapat dan sesuka kita saja. Karena shalat dan membaca kitab suci Al-Quran adalah bagian dari dzikir atau mengingat Sang Khalik maka ini juga baik kita lakukan. Terutama pada posisi sujud. Karena sujud adalah posisi penyerahan diri tertinggi seorang hamba kepada Sang Pemilik Yang Maha Agung.

Pada hari Arafah, Allah Azza wa Jalla datang mendekati para hamba yang hari itu datang dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan-Nya, dengan segala kerendahan hati, tanpa atribut keduniaan apapun. Pada hari itu, dengan hanya 2 carik kain ihram putih sederhana para hamba datang, sebagaimana ia akan kembali suatu hari nanti.

Hari Arafah adalah hari yang benar-benar sangat istimewa. Karena pada hari-hari dan keadaan biasa adalah mustahil Sang Khalik bisa mendekati mahluk ciptaan-Nya. Ini dapat dibuktikan pada kisah nabi Musa as yang diabadikan pada ayat  143 surat Al-Araf berikut,

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman“.(QS.Al-Araf(7):143).

Ya, bahkan gunungpun hancur luluh begitu Sang Khalik menampakkan diri padanya. Tak sanggup ia menghadapi kebesaran dan keagungan Tuhannya. Allahuakbar ! Namun tidak demikian dengan kita, para jamaah haji, tamu Sang Khalik, yang pada hari itu berkumpul di padang luas nan gersang bernama Arafah dimana di dalamnya berdiri tegak Jabal Rahmah. ( Menurut berbagai sumber Jabal Rahmah adalah tempat dimana nabi Adam as dan Siti Hawa bertemu untuk pertama kalinya sejak turun ke bumi. Wallahu’alam).

Pada hari itu, dengan iradah-Nya, Allah swt tidak hanya ‘menyulap’ diri-Nya agar tidak membuat kita jatuh pingsan atau hancur sebagaimana gunung pada kisah nabi Musa as di atas namun juga mendekat demi untuk mendengar dan mengabulkan doa para tamu istimewa tadi. Yang bila ibadah kita diridhoi-Nya, diterima-Nya, maka bakal bersihlah ia sebagaimana bersihnya bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

Alangkah tingginya penghargaan yang diberikan-Nya bukan? Subhanallah .. Maka dapat dibayangkan, betapa ruginya orang yang dengan sengaja tidak mau menemui panggilan-Nya padahal ia tidak punya halangan. Sengaja atau tidak sengaja, Ia mengetahuinya. Karena Ia mengetahui  apa yang dibisikkan hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS.Qof(50):16-17).

Menjelang zuhur, tanpa terasa tanah haram yang memiliki luas hanya 10.4 km ini sudah dipadati paling tidak 3 juta jamaah dari seluruh penjuru dunia,   221 ribu diantaranya adalah jamaah yang datang dari Indonesia. Para jamaaah akan berada di tempat ini hingga magrib nanti. Dan zuhur adalah batas terakhir jamaah masuk Arafah. Jika tidak maka bakal sia-sia hajinya. Pada tenggang waktu itulah biasanya setiap kelompok dibawah bimbingan uztadz masing-masing akan bermunajat, memanjatkan doa kepada Allah swt.

Ini mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw pada hari Arafah, 9 Zulhijjah 10 H, dihadapan hampir 124.000 umat Islam yang berkumpul untuk melaksanakan haji Wada bersama Rasulullah saw. Berikut sebagian isi kutbah yang penuh makna tersebut,

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini. »

… … …

“ Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya syeitan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.”

… …

“Wahai manusia, takutlah Allah dalam memperlakukan kaum wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka pun mempunyai hak atas kalian”.

… …

“ Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al Quran) dan sunnah nabi-Nya (Al-Hadits)”.

… …

( Untuk baca lengkap isi kutbah Rasulullah saw, clik:

https://vienmuhadi.wordpress.com/2011/04/29/xxviii-haji-wada-khutbah-rasulullah-dan-tanda-sempurnanya-islam/  ).

Saya sendiri memulai hari agung ini dengan mencoba mengingat masa kecil saya. Mencoba mengingat apa yang telah saya perbuat dan apa yang telah saya dapat, sejak saya remaja, muda hingga dewasa dan mencapai usia setengah abad ini. Ya Allah begitu banyak nikmat yang telah Kau berikan pada hamba ini. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat masa kecil, nikmat berkeluarga, nikmat harta benda, nikmat ilmu, pengalaman dan yang terbesar adalah nikmat mengenal-Mu.

Ya, ternyata nikmat terbesar yang harus dan patut disyukuri seorang hamba adalah nikmat mengenal Tuhannya. Tuhan yang menciptakan diri dan seluruh alam semesta ini. Karena hanya dengan mengenal-Nya diri ini akan menjadi tenang seberapapun besar cobaan, baik cobaan senang maupun susah, kaya atau miskin, sehat maupun sakit.

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman(55):13).

Namun seberapa besarkah rasa syukur hamba terhadap segala nikmat yang tak terhingga ini? Seberapa jauh hamba melangkah hingga berani melanggar dan tak acuh terhadap peringatan-Mu ? Terhadap ayat-ayat-Mu ?? Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini.  Ampuni dan maafkanlah segala kesalahan baik  yang disengaja maupun yang tidak disengaja, maafkanlah segala kekhilafan, ketidak- tahuan dan kezaliman diri ini.

“ … … “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“.(QS.Al-Baqarah(2):286).

Menjelang ashar, pembimbing kami memulai tausiyah sekaligus memimpin jamaah memohon doa bersama. Rasanya tak cukup waktu ini untuk memanfaatkan waktu yang makin sempit ini. Menjelang magrib, usai tausiyah, saya segera keluar dari tenda. Bersama suami, kami mencari tempat yang agak tenang untuk kembali memohon ampunan-Nya.

Dengan berdiri menghadap arah Kiblat, kedua belah tangan diangkat, kami bermunajat kepada Sang Pemilik agar amal ibadah kami selama ini diterima-Nya. Dijadikan mabrur haji kami. Dijadikan-Nya anak-anak kami, anak yang sholeh dan sholehah serta keluarga kami keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Tak lupa kami memohon agar umat Islam di seluruh dunia ini bersatu dan mampu menjadi khalifah di muka bumi dengan menegakkan kalimat Tauhid, tentunya dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Setelah matahari terbenam, dengan penuh khidmat, semua jamaah meninggalkan padang Arafah. Padang ini akan kembali sepi, tanpa tenda-tenda dan tamu-tamu Allah,  hingga musim haji tahun depan. Kecuali jamaah umrah yang biasanya datang untuk mengunjungi Jabal Rahmah.

Dengan menaiki bus, jamaah menuju kembali ke Mina namun mampir dulu di Muzdalifah untuk mabit semalam atau minimal hingga melewati tengah malam. Jarak Arafah – Muzdalifah sebenarnya hanya sekitar 11 km. Namun dengan begitu banyaknya bus yang menuju titik yang sama, perjalanan bisa memakan waktu 2 jam, bahkan bisa lebih.

( Bersambung).

Jakarta, 12 Januari 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Rabu pagi, 2/11 atau 6 Zulhijjah, umrah dari haji Tamattu yang kami pilih telah selesai kami laksanakan, semoga mabrur, amiin. Tinggal menunggu waktu haji, 9 Zulhijjah.  Artinya puncak haji, yaitu hari Arafah tinggal 3 hari lagi. Harapan kami dan tentu juga semua calon jamaah adalah kesehatan yang benar-benar prima. Karena ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan mental namun juga kesiapan dan kekuatan fisik. Namun harapan tinggal harapan. Kepada Allah jua segala urusan kembali.

Usai subuh pagi itu, bersama rombongan kami kembali ke pondokan di Aziziyah. Sebelumnya kami sempat terkejut karena seorang pembimbing menegur kami berdua, meski dengan nada bercanda. Menurutnya kami tidak mentaati peraturan dengan tidak segera menuju bus yang telah lama menunggu di sekitar pelataran mall. Padahal sebenarnya bus tidak diperbolehkan parkir di lokasi tersebut.

Sebaliknya, kami juga tidak merasa bersalah. Karena usai subuh kami segera berusaha keluar masjid dan mencari bus dimana ia diparkir. Namun memang tidaklah mudah mengingat begitu penuh sesaknya masjid. Disamping itu kami juga keluar bersama rombongan. Jadi tidak mungkin bus bakal meninggalkan kami.

“ Betul … tapi kalian kan orang Indonesia. Kalian tidak bisa berbahasa Arab. Saya khawatir kalian berdua tersesat. ”, jelas sang pembimbing menanggapi keheranan kami.

Harap maklum, sebagian besar jamaah memang adalah keturunan Arab atau paling tidak pasangannya adalah  keturunan Arab. Kami hanya manggut-manggut,  berusaha mengerti kekhawatirannya. Ada rasa senang karena kami mendapat perhatian khusus. Namun dibalik itu ada juga terselip rasa malu, karena sebagai Muslim koq tidak bisa berbahasa Arab. Ada juga rasa sedikit kecewa. Dari total 300 orang jamaah Meridianis yang berangkat dari Paris, Perancis, sebagian  besar adalah turunan Arab, apakah itu bukan berarti bahwa dakwah kepada penduduk asli Perancis kurang berjalan??

Singkat cerita, bus tiba di pondokan di Aziziyah. Lega rasanya hati ini meski tubuh sangat lelah karena sejak kemarin pagi, sejak perjalanan 10 jam Madinah – Makkah, otomatis kami kurang tidur dan istirahat. Namun rasa lega ini hanya berlangsung sejekap. Karena setiba di kamar pondokan, ketika saya meminta tolong suami untuk memotong sedikit ujung rambut saya, sebagai bagian dari tahalul awal, suami saya terlihat agak kesal dan tidak sabaran. Hal yang tidak biasa. Sayangnya, saya kurang awas hingga termakan bisikan syaitan terkutuk. Sayapun terbawa kesal. Oh, sungguh tidak mudah untuk mencapai haji mabrur. Belum apa-apa sudah tidak bisa menjaga kesabaran. … 😦  Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang lemah ini.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

Padahal ternyata sepulang subuh itu suami merasa tidak enak badan. Rupanya Allah swt sedang mencobanya dengan sakit. Ia terserang muntaber yang agak parah. Seharian ia muntah dan buang air besar berkali-kali.

Menyesal dan sedih nian rasanya hati ini. Hari Arafah sudah di depan mata. Terbayang, bagaimana kalau suami tercinta bakal terpaksa ditandu pada hari tersebut. Karena hadir di padang Arafah pada hari Arafah hukumnya adalah rukun. Tanpa kehadiran ini gugurlah haji.  Itu kalau Allah swt masih memberinya kesempatan dan umur.  Ya Allah berilah ia kesembuhan. Atau bila Engkau menghendakinya kembali, kembalikanlah ia dalam keadaan terbaiknya.

“Allahummaj’al khaira ‘umri akhirah wa khaira ‘amali khawatimah wa khaira ayyami yauma liqak”
(Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan sebaik-baik amalku pada ujung akhirnya, serta sebaik-baik hariku pada saat aku menemui-Mu)

Itu doa yang saya panjatkan. Segera saya kirim sms dan bbm kepada kedua orang-tua, mertua, anak-anak, keluarga dan teman-teman dekat agar ikut mendoakannya. Saya berusaha untuk tegar namun tak urung, maag saya tetap kambuh. Untung hanya sebentar dan tidak terlalu parah hingga segera pulih kembali. Terima-kasih Ya Allah.

Selain itu saya juga harus menahan keinginan yang sejak keberangkatan sudah begitu menggebu yaitu mendirikan shalat sebanyak mungkin di Masjidil Haram.

“Satu shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 shalat ditempat lain, kecuali masjidil haram, dan shalat dimasjidil haram sekali lebih utama dari 100.000 shalat ditempat lain”.(HR Bukhori Muslim). 

Menanggapi ini, pembimbing kami berkali-kali menegaskan bahwa hadits diatas berlaku di seluruh tanah haram termasuk di Aziziyah ini. Jadi tidak harus di Masjidil Haram saja. Saya memang pernah membaca pernyataan yang sama dari mentri agama kita. Namun saya tidak yakin. Setelah browsing kesana kemari akhirnya saya mendapat info bahwa memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang yang dimaksud Masjidil Haram. Sebagian menyatakan bahwa Masjidil Haram adalah seluruh Mekah ( tanah haram) sebagian lain menyatakan Masjidil Haram hanyalah masjid dimana Ka’bah berdiri.

Saya sedikit lega. Toh kondisinya juga tidak memungkinkan. Buat apa memaksakan diri hal yang di luar kekuasaan kita.  Semoga Allah swt masih memberikan kesempatan untuk mendulang pahala 100.000 x tersebut, nanti, setelah wukuf, insya Allah. Akhirnya dengan tenang saya mendirikan shalat di pondokan, secara berjamaah bersama rombongan. Subuh, Magrib dan Isya dilakukan di lantai 7 pondokan, di ruangan terbuka, di bawah naungan langit nan luas. Sementara shalat Zuhur dan Asar diselenggarakan di basement, di musholla yang cukup luas. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi jamaah dari teriknya matahari di siang hari.

Shalat di bawah naungan bintang-bintang dan bulan dengan latar belakang bukit mengingatkan majelis Rasulullah pada masa-masa awal kerasulan. Ini terjadi pada periode Dakwah sembunyi-sembunyi ( Sirriyatud Dakwah). Ketika itu para sahabat yang jumlahnya masih sangat sedikit harus melakukan shalat jamaah secara sembunyi-sembunyi bila tidak ingin ditangkap dan dizalimi pemuka-pemuka Quraisy. Untuk itu maka Rasulullah menggunakan rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam yang terletak di atas bukit, jauh dari pantauan orang-orang Quraisy sebagai tempat berkumpul, untuk berdakwah dan shalat berjamaah.

( baca juga : https://vienmuhadi.com/2010/08/19/vii-dakwah-secara-rahasia-sirriyatud-dakwah/ ).

Sungguh merupakan kenikmatan tersendiri shalat dan berkumpul bersama saudara-saudara seiman di tempat yang dapat mengingatkan kita pada perjuangan Rasulullah dan para sahabat 14 abad silam. Ditambah lagi dengan siraman rohani tentang berbagai masalah baik yang berhubungan dengan ibadah  haji maupun masalah-masalah lain. Mungkin inilah salah satu hikmah yang ingin diberikan Sang Khalik dengan sakitnya suami. Subhanallah …

Esoknya, Kamis, 7 Zulhijjah siang kami mendapat kabar tentang kemungkinan rombongan akan diberangkatkan ke Arafah malam hari ini hingga pagi esok hari. Tidak ada kepastian jamnya, tergantung hasil undian, begitu yang kami dengar dari pihak bimbingan. Terdengar keluhan disana sini.

Dari teman-teman jamaah yang berasal dari Marokko, undian adalah hal biasa. Di negri yang dikenal dengan sebutan Magreb ini,  keberangkatan calon jamaah ditentukan berdasarkan sistim undian. Seorang teman bercerita bahwa ia mempunyai beberapa kenalan yang telah mendaftar sejak beberapa tahun lalu namun tidak berangkat-berangkat juga karena sistim undian ini.

Sementara seorang teman yang berasal dari Libia menceritakan bahwa di negaranya usia minimal 40 tahun adalah syarat utama. Ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia dan suami yang kebetulan sedang bertugas di Perancis, pergi haji sekarang ini. Begitu juga cerita teman dari negri piramid, Mesir.

Maka sore itupun kami bersiap-siap. Kami akan tinggal di Mina selama 5 malam tetapi malam ke 3, setelah wukuf, ada kemungkinan bisa kembali ke pondokan untuk sekedar mandi dan salin.

Lokasi pondokan kita tidak jauh dari Mina. Ini disengaja agar supaya memudahkan jamaah”, terang pihak bimbingan menenangkan. Selama di Mina semua jamaah akan tinggal berdesak-desakan di kemah, dengan fasilitas umum  yang benar-benar minimal.  Untuk itu kami diingatkan untuk membawa barang sesedikit mungkin.  1 tas kecil plus alas tidur untuk di Muzdalifah, itu yang disarankan.

Ba’da Isya, suami sudah siap dengan ihramnya. Tampaknya  Allah azza wa jalla telah mengabulkan doa orang-orang yang menyayanginya meski belum tuntas. Tubuhnya masih lemas  dan wajahnyapun masih tampak pucat. Tapi sudah banyak sekali kemajuan dibanding sebelumnya, Alhamdulillah.

Pukul 2 pagi keesokan harinya, yaitu tanggal 8 zulhijjah, akhirnya kami diberangkatkan ke perkemahan Mina. Kami menempati perkemahan no 33, area jamaah  Eropa Barat. Kami tiba di bumi perkemahan ini dalam keadaan masih sepi. Rupanya kami termasuk yang awal datang. Kondisi tenda putih raksasa berkapasitas 96 orang ini masih bersih. Begitu juga toilet umumnya.

Tenda-tenda raksasa yang dilengkapi AC ini dipasang berjajar dengan pintunya untuk setiap 24 orang jamaah. Tenda dikelompokkan berdasarkan grup bimbingan dan dipisahkan antara jamaah lelaki dan perempuan. Diantara tenda-tenda terdapat lorong untuk mondar mandir.

Sementara di dalam tenda setiap jamaah mendapat matras busa lipat selebar kurang lebih 60 cm yang dipasang menempel satu sama lain lengkap dengan bantal dan selimutnya. Alas tenda adalah karpet tipis yang sudah terlihat agak kumal. Namun selimut dan bantal masih terbungkus rapi dalam plastik, menandakan bahwa keduanya adalah baru. Ini jauh lebih baik dari 10 tahun lalu. Dulu tanpa matras, selimut maupun bantal. Hanya karpet, tok …

Patut dicatat, Mina adalah tempat yang sangat terbatas. Padahal semua jamaah, selama hari-hari Tasyrik yaitu pada tanggal 11,12 dan 13 Zulhijjah, harus bermalam atau mabit di tempat ini. Itu sebabnya tanah Mina harus diatur sedemikian rupa agar cukup untuk menampung semua tamu Allah yang datang dari segenap penjuru dunia. Matras dapat dilipat dengan tujuan agar jamaah bisa shalat di tempat tersebut. Karena membangun masjid ataupun musholla di Mina ini tidaklah memungkinkan.

Saya mendapat tempat di antara Fousia, muallaf asli Perancis bernama asli Francine, yang datang bersama suaminya yang asli Maroko dan ibu mertuanya, di sisi kiri saya dan Sarah, seorang jamaah asli Mesir, di sebelah kanan saya.

Disinilah kami akan bermalam selama 6 hari 5 malam. Tinggal 1 atap selama itu bersama 24 orang dengan latar belakang, kultur dan sifat masing-masing sudah barang tentu akan menjadi cerita tersendiri yang cukup seru. Ada yang suka ber-AC ada yang tidak, bahkan anti. Ada yang ingin gelap tanpa lampu ada yang ingin terang benderang. Ada yang pembersih ada yang jorok. Belum lagi dengan masalah toilet yang jumlahnya terbatas dan harus berbagi dengan ratusan jamaah dengan macam-macam bahasanya. Sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Masya Allah …

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”.(QS.Ar-Rum(30):22).

( Bersambung).

Jakarta, 10 Januari 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Ada 3 macam cara berhaji, yaitu haji Tamattu, haji Ifrad dan haji Qiran. Perbedaan utama antara ke 3 haji tersebut adalah : haji Tamattu didahului dengan  Umrah, haji Ifrad tanpa Umrah dan Haji Qiran adalah haji dan umrah dilakukan secara bersamaan.

Cara haji yang kami pilih adalah haji Tamattu. Cara ini adalah cara yang paling banyak dipilih jamaah Indonesia karena selain lebih mudah pelaksanaannya jamaah juga tidak perlu membawa hewan sembelihan ( hadyu) ke Mekah. Kita cukup mengganti harga hewan tersebut ( kambing atau unta) untuk kemudian di sembelih di Mekkah pada waktunya nanti . Rupanya ini pula yang dianjurkan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfa`at, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)”.(QS. Al-Hajj(22):33).

Karena kami datang dari Madinah maka Bir Ali (Zulhulaifah) yang terletak 12 km dari kota Madinah adalah miqatnya ( batas ihram).  Di masjid ini kami memulai ihram. Buat jamaah perempuan mungkin tidak begitu masalah, karena bagi perempuan tidak ada pakaian khusus ihram. Sebaliknya bagi jamaah lelaki, mulai tempat ini mereka wajib ber-ihram, yaitu hanya diperkenankan mengenakkan 2 helai kain tanpa jahitan ( sunnahnya warna putih ) dan sandal yang tidak menutupi tumit.

Namun sebelum ber-ihram, disunnahkan bagi seluruh jamaah untuk memotong kuku, memotong sedikit rambut , mandi besar serta memakai wewangian, khususnya jamaah lelaki. Kami melakukan semua ini di hotel, sebelum meninggalkan Madinah.

Di masjid Bir Ali, setelah ber-ihram dan berniat dengan mengucap “  Labbaika Allahumma ‘umratan ”,  kami mendirikan shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat  Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kemudian naik ke bus untuk berangkat langsung menuju Mekkah.

Selama perjalanan Madinah – Mekkah yang berjarak 485 km dan dalam keadaan normal ditempuh dalam waktu  4-5 jam, kalimat talbiyah tak henti-hetinya berkumandang. “Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika La syarika laka labbaik. Innal hamda wa nikmata laka wal-mulka laa syarii kalak.”  Yang artinya adalah :  “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”

Bahkan kemacetan panjang menjelang masuk kota suci Mekkah sehingga total perjalanan memakan waktu hampir 10 jam tidak mengurangi semangat jamaah mengucapkan talbiyah. Subhanallah .. Merinding bulu kuduk ini mengenang saat-saat indah tersebut. Bila pada awalnya semua jamaah serentak bertalbiyah dengan suara keras maka pada saat tertentu ketika mulut ini mulai merasa lelah dan rasa kantuk mulai menyerang, tanpa dikomando, para jamaahpun bergantian, sahut menyahut,  mengucap kalimat sambutan panggilan-Nya. Meski sekali-sekali terdengar sayup-sayup.

Ini masih ditambah lagi dengan pemandangan sepanjang perjalanan, gunung-gunung batu hitam dan gurun pasir nan kering kerontang. Bayangan Rasulullah saw menaiki unta didampingi Abu Bakar ra yang hijrah dari Mekkah ke Madinah lebih 14 abad silam membuat hati ini makin bergetar syahdu.

Ya, kami adalah para tamu Allah yang datang memenuhi panggilan-Nya demi ketakwaan pada-Nya, insya Allah. Alangkah indahnya. Tiba-tiba saya teringat kata-kata yang lumayan sering diucapkan teman-teman ketika ditanyakan mengapa  tidak segera pergi menunaikan haji padahal mereka mampu. “ Belum ada panggilan”, begitu jawabnya, klise.

“ … … mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3):97).

 “Barang siapa yang tidak mempunyai halangan lahiriah untuk menunaikan haji atau adanya larangan penguasa lalim,atau karena sakit yang tidak memperbolehkan melakukan perjalanan, lalu ia meninggal dunia,sedangkan ia tidak sempat menunaikan haji, maka ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani”. ( HR. ad-Darimi).

Ayat dan hadits di atas, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa kita semua,  umat Islam, wajib mengerjakan haji, bila mampu. Panggilan ini telah ada bahkan sejak zaman nabi Ibrahim as. Haji memang adalah ritual peninggalan nabi yang sering dijuluki sebagai bapak para nabi ini.

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud“. (QS.Al-Baqarah(2):125).

Embel-embel kata ‘ sanggup’ pun rasanya juga sudah sangat jelas, sanggup atau mampu mengadakan perjalanan haji, artinya memiliki bekal untuk biaya pulang-pergi ke Mekah plus biaya hidup selama berada ditanah suci, tanpa menzalimi keluarga inti yang ditinggalkan ditanah air.

 « Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS. Al-Hajj(22):27).

Sekitar pukul 10 malam, bus memasuki Mekkah. Dari kejauhan terlihat secara mencolok sebuah menara tinggi bertuliskan “ ALLAH” dalam huruf hijaiyah tentu saja.  Ternyata itu adalah menara hotel Royal Mecca Tower Clock yang terkenal itu. Saat ini menara tersebut tercatat sebagai  menara tertinggi ke dua di dunia.  Sedangkan jamnya merupakan jam terbesar di dunia, 16 x lebih besar dan jauh lebih tinggi dari jam Big Ben di London.

Meski demikian, ntah mengapa, ada rasa khawatir di dada ini menyaksikan menara megah yang mampu menerangi langit sekitarnya melalui kilauan sinar terang hijau putih berpendar-pendar ini bakal memalingkan hamba-hamba-Nya dari  kebesaran dan daya tarik Ka’bah, rumah-Nya yang suci. Terus terang, sinar mata penuh kekaguman yang terpancar dari teman-teman sesama jamaah cukup mengganggu hati ini. Namun syukurlah, ternyata kekhawatiran yang agak berlebihan tersebut, di kemudian hari, tidak terbukti. Allahu Akbar …

Menjelang pukul 11 malam akhirnya kami tiba di pondokan di Aziziyah, sekitar 3-4 km dari Masjidil Haram di Mekkah. Bukan jarak yang dekat. Namun begitulah kondisinya. Pihak bimbingan beralasan bahwa untuk mendapatkan hotel di dekat Masjidil Haram pada hari-hari menjelang Wukuf teramat sangat mahal. Nanti, setelah puncak haji selesai yaitu 4 hari setelah wukuf, kami akan tinggal di hotel persis di depan Masjidil Haram, begitu janji mereka. Insya Allah ..

Setelah makan malam dan istirahat beberapa waktu, pukul 3.00 pagi kami meninggalkan pondokan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf. Hal penting yang ingin saya ingatkan, selama umrah belum selesai, kita tidak boleh mengenakkan wewangian ( hati-hati, berhubungan suami-istri haram lho) termasuk menggunakan sabun yang ada parfumnya. Kelihatannya sepele. Namun nyatanya, tidak. Usai makan, masuk kamar, masuk toilet dan otomatis mencuci tangan, dengan sabun yang disediakan pondokan, yang  ternyata berparfum ! Astaghfirullah … 😦  …

Segera kami menghubungi uztad. Alhamdulillah, menurut uztad, karena tidak sengaja, tidak ada sangsi yang dikenakan. Bila secara sengaja, sangsinya adalah membayar sejumlah denda ( dam). Ya Allah, kepada-Mu kami bertobat,  sungguh Engkau adalah zat yang benar-benar Maha Pemaaf dan Pemberi taubat.

Setiba di pelataran di depan pintu 1, pintu King Abdul Azis yang terletak tepat di depan pelataran luas area perhotelan dan mal-mal mewah, pembimbing kami mengadakan pengarahan singkat. Kami akan tawaf bersama, tidak berjalan terburu-buru dan tidak terpisah-pisah. Namun bila terjadi sesuatu yang mengakibatkan jamaah terpaksa terpisah, tidak usah panik. Jamaah boleh langsung mengerjakan sai boleh juga kembali ke pelataran tempat kami berkumpul saat ini. Seorang petugas dari bimbingan  menunggu dan siap membantu.

Memasuki Masjidil Haram dan tawaf sekitar pukul 3.00 pagi, di musim haji pula, jangan harap lenggang. Bayangkan, sekitar  4 juta orang berkumpul dari seluruh dunia ! Subhanallah .. Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah dengan arah berlawanan arah jarum jam 7 x, dimulai dari sudut Hajar Aswad, adalah lambang perputaran 7 hari dalam seminggu yang harus diikuti semua manusia, tanpa kecuali.

(baca:https://vienmuhadi.com/2009/01/26/haji-sebuah-penyempurnaan-rasa-syukur-manusia-terhadap-nikmat-nya/ )

Dulu, pada zaman rasulullah, area tawaf hanya di dekat Ka’bah. Namun saat ini, dengan makin bertambahnya jumlah umat Islam dan kesadaran bahwa haji adalah kewajiban, area tawaf semakin luas saja. Tidak saja di lantai 1 dimana Ka’bah berdiri tetapi juga di lantai 2 dan 3 masjid raksasa ini umat Islam dapat mengerjakan tawaf, baik itu tawaf haji, tawaf umrah maupun tawaf sunah. Tawaf juga adalah pengganti shalat tahiyatul masjid bagi jamaah masjid berkapasitas 730 ribu ini.

Memasuki putaran ke 4, saya merasa ingin buang air kecil. Padahal toilet sangat jauh letaknya dari Ka’bah. Demi mempersingkat waktu, akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan tawaf tidak bersama rombongan, tentu saja setelah meminta izin kepada pembimbing.

Mengerjakan tawaf tanpa rombongan memang lebih cepat. Kami bebas untuk memilih tawaf mendekati atau menjauhi Ka’bah. Tawaf jauh dari Ka’bah memang lebih tidak berdesakan namun memakan waktu lebih lama. Disamping itu kita tidak mempunyai kesempatan untuk mengusap dinding Ka’bah. Meski ini tidak disunahkan kecuali mencium Hajar Aswad dan mengusap dinding Yamani. Hal yang tak mungkin dilakukan bila kita tawaf jauh dari Ka’bah.

Mencium Hajar Aswad, apalagi pada musim haji,  memang benar-benar sulit. Sebagai gantinya disunahkan untuk mengangkat tangan kanan sambil bertakbir “ Bismillahi Allahuakbar “  dari kejauhan ketika melewati sudut ini.  Namun demikian kita akan saksikan betapa dari waktu ke waktu jamaah tetap saja berdesakan, bersikut-sikutan demi dapat mencium batu hitam yang dibawa malaikat Jibril as dari surga ini. Banyak yang mengira bahwa mencium Hajar Aswad akan mendatangkan berkah.

Umar bin Khathab RA berkata, “Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”.

Tidak ada bacaan khusus dalam tawaf. Kecuali ketika kita melewati dinding antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad kita disunnahkan untuk membaca bacaan : “ Robbana ‘atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzab naar”.  Yang artinya : Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka

Menjelang putaran ke 7, sedikit demi sedikit kami menjauh dari Ka’bah. Tujuannya agar ketika selesai tawaf nanti, lewat sedikit dari rukun Hajar Aswad, bisa langsung keluar dari putaran yang sungguh padat ini. Kemudian di Multazam, yaitu sudut antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, kami berhenti sejenak untuk berdoa. Multazam adalah tempat paling mustajab untuk berdoa.

Usai berdoa kami bergeser sedikit menuju ke belakang makam Ibrahim. Di sini kita disunahkan untuk shalat sunnah 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada ayat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat ke dua. Bukan hal mudah untuk shalat di tempat dimana tawaf sedang ramai-ramainya berlangsung. Kami shalat bergantian agar ada yang menjaga ketika kita shalat terutama ketika dalam posisi sujud.

Setelah itu kami menuju zam-zam untuk minum air zam-zam dan berdoa memohon agar diberi kesehatan lahir bathin dan ilmu yang bermanfaat. Begitulah tuntunan Rasul. Langkah berikutnya adalah Sai. Namun saya ingin ke toilet. Maka ditemani suami, kami keluar dari area masjid menuju pelataran perhotelan, melalui pintu 1, pintu King Abdul Azis. Dulu orang sering menyebutnya dengan nama pelataran Hilton.  Sekarang pelataran jam besar. Seingat saya, ini adalah jalan terdekat menuju toilet.

Namun setibanya diluar, saya agak bingung. Di depan sana ada 2 tulisan ‘Toilet’ agak berdekatan. Saya tidak tahu mana yang lebih dekat. Menyesal juga, tadi  tidak menanyakannya kepada pembimbing. Akhirnya saya memilih yang sebelah kiri. Ternyata saya salah pilih. Ini adalah toilet dekat stasiun yang jauhnya bukan main. Kotor pula … 😦  Akibatnya hampir setengah jam kami kehilangan waktu.

Beruntung, sekembali dari toilet, berkat jubah biru, seragam pembagian dari bimbingan, petugas bimbingan mengenali kami. Darinya kami tahu, toilet yang satu lagi, yang sebelah kanan, jauh lebih dekat, lebih bagus dan lebih bersih.  Yaah, semoga lain kali ingat.

Ia juga memberitahu bahwa rombongan sudah memulai sai, yaitu berjalan bolak balik  7 x, dimulai  dari bukit Safa dan berhenti di bukit Marwa. Ritual ini adalah untung mengenang pengorbanan Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as, putra nabi Ibrahim as, ketika berlari bolak balik 7 x dari bukit ke bukit dalam rangka mencari air untuk bayinya tercinta itu.

“ Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):158).

Namun demikian, jangan pernah membayangkan keadaan sai sekarang ini sama dengan zaman Siti Hajar ribuan tahun lalu. Tentu saja tidak. Meskipun tempatnya masih sama,  yaitu bukit Safa dan bukit Marwa, namun kedua bukit tersebut sekarang ini ada di dalam salah satu bagian Masjidil Haram. Ruangan bertingkat 3 ini berlantai marmer, ber-AC dan ada tempat istirahat untuk minum air zam-zam.

Melakukan sai di lantai 2 atau 3 mungkin tidak begitu melelahkan, karena ketinggiannya sama. Tetapi bila kita melakukannya di lantai 1 akan terasa sedikit lebih melelahkan karena kedua bukitnya  agak menanjak. Menurut saya pribadi, agar sai lebih berkesan, alangkah baiknya bila kita melakukannya sambil membayangkan bagaimana perasaan ibunda nabi Ismail as ini berlari bolak balik dengan rasa khawatir bahwa setiap saat putranya bisa meninggal karena kehausan atau di terkam binatang liar !

Tepat pada sai terakhir, azan Subuh terdengar berkumandang. Maka diantara padatnya gelombang jamaah yang mulai berdatangan memenuhi masjid kamipun berpisah untuk mencari tempat shalat masing-masing. Meski pada akhirnya, pada tempat-tempat tertentu, jamaah lelaki dan perempuan shalat bercampur. Fenomena ini tampaknya memang sangat sulit untuk dihindari, terutama  pada saat-saat puncak haji.

Usai sai, maka tiba saatnya untuk memotong sedikit rambut. Setelah itu usai pulalah umrah haji. Tinggal menanti saatnya haji, wukuf di 9 Zulhijjah, yang akan diumumkan pemerintah Arab Saudi.

(Bersambung)

Paris, 30 Desember 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Masih terbayang di benak ini, wajah kesal, letih campur kecewa para askar penjaga masjid Nabawi, terutama yang berjaga-jaga di Raudhah. Sungguh tidak mudah mengatur orang sebanyak itu, pasti.  Orang Indonesia dan Malaysia masih lumayan. Mereka masih mau dan gampang diatur. Tapi orang-orang Turki, Arab dll ? Yang terjadi adalah adu mulut dan saling dorong.

Itu sebabnya, dalam hati ini, tersimpan keinginan untuk kembali ke Raudhah namun dengan mentaati aturan para askar, yaitu untuk berada dalam kelompok. Dalam hal ini berarti bersama rombongan jamaah Indonesia.

Setengah jam sebelum azan subuh berkumandang saya dan suami sudah siap meninggalkan hotel menuju masjid. Ini adalah kesempatan terakhir karena esok siang kami sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Alhamdulillah kali ini saya berhasil mendapat tempat paling depan, dari bagian perempuan tentu saja. Sengaja saya memilih shalat di ruangan pintu 25 untuk menghemat waktu ke Raudhah.

Sesuai rencana, usai subuh, saya langsung bergabung dengan kelompok jamaah dari Indonesia. Saya perhatikan rombongan ini termasuk agak di belakang dibanding rombongan jamaah negara lain. Saya duduk di barisan paling depan, tepat di bawah kaki askar perempuan yang berdiri di pinggiran pilar masjid sambil membawa spanduk bertuliskan “Indonesia”.

Di depan sana saya melihat jamaah bergerombol di depan pagar pembatas, persis seperti yang saya lakukan 2 hari yll. Para askar berteriak-teriak berusaha membubarkan gerombolan tersebut dan agar masuk ke kelompok negara-negara masing2. Tanpa hasil … 😦

Tak lama kemudian terdengar kutbah, dalam bahasa Arab, tentu saja. Ada sedikit rasa sesal, mengapa saya tidak bisa berbahasa Arab, bukankah ini bahasa Al-Quran? Bahasa yang kita pakai ketika kita shalat? Bahasa junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw? Semoga suatu saat nanti saya mendapat kesempatan belajar bahasa agung ini, amiin …

Setelah itu, terdengar iqamat. Wah, shalat apa ini ? Ternyata ini adalah shalat Istisqa’ yaitu shalat meminta hujan. Kutbah yang baru saja diperdengarkan adalah bagian dari shalat ini. Arab Saudi adalah negri yang jarang hujan. Bisa dikatakan hujan di sini hanya terjadi bila penduduk memintanya. Paling tidak inilah yang diwariskan Rasulullah saw.

Beruntung kerajaan Arab Saudi tetap mempertahankan ajaran ini. Pada saat diperlukan, kerajaan memerintahkan seluruh penduduk negri agar mendirikan shalat istisqa. Dipimpin oleh imam Masjidil Haram, semua masjid bahkan universitas-universitas dan sekolah-sekolah dari Mekah, Madinah, Jedah hingga Riyad menyelenggarkan shalat ini, di pagi hari, setelah subuh.  Pada kesempatan ini penduduk diminta bertaubat, memohon maaf atas segala kesalahan, sebelum memohon hujan. Pada shalat sunnah 2 rakaat ini surat yang dibaca biasanya adalah surat Al-A’laa pada rakaat pertama dan surat Al-Ghaasiyyah pada rakaat ke 2.

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/21/hukum-hukum-seputar-shalat-istisqa-meminta-hujan/

Usai shalat waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Sebagian besar jamaah masih tetap berada pada tempatnya, menanti giliran masuk Raudhah. Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa pagar pembatas ke Raudah telah dibuka. Terlihat jamaah mulai berhamburan, berlarian dan berebutan menuju jalan ke Raudah. Namun tidak demikian dengan kelompok Indonesia. Semua tetap di tempatnya.

“ Jamaah kita memang paling penurut”, terang seorang jamaah yang duduk di sebelah saya, menjawab keheranan saya atas situasi tersebut.

Biasanya kita kebagian paling belakang. Alasannya sih, katanya orang Indonesia kan kecil-kecil, kasihan kalau harus berdesakan dengan orang-orang Turki, Arab dll yang biasanya hobby mendorong-dorong”, sambung jamaah lain.

“ Dan lagi ada untungnya juga koq. Karena paling belakang jadi puas shalat dan berdoa. Selain tidak ada yang dorong-dorong juga tidak perlu buru-buru karena sudah tidak ada yang antri”, timpal jamaah lain lagi. Saya hanya manggut-manggut, teringat kejadian kemarin.

“ Tapi bisa sampai jam 2 pagi baru kembali ke pondokan lho …”, katanya menambahkan. Waduuuh  … L

Menjelang pukul 8, beberapa ibu mulai pamit karena berbagai alasan. Ada yang ditunggu suaminya karena ada tausiyah di pondokan, ada yang sudah harus packing dll.

Setengah jam kemudian antrian mulai bergerak maju, lumayaan, pikir saya. Sekitar pukul 9.30 rombongan sudah berada di depan Raudhah. Namun melihat rombongan negara lain yang saya yakin tadinya ada di belakang kami tiba-tiba sudah ada di depan kami, saya menjadi ragu dalam setengah jam bisa masuk taman Rasulullah ini.

Jamaah mulai gelisah. Begitu juga uztazah kita yang sebelumnya sempat memberikan tausiyah sambil menunggu giliran masuk. Dalam tausiyah singkatnya ini saya sempat  menanyakan apakah shalat di dalam masijid Nabawi dengan shalat di halamannya sama ganjarannya, yaitu 1000 x dari shalat di masjid lain.

Ternyata jawabannya tidak sama. Ia menegaskan agar tetap meniatkan diri shalat di dalam masjid meski akhirnya tidak mendapat tempat karena penuh atau mungkin karena askar melarang kita masuk karena sudah tidak ada tempat. Jadi jangan dari pondokan memang hanya berniat shalat di halaman masjid karena malas berdesakan !  Sebuah pelajaran yang sangat berharga … niat, ya niat mendapatkan yang terbaik karena Rasulullah mengajarkannya.

Dugaan saya tepat. Pukul 10 rombongan tetap tidak bergeming. Beberapa kali saya melihat jamaah Indonesia dengan abaya hitamnya mencoba menerobos masuk. Namun segera dihentikan askar atau dipanggil uztasah agar menunggu dan bergabung dengan kami.

G mempan deh .. biar nyamar pakai abaya hitam tetap aja ketahuan kalau orang Indonesia “, beberapa jamaah berkomentar lucu disambut senyum jamaah yang mendengarnya. Hemmm ..  🙂

Akhirnya saya memutuskan untuk mundur. Perut saya sudah keroncongan. Maklum dari pukul 4 pagi tadi belum kemasukan apapun. Saya tidak mau mengambil resiko maag saya kambuh sementara kewajiban haji dimulaipun belum.  Apa boleh buat ..  Tapi saya tidak menyesal. Bagaimanapun saya telah mencoba untuk mematuhi aturan dengan tetap bergabung bersama rombongan negri kita tercinta yang dikenal gampang diatur dan menurut. Kalau saja, seluruh rakyat Indonesia mudah diatur dan mau disiplin mengikuti aturan dan hukum … tidak cuma ketika di tanah suci …

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah swt masuk Raudhah malam harinya, sekitar pukul 10 malam. Berdasarkan pengalaman pagi  tadi, saya memilih untuk bergabung dengan jamaah Eropa. Memang berdesakan, tapi tidak apa yang penting saya bisa berdoa dan shalat di tempat yang mustajab ini.  Saya juga bersyukur meski kami hanya 3 hari di Madinah, kami bisa mendirikan shalat wajib 5 kali sehari ditambah shalat rawatibnya di masjid Rasul yang sungguh indah ini. Bahkan beberapa kali saya sempat mengambil foto bagian dalam masjid lengkap dengan kubahnya yang bisa terbuka tertutup, meski dengan sembunyi-sembunyi.

Museum Madinah

Museum Madinah

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Maket Raudhah ( karpet putih) dan sekitarnya

Esok harinya, kami bersiap untuk meninggalkan Madinah dengan sejuta kenangannya. Oya, ada satu hal yang lupa saya sampaikan.

Maket Perang Khandaq

Maket Perang Khandaq

Kemarinnya, ba’da ashar, bersama rombongan kami mengunjungi museum Madinah. Saya tidak tahu apakah museum ini sudah lama atau baru. Yang jelas baru kali ini saya mengetahuinya dan sekaligus mengunjunginya. lsinya sungguh menarik. Ada maket Raudhah, maket perkembangan masjid Nabawi,  maket perang Khandaq (Parit), maket perang Uhud dll.

Sehari sebelumnya lagi, pihak bimbingan juga mengadakan kunjungan ke situs-situs bersejarah di sekitar Madinah. Diantaranya yaitu masjid Qiblatain ( masjid 2 kiblat), masjid Quba dan gunung Uhud. Akan tetapi karena kami telah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat tersebut maka kali ini kami memutuskan untuk absen. Karenanya mohon maaf saya tidak dapat melaporkan pandangan mata situs-situs penting yang menjadi standard kunjungan haji dan umrah tersebut.

 ( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Desember 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Kami di Madinah hanya 3 hari, 2 malam. Waktu yang benar-benar sangat singkat. Apalagi kalau dibanding jamaah haji dari Indonesia yang biasanya bermalam di Madinah minimal 8 – 9 malam. Orang mengenalnya dengan sebutan Arbain yang artinya adalah 40.  Tujuannya agar jamaah dapat shalat jamaah 40 kali berturut-turut di masjid Nabawi tanpa terputus. Artinya shalat wajib berjamaah 5 kali sehari semalam selama 8 hari di masjid rasulullah.  Meski sebenarnya ke-shahih-an hadis mengenai hal ini masih merupakan perdebatan di kalangan ulama.

Dari Anas bin Malik yang diriwayatkan secara marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari adzab dan kemunafikan.” (HR Ahmad dan At-Tabarany).

Berikut penjelasannya,

http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1195534045

Salah satu keutamaan shalat di masjid Nabawi adalah dengan adanya Raudhah. Raudhah yang artinya  taman atau kebun itu merupakan bagian kecil dari masjid dimana makam Rasulullah berada.

Dari Abi Sa’id al-Khurdri ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tempat di antara kubur dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) di antara beberapa kebun surga”. (Musnad Ahmad bin Hanbal)

Dari luar, Raudhah mudah diamati berkat adanya kubah berwarna hijau yang terletak di bagian selatan masjid, yang merupakan bagian depan masjid. Dari dalampun bagi jamaah lelaki mungkin tidak sulit menemukan tempat yang selalu dipadati jamaah ini. Bahkan untuk ziarah ke makam Rasulullahpun memungkinkan karena di sisi depan makam tersebut disiapkan semacam gang bagi para peziarah.

Sayangnya tidak demikian dengan jamaah perempuan. Selain tidak dibuka setiap waktu, jamaah perempuan juga harus puas menikmati sebagian Raudhah tanpa dapat melihat sisi depan makam Rasulullah. Tidak juga mihrab dan mimbar Rasulullah. Namun demikian ini masih lumayan karena musim haji tahun ini kaum perempuan mendapat tambahan waktu untuk mengunjungi Raudhah. Yang tadinya 2 x sehari menjadi sehari 3 kali, yaitu setelah subuh, setelah asar dan setelah isya. Meski nyatanya tetap tidak memadai.

Seorang jamaah dari Turki yang memberitahu saya jadwal tersebut. Ketika itu saya baru selesai shalat zuhur dan akan kembali ke hotel ketika tiba—tiba menyadari bahwa saya belum tahu jadwal terbaru kunjungan ke Raudhah. Saat itulah seseorang dengan wajah ramah lewat di depan saya. Maka sayapun bertanya kepadanya.

Awalnya ia tidak memahami apa yang saya tanyakan. Namun setelah beberapa waktu, melalui bahasa isyarat dan sedikit bahasa Inggris yang terbata-bata, akhir iapun mengerti maksud saya. Dengan tersenyum lebar ia segera mengeluarkan kertas dan pen dari tasnya. Kemudian ia menuliskan jadwal yang saya minta lengkap dengan no pintunya. Pintu 25. Inilah pintu khusus bagian perempuan untuk menuju Raudhah.

Dalam waktu saya yang sangat singkat di Madinah ini, yaitu 3 hari, empat kali saya mencoba masuk Raudhah. Pertama saya mencobanya pada hari pertama setelah usai shalat Isa. Untuk menuju pintu 25 tidak ada masalah. Segera saya larut dalam lautan jamaah yang berdesakan mengantri di depan sebuah pagar pembatas antara jamaah lelaki dan perempuan. Pagar pembatas setinggi 2 meter ini masih ditutup dan dijaga beberapa askar perempuan. Sebenarnya tidak ada tanda bahwa tempat tersebut adalah tempat menuju Raudhah. Saya hanya sekedar mengikuti arus dan percaya saja pada sesama jamaah yang mengatakan bahwa itu adalah tempat menuju Raudhah. Namun setelah menanti dalam antrian yang tidak jelas selama nyaris 2 jam akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan antrian tersebut.

Saya katakan tidak jelas karena para askar dengan nada tinggi berulang kali berusaha membubarkan antrian tanpa alasan yang dimengerti karena mereka menggunakan bahasa Arab.  Sementara para jamaah yang sebagian besar memang tidak berbahasa Arab terlihat ‘ngeyel’ dan bertahan di posisi masing-masing. Tidak jarang terjadi adu mulut antara jamaah dan askar.

Sekitar 1 jam setelah itu, setelah saya makan malam, saya kembali menuju Raudhah. Kali ini saya bersama 3 orang teman dari grup. Dua diantara mereka adalah anak dan ibu mertua. Si anak adalah seorang perempuan asli Perancis. Sementara ibu mertuanya  asli Maroko.  Dan yang seorang lagi seorang perempuan campuran Perancis dan Aljazair. Di negri pimpinan Zarkozy yang saat ini mulai digonjang-ganjing itu, memang banyak sekali turunan Maroko, Aljazair dan Tunisia. Maklum, ke tiga negara Arab di utara benua Afrika ini dulunya memang jajahan Perancis.

Setibanya di depan pintu 25,  saya meminta ke 3 teman saya tersebut untuk menunggu sebentar. Karena sebelumnya  saya sudah berjanji kepada seorang teman Indonesia yang juga berangkat dari Paris untuk bersama-sama masuk Raudhah.

Namun tampaknya ibu mertua teman saya yang sudah lumayan sepuh itu, tidak sabar, atau bisa jadi memang tidak mengerti maksud saya. Tanpa babibu, ia  langsung masuk masjid dan menyelinap di antara orang banyak. Yang paling panik tentu saja, si menantu. Segera ia mengejarnya. Dapat dibayangkan, punya ibu mertua yang hanya berbahasa Arab sementara ia sendiri hanya berbahasa Perancis. Susahnya lagi, si ibu lumayan keras kepala. Saya benar-benar salut kepada teman saya  yang selalu tampak berusaha mengerti kemauan mertuanya itu. Tak jarang ia meminta jamaah lain yang bisa berbahasa Arab agar menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Akibatnya ketika tak lama kemudian teman Indonesia saya datang bersama seorang temannya yang juga orang Indonesia, kami ber-4 terpaksa ikut sibuk mencari mertua teman saya tadi. Namun karena semua jamaah menuju satu titik, yaitu Raudhah maka tak lama kemudian kamipun menemukan pasangan menantu mertua tersebut.

Berbeda dengan bada’ isya tadi, antrian di depan pagar pembatas dimana tadi saya mengantri telah kosong. Pembatas tersebut telah terbuka lebar. Hati saya lega. Namun ternyata ini hanya sementara. Karena tak lama kemudian setelah kami masuk lebih ke dalam lagi kami melihat gelombang antrian jamaah yang sedang duduk berkelompok-kelompok. Rupanya demikianlah para askar mengatur jamaah. Jamaah di kelompokkan berdasarkan asal negara  masing-masing.

Namun segera teman Indonesia saya mengingatkan : “ G usah ikut kelompok Indonesia mbak .. Lamaaa .. “. Saya masih terkesima, ketika dengan bergandengan tangan,  kedua teman Indonesia saya tadi tiba-tiba sudah berlari menerobos antrian. Selanjutnya saya berusaha mencegah ibu mertua teman saya agar tidak menyusul kedua teman tadi. Untuk beberapa saat kami ber- 4 celingukan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara para askar terus mengingatkan untuk tetap sabar menanti di barisan masing-masing hingga ada aba2 dari mereka. Itu tebakan saya karena saya sama sekali tidak memahami ucapan mereka kecuali beberapa ucapan : “ Dudhuk .. dudhuk “ kepada jamaah berwajah Indonesia.

Saya ragu harus masuk barisan mana. Sementara kami melihat sejumlah jamaah yang berlarian menerobos di sana sini. Melihat ini si bule menantu langsung protes. “ Gimana kita harus mengantri sementara orang-orang menyerobot seperti teman kamu tadi ?”. Untuk orang-orang dimana antri sudah menjadi budaya hal ini memang terlihat aneh.

Belum habis rasa malu dihati ini, tahu2 teman saya tadi sudah menarik ibu mertuanya lari menerobos barisan. Saya hanya bisa bengong. Pasrah mendengar sungutan teman saya yang tinggal satu dan terus membujuk saya agar mengikuti jejak yang lain.

Saat itulah akhirmya saya memutuskan untuk duduk dibarisan jamaah Aljazair yang kebetulan ada di sisi kami. Untuk mengalihkan perhatian teman yang mengeluh terus, saya mengobrol dengan seorang jaamah Aljazair yang kebetulan bisa berbahasa Perancis. Dalam obrolan tersebut saya mendapat info bahwa di Aljazair banyak orang Indonesia. Sebagian besar adalah mahasiswa yang menuntut ilmu di kota2 terkenal  yang pada zaman keemasan Islam dahulu pernah menjadi pusat ilmu dan pengetahuan. Senang dan bangga rasanya hati ini. Allahuakbar ..

Waktu terus berlalu tanpa ada tanda-tanda kapan kelompok ini bisa masuk ke Raudhah. Saya perhatikan hampir setiap jamaah berusaha mencuri kesempatan untuk lari meninggalkan barisan. Sementara para askar juga makin terlihat kesal dan gemas melihat situasi yang tidak nyaman ini. Teman saya kembali mencolek saya agar segera bergerak.

Akhirnya bobol juga kesabaran saya. Begitu melihat ada kesempatan saya langsung menarik teman saya itu untuk lari meninggalkan tempat dan ikut berdesakan dengan kelompok yang baru saja diberi kesempatan untuk masuk Raudhah.

Maka mulailah perjuangan yang sebenarnya. Kami larut di dalam lautan manusia yang berdesakan, terombang-ambing ke kiri kanan layaknya penonton pertunjukan musik rock di tanah air. Terdengar umpatan di sana-sini :” Hey, memang kamu orang Turki? Ini kan rombongan Turki ». Ntah kepada siapa umpatan tersebut ditujukan, saya tidak yakin kepada kami. Karena umpatan tersebut terdengar agak jauh. Kalaupun iya, ya sudahlah .. pikir saya menenangkan diri. … 😦

Akhirnya kamipun memasuki area Raudhah. Raudah atau taman surga terletak antara makam Rasulullah dan mimbar dimana Rasulullah dahulu biasa memberikan tausiyah kepada para sahabat. Tempat ini dapat diamati dari warna karpetnya yang berbeda dengan karpet  di bagian lain masjid yang didominasi karpet merah tua. Selain itu, Raudhah juga dapat dibedakan dari bagian lain karena  adanya beberapa pilar marmer berwarna putih berukir yang berbeda dengan pilar-pilar lain yang banyak dijumpai di dalam masjid megah nan cantik ini.

http://orgawam.wordpress.com/2008/08/13/denah-masjid-nabawi/

Makam Rasulullah terdapat di kiri Raudah, berdampingan dengan jarak sekitar satu ukuran kepala dari makam khalifah Abu Bakar ra dan khalifah Umar bin Khatab ra. Makam Rasulullah terletak pada barisan paling depan. “ Assalammualayka yaayyuhannabi wa rahmatullahi wa barakatuh”, “ Salam sejahtera yaa nabi, semoga rahmat dan berkah Allah swt terlimpah padamu ya Rasul”. Begitulah para jamaah memberikan salamnya dengan penuh khidmat. Juga kepada ke dua sahabat yang selalu setia mentaati beliau, meski kami tidak bisa melihat makam tersebut bahkan dindingnya sekalipun. Semacam papan tipis berwarna putih dipasang menutupi area sakral tersebut. Demikian pula mimbar yang terletak sejajar dengan makam Rasulullah, kami, jamaah perempuan tidak bisa melihatnya. Sayang sekali … L

Sambil berdesakan para  jamaah terdengar bershalawat “ Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ala ali Muhammad”,   “Ya Allah, muliakan Rasul-Mu Muhammad saw dan keluarganya”.  Ditengah kerumunan inilah para jamaah berusaha untuk shalat meski tidak bisa dengan posisi sempurna karena untuk rukuk dan sujudpun sangat sulit. Untuk itu kami harus bergantian saling menjaga bila tidak ingin terinjak ketika kita sujud. L …

Usai shalat dan memberikan salam, kami  berdoa. Raudah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.  Tak lama setelah itu kami  keluar, tanpa ingin menunggu bentakan askar yang mengusir jamaah yang terlalu lama berada  di dalam taman surga ini. Puas tidak puas, kami harus tahu diri, di luar sana sesama jamaah telah mengantri. Dalam hati saya berjanji akan kembali lagi, besok, insya Allah.  Semoga Allah swt masih memberi kesempatan.

( Bersambung).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Desember 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Jumat, 28/10/2011.

Sebelum meninggalkan rumah tak lupa kami mendirikan shalat safar (bepergian) 2 rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, tentu saja.  Ini bukan bagian dari ritual haji. Karena melaksanakan shalat safar sebelum bepergian memang dicontohkan Rasulullah saw.

Pesawat Royal  Jordanian Air  dengan no penerbangan RJ118 jurusan Madinahpun  take off sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Pesawat reguler yang membawa 78 jamaah haji dari Paris, Perancis  diantara sekian ratus penumpangnya ini  melayang selama lebih kurang 5 jam, sebelum akhirnya mendarat dan transit di Airport Queen Alia, Amman – Jodania.

Ada hal kecil cukup menarik yang terjadi selama penerbangan tersebut. Ini diawali dengan posisi tempat duduk di pesawat dimana saya dan suami ternyata tidak mendapat seat sebaris. Ntah mengapa suami ketika itu koq tidak ‘ngeh’ akan hal ini. Kami baru sadar bahwa tempat duduk kami terpisah menjelang boarding.

Seketika, suami langsung berusaha mencari jalan keluar. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada diri kami. Ada beberapa pasangan suami istri yang terpisah padahal mereka melakukan check in bersama dan bahkan sudah meminta agar duduk bersebelahan. Si petugas hanya menjawab silahkan diatur nanti ketika di dalam pesawat saja. Petugas disana yang akan membantu, begitu katanya .. L ..

Alhamdulillah, akhirnya masalah terselesaikan dengan baik. Ditambah pengertian seorang yang juga ternyata jamaah calon haji, saya dan suami berhasil  duduk bersebelahan, bertiga dengan bapak tersebut. Nah, bapak yang duduk di sebelah suami inilah yang ingin saya ceritakan kisahnya. Tentu saja tanpa bermaksud untuk menggunjing.

Setelah berkenalan dan berbasa-basi sejenak, tanpa diminta ia menceritakan latar belakangnya mengapa ia pergi berhaji. Muhammad demikian ia memperkenalkan dirinya.  Ia adalah warga negara Perancis berdarah Maroko. Sama seperti Aljazair dan Tunisia, Maroko adalah Negara bekas jajahan Perancis. Itu sebabnya di Perancis ini banyak sekali ditemui wajah-wajah Arab dan campuran Arab – Perancis. Mereka  adalah adalah keturunan para imigran dari ketiga negara tersebut, yang kemudian menikah dengan warga asli Perancis, atau dengan sesama mereka sendiri.

Muhammad hijrah ke negri paman Sarkozy ketika usianya masih belia, dalam  rangka menuntut ilmu. Di negri inilah ia kemudian jatuh cinta pada seorang perempuan asli Perancis hingga akhirnya mereka menikah. Sayangnya mereka mengambil keputusan penting ini tanpa mempertimbangkan perbedaan agama diantara mereka.

Akibatnya, Muhammadpun menjauh dari ajaran Islam, agama nenek moyangnya. Bahkan ia nekad berpindah mengikuti agama istrinya tercinta dan rela dibaptis.  Antony adalah nama baptisnya.  Tak aneh jadinya bila seterusnya ketiga putra-putrinyapun memeluk Nasrani, sesuai didikan sang ibu.

Bersyukur, Allah swt masih mengasihinya. Menjelang hari tuanya, yaitu pada usia 50 tahunan, Antony akhirnya menyadari kesalahannya. Ini semua berkat usaha keras ayahnya yang tak kenal jemu mengingatkan putranya itu untuk kembali ke jalan yang benar, meski hanya dari kejauhan.

Tiba-tiba saya teringat kepada kisah seorang ayah yang menasehati anaknya.  Allah swt mengabadikan kisah tersebut dalam surat Lukman, nama sang ayah. Sebuah pelajaran bagi kita, bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu.

“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.(QS.Lukman(31):16-17).

Sayangnya,  sang istri tercinta tidak dapat menerima kenyataan ini. Percekcokanpun  tak terhindarkan, hampir setiap hari, hingga akhirnya membuahkan perceraian. Sebuah akhir pernikahan yang tidak menyenangkan, memang. Namun Antony yang di kemudian hari mengganti namanya  menjadi Muhammad, ternyata kini justru lebih tenang hidupnya. Tampak bahwa Allah swt masih ridho menerima taubatnya.

Gurat penyesalan yang dalam masih terbayang di wajah Muhammad, ketika ia menceritakan perjalanan hidupnya. Namun  dengan cepat air mukanya berubah menjadi sejuk dan tenang ketika ia mengungkapkan betapa besar rasa terima-kasihnya kepada sang ayah tercinta yang tak kenal lelah mengingatkannya.

Kini Muhammad yang telah berusia 60 tahun dan harus ditopang tongkat ketika berjalan itu telah menikah kembali. Bahkan istrinya, seorang perempuan sholehah keturunan Maroko, dengan izin Allah swt telah mengganti ke 3 anak Muhammad yang ‘hilang’ dengan 2 putra putri yang insya Allah bakal menjadi penghibur dunia akhirat bagi ke 2 orang-tuanya. Subhanalah ..

Pelajaran berharga bagi kita, agar tidak menyekolahkan anak ke negri-negri kafir tanpa bekal keimanan yang kuat dan pengawasan yang ketat.

Tak terasa, 5 jampun berlalu. Perbedaan waktu antara Paris-Amman adalah 1 jam.  Kami mendarat di airport Queen Alia, Amman pada pukul 19.00 waktu setempat, untuk transit selama 10 jam ! Padahal jarak Amman – Madinah tinggal 2 jam penerbangan. Beruntung, pihak Jordan Air memberikan fasilitas hotel bagi jamaah agar dapat sedikit beristirahat dengan baik.

Yaah, begitulah resiko menjadi penumpang pesawat bukan khusus haji. Ini hanya salah satu kesulitan agen bimbingan haji Perancis. Padahal agen bimbingan haji kami ini menangani 300an jamaah. Mereka terpaksa diterbangkan dalam  4 penerbangan yang berbeda.

Sekitar pukul 21.00 kami memasuki hotel. Setelah makan malam yang disediakan pihak hotel kami segera masuk kamar dan berusaha untuk istirahat. Pukul 3.30 pagi kami harus sudah siap berangkat ke bandara untuk meneruskan perjalanan ke tujuan yang sebenarnya, Madinah.

Sabtu, 29/10/2011. Alhamdulillah pesawat berangkat meski tidak tepat waktu. Shalat Subuh kami laksanakan di mushola airport. Sayangnya, ruang shalat bagian perempuan yang sudah sempit ini masih dijejali lagi  dengan penumpang yang numpang tidur di tempat tersebut. Yang tetap tidak mau bergeming untuk bangun meski tahu para tamu mengantri untuk shalat bahkan beberapa terpaksa sujud di atas bagian tubuhnya.

Sekitar pukul 8.30 pagi pesawat mendarat di  Madinah Airport dengan selamat, Alhamdulillah. Airport ini jauh berbeda dengan Airport Jedah, baik keadaan fisik maupun pelayanannya. Di Jedah, urusan imigrasi bisa makan waktu 10 jam-an ! Ini yang kami alami 11 tahun lalu. Dan ini sudah diingatkan para pembimbing kami. Tampaknya ini hal biasa atau memang ‘ dibiasakan”?? Di depan mata para calon jamaah kami melihat para petugas imigrasi mengobrol, jalan kesana kemari … Dan ketika melihat ada orang yang berusaha ‘mendesaknya’ agar bekerja lebih cepat, mereka langsung berteriak-teriak, membentak-bentak semua orang yang mengantri panjang, pasraaah  …

“ Sabaar, sabaar, sabaar”, hanya itu kata yang diucapkan para pembimbing,  menenangkan  para jamaah. Dan para jamaahpun hanya diam,  sadar sepenuhnya bahwa ini adalah bagian dari uji kesabaran dalam berhaji dan berumrah. Ironisnya, ternyata ini masih dialami oleh adik dan ipar saya yang kebetulan juga pergi menunaikan haji tahun ini.  Mereka datang ke tanah suci melalui bandara Jeddah dan harus menunggu 10 jam di tempat tersebut. Saya hanya bisa mengusap dada, “ Benarkah ini bagian dari sabar berhaji?”, tanya saya dalam hati, tidak yakin.

Di airport Madinah, pemeriksaan imigrasi berjalan lancar dan relative cepat. Di pintu keluar menuju deretan bus yang telah menanti, sejumlah petugas membagi-bagikan 1 set buku panduan haji.  Hebatnya, buku-buku tersebut tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi berbagai bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman dll, termasuk bahasa Indonesia. Dan semua itu tanpa dipungut biaya alias gratis. Dari salah satu buku inilah saya membaca tentang “ beberapa kesalahan dalam berhaji”. Dan yang paling menarik adalah kesalahan miqat dari airport Jedah, hal yang sering dilakukan jamaah Indonesia !  Terutama kloter-kloter yang langsung menuju Mekah. Berikut apa yang saya temukan, sesuai dengan buku petunjuk yang dibagikan di bandara  Madinah.

http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/03/23/bantahan-bagi-yang-menjadikan-jeddah-sebagai-miqat/

Selanjutnya dengan 2 bus berkapasitas 40 orang kami menuju hotel. Tidak kurang 2 kali kami berhenti untuk menerima pembagian air zamzam dan makanan kecil, semua cuma-cuma. Ini adalah bagian dari cara pemerintah Arab saudi menyambut tamu Allah swt di tanah suci ini.  Allahuakbar  …

Pukul 11 lebih kami tiba di hotel. Alhamdulillah, hotel hanya berjarak beberapa meter dari Masjid Nabawi. Kami segera turun dari bus untuk melihat-lihat sekeliling hotel. Ternyata selain dekat dengan masjid Nabawi hotel juga dekat dengan restoran Indonesia ! Wah, beruntung benar kami .. Saya langsung promosi kepada teman-teman tentang masakan Indonesia. 🙂

Selesai urusan hotel ; cek-in, pembagian  kunci kamar, mengurus bagasi serta pengumuman-pengumuman penting dari pembimbing, tak terasa waktupun cepat berlalu. Azan zuhur berkumandang kencang. Kami segera bergegas menuju masjid.

Rasanya baru 3 tahun lalu kami mengunjungi masjid ini untuk umrah, ternyata sudah ada perubahan. Di siang hari yang terik tersebut, pelataran masjid yang luas terasa jauh lebih sejuk dibanding dulu. Payung-payung raksasa cantik, berwarna biru muda terlihat meneduhi pelataran. Sejumlah kran air berputar menyemprotkan air ke udara, menambahkan kesejukan. Ini masih dimanjakan lagi dengan karpet-karpet tebal indah berwarna merah tua, menambah jamaah makin nyaman dalam mendirikan shalat.

Pintu masuk masjid yang jumlahnya 86 dan diberi no urut ini, dipisahkan pintu-pintunya bagi jamaah lelaki dan perempuan. Setelah menentukan tempat untuk bertemu kembali dengan suami nanti usai shalat, kamipun berpisah. Saya segera menuju pintu terdekat dan berusaha memasukinya.

Sejumlah askar perempuan, sebutan petugas keamanan masjid, menghadang di mulut pintu. Dengan abaya hitam lengkap dengan cadarnya, mereka memeriksa tas para jamaah. Kamera, handycam dan Hp terutama yang ada kameranya, seperti BB dan lain-lain kalau ketahuan dilarang dibawa masuk. Boleh dititipkan ke bagian penitipan atau dipersilahkan shalat di pelataran.

Lolos dari pemeriksaan, sekarang giliran mencari tempat kosong. Sungguh, perjuangan berat. Saya harus berjalan melewati shaft demi shaft, meloncati kaki orang .. Mau berbalik keluar lagi juga tidak mungkin karena di belakang sudah ada antrian panjang  seperti ular. Sejauh mata memandang rasanya padat  sudah isi masjid ini. Subhanallah ..

Hingga iqamat dikumandangankan beberapa menit kemudian, saya masih dalam keadaan seperti itu. Maka begitu saya melihat ada kesempatan keluar saya segera memutuskan untuk keluar dan akhirnya shalat di pelataran. Ada keraguan dalam hati ini, samakah antara shalat di dalam masjid yang berpahala 1000 x shalat di masjid lain ini dengan shalat di pelatarannya?

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil-Haram.” (HR Bukhari).

Wallau’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 12 Desember 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »