Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Sulit  rasanya membayangkan bagaimana perasaan Soekarno, presiden pertama RI, ketika suatu hari di tahun 1956 tanpa sengaja melihat sebuah masjid berdiri di suatu kota besar di negara komunis terbesar dunia, Rusia.

Namun pagi itu, Sabtu, 28 Oktober 2012, bayangan itu dapat terhapus. Bangga, kagum, senang sekaligus terharu bercampur menjadi satu, Subhanallah Allahuakbar wa Alhamdulillah …

Ya, di pagi hari yang cerah itu Allah swt telah memberi kami berdua kesempatan untuk melihat dari dekat masjid Biru yang terletak di St Petersburg, sekitar 900 km dari Moskwa ke arah barat laut, mendekati perbatasan Finlandia. Itulah Masjid Soekarno. Namun nama tersebut sebenarnya hanya sebutan yang diberikan masyarat Indonesia yang ada di kota tersebut. Karena nama aslinya adalah Central Mosque atau St Petersburg Mosque.  Orang juga sering menyebutnya Masjid Jamul Muslimin.

Perjalanan Moskwa-Petersburg berlangsung sekitar 1 jam, dengan pesawat terbang.  Kami mendarat di kota ini pada pukul 7.30 waktu setempat, dengan sambutan salju dimana-mana. Beruntung pesawat bisa mendarat dengan selamat, karena beberapa waktu sebelumnya badai salju menerpa kota di belahan bumi  utara ini.

Kami juga sangat beruntung karena sopir taxi yang memperkenalkan diri dengan nama Blood ini fasih berbasa Inggris. Hal yang sangat jarang ditemui. Dan makin beruntung lagi karena pak sopir bule berambut pirang, bukan merah darah sebagaimana namanya, .. 🙂  .. rupanya punya hobby bercerita.  Terlihat jelas betapa bangganya ia terhadap kota kelahirannya ini. Plus bangga dengan kefasihannya berbahasa Inggris, karena beberapa kali kami memujinya. Eits, berpahala lho membuat hati orang senang, dengan catatan tidak mengada-ada dan ikhlas.

Darinya kami jadi tahu sekilas sejarah kota ini. St Petersburg adalah kota terbesar ke 2 di Rusia setelah Moskwa. Hampir 200 tahun lamanya kota ini pernah menjadi ibu kota Negara sebelum akhirnya dipindahkan ke Moskwa pada tahun 1918. Ia sempat beberapa kali berganti nama, yaitu Petrogad dan Leningrad.  Selama 67 tahun kota ini dikenal  dengan nama Leningrad.  Nama ini diambil dari Vladimir Lenin, bapak komunisme Rusia.  Leningrad kembali menjadi St Petersburg  setelah kejatuhan komunisme di tahun 1991.

P1020175P1020172IMG_3908IMG_3931St Petersburg dibangun pada tahun 1703 oleh tsar ( kaisar)  Rusia, Peter the Great. Kota ini dibangun di dalam benteng kuno Peter and Paul fortress yang terletak di sebuah pulau kecil atau tepatnya delta di sungai Neva. St Petersburg tercatat sebagai kota yang memiliki beberapa julukan karena kecantikannya, diantaranya yaitu Venice from the North. Ini disebabkan banyaknya kanal yang ada di kota ini.  Dalam membangun kota pelabuhan di tepi pantai Baltik ini, sang raja terinspirasi oleh kecantikan bangunan-bangunan di Eropa Barat yang sering dikunjunginya.

Taxi yang kami tumpangi pagi itu langsung meluncur menuju hotel yang terletak di St Petersburg selatan. Kami hanya satu hari satu malam di kota ini. Tujuan utama kami jelas, yaitu melihat masjid biru yang pernah dilihat presiden pertama  RI dulu.  Bes5ok pagi kami sudah harus meninggalkan kota menuju Kazan, ibu kota Tatarstan, salah satu Negara bagian Rusia.

Maka setelah cek-in hotel kami segera keluar lagi mencari stasiun metro, yang menurut peta kota tidak berapa jauh dari hotel. Sayangnya, meski udara cerah dan matahari bersinar terang namun udara terasa amat dingin, menggigit hingga ke tulang sumsum, brrr …  Ini masih ditambah dengan jalanan yang lumayan licin, karena  masih ada sisa-sisa salju yang turun subuh tadi.  Kami sempat beberapa kali terpeleset, hiks ..

Yang menarik, orang Rusia yang selama ini dikenal ‘dingin’ dan tidak bersahabat, mungkin karena kesan komunisnya yaa, ternyata tidaklah demikian. Beberapa kali tanpa ditanya mereka menawarkan bantuan melihat kami celingukan mencari arah dengan peta di tangan. Uniknya lagi, tanpa peduli bahwa percakapan kami tidak nyambung, karena mereka bertanya dalam bahasa mereka, Rusia, sementara kami tidak paham apa yang mereka katakan.

Berkat bantuan dua orang ibu setengah umur kami berdua akhirnya sampai di stasiun metro. Yang pertama adalah seorang ibu setengah umur. Ibu ini tidak cukup hanya menunjukkan arahnya saja namun mengajak kami berjalan mengikutinya karena kebetulan ia juga sedang menuju ke arah yang sama,  begitu kilahnya. Ibu ini hendak pergi ke sebuah bank. Kami berjalan berdampingan selama beberapa menit sambil mengobrol. Ia sempat bercerita bahwa ia pernah mengunjungi Malaysia. Kebetulan ibu yang satu ini bisa berbahasa Inggris. Kami berpisah di perempatan jalan setelah ia menunjukkan kemana kami harus menuju.

Selanjutnya kami berjalan mengikuti arahannya, dengan tetap memegang peta. Namun di tengah perjalanan seorang nenek menawarkan bantuannya. Bersamanya akhirnya kami tiba di depan pintu stasiun metro. Kali ini sang nenek hanya bisa berbahasa Rusia. Namun tampak jelas bahwa ia tidak ingin kami tersesat. Karena beberapa kali ia menunjuk ke arah pintu stasiun seolah kami tidak bisa membaca tulisan besar di atas pintu tersebut. Padahal memang tidak bisa, karena tulisannya dalam huruf akrilik .. 🙂

Sekitar 20 menit kami berada di dalam metro. Stasiun metro yang kami tuju adalah Gorkovskaya. Begitu keluar dari stasiun bawah tanah ini, angin sejuk langsung menerpa wajah kami. Segera saya menaikkan pull over tebal yang saya kenakan hingga leher dan menarik retsleting jaket dingin saya. Demikian pula suami saya. Selanjutnya kami segera mencari posisi dan mencocokannya dengan peta yang kami genggam erat sejak tadi.

Subhanallah .. Begitu kami mendongakkan kepala terlihat sebuah menara tinggi menatap kami. Tidak salah lagi, inilah menara masjid yang kami cari itu. Betapa senangnya hati ini melihat kenyataan bahwa bait Allah ini begitu mudah ditemukan.

IMG_3855Letak  masjid ini benar-benar strategis dan istimewa. Masjid terletak tidak jauh dari benteng Peters and Paul, yang merupakan pusat kota, selain sangat dekat dengan stasiun metro. Di dalam benteng inilah berdiri gereja dimana semua kaisar Rusia dimakamkan. Masjid terletak di pinggir jalan raya, di depan sebuah taman. Menaranya yang berjumlah 2 buah itu terlihat menyembul di antara ranting-ranting cantik pepohonan musim gugur yang sungguh mempesona. Sementara kubah birunya hampir tidak terlihat karena begitu menyerupai birunya langit yang pagi itu terlihar sangat cerah.

Kami terus berjalan mendekati masjid dengan hati berdebar senang. Namun rupanya untuk memasuki masjid, harus berputar, karena jalanan terlalu lebar untuk diseberangi. Kami berjalan hingga mencapai ujung jalan sebelum akhirnya menyebranginya.

IMG_3878IMG_3869Sayang ternyata masjid tidak seindah dari kejauhan. Tembok-temboknya sudah tua dan terlihat berlumut.  Meski tidak dapat dipungkiri detilnya tetap menawan. Masjid ini amat mirip dengan masjid-masjid di Bukhara, Uzbekistan, yang rata-rata berkubah biru itu.

Dan nyatanya, masjid yang dibangun pada tahun 1910 dan selesai pada tahun 1921 ini memang dibangun dalam  rangka peringatan 25 tahun berkuasanya Abdul Ahat Khan, penguasa kota Bukhara, Uzbekistan, saat itu. Pada waktu itu, umat Islam di St Petersburg diperkirakan berjumlah 8.000 jiwa, sebagian besar adalah para pekerja yang sedang membangun kapal di galangan Sungai Neva. Umumnya mereka datang dari Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Ini terjadi di era Rusia dibawah tsar Nicholas II, yang mengizinkan berdirinya masjid. Ini merupakan masjid terbesar di Eropa kala itu.

Penting untuk diketahui, pada tahun 1868, Bukhara yang merupakan kerajaan Islam jatuh ke tangan Rusia dibawah para tsar.  Sejak itulah umat Islam berbondong-bondong datang ke kota ini. Jadi ikatan keduanya memang sudah terjalin baik. Meski ajaran Islam itu sendiri sebenarnya telah ada di Rusia sebelum abad 8, yaitu berkat orang-orang Tatar yang pernah lama menguasai negri ini.

Selanjutnya, ketika komunisme berhasil menjatuhkan kekaisaran Rusia pada tahun 1917, Bukharapun direbut dan kerajaan ini ambruk pada tahun 1920. Bukhara adalah kota kelahiran ahli hadist kenamaan Bukhari ( 810 M – 870 M).

Sejak berkuasanya komunisme di negri ini, pintu-pintu keagamaanpun ditutup rapat. Tidak ada tempat bagi pemeluk agama di negri ini. Mereka ditekan dan ditindas luar biasa kejam. Kitab-kitab suci dibakar. Seluruh rumah ibadah ditutup, termasuk masjid yang baru saja selesai dibangun ini. Bahkan pada tahun 1940, masjid beralih fungsi menjadi gudang medis tentara komunis.

( Bersambung)

Click : https://vienmuhadi.com/2013/05/20/st-petersburg-dan-masjid-soekarno-2-tamat/

Read Full Post »

Kado Pernikahan

Sabtu 16 Februari 2013. Pagi itu kami dan keluarga besar telah berkumpul, siap menyaksikan upacara sakral  yang mudah-mudahan akan menjadi peristiwa penting yang terjadi sekali dalam umur hidup seorang anak manusia. Itulah akad nikah putra sulung kami.

Bukannya kami menolak Poligami yang memang tersirat di dalam ayat suci Al-Quranul Karim.  Namun kami berharap mudah-mudahan “ satu lebih baik” akan lebih cocok bagi putra kami tersebut. Karena bagai manapun memiliki istri lebih dari 1 tentu lebih repot. Maklum, perempuan adalah mahluk yang amat sensitif.

Syarat adil yang menjadi syarat utama laki-laki berpoligami bukan saja secara materi namun juga  pembagian waktu dan perhatian yang tentu bukan hal yang mudah. Yang bila tidak terpenuhi bukan saja tujuan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah gagal namun pasti malah membuat kehidupan keluarga yang sama sekali tidak nyaman dan tentram.

Kembali ke persiapan akad nikah diatas. Upacara diawali dengan pembacaan ayat 21 surat Ar-Ruum yang biasa dicantumkan di dalam undangan pernikahan. Meski ayat ini sudah sangat sering dibacakan namun suara merdu sang qori kali itu tak urung membuat hati ini merinding hingga tanpa dapat dicegah air matapun deras mengalir turun membasahi pipi dan membuat eye shadow yang hampir tidak pernah saya gunakan itu luntur. Hingga anak perempuan kami yang duduk di sebelah saya segera mengulurkan tangannya berusaha menenangkan ibunya yang cengeng itu.

Usai upacara ia berbisik lirih, “ Terharu bu yaaa .. Kehilangan satu anak deh “, ujarnya. Tapi saya segera menjawab bahwa bukan hal tersebut yang membuat ibunya menitikan air mata.

“ Bukan hilang dong Dil, justru tambah satu, anak perempuan, kakak baru Dilla”, jawab saya tersenyum. Tapi tampaknya ia tidak mempercayai ucapan saya. Ya sudahlah, tidak  mengapa, pikir saya. Saya tidak  berbohong. Saya memang paling tidak tahan mendengar ayat-ayat suci dibacakan apalagi dengan suara yang merdu seperti suara qori tersebut.

Yang pasti, lega hati ini berhasil mengantar anak kami ke gerbang pernikahan. Yang artinya separuh agama telah dilaluinya. Karena salah satu tujuan menikah adalah agar terhindar dari perbuatan zina. Sementara zina itu dosa yang sangat amat besar di sisi Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi).

Tetapi tak sampai 3 hari kemudian saya baru menyadari bahwa ternyata saya salah. Putra sulung kami, demi karir, setiap hari memang harus berangkat pagi pulang larut malam. Tidak jarang pula ia harus ke luar kota karena tugas kantor. Hingga tidak jarang dalam sehari kami tidak bertemu. Itu sebabnya  saya tidak merasa bakal kehilangan dirinya ketika ia menikah. Apalagi sejak kelas 2 SMA ia memang sudah nge-kos di Bandung.

Namun nyatanya tidak demikian. Karena meski ia pulang larut secara tidak sadar saya tetap menantinya pulang. Tidak demikian ketika ia telah menikah. Saya sadar bahwa kini ia telah memiliki seseorang yang sangat istimewa yang telah menjadi belahan dirinya, itulah istrinya. Dengan demikian ia tidak lagi pulang ke rumah, melainkan ke rumah mertuanya, sambil menanti kesiapan pasangan pengantin baru ini mengontrak atau bahkan mungkin mencicil rumah atau apartemen. Dan tiba-tiba saja saya merasa telah kehilangan diri anak sulung kami tersebut.

Maka di suatu sore selepas magrib, tanpa dapat lagi dibendung, tangis saya pecah di depan suami dan anak saya yang lain. Pertanyaan saya satu, «  Sudahkah kita cukup membekali anak kita ?? »

Bekal yang saya maksud tentu saja bukan sekedar bekal materi, namun justru bekal iman yang merupakan bekal utama berkeluarga, disamping pendidikan  tentu saja.  Karena jika dilihat dari sudut duniawi, mestinya ia mampu. Ia telah menyelesaikan jenjang S2nya, di bidang ekonomi. Demikian pula istrinya. Keduanyapun telah bekerja dengan gaji lumayan, Alhamdulillah …

Namun tetap saja pertanyaan “ Mampukah ia untuk subuh berjamaah di masjid, mengajak istrinya untuk selalu shalat berjamaah, untuk secara teratur membaca dan mengkaji Al-Quran, bahkan untuk menutup auratnya, dll? » terus saja meluncur keluar dari mulut ini.

Suami sempat panik juga melihat saya sesenggukan seperti itu. Demikian pula anak perempuan kami. “Ya sudahlah buu .. Kita kan selama ini sudah memberikan contoh. Kita sekolahkan ia di sekolah Islam. Istrinyapun teman di SMP Islam kan, jadi sama-sama tahu kewajiban seorang Muslim dan Muslimah. Insya Allah mampulah”, hibur suami.

“Bukankah menjelang pernikahannyapun kita sudah sengaja menyempatkan diri mencari uztad khusus penasehat perkawinan  bagi mereka berdua ? Dan sehari menjelang pernikahannyapun kita undang beliau untuk memberikan tausiyah yang Subhanallah sangat mengena?”, lanjutnya lagi.

Memang betul, kami telah mengundang seorang uztad yang memang ahli dalam bidang tersebut, seorang mantan penghulu. Ini termasuk hal baru. Seorang tetangga, mualaf, yang memberitahu saya hal ini. Menurutnya, orang Kristen, agama lama yang dianutnya, sejak lama memiliki kebiasaan tersebut. Sepasang calon pengantin wajib memiliki semacam pelatihan sebelum menikah. Di dalam pelatihan yang biasanya berlangsung selama 1 tahun ini calon mempelai diajari apa saja kewajiban dan hak mereka sebagai seorang Kristen yang telah berkeluarga.

Saya tidak tahu pasti apakah tetangga saya yang saat ini telah menjadi seorang uztadzah, Subhanallah, yang memberi inspirasi uztad kenalannya untuk menyediakan bimbingan pra nikah atau bukan. Yang jelas darinya saya jadi mencari tahu adanya bimbingan seperti itu. Dan Alhamdulillah saya menemukannya.  Meski belakangan saya baru tahu bahwa uztad yang kami undang tersebut ternyata termasuk ulama yang tidak mewajibkan jilbab. Naudzubillah min dzalik …

« Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang ».(QS.Al-Ahzab(33) :59).

Yaaah, saya hanya berharap semoga suatu hari nanti Allah swt memberi hidayah dan menggerakkan hati menantu kami tercinta agar mau menutup auratnya secara sempurna. Toh kami juga sudah mengingatkan anak lelaki kami akan kewajibannya sebagai suami, untuk menyayangi, menafkahi, memimpin dan membimbing istrinya. Dan tentu saja kelak, anak-anaknya. Semoga Allah swt ridho memberi pasangan penganten baru ini dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah, aamiin …

Semoga juga tausiyah hari terakhirnya sebagai bujang beberapa hari lalu akan senantiasa diingatnya. Inilah kado terindah dan paling berharga yang dapat kami persembahkan baginya.

« Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) “.

“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. … … ”.(QS.Al-Lukman (31):17-19).

 “ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

“ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.(QS.Al-Isra(17):23-24)

“ Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a:

” Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS.Al-Ahqaf(46):15).

Semoga anak kami akan tetap terus mengenang kami berdua sebagai kedua orang yang dititipi-Nya tugas sebagai ayah ibu yang patut mendapat perhatian dan kasih sayangnya. Sebagaimana kami berdua menyayangi dan  mencintainya,  sepenuh hati.

Meski sebagai orang tua harus kami akui bahwa  kami tidak mampu mendidik anak kami tersebut  sebagaimana orang-orang besar masa lalu mendidik dan menggembleng anak-anak mereka hingga ke Makkah atau Madinah, demi mendapatkan satu hadis. Atau seperti orang tua lain yang  ‘tega’ menitipkan belahan jiwa mereka ke pesantren-pesantren,  karena kebesaran jiwa mereka mengakui bahwa mereka tidak mampu mendidik anak-anak mereka sesuai fitrahnya sebagai hamba Allah.

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” . (QS. Adz-Zariyaat(51):56).

Ya Allah maafkan kami yang hanya mampu mendidik titipan-Mu sebatas ini.

Sungguh betapa ’iri’ hati ini membaca Republika beberapa hari lalu.

Adalah Kamil Lubudy dan Rossa, pasangan suami istri muda asal Mesir, yang dua-duanya apoteker.  Sebelum menikah keduanya tidak hafal Al-Quran. Namun setelah menikah, mereka bertekad ingin menghafal ayat-ayat suci tersebut. Ini berlangsung hingga ketika Rossa hamil dan melahirkan putra pertama yang kemudian diberi nama Taabarok.

Tekad kuat pasangan muda ini ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Tidak saja mereka berdua yang berhasil menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun juga putra mereka. Pada usia 4.5 tahun, Taabarok  dinobatkan sebagai hafidz termuda di dunia oleh Liga Muslim Dunia. Anak usia TK ini lulus diuji oleh sejumlah hafidz tingkat internasional. Hebatnya lagi, kedua adiknya yang lahir beberapa tahun kemudian juga  berhasil menyamai rekor kakak mereka. Ketiganya telah khatam Al-Quran pada usia 3.5 tahun.  Dan setahun kemudian menjadi hafidz semua. Subhanallah … Benar-benar sebuah kado pernikahan yang tak ternilai harganya …

Pelajaran bagi kita, tidak ada alasan umur apalagi kesibukan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran.  Selama niat dan tekad kuat ada dalam diri ini, insya Allah, Sang Khalik akan memudahkannya, bahkan menambahnya.

Semoga bukan mimpi kosong, bila kami berdua yang telah berusia lebih dari setengah abad ini berkeinginan memperbaiki kekurangan dalam mendidik anak yang tidak maksimal ini, suatu hari nanti bakal mendapatkan keturunan yang benar-benar berkwalitas dalam pandangan-Nya, aamiin aamiin aamiin ya robbal aalamiin ..

Jakarta, 28 Februari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Jakarta kembali dilanda banjir. Orang bilang banjir 5 tahunan. Sebuah sebutan yang sama sekali tidak saya sukai. Lha wong bencana koq dijadwal, seperti ujian sekolah saja. Pasalnya karena pada tahun 2002 dan 2007 lalu ibu kota republik ini juga kebanjiran. Bahkan bulannyapun sama, sekitar Januari – Februari. Karena bulan-bulan tersebut memang bulan dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Sementara banjir kali ini terjadi pada tahun 2013. Jadi sebenarnya bukan 5 tahun tapi 6 tahun. Kesimpulannya, “ maksa.com”, kata anak gaul sekarang, alias memaksakan istilah.

Lebih ajaib lagi, kalau memang banjir bisa diprediksi mengapa tidak ada antisipasinya. Paling tidak begitulah kesannya. Dan yang lebih ajaib lagi, banjir tersebut makin tahun makin parah. Contohnya, di perumahan ibu mertua saya di Pejompongan. Kakak ipar saya menuturkan bahwa banjir pada tahun 2002 air masuk rumah ‘hanya ‘ sebatas semata kaki. Pada tahun 2007 naik hingga ke betis. Dan tahun 2013 ini hingga pangkal paha !

Pertanyaan besar, apa sebenarnya yang salah dengan ibu kota ini ? Bukankah hujan itu rahmat ? Bukankah Jakarta yang rata-rata temperaturnya 30 derajat, dibawah guyuran hujan terasa lumayan adem ? Bukankah Jakarta dengan jalanannya  yang selau berdebu terasa agak berkurang polusinya dengan adanya hujan ?

Secara umum setiap mahluk  hidup : manusia, tanaman dan hewan selalu  membutuhkan air. Bahkan sebagai kebutuhan utamanya. Tanpa air tanaman tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga dan berbuah. Demikian pula hewan. Tanpa air, tidak mungkin ia berkembang biak dan menghasilkan susu dan daging yang baik untuk dikonsumsi. Lalu apa yang dapat kita makan bila tanaman dan hewan berhenti berproduksi? Cukupkah hanya dengan minum saja ? Padahal tanpa hujan, sungai akan kering. Demikian pula mata air pegunungan. Tanpa makan, apalagi minum mungkinkah manusia bisa bertahan hidup ?

Jadi kesimpulannya, benar,  hujan adalah rahmat. Namun mengapa hujan yang melanda Jakarta yang tercinta ini malah menjadi petaka?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah(2):164).

Ayat di atas menunjukkan secara jelas bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit. Diturunkan-Nya air tersebut sesuka dan sekehendak-Nya, melalui putaran angin dan awan yang dikendalikan-Nya. Dia pulalah yang mengatur agar air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terserap oleh tanah. Itulah yang orang sering menyebutnya sebagai hukum alam, Sunattullah.

Lebih dasyat lagi, secara teoritis, berdasarkan tanda-tanda, gejala dan pengalaman, semua itu dapat dipelajari. Itulah fenomena alam, yang bisa terjadi hanya karena izin-Nya. Dibuka-Nya rahasia tersebut kepada orang-orang yang mau berpikir, yang mau menggunakan akal yang diberikan-Nya.

Artinya, bila ternyata hujan yang seharusnya adalah rahmat itu ternyata malah menjadi bencana, ini adalah kesalahan manusianya. Allah swt telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal kita yang amat dan nyaman. Berbagai fasilitas telah disediakan-Nya, tanpa dipungut bayaran alias gratis. Kita tinggal memanfaatkan dan memeliharanya.

Namun kenyataannya kerusakan telah terjadi dimana-mana. Pendangkalan sungai sebagai akibat berbagai ulah buruk manusia, membuang sampah ke dalam sungai, adalah contoh yang paling sederhana tetapi fatal dampaknya. Penggundulan hutan, pembangunan gedung yang tidak memperhatikan penyerapan air dll adalah contoh lainnya.

Namun demikian, pernahkah terbersit pertanyaan, mengapa bencana banjir tidak terjadi setiap kali hujan besar datang.  Secara teoritis, para ilmuwan pasti mempunyai jawaban yang beragam  tentang hal ini. Yang kemungkinan besar juga bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Tetapi. dapatkan mereka memastikan dimana, kapan dan bagaimana tepatnya bencana itu bakal terjadi?? Jawabannya pasti, “ Tidak dapat ! “, selalu ada kemungkinan lain yang diluar prediksi akal manusia.

Disinilah kekuasaan Allah swt sebagai Sang Pemilik berbicara. Tanpa izin-Nya tidak mungkin segala sesuatu  dapat terjadi. Manusia hanya bisa berusaha namun Dialah yang menentukan hasilnya. Untuk itulah ketakwaan dibutuhkan.

Jakarta tampaknya mempunyai kesulitan besar. Selain tidak bisa menjaga lingkungan, sebagian penduduk Jakarta juga telah berkhianat pada-Nya. Tengoklah bagaimana korupsi meraja-lela, perselingkuhan, homoseksual, perkosaan, bermabuk-mabukan dan lain sebagainya yang terus saja terjadi.

Kasus Hambalang, kasus yang saat ini  sedang hangat dibicarakan dan melibatkan orang-orang beken yang terpaksa di non aktifkan gara-gara kelakuan bobrok mereka seperti mentri OR, AM, anggota DPR yang pernah menyandang ratu kecantikan, AS, hanyalah contoh kecil.  Juga ‘lelucon’ yang sama sekali tidak lucu yang keluar dari mulut seorang calon hakim agung DS yang melecehkan korban perkosaan. Padahal kedudukan hakim agung semustinya  amatlah tinggi karena menjadi cerminan keadilan sebuah bangsa. Ironisnya lagi, ‘lelucon’ tersebut keluar di tengah ramainya skandal ayah yang memperkosa  putrinya sendiri yang baru berusia 11 tahun dalam keadaan istrinya sedang diopname di RS ! Na’udzubillah min dzalik …

Sungguh memalukan, bangsa Indonesia yang menurut laporan mayoritas Muaslim, lupakah mereka akan azab Tuhan yang ditimpakan bagi para pendosa ?? Tidakkah lagi mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran yang bisa membuat mereka sadar alangkah ngerinya siksa dan kemurkaan-Nya??

“ Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan”.(QS.Fushilat(41):16).

Banjir yang menimpa di Jakarta beberapa hari lalu kabarnya bukan karena intensitas curah hujan yang tinggi bukan juga karena kiriman dari bendungan Kapulampa di Bogor. Bendungan yang awalnya direncanakan akan dibuka karena telah mencapai ketinggian maximumnya hingga dikhawatirkan  jebol.

IMG-20130117-00039Di luar perkiraan, yang jebol justru tanggul Banjir Kanal Barat Latuharhari yang terletak di pusat kota. Tak ayal lagi, daerah-daerah elit di Jakarta pusatpun terendam banjir .  Jalan raya paling bergengsi di negri ini, yaitu jalan MH Thamrin dengan bunderan HI nya dimana hotel-hotel  mewah dan gedung pusat perkantoran serta bank-bank besar berjejer terendam air hingga menyerupai sungai. Bahkan Istana kepresidenan yang hari  itu sedang menanti tamu negarapun  tak luput dari banjir, meski hanya semata kaki.

Belum lagi nasib sebuah parkiran bawah tanah yang didera ‘tsunami’ dasyat sedalam 12 meter. Bencana  yang menyerang parkiran bawah tanah hingga minus 3 gedung mewah perkantoran ini akhirnya memakan korban 2 OB dan ratusan mobil yang sedang di parkir di dalam gedung tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tidak sampai 30 jam setelah itu,  dua buah tanggul ikut jebol secara berturut-turut, satu di perumahan Bekasi satu lagi di Pluit.  Meski belakangan kabar jebolnya bendungan Pluit dibantah, bendungan tersebut ’hanya ‘ terendam banjir. Padahal bendungan terbesar di ibu kota ini amat diandalkan kemampuannya dalam mencegah banjir.  Ironisnya, areal yang awalnya mempunyai luas 80 hektar itu saat ini hanya tinggal 50 hektar saja.  Pemukiman liar bahkan mall yang dibangun dengan izin resmi Pemda DKI telah menggeroti areal vital tersebut.

Akibatnya, 3 perumahan elit di Pluit yang harganya milyaran per unit itu,  sejumlah kompleks perumahan, ratusan sekolah serta  puluhan wilayah Jakarta terendam banjir. Sebagian ada yang mencapai ketinggian 4 meter !

Tetapi  cobaan belum usai. Esoknya, Sabtu, 19 januari, tanggul sungai Citarum ikut jebol. Tanggul yang terletak di kabupaten Karawang  Jawa  Barat ini berhasil menewaskan 2 orang akibat terbawa arus air yang luar biasa deras. Disamping merendam  tak kurang dari 900 rumah warga, ratusan hektar sawah dan memutus jalan raya menuju beberapa kota sekitar tanggul.

Jebolnya sejumlah bendungan yang menyebabkan banjir dasyat Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada tragedi  memilukan ribuan tahun lalu di ibu kota Yaman.  Yaman ketika itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba’ dengan ratunya yang terkenal, yaitu ratu Bilqis atau Balqis. Negri ini makmur karena tanahnya yang subur berkat adanya bendungan Ma’rib. Bendungan ini terletak di kota Ma’rib, yang berlokasi sekitar 120 km di sebelah timur ibukota Yaman sekarang yaitu, Sana’.

Bendungan Ma’rib memiliki ketinggian 16 meter, lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Kabarnya bendungan ini mampu mengairi areal seluas 9.600 hektar. Bendungan ini sempat mengalami beberapa kali perbaikan hingga akhirnya runtuh pada tahun 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir besar Arim” yang dikisahkan dalam surat Saba’ ayat 15-17 sebagai berikut.

“ Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

“ Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

Saat ini situs kota Ma’rib yang telah kandas tertelan banjir masih ada menjadi saksi bisu kebesaran Sang Khalik sekaligus tanda peringatan bagi kaum yang kafir. Juga peringatan bagi kita, penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia ini agar kita selalu takwa.

Banjir dan daerah yang terendam beberapa hari lalu, saat ini mungkin sudah surut.   Namun muncul masalah baru, berbagai keluhan dan penyakit mulai timbul.   Keluhan-keluhan yang datang dari para pengungsi yang jumlahnya mencapai puluhan ribu itu antara lain kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal.  Sebagian mengeluhkan telapak kaki yang melepuh dan pecah-pecah serta  warna kulit yang menjadi pucat akibat lama terendam air  banjir.

BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih memprediksi cerah hujan yang tinggi hingga akhir bulan ini.  Ini pertanda bahwa bencana banjir masih mengancam. Sementara perbaikan bendungan dan tanggul yang rusak serta membersihkan lingkungan penyebab banjir dan kerusakan  pasti memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu.

Maka sembari memperbaiki lingkungan mari kita bertaubat. Jangan tunggu Allah Azza wa Jalla menjatuhkan kembali azab dan peringatan-Nya yang pedih. Mari kita bermohon pada-Nya agar Ia ridho menjauhkan kita dari segala kesusahan, musibah dan bencana. Bila kita mau menurut pada perintah-Nya, bertawakal hanya pada-Nya, menjadi manusia yang takwa,  pasti pertolongan akan datang. Sebagaimana yang pernah dilakukan-Nya atas kaum nabi Nuh as ribuan tahun silam.

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”(QS.Huud(11):41).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Januari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Sepuluh hari setelah pulang dari rantau, kami langsung berkesempatan menyaksikan perayaan malam tahun baru di ibu kota, Jakarta. Malam yang diberi nama Jakarta Night Festival ini adalah malam tahun baru pertama dimana jalan raya protokol ibu kota, MH Thamrin dan Sudirman ditutup untuk kendaraan umum. Ini adalah ide gubernur DKI Jokowi  dalam memihak rakyat kecil agar mereka bisa menikmati pesta tutup  tahun. Sebelumnya gubenur  Ali Sadikin, gubernur DKI tahun 1970 an pernah melakukan hal yang sama, namun bukan dalam rangka menyambut acara tahun baru, melainkan untuk acara HUT DKI.

Mulanya ide penutupan ke 2 jalan utama paling bergengsi di depan bunderan air mancur HI tersebut  ditentang oleh pemilik sejumlah hotel berbintang yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Karena hal tersebut tentu akan membuat tamu-tamu hotel kesulitan. Namun akhirnya mereka  tidak dapat berbuat banyak ketika ide tersebut benar-benar terealisasi.

Malam itu, dimulai pada pukul  8 malam, penduduk Jakarta terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah dan menyesaki jalanan. Hujan yang turun lumayan lebat sejak pukul 7 dan mengguyur kawasan pusat kota tampaknya tidak menjadi halangan. Dengan payung di tangan, ratusan kaki bersepatu dan bersandal menapaki dan meloncati genangan air yang tampak disana-sini.

Wajah-wajah ceria tua muda besar kecil lelaki perempuan memenuhi jalanan. Gerobak dorong berbagai panganan tampak tak mau ketinggalan menikmati acara istimewa ini. Gerobak  sate, ketoprak,  gorengan pisang, tahu, tempe, ubi dan singkong, hingga gerobak penjaja minuman botolan, ramai diserbu pengunjung.

Pucaknya, sekitar  200 ribu orang terlihat tumplek di sepanjang jalan Sudirman, MH Thamrin hingga Monas. Pijaran kembang api raksasa dan sinar laser yang ditembakkan dari ujung jalan bundaran ber-air mancur tersebut membuat langit di atas  Jakarta terang benderang. Suara hiruk pikuk yang keluar dari 16 panggung musik yang didirikan di sepanjang jalan, turut membuat pesta rakyat tersebut makin hingar  bingar. Itu masih ditambah lagi dengan suara berisik tak henti-henti yang  keluar dari terompet yang banyak dijual di kawasan tersebut.

Sementara itu,  di sudut lain kota Jakarta, sejumlah masjid sibuk menyelenggarakan acara zikir akbar, dengan tujuan yang sama, menyambut datangnya  tahun baru. Meski sepintas, acara yang diisi oleh ulama-ulama dan uztadz-uztadz  kenamaan ini cukup berhasil menyedot pengunjung, tak urung suara-suara negative tetap bergema.  Apa pasal ??

Pasalnya ya tahun baru itu. Mayoritas ulama sependapat bahwa tahun baru Masehi bukanlah milik umat Islam, bukan juga budaya milik bangsa ini. Hari besar yang patut diperingati umat Islam hanya 2 yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Iedul Adha. Disamping beberapa hari lain yang biasa juga diperingati sebagian umat, diantaranya yaitu tahun baru Hijriyah.

Harus  diakui, saat ini sebagian besar negara-negara di dunia memang menggunakan kalender Masehi sebagai hitungan tahun resmi negara, termasuk Indonesia. Tapi jangan lupa, pada masa kejayaan Islam, sejak abad 7 hingga abad 20 lalu, kalender Hijriyah pernah digunakan lebih dari separoh dunia.  Kalender ini lenyap seiring dengan kejatuhan kekaisaran Turki Ottoman pada tahun 1924, paska PD I.

Indonesia sendiri  meski secara resmi menggunakan kalender Masehi, tetap mempertahankan kalender Hijriyah untuk kepentingan acara keagamaan penduduknya yang memang mayoritas Muslim. Tidak aneh, karena untuk menentukan dan memperingati hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Iedul Fitri, Hari Raya Iedul Adha, hari-hari puasa Ramadhan,  kelahiran nabi dll mutlak diperlukan kalender yang menggunakan peredaran bulan ini sebagai acuannya. ( Kalender Masehi menggunakan peredaran matahari sebagai acuan).

Itu sebabnya, sebagian Negara berpenduduk mayoritas Islam, negara-negara Timur Tengah misalnya, hingga kini tetap menggunakan kalender Hijriyah sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Jadi sungguh tidak benar bila ada sebagian orang ‘nyleneh’ yang berkeras berpendapat bahwa kalender Hijriyah adalah kalender Arab bukan kalender Islam. Meski tahun kalender ini baru digunakan umat Islam 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, tepatnya pada tahun 638 M.

Khalifah Umar bin Khattab ra yang memutuskan bahwa tahun dimana Rasulullah hijrah ( pindah) dari Mekah ke Madinah adalah awal tahun kalender yang bakal menjadi kalender resmi pemerintahan Islam. Kalender itu selanjutnya diberi nama Hijriyah, sesuai dengan alasan dasar pengambilannya. Ini adalah atas usulan Ali bin Abu Thalib.

Ketika itu Umar meminta masukan beberapa sahabat alasan dan dasar apa yang paling tepat untuk menentukan kalender resmi kekhalifahan. Pemicunya, tanggapan beberapa Negara tetangga yang menyatakan bahwa surat resmi kekhalifah dianggap tidak ‘ representatif’ karena hanya mencantumkan nama bulan dan tahun, tanpa tanggal. Hal yang lazim digunakan masyarakat Arab ketika itu.

Tahun kelahiran, tahun wafat dan tahun hijrahnya Rasulullah ditambah tahun awal turunnya ayat Al-Quran adalah beberapa usulan para sahabat yang masuk, menjawab pertanyaan sang khalifah,  ketika itu. Namun akhirnya khalifah memilih tahun hijrahnya Rasulullah karena tahun tersebut dapat dianggap sebagai awal tahun kemenangan Islam.

Tahun dimana hukum Islam mulai dapat ditegakkan. Karena di Madinah inilah untuk pertama kalinya, Rasulullah mengeluarkan aturan kenegaraan, negara Islam Madinah, yang mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dua suku di Madinah yang sejak lama selalu bertikai. Juga orang-orang Yahudi yang sejak awal selalu memusuhi islam. Meski pada akhirnya  tetap mengkhianati perjanjian. Karena  mereka menerima Rasulullah dan perjanjian yang dibuat beliau dengan berat hati.

Kalender Hijriyah sendiri yang dibuat dengan acuan pergerakan bulan itu sudah dipergunakan masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Namun  9 tahun setelah peristiwa hijrah telah di revisi karena turunnya ayat 36 dan 37 surat At-Taubah yang berisi  tentang bulan-bulan Haram dan keharaman mengundur-undurkan bulan yang biasa dilakukan masyarakat Arab ketika itu.

“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.  … … …“. ”  Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “. (QS. At-Taubah (9): 36-37).

( Baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah#Penentuan_Tahun_1_Kalender_Islam)

Sedangkan sistim kalender Masehi sebenarnya telah digunakan ribuan tahun yang lalu, yaitu sejak abad 7 SM,  sebagai kalender tradisional bangsa Romawi. Namun perayaan malam tahun baru sendiri tercatat pertama kali dirayakan baru pada tahun 45 SM, ketika Julius Caesar menjadi kaisar Romawi.

Atas saran seorang ahli astronomi dari Aleksandria, Julius merevisi kalender tersebut dengan mengikuti revolusi matahari sebagaimana yang dilakukan bangsa Mesir. Dan sejak itu ia menjadikan kalender yang kemudian diberi nama kalender Julian tersebut sebagai kalender resmi kekaisaran.

Selanjutnya pada tahun 1582 umat Nasrani dibawah pimpinan Paus Gregorius XII menjadikan kalender Julian diatas sebagai kalender umat Kristiani. Namun mereka merevisinya dengan menjadikan tahun kelahiran Yesus atau nabi Isa as sebagai patokan awal tahunnya. Alhasil lahirlah istilah SM ( sebelum Masehi) atau AD ( Anno Domini) yang artinya Tuhan kita dan M ( Masehi) atau BC ( Before Common Era). Masehi berasal dari kata Messiah ( Yesus ). Tahun 0 adalah tahun kelahiran Yesus. Dan SM adalah tahun sebelum kelahiran Yesus.

Dari keterangan diatas, jelas sudah bahwa sebenarnya kalender Masehi adalah memang benar-benar kalender yang sangat kental nuansa kristennya. Meski saat ini jarang Negara yang mengakui fakta ini. Demi kemudahan komunikasi adalah alasan yang paling sering dikemukakan negara.

Saat ini kita telah berada di abad 15 Hijriyah ( tahun 1434H) abad yang di ‘ klaim’ umat Islam sebagai abad kebangkitan Islam. Pergantian abad ke 15 ini dimulai tepatnya pada bulan November 1980 M. Ketika itu berbagai Negara Islam menyambut pergantian tersebut dengan gegap gempita. Revolusi Iran yang mampu merobohkan kekuatan kerajaan yang sekuler menjadi republik Islam ditandai sebagai awal kebangkitan tersebut oleh sebagian orang.

( Baca : http://mekahmadinah.faa.im/kebangkitan-islam-bagaimana-dengan-dunia.xhtml )

Kini kita telah memasuki 2/3 akhir abad 15 yang menjanjikan tersebut. Masih ada waktu 66 tahun untuk membuktikan bahwa kebangkitan itu akan menjadi kenyataan. Namun kelihatannya sebagian rakyat Negara kita tercinta masih belum juga Percaya Diri. Buktinya yaitu tadi, masih saja merayakan datangnya tahun baru Masehi secara berlebihan. Mengapa kita harus latah, ikut-ikutan kebiasaan, budaya bangsa dan agama orang/bangsa lain yang tidak sesuai dengan kita ?

Padahal Perancis saja, Negara barat yang maju dan berwajah ‘kristen’ tidak merayakan tahun baru tersebut semeriah Negara kita. 3 tahun, sejak tahun 2000 hingga 2003, kami berada di sana, tak pernah sekalipun kami menyaksikan hal tersebut. Juga dari tahun 2009 hingga 2012 lalu. Tidak di sekitar Eiffel, menara kenamaan yang menjadi ikon kota Paris, tidak  juga di Champs Elysees, boulevard terkenal Paris yang belakangan ini dijadikan area mengemis oleh tidak saja Muslim imigran namun juga pemalas bule yang senang memanfaatkan anjingnya untuk memohon belas kasihan. Pemandangan yang sangat kontras dengan deretan gedung-gedung cantiknya yang dijadikan butik eksklusif oleh para desainer kenamaan dunia.

Tampaknya negri ini lebih memilih merayakan hari kemerdekaan Negaranya secara besar-besaran dari pada merayakan tahun baru. Pada hari itulah Paris gegap gempita bermandikan cahaya kembang api yang menerangi langit di atasnya. Mungkinkah ini cerminan bahwa rakyat Perancis tidak lagi agamis ? Karena nyatanya, sebagian besar dari mereka memang Atheis alias tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Apapun alasannya, rasanya sungguh tidak pantas bangsa kita yang masih miskin dan belum maju bahkan hutang negarapun masih bertumpuk merayakan tahun baru yang jelas-jelas bukan milik bangsa maupun agama kita secara berlebihan. Bila alasannya sekali-sekali ingin menyenangkan rakyat kecil, mungkin perayaan ulang tahun kota lebih bisa ditrima.

Masih banyak hal yang harus kita kejar bila kebangkitan Islam yang kita cita-citakan bersama itu ingin benar-benar terealisasi. Bila Barat yang pada zaman kegelapan dulu selama ratusan tahun pernah ketinggalan dari dunia Islam bisa mengejar ketertinggalannya maka mengapa kita yang ‘baru’ 90 tahunan tertinggal tidak mampu mengejar ketertinggalan kita ? Tidak ada salahnya kita belajar dan mengambil sesuatu yang baik dari Barat, selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran kita. Sains, kedisiplinan dan kebersihan adalah contohnya. Karena sekarang ini mereka memang jauh lebih unggul dari kita.

“ … Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Ar-Rad(13):11).

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah)

Sebalilnya jangan mengambil ilmu ekonomi dan sistim kapitalis mereka karena sebagian besar bertentangan dengan Islam. Tidak perlu kita ikut-ikutan menerapkan sistim bunga dalam dunia perbankan.Kita telah memiliki zakat, infak dan wakaf ; ajaran yang sangat menjanjikan bila dapat dikelola secara benar. Islam telah mengajarkan bagaimana sistim ekonomi yang sehat, yang tidak merugikan orang lain.

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Baqarah(2):275).

Arab Spring, gelombang protes dan demonstrasi terhadap kebijakan sekuler Negara yang dilakukan masyarakat Negara-negara Arab sejak Desember 2010 terus berlanjut. Mesir yang berhasil menggolkan syariat Islam dibawah presidennya yang berasal dari Ikhwanul Muslimin meski belum didukung 100 % penduduknya, tampaknya bisa menjadi indikator bahwa kebangkitan Islam memang masih terus berproses meski agak lambat.

Indonesia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas Muslim sudah seharusnya berpartisipasi dalam kebangkitan ini. Inilah saat yang tepat untuk bangun dari tidur panjangnya dan berhenti dari mimpi-mimpi indah. Mari kita berjuang bersama saudara-saudari kita sesama Muslim untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan-Nya, yaitu rahmatan lil alamin.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat  bagi semesta alam”.(QS.Al-Anbiya(21):107).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Januari 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/  )

Begitulah kami mengakhiri malam itu dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Esok paginya, sesuai rencana kami kembali lagi ke Parthenon. Resepsionis hotel memberi saran, dengan waktu yang hanya 3-4 jam kami hanya memiliki 2 pilihan. Mengunjungi Parthenon dan the New Acropolis Museum yang letaknya masih di kompleks Acropolis. Atau mengunjugi Parthenon dan berkeliling kompleks Acropolis serta sebagian kota dengan kereta mini. Pilihan kompak, jatuh pada piihan ke 2, Alhamdulillah ..

Di depan sebuah bangunan di kaki bukit menuju Acropolis dimana kami bertemu dengan pria Muslim asli Aljazair kemarin, kami berhenti dan berfoto sebentar. Bangunan yang sebagiannya dipagari karena sudah menjadi puing tersebut adalah bekas masjid dan sejak lama telah berubah fungsi menjadi sebuah museum.

Setelah puas memandang bekas masjid ber-arsitektur Usmaniyah ini kamipun segera menuju kereta mini merah yang di parkir tidak jauh dari tempat tersebut. Singkat cerita, kereta lalu bergerak perlahan menaiki bukit dimana kompleks reruntuhan bangunan peninggalan Yunani/Romawi kuno berdiri tegak. Kereta ini berhenti di beberapa situs penting. Penumpang dapat turun dan naik lagi sesuka hati. Namun kereta baru akan datang lagi setiap setengah jam sekali. Sesuai kesepakatan, kamipun lalu turun di Parthenon yang terletak di puncak tertinggi bukit.

Dari ketinggian  ini kota Athena yang berada di pinggir laut Aegea dapat kita nikmati. Demikian juga sisa-sisa peninggalan kuno Yunani yang berada di kompleks ini. Diantaranya yaitu amphiteater kuno dimana pertunjukkan barbar di masa lalu, antara para tahanan dan binatang buas sering dipertontonkan.

Parthenon

Parthenon

Ketika kami sedang asyik-asyiknya mengamati Parthenon, kuil marmer berwarna putih gading,  berpilar raksasa tanpa atap, tiba-tiba angin bertiup dengan sangat kencangnya. Refleks, saya langsung berpegangan pada tambang yang sengaja dipasang memagari kuil agar pengunjung tidak menjamah dinding-dindingnya. Saya sempat melihat beberapa pengunjung yang hampir jatuh terpeleset. Maklum, sisa lantai yang sempal disana sini memang terbuat dari marmer yang amat licin.

Saat itulah saya melihat prasasti tentang Parthenon yang berada di samping tambang yang saya jadikan pegangan. Dari situ saya baru tahu ternyata Parthenon pernah dijadikan masjid, yaitu pada era Ottoman berkuasa di Yunani. Masjid tersebut berfungsi dengan baik selama 229 tahun ( 1458-1687) sebagaimana tertulis pada paragraf 2 dan 3 terakhir prasasti.

Yunani memang memiliki sejarah yang teramat panjang. Negri ini pernah menjadi bagian dari kekaisaran Romawi, Byzantium dan kesultanan Ottoman. Kekuasaan Turki Ottoman mulai menjamah Yunani di akhir abad ke 14, yaitu pasca jatuhnya Konstatinopel ( Istanbul) dari Romawi Timur di tahun 1453. Romawi sejak dulu memang memiliki arti khusus bagi kaum Muslimin.

« Telah dikalahkan bangsa Rumawi,di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). ” (QS.Ar-Ruum(30):2-4).

Ayat yang turun di abad ke 7 ini menjadi salah satu bukti kebenaran Al-Quran, sekaligus tanda awal kemenangan dan kejayaan Islam. Karena, Rumawi yang ketika itu adalah kerajaan besar memang jatuh tak lama setelah turunnya ayat di atas. Yaitu ketika Rumawi kalah terhadap kerajaan Parsia/Byzantium yang selalu bermusuhan dan secara silih berganti mereka kalah dan menang. Peperangan yang melelahkan ini akhirnya membuat keduanya mudah dijatuhkan oleh pasukan Muslim. Dan sejak itulah Islam berkibar.

Rasulullah bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad].

Hadist diatas baru terealisasi pada tahun 1453 M dan penakluknya adalah Sultan Muhammad al-Fatih. Inilah awal Islam memasuki bumi Yunani. Sementara Parthenon, kuil yang awalnya dipergunakan untuk memuja dewi Yunani kuno ternyata juga pernah digunakan sebagai gereja oleh umat Kristen Ortodoks, sebelum penaklukan Ottoman. Yaitu pada masa Byzantium berkuasa.

Parthenon menjadi seperti sekarang ini, tanpa atap dan hancur disana sini setelah pasukan Venesia membombardir Ottoman di Athena pada abad 17 lalu. Ketika itu orang-orang Ottoman menjadikan Parthenon yang masih berfungsi sebagai masjid sebagai tempat perlindungan.  Padahal di salah satu bagian bangunan raksasa itu pula pasukan Ottoman menyimpan bubuk mesiu. Akibatnya dapat dibayangkan. Parthenon hancur bersama ratusan orang yang bersembunyi di dalamnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiún ..

Namun, Parthenon tidak sepenuhnya hancur. Bagian tengahnya memang rusak parah, tetapi pilar-pilar luarnya masih banyak yang berdiri kokoh dan tegak. Seolah menantang orang-orang yang memandangnya. Menjadi saksi bisu kebrutalan orang-orang yang menyerang mereka yang berlindung di rumah-Nya.

Sejak itulah kesultanan Islam Ottoman dan pengaruhnya lenyap dari bumi Yunani. Tidak pernah ada satupun masjid berdiri di negri yang konon dipercaya sebagai tempat lahirnya Demokrasi ini. Tidak ada bukti bahwa toleransi pernah ada di negri ini. Kecuali di Santorini. Di pulau yang terbentuk melalui proses yang memilukan tersebut terdapat bukti nyata bagaimana Islam dibawah Ottoman merealisasikan toleransi.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS.An-Nahl(16):125).

Penduduk pulau yang mayoritas beragama Kristen Orthodox itu dibiarkan menjalankan agama mereka. Puluhan gereja cantik berwarna putih biru menjadi lambang kemakmuran dan kejayaan pulau ini. Santorini faktanya memang mencapai puncak kemakmuran di era Ottoman. Padahal pulau ini sangat jauh letaknya dari pusat pemerintahan Konstantinopel yang Islam. Namun kebutuhan penduduknya tetap menjadi prioritas dan perhatian pusat.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari).

Akhirnya kamipun menutup perjalanan ini dengan berkeliling kota, dengan perasaan yang tumpang tindih, antara bangga dan sedih. Dengan meneruskan menaiki kereta mini berwarna merah itu, kami beruntung karena sempat menyaksikan pertukaran penjaga kediaman resmi sang presiden.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 2 November 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

IMG_2456IMG_2691IMG_3079IMG_2864Santorini saat ini adalah bagian dari Yunani yang mampu mendatangkan devisa yang tidak sedikit. Tiap tahun jutaan turis datang mengunjungi pulau ini untuk mengagumi keindahannya yang begitu eksotis. Tak sedikitpun tampak kepedihan atau kenangan buruk dimasa lalu. Semuanya terkubur dan menguap ntah kemana.

Seolah tak mampu mengambil pelajaran dan hikmah hilangnya separuh pulau ini, Mykonos, salah satu pulau di kepulauan Cyclades yang lebih dekat letaknya dengan Athena, kabarnya adalah surga bagi kaum Homoseksual yang makin lama makin populer diduna yang fana ini. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan kaum nabi Luth yang kemudian di azab oleh Yang Maha Kuasa. Di pulau yang kabarnya tak kalah cantiknya dengan Santorini ini mereka berkumpul dan berpesta tanpa sedikitpun rasa khawatir azab bakal menerkam sebagaimana tetangga mereka ribuan tahun lalu. Naúdzubillah min dzalik.

“Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,  yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”.(QS.Huud(11):81-83).

Dan disinilah kami berada. Semoga banyak hikmah yang dapat kami ambil, aamiin. Di pagi hari bulan Juni, dibawah matahari yang bersinar cerah itu, kami bertiga menyusuri Santorini bagian utara. Dengan mengendarai mobil kecil yang kami sewa di bandara kami memulai penjelajahan, dimulai dari bandara yang terletak di pesisir timur pantai bagian tengah menuju lokasi-lokasi menarik yang biasa dikunjungi wisatawan. Bersyukur petugas yang mengurus mobil sewaan kami orang yang benar-benar ramah. Apalagi mengetahui kami datang dari Perancis dan bisa berbahasa Perancis. Sontak, dengan bahasa Perancisnya yang lumayan lancar, ia menandai tempat-tempat tersebut di atas peta kami, sembari berceloteh panjang.

« Jangan khawatir. Semua makanan di pulau ini halal koq », katanya mengejutkan, yakin tamunya pasti Muslim. Apalagi mengetahui bahwa kami adalah orang Indonesia. « Asal tidak lupa membaca Basmallah », lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Mau shalat juga g masalah, bukankah bumi Allah ini luas”, tambahnya lagi, sambil mengutip sebuah ayat Al-Quran, dalam bahasa Arabnya pula, membuat kami terbelalak kagum.

Usut punya usut, ternyata ia pernah 9 tahun tinggal dan bekerja di Riyad. “ Santorini juga aman lho, bebas dari kejahatan. Karena disini hukum pancung dan potong tangan juga berlaku”, sindirnya lagi sambil tersenyum-senyum.

Saya dan suami hanya saling pandang, sama sekali tidak berminat menanggapi ocehannya itu. Pernyataannya tentang kehalalan makanan di pulau ini lebih menarik untuk dicari maksudnya apa.

Fira, ibu kota Santorini; Imerovigli, kota dimana hotel kami berada, hingga Oia, kota yang paling disenangi turis di ujung utara kepala pulau dan  Amoudi bay di ujung selatan kepala pulau kami tandangi pagi hingga menjelang sore hari itu juga. Ini berarti setengah Santorini bisa dijelajahi dalam satu hari saja. Santorini memang hanya pulau kecil. Namun sungguh mati, pemandangannya benar-benar menakjubkan. Subhanallah .. Alangkah indahnya ciptaan-Mu ya Allah ..

Kemanapun kami berjalan, laut biru tua tenang nan jernih dengan tebing-tebing panjang curamnya yang berliku-liku memenuhi pandangan mata kami. Beberapa kali kami berpapasan dengan motor-motor besar yang di kendarai pasangan-pasangan bule bercelana pendek, berkaos tank top lengkap dengan topi dan kaca mata hitamnya. Santorini dengan mataharinya yang bersinar terik tampaknya benar-benar surga bagi mereka, mengingat matahari yang demikian hanya berlangsung 2 atau 3 bulan saja, yaitu pada waktu musim panas.

Setelah makan siang yang kesorean di salah satu restoran sea food dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan kamipun menuju hotel untuk beristirahat. Selama perjalanan tersebut rasanya tak satupun resto berlabel “Halal”kami lewati.

“Besok kita cari kebab yuk, mungkin baru tuuh halal ”, ucap suami, menghibur.

Sorenya, menjelang magrib kami kembali meninggalkan hotel untuk kembali berkeliling menikmati keindahan pulau. Magrib sengaja kami niatkan untuk digabung dengan Isya, nanti sepulang bepergian. Kami kan musafir, jadi tidak masalah.

Sun set kami lewati di tengah perjalanan, di antara kelokan-kelokan  tajam jalanan. Sayang, info  tempat terbaik untuk menyaksikan sun set ini terlambat kami dapatkan. Mustinya Ioa adalah tempatnya. Namun kami cukup puas. Malam itu kami kembali ke hotel dan tidur dengan lelap. Sarapan di teras dengan pemandangan super menakjubkan telah menanti keesokan paginya.

“ Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.(QS.Ar-Rahman(55):13).

Hari-hari berikutnya kami memuaskan mata dan hati menikmati kebesaran-Nya dengan berkeliling pulau, baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki. Permukaan pulau yang sama sekali tidak datar memaksa penduduk Santorini agar membangun rumah tinggal mereka dengan cara memahat dan memotong tebing-tebing curamnya. Hotel, villa, toko dan rumah penduduk setempat berbaur menjadi satu, berdiri berdempetan di gang-gang sempit yang juga berkelak-kelok dan naik turun. Tembok yang diwarnai putih dan biru terlihat mendominasi Santorini. Demikian pula puluhan gereja sederhananya yang bertebaran di seantero pulau berpenduduk mayoritas Kristen ini.

Tapi jangan membayangkan hotel atau villa bertingkat 5, misalnya, sama dengan hotel pada umumnya. Karena  rata-rata hotel dan villa disini setiap lantainya hanya mempunyai dua bahkan ada yang cuma 1 kamar. Villa 2 kamar yang kami tempati tercatat di lantai 5. Namun ternyata kami bukannya harus naik tapi sebaliknya malah harus turun tangga, bukan lift, hingga 5 lantai ke bawah. Itupun tangganya benar-benar super terjal. Jadi siap-siap saja badan pegal-pegal dan tangan ber-spir karena kita harus mengangkat sendiri koper dan barang bawaan kita. .. 🙂 …

3 hari 2 malam puas sudah kami menikmati pulau cantik karya-Nya meski melalui latar belakang yang memilukan. Pemandangan dari bagian atas pulau baik dari gang-gang sempit di sela-sela rumah-rumah penduduk dan villa-villanya maupun dari atas cable car, dari pelabuhan tua di bagian terendah pulau hingga pesisir pantai putih maupun pantai tanah merahnya dengan airnya yang biru, tenang dan super jernih, semuanya sungguh mengagumkan mata dan hati ini. Subhanallah .. Sungguh indah ciptaan-Mu ya Allah .. Semoga Kau berikan orang yang memandangnya kemampuan untuk mengambil hikmah dibalik semua itu. Allahu Akbar !

(Bersambung : https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/ )

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »