Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Berita mengenai keberhasilan Taliban menguasai kembali Afganistan pada pertengahan Agustus lalu hingga hari (26/6/2021) ini masih menjadi berita hangat. Sebelumnya yaitu pada periode 1996 – 2001 Taliban pernah memegang kekuasaan di Afganistan setelah akhirnya digulingkan Amerika Serikat dengan dalih Taliban tidak mau menyerahkan Osama bin Laden yang dituduh sebagai pelaku peledakan gedung WTC pada peristiwa 911.

Kantor-kantor berita resmi mainstream juga dengan gencar memberitakan potensi terjadinya perang saudara paska berkuasanya kembali Taliban. Yang dimaksud perang saudara tersebut adalah antara pendukung rezim lama yaitu presiden Ashraf Ghani, dan pendukung pejuang Taliban. Padahal jauh sebelum itupun perang saudara sudah sering sekali terjadi. Dan pemicu utamanya sebenarnya terlalu banyaknya campur tangan asing. Diantaranya adalah Amerika Serikat, Inggris dan Rusia.

Dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring pada Sabtu (21/8), Yusuf Kalla (JK) mantan wakil presiden RI yang juga ketua Dewan Masjid Indonesia  menyatakan bahwa perang yang terjadi di Afghanistan sebenarnya iadalah antara Taliban dengan Amerika Serikat (AS).

Jadi sebenarnya ini dari tiga kelompok : Amerika, pemerintah Presiden Ghani dan Taliban. Ada tiga pihak sebenarnya berada dalam situasi perang. Tapi perang sebenarnya adalah Taliban dengan Amerika,” kata JK saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘Masa Depan Afghanistan dan Peran Diplomasi Perdamaian Indonesia’ yang berlangsung secara daring, Sabtu (21/8).

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210821155925-20-683438/jusuf-kalla-perang-sebenarnya-adalah-taliban-dengan-as

Sejarah Singkat Afganistan.

Afghanistan adalah negara yang terletak diantara  Asia Selatan dan Asia Tengah, terkurung tanpa memiliki akses ke laut. Wilayahnya meliputi 652.000 km², menjadikannya negara terbesar ke-41 di dunia. Dengan penduduk sekitar 32 juta, mendudukannya sebagai negara ke 42  padat penduduk di dunia. Negara ini berbatasan dengan Pakistan di selatan dan timur, Iran di barat, Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan di utara, serta Tiongkok di timur laut. Lokasinya yang strategis di sisi sepanjang jalur sutra menghubungkannya dengan budaya Timur Tengah dan Asia bagian lain.

John Ford Shroder dalam Afghanistan Archived menyebutkan, para arkeolog telah menemukan tempat tinggal manusia di Afghanistan kuno sejak sekitar 50 ribu sebelum Masehi (SM). Dari artefak yang ada diketahui bahwa masyarakat adat berprofesi sebagai petani dan para gembala. Mereka mengelompokkan diri menjadi suku dan membentuk kerajaan kecil selama berabad-abad. Sementara peradaban perkotaan yang mencakup modern Afghanistan, India Utara, dan Pakistan dimulai pada 3000-2000 SM.

Afghanistan yang merupakan bagian dari Khurasan Raya menjadi rebutan banyak kekuatan politik maupun militer. Secara bergantian wilayah ini dikuasai sejumlah dinasti dan kerajaan besar. Tercatat Aleksander Agung dari Macedonia, bangsa Maurya, Arab Muslim, Mongolia hingga dunia Barat seperti Inggris dan Rusia di era modern, pernah menguasai Afghanistan. Sebagian besar wilayah Afghanistan baru masuk wilayah Islam pada tahun 882 M, sekitar 150 tahun paska penaklukan Persia dibawah pimpinan panglima Khalid bin Walid di masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada 633 M. Khurasan sendiri sudah pernah disebutkan Rasulullah dalam banyak hadist tentang akhir zaman.

Negara dengan wilayah pegunungan dan gurun yang sulit dilalui ini sebelum menjadi bagian dari dinasti Safawiyah yang berdiri pada tahun 1500-an adalah bagian dari kerajaan Parsi Islam. Pada puncak kejayaan dinasti Safawiah meliputi Iran, Azerbaijan, Armenia, sebagian besar Irak, Georgia, Afganistan, Kaukasus, dan sebagian Pakistan, Turkmenistan dan Turki. Dinasti Safawiyah yang menjadikan Syiah sebagai agama resmi pemerintah adalah cikal bakal Iran modern.

Kesultanan Afganistan.

Afganistan yang mayoritas Islam Sunni, memiliki banyak etnis, budaya dan bahasa ini baru lepas dari dinasti Safawiyah pada tahun 1709. Mirwais Hotak, dari etnis Pashtun, etnis terbesar di Afganistan, yang memimpin negara tersebut keluar dari wilayah kekuasaan Safawiyah hingga akhirnya berdirilah dinasti Hotak dengan Kandahar sebagai ibu kotanya. Dari kata Pashtun ini lahir nama Afghanistan sebagai negara kerajaan.

Dinasti Hotak tidak berlangsung lama. Pada tahun 1747 dinasti Durrani menggantikan dinasti Hotak dan selanjutnya dianggap sebagai pendiri dari negara Afghanistan modern. Pada masa itulah ibu kota dipindahkan ke Kabul hingga saat ini. Dinast atau kekaisaran Durrani juga sering disebut kekaisaran Afgan atau kesultanan Afghan yaitu kerajaan Islam Afghanistan.

Pada akhir abad 19 kekaisaran Rusia ( Uni Sovyet) dan kerajaan Inggris sebagai negara supremasi terlibat perseteruan ketat memperebutkan kekuasaan di wilayah Asia Tengah dan selatan. Selama tiga kali, yaitu pada 1839-1919, Inggris berusaha menginvasi Afghanistan, karena khawatir didahului Rusia.  

Invasi Inggris ke Afganistan.

Pada serangan pertama, selama tiga tahun (1839-1841) pasukan Inggris memang berhasil merebut Afganistan. Tapi setelah itu negara adi daya yang ketika itu dikenal memilki persenjataan terbesar dan terkuat di dunia tersebut harus menanggung malu. Ia dikalahkan oleh suku-suku Afghan yang hanya bermodalkan persenjataan amat sangat sederhana. Rakyat Afgan berhasil mengusir pasukan Inggris dari ibu kota Kabul.

Nyaris empat dekade kemudian, Inggris mencoba lagi menguasai Afganistan. Perang yang terjadi pada 1878-1880 tersebut berakhir dengan masuknya Afghanistan menjadi protektorat Inggris. Meski akhirnya Inggris memilih untuk mendukung emir Afghan yang baru dan menarik pasukan dari negara tersebut.

Namun pada 1919, Perang Anglo-Afghan pecah kembali, yaitu saat emir Amanullah Khan mendeklarasikan kemerdekaan dari Inggris. Pada saat yang sama ancaman Rusia terhadap Inggris memudar, ditambah lagi Perang Dunia I telah menguras dana perang Inggris. Maka setelah empat bulan berperang, Inggris akhirnya menyerah dan secara resmi mengakui kemerdekaan Afghanistan.

Masa Keemasan Kesultanan Afganistan.

Tahun berikutnya yaitu pada 1920 emir Amanullah Khan mencoba mereformasi Afghanistan, salah satu upayanya yaitu menghapuskan kewajiban burqa bagi kaum perempuan. Tetapi hal tersebut mendapatkan perlawanan dari para kepala suku dan tokoh ulama, yang kemudian memicu terjadinya perang sipil berkepanjangan. Hingga akhirnya terjadi kudeta.

Afganistan mengalami masa damai dibawah pemerintahan Zahir Syah yang berkuasa selama empat puluh tahun, yaitu pada tahun 1933 -1973. Pemerintah Afganistan memberinya gelar kerajaan “He who puts his trust in God, follower of the firm religion of Islam” (“Dia yang menaruh kepercayaannya kepada Tuhan, pengikut agama Islam yang teguh”) pada hari penobatannya sebagai raja/syah/sultan. Ketika itu ia baru berusia 19 tahun.

Zahir Shah membuktikan keseriusannya dalam menegakkan persaudaraan sesama Muslim yang memang merupakan salah satu tonggak Islam dengan memberikan bantuan persenjataan, dan pejuang Afghanistan kepada Muslim Uighur dan Kirghiz yang telah mendirikan Republik Turkestan Timur Pertama. Meski republik tersebut hanya bertahan selama 1 tahun sebelum akhirnya kembali menjadi wilayah Republik Cina yang menganut faham komunis.

Namun demikian sebenarnya Zahir baru efektif memegang pucuk pemerintah 20 tahun setelah diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang terbunuh. Ia menyerahkan urusan pemerintahan pada pamannya. Baru pada tahun 1964 sang raja mengumumkan konstitusi baru. Ia membuat program modernisasi politik dan ekonomi, membuat legislasi demokratis, dan pendidikan untuk kaum perempuan.

Selama pemerintahannya Afganistan mengeluarkan setidaknya 5 keping receh bertuliskan “Al-Mutawakkil ‘ala Allah Muhammad Zahir Shah” dalam tulisan Arab yang berarti “Yang Tawakal/Berserah Diri pada Allah, Muhammad Zahir Shah”.

Namun Afganistan dibawah Zahir Syah juga menjalin hubungan yang baik dengan dunia Barat. Terbukti dengan masuknya sebagai anggota PBB meski menolak memihak dalam Perang Dunia II. Menjadikannya satu dari sedikit negara di dunia yang memilih netral. Dalam sebuah wawancara Zahir Shah mengatakan bahwa ia bukan seorang kapitalis tapi juga tidak menginginkan sosialis. Ia menyatakan tidak ingin menjadi budak negara manapun dan akhirnya menjadi tergantung.

Walaupun paska berakhirnya Perang Dunia II ia menyadari perlunya modernisasi Afghanistan. Untuk itu ia terpaksa merekrut sejumlah penasihat asing, juga meminta bantuan keuangan baik dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet. Membuatnya menjadi satu dari sedikit negara yang menerima bantuan dari kedua musuh dalam Perang Dingin. Selama periode itu pula universitas modern pertama Afghanistan didirikan.  

Ironisnya pada tahun 1973 ketika sang Syah pergi ke Italia untuk berobat Mohammed Daoud Khan, sepupunya melakukan kudeta.  Perang sipilpun tak terhindarkan hingga sebagian besar Afganistanpun luluh lantak. Zhahir Syah selanjutnya hidup di pengungsian di Roma Italia bersama istri dan sejumlah keluarga besarnya. Zahir baru kembali ke negaranya pada tahun 2002 dan mendapat gelar Bapak Bangsa. Ia wafat pada tahun 2007.

( Bersambung).

Read Full Post »

Gagal Faham.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):155).

Ayat di atas menerangkan bahwa ketakutan, kelaparan dan kemiskinan adalah cobaan atau ujian dari-Nya.  Termasuk di dalamnya virus Covid-19, pandemi yang sudah memasuki tahun ke 2 ini.

Seperti juga layaknya suatu ujian yang pasti pernah dialami semua orang, ntah itu ujian memasuki jenjang pendidikan, seperti test masuk sekolah , ujian kenaikan tingkat, ataupun ujian kepegawaian atau ujian-ujian lain, tak jarang seseorang mengalami kegagalan.

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika kegagalan bukan disebabkan kita salah, melainkan akibat gagal memahami maksud pertanyaan. Gagal faham atau galfok alias gagal fokus, istilah anak muda zaman Now. Misalnya ketika kita diminta menerangkan sesuatu lalu dengan penuh keyakinan kita menjawabnya dengan tulisan panjang lebar yang ternyata tidak sesuai pertanyaan. Yang lebih celakanya lagi kita baru menyadari kesalahan tersebut begitu kita menyerahkan lembar jawaban. Sungguh menyesakkan bukan ???       

Begitupun ujian Covid-19. Supaya tidak gagal faham, sebagai orang beriman kita harus memahami apa yang diinginkan Sang Pencipta dengan ujian tersebut.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Terjemah QS.Al-Anfal(8):28).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. Terjemah QS.Al-Anbiya (21):35

Dari ayat-ayat di atas dapat kita ketahui bahwa :

1. Ujian dibuat sebaga seleksi masuk surga.

2. Orang-orang terdahulu juga mengalami ujian dan cobaan.

3. Ujian dan cobaan bisa berupa malapetaka dan kesengsaraan.

3. Bisa juga harta kekayaan dan anak-anak kita.

4. Pertolongan Allah amat dekat.

5. Semua manusia pasti akan mati dan kembali pada Sang Pencipta.

Dengan demikian, artinya semua yang kelihataannya baik dan menyenangkan dalam pandangan kita seperti kekayaan, kesehatan bahkan anak-anak kita, maupun yang tampaknya buruk seperti kemiskinan, kesengsaraan, mala petaka dan berbagai penyakit seperti Covid-19, adalah ujian dan cobaan. Persis seperti ujian berpuasa di bulan Ramadhan, yang tujuannya adalah takwa. Karena hanya orang-orang takwa yang bisa memasuki surga-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):183).

Manusia diciptakan sebagai mahluk terbaik dan terpandai di muka bumi ini agar dapat menjadi khalifah/pemimpin, minimal pemimpin bagi keluarga dan dirinya sendiri agar tidak mudah dipengaruhi bisikan syaitan terkutuk. Puncaknya adalah pemimpin yang mampu menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur, dibawah ketundukan kepada Sang Khalik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.       

Covid-19, pandemi yang sedang melanda dunia saat ini sungguh terasa berat. Hampir setiap hari setiap saat kita mendengar kabar kerabat dan handai taulan yang wafat dalam perjuangan melawan virus yang makin mengganas tersebut. Tak tanggung-tanggung dalam 1 keluarga bisa beberapa anggotanya meninggal dalam waktu berdekatan.

Hingga pemerintahpun mengeluarkan peraturan yang membatasi pergerakan kita. Diantaranya tidak ke luar rumah kecuali mendesak, tidak berkumpul banyak orang,  termasuk shalat Jumat. Sungguh menyedihkan. Pertanyaannya murkakah Allah hingga tidak sudi melihat hamba-2nya memasuki rumah-Nya?!? Benarkah ini yang diinginkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala???

Tidak dapat kita pungkiri negeri kita tercinta ini sarat dengan keboborokan. Mulai dari pejabat korup, perzinahan dan mabuk2an yang terus meraja-lela, perempuan-perempuan berlomba memamerkan auratnya, ayat2 suci diabaikan, Al-Quran yang hanya menjadi pajangan, dll.

Salah siapakah ini?? Bukankah Islam mengajarkan untuk saling menasehati, saling mengingatkan. Tak pelak, ini adalah kesalahan bersama yang akibatnyapun harus ditanggung bersama pula.

Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia  tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’

Sungguh disayangkan tapi apa mau dikata. Padahal negara kita termasuk relative aman damai dibanding dengan negara-negara Timur Tengah seperti Palestina dan Suriah yang hampir setiap hari terjadi ledakan bom. Mengapa kita tidak mensyukurinya, syukur dengan cara yang benar. Yaitu memperbaiki ibadah dan hubungan dengan-Nya.        

Mengapa Allah Azza Wa Jala turunkan pandemi ini baru kita mau bertobat?? Kematian adalah hak prerogative Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak dapat ditawar-tawar, yang tidak dapat dihindari kemanapun kita bersembunyi. Yang penting dalam keadaan bagaimana kita wafat.Sementara bagi keluarga yang ditinggalkan, tidak boleh merasa kecewa apalagi marah. Ini adalah ketetapan-Nya. Sebaliknya ketika seseorang sembuh dari Covid, atau bahkan sehat terhindar dari virus tersebut, tidak sepatutnya merasa “jumawa”. Seharusnya ia lebih bersyukur lagi karena Allah telah memberinya kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki amal ibadah, bukannya malah melanjutkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.  

Begitupun dengan yang sudah melakukan vaksinasi. Jangan  takabur bahwa Covid tidak akan menyentuhnya. Jangan pernah lupa, tanpa izin-Nya, vaksin, obat-obatan, prokes dll tidak akan menyelamatkannya dari bencana. Manusia hanya bisa ikhtiar yang memang merupakan bagian dari ibadah. Termasuk berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, yang isinya mencerminkan bahwa keselamatan dalam ber-agama adalah no 1, baru setelah itu kesehatan dll. Doa tersebut juga berisi permohonan agar dimudahkan ketika sakratul maut.

Akhir kata, jangan sampai kita gagal paham terhadap ujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti halnya dalam ujian-ujian keduniawian kita. Karena akibatnya benar-benar fatal. Kalo saja kita bisa melihat catatan malaikat tentang hasil ujian Covid yang pasti berbeda jauh dengan catatan WHO yang hanya mencatat korban wafat, korban terinfeksi, persentase yang sudah di vaksin dll ….           

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Adalah kodrat manusia, perempuan tertarik kepada lelaki, dan lelaki tergoda kepada  perempuan. Yang tidak normal, di luar kodrat bahkan haram dalam pandangan Islam adalah tertarik ( secara hubungan seksual) dengan sesama jenis. Namun demikian ketertarikan dua jenis kelamin berbeda tersebut harus dikendalikan, diatur sesuai kehendak Sang Khalik, tidak diumbar dan dibiarkan lepas begitu saja tanpa kendali. Itulah perbedaannya dengan binatang.

Rasulullah saw bersabda, ”Pernikahan adalah sunnah-ku, karena itu barangsiapa yang tiada menyukainya maka ia bukan termasuk umatku .”

Sunnah terbagi atas dua jenis sebagaimana sabda Rasulullah: ”Sunnah itu ada dua macam : (1) sunnah yang merupakan suatu kewajiban, yang jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Dan (2) sunnah yang bukan kewajiban, yang bilamana dikerjakan niscaya mendapat pahala (keutamaan) dan jika ditinggalkan bukan merupakan suatu kesalahan.”

Pernikahan dalam Islam hukumnya adalah sunnah yang termasuk dalam sunnah kelompok pertama, yaitu jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Artinya, Allah swt mengganjar hambanya yang mau menikah bukan saja dengan pahala yang banyak namun lebih utama lagi beroleh petunjuk. Karena menikah  dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan zina yang sangat dilaknati dan dimurkai-Nya.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, ……” ( Terjemah QS. Al Furqon(25): 68-70).

Zina bukan hanya melakukan persetubuhan antar pasangan yang bukan muhrim, tapi juga termasuk perbuatan-perbuatan yang membangkitkan syahwat.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Terjemah QS. Al Isro’(17): 32).

Hukuman perbuatan zina amatlah berat karena zina merampas kehormatan dan merusak nasab. Padahal ajaran Islam itu menjaga kehormatan jiwa, agama, nasab, akal dan harta. Bahkan seluruh agama menyatakan bahwa zina itu terlarang, tidak ada satu pun agama yang menyatakan halal.

Ironis bagi rata-rata orang Barat ( non Islam ) zina adalah hal biasa, bukan perbuatan buruk. Menurut mereka zina adalah kebutuhan dan kesenangan manusia yang harus tersalurkan seperti juga kebutuhan makan dan minum. Setidaknya itulah pemikiran yang dipopulerkan Sigmund Freud pada awal abad 20. Freud adalah seorang Yahudi asal Austria yang dikenal sebagai bapak teori Psikoanalisis. Freud seperti juga temannya sesama ahli psikologi kenamaan Friedrick Nietzsche adalah penganut Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan. “ Tuhan telah mati” itu yang mereka katakan.

Namun demikian, hukum pernikahan dalam Islam tidaklah bersifat kaku dan mengikat sehingga dapat menyulitkan para hamba-Nya.  Karena pada dasarnya Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia. Karenanya bila ada sebagian kecil manusia yang disebabkan satu dan lain hal merasa tidak sanggup menikah, hal ini masih dapat dibenarkan.

Contohnya adalah  orang  yang sakit  parah dan  laki-laki impoten. Sebagian ulama bahkan berpendapat haram hukumnya. Sebab hal ini dapat mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan ketidak-bahagiaan sepihak. Itu sebabnya Islam tidak mengharamkan perceraian bila memang benar-benar tidak dapat dihindarkan. Misalnya ketidak-cocokan yang mengakibatkan pertengkaran yang berkepanjangan hingga membuat anak menjadi korban ketakutan, suami yang tidak menafkahi keluarga hingga waktu tertentu. dll.

Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai.

Abu Yusuf berkata, “Ketahuilah –barakallahu fikum– bahwa asal hukum cerai adalah makruh dan terlarang, namun bisa berubah pada hukum lainnya. Hal ini sangat tergantung pada kondisi rumah tangga tersebut, bisa menjadi haram, boleh, sunah bahkan wajib.“.

Perceraian menjadi wajib hukumnya ketika salah satu pasangan murtad.

Namun demikian pernikahan dalan Islam bukan hanya sekedar untuk  menghindarkan zina, melainkan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawardah wa rahmah. Yaitu keluarga yang tenang, terhormat, aman, penuh cinta dan kasih sayang, saling menjaga dan melindungi, dibawah naungan ridho Allah Azza wa Jala. Hingga dengan demikian hubungan seksual yang dilakukan sepasang suami istri akan mendatangkan kenikmatan, kesenangan serta kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan semu dan sesaat apalagi sekedar pelepasan nafsu birahi.

Tanda keluarga yang demikian terlihat dengan antara lain adanya kesetiaan dari masing-masing pasangan, anak-anak yang berbakti kepada kedua orang-tuanya serta lingkungan sosial yang sehat serta rizki yang dekat.

Itu sebabnya pernikahan memerlukan saksi agar dapat ditrima masyarakat sekitar. Karena sejatinya keluarga adalah bagian atau kelompok terkecil dari sebuah masyarakat. Masyarakat yang akan dapat saling melindungi dan mengingatkan. Dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil, tenang dan makmur inilah, Islam mengajarkan agar perempuan dan laki-laki yang telah cukup umur segera melangsungkan pernikahan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Terjemah QS.Ar-Rum(30):21).

Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”.

Namun dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah sebuah perencanaan masa depan berjangka panjang.  Maka diperlukan kesiapan dalam banyak hal, diantaranya dalam memilih calon pasangan. Diperlukan pula tanggung jawab tinggi agar pernikahan dapat berjalan lancar sesuai apa yang di kehendaki-Nya.

Akhir kata, pernikahan, perceraian dan segala tindakan dalam hidup ini harus berlandaskan ketaatan pada-Nya.

Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 28 Juni 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Paham filsafat itu baik, yang tak baik adalah menempatkannya di atas segalanya. Seorang filosof adalah dia yang mencari kebenaran, keutuhan, keharmonisan, dan kedamaian dengan caranya. Dengan kelurusannya mereka menemukan resonansi, angka-angka, etika dan estetika yang dengan sendirinya harmonis dengan sifat dan sikapnya. Dengan itu, lahirlah para ilmuwan mengagumkan.

Dalam perkembangannya hingga pada abad ke-19 dan 20, masih banyak ilmuwan Barat yang masih bersusah payah menolak kebenaran adanya tuhan dan agama; menolak risalah Alquran dan Injil. Para ilmuwan kenamaan dunia itu hanya hidup di atas nama ilmu pengetahuan yang mereka anggap serba ilmiah, dan dihasilkan dari sebuah penelitian massif.

Namun, secara tidak sengaja mereka menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi, sesuatu yang kemudian membuka mata hati mereka kepada tuhan, maka munculnya teori Big Bang pada 1929 yang membuka mata rantai antara sains dan ketuhanan. Tulisan ini akan mengulas bagaimana para ilmuwan Barat menemukan keajaiban agama, khususnya rasa takjub mereka terhadap Alquran dan Nabi Muhammad SAW.

Alquran adalah kitab penuh dengan mukjizat, literatur bahasa arab terbaik dan sesuai dengan sains. Mungkin di masa depan zamannya berbeda lagi. Tidak seperti sekarang yang seakan kebenaran selalu diukur dengan sains dan teknologi. Tapi bagaimanapun kondisi masa depan, maka Alquran sebagai firman Tuhan akan membuktikan kebenaran dirinya,” begitu kata cendekiawan Muslim, Dr Zakir Naik, ketika ditanya oleh Rahul, seorang Hindu dari India mengenai kitab agama mana yang paling ilmiah.  (Transkripsi video dari Youtube oleh Baitul Maqdis, 2015). 

Uangkapan Zakir Naik tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Qs: Al-Hijr: 9).

Berikut ini adalah 8 Ilmuwan yang dibuat kagum oleh Islam:

1.Dia adalah seorang Direktur Gunma Astronomical Observatory, mantan direktur National Astronomical Observatory of Japan. Dia menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk meneliti dinamika langit hingga dikenal sebagai Mekanisme Kozai. Mekanisme ini menggambarkan titik orbit asteroid, yang sekarang digunakan dalam studi tabrakan galaksi dan exoplanets.

Para ilmuan lain menyatakan itu adalah asap yang berkabut. Namun Kozai mengatakan kabut tidaklah cocok untuk menggambarkan asap tersebut, sebab kabut memiliki sifat dingin yang khas dingin, sedangkan asap kosmis agak panas.

Bertemulah Kozai dengan Sheikh Abdul-Majeed A. Zindani yang menyajikan sejumlah ayat Alquran yang menjelaskan awal mula alam semesta dan langit, serta hubungan bumi dan langit.

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu: Keduanya menuruti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa, keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati.” (QS Fushshilat: 11).

Ayat itu membuat Kozai heran sekaligus takjub, apalagi setelah mengatahui bahwa Alquran diturunkan pada 1400 tahun yang lalu. Menurut dia, Alquran menggambarkan alam semesta seperti yang terlihat dari titik pengamatan tertinggi.

“Saya sangat terkesan dengan menemukan fakta-fakta astronomi yang benar dalam Alquran, dan bagi kami para astronom modern yang telah mempelajari potongan-potongan yang sangat kecil dari semesta. Kami telah memusatkan upaya kami untuk memahami bagian yang sangat kecil. Karena dengan menggunakan teleskop, kita dapat melihat hanya sedikit bagian dari langit tanpa berpikir tentang seluruh alam semesta. Jadi, dengan membaca Alquran dan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya pikir saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,” kata Kozai.

Karena itu, Kozai percaya bahwa Alquran tidak mungkin bersal dari manusia, tapi sang pencipta. Profesor itu kemudian memusatkan penelitiannya berdasarkan sumber Alquran.

2. Ahli Anatomi, Profesor of Pediatrics and Child Health, dan Profesor Obstetri, Ginekologi, dan Ilmu Reproduksi di Universitas Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Kanada. Di sana, ia menjadi Ketua Departemen Anatomi selama 16 tahun.

Persaud sangat terkenal di bidangnya. Dia adalah penulis atau editor dari 22 buku dan menerbitkan lebih dari 180 karya ilmiah. Pada tahun 1991, ia menerima penghargaan paling terkemuka di bidang anatomi di Kanada, the JCB Grant Award from the Canadian Association of Anatomists.

Uniknya, Profesor Persaud memasukan beberapa ayat Alquran dan hadis di beberapa buku-bukunya. Dia juga kerap mengungkapkan ayat-ayat dan hadis di beberapa konferensi. Ketika ia ditanya tentang keajaiban ilmiah dalam Alquran yang telah diteliti. Inilah pernyataan takjub sang profesor tersebut:

“Muhammad hanya orang biasa, dia tidak dapat membaca atau menulis, dia seorang yang buta huruf, dan kita berbicara mengenai seseorang yang hidup 1200 atau 1300 tahun yang lalu, namun dapat mengeluarkan satu pernyataan tegas mengenai ilmu pengetahuan alam yang secara ajaib ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan. Saya pikir ini tidak mungkin bisa disebut kebetulan, terlalu banyak keakuratan (yang terdapat di dalamnya). Jadi, tidak sulit bagi saya menerima bahwa ini adalah semacam ilham yang diterimanya yang membuatnya mampu menyampaikan pernyataan itu.”

3. Profesor dan Ketua Departemen Anatomi dan Perkembangan Biologi. Johnson juga merupakan Direktur Institut Daniel Baugh, Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania, USA. Johnson pun telah menulis lebih dari 200 karya yang telah dipublikasikan. Profesor Johnson mulai tertarik pada tanda-tanda ilmiah dalam Alquran saat menghadiri Saudi Medical Conference ketujuh tahun 1982, ketika sebuah komite khusus dibentuk untuk menyelidiki tanda-tanda ilmiah dalam Alquran dan Hadis.

Pada awalnya, Profesor Johnson tidak menerima bahwa ada ayat-ayat yang menjelaskan tentang perkembangan biologi dalam Alquran dan Hadis. Tapi setelah diskusi dengan Sheikh Zindani, ia mulai berminat dan berkonsentrasi meneliti terkait tahap internal serta pengembangan eksternal janin dalam tubuh manusia. Melalui serangkaian penelitian itulah dia berdecak kagum pada apa yang tertulis pada kitab berumur 1400 tahun yang lalu.

“Sebagai ilmuwan, saya hanya berurusan dengan sesuatu yang secara spesifik dapat saya lihat. Saya bisa memahami tentang embriologi, tahap perkembangan makhluk hidup, saya dapat memahami tentang kata-kata yang diterjemahkan kepada saya yang berasal dari Alquran. Sebagaimana saya telah berikan contoh sebelumnya, seandainya saya dapat kembali ke masa itu (zaman Nabi Muhammad), dengan pengetahuan yang saya miliki sekarang, dan saya harus menjelaskan semua itu, saya tetap tidak dapat menjelaskannya. Saya tidak melihat ada bukti yang kuat yang bisa digunakan untuk menyangkal konsep bahwa Muhammad telah mendapatkan informasi ini dari suatu tempat. Jadi saya melihat bahwa sebuah campur tangan ketuhanan telah menjelaskan hal-hal besar yang kemudian diungkap oleh ilmu pengetahuan saat ini. Mengingat bahwa dia (Muhammad saw) adalah seorang yang buta huruf,” katanya.

Dia melanjutkan. “Dalam beberapa ayat Alquran, tercantum penggambaran yang jelas mengenai perkembangan manusia sejak masa tercampurnya Gamet melalui proses organogenesis. Tidak ada catatan yang lengkap dan jelas tentang perkembangan manusia, seperti klasifikasi, istilah dan penggambarannya, yang ada sebelum ini. Secara keseluruhannya, penggambaran (dalam Alquran) ini mendahului beberapa abad dalam hal penggambaran mengenai berbagai tahap embrio manusia dan perkembangan janin yang terdapat dalam literatur ilmiah yang ada.”

4. Presiden American Association of Clinical Anatomi (AACA) pada 1989. Juga seorang ilmuawan Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains. Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku mereka juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada tahun 1980, Moore diundang ke Arab Saudi untuk memberikan kuliah anatomi dan embriologi di Universitas King Abdulaziz. Di sana, Moore didekati oleh Komite Embriologi dari Universitas agar membantu menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Alquran dan Hadis tentang reproduksi manusia dan perkembangan embriologi. Selama tiga tahun bekerja bersama Komite Embriologi tersebut, dia telah membantu menafsirkan banyak pernyataan dalam Alquran dan Sunnah yang mengacu pada reproduksi manusia dan perkembangan janin.

“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik”. (Terjemah (QS. Al Mu’minuun): 13-14).

Sang profesor awalnya mengaku heran dengan akurasi isi surat yang terekam pada abad ke-7 tersebut, sebelum ilmu embriologi didirikan. “Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!,” katanya. Namun, dia mengatakan ungkapan mikroskop itu hanya candaan. “Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini.”

Moore mengungkapkan kebahagiaannya karena telah menemukan kebenaran saat dia membantu mengklarifikasi isi ayat Alquran tersebut. “Jelas bagi saya bahwa pernyataan Alquran ini telah diterima Muhammad dari Tuhan atau Allah. Karena semua hal ini tidak terungkapkan hingga berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad pasti seorang Rasul atau utusan Tuhan atau Allah.”

5. Seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis. Ia menjadi terkenal karena menulis buku tentang Islam, Alquran dan ilmu pengetahuan modern. Berawal pada 1975, ketika Prancis menawari bantuan kepada Mesir untuk meneliti mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal telah dikeluarkan dari laut. Bucaille pun mengeluarkan laporan akhir yang diyakininya sebagai penemuan baru dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’, judul aslinya; ‘Les Momies des Pharaons et la Midecine’.

Saat menyiapkan laporan akhirnya itu, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille bahwa kaum Muslimin telah lama berbicara tentang tenggelamnya mumi ini. Dia mengacukannya, tapi cukup membuatnya penasaran. Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Dari sini, terjadilah diskusi antara dia dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa AS, perbuatan yang dilakukan Firaun dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam. Kemudian bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Dia pun disuguhkan dengan sebuah ayat yang mencengangkan. “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Terjemah QS Yunus(10: 92).

Bucaille tersentuh hingga ia berdiri di hadapan orang-orang yang hadir. “Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman pada Alquran ini”.

7. Seorang ahli Oceanografer dan penyelam terkemuka dari Perancis pada era 90-an.

Pada suatu hari, ia melakukan eksplorasi di bawah laut dan tiba-tiba menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya. Air itu tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya sehingga seolah-olah ada dinding membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya.

Profesor tersebut lalu membeberkan ayat Alquran surat Ar-Rahman ayat 19-20, yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Kemudian surat Al-Furqan ayat 53: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Terpesonalah Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Dia mengakui kebenaran Alquran yang berisi firman Allah.

8. Sseorang pendidik dan pemimpin di Carnegie Mellon University, di mana dia adalah seorang profesor ilmu biologi. Brown adalah anggota dari komunitas Carnegie Mellon sejak tahun 1973, ketika ia bergabung dengan fakultas sebagai asisten profesor ilmu biologi di Mellon College of Science (MCS).

Pada 1981, terbit Journal of Plant Molecular Biologies yang mengungkapkan hasil penelitian sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat yang dipimpin Profesor William Brown. Itu tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara itu berulang lebih dari 1.000 kali tiap detiknya. Tim berhasil merekam suara itu menggunakan alat perekam canggih.

Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis. Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris, di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.

Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan. Peniliti muslim mengatakan bahwa temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum Muslimin sejak 1400 tahun yang lalu.

Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun.” (Terjemah QS Isra(17): 44).

Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William.

Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” kata William beberapa hari setelah mendapatkan terjemahan Alquran.

Banyak yang menganggap Albert Einstein yang lahir dari keluarga Yahudi Jerman adalah seseorang yang tak mengenal agama. Namun, beberapa catatan mensyaratkan ilmuwan besar abad 20 dan penemu teori relativitas itu dekat dengan agama.

Melalui surat yang ditujukan kepada temannya, Guy H. Raner Jr. pada Juli 1945 dan September 1949, Einstein menyatakan dengan gamblang terkait pemikirannya tentang Tuhan dan agama. “Dari sudut pandang seorang ateis, itu selalu menyesatkan ketika menggunakan konsep anthropomorphical dalam menangani hal terluar dari lingkungan manusia. Analogi yang kekanak-kanakan,” bunyi petikan surat Einstein kepada Raner.

Einstein, dalam makalah terakhirnya ‘Die Erklarung’ (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas dalam ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah. Einstein menyebut penjelasan Imam Ali tentang mimpi perjalanan Mi’raj jasmani Nabi Muhammad ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan paling bernilai.

Einstain juga disebut pernah menyurati ulama Iran, Ayatollah Al Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, terkait pandangannya terhadap Islam dan menyatakan ketertarikan terhadap konsep ajaran agama yang dibawa nabi Muhammad SAW. Hal itu dilaporkan Radio Israel pada Maret 2014.

Laporan tersebut mengutip video dari Ketua Majelis Ahli Iran, Ayatollah Mahadavi Kani. Ia menjelaskan ketika Einstein mendengar tentang peristiwa kenaikan Nabi Muhammad, sebuah proses yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya, dia menyadari hal ini merupakan gerakan relativitas yang sama dengan apa yang Einstein telah pahami.

“Einstein berkata, ‘ketika saya mendengar tentang kisah Nabi Muhammad dan tentang Ahlul Bait (keluarga nabi), saya menyadari mereka mengerti hal ini jauh sebelum kita,” kata Kani, mengutip perkataan Einstein.

Namun tidak ada satu bukti autentik yang menyatakan Einstein menerima Islam.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2021.

Vien AM.

Dicopas dari : https://www.republika.co.id/berita/o6z79y361/8-ilmuwan-yang-dikejutkan-oleh-kebenaran-alquran

Read Full Post »

Ramadhan 2021 atau 1442H, kembali kita jalani dalam situasi Pandemi Covid 19.  Shalat Tarawih berjamaah di masjid yang merupakan bagian dari Ramadhan sekaligus syiar Islam memang sudah bisa dilaksanakan selama mengikuti protokol kesehatan. Artinya masih lebih baik dibanding tahun lalu.

Beberapa masjid besar seperti masjid Istiqlal, masjid Agung Al-Azhar juga masjid perkantoran Jendral Sudirman sudah membuka pintunya. Namun tidak untuk kegiatan buka puasa dan sahur bersama karena pada kegiatan ini mau tidak mau jamaah harus membuka masker. Demikian pula halnya iktikaf yang memerlukan waktu berkumpul bersama jamaah lain cukup lama. Bagaimana dengan shalat Iedul Fitri, akankah pemerintah harus kembali menerapkan kebijakan mengerjakannya di rumah masing-masing seperti tahun lalu?

Rasanya memang tidak afdol Ramadhan tanpa taraweh, iktikaf dan shalat Ied  di masjid. Namun apa mau dikata bila kondisi tidak memungkinkan. Toh kita tetap bisa melakukan berbagai ibadah Ramadhan lainnya seperti meng-khatamkan bacaan Quran, memperbanyak dzikir dan istighfar,  memberi makanan berbuka kaum dhuafa dll.

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Apalagi di 10 hari terakhir Ramadhan dimana didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan 1000 bulan sebagaimana terekam dalam surat Al-Qadr berikut :

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Yang mengherankan adalah masalah pulang kampung (pulkam) yang sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia. Demi menjaga potensi penularan Covid-19, seperti tahun lalu, pemerintah mengeluarkan aturan pulang kampung hanya bisa jauh-jauh hari sebelum dan sesudah hari Hari Raya Iedul Fitri.

Dengan sigap masyarakatpun memanfaatkannya dengan baik, yaitu pulkam pada hari-hari yang diperbolehkan. Tak heran bila kemudian terjadilah penumpukan calon penumpang di sejumlah terminal bus antar kota. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Tidakkah mereka mau mengambil pelajaran dari tragedi Covid di India yang diberi nama  “Tsunami India” saking banyaknya korban, kabarnya hingga ribuan kematian per hari.

Terlepas adanya isu bahwa pandemi yang terjadi hari ini adalah sebuah konspirasi tingkat tinggi negara-negara adi daya demi mengeruk keuntungan besar lewat vaksin dll, nyatanya tidak sedikit korban Covid berjatuhan dalam waktu sangat singkat.  Ini yang kemudian mengakibatkan rumah sakit tidak sanggup memenuhi kebutuhan oksigen karena virus covid yang berdaya tular sangat tinggi ini memang menyerang saluran paru dan pernafasan.

Lebih parah lagi, dilansir dari kanal Youtube CRUX, Senin (19/4/2021), bahwa mutasi virus di India tak terdeteksi oleh tes PCR yang selama ini dijadikan acuan adanya virus Covid-19 oleh seluruh negara di dunia.

“Berbagai rumah sakit di India melaporkan, bahwa pasien bergejala dites tetap negatif meskipun sudah dua atau tiga kali tes. Virus yang tidak terdeteksi membuat membantu virus makin banyak menyebar. Kasus Covid-19 dari hasil tes negatif dan RT-PCR gagal banyak dilaporkan di seluruh India,” tulis laporan tersebut.

Jika sudah demikian apa yang dapat kita lakukan??

Tragedy di India terjadi akibat kerumunan massa sehubungan perayaan keagamaan Hindu di sungai Gangga, yang dilakukan tanpa penggunaan masker pula. Sebelumnya pemerintah India memang telah mengendurkan prokes karena merasa telah dapat menaklukkan pandemi yang telah memasuki tahun ke 2 ini. Yang pasti setiap umat beragama pasti meyakini meninggal ketika sedang menjalankan ketaatan pada Tuhan-nya pasti memiliki nilai yang sangat tinggi.

Tengok apa yang dilakukan gerombolan Yahudi yang secara brutal, tanpa masker pula seakan tidak ada apa yang namanya virus Covid, menyerang jamaah yang sedang shalat di Masjidil Aqsho. Perbuatan tersebut jelas perbuatan biadab, tapi ntah menurut keyakinan mereka. Yang pasti kedua pemeluk agama tersebut demi menjalankan agamanya tidak takut mati.

Lalu mengapa kita saking takutnya dengan Covid-19 harus menjauh dari masjid meski masjid bersangkutan menetapkan prokes secara ketat?? Sementara untuk sekedar pulang kampung atau belanja lebaran berani berdesak-desakan, tanpa masker pula?? Bukankah setiap manusia pasti mati??? Mari kita tiru apa yang dilakukan saudara-saudari kita di Palestina yang dengan gagah berani melawan tindakan biadab Yahudi, demi menjaga masjidil Aqsho.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(Terjemah QS. Ali Imran (3:185).

Dalam hadits riwayat Bukhari, dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW bersabda,

Jika kalian mendengar penyakit Thaun mewabah di suatu daerah, Maka jangan masuk ke daerah itu. Apabila kalian berada di daerah tersebut, jangan hengkang (lari) dari Thaun.”  

Hadist di atas mengajarkan bagaimana kita harus bersikap ketika wabah menyerang suatu daerah. Artinya “lock down” alias isolasi atau karantina yang dilakukan negara-negara di dunia sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah mengajarkan umat Islam agar tidak lari dari suatu penyakit agar penyakit tersebut tidak menyebar dan menularkannya ke mana-mana.

Akhir kata, mari kita ikhtiar menjaga diri dari penyakit, diantaranya dengan mematuhi prokes, tapi tanpa harus takut berlebihan terhadap kematian, apalagi sampai harus menjauh dari-Nya. Paling tidak shalat Subuh berjamaah di masjid dan shalat Jumat sudah saatnya untuk diaktfkan kembali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umat Islam untuk bersabar ketika sakit, karena sakit bila dihadapi dengan sabar Allah akan membersihkan dosa-dosa kita.

Laa Ba’sa Thohurun Insya Allah”.

Yang berarti “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insyaallah”. (HR Bukhari).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Delapan abad lamanya peradaban Islam pernah mengalami kejayaannya, puncaknya pada abad 8 hingga 13.  Jejak peninggalan dalam berbagai bentuk seperti masjid, istana, museum, gedung perpustakaan, universitas, rumah sakit dll tersebar dimana-mana. Diantaranya di Andalusia (Spanyol), Baghdad (Irak), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya.

Pada masa itu kemajuan di berbagai bidang, mulai dari seni, bangunan, perbintangan hingga ilmu pengetahuan seperti kedokteran, sains dll berkembang sangat pesat. Orang dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke pusat-pusat kota tersebut untuk menimba ilmu dan pengetahuan.

Tokoh-tokoh Islam yang hingga kini masih dikenang sejarah karena jasa-jasa besarnya antara lain adalah Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Thufail (w 581 H),  Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M), Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M) dll.

Ibnu Sina selain dikenal ahli filsafat, juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya kedokteran yang dijadikan referensi hingga hari ini. Demikian juga Ibnu Rusyd, seorang dokter yang banyak menulis  dalam bidangnya, Al-Hawi adalah karyanya yang paling fenomenal.

Tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Ar-Razi (251-313 H/809-873 M) seorang ahli matematika, Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga mengembangkan angka nol (0)).

Hari ini anak cucu kita bisa jadi tidak pernah mengira bahwa Islam pernah menjadi negara adidaya layaknya Amerika Serikat saat ini. Dan berasumsi sebuah negara akan maju bila kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi, yaitu kebutuhan primer seperti pangan (makanan), sandang ( pakaian) dan papan ( tempat tinggal). Menyusul kemudian rasa keadilan yaitu hukum yang adil bagi semua lapisan masyarakat, bukan yang tajam kebawah namun tumpul ke atas. Berikutnya adalah kebutuhan sekunder yaitu pendidikan, akses kesehatan, keamanan serta hiburan.

Orang Barat biasa menjadikan museum sebagai salah satu tujuan hiburan atau refreshing dari rutinitas sehari-hari mereka. Itu sebabnya museum biasanya ramai pengunjung bahkan menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Mereka meyakini museum adalah konsumsi orang berperadaban tinggi.   

Anehnya, tingkat stress dan bunuh diri di negara-negara yang notabene maju, aman dan nyaman tersebut ternyata tinggi, jauh lebih tinggi dari negara-negara Muslim yang hampir tak satupun masuk kategori negara maju. Contohnya adalah Korea Selatan, Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Belgia, Finlandia dan Swedia yang berada di 50 negara paling tinggi tingkat bunuh diri ( Wikipedia 2015).

Dilansir dari New Europe, Rabu (31/10/2018), selalu ada satu petani yang bunuh diri setiap dua hari sekali di Prancis. Salah satu penyebabnya adalah kesepian karena semakin banyak anak-anak petani yang tidak lagi mau menjalani bisnis keluarga dan meninggalkan rumah mereka. Rata-rata jumlah bunuh diri di Prancis lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Pertanyaan besar .. Bukankah kehidupan aman, nyaman dan tentram adalah sebuah kehidupan yang dicita-citakan. Apa lagi yang kurang dan salah???

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Terjemah QS. An Nisa(4): 29-30).

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Terjemah QS. Al-Isra'(17):31).

Islam jelas-jelas melarang bunuh diri apapun alasannya. Ganjarannyapun tak tanggung-tanggung, yaitu neraka. Untuk mengatasi stress Islam mengajarkan shalat. Dengan shalat hati menjadi tenang.

 “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”.  (Al-Baqarah : 153)

Rasulullah setiap dirundung kegelisahan, beliau selalu melaksanakan shalat, karena shalat benar-benar merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagian. “Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya”. [Hadits hasan, Shahihu al Jami’ : 7892]

Shalat demi “menemui” Sang Khaliq adalah ibarat istirahat/refreshing pulang ke rumah untuk melepaskan penat, bertemu dan curhat kepada orang-orang yang kita cintai dan percayai.

Tak salah pada zaman kejayaan Islam masjid agung selalu berada di jantung kota, berdampingan dengan pusat pemerintahan dan alun-alun kota. Di dalam masjid inilah kaum Muslimin berkumpul untuk shalat dan saling mengingatkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist.

Oleh sebab itu Muslim sejati, yaitu yang shalatnya bukan karena terpaksa melainkan karena kebutuhan akan Tuhannya, tidak mungkin korupsi, mabuk-mabukan yang di Barat sudah menjadi kebiasaan, makan uang riba yang makin menjauhkan jurang si kaya dan si miskin, zina dan homoseksual yang jelas-jelas merusak moral, serta melakukan perbuatan-perbuatan buruk lain yang tidak hanya dibenci-Nya, tapi juga merugikan diri sendiri dan orang lain.   

Uniknya, masjid bukan hanya tempat shalat saja, tapi juga merupakan tempat berkumpul para pujangga, ahli pikir, dan para sarjana untuk mendiskusikan berbagai topik ilmiah.

Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu. ‘‘Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis,” ujarnya.

‘Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Al-Quran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,” terangnya.

Tak heran bila akhirnya kekuatan Islam yang bersendi pada Al-Quran dan Al-Hadits, ditambah ikatan persaudaraan Islam yang tinggi, mampu menaklukkan berbagai wilayah negara dan membentuk peradaban Islam yang mulia, mencakup dunia akhirat. Di mulai dari masa Rasulullah, kemudian diteruskan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa tabiin dan munculnya berbagai dinasti Islam di sejumlah negara, seperti Dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fatimiyyah, Ottoman, Mamluk, dan sebagainya.

Saat ini kita bisa menyaksikan saudara-saudari kita yang terdzalimi di Palestina, Suriah dll. Mereka hidup di bawah penindasan Zionis Israel,  listrik dan air dibatasi. Namun kita juga bisa menyaksikan betapa tingginya  kesabaran mereka. Dalam salah satu laporannya, bang Oniem, seorang koresponden Indonesia di Palestina menceritakan kisah seorang penjaja makanan keliling di pelabuhan Gaza yang terlihat selalu menggenggam Al-Quran kemanapun ia pergi.

Alhamdulillah ini harta paling berharga dalam hidup saya, saya tak bisa hidup tanpa Al-Qur’an akhi”, jelas anak muda yang hidup bersama istri dan 2 anaknya di rumah kontrakan tua tak jauh dari pelabuhan, tenang, seakan tidak punya masalah. Allahu Akbar …

Akhir kata, menyambut bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini semoga kita bisa introspeksi, memperbaiki kwalitas shalat kita agar shalat tersebut bisa benar-benar membuahkan Muslim sejati. Yang pada saatnya nanti mampu mengembalikan peradaban Islam yang saat ini telah luntur digerus peradaban Barat yang hanya berorientasi duniawi dan terbukti  tidak mampu membawa kedamaian hakiki yang sejatinya fitrah bagi semua manusia.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 30 Maret 2021/ 16 Sya’ban 1442 H.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »