Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Paham filsafat itu baik, yang tak baik adalah menempatkannya di atas segalanya. Seorang filosof adalah dia yang mencari kebenaran, keutuhan, keharmonisan, dan kedamaian dengan caranya. Dengan kelurusannya mereka menemukan resonansi, angka-angka, etika dan estetika yang dengan sendirinya harmonis dengan sifat dan sikapnya. Dengan itu, lahirlah para ilmuwan mengagumkan.

Dalam perkembangannya hingga pada abad ke-19 dan 20, masih banyak ilmuwan Barat yang masih bersusah payah menolak kebenaran adanya tuhan dan agama; menolak risalah Alquran dan Injil. Para ilmuwan kenamaan dunia itu hanya hidup di atas nama ilmu pengetahuan yang mereka anggap serba ilmiah, dan dihasilkan dari sebuah penelitian massif.

Namun, secara tidak sengaja mereka menemukan keajaiban-keajaiban yang tersembunyi, sesuatu yang kemudian membuka mata hati mereka kepada tuhan, maka munculnya teori Big Bang pada 1929 yang membuka mata rantai antara sains dan ketuhanan. Tulisan ini akan mengulas bagaimana para ilmuwan Barat menemukan keajaiban agama, khususnya rasa takjub mereka terhadap Alquran dan Nabi Muhammad SAW.

Alquran adalah kitab penuh dengan mukjizat, literatur bahasa arab terbaik dan sesuai dengan sains. Mungkin di masa depan zamannya berbeda lagi. Tidak seperti sekarang yang seakan kebenaran selalu diukur dengan sains dan teknologi. Tapi bagaimanapun kondisi masa depan, maka Alquran sebagai firman Tuhan akan membuktikan kebenaran dirinya,” begitu kata cendekiawan Muslim, Dr Zakir Naik, ketika ditanya oleh Rahul, seorang Hindu dari India mengenai kitab agama mana yang paling ilmiah.  (Transkripsi video dari Youtube oleh Baitul Maqdis, 2015). 

Uangkapan Zakir Naik tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Qs: Al-Hijr: 9).

Berikut ini adalah 8 Ilmuwan yang dibuat kagum oleh Islam:

1.Dia adalah seorang Direktur Gunma Astronomical Observatory, mantan direktur National Astronomical Observatory of Japan. Dia menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk meneliti dinamika langit hingga dikenal sebagai Mekanisme Kozai. Mekanisme ini menggambarkan titik orbit asteroid, yang sekarang digunakan dalam studi tabrakan galaksi dan exoplanets.

Para ilmuan lain menyatakan itu adalah asap yang berkabut. Namun Kozai mengatakan kabut tidaklah cocok untuk menggambarkan asap tersebut, sebab kabut memiliki sifat dingin yang khas dingin, sedangkan asap kosmis agak panas.

Bertemulah Kozai dengan Sheikh Abdul-Majeed A. Zindani yang menyajikan sejumlah ayat Alquran yang menjelaskan awal mula alam semesta dan langit, serta hubungan bumi dan langit.

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu: Keduanya menuruti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa, keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati.” (QS Fushshilat: 11).

Ayat itu membuat Kozai heran sekaligus takjub, apalagi setelah mengatahui bahwa Alquran diturunkan pada 1400 tahun yang lalu. Menurut dia, Alquran menggambarkan alam semesta seperti yang terlihat dari titik pengamatan tertinggi.

“Saya sangat terkesan dengan menemukan fakta-fakta astronomi yang benar dalam Alquran, dan bagi kami para astronom modern yang telah mempelajari potongan-potongan yang sangat kecil dari semesta. Kami telah memusatkan upaya kami untuk memahami bagian yang sangat kecil. Karena dengan menggunakan teleskop, kita dapat melihat hanya sedikit bagian dari langit tanpa berpikir tentang seluruh alam semesta. Jadi, dengan membaca Alquran dan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya pikir saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,” kata Kozai.

Karena itu, Kozai percaya bahwa Alquran tidak mungkin bersal dari manusia, tapi sang pencipta. Profesor itu kemudian memusatkan penelitiannya berdasarkan sumber Alquran.

2. Ahli Anatomi, Profesor of Pediatrics and Child Health, dan Profesor Obstetri, Ginekologi, dan Ilmu Reproduksi di Universitas Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Kanada. Di sana, ia menjadi Ketua Departemen Anatomi selama 16 tahun.

Persaud sangat terkenal di bidangnya. Dia adalah penulis atau editor dari 22 buku dan menerbitkan lebih dari 180 karya ilmiah. Pada tahun 1991, ia menerima penghargaan paling terkemuka di bidang anatomi di Kanada, the JCB Grant Award from the Canadian Association of Anatomists.

Uniknya, Profesor Persaud memasukan beberapa ayat Alquran dan hadis di beberapa buku-bukunya. Dia juga kerap mengungkapkan ayat-ayat dan hadis di beberapa konferensi. Ketika ia ditanya tentang keajaiban ilmiah dalam Alquran yang telah diteliti. Inilah pernyataan takjub sang profesor tersebut:

“Muhammad hanya orang biasa, dia tidak dapat membaca atau menulis, dia seorang yang buta huruf, dan kita berbicara mengenai seseorang yang hidup 1200 atau 1300 tahun yang lalu, namun dapat mengeluarkan satu pernyataan tegas mengenai ilmu pengetahuan alam yang secara ajaib ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan. Saya pikir ini tidak mungkin bisa disebut kebetulan, terlalu banyak keakuratan (yang terdapat di dalamnya). Jadi, tidak sulit bagi saya menerima bahwa ini adalah semacam ilham yang diterimanya yang membuatnya mampu menyampaikan pernyataan itu.”

3. Profesor dan Ketua Departemen Anatomi dan Perkembangan Biologi. Johnson juga merupakan Direktur Institut Daniel Baugh, Thomas Jefferson University, Philadelphia, Pennsylvania, USA. Johnson pun telah menulis lebih dari 200 karya yang telah dipublikasikan. Profesor Johnson mulai tertarik pada tanda-tanda ilmiah dalam Alquran saat menghadiri Saudi Medical Conference ketujuh tahun 1982, ketika sebuah komite khusus dibentuk untuk menyelidiki tanda-tanda ilmiah dalam Alquran dan Hadis.

Pada awalnya, Profesor Johnson tidak menerima bahwa ada ayat-ayat yang menjelaskan tentang perkembangan biologi dalam Alquran dan Hadis. Tapi setelah diskusi dengan Sheikh Zindani, ia mulai berminat dan berkonsentrasi meneliti terkait tahap internal serta pengembangan eksternal janin dalam tubuh manusia. Melalui serangkaian penelitian itulah dia berdecak kagum pada apa yang tertulis pada kitab berumur 1400 tahun yang lalu.

“Sebagai ilmuwan, saya hanya berurusan dengan sesuatu yang secara spesifik dapat saya lihat. Saya bisa memahami tentang embriologi, tahap perkembangan makhluk hidup, saya dapat memahami tentang kata-kata yang diterjemahkan kepada saya yang berasal dari Alquran. Sebagaimana saya telah berikan contoh sebelumnya, seandainya saya dapat kembali ke masa itu (zaman Nabi Muhammad), dengan pengetahuan yang saya miliki sekarang, dan saya harus menjelaskan semua itu, saya tetap tidak dapat menjelaskannya. Saya tidak melihat ada bukti yang kuat yang bisa digunakan untuk menyangkal konsep bahwa Muhammad telah mendapatkan informasi ini dari suatu tempat. Jadi saya melihat bahwa sebuah campur tangan ketuhanan telah menjelaskan hal-hal besar yang kemudian diungkap oleh ilmu pengetahuan saat ini. Mengingat bahwa dia (Muhammad saw) adalah seorang yang buta huruf,” katanya.

Dia melanjutkan. “Dalam beberapa ayat Alquran, tercantum penggambaran yang jelas mengenai perkembangan manusia sejak masa tercampurnya Gamet melalui proses organogenesis. Tidak ada catatan yang lengkap dan jelas tentang perkembangan manusia, seperti klasifikasi, istilah dan penggambarannya, yang ada sebelum ini. Secara keseluruhannya, penggambaran (dalam Alquran) ini mendahului beberapa abad dalam hal penggambaran mengenai berbagai tahap embrio manusia dan perkembangan janin yang terdapat dalam literatur ilmiah yang ada.”

4. Presiden American Association of Clinical Anatomi (AACA) pada 1989. Juga seorang ilmuawan Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains. Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku mereka juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada tahun 1980, Moore diundang ke Arab Saudi untuk memberikan kuliah anatomi dan embriologi di Universitas King Abdulaziz. Di sana, Moore didekati oleh Komite Embriologi dari Universitas agar membantu menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Alquran dan Hadis tentang reproduksi manusia dan perkembangan embriologi. Selama tiga tahun bekerja bersama Komite Embriologi tersebut, dia telah membantu menafsirkan banyak pernyataan dalam Alquran dan Sunnah yang mengacu pada reproduksi manusia dan perkembangan janin.

“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik”. (Terjemah (QS. Al Mu’minuun): 13-14).

Sang profesor awalnya mengaku heran dengan akurasi isi surat yang terekam pada abad ke-7 tersebut, sebelum ilmu embriologi didirikan. “Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!,” katanya. Namun, dia mengatakan ungkapan mikroskop itu hanya candaan. “Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini.”

Moore mengungkapkan kebahagiaannya karena telah menemukan kebenaran saat dia membantu mengklarifikasi isi ayat Alquran tersebut. “Jelas bagi saya bahwa pernyataan Alquran ini telah diterima Muhammad dari Tuhan atau Allah. Karena semua hal ini tidak terungkapkan hingga berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad pasti seorang Rasul atau utusan Tuhan atau Allah.”

5. Seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis. Ia menjadi terkenal karena menulis buku tentang Islam, Alquran dan ilmu pengetahuan modern. Berawal pada 1975, ketika Prancis menawari bantuan kepada Mesir untuk meneliti mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal telah dikeluarkan dari laut. Bucaille pun mengeluarkan laporan akhir yang diyakininya sebagai penemuan baru dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’, judul aslinya; ‘Les Momies des Pharaons et la Midecine’.

Saat menyiapkan laporan akhirnya itu, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille bahwa kaum Muslimin telah lama berbicara tentang tenggelamnya mumi ini. Dia mengacukannya, tapi cukup membuatnya penasaran. Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Dari sini, terjadilah diskusi antara dia dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa AS, perbuatan yang dilakukan Firaun dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam. Kemudian bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Dia pun disuguhkan dengan sebuah ayat yang mencengangkan. “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Terjemah QS Yunus(10: 92).

Bucaille tersentuh hingga ia berdiri di hadapan orang-orang yang hadir. “Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman pada Alquran ini”.

7. Seorang ahli Oceanografer dan penyelam terkemuka dari Perancis pada era 90-an.

Pada suatu hari, ia melakukan eksplorasi di bawah laut dan tiba-tiba menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya. Air itu tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya sehingga seolah-olah ada dinding membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya.

Profesor tersebut lalu membeberkan ayat Alquran surat Ar-Rahman ayat 19-20, yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

Kemudian surat Al-Furqan ayat 53: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”

Terpesonalah Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Dia mengakui kebenaran Alquran yang berisi firman Allah.

8. Sseorang pendidik dan pemimpin di Carnegie Mellon University, di mana dia adalah seorang profesor ilmu biologi. Brown adalah anggota dari komunitas Carnegie Mellon sejak tahun 1973, ketika ia bergabung dengan fakultas sebagai asisten profesor ilmu biologi di Mellon College of Science (MCS).

Pada 1981, terbit Journal of Plant Molecular Biologies yang mengungkapkan hasil penelitian sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat yang dipimpin Profesor William Brown. Itu tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara itu berulang lebih dari 1.000 kali tiap detiknya. Tim berhasil merekam suara itu menggunakan alat perekam canggih.

Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis. Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris, di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.

Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan. Peniliti muslim mengatakan bahwa temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum Muslimin sejak 1400 tahun yang lalu.

Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun.” (Terjemah QS Isra(17): 44).

Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William.

Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” kata William beberapa hari setelah mendapatkan terjemahan Alquran.

Banyak yang menganggap Albert Einstein yang lahir dari keluarga Yahudi Jerman adalah seseorang yang tak mengenal agama. Namun, beberapa catatan mensyaratkan ilmuwan besar abad 20 dan penemu teori relativitas itu dekat dengan agama.

Melalui surat yang ditujukan kepada temannya, Guy H. Raner Jr. pada Juli 1945 dan September 1949, Einstein menyatakan dengan gamblang terkait pemikirannya tentang Tuhan dan agama. “Dari sudut pandang seorang ateis, itu selalu menyesatkan ketika menggunakan konsep anthropomorphical dalam menangani hal terluar dari lingkungan manusia. Analogi yang kekanak-kanakan,” bunyi petikan surat Einstein kepada Raner.

Einstein, dalam makalah terakhirnya ‘Die Erklarung’ (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas dalam ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah. Einstein menyebut penjelasan Imam Ali tentang mimpi perjalanan Mi’raj jasmani Nabi Muhammad ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan paling bernilai.

Einstain juga disebut pernah menyurati ulama Iran, Ayatollah Al Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, terkait pandangannya terhadap Islam dan menyatakan ketertarikan terhadap konsep ajaran agama yang dibawa nabi Muhammad SAW. Hal itu dilaporkan Radio Israel pada Maret 2014.

Laporan tersebut mengutip video dari Ketua Majelis Ahli Iran, Ayatollah Mahadavi Kani. Ia menjelaskan ketika Einstein mendengar tentang peristiwa kenaikan Nabi Muhammad, sebuah proses yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya, dia menyadari hal ini merupakan gerakan relativitas yang sama dengan apa yang Einstein telah pahami.

“Einstein berkata, ‘ketika saya mendengar tentang kisah Nabi Muhammad dan tentang Ahlul Bait (keluarga nabi), saya menyadari mereka mengerti hal ini jauh sebelum kita,” kata Kani, mengutip perkataan Einstein.

Namun tidak ada satu bukti autentik yang menyatakan Einstein menerima Islam.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 14 Juni 2021.

Vien AM.

Dicopas dari : https://www.republika.co.id/berita/o6z79y361/8-ilmuwan-yang-dikejutkan-oleh-kebenaran-alquran

Read Full Post »

Ramadhan 2021 atau 1442H, kembali kita jalani dalam situasi Pandemi Covid 19.  Shalat Tarawih berjamaah di masjid yang merupakan bagian dari Ramadhan sekaligus syiar Islam memang sudah bisa dilaksanakan selama mengikuti protokol kesehatan. Artinya masih lebih baik dibanding tahun lalu.

Beberapa masjid besar seperti masjid Istiqlal, masjid Agung Al-Azhar juga masjid perkantoran Jendral Sudirman sudah membuka pintunya. Namun tidak untuk kegiatan buka puasa dan sahur bersama karena pada kegiatan ini mau tidak mau jamaah harus membuka masker. Demikian pula halnya iktikaf yang memerlukan waktu berkumpul bersama jamaah lain cukup lama. Bagaimana dengan shalat Iedul Fitri, akankah pemerintah harus kembali menerapkan kebijakan mengerjakannya di rumah masing-masing seperti tahun lalu?

Rasanya memang tidak afdol Ramadhan tanpa taraweh, iktikaf dan shalat Ied  di masjid. Namun apa mau dikata bila kondisi tidak memungkinkan. Toh kita tetap bisa melakukan berbagai ibadah Ramadhan lainnya seperti meng-khatamkan bacaan Quran, memperbanyak dzikir dan istighfar,  memberi makanan berbuka kaum dhuafa dll.

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Apalagi di 10 hari terakhir Ramadhan dimana didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan 1000 bulan sebagaimana terekam dalam surat Al-Qadr berikut :

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Yang mengherankan adalah masalah pulang kampung (pulkam) yang sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia. Demi menjaga potensi penularan Covid-19, seperti tahun lalu, pemerintah mengeluarkan aturan pulang kampung hanya bisa jauh-jauh hari sebelum dan sesudah hari Hari Raya Iedul Fitri.

Dengan sigap masyarakatpun memanfaatkannya dengan baik, yaitu pulkam pada hari-hari yang diperbolehkan. Tak heran bila kemudian terjadilah penumpukan calon penumpang di sejumlah terminal bus antar kota. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Tidakkah mereka mau mengambil pelajaran dari tragedi Covid di India yang diberi nama  “Tsunami India” saking banyaknya korban, kabarnya hingga ribuan kematian per hari.

Terlepas adanya isu bahwa pandemi yang terjadi hari ini adalah sebuah konspirasi tingkat tinggi negara-negara adi daya demi mengeruk keuntungan besar lewat vaksin dll, nyatanya tidak sedikit korban Covid berjatuhan dalam waktu sangat singkat.  Ini yang kemudian mengakibatkan rumah sakit tidak sanggup memenuhi kebutuhan oksigen karena virus covid yang berdaya tular sangat tinggi ini memang menyerang saluran paru dan pernafasan.

Lebih parah lagi, dilansir dari kanal Youtube CRUX, Senin (19/4/2021), bahwa mutasi virus di India tak terdeteksi oleh tes PCR yang selama ini dijadikan acuan adanya virus Covid-19 oleh seluruh negara di dunia.

“Berbagai rumah sakit di India melaporkan, bahwa pasien bergejala dites tetap negatif meskipun sudah dua atau tiga kali tes. Virus yang tidak terdeteksi membuat membantu virus makin banyak menyebar. Kasus Covid-19 dari hasil tes negatif dan RT-PCR gagal banyak dilaporkan di seluruh India,” tulis laporan tersebut.

Jika sudah demikian apa yang dapat kita lakukan??

Tragedy di India terjadi akibat kerumunan massa sehubungan perayaan keagamaan Hindu di sungai Gangga, yang dilakukan tanpa penggunaan masker pula. Sebelumnya pemerintah India memang telah mengendurkan prokes karena merasa telah dapat menaklukkan pandemi yang telah memasuki tahun ke 2 ini. Yang pasti setiap umat beragama pasti meyakini meninggal ketika sedang menjalankan ketaatan pada Tuhan-nya pasti memiliki nilai yang sangat tinggi.

Tengok apa yang dilakukan gerombolan Yahudi yang secara brutal, tanpa masker pula seakan tidak ada apa yang namanya virus Covid, menyerang jamaah yang sedang shalat di Masjidil Aqsho. Perbuatan tersebut jelas perbuatan biadab, tapi ntah menurut keyakinan mereka. Yang pasti kedua pemeluk agama tersebut demi menjalankan agamanya tidak takut mati.

Lalu mengapa kita saking takutnya dengan Covid-19 harus menjauh dari masjid meski masjid bersangkutan menetapkan prokes secara ketat?? Sementara untuk sekedar pulang kampung atau belanja lebaran berani berdesak-desakan, tanpa masker pula?? Bukankah setiap manusia pasti mati??? Mari kita tiru apa yang dilakukan saudara-saudari kita di Palestina yang dengan gagah berani melawan tindakan biadab Yahudi, demi menjaga masjidil Aqsho.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(Terjemah QS. Ali Imran (3:185).

Dalam hadits riwayat Bukhari, dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW bersabda,

Jika kalian mendengar penyakit Thaun mewabah di suatu daerah, Maka jangan masuk ke daerah itu. Apabila kalian berada di daerah tersebut, jangan hengkang (lari) dari Thaun.”  

Hadist di atas mengajarkan bagaimana kita harus bersikap ketika wabah menyerang suatu daerah. Artinya “lock down” alias isolasi atau karantina yang dilakukan negara-negara di dunia sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah mengajarkan umat Islam agar tidak lari dari suatu penyakit agar penyakit tersebut tidak menyebar dan menularkannya ke mana-mana.

Akhir kata, mari kita ikhtiar menjaga diri dari penyakit, diantaranya dengan mematuhi prokes, tapi tanpa harus takut berlebihan terhadap kematian, apalagi sampai harus menjauh dari-Nya. Paling tidak shalat Subuh berjamaah di masjid dan shalat Jumat sudah saatnya untuk diaktfkan kembali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umat Islam untuk bersabar ketika sakit, karena sakit bila dihadapi dengan sabar Allah akan membersihkan dosa-dosa kita.

Laa Ba’sa Thohurun Insya Allah”.

Yang berarti “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insyaallah”. (HR Bukhari).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 8 Mei 2021.

Vien AM.

Read Full Post »

Delapan abad lamanya peradaban Islam pernah mengalami kejayaannya, puncaknya pada abad 8 hingga 13.  Jejak peninggalan dalam berbagai bentuk seperti masjid, istana, museum, gedung perpustakaan, universitas, rumah sakit dll tersebar dimana-mana. Diantaranya di Andalusia (Spanyol), Baghdad (Irak), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya.

Pada masa itu kemajuan di berbagai bidang, mulai dari seni, bangunan, perbintangan hingga ilmu pengetahuan seperti kedokteran, sains dll berkembang sangat pesat. Orang dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke pusat-pusat kota tersebut untuk menimba ilmu dan pengetahuan.

Tokoh-tokoh Islam yang hingga kini masih dikenang sejarah karena jasa-jasa besarnya antara lain adalah Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Thufail (w 581 H),  Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M), Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M) dll.

Ibnu Sina selain dikenal ahli filsafat, juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya kedokteran yang dijadikan referensi hingga hari ini. Demikian juga Ibnu Rusyd, seorang dokter yang banyak menulis  dalam bidangnya, Al-Hawi adalah karyanya yang paling fenomenal.

Tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Ar-Razi (251-313 H/809-873 M) seorang ahli matematika, Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga mengembangkan angka nol (0)).

Hari ini anak cucu kita bisa jadi tidak pernah mengira bahwa Islam pernah menjadi negara adidaya layaknya Amerika Serikat saat ini. Dan berasumsi sebuah negara akan maju bila kebutuhan dasar rakyatnya terpenuhi, yaitu kebutuhan primer seperti pangan (makanan), sandang ( pakaian) dan papan ( tempat tinggal). Menyusul kemudian rasa keadilan yaitu hukum yang adil bagi semua lapisan masyarakat, bukan yang tajam kebawah namun tumpul ke atas. Berikutnya adalah kebutuhan sekunder yaitu pendidikan, akses kesehatan, keamanan serta hiburan.

Orang Barat biasa menjadikan museum sebagai salah satu tujuan hiburan atau refreshing dari rutinitas sehari-hari mereka. Itu sebabnya museum biasanya ramai pengunjung bahkan menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Mereka meyakini museum adalah konsumsi orang berperadaban tinggi.   

Anehnya, tingkat stress dan bunuh diri di negara-negara yang notabene maju, aman dan nyaman tersebut ternyata tinggi, jauh lebih tinggi dari negara-negara Muslim yang hampir tak satupun masuk kategori negara maju. Contohnya adalah Korea Selatan, Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Belgia, Finlandia dan Swedia yang berada di 50 negara paling tinggi tingkat bunuh diri ( Wikipedia 2015).

Dilansir dari New Europe, Rabu (31/10/2018), selalu ada satu petani yang bunuh diri setiap dua hari sekali di Prancis. Salah satu penyebabnya adalah kesepian karena semakin banyak anak-anak petani yang tidak lagi mau menjalani bisnis keluarga dan meninggalkan rumah mereka. Rata-rata jumlah bunuh diri di Prancis lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Pertanyaan besar .. Bukankah kehidupan aman, nyaman dan tentram adalah sebuah kehidupan yang dicita-citakan. Apa lagi yang kurang dan salah???

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Terjemah QS. An Nisa(4): 29-30).

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Terjemah QS. Al-Isra'(17):31).

Islam jelas-jelas melarang bunuh diri apapun alasannya. Ganjarannyapun tak tanggung-tanggung, yaitu neraka. Untuk mengatasi stress Islam mengajarkan shalat. Dengan shalat hati menjadi tenang.

 “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”.  (Al-Baqarah : 153)

Rasulullah setiap dirundung kegelisahan, beliau selalu melaksanakan shalat, karena shalat benar-benar merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagian. “Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya”. [Hadits hasan, Shahihu al Jami’ : 7892]

Shalat demi “menemui” Sang Khaliq adalah ibarat istirahat/refreshing pulang ke rumah untuk melepaskan penat, bertemu dan curhat kepada orang-orang yang kita cintai dan percayai.

Tak salah pada zaman kejayaan Islam masjid agung selalu berada di jantung kota, berdampingan dengan pusat pemerintahan dan alun-alun kota. Di dalam masjid inilah kaum Muslimin berkumpul untuk shalat dan saling mengingatkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist.

Oleh sebab itu Muslim sejati, yaitu yang shalatnya bukan karena terpaksa melainkan karena kebutuhan akan Tuhannya, tidak mungkin korupsi, mabuk-mabukan yang di Barat sudah menjadi kebiasaan, makan uang riba yang makin menjauhkan jurang si kaya dan si miskin, zina dan homoseksual yang jelas-jelas merusak moral, serta melakukan perbuatan-perbuatan buruk lain yang tidak hanya dibenci-Nya, tapi juga merugikan diri sendiri dan orang lain.   

Uniknya, masjid bukan hanya tempat shalat saja, tapi juga merupakan tempat berkumpul para pujangga, ahli pikir, dan para sarjana untuk mendiskusikan berbagai topik ilmiah.

Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu. ‘‘Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis,” ujarnya.

‘Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Al-Quran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,” terangnya.

Tak heran bila akhirnya kekuatan Islam yang bersendi pada Al-Quran dan Al-Hadits, ditambah ikatan persaudaraan Islam yang tinggi, mampu menaklukkan berbagai wilayah negara dan membentuk peradaban Islam yang mulia, mencakup dunia akhirat. Di mulai dari masa Rasulullah, kemudian diteruskan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa tabiin dan munculnya berbagai dinasti Islam di sejumlah negara, seperti Dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fatimiyyah, Ottoman, Mamluk, dan sebagainya.

Saat ini kita bisa menyaksikan saudara-saudari kita yang terdzalimi di Palestina, Suriah dll. Mereka hidup di bawah penindasan Zionis Israel,  listrik dan air dibatasi. Namun kita juga bisa menyaksikan betapa tingginya  kesabaran mereka. Dalam salah satu laporannya, bang Oniem, seorang koresponden Indonesia di Palestina menceritakan kisah seorang penjaja makanan keliling di pelabuhan Gaza yang terlihat selalu menggenggam Al-Quran kemanapun ia pergi.

Alhamdulillah ini harta paling berharga dalam hidup saya, saya tak bisa hidup tanpa Al-Qur’an akhi”, jelas anak muda yang hidup bersama istri dan 2 anaknya di rumah kontrakan tua tak jauh dari pelabuhan, tenang, seakan tidak punya masalah. Allahu Akbar …

Akhir kata, menyambut bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini semoga kita bisa introspeksi, memperbaiki kwalitas shalat kita agar shalat tersebut bisa benar-benar membuahkan Muslim sejati. Yang pada saatnya nanti mampu mengembalikan peradaban Islam yang saat ini telah luntur digerus peradaban Barat yang hanya berorientasi duniawi dan terbukti  tidak mampu membawa kedamaian hakiki yang sejatinya fitrah bagi semua manusia.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 30 Maret 2021/ 16 Sya’ban 1442 H.

Vien AM.

Read Full Post »

Dalam sebuah pidatonya presiden Turki Recep Tayyib Erdogan  bercerita tentang kisah menarik antara Hulagu Khan penguasa Mongol yang kejam dengan Kadihan, seorang guru sebuah madrasah.

Sebagaimana diketahui pada tahun 1258 M, Hulagu Khan cucu Jengis Khan kaisar Mongol, mendapat perintah untuk menaklukkan Asia Tengah dan Timur Tengah  yang ketika itu dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah. Tanpa perlawanan berarti Hulagu yang dikenal bengis dan kejam berhasil memporak-porandakan dinasti Islam tersebut.

Baghdad ibu kota Abbasiyah yang ketika itu merupakan pusat budaya dan ilmu pengetahuan dibumi hanguskan. Masjid-masjid megah nan cantik, perpustakaan, madrasah dan bangun-bangunan bersejarah lainnya luluh lantak. Pasukan Abbasiyah nyaris 400 ribu termasuk rakyat sipil tewas mengenaskan dihadapan Khalifah Al-Mustasim, khalifah terakhir Abbbasiyah.    

Sebelumnya Hulagu sempat menyodorkan khalifah malang tersebut sebuah nampan emas untuk dimakan, benar-benar untuk dimakan. Tentu saja Al-Mutasim menolaknya.

Lantas mengapa tuan menyimpannya?” tanya Hulagu sinis. “Alih-alih tuan bisa memberikannya kepada prajurit tuan? Mengapa tuan tidak meleburnya saja pintu besi istana ini lalu menjadikannya mata panah? Dengan panah-panah itu setidaknya tuan bisa menghalau pasukan saya.

“Ini semua kehendak Tuhan,” jawab sang Khalifah.

Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada tuan setelah ini adalah kehendak Tuhan juga,” kata Hulagu mengakhiri percakapan.

Beberapa hari kemudian setelah menghancurkan Baghdad, Hulagu keluar dari kota tersebut dengan membawa serta khalifah Al-Mustasim, putra mahkota serta para pelayan. Hulagu lalu mengeksekusi mereka semua di sebuah desa bernama Waqaf. Sementara di istana Baghdad, sisa-sisa keluarga khalifah dibantai.

Kembali pada kisah yang diceritakan Erdogan. Erdogan bercerita, suatu hari Hulagu menantang ulama terbesar wilayah yang baru dikuasainya itu, untuk datang menghadapnya di istana. Tapi tak ada satupun yang berani memenuhinya, kecuali Kadihan seorang guru muda sebuah madrasah yang datang ke istana dengan membawa seekor ayam, seekor unta dan seekor kambing bersamanya.

Dengan heran Hulagu memandangi anak muda tersebut dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil berkata, ”Mereka—ulama hanya menemukan orang seperti anda untuk bertemu denganku?? “

Kadihan dengan tenang menjawab,”Tuan, jika tuan ingin bertemu dengan yang lebih besar (dari saya), di luar markas ini ada seekor unta. Atau jika anda ingin bertemu yang berjenggot, di luar sana ada seeokor kambing. Bahkan jika anda ingin berjumpa dengan yang bersuara nyaring, di luar sana sudah siap seekor ayam jantan (jago).

Mendengar jawaban itu, Hulagu menyadari anak muda yang berani itu bukanlah orang sembarangan. “Baiklah, kata Hulagu, coba kamu jelaskan, apa yang telah membuatku bisa datang ke sini (Baghdad)”.

Guru muda ini menjawab, ”Sesungguhnya perbuatan kami sendirilah yang telah membuat dan membawa tuan datang ke sini. Kami tidak pernah lagi mensyukuri nikmat Allah. Kami tenggelam dalam kesenangan dunia, berfoya-foya. Kami hanya sibuk mengejar pangkat dan jabatan, berebut kekuasaan dan kekayaan (dengan mengabaikan yang lain). Akhirnya Allah-lah yang telah menggerakkan tuan melangkah ke mari untuk menarik semua kenikmatan itu, hingga kamipun jadi begini,” katanya.

Hulagu kembali bertanya, “Lantas apa yang dapat mengusir aku dari negeri ini?”

Tuan Hulagu”, kata sang anak muda itu, “ Jika kami (bangsa ini) menyadari kembali, untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah, dan kamipun berhenti bertikai, maka ketahuilah, andapun tidak akan pernah bisa bertahan lama (menjajah dan menjarah) negeri kami ini”.

Erdogan menutup cerita yang disambut tepuk tangan riuh itu dengan pertanyaan : ”Fahamkan anda semua dengan apa yang saya sampaikan ini??” 

https://www.portal-islam.id/2019/07/pidato-erdogan-yang-sangat-menarik.html

Sungguh benar apa yang dikatakan Kadihan dan disampaikan kembali Erdogan kepada rakyatnya. Sejarah mencatat Abbasiyah pada saat datangnya pasukan Mongol sedang berada dalam masa kejayaannya. Kekayaan melimpah, rakyat hidup berkecukupan, Baghdad kota kosmopolitan gudang ilmu dimana para pejabatnya hidup berfoya-foya sebagaimana yang disindir Hulagu melalui nampan emasnya. Meski tidak lagi segemerlap masa-masa kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-803) atau Abdullah Al-Makmun (813-833).

Masa kejayaan dan budaya Islam telah terkikis sedikit demi sedikit. Pada saat Al-Mustasim naik takhta pada 1242, kekuatan politik maupun militer dinasti ini sudah jauh menurun dibanding khalifah-khalifah sebelumnya. Intrik politik, perang saudara di antara elite kekhalifahan, konflik Sunni-Syiah terjadi setiap waktu. Hingga ketika Hulagu datang menawarkan agar menyerah secara damai, Al-Mutasim menolaknya mentah-mentah tak sadar sudah tak memiliki kekuatan memadai menghadapi pasukan Mongol yang terkenal kejam dan begis tersebut. Maka berakhirlah kejayaan lima abad kekhilafahan Abbasiyah untuk selamanya.

Namun kebrutalan Hulagu dan pasukannya bukan semata karena Hulagu yang dikenal bengis, tapi juga disebabkan salah satu istri dan Dokuz Khatun, jendral andalan Hulagu, yang beragama Kristen. Keduanya menyimpan benci dan dendam terhadap kekalahan Romawi dan Persia dari pasukan khalifah Umar bin Khattab pada abad 7.

Sebaliknya Hulagu juga tidak bertahan lama di wilayah bekas Abbasiyah. Ia dikalahkan oleh Berke Khan sepupu Hulagu pendiri Khanat Berke kerajaan Mongol Islam di Eropa Timur. Berke memeluk Islam setelah bertemu seorang ulama kharismatik di Bukhara. Kemenangan ini diawali dengan kemenangan Sultan Qutuz dari kerajaan Mamluk Mesir dan Baibar yang bersatu melawan pasukan Hulagu dibawah jendral Dokuz Khatun dalam perang Ain Jalut. Hulagu sendiri absen karena sedang ada urusan mendesak di Mongol.

Sekembalinya Hulagu bermaksud membalas kekalahan pasukannya. Namun ia terkejut mendapati yang harus dihadapi adalah sepupunya sendiri yang telah memeluk Islam. Berke bahkan tanpa ragu menunjukkan bahwa persaudaraan sesama Muslim lebih tinggi nilainya dari ikatan darah. Berke telah menunjukkan ketinggian dan kwalitas keimanannya meski belum lama memeluk Islam. Sesuatu yang harusnya membuat malu kita yang terlahir Islam tapi tidak memiliki rasa tersebut.

Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.’‘ (HR Bukhari dan Muslim).

Hulagu telah menghancurkan semua kota Muslim dan telah menyebabkan kematian khalifah. Dengan bantuan Allah, saya akan memanggilnya untuk menghitung begitu banyak darah orang yang tidak bersalah”, demikian isi surat Berke yang ditujukan kepada Hulagu.

Ditambah dengan penaklukan Konstatinopel pada 1453 oleh Sultan Memed II dari Turki Ustmani, Islampun kembali meraih cahayanya kembali. Islam terus berjaya dan sedikit demi sedikit kembali menuju kejatuhannya pada 1923 yaitu dengan jatuhnya kekhalifahan Turki Ustmani setelah 5 abad berkuasa.    

Selanjutnya Erdogan yang terpilih menjadi presiden pada 2014 berhasil mengeluarkan Turki dari kesekulerannya. Ia berhasil mengembalikan berkumandangnya adzan dalam bahasa aslinya yaitu Arab, pemakaian jilbab, shalat Subuh berjamaah di masjid, juga difungsikannya kembali Aya Sofia sebagai masjid. Pada saat itu Erdogan bahkan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan indah dan syahdunya.

Dan melalui pidatonya tentang kisah Hulagu dan Kadihan yang kemudian viral itu, Erdogan mengingatkan pentingnya mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana dicontohkan para sahabat, serta menguatkan persatuan sesama Muslim, bila Islam ingin kembali mencapai kejayaannya.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.( Terjemah QS. Ali Imran(3):110).

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan/khaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“.(Terjemah QS. Al-Baqarah(2):208).

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.” (HR. Tirmidzi).

Akhir kata semoga kita sebagai Muslim Indonesia juga dapat ikut berpartisipasi dalam meraih kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana yang juga diharapkan almarhum Syeikh Ali Jaber ulama yang giat dalam pembinaan hafidz cilik Indonesia. Ulama asli Madinah yang wafat beberapa hari lalu ini sangat berharap suatu hari nanti ada diantara santrinya bisa memimpin negri yang sangat dicintainya, yaitu Indonesia.

https://turkinesia.net/index.php/2020/09/15/syekh-ali-jaber-kagumi-erdogan-yakini-indonesia-akan-lahir-pemimpin-adil-dan-hafidz-al-quran/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Januari 2021.

Vien AM.       

Read Full Post »

P1010763Jumat 10 Juli 2020 umat Muslim, khususnya Muslim Turki mencatat sejarah besar. Hagia/Aya Sophia yang selama 85 tahun tercatat sebagai museum kembali menjadi masjid. Hal ini berkat kegigihan presiden Turki Recep Erdogan yang berusaha keras mengembalikan status bangunan bersejarah tersebut.

Meski mendapat banyak tekanan internasional, Pengadilan Tinggi Turki pada Jumat tersebut memutuskan untuk membatalkan dekrit Kabinet 1934 tentang status Aya Sophia yang mengubah status masjid menjadi museum. Dekrit ini dikeluarkan oleh pendiri Turki Sekuler Kemal Attaturk  10 tahun setelah jatuhnya kekhalifahan Turki Ottoman.

Menurut undang-undang wakaf, apa yang diwakafkan harus difungsikan sesuai tujuannya,” tegas Menteri Kehakiman Turki yang mengungkapkan Aya Sophia secara hukum dimiliki oleh yayasan yang didirikan oleh Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk. Sultan Al-Fatih dikenal juga dengan sebutan Sultan Muhammad II atau Sultan Mehmed.

“Aya Sophia diwakafkan oleh Muhammad Al-Fatih khusus untuk tempat ibadah umat Islam, yaitu masjid. Jadi sudah seharusnya penguasa Turki menjaga hak hukum terhadap warisan tersebut”, imbuhnya. Untuk itu Erdogan menyerukan seluruh dunia agar menghormati keputusan pengadilan Turki. Presiden Turki ke 12 itu juga menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak kedaulatan Turki.

Langkah pemerintah sekuler Turki tahun 1934 yang saat itu dipimpin Mustafa Kemal Attaturk mentranformasi Hagia Sofia dari masjid menjadi museum adalah pengkhianatan terhadap sejarah. Aya Sophia bukan milik negara atau yayasan manapun namun milik Sultan Muhammad Al-Fatih”, tegasnya.

Langkah Erdogan memperjuangkan kembalinya status Aya Sophia menjadi masjid bukan sekedar keinginan pribadi tapi juga didasari keluhan rakyat Turki yang mempermasalahkan hal yang berpuluh tahun mengganjal hati mereka. Gugatan telah dimulai sejak 16 tahun yang lalu. Bahkan 10 tahun sebelumnya yaitu ketika Erdogan masih menjabat walikota Istanbul ia pernah menjanjikan kebebasan bangunan warisan penakluk Konstatinopel tersebut.

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):114).

Selanjutnya Erdogan bahkan berani berkata bahwa tranformasi Aya Sophia menjadi masjid adalah langkah awal menuju pembebasan Baitul Maqdis.  Pengembalian Aya Sophia setelah 85 tahun sempat menjadi museum mengingatkan  Baitul Maqdis yang selama 88 tahun pernah dikuasai kaum Salibis. Baitul Maqdis kembali ke pangkuan kaum Muslimin dibawah pasukan Sultan Salahuddin Al-Ayuubi pada tahun 1187M.

https://tirto.id/janji-salahuddin-merebut-yerusalem-dalam-perang-salib-cqJF

Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.” [HR.Bukhari dan Muslim].

Makmurnya Baitul Maqdis (yakni dengan banyak penduduk, bangunan dan harta) adalah tanda keruntuhan kota Madinah, runtuhnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal”. [HR. Abu Daud].

Dua prediksi Rasulullah 15 abad lalu di atas inilah yang telah banyak meng-inspirasi kaum Muslimin untuk membebaskan Istanbul dari cengkeraman kaum Kuffar. Beberapa kali pasukan Muslimin mencoba menguasai ibu kota Bizantium/Romawi Timur tersebut tapi gagal. Dibawah komando Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 barulah kota tersebut berhasil ditaklukan.

https://kisahmuslim.com/4287-muhammad-al-fatih-penakluk-konstantinopel.html

Tak heran keputusan pengadilan tinggi Turki tersebut menyulut kontroversi internasional. Amerika Serikat, Rusia, Yunani serta beberapa petinggi gereja menentang pengubahan status bangunan bersejarah yang sejak abad 6 sudah merupakan ikon Istanbul tersebut.

Namun Erdogan tidak bergeming, apalagi keputusan tersebut didukung 86% rakyat Turki. Sesuai dengan semboyan negaranya “Kedaulatan tanpa syarat adalah milik Bangsa”, secara tegas mengatakan setiap intervensi asing atas musyawarah internal Turki termasuk status Aya Sophia adalah serangan terhadap kedaulatan negaranya. Turki sebagai negara mayoritas Muslim akan selalu melindungi hak-hak Muslim tanpa mengesampingkan minoritas yang tinggal di negaranya. Ia juga menambahkan Turki tak pernah ikut campur dalam urusan keagamaan negara lain.

Begitu juga, tak ada pihak asing yang berhak untuk mencampuri masalah yang menyangkut tempat ibadat kami,” tekan Erdogan.

Ada sekitar 435 gereja dan sinagog di Turki. Semua orang menikmati hak mereka untuk menjalankan kepercayaan mereka”, imbuhnya.

Erdogan juga menyindir bahwa bangsa Turki tak memiliki sifat penghancur unsur budaya sebelumnya, seperti yang dilakukan Spanyol dan Portugal, yang suka menghancurkan masjid-masjid yang ada di negara mereka.

https://republika.co.id/berita/qdbage2097364635/hagia-sophia-jadi-masjid-setelah-jeda-85-tahun-pesan-apa-yang-diberikan-turki

Tentu kita tahu apa yang terjadi paska kejatuhan Islam di Andalusia (Spanyol dan Portugal) pada tahun 1492. Ini adalah dampak kekalahan yang berkali-kali dialami pasukan Salib dalam melawan pasukan Muslim. Perang yang diberi nama Perang Salib ini pertama terjadi pada tahun 1099 atas perintah Paus Urbanus yang berkedudukan di Avignon Perancis. Tujuan utamanya untuk merebut Yerusalem yang ketika itu telah dikuasai Muslimin.

katedral Lisbon

Katedral Lisbon Portugal

seville-cathedral

Katedral Sevilla, Spanyol

katedral Toledo Spanyol

Katedral Toledo Spanyol

2009-11 Jerez_4

Katedral Jerez – Spanyol

Katedral Malaga, Spanyol

Katedral Malaga, Spanyol

masjid katedral cordoba-

Katedral Cordoba

Maka ketika akhirnya mereka berhasil mengalahkan kerajaan Islam di Andalusia dengan semena-mena mereka menghancurkan masjid-masjid, disamping mengusir dan membantai kaum Muslimin.

Masjid-masjid yang besar dan bagus mereka ubah menjadi katedral, hingga detik ini. Adakah dunia international peduli???

masjid-al-ahmar Palestina

masjid-al-ahmar Palestina

Yang juga tak kalah mengesalkan, baru-baru ini sebuah masjid di sebuah kota Palestina yang dikuasai Yahudi  bahkan dijadikan klub malam. Masjid bernama Al-Ahmar tersebut padahal masjid yang paling bersejarah di kota tersebut. Pada tahun 1948 masjid tersebut pernah menjadi rumah bagi 12 ribu warga Palestina yang dipaksa keluar dari rumah mereka oleh Zionis Israel. Sekretariat Islamic Centre yang ada di kita tersebut telah mengajukan protes. Adakah dunia international peduli???

https://aceh.tribunnews.com/2020/07/18/gaduh-hagia-sophia-menjadi-masjid-israel-ubah-masjid-bersejarah-jadi-bar-dan-aula-pernikhan

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Umat Islam shalat di antara puing-puing masjid

Demikian pula dengan masjid Babri di India. Masjid bersejarah peninggalan dinasti Mughal yang didirikan pada tahun 1527 itu dihancurkan oleh kelompok Hindu garis keras pada tahun 1992. Kerusuhanan tersebut menelan 2000 korban sebagian besar Muslim yang merupakan minoritas di negri tersebut. Ironisnya lagi PM India yang saat ini berkuasa telah menjanjikan berdirinya kuil megah di atas reruntuhan masjid tersebut. Adakah dunia international peduli???

https://tirto.id/amarah-dan-kebencian-yang-menghancurleburkan-masjid-babri-b7GH

Sementara paska kejatuhan Konstatinopel di tahun 1453, katedral Aya Sophia yang dibangun pada tahun 537 tidak semerta-merta dialih fungsikan menjadi masjid. Sultan Al-Fatih membelinya terlebih dahulu dari pihak penguasa gereja sebelum akhirnya diwakafkan menjadi masjid.

Ketika Al-Fatih membeli katedral tersebut keadaannya sudah tidak terawat bahkan sebagian sudah hancur. Aya Sophia memang pernah beberapa kali mengalami gempa. Karena tak sanggup memperbaikinya akibat keadaan ekonomi yang buruk, penguasa  Bizantium sempat menutup tempat ibadah itu selama beberapa periode.

Empat menara raksasa yang mempercantik bangunan kuno tersebut dibangun pada masa Ottoman berkuasa. Begitu pula beberapa kubah kecil yang terletak di sekitarnya, yang dibangun sebagai tempat wudhu, berdzikir dll. Menara dan kubah-kubah tersebut dibangun oleh Mimar Sinan, arsitek kenamaan Ottoman yang hidup pada abad 16. Kehebatannya diakui dunia setara dengan Michelangelo arsitek kenamaan Italia yang banyak membangun gereja. Mimar adalah satu dari sekian banyak orang Turki Kristen yang menjadi saksi keagungan Islam. Itu sebabnya ia kemudian memeluk Islam di usia dewasanya.

Sedangkan kaitannya dengan warisan dunia dan landmark kota, berapa banyaknya kota-kota besar dunia yang menjadikan katedral sebagai landmark. Katedral Notre Dame dan Basilika Sacre-Coeur di Paris, contohnya. Disamping membuka diri bagi turis, kedua tempat tersebut tetap aktif sebagai tempat ibadah umat Nasrani. Ini yang akan dilakukan Erdogan. Hagia Sophia selain berfungsi sebagai tempat ibadah kaum Mulimin akan tetap terbuka untuk turis mancanegara.

Akan halnya Yunani, negara tetangga Turki yang paling vokal menentang perubahan status Hagia Sophia, tercatat sebagai satu-satunya negara di dunia yang di ibukota negaranya tidak memiliki masjid yang dibiayai pemerintah. Muslim di Athena dan juga turis yang bertandang ke kota tersebut harus rela hanya bisa shalat di mushola-mushola kecil yang sulit dicari keberadaannya.

Link dibawah ini adalah pengalaman menyedihkan  kami ketika berada di Yunani (Athena dan Santorini).

https://vienmuhadi.com/2015/03/20/legenda-yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-4/

https://www.aa.com.tr/id/dunia/erdogan-tidak-ada-satu-pun-masjid-yang-tersisa-di-athena/1860376

Pertarungan antara Islam dan Kristen/Yahudi, antara yang haq dan yang bathil, sampai kapanpun memang tidak akan bisa dihindarkan. Barat yang notabene Kristen/Yahudi namun selalu terlihat menggaungkan sekulerisasi sejatinya tidak pernah lupa akan kekalahan mereka terhadap pasukan Muslim. Kekalahan Romawi Timur yang ketika itu beribu kota di Konstatinopel yang juga berarti jatuhnya katedral Hagia Sophia sudah pasti sangat menyakitkan hati mereka.

Oleh sebab itu ketika Ottoman jatuh pada tahun 1924, dan 10 tahun kemudian Kemal Attaturk merubah status Hagia Sophia yang selama 481 tahun berstatus masjid menjadi museum, mereka sangat senang dan lega. Apalagi ketika kemudian Attaturk sebagai pendiri sekaligus presiden pertama Republik Turki menghapus seluruh jejak Islam yang ada di negara eks kekhalifahan tersebut, diantaranya pelarangan jilbab dan haji, azan diganti dengan Bahasa Turki, digantinya huruf Hijaiyah menjadi huruf abjad Latin, dll. Itulah Turki sekuler yang kita temukan hingga di awal berkuasanya Recep Tayeb Erdogan.

Apa daya Barat kini terpaksa gigit jari mendapati sejumlah kebijakan Erdogan yang banyak berpihak kepada Muslim yang sampai saat ini memang masih mayoritas Muslim. Tak heran bila selama berkuasa 18 tahun ( sebagai perdana mentri sejak tahun 2003 hingga 2014, presiden 2014 hingga saat ini) telah berkali-kali mengalami percobaan kudeta dan pembunuhan. Namun berkat dukungan rakyatnya yang solid, dan dengan izin Allah swt tentu saja, Erdogan lolos dari ancaman-ancaman tersebut.

Akhir kata mari kita doakan semoga Allah swt senantiasa melindungi dan menjaga singa Turki tersebut dari segala fitnah. Semoga ia tidak mengalami nasib buruk seperti Adnan Menderes, PM Turki periode 1950-1960 yang banyak merubah kebijakan sekuler hingga di kudeta dan dijatuhi hukuman gantung, atau Muhammad Mursi mantan presiden Mesir yang juga di kudeta karena alasan yang sama. Jangan biarkan Barat terus menjejalkan paham sekuler/kafirnya ke dunia internasional, dunia Islam khususnya.

“Katakanlah “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” ( QS. Al-Kafirun(109):1-6).

151435Masjid Aya Sophia akan menyelenggarakan shalat Jumat perdananya pada Jumat pekan depan, yaitu 24 Juli 2020. Semoga Allah swt meridhoinya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin … ( Foto di upload pada 24 Juli 2020),

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 17 Juli 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Sejarah-Lahirnya-Kalender-Hijriyah(Arrahmah.com) – Kalender Hijriyah adalah identitas kaum Muslimin. Bulan-bulan yang kita kenal sekarang juga sudah dikenal oleh masayarakat Arab. Hanya saja mereka belum mengenal penahunan. Di masa itu, penamaan tahun bukan dengan angka. Tapi menggunakan peristiwa yang paling menonjol di tahun tersebut. Seperti tahun gajah. Karena diserangnya Ka’bah oleh pasukan gajah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa hilal, matahari, dan bulan adalah waktu untuk manusia. Seperti dalam firman-Nya,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” [Quran Al-Baqarah: 197]

Demikian juga firman-Nya,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Quran Yunus: 5].

Kemudian muncullah kebutuhan kaum muslimin akan adanya penamaan yang baku pada tahun. Penamaan yang urut sehingga memudahkan aktivitas dan muamalah yang mereka lakukan. Kebutuhan ini terasa begitu mendesak di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian ia memerintahkan untuk menyusun tahun hijriyah.

Sebelum Penyusunan

Perhitungan tahun yang hakiki adalah dimulai sejak Allah menciptakan langit, bumi, matahari, dan bulan. Tatkala Adam ‘alaihissalam turun dari surga. Kemudian lahirlah anak-anaknya, maka keturunannya menghitung waktu dari turunnya Adam tersebut. Perhitungan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nuh ‘alaihissalam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari diutusnya Nuh hingga banjir yang membuat bumi tenggelam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari topan hingga pembakaran Ibrahim ‘alaihissalam.

Saat anak keturunan Ismail sudah banyak, mereka bermigrasi ke berbagai wilayah. Mereka menyebar. Kemudian anak keturunan Ishaq membuat penanggalan dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim hingga diutusnya Yusuf. Dari diutusnya Yusuf sampai diutusnya Musa. Dari zaman diutusnya Nabi Musa hingga masa Nabi Sulaiman. Dari masa Sulaiman hingga Nabi Isa. Dari masa Nabi Isa hingga diutusnya Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnul Jauzi: al-Muntazham fi Tarikh al-Mulk wa-l Umam, Daru-l Kutubi-l Ilmiyah, 4/226-227).

Dulu, orang-orang Arab sebelum Islam, mereka menamai tahun dengan kejadian. Misalnya: Tahun Pembangunan Ka’bah, Tahun al-Fijar (terjadi Perang Fijar), Tahun Gajah, Tahun Sail al-Arim (Banjir Arim), dll. Kemudian setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan munculnya syiar Islam di Mekah kemudian hijrah ke Madinah, kaum muslimin memiliki penamaan tersendiri. Penamaan tersebut memiliki nama-nama yang khusus juga. Seperti: Tahun al-Khandaq, dimana terjadi Perang Khandaq. Tahun Kesedihan, karena terdapat peristiwa yang begitu membuat Rasulullah sedih. Yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun al-Wada’, tahun terjadinya haji al-wada’, Tahun ar-Ramadah (abu), karena kemarau yang panjang di tahun tersebut hingga tanah menjadi abu karena terbakar matahari. Ini terjadi di masa pemerintah Umar radhiallahu ‘anhu (Muhammad Shalih al-Munajid: Tafrigh Lihalaqat Barnamij al-Rashid, 12/54).

Yang Membuat Penanggalan Hijriyah

Tahun-tahun senantiasa disebut dengan peristiwanya hingga terjadi sesuatu di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Negeri-negeri banyak yang bergabung dengan Madinah. Muncullah kebutuhan untuk mengurutkan tahun. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Umar bin al-Khattab perihal utang-piutang. Ada seseorang yang berutang yang jatuh tempo di bulan Sya’ban. Karena ia belum membayar saat jatuh tempo tersebut, pihak pemberi utang melaporkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian Umar meresponnya dengan menanyakan bulan Sya’ban tahun kapan. Dari situlah akhirnya dirumuskan permasalahan penetapan tahun.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat dan berdiskusi dengan mereka. Kata Umar, “Tentukan sesuatu untuk masyarkat yang mereka bisa mengetahui waktu.” Ada yang mengatakan, “Tulislah dengan menggunakan penanggalan Romawi.” Pernyataan ini dikomentari, “Mereka itu membuat penanggalan sejak zaman Dzul Qarnain. Itu terlalu jauh masanya.”

Kemudian ada yang mengatakan, “Tulislah dengan penanggalan Persia.” Lalu ditanggapi, “Orang-orang Persia kalau berganti raja, maka warisan (kebijakan penguasa) sebelumnya ditinggalkan.” Kemudian para sahabat bersepakat untuk menghitung, “Berapa lamakah Rasulullah tinggal di Madinah?” Lamanya adalah 10 tahun. Lalu ditulislah penanggalan dengan menghitung sejak Rasulullah berhijrah.

Permasalahan berikutnya adalah tentang awal bulan dalam satu tahun tersebut. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, orang itu berkata, ‘Tetapkanlah penanggalan’. Umar berkata, ‘Penanggalan apa?’ Orang itu menjawab, ‘Sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang non Arab. Mereka menulis di bulan sekian pada tahun sekian’. Umar berkata, ‘Itu bagus. Tetapkanlah penanggalan’. Mereka berkata, ‘Dari bulan apa kita memulai?’ Ada yang mengatakan, ‘Bulan Ramadhan’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Dari bulan Muharram. Karena ini adalah waktu dimana orang-orang pulang dari haji. Itulah bulan Muharram’. Mereka pun menyepakatinya.” (ath-Thabari: Tarikh ar-Rusul wa-l Mulk. Cet. Ke-3 1387 H, 2/388-389).

Pada 20 Jumadil Akhiroh 17 tahun dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulailah penggungnaan penanggalan Islam, penanggalan hijriyah (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/227). Peristiwa ini bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Dan tahun ini disebut dengan tahun izin (Arab: سنة الإذن). Maksudnya diizinakannya Rasulullah dan para sahabatnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Digunakanlah penanggalan hijriyah dengan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam setahun. Penanggalan ini sudah dikenal oleh bangsa Arab. Karena mereka orang-orang Arab menentukan waktu dengan bulan. Hari pertama dimulai dengan masuknya waktu malam. Berbeda dengan kaum lainnya yang menentukan waktu dengan matahari (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/228).

Tahun hijriyah ini terdiri dari 12 bulan qamariyah. Jadi satu tahun hijriyah itu sama dengan 354 hari. Dan satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.

Mengapa Muharam?

Tentang awal bulan untuk tahun hijriyah, para sahabat mengajukan beberapa usulan kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ada yang mengusul bulan Sya’ban sebagai awal tahun. Ada yang mengajukan Ramadhan. Kemudian mengerucut ke pendapat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yaitu bulan Muharram. Dengan alasan karena di bulan ini jamaah haji pulang dan Muharram adalah bulan Allah. Ini alasan dari sisi syariat. Adapun dari sisi sosial-budaya, Muharam merupakan bulan yang dipilih oleh bangsa Arab untuk memulai tahun-tahun mereka sebelum Islam datang. Sehingga mereka telah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah Islam datang, Rasulullah mengukuhkannya dengan menyebut bulan ini syahrullah (bulan Allah).

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram. Dan tidak ada bulan setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah melebih bulan Muharram. Bulan ini dinamai dengan bulan Allah karena saking besar kemuliaannya (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan suci dalam Islam. Di bulan ini pula banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting dalam syariat maupun dalam sejarah.

Pertama: Penting Secara Syariat

Dianjurkannya Puasa 10 Muharram

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: “مَا هَذَا؟” قالوا: هذا يومٌ صَالِح، هذا يوم نجَّى الله بني إسرائيل من عدوِّهم فصامه موسى، قال:”فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharram). Beliau bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Lalu Musa pun berpuasa di hari tersebut’. Nabi berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian’. Rasulullah berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ash-Shaum 1900 dan Muslim dalam Kitab ash-Shiyam 1130)

Kedua: Peristiwa Penting dalam Catatan Sejarah

Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah yang terjadi di bulan Muharram adalah datangnya orang-orang Habasyah dengan pasukan gajah mereka di Kota Mekah. Mereka dipimpin oleh Abrahah al-Asyram dengan misi merobohkan Ka’bah. Di bulan ini juga kiblat kaum muslimin berpindah. Semula di Baitul Maqdis kemudian menuju Ka’bah. Perubahan ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Pada bulan Muharram ini pula, kaum muslimin di masa kekhalifahan Umar berhasil menguasai kota penting di Irak, Bashrah. Hal ini terjadi pada tahun 14 H. Kemudian pada tahun 20 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir dengan panglima mereka Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu. Kemudian bulan ini juga mencatat duka dengan syahidnya cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma, di Karbala (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Peristiwa-peristiwa lainnya juga yang disebut-sebut terjadi pada bulan ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dari banjir besar. Diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke langit keempat. Padamnya api Namrud di masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang lama berduka dipertemukan lagi dengan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihisslam. Diterimanya taubat Nabi Dawud ‘alaihissalam. Kemudian ia dijadikan pemimpin di bumi. Dikembalikannya kekuasaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya diselamatkan dari Firaun. Dan di bulan ini pula Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat ke langit (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

(fath/arrahmah.com)

Disalin dari: https://www.arrahmah.com/sejarah-lahirnya-kalender-hijriyah/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »