Feeds:
Posts
Comments

Beberapa hari belakangan ini berita mengenai Negara-negara Barat yang membuka pintunya bagi pengungsi Suriah menjadi head line sejumlah media nasional maupun internasional. Sebaliknya, media-media tersebut mempertanyakan dan mengecam dimana peran Negara-negara Timur Tengah, Arab Saudi, khususnya, yang dianggap tidak menerima satupun pengungsi.

Padahal sejak pecahnya konflik Suriah 4 tahun lalu, yaitu tahun 2011, Arab Saudi telah menerima 2.5 juta pengungsi Suriah. Tidak ada gembar gembor di media massa karena pemerintah setempat memang tidak merasa perlu publikasi. Para pengungsi bahkan diperlakukan bak si empunya tanah. Tidak hanya tempat tinggal yang disediakan namun juga pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan dll. Itu sebabnya  tidak terlihat adanya camp atau tenda pengungsi di Arab Saudi karena memang pemerintah ingin mengembalikan martabat para pengungsi Suriah sekaligus keamanan bagi mereka.  Persis yang dicontohkan kaum Anshor sebagai penduduk asli Madinah  ketika menerima kaum Muhajirin yang terpaksa berhijrah meninggalkan kota kelahiran mereka Mekah demi dapat menjalankan kepercayaan baru mereka, yaitu Islam. Masya Allah …

http://english.alarabiya.net/en/News/middle-east/2015/09/12/Saudi-official-we-received-2-5-mln-Syrians-since-conflict.html

Ironisnya, tidak hanya media Barat yang mempertanyakan hal tersebut, namun juga media-media dalam negri, terutama media sekuler yang telah lama jelas memperlihatkan kebencian terhadap Islam dan segala yang “ berbau” Arab.  Malah dengan teganya menyebar berita bahwa kabar Arab Saudi menerima para pengungsi hingga 2.5 juta orang adalah hoax.

Lebih parah lagi, mereka juga ikut mengipasi berita dari media Barat yang mempertanyakan adanya ribuan tenda Mina yang mubazir karena hanya digunakan sekali dalam setahun, yaitu ketika musim haji. Padahal ini justru menambah kepicikan mereka. Tak dapat dibayangkan bila kompleks tenda Mina digunakan oleh pengungsi, maka ketika musim haji tiba akan dikemanakan para tamu Allah yang susah payah datang dari penjuru dunia demi mecari ridho-Nya itu ??? Area Mina adalah area terbatas yang tidak mungkin dipindahkan, tanpa mabit ( menetap) di Mina, haji tidaklah sempurna.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (Terjemah QS. Al Hujurat(49):6).

Terkesan amat sangat kuat bahwasanya media-media sekuler tersebut ingin sekali,  secara membabi buta, menonjolkan kehebatan Barat. Meski harus diakui, bila kesediaan Barat, Jerman khususnya,  menerima para pengungsi semata berdasarkan kemanusiaan tanpa maksud buruk apapun, termasuk Kristenisasi yang sering mendapat sorotan namun belum terbukti, patut diacungi jempol.

Hal yang tak kalah pentingnya, mungkin ada baiknya bila kita mau melihat akar permasalahan sebenarnya. Pengungsian Suriah secara besar-besaran terjadi bukannya tanpa sebab.  Awal konflik Suriah yang terjadi pada tahun 2011 adalah bagian dari rentetan peristiwa Arab Spring. Secara sederhana Arab Spring adalah munculnya gelombang perlawanan rakyat atas nama demokrasi terhadap penguasa diktator yang telah puluhan tahun berkuasa.  Meski pada kenyataannya, jatuhnya rezim  diktator seperti di Mesir, Tunisia, Libia dan Irak hingga detik ini tidak melahirkan demokrasi seperti yang diinginkan rakyat. Padahal korban yang jatuh tidaklah sedikit, sementara ketidakstabilan politik dan kerusuhan terus saja terjadi. Diktator baru bahkan muncul kembali, namun kali ini yang pro Barat, tidak seperti sebelumnya, yang dikenal “ ngeyel”. Muammar Khadaffi, mantan pemimpin Libia, adalah contohnya.

Demonstrasi besar-besaran dan gelombang perlawanan rakyat di Negara-negara  Timur Tengah ini terjadi memang karena ada yang “mengipasi”. Dan siapa lagi sang pengipas kalau bukan Negara adi daya Amerika Serikat,  sahabat kental Israel, dan para sekutunya,  yang ingin menjadikan Negara-negara Islam mengalami ketidak stabilan hingga mudah di aneksasi. Minyak bumi dan sumber alam lainnya yang banyak terdapat di perut bumi Negara-negara tersebut adalah salah satu penyebabnya. Israel jelas mempunyai kepentingan yang paling banyak, termasuk jalur pipa air bersih yang sejak bertahun-tahun menjulur dari Turki melewati Negara-negara tertangga, Suriah diantaranya, yang pastinya perlu pengamanan ketat.

Suriah dibawah presiden  Basyar Ashad, yang Syiah, berkuasa sejak tahun 2000, mengalami hal yang sama. Terinspirasi Arab Spring, pada tahun 2011, rakyat Suriah yang mayoritas Sunni menuntut Ashad agar turun dari kursi kepresidenan. Namun demonstrasi damai tersebut dihadapi Ashad secara brutal dan sangat mengerikan.

Setiap hari kurban berjatuhan, tercatat  200 hingga 300 ribu orang tewas sejak Maret 2011. Sepertiga  di antaranya adalah warga sipil, lebih dari 10 ribu diantaranya adalah kanak-kanak, dan hampir 7 ribu kaum perempuan. Bahkan memasuki tahun kelima saja, sekitar 5 ribu orang telah tewas dalam waktu 5 minggu. Ashad dengan rezimnya yang didukung Iran yang sama-sama beraliran Syiah itu tak tanggung-tanggung menghadapi rakyatnya sendiri.  Pada bulan Agustus 2013 dengan teganya ia menggunakan senjata kimia untuk meredam pembrontakan yang makin meluas.  Jutaan penduduk mengalami luka-luka, hilang atau dipenjarakan,  13 ribu orang dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami penyiksaan berat di tahanan Negara dan puluhan juta penduduk  kehilangan tempat tinggal.

Namun demikian konflik di Suriah terjadi tidak hanya karena adanya pembrontakan rakyat. ISiS, organisasi raksasa militan bentukan Amerika (http://mirajnews.com/id/internasional/amerika/hillary-clinton-isis-produk-untuk-pecah-timteng/ )  yang mengatas namakan Islam memperparah keadaan. Ini masih ditambah lagi dengan adanya kelompok-kelompok kecil berbagai kepentingan lainnya.  Bahkan saat ini Rusiapun telah menerjunkan 1 juta pasukan terbaiknya  demi melindungi Ashad yang sudah kewalahan menghadapi krisis  negri yang sedang menuju kehancuran itu.  Tak heran bila kini separuh rakyatpun memilih mengungsi meninggalkan tanah air mereka.  Badan pengungsi PBB ( UNHCR) mencatat 4 juta rakyat Suriah telah menjadi pengungsi.  1.8 juta diantaranya telah ditampung di Turki,  1 juta di Libanon, 625 ribu di Yordania,  250 ribu di Irak dan 135 ribu di Mesir.  Ini belum termasuk yang ditampung di Arab Saudi karena UNHCR memang tidak mencatatnya, ntah sengaja atau memang tidak tahu.

Saat ini ribuan pengungsi Suriah berduyun-duyun menuju Jerman dengan berbagai cara. Jarak sepanjang 3725 km itu harus ditempuh 39 jam berkendaraan, atau 3500 km dalam 706 jam bila melalui rute pejalan kaki. Turki, Bulgaria, Serbia, Hungaria, Austria dan Ceska adalah negara-negara yang harus dilalui. Artinya bila satu Negara saja menutup perbatasannya maka tak satupun pengungsi bisa sampai ke tujuan. Padahal Hungaria dan Austria telah resmi mengumumkan menutup perbatasan mereka. Hungaria bahkan mengancam hukuman penjara bila para pengungsi kedapatan nekad menerobos perbatasan.  Pagar kawat berduri dan tentara disiagakan di semua titik perbatasan. Akibatnya ribuan pengungsi saat ini tertahan di stasiun kereta api Hungaria tidak bisa meneruskan perjalanan mereka. Lalu apa gunanya Jerman mengumbar pengumuman bersedia menerima pengungsi??

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/671272-ini-alasan-pengungsi-suriah-memilih-kabur-ke-jerman

Itupun belum tentu fasilitas yang disediakan memenuhi standard keperluan hidup pengungsi yang mayoritas Muslim itu. Makanan halal dan rumah ibadah contohnya. Maka tak salah bila Arab Saudi kemudian menawarkan pembangunan 200 masjid di kota-kota dimana pengungsi akan ditempatkan.  Menjadi pertanyaan besar, apa mungkin Jerman seperti juga negara-negara Barat lainnya,  yang selama ini dikenal sebagai Negara yang mengalami Islamphobia akut itu mau menerima  tawaran tersebut ??

http://news.fimadani.com/read/2015/09/21/arab-saudi-ingin-bantu-buat-200-masjid-untuk-pengungsi-suriah/

camp pengungsi Turki dan PerancisKalaupun mau, apakah fasilitas yang diberikan Barat yang kaya dan maju tersebut bisa mengalahkan apa yang disediakan Turki, misalnya. Satu hal yang tidak pernah di publikasikan media sekuler. Perancis jelas tidak, bisa dililhat perbandingannya dibawah ini.

http://mirajnews.com/id/artikel/feature/kota-tenda-turki-bahagiakan-pengungsi-suriah/

Pertanyaannya mengapa pengungsi Suriah begitu bersemangat memilih Jerman sebagai Negara tujuan. Tentu banyak alasannya, dengan berbagai resikonya. Namun apapun alasannya sebagai umat Islam kita harus yakin bahwa  skenario Sang Khalik pasti terjadi. Bahwa di akhir zaman Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia.  Begitupun yang telah diprediksi para pemerhati bahwa pada tahun 2050 Muslim akan menjadi mayoritas di Eropa meski orang Barat sangat membencinya.

” Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal”. ( Terjemah QS. An-Nahl(16):41-42).

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Fenomena menarik lainnya, penduduk Damaskus, ibukota Suriah, yang merupakan ibu kota kekhalifahan Islam di masa lalu, ternyata sejak lama telah dikenang sebagai penduduk yang ramah dan disukai.  Ibnu Battuta, penjelajah Muslim ternama Maroko yang pernah menginjakkan kakinya di Damaskus tidak mampu menyembunyikan kekagumannya menyaksikan kehidupan sosial masyarakatnya yang begitu  dermawan dan pemurah.

Semangat sosial masyarakat Damaskus begitu tinggi,” kisah Ibnu Battuta dalam catatan perjalanannya.

Masyarakat kota ini terbiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, diantaranya dalam mewakafkan tanahnya untuk sekolah, rumah sakit serta masjid. Sederet lembaga amal berdiri untuk meringankan beban orang-orang yang tak berpunya dan membutuhkan bantuan. Dengan bantuan lembaga-lembaga tersebut orang yang tidak mampu berhaji jadi bisa melaksanakan impian setiap Muslim itu.

Damaskus, kota dimana masjid putih berdiri, sebagai tempat dimana nabi Isa as akan turun di akhir zaman nanti, tercatat beberapa kali menjadi tujuan para pengungsi. Diantaranya para pengungsi asal Andalusia yang terusir dari  Spanyol, yaitu ketika Kristen menguasai tanah itu pada abad ke 12 M. Juga warga Iran dan Irak ketika bangsa Mongol menghancurkan tanah kelahiran mereka di abad berikutnya. Kemudian pada abad 16 sekali lagi menampung pengungsi dari Spanyol, baik Muslim maupun Yahudi. Damaskus memang terbuka bagi seluruh pemeluk agama. Tiga abad berselang, kota ini kembali menjadi tanah harapan bagi warga Kaukasus, Kurdi dan Turki dari ancaman tentara Rusia.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/07/10/m6y2z6-damaskus-kota-ilmu-dan-peradaban-1

Sungguh tak heran bila hari ini rakyat Suriah sedang menikmati buah perbuatan baik mereka, yaitu dengan ditrimanya mereka sebagai pengungsi di berbagai Negara belahan dunia. Semoga Allah swt segera membalas kebaikan mereka dengan segera dibebaskannya Suriah dari cengkeraman tangan-tangan kotor dan keji  Syiah, ISIS maupun Israel dan sekutunya, aamiin YRA.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” . (Terjemah QS. Al-Hujurat (49):13).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 September 2015.

Vien AM.

Hikmah Kurban

Hari Raya Haji yang merupakan hari raya kedua  setelah Iedul Fitri, sebentar lagi akan tiba. Inilah saatnya untuk berkurban bagi yang mampu membeli hewan ternak kurban tentunya.  Yaitu kambing, sapi atau unta yang harganya sudah pasti tidak murah itu. Namun tetap saja setiap kali tiba saatnya, umat Islam berbondong-bondong melakukan ritual potong kurban tersebut.   Muslim di Negara-negar Timur Tengah bahkan merayakan hari yang juga disebut Iedul Adha tersebut, lebih meriah daripada Iedul Fitri. Apa sebetulnya hikmah dibalik itu semua.

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):34).

Penyembelihan kurban adalah syariat yang usianya sudah amat tua, yaitu sejak zaman nabi Ibrahim as. Syariat ini pertama kali dimulai dengan turunnya perintah Allah swt kepada nabi Ibrahim as agar menyembelih  Ismail, satu-satunya putra beliau ketika itu. Perintah itu datang berupa mimpi sebagaimana tercermin pada terjemahan surat As-Shaffat ayat 102 – 110 dibawah ini.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi  balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.              

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim“. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dari ayat-ayat diatas dapat kita ketahui bahwa perintah Sang Khalik untuk menyembelih Ismail, putra Ibrahim as, sejatinya hanya untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat ketaatan Ibrahim kepada Tuhannya, Tuhan yang menciptakannya. Dan sebagai imbalan atas ketaatan keduanya, baik Ibrahim maupun Ismail maka Allah swt pun menggantikan Ismail dengan kambing sembelihan yang besar.  Maka sejak itulah penyembelihan kurbanpun menjadi syariat turun temurun, hingga ke umat nabi Muhammad saw detik ini.

Ada 3 macam faktor timbulnya ketaatan, yaitu rasa takut, rasa harap dan rasa syukur. Dan yang paling sempurna adalah ketika ketiganya ada menyatu di dalam jiwa seorang Mukmin.

Rasa takut atau khouf seorang Mukmin timbul karena ia tahu dan yakin akan adanya siksa, baik di dunia, alam kubur maupun di akhirat nanti.  Oleh karenanya ia berusaha sekuat mungkin agar tidak melanggar apa-apa yang dilarangnya.

Sedangkan rasa harap atau roja’ muncul karena ia tahu dibalik kerasnya siksa Allah ada rahmat-Nya. Yang dengan demikian ia akan berusaha sebanyak mungkin melakukan perbuatan baik. Perbuatan yang mendatangkan kasih sayang-Nya, agar Ia menjauhkan dirinya dari segala macam siksa.

Sementara itu rasa syukur, yang hanya mungkin timbul bila seseorang banyak merenung, memikirkan betapa banyaknya kenikmatan yang telah ia rasakan di dunia ini, akan menimbulkan keinginannya untuk selalu berusaha memenuhi keinginan-Nya. Dengan kata lain, ia ingin “ membalas” segala kebaikan-Nya, sesuatu yang tentu saja amat sangat mustahil. Hal yang perlu selalu diingat, kenikmatan tidak hanya dalam bentuk kekayaaan/harta benda namun juga nikmat sehat/bisa melihat/mendengar dll, ketenangan hidup dan yang puncaknya adalah nikmat Iman dan Islam.

Maka dengan adanya ke 3 unsur yang menyatu tersebut, lahirlah ketaatan. Yang dengan demikan seberat apapun perintah dan larangan-Nya ia akan berusaha memenuhinya. Contohnya yaitu tadi, nabi Ibrahim yang rela menyembelih putra satu-satunya yang bertahun-tahun lamanya ia tunggu kehadirannya. Juga ketabahan Ismail yang masih belia tapi memahami benar artinya pengorbanan.

Jadi sungguh sebenarnya tidak ada apa-apanya pengurbanan kita membeli seekor kambing atau bahkan seekor sapi, bila kita bandingkan dengan apa yang dikurbankan nabi besar Ibrahim as. Meskipun akhirnya Allah swt menggantinya dengan seekor kambing.

Namun kurban seberapapun besarnya bila tidak didasari atas ketaatan, tidak ada rasa takut, harap ataupun syukur kepada-Nya, tidaklah akan mendatangkan ridho-Nya. Sebaliknya kurban meski hanya seekor kambing kecil itupun untuk satu keluarga, bila dilandasi ketakwaan, ketundukan demi mencari ridho-Nya, akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka” ( Terjemah QS. Al-Hajj(22):35).

Meskipun besar tidaknya kurban sepatutnya tentu sesuai kemampuan, tidak melulu hanya atas dasar takwa. Seharusnya malu seseorang yang telah diberi harta melimpah ruah namun hanya berkurban sedikit, tidak sesuai dengan apa yang dimikilinya, yang diterimanya. Resesi ekonomi yang belakangan ini sedang terjadi bukan alasan untuk tidak menjalankan syariat mulia ini. Disinilah keyakinan kita diuji, bahwa apabila kita bersyukur pasti Allah akan menambah nikmat-Nya.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Terjemah QS. Ibrahim(14):7).

Disamping itu kurban juga memiliki hikmah lain, yaitu kepedulian sosial. Allah swt memerintahkan kita untuk menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi atau unta bukannya tanpa tujuan.  Hewan ternak yang dalam bahasa Arabnya adalah An’am artinya adalah yang diberi nikmat.

Ya hewan ternak terutama kambing, sapi dan unta, adalah hewan yang mempunyai kenikmatan yang amat banyak. Mulai dari fungsinya, kambing dan unta yang bisa dijadikan alat transportasi,  sapi sebagai bajak sawah, hingga manfaatnya; dari susu, daging, kulit hingga bulunya.  Rasanya tak satupun Negara di dunia ini yang tidak memanfaatkan ketiga hewan tersebut, ntah itu untuk dikonsumsi susu/dagingnya atau/dan diambil kulit serta bulunya.

Sungguh tak salah Sang Khalik memerintahkan kita untuk berkurban ketiga hewan tersebut. Setelah hewan disembelih dengan cara dan syarat-syarat yang telah ditentukan, daging, kulit serta bulunya dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang berkurban boleh ikut menikmatinya tapi tidak boleh lebih dari 1/ 3 bagiannya. Dengan demikian, secara zahir,  paling tidak ada 3 pihak yang diuntungkan pada hari kurban, yaitu si penjual hewan,  fakir miskin dan si pemberi kurban.

Jadi tidaklah benar persangkaan sebagian orang yang berpendapat bahwa kurban dalam Islam tidak ada bedanya dengan persembahan sesajian dalam agama lain. Kurban dalam Islam benar-benar untuk kemaslahatan umat, bahkan bukan hanya Muslim saja yang boleh menikmatinya.

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu” . (Terjemah QS. Al-An’am(6):136).

Maka alangkah anehnya bila saat ini ada Negara, contohnya Belgia, yang baru-baru ini mengeluarkan larangan berkurban bagi umat Islam. Apa alasannya? Bila cara penyembelihannya yang dipertanyakan, ketahuilah bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah mahluk Allah yang paling menyayangi mahluk ciptaan Allah, termasuk hewan.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan (tidak menyiksa) sesembelihannya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya didekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan, pen)?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (H.R. Ath Thabrani dengan sanad shahih)

Pengalaman pribadi kami dengan seorang sahabat non Muslim  yang asli Perancis, ia lebih senang membeli daging halal yang ada di kotanya. Alasannya, dagingnya lebih empuk dibanding daging standard yang dijual di kota tersebut. Tidak mengherankan bukan? Karena hewan yang dipotong secara syar’i memang  dalam keadaan santai alias tidak tegang hingga dagingnya lebih empuk dibanding yang tidak dipotong secara syar’ i.  Perumpamaannya, persis ketika seseorang akan diambil darahnya, si perawat pasti selalu mengingatkan agar kita tidak tegang, supaya darah lebih mudah diambil.

http://www.arrahmah.com/kajian-islam/jelang-idul-adha-4-syarat-syarat-penyembelihan-hewan-kurban.html

Mungkin yang masih harus menjadi PR bagi kita umat Islam, adalah penyelenggaraannya yang kadang kurang memperhatikan faktor kebersihan dan area pemotongan yang sering kali terkesan sembarangan.

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 7 September 2015.

Vien AM.

kisahmuallaf.com – Melekh Yacov lahir di New York. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi Hasidic, kelompok Yahudi ultra-ortodoks. Berbeda dengan penganut Hasidic lain, keluarga Yacov tergolong biasa-biasa saja dalam menjalankan keyakinannya.

“Kami tidak seperti itu, kami tetap beraktivitas ketika hari sabat. Saya juga tidak mengenakan yarmulke di kepala. Yang pasti, keluargaku lebih banyak dipengaruhi kehidupan sekuler,” kenang Yacov.

Semasa muda, Yacov merasa tidak seperti orang Yahudi. Ia tidak lagi mempedulikan hari sabat. Ia juga sering mengkonsumsi makanan non halal. Yacov sadar, dirinya tidak lagi mematuhi aturan. Saat itu ia berpikir, apa yang ia lakukan merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal semasa kecil, ia banyak mendengar cerita kisah para rabi seperti Eliezar, Baal Shem Tov dan Taurat.

Setiap cerita yang ia dengar menunjukan Yahudi sepanjang sejarah selalu ditindas. Selama itu pula, Tuhan bersama umatnya sampai akhir. “Bangsa kami selalu mendapat anugerah-Nya. Jika seseorang ingin memperoleh pandangan objektif tentang alasan orang Yahudi memiliki sikap zionis maka anda harus melihat bagaimana kami didoktrin sejak kecil. Itulah mengapa, kami seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun,” paparnya.

Yacov tahu betul bahwa orang Yahudi memiliki ikatan yang kuat satu dengan yang lain. Setiap orang Yahudi selalu memegang erat “umat pilihan” Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tapi ia tidak merasa nyaman dengan itu.

Ia masih ingat, betapa membosankannya saat ia diajak ayahnya mengunjungi sinagoga “Saya merasa aneh dengan melihat banyak orang bertopi hitam dengan janggut panjang lalu berdoa dengan bahasa Ibrani,” ucapnya.

Memasuki usia 13 tahun, Yacov menjalani proses khitan, atau dalam tradisi Yahudi disebut Bar-mitvahh’ed. Lalu, setiap paginya ia menempatkan Tefilin, kotak hitam berisi ayat Taurat.

Namun, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Awalnya, ayah Yacov bertengkar dengan anggota jamaah lain. Sejak itu, ayah menolak untuk mendatangi sinagoga.

Tak berselang lama, ayahnya memutuskan untuk memeluk agama Kristen. Putusan itu lantaran diajak temannya. Ibunya enggan menerima keputusan suaminya itu, dan akhirnya mengajukan cerai. Masa-masa ini merupakan yang terberat dalam hidup Yacov.

“Keputusan ayah banyak berpengaruh padaku. Saya sendiri bingung, sebenarnya apa Yahudi itu apakah bangsa, budaya atau agama. JIka bangsa, mengapa orang Yahudi selalu menjadi warga negara kelas dua. Jika agama, mengapa setiap doa dibacakan dalam bahasa Ibrani. Lalu jika budaya, jika seseorang berhenti menjadi Yahudi maka ia berhenti berbicara bahasa Ibrani dan mempraktekan tradisi Yahudi,”
tanya Yacov.

Pertanyaan lain yang mengemuka dalam pikiran Yacov adalah mengapa Ibrahim disebut Yahudi padahal ia hidup sebelum Taurat diturunkan kepada Nabi Musa. Anehnya lagi, Taurat tidak menyebutkan Nabi Ibrahim sebagai orang Yahudi. Kata Yahudi sendiri berasal dari nama salah satu dari 12 anak Nabi Yakub, yakni Yehuda.

“Dalam tradisi Yahudi sendiri, ketika ibunya seorang Yahudi, maka anda dapat menjadi orang Yahudi meski memeluk agama Kristen atau atheis. Sejak itu, saya mulai menjauh dari tradisi Yahudi, karena saya tidak puas lantaran terlalu banyak tanda tanya,” ujarnya.

Sejenak menjauh dari tradisi Yahudi, Yacov mulai terpesona dengan budaya asli Amerika. Mereka dinilai Yacov memiliki semangat juang tinggi menghadapi sikap jumawa kulit putih. Mereka terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Terkucil, namun tidak berputus asa dengan keadaan.

Kondisi itu, ditangkap Yacov, seperti apa yang dialami bangsa Palestina. Selama ribuan tahun, bangsa Palestina menempati tanah suci. Kini, mereka harus digantikan orang Yahudi.

Penduduk asli terpaksa tinggal di kamp pengungsi. “Lalu saya bertanya kepada orang tua tentang apa perbedaan warga asli Amerika dan Palestina. Jawaban yang saya dapatkan adalah bangsa Palestina selalu ingin membunuh orang Yahudi lalu mengusir mereka ke laut,” ungkapnya.

Namun, Yacov tidak begitu saja menerima jawaban itu. Menurut dia, orang Yahudilah yang membunuhi warga Palestina. Bagaimana bisa, orang Yahudi menyangkal pengusiran yang dilakukannya. “Mereka memprotes adanya pembantaian etnis. Tapi mereka sendiri melakukannya. Mereka berdalih hal itu dibenarkan dalam Taurat, tapi sebenarnya tidak seperti itu,” ucap Yacov.

Memasuki jenjang sekolah menengah, Yacov mulai tertarik mendalami filsafat. Ia menghabiskan waktu membaca karya pemikir-pemikir besar, seperti filsuf Yahudi Spinoza. Ia juga membaca karya Abram Leon, tokoh komunis Belgia, yang tewas di Aushwitz. Tak ketinggalan karya Karl Marx, Lenin, Stalin, Mao Zeding dan Leon Trotsky.

“Setiap kali saya membaca Marxisme, saya merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Kadang saya merasa telah menemukan jawabannya, namun sebenarnya tidak,” kenang dia.

Setelah bertemu semua kelompok kiri, Yacov tidak bisa seutuhnya menerima konsep atheisme. Ia percaya, ada tujuan akhir dalam hidup ini. Agama adalah alat untuk menjembatani antara kehidupan di dunia dan kehidupan lain sesudah kematian.

Di sisi lain, ia membenci aliran fundamentalis dalam agama. “Saya masih percaya adanya agama, tapi saya merasa skeptis dengan terhadap semua agama,” paparnya.

Kekosongan itu, secara perlahan mulai terisi. Ia tidak ingat, apa yang membuatnya tertarik dengan Islam. Namun, ia pernah mendengar ibunya bercerita tentang Islam, sosok Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam dari bangsa Arab.

“Saat itu saya melihat Islam hanya sebatas agama yang menyembah satu Tuhan. Tapi pandangan saya berubah, ketika sepupu saya (Chasid) mengatakan jika seorang Yahudi menjadi Muslim maka ia akan berbuat dosa. Saya sontak terkejut,” kenangnya.

Ketika tragedi 9/11, gerakan anti Islam tumbuh pesat. Awalnya, ia sadar ada sesuatu yang dilindungi. Hal itu yang membuatnya tertarik mengenal lebih dalam tentang Islam. “Saya bersyukur, tanpa mereka (media dan masyarakat), saya tidak akan mendalami Islam,” ucapnya.

Suatu hari, ia mendengar diskusi tentang fakta ilmiah dalam Injil. Sekelebat, ia bertanya, apakah Alquran memiliki fakta ilmiah didalamnya. Pertanyaan itu segera ia cari jawabannya. Ia gali informasi lewat internet. Butuh banyak artikel yang perlu ia baca guna menemukan jawaban itu. ia pun terkejut dengan apa yang ia baca.

“Al-Quran memiliki pesan moral yang luar biasa. Sangat menyenangkan ketika membacanya. Sekitar lima bulan mendalami Islam, akhirnya saya memutuskan menjadi Muslim, dan mengucapkan dua kalimat syadahat, Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Aku bersaksi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” kenang dia.

Tidak butuh waktu lama, bagi Yacov beradaptasi. Ia melihat Islam merupakan agama yang masuk akal. Islam membantunya memahami dunia. Satu hal yang ia yakini bahwa setiap agama pada dasarnya sama, tetapi telah dirusak oleh manusia dari waktu ke waktu.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebut Yahudi dan Kristen guna memberitahu umat manusia untuk menyembah-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya menyebut Islam, jelas dan sederhana.”
ujarnya penuh keyakinan.

Allahuakbar …

Jakarta, 3 September 2015.

Vien AM.

Dicopy dari : http://www.kisahmuallaf.com/melekh-yacov-yahudi-hasidic-yang-memeluk-islam/

Pada hari Minggu 16 Agustus 2015 lalu ratusan ribu umat Islam ibu kota dari berbagai ormas bersatu padu merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Sebagai tanda syukur atas keberhasilan bangsa Indonesia keluar dari penjajahan selama 3.5 abad tersebut umat Islam menggelar apa yang disebut  Parade Tauhid Indonesia. Parade ini digelar dengan long march bolak balik menyusuri rute  pintu 7 Senayan  hingga bundaran air mancur HI yang setiap Minggu pagi memang dicanangkan sebagai  Car Free Day.  Artinya jalur tersebut setiap hari tersebut memang bebas dari segala jenis kendaraan kecuali bus way yang mempunyai jalur tersendiri. Ini biasanya dimanfaatkan masyarakat ibu kota untuk berjalan kaki, lari pagi atau bersepeda santai.

Pada panggung utama pintu 7 tampak sejumlah ulama diantaranya, KH. Abdullah Syafi”i, KH. Cholil Ridwan, KH. Abu Jibriel, KH. Arifin Ilham, KH. Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Syiahb, KH. Muhammad al-Khathththath, Ustadz Edi Mulyadi dan Ustadz Haikal Hasan. Dari tempat tersebut, setelah mendengarkan tausiyah dari beberapa ulama yang hadir, paradepun dilepas oleh ustadz Fadzlan Garamatan. Selanjutnya dibawah pimpinan laskar FPI,  dengan mengusung  bentangan bendera sepanjang 3 km dengan tulisan kalimat tauhid di atasnya ( Laa ilah ill Allah yang artinya Tidak ada Tuhan selain Allah), peserta berjalan menuju bunderan HI.

-ribuan-warga-dari-sejumlah-ormas-islam-menggelar-parade-_150816144743-896parade tauhidTak ayal lagi pemandangan bak lautan putih yang merupakan “Dress Code “ peserta memenuhi jalan protokol ibu kota. Acara ini berlangsung tertib aman dan terkendali dari pukul 7 pagi hingga menjelang Zuhur. Berbagai spanduk berisikan pesan Islami terlihat bertebaran, seperti “ Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”, “ Tauhid itu beriman kepada qada dan qadar”, “ Tauhid itu memilih pemimpin ber-Tauhid”, “ Tolak Komunis dan Syiah di wilayah NKRI”, “ Nikah itu tidak sama dengan Mut’ah” dsb.

Acara ditutup dengan shalat Zuhur berjamaah di tempat acara dibuka, yaitu pintu 7 Senayan.   Selanjutnya ratusan relawan kebersihan yang memang sudah disiapkan sebelumnya dengan sigap membersihkan jalanan yang baru saja digunakan parade.

Pertanyaannya apa sebenarnya tujuan acara perayaan kemerdekaan yang tak seperti biasanya ini. Meski parade tauhid seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali diadakan, karena pada tanggal 15 Mei lalu Solo menyelenggarakan acara yang sama.

“Dengan semangat menyambut Ramadhan 1436 ini semoga acara Parade Tauhid ini menjadi ajang kembalinya Ummat Islam kepada fitrah mereka dan tauhid yang murni dan tegaknya kalimah Allah subhanahu wata’ala. Aammiin,” demikian ustadz Lim panggilan ustadz Abdul Rochim Baasyir, dari Dewan Syariah Kota Surakarta berpesan sebelum acara dimulai.

Berikut rekaman video penjelasan ustadz Haikal Hasan sebagai ketua Parade Tauhid Indonesia di Jakarta.

https://www.youtube.com/watch?v=_FXyDfpbYLc

Intinya tujuan parade Tauhid baik yang diselenggarakan di Solo maupun di Jakarta adalah sama, yaitu mengingatkan kembali perlunya persatuan dibawah panji Laa ilaha illaAllah. Karena memang yang menjadi awal kekuatan untuk keluar dari berabad-abad penjajahan kolonial Belanda dan Jepang adalah agar dapat bebas menjalankan kemurnian ibadah kepada Allah Yang Satu. Itu sebabnya mengapa gaung  “Allahuakbar “ yang artinya Allah Maha Besar, menjadi kalimat penyemangat ketika pertempuran sengit merebut kemerdekaan terjadi.

Ironisnya kalimat takbir yang terdengar begitu menakutkan telinga penjajah yang notabene kafir itu, belakangan mulai dicoba untuk dikecilkan dan dikucilkan. Ajaibnya lagi, hal ini dilakukan oleh sekelompok pihak yang mengaku Muslim,  dengan alasan mengganggu ketenangan lingkungan. Oleh karenanya hanya boleh dikumandangkan di lingkungan masjid, itupun tidak boleh sampai terdengar dari luar masjid. Na’ udzubillah min dzalik … Ini Indonesia lho yang mayoritas penduduknya Muslim, bukan Perancis atau Negara Barat lainnya dimana Muslim adalah minoritas. Apa yang terjadi dengan negri ini???

IMG-20150823-WA0005Bahkan belum lama ini pemerintah, kemendagri dalam hal ini, telah melontarkan ide Islam Nusantara dengan fiqih nusantaranya yang salah satunya menyatakan bahwa pemimpin tidak harus beragama Islam. Tampak bahwa pemerintah kurang peka terhadap rakyatnya. Karena ketika untuk pertama kali istana menyelenggarakan suatu acara dengan pembukaan pembacaan ayat suci dengan langgam Jawa, sebagian besar ulama telah memprotesnya. Namun ternyata inilah yang terjadi, pemikiran Islam Nusantara tetap direalisasikan. Tak tanggung-tanggung bahkan kemendagri telah resmi mengeluarkan ajakan siapapun yang berminat dipersilahkan mengirimkan tulisan/hasil karya yang mendukung ide tersebut dengan imbalan 50 juta rupiah !!IMG-20150823-WA0006 (2)

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya(isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya”.  Lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga sedikit. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan” .(Terjemah QS. Ali Imran(3):187).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Maidah(5):51).

Tampak jelas bahwa para pemimpin hari ini telah menyia-nyiakan amanah yang mereka pegang. Mereka telah memilah-milah ayat Al-Quran dan hadist demi kepentingan kelompok tertentu. Seperti juga yang dilakukan orang-orang Syiah dan JIL ( Jaringan Islam Liberal ) yang demi mencari muka dan simpati orang-orang kafir, berani menyatakan bahwa semua agama adalah benar, agama adalah urusan pribadi yang sifatnya ukhrawi maka harus dipisahkan dari urusan duniawi. Serta menakwilkan ayat-ayat sesuai kebutuhan mereka.

Disamping pentingnya rasa persatuan, parade Tauhid juga bertujuan menyadarkan kembali bahwa hidup ini senantiasa diawasi Sang Khalik, Allah swt, penguasa bumi dan langit, raja dari segala raja. Jangan lupa, sila pertama kita adalah Ketuhanan, yang berarti setiap warga negara baik Muslim maupun tidak, harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang dengan demikian maka seharusnya semua orang  Indonesia wajib takut berbuat kejahatan, salah satunya yaitu korupsi. Sebuah penyakit mental kronis yang tampaknya telah melanda hampir semua pejabat dan mantan pejabat di negri tercinta ini.  Padahal penyakit ini sejatinya lebih parah dari “ sekedar” makan babi, karena bagaimanapun perbuatan ini masih bisa dimaafkan dalam keadaan amat sangat terpaksa. Tapi tidak demikian dengan korupsi. Karena perbuatan memakan hak orang lain itu haram hukumnya tanpa ada kekecualian.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . ( Terjemah QS. An-Nahl(16):115).

Yang juga tak kalah pentingnya, parade Tauhid sebenarnya juga adalah ajang unjuk kekuatan demi menjaga jalannya pemerintahan yang baik. Ini penting, agar para pemimpin tidak seenaknya saja mengelola Negara. Mereka harus ingat dan menyadari bahwa mereka dipilih dan diangkat oleh rakyat, dengan tujuan untuk melindungi rakyat, menjaga kepentingan rakyat agar seluruh rakyat dan bangsa ini dapat hidup tenang, aman, makmur dan  sejahtera. Hingga dengan demikian dapat beribadah kepada Tuhannya dengan tenang.

“ Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Terjemah QS. Az-Zariyat(56):51).

Parade unjuk kekuatan seperti ini pernah dilakukan Rasulullah dan pasukannya ketika memasuki Mekah yaitu pada Fathu Makkah atau penaklukan Mekah . Waktu itu Mekah masih dikuasai Musryikin Quraisy. Sementara Islam di Madinah telah berhasil menaklukan hati banyak orang. Mekah harus dikuasai karena disinilah Kabah berada  dan di kota ini pula ayat suci Al-Quranul Karim turun untuk pertama kalinya. Disamping Mekah memang adalah kota kelahiran kaum  Muhajirin dimana mereka harus berhijrah ke Madinah meninggalkan sanak saudara dan perniagaan mereka demi dapat menjalankan agama barunya itu, yaitu Islam.

Namun demikian Rasulullah ingin agar korban jatuh sesedikit mungkin. Beliau tidak ingin perang saudara terjadi  di kota suci ini, kecuali terpaksa. Sementara itu sehari sebelum hari penaklukan, Abu Sufyan, pemimpin Quraisy Mekah,  telah masuk Islam walaupun secara paksa. Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah sekaligus sahabat Abu Sufyan yang memaksanya masuk Islam. Ini ia lakukan  karena ia tahu sebenarnya Abu Sufyan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang sesungguhnya dan Muhammad adalah Rasul-Nya.  Namun karena gengsi dan kebiasaannya yang gila hormat dan kebesaran ia masih ragu untuk bersyahadat. Ia khawatir ditinggalkan masyarakat dan pendukungnya.

Untuk itulah maka Rasulullah memutuskan untuk memasuki Mekah dengan segenap atribut kebesaran dan kemegahannya. Rasulullah datang dengan membawa 100 ribu pasukannya.  Tujuan tak lain agar Abu Sufyan, benar-benar takluk dan hatinya mantab  memeluk Islam.  Hingga dengan demikian ia dapat mempengaruhi penduduk Mekah agar mau menerima Islam tanpa banyak perlawanan.  Hingga dengan demikian tidak perlu terjadi pertumpahan darah.

“ Selamatkanlah kaummu !”, ujar Abu Sufyan yang memasuki Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Begitulah, ternyata strategi yang digunakan Rasulullah ini benar-benar berhasil. Mekkah segera takluk tanpa perlawanan kecuali sedikit. Seluruh penduduknyapun lalu bersyahadat.  Di kemudian hari,  Abu Sufyan sendiri berhasil membuktikan keseriusannya dalam ber-Islam. Ia tercatat telah ikut berperang beberapa kali bersama pasukan Islam. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia bahkan kehilangan salah satu matanya.

( Baca:  http://vienmuhadisbooks.com/2011/05/27/xxv-penaklukkan-mekah-fathu-makkah-1/ ).

Dengan mengambil hikmah peristiwa diatas itulah panitia penyelenggara ingin menyentil kaum Muslimin terutama yang kurang PD atas ke-Islam-annya seperti Abu Sufyan di awal ke-Islam-annya. Untuk menunjukkan betapa Islam adalah ajaran yang sempurna. Bahwa Islam bukanlah agama teror seperti yang dituduhkan Barat selama ini. Bahkan banyak sekali aturan dan hukum Islam bila diterapkan dengan baik pasti dapat mengeluarkan bangsa ini dari segala kesulitan.

Islam menawarkan berbagai solusi, diantaranya bagaimana mengatasi kemiskinan di negri yang dianugerahi kekayaan alam tak terhingga ini. Pemberdayaan zakat umat Muslim yang merupakan 87 % penduduk Indonesia adalah salah satu contohnya.  Bila zakat sebesar 2.5 % per  wajib zakat ini bisa dikelola pemerintah dengan baik, dapat dipastikan Indonesia tidak perlu harus berhutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, ADB dll yang pasti memiliki kepentingan tertentu dan membuat bangsa ini sulit menentukan masa depan sendiri.  Tidak perlu bangsa ini merengek minta dibelas-kasihani bangsa lain dan merendahkan harga diri bangsa. Apalagi hingga menjual keimanan.

Baitul Maal, yang bisa disamakan dengan Lembaga Keuangan Negara saat ini, telah diterapkan sejak awal Rasulullah menjadi pemimpin di Madinah.  Rasulullah mengangkat secara langsung petugas yang harus memungut zakat sekaligus mendistribusikannya kepada yang berhak. Para petugas ini dibekali dengan petunjuk tehnis operasional, bimbingan sekaligus ancaman sanksi agar zakat dapat dikelola dengan sebaik-baiknya.  Muadz bin Jabal adalah salah satu petugas yang ditunjuk Rasulullah untuk mengurusi zakat di Yaman.

Begitu pula di zaman Khalifatul Rasyidin. Baik Abu Bakar, Umar, Ustman maupun Ali menerapkan sistim yang sama. Baitul maal bukan hanya sekedar mengurusi zakat, tapi juga sebagai lembaga keuangan Negara yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk kepentingan umum. Seperti rumah sakit umum, sekolah, perumahan rakyat dan lain-lain. Dan ini semua hanya dapat terlaksana ketika setiap orang sadar harus menjalankan Islam dengan iman dan ihsan, secara kaffah/menyeluruh, tidak setengah-setengah.

Termasuk didalamnya menerapkan toleransi terhadap umat beragama lain. Ketika itu umat Yahudi dan Nasrani diberi kebebasan menjalankan agama masing-masing, selama mereka mau tunduk kepada negara. Dan  sebagaimana umat Islam yang wajib membayar zakat, mereka juga dikenai pajak yang disebut jiziyah. Bersama mereka membangun Negara.  Inilah kunci keberhasilan dan kejayaan Islam di masa lalu.

Ini baru zakat belum lagi infak sodaqoh serta wakaf yang jumahnya juga pasti sangat besar. Malaysia dan Brunei Darusalam adalah contoh 2 negara tetangga yang sukses menjadikan negaranya kaya berkat sistim ini.

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 25 Agustus 2015.

Vien AM.

Dasyatnya Kekuatan Syukur

Tentu kita sering sekali mendengar orang berkata “Alhamdulillah”, bahkan oleh non Muslim sekalipun.  Biasanya kata-kata ini diucapkan oleh seseorang yang hatinya sedang berbunga-bunga, senang dan bahagia, dengan alasan yang bermacam-macam. Ada yang karena hari itu lulus ujian, ada yang baru keluar dari rumah sakit, ada yang baru mendapatkan keturunan, ada yang karena proyeknya berhasil dan lain sebagainya.  Intinya bersyukur atas kesehatan, keberhasilan dan kebahagiaan yang diterimanya hari itu.

Pertanyaannya sudah benar dan cukupkah perkataan “Alhamdulillah” itu mewakili rasa syukur kita ? Karena syukur sebenarnya tidak hanya ketika kita sedang bahagia saja. Lebih dari itu syukur yang benar seharusnya tidak hanya sekedar ucapan di mulut saja, namun juga terungkap di hati dan prilaku.

Alangkah tepatnya tausiyah yang disampaikan seorang uztad beberapa waktu lalu, yaitu beruntunglah orang yang selalu melihat ke bawah untuk mengukur ke-dunia-annya, sebaliknya melihat ke atas untuk mengukur ke-akhirat-annya.

Artinya, ketika ia melihat urusan dunianya, seperti rezekinya, kesehatannya, kecantikannya dll, ia selalu membandingkan dengan orang yang berada di bawahnya. Yang dengan demikian ia akan selalu mensyukuri apa yang ada padanya. Karena ternyata ia lebih baik dan beruntung dibanding mereka yang sedang kesulitan.

Tetapi ketika ia melihat urusan akhiratnya, misalnya akhlaknya, kesholehan dan ibadahnya, seperti shalatnya, puasanya, zakatnya dll, ia selalu berkaca ke atas, kepada orang-orang yang lebih baik, yang lebih takwa dari dirinya. Hingga dengan demikan ia akan selalu terpacu untuk berusaha memperbaiki dirinya.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Terjemah QS. Al-Ashr (103):2-3).

Jadi jelas, syukur bagi seorang Muslim bukan hanya ketika ia sedang diuji dengan kesenangan dan kenikmatan. Melainkan juga mereka yang sedang mengalami kesulitan, tapi tetap bersyukur, tenang dan bersabar.

Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan, dia bersabar”. (HR.Ahmad)

Sayangnya, seringkali orang berpikir bahwa nikmat itu adalah harta benda. Padahal bila kita mau merenung sejenak, sungguh betapa banyaknya nikmat Allah itu.  Bayangkan bila Sang Khalik 10 menit saja menyetop udara yang biasa kita hirup. Darimana kita akan memperoleh penggantinya?? Bagaimana pula bila Allah mencabut penglihatan atau pendengaran kita. Belum lagi jantung, hati, ginjal  dan segala organ tubuh kita lainnya yang terdiri atas milyaran sel, yang bekerja, tanpa kita menyadarinya, sepanjang hari, malam, bulan, tahun selama kita ini masih diberi-Nya hidup.

“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Terjemah QS. Al-Waqiyah(56):68-70).

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya“. (Terjemah QS.Al-Qashash):28:71-73).

Maka bila orang yang hidup dalam kekurangan, miskin, tubuh yang tidak normal, sakit parah, tidak punya keturunan, hidup dalam peperangan/terdzalimi saja masih bisa bersyukur, apalagi orang yang hidup bahagia sehat tenang sejahtera di tengah keluarga yang berkecukupan. Ya Allah jangankan Kau biarkan kami menghabiskan umur ini dengan perbuatan yang sia-sia.

Namun diatas semua itu, sesungguhnya nikmat  paling besar yang diberikan kepada seorang hamba adalah nikmat iman dan islam. Karena dengan keduanya inilah kita jadi mengenal Tuhannya, Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta, Pemilik Alam Semesta. Tuhan Yang Satu Yang Tidak Beranak dan Tidak pula Diperanakkan, Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Pemberi Kehidupan, Yang Adil Yang Maha Bijaksana Pemberi Ampunan dan Taubat.

Dari situ maka lahirlah kekuatan syukur yang maha dasyat. Kekuatan yang mampu melahirkan ketundukan, kepasrahan, rela, ridho untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan betapapun beratnya perintah dan larangan tersebut.

Jadi tidaklah mengherankan bila di belahan bumi ujung sana ada saja kaum Muslimin yang tetap istiqomah menjalankan puasa yang ketika jatuh pada musim panas bisa lebih dari 20 jam, atau Muslimah yang tetap istiqomah mengenakan hijab meski setiap hari dicemooh lingkungan yang tidak mau menerimanya, atau seorang Muslimin  yang istiqamah berjalan menuju masjid di pagi buta yang dingin demi mengerjakan Subuh berjamaah, atau Muslimin yang pergi berjihad mengangkat senjata demi membantu saudara-saudaranya yang terzalimi di Palestina atau Suriah dll, atau juga kaum Muslimin yang tetap berusaha menjalankan berbagai amal ibadah meski negara tempat ia tinggal melarangnya dan bahkan mereka dimata-matai. Allahuakbar .. itulah buah kekuatan syukur yang sungguh dasyat …

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):7).

“Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah berdoa”. (HR.Ath-Thabrani)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Agustus 2015.

Vien AM.

Tragedi Tolikara

Tolikara, sebuah kabupaten di propinsi ujung timur sana tiba-tiba namanya mencuat. Distrik subur yang terletak di Papua bagian tengah dan terdiri atas 4 kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.234 km2 dan penduduk sebanyak 54.821 jiwa (2003). Ibukota Tolikara terletak di Karubaga. Tolikara mempunyai 2 bandara yaitu di Karubaga dan Kanggime. Selain ke dua kota tersebut wilayah ini sangat sulit dijangkau baik melalui darat maupun udara. Dari udara,  Karubaga dan Kanggime dapat ditempuh dalam waktu 20  menit melalui Wamena.

Berita dari Tolikara datang karena adanya penyerangan terhadap jamaah yang sedang melakukan shalat Ied di halaman Koramil 1702 / JWY tepat pada hari Raya Iedul Fitri 1436 H yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli lalu. Saat itu imam sedang mengucapkan takbir pertama ketika tiba-tiba sekelompok orang mendekati jamaah sambil berteriak-teriak dan melempari jamaah dengan batu.

Jamaahpun segera bubar ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri ke markas Koramil. Namun tak lama kemudian terlihat asap api membumbung tinggi. Rupanya sejumlah rumah milik kaum Muslimin,  pasar dan masjid yang terletak tak jauh dari lokasi telah habis dilalap api.

masjid Tolikara dibakar saat solat iedul fitriApa yang sebenarnya terjadi??? Berita yang kemudian muncul terlihat simpang siur dan berubah-rubah. Metro tv yang tercatat melaporkan berita paling awal, yaitu tak sampai 1 jam setelah tragedi, juga segera meralat berita yang disebarkannya sendiri. Tampak jelas bahwa kantor-kantor berita sekuler ( baca : pro non Muslim ) seperti Metro tv, Kompas dan Tempo tidak ingin memberikan kesan bahwa umat Islam adalah pihak yang dirugikan. Meski jelas terbukti kegiatan shalat Ied telah terganggu bahkan masjid, sejumlah kios dan puluhan rumah penduduk Muslim telah hangus terbakar!

Dengan teganya mereka meralat bahwa yang terbakar bukan masjid melainkan “hanya”musola, itupun karena terkena imbas api yang membakar deretan kios dan rumah penduduk. Ini masih ditambah pernyataan bahwa itu semua terjadi gara-gara pasukan keamanan yang tidak dapat mengatasi massa yang berusaha berkomunikasi mencegah dilaksanakannya shalat Ied, hingga menyebabkan adanya yang tertembak dan akhirnya membuat mereka mengamuk. ???

Belum lagi pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa pengeras suara masjid adalah biang keladinya, karena telah mengganggu mayoritas penduduk yang memang non Muslim itu. Padahal kenyataan di lapangan mengatakan bahwa umat Islam di Tolikara sejak dulu tidak pernah menggunakan pengeras suara. Kapolres Tolikara AKBP Suroso yang ikut shalat Ied ketika kejadian adalah salah satu saksi yang mengatakan tidak ada speaker saat pelaksanaan shalat tersebut.

Tolikara1Bahkan ketika terdapat laporan bahwa di Tolikara bendera dan lambang Israel banyak ditemui di wilayah tersebut dengan ringannya Tedjo Edy, menko polhukam meminta semua pihak tidak mempersoalkan hal tersebut. Mungkin pak mentri lupa bahwa Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik  dengan negara Zionis tersebut, karena tidak sesuai dengan UUD kita. Lebih-lebih lagi yang dijajah adalah Palestina yang tidak dapat dipungkiri mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dengan rakyat Indonesia yang mayoritas adalah Muslim.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” (Pembukaan UUD 1945)

“Memang mereka mengundang, ya kayak kita mengundang dari Arab, dari mana, ya sama saja, dibagi undangan. Tapi yg saya dengar ya itu penggeraknya orang-orang kita juga, dibagi undangan,” pungkas dia. Ntah apa alasannya harus membandingkannya dengan orang Arab.

( http://www.merdeka.com/peristiwa/menko-polhukam-minta-bendera-israel-ada-di-tolikara-tak-dipersoalkan.html ).

(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/24/nrz2yy257-gidi-denda-warga-yang-tak-mengecat-rumah-dengan-warna-israel ).

( http://www.dakta.com/news/2039/ada-apa-hubungan-gidi-dengan-israel ).

Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sejumlah ulama yang peduli akan hal tersebut segera membentuk tim pencari fakta dengan nama  Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT). Komite yang diketuai uztad Bachtiar Nasir ini pada hari Selasa (21/7/2015) memberangkatkan tim penyidik langsung ke lokasi. Tim kecil dibawah pimpinan uztad  Fazdlan Garamatan, yang merupakan putra asli Papua ini datang ke lokasi bersama 7 anggota tim dari berbagai latar belakang ilmu. KOMAT mendesak TNI dan Polri untuk menindak unsur-unsur dan atribut yang mengarah pada keterlibatan pihak asing yang tidak bertanggungjawab. Berikut 7 poin pernyataan sikap KOMAT:

http://www.jurnalislam.com/nasional/read/695/pernyataan-sikap-komite-umat-untuk-tolikara.html

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI ( Gereka Injil Di Indonesia) di Jayapura, disebutkan jelas bahwa pada 15 Juli-19 Juli GIDI akan menyelenggarakan seminar dan KKR ( Kebaktian Kebangunan Rohani) Internasional DIGI di Kaburaga kabupaten Tolikara. Acara ini akan dihadiri pendeta asal Israel bernama Benjamin Berger. Maka demi suksesnya perhelatan akbar tersebut dikeluarkanlah surat edaran Badan Pekerja Wilayah Toli Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), dengan nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015. Surat edaran tersebut antara lain melarang umat Islam melakukan shalat Ied yang jatuh di antara hari-hari acara, yaitu Jumat tanggal 17 Juli di wilayah mereka. Ini masih ditambah lagi dengan pelarangan pemakaian jilbab pada tanggal-tanggal tersebut!

Untuk diketahui bupati Tolikara, Usman Wanimbo menyatakan Tolikara adalah rumah GIDI berkat adanya perda yang telah disahkan DPRD pada tahun 2013. Jadi menurutnya sah-sah saja bila wilayahnya itu melarang rumah  ibadah lain termasuk gereja selain milik GIDI. Musola ada karena sebelum itu memang sudah ada, ujarnya. Usman sendiri menjabat sebagai bupati Tolikara sejak 10 Juli 2012

(http://www.dakwatuna.com/2015/07/22/71924/benarkah-ada-perda-atur-hanya-gereja-gidi-yang-boleh-berdiri-di-tolikara/#axzz3hA1S0MEI ).

Sementara itu kapolri jenderal polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa pertemuan internasional yang diselenggarakan GIDI di Tolikara bermasalah. Karena acara internasional yang mengundang orang asing itu tidak mengajukan izin ke Mabes Polri.

Pada Rabu, 22 Juli 2015 di Jakarta, Badrodin juga memastikan bahwa surat edaran yang diterbitkan GIDI tersebut asli, dan tengah dikoordinasikan agar segera dicabut.

( http://www.atjehcyber.net/2015/07/kapolri-surat-edaran-gidi-di-tolikara.html?m=1 ).

Ia menjelaskan, ketika surat edaran itu diterima oleh kapolres Tolikara, kapolres langsung berkoordinasi dengan presiden GIDI dan bupati Tolikara yang tengah berada di Jakarta. Bupati kemudian berkoordinasi langsung dengan panitia di Tolikara dan meminta agar surat tersebut dicabut.

“Kemarin saya cek, memang penjelasan dari pendeta yang menandatangani, surat itu sudah dicabut. Tapi, sampai kejadian itu, kapolres belum menerima (surat) tertulisnya,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu ada sumber yang mengatakan bahwa OPM ( Organisasi Papua Merdeka) terlibat  pada kerusuhan Tolikara. Referendum yang kabarnya pernah dilontarkan Jokowi adalah salah satu pemicunya.

http://berita-nasional-aktual.blogspot.com/2015/07/isu-jokowi-janjikan-referendum-papua.html

“Pak Jokowi memang banyak memberikan janji yang tidak dipenuhinya. Tapi isu janji untuk referendum bagi Papua, ini saya kira sudah kelewatan. Karena itu Jokowi harus segera menyikapinya karena ini masalah yang sangat penting dan bukan sekedar janji kampanye biasa,” ujar pakar Hukum Tata Negara Margarito, Kamis (23/7).

Menurut Margarito, isu ini kembali muncul dikaitkan dengan terus bergejolaknya Papua. Padahal ujarnya, isu ini sudah lama beredar sejak kampanye Pilpres 2014 lalu dan kembali hangat dibicarakan karena insiden Tolikara.

Selanjutnya setelah melakukan penelusuran, Tim Pencari Fakta (TPF) KOMAT berkesimpulan bahwa insiden yang terjadi di Tolikara bukanlah kriminal biasa. Bahkan ada indikasi bahwa  korban yang meninggal tertembak kabarnya terjadi sebelum aparat memberikan tembakan peringatan kepada massa yang jumlahnya makin menggurita hingga 3000 orang.

 “Insiden Tolikara sama sekali bukan kasus kriminal biasa. Dan bukan kasus spontanitas. Namun ditengarai ada upaya untuk menciptakan dan mengusik kehidupan beragama secara sistematis. Faktanya massa yang mengepung jamaah shalat Ied berasal dari tiga titik, dan ada suara-suara yang mengomando penyerangan,” jelas Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan saat jumpa pers di Jakarta, pada Jumat (31/07/2015).

http://nasional.kompas.com/read/2015/07/22/19264031/Komite.Umat.untuk.Tolikara.Tak.Ada.Sejarahnya.Orang.Papua.Perang.karena.Agama

Di samping itu, Komat juga berkesimpulan bahwa presiden GIDI patut menjadi tersangka. Sebab ia tidak mengindahkan serta abai terhadap peringatan yang telah diberikan Kapolres hingga mengakibatkan insidenpun terjadi.

http://www.arrahmah.com/news/2015/07/31/tpf-tragedi-tolikara-termasuk-pelanggaran-ham-berat.html

Akhirnya, TPF menyimpulkan dengan yakin tanpa keraguan bahwasanya GIDI adalah teroris Zionis yang bukan hanya menistakan Islam, namun ia juga telah menistakan Kristen, bahkan menistakan seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwa GIDI adalah teroris Zionis internasional yang sangat berbahaya.

Namun dibalik itu semua ada hikmah yang lebih penting dari segalanya, diantaranya yaitu dibangunnya sebuah masjid yang sejatinya ingin dilarang di Tolikara. Terlebih lagi masjid itu bukan masjid seadanya seperti yang telah dibakar sebelumnya melainkan masjid besar dengan fondasi yang kokoh. Dan ini semua berkat partisipasi sebagian besar umat Muslim di Indonesia. Yang kedua bahwa sejak lama Islam telah tersebar di bumi Cendrawasih, Papua. Bahkan uztad Fadzlan memperkirakan tidak kurang dari 40 % penduduk Papua saat ini adalah Muslim.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(Terjemah QS. Ali Imran(3):54).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian lakukan akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Akhir kata, semoga pemerintah mau mendengar dan menindak-lanjuti temuan berharga di atas. Karena ada kabar tokoh agama Islam di kabupaten Tolikara yaitu uztad Ali Muchtar sepakat agar penyelesaian masalah di Tolikara diselesaikan secara adat. Ia meminta agar proses hukum yang sedang ditangani pemerintah dihentikan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/07/30/nsax45354-proses-hukum-insiden-tolikara-minta-dihentikan-ini-jawaban-polda-papua

Berikut sebuah pesan dari Buya Gusrizal Gazahar yang sangat baik untuk kita renungkan.

“Bukan Pemimpin Umat dan Bukan Pula Pemimpin Bangsa”

(Pesan dari Ranah Minang Untuk Penguasa Negeri)

Toleransi yang tuan-tuan minta, telah diberikan oleh umat Islam dalam kurun waktu yang begitu lama.

Tak pernah terhambat lonceng gereja berbunyi di tengah mayoritas negeri ini.

Tak pernah terhalang hio terbakar walaupun dilakukan oleh mereka yang minoritas.

Kalau ada insiden yang terjadi di tengah mayoritas negeri ini, cobalah telusuri akar permasalahannya !

Ketika berbagai aturan diterabas dan mereka masuk ke jantung umat Islam dengan kepalsuan dan kebohongan untuk melakukan pemurtadan, reaksi umat yang tersinggung tak pernah melampaui batas melainkan setelah didiamkan tanpa mendapatkan keadilan.

Para penganut ajaran sesat SEPILIS dan lainnnya bisa saja melemparkan tuduhan berbungkus kalimat “berkaca diri” kepada umat Islam.

Tanpa peduli fakta di lapangan, mereka menyalahkan mayoritas sesuai “tradisi nusantara mereka” selama ini.

Namun kami tak akan bergeming dari prinsip karena mereka adalah agen-agen yang melacurkan diri demi kenikmatan duniawi.

( Baca lengkap :

https://www.facebook.com/permalink.php?id=347742858765176&story_fbid=395357670670361 ).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 4 Agustus 2015.

Vien AM.