Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2009

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS.Al-Ahzab(33):21).

Sungguh beruntung kita, kaum Muslimin, karena Allah SWT telah menganugerahkan kita suatu buku petunjuk, yaitu Kitabullah, Al-Quranul-Karim. Kitab ini adalah kumpulan wahyu yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril selama kurun waktu 23 tahun kepada nabi-Nya yang ummi, Muhammad SAW. Rasulullah ummi yaitu tidak mengenal dan tidak pernah belajar membaca dan menulis karena memang kondisi saat itu tidak begitu memerlukan kepandaian baca-tulis.

Namun demikian beliau adalah seorang yang amat bijaksana. Beliau adalah seorang yang dikenal luas sebagai seorang yang ber-akhlak mulia sejak jauh sebelum era kerasulan. Beliau adalah seorang yang amat bersahaja juga rendah hati. Sejak muda masyarakat sekitarnya telah sering menitipkan amanah kepada beliau karena mereka amat mempercayainya. Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali.

Pemugaran ke 4 terjadi ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Rasulullah, beliau turut bekerja membantu paman beliau, Al Abbas bin Abdul–Mutthalib. Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut. Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, dialah yang berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Rasulullah berjalan menuju pintu Ka’bah. Serentak merekapun berucap : “ Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Kemudian setelah Rasulullah mengetahui duduk perkaranya, maka beliaupun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan beliau meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut. Kemudian beliau berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian beliau mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Sifat amanah ini pula yang menjadi daya tarik utama bagi Khadijah ra, istri sekaligus orang pertama yang mengakui ke-rasulan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Khadijah sebagai seorang saudagar sedang memerlukan seseorang yang dapat dipercaya membawa barang dagangan untuk dibawa ke negeri Syam. Beliau memang telah lama mendengar bahwa ada seorang pemuda Mekah yang dijuluki Al-Amin. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar As Sidik ra, sang Khulafaul Rashidin I. Sejak kecil Abu Bakar telah menjalin persahabatan dengan Muhammad kecil. Ia mengenalnya dengan amat baik.

Itulah sebabnya ketika sebagian besar orang Quraisy menyangsingkan kebenaran berita Rasulullah mengenai Isra’nya ke Yerusalem sekaligus Miraj’nya ke langit, Abu Bakar ra hanya berkomentar : “ Bahkan yang lebih dasyat dari itupun aku pasti mempercayainya “. Ini merupakan sebuah tanda bahwa sejak kecil Muhammad SAW tidak pernah berbohong. Keimanan yang demikian tingginya ini pulalah yang menyebabkan Abu Bakar ra mendapat kedudukan yang tinggi baik disisi Allah SWT maupun disisi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda bahwa Abu Bakar adalah satu diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Akhlak mulia tersebut tidak berubah sedikitpun walaupun beliau kemudian menjadi seorang pemimpin agung yang memiliki pengikut amat banyak dari berbagai kalangan dan lapisan. Anas bin Malik RA berkata : Para sahabat yang akan berdiri menyambut kedatangan Rasululllah, tidak jadi berdiri ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu”. Padahal bila beliau menghendaki apapun dapat beliau dapatkan.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itulah yang diucapkan Muhammad Rasulullah ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena sang paman merasa tak mampu terus melindungi keponakan tercinta karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan kokohnya pendirian dan ketakwaan beliau demi terus melanjutkan perintah Allah SWT.

Beliau juga adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

Beliau juga suka dan mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat itu datang dari bawahannya. Demikian pula bila pendapat itu benar dan lebih baik dari pendapat beliau sendiri, beliau bersedia merubah dan mengikuti pendapat tersebut.

Aisyah RA berujar : Ahlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran.” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Yang juga tak kalah pentingnya adalah kecintaan Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya. Pada tahun ke 10 kenabian, Rasulullah pergi berdakwah menuju kota Thaif, sebuah kota di atas bukit tidak berapa jauh dari Mekah. Namun dakwah beliau tidak disambut dengan baik. Beliau bahkan dilempari batu sehingga Rasulullah terpaksa meninggalkan kota tersebut dengan rasa sedih yang amat sangat dan bersembunyi di suatu tempat di Qarn Al-Manazil, kurang lebih 10 km dari Mekah. Ketika itu datanglah malaikat Jibril dan mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengutus malaikat gunung guna mengabulkan apa yang dikehendaki Rasulullah. “Wahai Muhammad, katakan apa yang kau mau. Jika engkau mau, akan aku timpakan kepada mereka Al-Akhsyabain ( yakni gunung Abu Qubais dan gunung Qu’ayqa’an)”.

Namun apa jawab Rasulullah ? “ Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”. Demikian pula ketika Rasulullah SAW tengah menghadapi sakratul maut 12 tahun kemudian. Beliau sempat bergumam: “ Ummahku…ummahku…ingatlah yang menyebabkan durhakanya umat Yahudi adalah kaum perempuannya ”. Hal ini menggambarkan betapa Rasulullah amat peduli dan senantiasa memikirkan kelanjutan nasib umatnya. Beliau begitu khawatir jikalau umatnya kelak tersesat padahal beliau sendiri tengah dalam keadaan sakit keras. Begitu besarnya rasa cinta, kasih dan tanggung-jawab beliau terhadap kita, umat Islam.

Berikut pendapat sejumlah orang besar Barat mengenai Rasulullah SAW :

1. Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M).

“ Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

( hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam oleh Cherfils).

2. Alphonso De Lamartine, sastrawan kenamaan Perancis (1790 – 1869 M).

“ Tidak ada orang selain dia yang dapat menyelesaikan revolusi besar dan kekal di dunia. Sebab dalam waktu dua abad setelah kemunculan Muhammad, Islam menguasai seluruh tanah Arabia, menaklukan Persia, Khurasan, Transoxsania, India Barat, Syria, Mesir, Abesinia, seluruh Afrika Utara yang dikenal pada waktu masa itu, pulau-pulau di Laut Tengah, Spanyol dan sebagian Perancis. Lelaki itu tidak hanya mampu menggerakkan empirium-empirium dan dinasti-dinasti; tetapi iapun sanggup menghimpun berjuta-juta manusia di sepertiga bagian dunia yang dikenal orang pada masa hidupnya……Atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya menjadi ketentuan hukum ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari berbagai ras dan bahasa. Ia meninggalkan kepada kita karateristik kebangsaan muslimin yang tidak dapat dihapus dan kebencian akan tuhan-tuhan palsu serta kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Ghaib…”.

( hal 276 – 277 dari “ Histoire de la Turqui “ jilid II oleh dirinya sendiri).

3. Goethe , filsuf Jerman. (1794 – 1832 M).

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur ( Byzantium ) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. ( hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Melalui pribadi sempurna inilah Al-Quran diturunkan. Sebuah Kitab yang dijamin kesucian dan keasliannya, tidak ada perubahan sedikitpun dari awal diturunkannya hingga detik ini. Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang memusuhi Rasulullah SAW. Terutama para Orientalis, mereka sebenarnya mau tak mau terpaksa harus mengakui kebesaran beliau. Tetapi harus dicermati, sebenarnya sebagian dari mereka ini tengah berusaha memberikan pemikiran tentang kebesaran Muhammad SAW sebagai manusia biasa, sebagai panglima perang, sebagai pemimpin namun tidak sebagai utusan Allah. Seringkali mukjizat yang dimiliki Rasulullah tidak ditonjolkan. Padahal sebagai seorang utusan Allah mukjizat adalah bukan sesuatu yang mustahil bahkan mutlak.

Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para sahabat membawa wadah air (dalam bepergiannya) lalu beliau meminta wadah tersebut yang didalamnya terisi air. Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya didalam wadah tadi maka mengucurlah air diantara jari-jarinya sedangkan semua sahabat berwudhu dengan menggunakan air tersebut. Anas bertanya kepada Abu Hamzah ”Berapa para sahabat yang berwudhu (dengan menggunakan air yang memancar dari jari-jari Rasulullah itu) ?” Abu Hamzah menjawab ”Mereka yang berwudhu lebih kurang 300 orang ”.(HR Bukhari Muslim).

Disamping itu Rasulullah SAW juga diberi kelebihan dengan pandangan yang super tajam. Pandangannya dapat menembus batas langit dan bumi, termasuk apa yang terjadi di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan. Ketika Rasulullah berjalan bersama para sahabat melewati dua kuburan, tiba-tiba beliau berkata “Orang yang berada didalam kedua kubur ini tengah disiksa oleh Allah STW. Yang satu berjalan (dimuka bumi ini) dengan suka mengadu domba, adapun yang satu lagi tidak pernah menutupi dari air kencingnya (artinya, percikan dari air kencingnya itu sering kali mengenai tubuh atau pakaiannya, lalu dipakainya pakaian tersebut untuk melakukan shalat tanpa mencuci atau menggantinya terlebih dahulu)”.

Beliau juga mampu menembus pandangan jauh ke masa depan. Itulah sebabnya dalam perjalanan beliau menuju Sidratul Muntaha ketika Miraj’, beliau bertemu dan melihat para Rasul bahkan dapat berkomunikasi dengan Musa as di surga. Padahal ketika itu semua manusia termasuk para Rasul masih dalam penantian di alam kubur.

“ Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.(QS.Al-Haaqqah(69):40-47).

Maka sudah sepatutnya pulalah bila Allah SWT memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Rasululullah sebagaimana tertuang dalam As-Sunnah atau Al-Hadis yaitu dengan mengikuti ucapan, prilaku dan keputusan yang ditetapkan beliau atas izin-Nya.

“ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nisa(4):64).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 8/2008.

Vien AM.

Ref. HMH Al Hamid Husaini, Riwayat Nabi Besar Muhammad saw.

Read Full Post »

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…………” ( Al Baqarah (2:256))

 

         Untuk menjadi seorang muslim, diwajibkan baginya untuk bersyahadat, yaitu dengan menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Dengan kata lain, iapun wajib mengakui dan mengimani bahwa sebagai utusan Allah beliau telah menerima wahyu (melalui malaikat Jibril). Itulah pintu gerbang masuk Islam. Dan sebagai konsekwensinya seorang muslim dituntut untuk menjalankan ajaran-ajaran Al-Quran dan hadis Rasulullah. Maka bila suatu ketika seorang yang mengaku muslim namun kemudian ia meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran, dengan menyatakan bahwa Al-Quran bukanlah Kalamullah ataupun bila ia Kalamullah tetapi redaksinya Muhammad saw, masih dapatkah kita katakan bahwa ia seorang muslim? Bila yang menyatakan hal tersebut seorang orientalis mungkin kita masih dapat memakluminya, tetapi bagaimana bila hal itu keluar dari mulut seorang yang notabene tokoh Islam?

      

         “ Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keraguan-raguan terhadap Al-Quran, hingga datang kepada mereka saat(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat”.(Al Hajj (22:55)

        

            Beberapa tahun belakangan ini muncul sebuah disiplin ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum kampus berlabelkan Islam yaitu Hermeneutika. Ilmu ini sebetulnya bukanlah ilmu baru, terutama di negara-negara barat. Ilmu ini adalah teori yang mengajarkan bagaimana mengartikan atau menafsirkan suatu text atau pernyataan tertulis. Hal utama yang harus diperhatikan dalam Hermeneutika adalah latar belakang dan kepentingan si penulis, struktur bahasa dan hubungannya dengan keadaan sekarang.  Seorang hermeneut, orang yang mendalami hermeneutika, diwajibkan untuk kritis dalam mempelajari sebuah text. Di barat, sudah sejak lama ilmu ini diterapkan untuk mempelajari text-text Injil. Itulah salah satu sebab mengapa Injil mengalami beberapa kali revisi. Dan hal tersebut resmi disetujui Vatikan.

 

           Nah, saat ini sejumlah pemikir Islam yang telah mengecap dan memperdalam ilmu serta mengambil gelar doktoralnya di negara-negara barat, membawa ‘oleh-oleh’ ilmu Hermeneutika tersebut ke tanah air untuk diajarkan kepada para mahasiswanya di kampus-kampus Islam. Celakanya, ilmu tersebut digunakan untuk menafsirkan Al-quran! Padahal, sebagaimana dijelaskan diatas, untuk menerapkan ilmu tersebut, seseorang harus mengenal dan mengetahui cara berpikir si penulis. Sebaliknya, bukankah Al-Quran diturunkan kepada umat manusia agar dapat mengenal Sang Pencipta? Lebih jauh lagi, mereka bahkan meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran dengan menyatakan keraguan atas  niat Ustman bin Affan dalam membukukan mushaf Al-Quran yang mereka anggap sebagai kepentingan politik kubu beliau ketika itu. Tentu saja hal itu tidaklah masuk akal. Ustman bin Affan adalah salah satu sahabat nabi yang dijanjikan surga, ahlaknya begitu terpuji. Bila hal itu memang benar, tentunya kekuatan-kekuatan politik sepeninggal Ustman akan berusaha membuat mushaf baru. Nyatanya hingga saat ini,lebih dari 1400 tahun setelah Al-Quran dibukukan, tidak pernah ada perubahan secuilpun dalam Al-Quran. Janji Allah untuk memelihara Al-Quran akan ke-otentisitas-annya memang terbukti. Tidak ada satupun bacaan di dunia ini yang dihafal oleh jutaan manusia dengan ejaan dan lafal yang tidak berubah sebagaimana  aslinya selama ribuan tahun.

  

 

        “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab(Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas kemudian mereka dibakar di dalam api  (Al Mu’min (40:69-72))       

    

           Memang banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerlukan penafsiran yang mendalam, yang mungkin dapat berkembang mengikuti zaman. Namun hal tersebut lebih disebabkan pemahaman atau pengetahuan yang waktu itu memang masih terbatas. Maka sebetulnya bukan Al-Quran yang mengikuti zaman, melainkan zamanlah yang akan membuktikan kebenaran Al-Quran apabila manusia mau belajar memahaminya atau menafsirkannya. Itulah sebetulnya tugas umat Islam, khususnya para cendekiawan muslim.

 

           Patut dicermati latar belakang seorang Abu Zayd, seorang hermeneut yang menjadi guru besar di Leiden, Belanda dan banyak menjadi panutan para kelompok liberalis di Indonesia. Nasr Hamid Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo,Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania,Amerika Serikat. Sekembalinya ia menulis sejumlah buku yang dianggap bermasalah oleh pemerintah Mesir. Kemudian pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor  karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Ia kemudian protes dan membawanya ke pengadilan, namun kalah. Bahkan di sejumlah mesjid-mesjid besar para khatib menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, maka ia dan keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden. Demikian pula perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikat tidak mau ketinggalan menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus  mereka.

 

             Namun yang lebih aneh,di Indonesiapun ia diundang dan disambut meriah. Gagasan-gagasannya diadopsi dan dipropagandakan secara besar-besaran. Maka demikianlah, saat ini para pengikutnya yang kebanyakan  dari kalangan intelektual Islam, dengan dalih mengikuti perkembangan zaman, mereka mencoba mengutak-ngatik ayat-ayat Al-Quran untuk disesuaikan dengan selera dan kepentingan duniawi. Mereka melontarkan ide-ide bahwa semua agama sama atau pluralisme,sekulerisme dan liberalisme. Hal ini sungguh mengkhawatirkan dan akan dapat memberikan kesan bahwa yang diperlukan seseorang cukup hanya mengimani adanya Sang Pencipta tanpa kewajiban untuk melaksanakan apa yang telah dilakukan dan dicontohkan nabi kita Muhammad saw.

 

        “Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu-kota itu seorang. Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka;  dan  tidak   pernah  (pula)   Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. (Al Qasas(28:59).

 

         Tidak cukupkah segala bencana alam yang menimpa negeri kita tercinta ini, sehingga kita harus menambah kerusakan-kerusakan moral seperti hal tersebut diatas?

 

Jakarta, 3/8/2006

Vien AM.  

       

Sumber: Hegemoni Kristen-Barat ( dalam studi Islam di perguruan tinggi ) oleh Adian Husaini.

Read Full Post »

Mengendalikan Emosi Amarah

Marah atau Amarah adalah salah satu emosi alamiah yang muncul ketika suatu keinginan / kebutuhan tidak terpenuhi karena adanya suatu hambatan. Emosi ini diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan / keinginan tersebut. Tingkat kemarahan seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat kebutuhan yang terhambat dan tujuannya  dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kemarahan itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka kemarahan tersebut adalah kemarahan yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.

 “ Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali ”.(QS.At-Tahriim(66):9).

 Kekerasan terhadap orang kafir maupun orang munafik disini timbul bukan karena tanpa sebab. Kaum Muslimin bersikap keras ( marah ) karena perlawanan dan permusuhan mereka terhadap Islam sehingga sulit bagi kaum Muslimin untuk menjalankan hukum Allah. Karena sesungguhnya kebenaran harus ditegakkan dan diperjuangkan. Sebaliknya kemarahan tidaklah harus dengan cara  menyakiti atau mencelakakan orang yang menyebabkan kemarahan tersebut. Rasulullah tidak pernah marah walau disakiti. Disaat beliau marah, bibirnya malah terkatup rapat  bukan mengeluarkan kata-kata yang meledak-ledak. Namun wajah beliau akan berubah menjadi merah padam bila melihat kemungkaran dan hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

 Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib RA hampir memenggal leher lawannya. Tiba-tiba lawannya itu meludahi mukanya. Ali sangat marah. Pada saat itu, ia justru memacu kudanya pergi menjauh dan menyarungkan pedangnya. Ia tidak ingin membunuh lawan karena nafsu amarah. Karena membunuh  dalam peperangan adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menegakkan  keadilan bukan melampiaskan rasa amarah. Sedangkan  kemarahan yang tidak beralasan, yaitu kemarahan yang tidak disebabkan oleh adanya hambatan yang mengancam  terpenuhinya kebutuhan yang mendasar adalah kemarahan yang tercela. 

 Dengan demikian emosi marah ( maupun emosi-emosi lain-lain seperti takut, sedih dan juga gembira ) sebetulnya sangat bermanfaat bagi kehidupan selama emosi itu seimbang dan muncul pada saat yang tepat. Al-Quran memerintahkan kita untuk menguasai segala macam bentuk emosi termasuk emosi marah. Emosi yang berlebihan akan mempercepat detak jantung seseorang. Hal ini disebabkan terjadinya kontraksi tekanan darah dalam organ tubuh  sehingga menyebabkan darah mengalir dengan lebih deras. Keadaan seperti ini bila dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan akan membahayakan jantung. Marah yang berlebihan juga dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin yang  dapat menyebabkan timbulnya kekuatan yang besar. Kekuatan  inilah yang dikhawatirkan  dapat menyebabkan seseorang melakukan penyerangan fisik dan membahayakan orang yang membangkitkan amarahnya. Disamping itu seseorang pada saat mengalami emosi, produksi getah beningnya  akan berkurang drastis. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya proses pencernaan sehingga menyebabkan timbulnya berbagai penyakit lambung .

 “……dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali-Imraan(3):134).       

 Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan marah dan  saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan “ jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan mampu menguasai diri dari nafsu syahwat dan segala godaan dunia yang mengepungnya.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub, bahwa Rasulullah pernah bersabda :        “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim mendiamkan ( saling cemberut ) saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu, mereka saling berpaling. Padahal sebaik-baik dari mereka ialah yang memulai perdamaian dengan mengucap salam”. ( HR. Bukhari & Muslim)

 Abu Dzaarr RA meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda :” Jika salah seorang diantara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri, maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring”.  Rasulullah juga menganjurkan para sahabat agar berwudhu’ untuk mengendalikan emosi kemarahan. Diriwayatkan  dari Urwah bin Muhammad as-Sa’di RA, Rasulullah bersabda : “ Marah itu berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api. Adapun api dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang diantara kalian marah, hendaknya segera berwudhu’.” Hadis ini menguatkan kebenaran ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa air dingin dapat meredakan tekanan darah karena emosi, sebagaimana air dapat meredakan ketegangan otot dan syaraf. Oleh karena itu, mandi dapat dijadikan penawar untuk mengobati penyakit kejiwaan.   Disamping itu, Rasulullah juga terbiasa menganjurkan para sahabat yang sedang dikuasai rasa amarah untuk mengalihkan perhatian pada aktifitas lain yang memungkinkan seseorang lupa akan rasa amarahnya  ataupun merasa lelah sehingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melampiaskan kemarahannya.

 Seseorang yang dalam kondisi marah ( dan semua emosi yang menekan ) akan mengakibatkan daya pikir menjadi melemah. Oleh karena itulah Rasulullah melarang orang  dalam kondisi seperti itu untuk memutuskan suatu perkara ( hukum ). Dari Abu Bakar RA, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda :  Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Begitu pula emosi cinta, ia dapat menyebabkan lemahnya daya pikir seseorang. Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

 Al-Quran mengajarkan manusia untuk memaafkan kesalahan saudaranya yang berbuat kesalahan. Allah SWT menyayangi orang-orang yang demikian dan menjanjikan pahala yang besar sebagai imbalan bagi mereka.

 “………maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS.Al-Maidah(5):13).

 Namun bila seseorang bersikokoh ingin membalas, tidak diperkenankan membalas dengan yang lebih keras dari yang diterimanya dan Allah lebih menyayangi mereka yang menahan diri.

 “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.(QS.An-Nahl(16):126).

 Dan dengan memperbanyak berzikir mengingat Allah SWT hati akan menjadi tenang terlepas dari emosi amarah dan segala emosi yang tidak terkendali.

 “(yaitu)orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.(QS.Ar-Raad(13):28).

 Wallahu’alam.

Jakarta,3/4/2007.

Vien AM. 

Referensi :

   Psikologi dalam Perspektif Hadis dan  Jiwa Manusia dalam sorotan Al- Quran  oleh   DR.Muhammad ‘Utsman Najati.

Read Full Post »

Kekayaan Hati

Alkisah, pada masa kekhalifahan adalah seorang Khadi (Hakim Muslim ) yang selain alim dan shaleh juga kaya-raya. Suatu hari ketika ia sedang mengendarai keledainya di depan pasar, seorang Yahudi miskin menghentikannya. Si Yahudi menegurnya dengan mengatakan apakah Sang Khadi tidak pernah mendengar sabda Rasulullah sebagai berikut :” Dunia adalah bagaikan penjara bagi orang Muslim dan bagaikan surga bagi orang kafir”. Si Yahudi meneruskan perkataannya bahwa itu berarti Sang Khadi bukanlah orang yang mengikuti hadis tersebut karena kenyataannya Sang Khadilah yang kaya raya sedang dirinya sendiri miskin. Namun apa jawaban Sang Khadi? “ Hai Yahudi, ketahuilah maksud hadis tersebut ; bila aku dapat mempertahankan keimananku hingga akhir hayatku, maka hidupku yang seperti sekarang ini adalah bagaikan neraka dibandingkan hidupku di akhirat kelak. Sebaliknya engkau, bila sampai akhir hayatmu engkau tetap kafir dan tidak bertaubat maka ketahuilah, hidup yang sesukamu itu sekarang ini adalah bagaikan surga dibandingkan hidupmu kelak di akhirat.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“.(QS.Al-Fajr(89):15-16).

Ayat diatas menunjukkan bahwa kebanyakan manusia merasa bahwa kemuliaan dan kehinaan itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Mereka mengira kekayaan, pangkat, ketenaran, kesuksesan,jabatan maupun kecantikan adalah kemuliaan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.(QS.Ali Imraa(3):14).

Padahal tidaklah demikian. Kehidupan duniawi ini hanyalah fatamorgana, begitu pula halnya dengan kekayaan dan kemiskinan harta benda, ia hanyalah cobaan dan ujian. Hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat. Namun hanya sedikit manusia yang mau meyakini hal ini, yaitu orang-orang yang mau menggunakan dan membersihkan hatinya.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”(QS.Al-Hajj(22):46).

Yaitu orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan selalu mengingat keberadaan-Nya dalam segala keadaan, dikala susah maupun dikala senang.

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.(QS.Al-Anfaal(8:2-3).

“ (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat”.(QS.Al-Anbiyaa(20:49).

Mereka ini menyadari bahwa hidup di dunia hanya sekejap mata dan suatu ketika ia harus mengembalikan apa yang dititipkan kepadanya baik harta maupun kesenangan kepada-Nya.. Rasulullah bersabda :”Setiap kesenangan di dunia pasti ada puncaknya”.

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS.Yunus(10):12).

Itulah sifat buruk manusia, yaitu kefasikan. Sesungguhnya didalam hati mereka meyakini bahwa ada ‘kekuatan’ lain yang menguasai hidup mereka. Namun karena kesombongan dan keangkuhannya ia tidak mau mengakuinya. Dan pada saat ia tidak sanggup dan tidak berdaya barulah ia memohon pertolongan kepada ‘kekuatan’ itu yang segera akan ditinggalkannya begitu ia terlepas dari kesusahan. Namun demikian sesungguhnya disamping sifat jelek diatas Allah SWT membekali pula manusia dengan sifat baik, yaitu ketakwaan.

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(QS.As-Syams(91):8-10).

Dan hanya hatilah yang dapat mengatur kedua sifat yang berlawanan ini, yaitu hati yang kaya.

Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa”(HR Bukhari-Muslim).

Hati yang kaya adalah hati yang lapang, hati yang mudah memafkan segala kesalahan, hati yang tidak dengki ketika orang lain dalam kesenangan, hati yang tidak suka berbohong, hati yang tidak gemar berburuk sangka, hati yang dapat menjaga kesabaran ketika musibah menghampiri. Mereka yang memiliki hati yang seperti ini hidupnya akan tenang dan dengan demikian memudahkan masuknya iman dan hidayah.

Rasulullah bersabda : “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”

Namun untuk mengetahui benar tidaknya keimanan seseorang, Allah SWT berkehendak untuk menguji keimanan itu terlebih dahulu, apakah ia berdusta atau tidak.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS.Al-Ankabuut(29):2-3).

Sebaliknya hati yang sempit adalah hati yang sombong, hati yang tidak peka terhadap lingkungan, hati yang buta. Hati yang seperti ini tidak sanggup melihat peringatan yang diberikan-Nya. Dan Allahpun berlepas diri dari orang-orang seperti ini. Orang-orang ini akan terus dimanjakan dengan segala kesenangan duniawi sesuai dengan yang diinginkannya,itulah istidraj. Hingga pada suatu waktu yang tidak diperkirakannya Allah menampakkan kekuasaan yang telah mereka abaikan dengan direnggutnya semua kesenangan itu dengan sekonyong-konyong. Dan itulah orang-orang yang merugi, tempat mereka kembali adalah neraka jahanam.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” ..(QS.Al-An’am(6):44)

Sedangkan orang-orang yang memiliki kekayaan hati, surgalah tempat mereka kembali.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al-Fajr(89):27-30).

Walahu’alam.

Jakarta, 13/3/2007

Vien AM.

Read Full Post »

Mencoba Memahami Konsep Takdir

Berbicara mengenai takdir memang menarik dan selalu mengundang banyak pertanyaan. Telah banyak buku ditulis mengenai hal ini tetapi tetap tidak dapat memuaskan semua pihak. Saya ingin mencoba memberikan sedikit pandangan dan pendapat mengenai takdir dengan tujuan untuk sedikit lebih dapat mengenal ilmu Allah yang satu ini. Semoga Allah tidak menganggap ini sebagai sebuah kelancangan seorang hamba, Naudzu billah min dzalik…

Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi dengan ridho Allah. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa takdir telah ditetapkan jauh sebelum manusia diciptakan.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi ini dan (tidak pula)pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”.( QS. Al Hadid(57):22).

       Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw ( orang yang selalu benar dan dibenar kan) :”sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan atau KEBAHAGIAAN hidupnya”.

Akan tetapi ada pula sebagian pendapat yang mengatakan bahwa takdir dijatuhkan setelah manusia berusaha. Mereka menyatakan ini berdasarkan salah satunya akan adanya ayat berikut:

“…. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…. ”. (QS. Ar Ra’d(13):11)

Saya pribadi lebih condong dan berpegang pada ayat (57:22) tetapi tentu saja tanpa mengabaikan adanya ayat2 lain termasuk ayat 13:11 diatas. Namun takdir tersebut tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Misalnya bahwa si A ditakdirkan lahir sebagai orang miskin atau si B telah ditakdirkan meninggal karena bunuh diri atau karena bencana alam dsb. Alangkah naifnya Allah bila ia menciptakan takdir sesederhana itu. Bahkan pada permainan atau game-game seperti playstation atau komputer saja,si pembuat game mampu menciptakan permainan yang rumit yang memerlukan ketrampilan dan kecekatan si pemain bila ia menginginkan hasil yang memuaskan. Atau ambil contoh lain,sebagai ilustrasi,bayangkan kita sedang berada di dalam sebuah labirin. Untuk dapat keluar dari labirin tersebut,tidak ada jalan lain kecuali harus mencoba melalui segala jalan. Hal tersulit adalah pada saat kita menjumpai suatu persimpangan,dimana kita harus memutuskan untuk terus,belok kiri atau kanan tanpa mengetahui apa yang ada dihadapan kita. Dan bila ternyata jalan tersebut buntu kita harus kembali ke persimpangan terdekat dan kembali harus mencoba menempuh jalan lain.

Demikian pula halnya dengan takdir kehidupan. Takdir telah Allah persiapkan jauh sebelum kita diciptakan. Takdir diciptakan dalam sebuah program yang disimpandalam bentuk sebuah “chip” bagaikan sebuah “chip” dalam komputer,yang kemudian diselipkan pada otak manusia yang akan dibawanya serta ketika manusia dilahirkan. Setiap manusia memiliki “chip” masing2 yang berbeda satu sama lain. Ada yang rumit dan ada pula yang sederhana. Semua atas kehendakNya.

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya ”. (QS. Al Israa’(17):13)

Nah,dengan bekal “chip” inilah manusia harus menjalani kehidupannya. Perbedaannya dalam kehidupan kita tidak mungkin melangkah mundur. Roda kehidupan terus berlanjut. Labirin belum mencapai “finish” selama hayat masih dikandung badan. Pada saat inilah manusia dituntut untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya. Ia diberi akal,pikiran dan perasaan untuk dapat menentukan mana baik,mana buruk,mana yang disukai,mana yang tidak disukainya.

Bila dalam setiap permainan atau game komputer ataupun dalam pembuatan kendaraan misalnya,si pembuat menyertakan buku panduan maka apalagi Allah,sang Maha Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara keduanya. Pada setiap zaman Ia menurunkan petunjuk melalui kitab-kitabNya. Mungkin dapat kita bandingkan dengan adanya edisi 1,edisi2 pada setiap peluncuran buku-buku terbitan baru,dimana kandungan edisi terbarunya selalu lebih baik & lebih sempurna,demikianlah dengan kitab-kitab Allah,kitab terakhir menerangkan &memberi penjelasan akan kitab sebelumnya. Semuanya itu untuk kepentingan umatNya,umat yang amat dicintaiNya. Dengan bekal buku petunjuk inilah manusia akan dapat menentukan langkahnya. Selalu ada kemungkinan untuk berhasil ataupun gagal,tergantung pada usaha masing-masing. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah),maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk(keselamatan) dirinya sendiri;dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi(kerugian) dirinya sendiri”. (QS. Al Israa’(17):15).

Akan tetapi yang perlu selalu diingat,kemungkinan-kemungkinan tersebut tetap berada dalam kerangka program pada masing-masing “chip” yang telah disiapkan olehNya jauh sebelum ia dilahirkan. Oleh sebab itu tidaklah patut apabila seseorang mengatakan bahwa keberhasilannya adalah semata karena usahanya. Sebaliknya bahwa kegagalannya adalah karena ketidak-mampuannya semata.

“(Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadid(57):23).

Yang terpenting adalah niat dan usaha kita,karena niat,usaha dan juga sikap akhir kita dalam menerima ketetapan Allah inilah yang akan diperhitungkan kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia hanyalah permainan sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya;sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”. (QS Al Qashash(28):60)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan(kepadanya).(An Najm(53):39-40)

Tetapi kita juga tidak perlu terlalu khawatir akan ketetapan-ketetapan tersebut karena Allah juga berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS Al Baqarah(2):286).

Oleh sebab itu agar kita dapat melalui takdir terbaik kita,disamping harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat(termasuk mengenal fenomena alam, sebab &akibatnya),kerja keras dalam pengamalan pengetahuan tersebut,kita juga harus selalu memohon petunjukNya.

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumuah(62):10).

Keberadaan ‘chip’ ini mungkin dapat pula kita bandingkan dengan ‘black-box’ pada pesawat terbang. Namun bila Black-box hanya mampu merekam apa yang terjadi pada saat-saat terakhir perjalanan didalam sebuah pesawat terbang, maka chip pada diri manusia selain memiliki program ‘perjalanan hidup’ juga sekaligus memiliki kemampuan merekam segala kejadian yang dilaluinya sejak ia dilahirkan hingga kematiannya. Ia terus mendampinginya, merekam dan mencatat kejadian demi kejadian, yang besar maupun yang kecil dan baru berhenti merekam begitu manusia masuk kubur. Chip inilah yang akan memberikan kesaksian di hari Akhir nanti. Maka tak seorangpun kelak mampu menyembunyikan ataupun menghindar dari satu perkara betapapun kecil dan sepelenya suatu perkara.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis) “.(QS.Al-Kahfi(18):49).

Chip ini bahkan mampu merekam apa yang dibisikkan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.(QS.Qaaf(50):16-18).

Oleh sebab itu dikatakan pada hari pembalasan nanti Yang Maha Kuasa akan memperlihatkan kepada manusia segala amal perbuatannya.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”. (QS.Al-Zalzalah(99):7-8).

Bahkan Ia berfirman setiap anggota tubuh dirinya mampu melihat catatan perbuatannya sendiri. Cukup dirinya sendiri sebagai saksi, tidak ada kebohongan, kecurangan maupun kelalaian didalamnya.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS.Al-Israa’(17):14).

Dan agar supaya Ia berkenan mengabulkan doa dan memberikan petunjukNya,maka sudahlah sepatutnya bila kita wajib mengenalNya dengan baik,yaitu dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam kitab dan sunah rasulNya. Kemudian apakah bencana, penyakit,kekurang-beruntungan kita dalam memperoleh rezeki bahkan jodoh yang kurang bertanggung-jawab misalnya apakah itu semua adalah suatu takdir?Semua yang telah terjadi sudah pasti adalah takdir. Akan tetapi yang perlu dipertanyakan adalah apakah sebelum terjadinya hal-hal tersebut kita telah berusaha menghindari dan mencegahnya dengan sungguh-sungguh?Bila tidak,ada kemungkinan sebetulnya ada jalan lain,takdir yang lebih baik yang memungkinkan kita terhindar dari takdir yang kurang menyenangkan tersebut. Akan tetapi sekali lagi kita tidak perlu terlalu khawatir, karena Allah menciptakan bumi & langit dan segala isinya ini dengan penuh keseimbangan. Semua saling mengisi dan saling membutuhkan sebagaimana halnya cara kerja tubuh manusia,antara jantung,paru-paru,ginjal dsb yang masing-masing bekerja tetapi saling tergantung satu sama lain.

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS Al Hijr(15):21).

Coba bayangkan,bila didunia ini tidak ada seorangpun pekerja sampah,supir,pelayan dsb,apa yang bakal terjadi?

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat,agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Az Zukhruf(43):32).

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,serta diguncangkan(dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqarah(2):214).

Wallahu‘alam bish shawab.

Jakarta, 9 Februari 2006

Vien AM.( pernah diterbitkan oleh Noor edisi 6 pada Juni 2006)

Read Full Post »

Minggu, 25/5/2008 sekitar pukul 07.00 waktu Jeddah, pesawat dengan no penerbangan RJ 701 jurusan Amman dari Jeddah, Arab Saudi itu lepas landas. Setelah mengudara kurang lebih 2 jam lamanya, maka pesawatpun mendarat di lapangan terbang Queen Alia di Amman, Yordania. Dengan menggunakan bus resmi milik pemerintah Yordania yang dikemudikan oleh seorang sopir berseragam militer Yordania ( ?celana dan kemeja biru + pangkat di bahu) perjalanan langsung berlanjut. Bus melaju pasti menuju Yerusalem, Israel.

Setelah lolos dari pemeriksaan rutin di perbatasan oleh pihak pemerintah Yordania, bus terus berjalan mendekati ‘check point’ di Allenby Bridge, Israel. Menjelang memasuki daerah ini, kedua orang guide, baik guide lokal berkebangsaan Palestina maupun guide dari Travel tanah air, kembali mengingatkan untuk tidak memotret dan merekam daerah tersebut. Dari kejauhan terlihat banyak sekali gardu-gardu pos penjagaan bertiang tinggi lengkap dengan kamera pengintai dan senapan panjangnya. Dengan rasa was-was kami terus berdoa memohon kemudahan kepada Allah swt, semoga kami lolos dari pemeriksaan. Bus berhenti sejenak di sebuah pos penjagaan. Dari balik pos tersebut tampak seraut wajah lumayan cantik. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan rutin terhadap pengemudi bus, bus berjalan kembali. Tak lama kemudian, kami tiba di tempat pemeriksaan. Terlihat beberapa orang sipil berkaca-mata gelap dengan menenteng senapan dan pistol di pinggang berjalan mondar-mandir. Di depan tempat tersebut digantungkan spanduk berukuran raksasa, mengumumkan sebuah nama Islami yang di’wanted’!

Kami semua harus turun dari bus, tak terkecuali semua barang bawaan termasuk air zam-zam!( kami melakukan perjalanan ini memang setelah ibadah umrah ). Dengan super teliti kami diperiksa satu persatu ( oleh petugas yang hampir kesemuanya perempuan yang memasang wajah angker !) . Sementara barang-barang diperiksa melalui ’ban berjalan’ layaknya di airport pada umumnya. Selanjutnya kami memasuki babak pemeriksaan surat-surat keimigrasian. Disini kami di uji kesabaran dalam menanti giliran pemeriksaan. Sebelumnya kami telah diingatkan, bahwa beberapa kemungkinan bisa terjadi. Pemeriksaan 1 jam, 2 jam, 3 jam atau lebih dan yang terparah bisa saja ditolak masuk!

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah ternyata kami hanya menghabiskan waktu 3 jam ditempat tersebut. Rupanya hanya orang-orang muda dan mereka yang mempunyai nama berbau Islam sajalah yang dihambat, mereka dianggap bermasalah. Mereka ini bolak balik di interogasi dengan berbagai pertanyaan. Tampaknya mereka ingin memastikan bahwa anak-anak muda tersebut tidak memiliki hubungan apapun dengan orang-orang yang mereka aggap teroris. Yaah begitulah bila orang suka menzalimi orang lain, bawaannya curiga teruus… dan akhirnya jadi Paranoid…

Kawasan Haram Asy-Syarif

Kawasan Haram Asy-Syarif

Setelah makan siang/sore di Jericho, sekitar pukul 4 kami memasuki Yerusalem Timur. Yerusalem adalah sebuah kota yang terletak di atas bukit Zaitun. Dari kejauhan tampak jelas areal Haram as-Syarif dengan kubah emasnya (Dome Of the Rock / Qubbah As-Sakrah) dan Masjid Al- Aqsho’ yang berkubah kebiruan,terletak disebelah kiri. Kawasan ini di kelilingi tembok kuno tinggi dan terletak lebih tinggi dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Kawasan ini sekaligus menjadi pemisah antara Yerusalem Barat dan Yerusalem Timur.

Perhatikan perbedaan antara Qubbah As-Sakrah dan Al- Aqsho’ karena saat ini sebagian besar Muslim tidak mengetahuinya dengan pasti.

(Click:  http://www.youtube.com/watch?v=_mQ6kYEfiXA&feature=player_embedded ).

Sebelum tahun 1967, yaitu pada peristiwa perang 6 hari / The Six Day War, sebelah barat dikuasai Israel dan sebelah timur dibawah otoritas Yordania. Sekarang secara illegal keduanya berada dibawah Israel karena berdasarkan sebuah resolusi internasional Israel seharusnya mundur dari daerah yang dijajahnya pada tahun 1967 tersebut. Ironisnya , dikabarkan bahwa pada tahun 1980 pemerintahan tersebut secara sepihak malah mengumumkan bahwa Yerusalem secara keseluruhan adalah ibu kota Israel ! Padahal rakyat Palestina sejak lama mendambakan Yerusalem Timur ini sebagai ibu kota wilayah mereka.

Kami baru memasuki kawasan Haram As-Syarif setelah ziarah ke makam Salman Al-Farisi, seorang sahabat yang banyak memberikan andil dalam sejarah Islam. Makam tersebut memang terletak tak begitu jauh dari kawasan Haram As-Syarif. Namun tampaknya, ada suatu hikmah yang ingin disampaikan sang guide. Salman Al-Farisi adalah orang Parsi (sekarang Irak, Iran dan sekitarnya). Sebagaimana penduduk daerah tersebut, mulanya Salman adalah seorang penganut Majusi, penyembah api. Melalui perjalanan panjang mencari sebuah kebenaran, akhirnya ia memeluk Islam.

Darinya Rasulullah menerima usulan dibangunnya parit pertahanan Madinah ketika orang-orang Quraisy yang bersekongkol dengan Yahudi Madinah serta beberapa suku lainnya berniat menyerang Madinah. (Itu sebabnya selain disebut Perang Ahzab (perang gabungan) perang ini dinamakan juga Perang Parit). Ketika itu banyak sahabat yang mempertanyakan kebijakan Rasulullah dalam menerima usulan yang dianggap datang dari orang asing (Parsi). Namun dengan bijaksana, Rasulullah menerangkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Masing-masing tidak boleh merasa lebih dan berbeda. Inilah rupanya perasaan dan semangat yang ingin ditularkan sang guide, Mr Karim, ketika kami memasuki kawasan Al-Aqsho’ nanti.

Dome of the Rock dengan kubah emasnya

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Maka sekitar pukul 5 sore, akhirnya kamipun memasuki kawasan ini. Kami masuk melalui satu-satunya pintu gerbang (dari 8 pintu yang dimiliki) yang dibuka untuk umum, yaitu The Lion’s Gate/St Stephen Gate. Itupun setelah melalui penjagaan ketat polisi Israel! Kami melaksanakan shalat tahiyatul masjid , zuhur dan ashar yang di qodho’ di Qubbah As-Sakrah. Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah di Makkah ditentukan sebagai kiblat seluruh umat Islam.

Mulut gua batu terbang

Mulut gua batu terapung

Bagian dalam kubah As-Sakrah sedang di renovasi

Bagian dalam kubah As-Sakrah yg sedang di renovasi

Tak tampak adanya jemaah ataupun pengunjung lain selain kami di dalam masjid ini. Disana kami melihat dengan mata kepala sendiri batu As-Sakrah, batu terapung di bawah kubah Emas yang diyakini sebagai tempat Mi’rajnya Rasulullah saw ke Sidratul Muntaha di langit. Dibawah batu tersebut terdapat sebuah tempat mirip gua yang tak seberapa luas. Dikabarkan didalam gua inilah Rasulullah beserta para nabi melaksanakan shalat sebelum Mi’raj. Didalam gua kami menjumpai sejumlah gadis remaja Palestina sedang belajar mengaji. Batu raksasa tersebut sebenarnya menyembul hingga ke lantai di atasnya, tepat di bawah kubah masjid. Sayang ketika itu sedang ada renovasi.

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

2008-05 Umrah_67

Bagian depan Al-Aqsho, berfoto dengan guide kami

kubah masjidil Aqsho

kubah masjidil Aqsho

Setelah itu, kami menuju Masjdil Al-Aqsho’. Masjid ini terletak di sebelah selatan As-Sakrah di dalam pelataran yang sama, jaraknya lebih kurang hanya sekitar 30 meter. Diantara keduanya terdapat pelataran dan taman dengan sebuah gapura serta kolam untuk berwudhu dengan kursi-kursi kecil terbuat dari batu. Masjid ini terlihat lebih terawat dari pada Qubbah As-Sakrah. Kami melaksanakan shalat Magrib pada awal waktu secara berjamaah bersama imam masjid dan Muslim Palestina. Jumlah mereka cukup banyak demikian pula Muslimahnya. Dikabarkan pada setiap shalat jumat, Masjid ini dipenuhi oleh Muslimin hingga seluruh pelatarannya, sementara kaum Muslimah turut berjamaah di Qubbah As-Sakrah. Namun pada waktu-waktu tertentu, acapkali pihak otoritas Israel melarang warga Palestina yang berusia diantara 17-40 tahun untuk memasuki kedua masjid! Padahal rumah mereka hanya dibatasi tembok saja ….

Di malam hari, udara di pelataran yang dihiasi dengan lampu-lampu taman ini sangat sejuk. Tak tampak bahwa kota ini menyimpan berbagai permasalahan dan kekerasan. Begitu pula ketika pada pagi dan siang harinya kami pergi menuju Bethlehem, tidak terlihat adanya tanda-tanda tersebut. Rumah-rumah tertata apik dan asri dengan jalan-jalan besar beraspal mulus nan bersih. Mobil-mobil sedan mewah berbagai merk dari Jepang berseliweran. Yang mencolok mata, hanya adanya bendera-bendera Israel yang kelihatannya secara provokatif dipajang di hampir semua rumah sepanjang jalan yang dilalui. Rumah-rumah indah bertembok putih itu memang telah lama berganti penghuni. Mereka adalah para Yahudi penyerobot rumah si empunya tanah! Sementara sebagian besar pemilik tanah, yaitu orang Palestina, terutama Muslim Palestina tinggal di lorong-lorong sempit di dalam tembok Yerusalem Timur. Bahkan yang menempati kamp-kamp pengungsi diluar tembok dikabarkan lebih menyedihkan lagi keadaannya… Bahkan untuk melaksanakan shalatpun mereka terpaksa melakukannya di jalanan.

Wilayah yang direbut Israel pada perang 6 hari di tahun1967 adalah kawasan Tepi Barat / West Bank yang berbatasan langsung dengan Yerusalem barat. Wilayah ini terdiri dari 28 kota dan perkampungan Palestina, diantaranya adalah Yerusalem Timur, Bethlehem, Yericho, Hebron dan Ramalah. Pemerintah Israel secara mencolok membangun banyak sekali checkpoint. Setiap kali melewati checkpoint, pihak militer Yahudi melakukan pemeriksaan terhadap semua orang terutama rakyat Palestina. Saat ini sekitar 250.000 rakyat Palestina tinggal di Yerusalem Timur. Mereka ini dikenai pajak dan dianggap sebagai penduduk walaupun mereka bukan warga negara Israel. Pemerintah Israel memperlakukan mereka dengan sangat berbeda. Air dan pasokan listrik yang merupakan kebutuhan utama sangat minim dan dibatasi pula.Walaupun tempat tinggal mereka sebenarnya berdekatan namun mereka sama sekali tidak bersentuhan.

Sejak tahun 2003 pemerintah Israel mulai membangun sejumlah tembok yang memisahkan pemukiman Palestina dari pemukiman Yahudi. ( click here : http://www.bethlehemassoc.org/sub_pages/TheWallinBethlehem.htm). Walaupun Mahkamah Internasional telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan proyek yang dinilai melanggar HAM, Israel tetap meneruskannya dengan dalih bahwa tembok didirikan untuk melindungi warga Yahudi dari serangan bom bunuh diri warga Palestina. Namun sejatinya tembok-tembok tersebut telah memblokir penduduk Palestina dari kegiatan di dalam kota! Ini adalah salah satu cara Israel memperluas tanah jajahan mereka.

Dengan adanya pembatas ini, rakyat Palestina tidak dapat melaksanakan kegiatan sosial sehari-hari mereka dan pada akhirnya ekonomi merekapun berantakan. Untuk pergi bekerja, berusaha, bersekolah bahkan untuk berobatpun rakyat Palestina harus memutar puluhan km jauhnya. Saat ini tembok raksasa sepanjang hampir 400 km dari rencana 650 km telah berdiri tegak memisahkan Yerusalem Timur, dimana Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Saqroh berada didalamnya, dari Tepi Barat. Inilah cara Israel mencaplok Yerusalem Timur, areal Haram Asy-Syarif khususnya, yang memang menjadi target utamanya. Kepercayaan Yahudi mengatakan bahwa berdirinya kembali Bait Allah diatas areal ini akan mempercepat datangnya Sang Messiah, Al-Dajjal!

Banyak cara yang digunakan Israel untuk mengusir rakyat Palestina dari negrinya sendiri baik secara halus maupun kasar dengan secara sistimatis pula. Karim, guide kami, sebagai penduduk Bethlehem menceritakan bahwa keluarganya sejak puluhan tahun tidak mendapatkan hak meninggalkan kota mereka. Apalagi saat ini, setelah otorita Israel membangun tembok sepanjang 8 km mengelilingi Bethlehem, mereka makin terkurung di dalam kota. Hanya orang-orang berprofesi seperti dirinya, yaitu guide, yang masih mendapatkan kesempatan keluar kota. Itupun dengan izin otoritas Israel yang harus diperbarui setiap 3 bulan ! Bayangkan , bagaimana mereka harus mencukupi kebutuhan hidup mereka?

Yerusalem Timur

Yerusalem Timur

Otoritas Israel juga memberlakukan peraturan bahwa turis dilarang bermalam di Yerusalem Timur maupun Bethlehem. Dengan cara tersebut kedua kota ini tidak mendapatkan keuntungan dari kunjungan turis. Padahal jumlah turis di kota yang menjadi tempat suci ke tiga agama besar di dunia tersebut tidak terhitung banyaknya. Itu sebabnya kami hanya dapat mengunjungi Masjid Al Aqsho’ dan shalat didalamnya sekali saja. Padahal jauh-jauh kami datang karena shalat didalam masjid tersuci ketiga ini balasannya 500 kali lebih besar dari shalat di masjid lain! Yaah,nasib…. itu semua gara-gara Yerusalem tidak berada dibawah kekuasaan Muslim..

Catatan penting:

Selama dalam perjalanan kami dapati ratusan bahkan mungkin ribuan pohon yang kelihatannya baru ditanam.  Anehnya pohon-pohon tersebut dari jenis yang sama. Mengapa hanya satu jenis , pikir saya dalam hati. Pohon apakah itu? Jangan2 ….

 

” Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka, sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau pohon, kemudian batu dan pohon itu berkata:” Wahai Muslim , wahai hamba Allah, ini orang yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia”, kecuali pohon gharqad, karena sesungguhnya pohon itu adalah pohon Yahudi “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, semoga mereka salah tanam….  semoga itu bukan pohon Gharqad yang dimaksudkan-Nya…

Untuk itu secara serius mereka memasarkan penjualan pohon-pohon tersebut ke seluruh pelosok dunia melalui web berikut : http://www.treesfortheholyland.com/order/ dan memberikan sertifikat sebagai tanda terima-kasih mereka ! Hebat bukan ….

Kabar terakhir:

( 22/11/2009) Israel, tanpa peduli terhadap reaksi negatif dunia, mulai membangun 3000 bangunan tempat tinggal warga Yahudi di Yerusalem Timur. Dan demi tercapainya ambisi besar mereka untuk membangun kembali Bait Yahudi yang pernah ada ribuan tahun silam, kini sebuah terowongan telah berdiri di bawah kawasan Haram Asy-Syarif. Terowongan ini jelas sangat beresiko merusak fondasi bangunan diatasnya.

( Click here :

https://www.youtube.com/watch?v=hmb8PGgbx8g

http://www.metacafe.com/watch/411371/in_search_of_tunnels_under_the_dome_of_the_rock/

(4/3/2014)

– Pemerintah Israel mengusulkan secara resmi agar orang Yahudi diizinkan memasuki Al-Aqsho 3.5 jam/hari, dengan dijaga polisi Israel .

– Uni Eropa meski tidak secara resmi, mulai berpikir bahwa Israel selayaknya di boikot secara ekonomi karena pada dasarnya kedudukan mereka di tanah Palestina adalah illegal! Yaah, semoga saja bukan gertak sambal belaka …

– Pemerintah Israel mengatur seberapa keras azan di seluruh pelosok masjid di Yerusalem boleh berkumandang, dengan alasan agar tidak mengganggu ketenangan warga Yahudi yang belakangan makin memenuhi kota, mendesak pemukiman warga Palestina yang telah ribuan tahun menetap di kota tersebut.

Jakarta, 19/6/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?(QS.Al_Waqiyah(56):68-70).

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.(QS.Al-Qashash(28):71-73).

Pernahkah kita mencoba merenungkan makna kedua ayat diatas? Jika saja manusia mau berpikir,sungguh tak terhitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan atas mahluk-Nya; baik itu nikmat kehidupan, nikmat kesehatan, nikmat ketenangan dan ketentraman, nikmat keturunan,nikmat kekayaan dan terutama tentu saja nikmat keislaman. Karena jauh sebelum Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini, Ia memang telah mempersiapkan seluruh sarananya terlebih dahulu, diantaranya adalah perputaran antara siang dan malam serta turunnya air hujan yang tidak asin ( juga air laut yang asin) yang merupakan kebutuhan mutlak seluruh mahluk hidup sebagaimana kedua ayat diatas. Belum lagi aneka ragam tumbuhan serta binatang yang siap dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup manusia. Jadi sudah sepantasnyalah manusia itu harus banyak bersyukur. Dan sebagai penyempurnaan akan rasa syukurnya, manusia diperintahkan untuk menunaikan ibadah hajiminimal 1x dalam hidupnya, bila ia mampu.

“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(QS.Ali Imran(3(:97).

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kesanggupan yang dimaksud adalah kesanggupan dalam menyiapkan perbekalan diri dan harta untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Baitullah, termasuk didalamnya adalah kekuatan atau kesehatan untuk melaksanakan seluruh kegiatan fardhu haji serta perbekalan keluarga yang ditinggalkan. Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulllah bersabda : “ Bersegeralah melakukan haji (yaitu haji yang fardhu ) karena kalian tidak tahu apa yang akan menimpa kalian”. ( HR Ahmad). Rasulullah juga menambahkan bahwa barangsiapa yang dengan sengaja memperlambat pergi haji padahal ia mampu, maka bila ia meninggal dunia dalam keadaan demikian maka matinya sama dengan matinya orang Yahudi atau Nasrani!

Ibadah haji adalah suatu kegiatan ritual, suatu rentetan kegiatan simbolis yang mencerminkan perjalanan kehidupan manusia. Ibadah haji bertujuan agar manusia mau berpikir apa hakekat dan tujuan hidup ini, dari mana dan hendak kemana kita ini, apa yang telah kita lakukan selama ini. Dan sebagai hasilnya manusia yang telah menyelesaikan ibadah haji semestinya akan memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ia banyak berzikir untuk mengingatNya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Manusia yang telah berhasil menyempurnakan rukun Islam terakhir ini seharusnya akan terlihat dari prilakunya. Ia jauh dari sifat-sifat buruk dan jahat seperti pendendam, pembohong serta pendengki. Sebaliknya ia akan menjelma menjadi seorang yang pemaaf dan penyantun yang peduli terhadap lingkungan serta mampu menjalin dan mengikat kembali silaturahmi yang terputus. Itulah yang disebut haji mabrur, surga adalah imbalan baginya.

Ibadah haji adalah ibadah yang telah berumur sangat tua. Ibadah ini dilaksanakan di kota Mekah, Saudi Arabia. Di dalam Al-Quran , kota ini disebut Ummul Qura yang berarti ibu negeri. Menurut beberapa mufassir terkenal yang kemudian diperkuat dengan adanya hasil penyelidikan terhadap lapisan bumi, ternyata lapisan sekitar jazirah Arab lebih tua daripada lapisan bagian bumi lainnya. Oleh karena itulah Al-Quran menyebutnya ‘Umm’ atau ‘ibu’ yang dapat diartikan sebagai asal-usul sebuah negeri, tempat yang tertua di dunia. Ditempat inilah Ibrahim as dan Ismail as melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Islam hanya meluruskannya kembali setelah ibadah ini sempat diselewengkan selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya.

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Kegiatan-kegiatan dalam haji seperti Tawaf, Sa’i, Wukuf, melempar Jumrah dan sebagainya bukanlah sekedar kegiatan ritual belaka. Semua mempunyai makna yang amat mendalam. Tawaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x, merupakan gerakan simbolis yang mencerminkan bahwa manusia, mau ataupun tidak mau, harus mengikuti arus perputaran waktu, 7 hari dalam seminggu terus menerus selama hidupnya. Ia harus pasrah, tunduk patuh terhadap hukum-Nya, sunatullah, hukum alam yang diciptakan-Nya. Bila tidak, ia akan terlempar dari perputaran, terinjak-injak dan menderita.

Sedangkan Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak 7x, merupakan cerminan usaha manusia untuk bekerja keras 7 hari dalam seminggu selama hidupnya demi mendapatkan apa yang dicita-citakannya dengan mengharap ridho-Nya. Dan bila Allah SWT ridho, cita-cita tersebut akan terlaksana. Kegiatan ini juga untuk mengenang bagaimana seorang SitiHajjar, seorang perempuan yang ditinggalkan di tengah padang pasir karena ketakwaan sang suami ( Ibrahim as) akan Tuhannya, berjuang keras untuk mendapatkan setetes air untuk bayi yang baru dilahirkannya(Ismail as). Dan atas ridho-Nya pulalah akhirnya muncul sumber air zam-zam di dekat kaki sang bayi. Sumber air yang telah ribuan tahun umurnya ini hingga kini masih terus memancarkan airnya walaupun setiap tahun dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji.

Berikutnya adalah Wukuf di padang Arafah. Inilah puncak kegiatan haji. Tamu-tamu Allah yang datang dengan susah payah dari segala penjuru dunia ini diberi kesempatan mulai waktu zuhur hingga waktu magrib untuk ‘menemui’Nya. Di tempat inilah Allah SWT secara langsung mendengar keluh-kesah maupun permintaan hamba-hambaNya dan menatapnya dengan penuh kasih-sayang. Rasulullah bersabda : “…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?”.

Kehadiran Sang Khalik di padang Arafah untuk menyaksikan hamba-Nya yang datang dan hadir di padang yang gersang tersebut sesungguhnya adalah sebuah kehormatan besar dan kemuliaan bagi umat Rasulullah saw. Karena bahkan gunung dan Musa as pun sebagai salah satu rasul pilihan, tidak sanggup menyaksikan kehadiran-Nya.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Wukuf di Arafah adalah sebuah gambaran puncak perjalanan hidup bahwa semua manusia kelak sebelum masuk surga atau neraka akan dikumpulkan disuatu tempat yang dinamakan padang Masyar. Ditempat ini semua atribut keduniawian ditanggalkan. Kain Ihram yang dikenakan para jemaah haji adalah cerminan kain kafan yang merupakan satu-satunya harta yang dibawa seseorang ketika wafat. Hadir di Arafah juga mengingatkan agar manusia hendaknya kembali ke fitrah semula sebagaimana bayi yang dilahirkan ke dunia tanpa membawa apapun. Jadi wukuf adalah sebuah kegiatan untuk merenungkan diri dalam rangka menghadapi hari akhir yang sungguh dasyat dan mengerikan, yaitu sebuah hari yang pasti terjadi dan tak terelakkan.

Kemudian Jumrah, yaitu melemparkan batu kerikil ke 3 buah tugu; Aqabah, Ula’ dan Wustha’. Kegiatan ini melambangkan perlawanan manusia terhadap nafsu jahat yang ditebarkan oleh syaitan. Ditempat inilah Ibrahim as dicegah oleh syaitan agar membatalkan niat melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail as.

Namun sebelum Jumrah, kita harus ‘mabit’ atau ‘bermalam’ dahulu di Muzdalifah guna mencari batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah. Hikmah yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah diperlukannya persiapan dalam menghadapi lawan diantaranya yaitu pentingnya bekal ilmu.

Terakhir, sebagai bukti bahwa seorang hamba telah berhasil mengusir dan melawan nafsu jahatnya maka ia wajib berkorban dengan menyembelih kambing, unta ataupun sapi. Pengorbanan atau penyembelihan ini sesungguhnya hanyalah lambang ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhannya, Allah Azza wa Jalla sebagaimana dicontohkan Ibrahim as yang dengan patuh melaksanakan perintah-Nya walau perintah tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra satu-satunya.

Beruntung, kita tidak dicoba dengan perintah untuk menyembelih anak kita! Allah swt amat memahami tingkat keimanan kita. Oleh karenanya Ia hanya menyuruh kita untuk mengorbankan sebagian harta dan waktu yang sungguh tidak seberapa dibanding segala nikmat yang telah kita terima…Subhanallah…

Jakarta, 26/12/06.

Vien AM.

Read Full Post »

Older Posts »