Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2009

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Terjemah QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.( Terjemah QS.Al-Qashash(28):71-73).

Pernahkah kita mencoba merenungkan makna kedua ayat diatas? Jika saja manusia mau berpikir, sungguh tak terhitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan atas mahluk-Nya; baik itu nikmat kehidupan, nikmat kesehatan, nikmat ketenangan dan ketentraman, nikmat keturunan, nikmat kekayaan dan terutama tentu saja nikmat ke-Islam-an. Karena jauh sebelum Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini, Ia memang telah mempersiapkan seluruh sarananya terlebih dahulu, diantaranya adalah perputaran antara siang dan malam serta turunnya air hujan yang tidak asin ( juga air laut yang asin) yang merupakan kebutuhan mutlak seluruh mahluk hidup sebagaimana kedua ayat diatas. Belum lagi aneka ragam tumbuhan serta binatang yang siap dimanfaatkan bagi kelangsungan hidup manusia. Jadi sudah sepantasnyalah manusia itu harus banyak bersyukur. Dan sebagai penyempurnaan akan rasa syukurnya, manusia diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji minimal 1x dalam hidupnya, bila ia mampu.

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”(Terjemah QS.Ali Imran(3(:97).

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kesanggupan yang dimaksud adalah kesanggupan dalam menyiapkan perbekalan diri dan harta untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Baitullah, termasuk didalamnya adalah kekuatan atau kesehatan untuk melaksanakan seluruh kegiatan fardhu haji serta perbekalan keluarga yang ditinggalkan. Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulllah bersabda :

Bersegeralah melakukan haji (yaitu haji yang fardhu ) karena kalian tidak tahu apa yang akan menimpa kalian”. ( HR Ahmad).

Rasulullah juga menambahkan bahwa barangsiapa yang dengan sengaja memperlambat pergi haji padahal ia mampu, maka bila ia meninggal dunia dalam keadaan demikian maka matinya sama dengan matinya orang Yahudi atau Nasrani!

ka'bah1Ibadah haji adalah suatu kegiatan ritual, suatu rentetan kegiatan simbolis yang mencerminkan perjalanan kehidupan manusia. Ibadah haji bertujuan agar manusia mau berpikir apa hakekat dan tujuan hidup ini, dari mana dan hendak kemana kita ini, apa yang telah kita lakukan selama ini. Dan sebagai hasilnya manusia yang telah menyelesaikan ibadah haji semestinya akan memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ia banyak berzikir untuk mengingatNya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Manusia yang telah berhasil menyempurnakan rukun Islam terakhir ini seharusnya akan terlihat dari prilakunya. Ia jauh dari sifat-sifat buruk dan jahat seperti pendendam, pembohong serta pendengki. Sebaliknya ia akan menjelma menjadi sosok yang pemaaf dan penyantun, peduli terhadap sekeliling serta mampu menjalin dan mengikat kembali silaturahmi yang terputus. Itulah yang disebut haji mabrur, surga adalah imbalan baginya.

Ibadah haji adalah ibadah yang telah berumur sangat tua. Ibadah ini dilaksanakan di kota Mekah, Saudi Arabia. Di dalam Al-Quran , kota ini disebut Ummul Qura yang berarti ibu negeri. Menurut beberapa mufassir terkenal yang kemudian diperkuat dengan adanya hasil penyelidikan terhadap lapisan bumi, ternyata lapisan sekitar jazirah Arab lebih tua daripada lapisan bagian bumi lainnya. Oleh karena itulah Al-Quran menyebutnya ‘Umm’ atau ‘ibu’ yang dapat diartikan sebagai asal-usul sebuah negeri, tempat yang tertua di dunia. Ditempat inilah Ibrahim as dan Ismail as melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya. Islam hanya meluruskannya kembali setelah ibadah ini sempat diselewengkan selama ribuan tahun lamanya.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

Kegiatan-kegiatan dalam haji seperti Tawaf, Sa’i, Wukuf, melempar Jumrah dan sebagainya bukanlah sekedar kegiatan ritual belaka. Semua mempunyai makna yang amat mendalam. Tawaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x, merupakan gerakan simbolis yang mencerminkan bahwa manusia, mau ataupun tidak mau, harus mengikuti arus perputaran waktu, 7 hari dalam seminggu terus menerus selama hidupnya. Ia harus pasrah, tunduk patuh terhadap hukum-Nya, sunatullah, hukum alam yang diciptakan-Nya. Bila tidak, ia akan terlempar dari perputaran, terinjak-injak dan menderita.

Sedangkan Sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak 7x, merupakan cerminan usaha manusia untuk bekerja keras 7 hari dalam seminggu selama hidupnya demi mendapatkan apa yang dicita-citakannya dengan mengharap ridho-Nya. Dan bila Allah SWT ridho, cita-cita tersebut akan terlaksana. Kegiatan ini juga untuk mengenang bagaimana seorang Siti Hajjar, seorang perempuan yang ditinggalkan di tengah padang pasir karena ketakwaan sang suami (Ibrahim as) akan Tuhannya, berjuang keras untuk mendapatkan setetes air untuk bayi yang baru dilahirkannya (Ismail as). Dan atas ridho-Nya pulalah akhirnya muncul sumber air zam-zam di dekat kaki sang bayi. Sumber air yang telah ribuan tahun umurnya ini hingga kini masih terus memancarkan airnya walaupun setiap tahun dikonsumsi oleh jutaan jamaah haji.

Berikutnya adalah Wukuf di padang Arafah. Inilah puncak kegiatan haji. Tamu-tamu Allah yang datang dengan susah payah dari segala penjuru dunia ini diberi kesempatan mulai waktu zuhur hingga waktu magrib untuk ‘menemui’Nya. Di tempat inilah Allah SWT secara langsung mendengar keluh-kesah maupun permintaan hamba-hambaNya dan menatapnya dengan penuh kasih-sayang.

Rasulullah bersabda : “… Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?”.

Kehadiran Sang Khalik di padang Arafah untuk menyaksikan hamba-Nya yang datang dan hadir di padang yang gersang tersebut sesungguhnya adalah sebuah kehormatan besar dan kemuliaan bagi umat Rasulullah saw. Karena bahkan gunung dan Musa as pun sebagai salah satu rasul pilihan, tidak sanggup menyaksikan kehadiran-Nya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Terjemah QS.Al-‘Araaf(7):143).

Wukuf di Arafah adalah sebuah gambaran puncak perjalanan hidup bahwa semua manusia kelak sebelum masuk surga atau neraka akan dikumpulkan disuatu tempat yang dinamakan padang Masyar. Ditempat ini semua atribut keduniawian ditanggalkan. Kain Ihram yang dikenakan para jemaah haji adalah cerminan kain kafan yang merupakan satu-satunya harta yang dibawa seseorang ketika wafat. Hadir di Arafah juga mengingatkan agar manusia hendaknya kembali ke fitrah semula sebagaimana bayi yang dilahirkan ke dunia tanpa membawa apapun. Jadi wukuf adalah sebuah kegiatan untuk merenungkan diri dalam rangka menghadapi hari akhir yang sungguh dasyat dan mengerikan, yaitu sebuah hari yang pasti terjadi dan tak terelakkan.

Kemudian Jumrah, yaitu melemparkan batu kerikil ke 3 buah tugu; Aqabah, Ula’ dan Wustha’. Kegiatan ini melambangkan perlawanan manusia terhadap nafsu jahat yang ditebarkan oleh syaitan. Ditempat inilah Ibrahim as dicegah oleh syaitan agar membatalkan niat melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail as.

Namun sebelum Jumrah, kita harus ‘mabit’ atau ‘bermalam’ dahulu di Muzdalifah guna mencari batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar Jumrah. Hikmah yang dapat diambil dalam kegiatan ini adalah diperlukannya persiapan dalam menghadapi lawan diantaranya yaitu pentingnya bekal ilmu.

Terakhir, sebagai bukti bahwa seorang hamba telah berhasil mengusir dan melawan nafsu jahatnya maka ia wajib berkorban dengan menyembelih kambing, unta ataupun sapi. Pengorbanan atau penyembelihan ini sesungguhnya hanyalah lambang ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhannya, Allah Azza wa Jalla sebagaimana dicontohkan Ibrahim as yang dengan patuh melaksanakan perintah-Nya walau perintah tersebut adalah perintah untuk menyembelih putra satu-satunya ketika itu.

Beruntung, kita tidak dicoba dengan perintah untuk menyembelih anak kita! Allah swt amat memahami tingkat keimanan kita. Oleh karenanya Ia hanya menyuruh kita untuk mengorbankan sebagian harta dan waktu yang sungguh tidak seberapa dibanding segala nikmat yang telah kita terima… Masya Allah …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26/12/06.

Vien AM.

Read Full Post »

Keluasan Rahmat Allah.

“ Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”.(QS.Al-Furqon(25): 68 – 69).

Inti ajaran Islam adalah Tauhid yaitu menyembah hanya kepada-Nya, Sang Khalik yang telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, tempat mengadu. Tidak ada yang selain Dia, tidak pula yang bersama Dia. Penyembahan mutlak yang dilakukan dengan hati yang ridho’, ikhlas dan tulus hanya kepada-Nya yang bila diikuti dengan amal perbuatan shaleh kelak akan mengantarkan manusia untuk kembali ketempat yang mulia disisi-Nya, yaitu Surga. Sesungguhnya perbuatan syirik, membunuh tanpa alasan yang sesuai syariat dan berzina adalah dosa-dosa besar yang tak terampuni. Allah SWT amat murka dan tidak meridho’i manusia yang berbuat demikian.

Namun disebabkan kecintaan Allah SWT yang begitu besar kepada manusia maka bila orang yang telah tersesat jauh tersebut mau memohon ampunan yang sebenar-benar ampunan, ampunan dan taubat yang disertai janji bahwa ia tidak ingin dan tidak akan mau mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut serta kemudian ia mengerjakan amal saleh maka Allah SWT, Sang Pemberi Taubat akan membukakan pintu maaf dan pintu ampunan bagi siapa yang dikendaki-Nya.

“ kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.(QS.Al-Furqon(25): 70 – 71).

” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, …………….”QS.At-Tahrim(66):8).

Namun Allah SWT mengingatkan Dia tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika seseorang dalam keadaan sakratul maut, yaitu saat-saat menjelang kematian ketika tidak ada jalan lain baginya kecuali harus menyerah dan mengakui kesalahan serta terpaksa mengakui ke-Besar-an dan ke-Esa-an-Nya.

”Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”.(QS.Al-Mukmin(40):84-85).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Aku mengetahui penduduk neraka yang terakhir keluar dari neraka dan penduduk surga yang terakhir masuk ke surga. Ada seseorang ditampilkan. Allah berfirman :“ Enyahkanlah dosa-dosanya yang besar dan lucutilah dosa-dosanya yang kecil”. Kemudian dikatakan kepadanya, “ Kamu telah melakukan anu dan anu pada hari anu ”. Orang itu membenarkannya. Dia tidak dapat mengelak sedikitpun. Kemudian dikatakan: ” Setiap keburukanmu menjadi kebaikan”. Dia berkata : ” Ya Tuhanku, aku telah melakukan aneka kesalahan. Namun aku tidak melihatnya dalam catatan amalku ”. Maka Rasulullahpun tertawa hingga terlihat gigi taringnya.” ( HR Muslim ).

”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”.(QS. Al-Zalzalah(99):7-8).

Hanya berkat rahmat-Nyalah seseorang bisa masuk surga, karena sesungguhnya sebesar apapun pahala dan amal ibadah seseorang tidak mungkin mampu menebus apa yang telah Allah SWT limpahkan kepada manusia. Namun sebagai penghormatan dan tanda kasih sayang-Nya terhadap Rasulullah Muhammad SAW, Allah SWT memberikan izin kepada beliau untuk memberikan syafaat , yaitu memohonkan ampunan kepada-Nya bagi seorang yang mau meminta kepada beliau. Dan bila orang tersebut sebelumnya telah pula memohon ampunan kepada-Nya maka Allah SWT pun akan berkenan memberikan pengampunan kepada orang tersebut.

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS(An-Nisa’(4):64).

“ Katakanlah: ” Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Az-Zumar(39):53).

Demikianlah janji Allah SWT, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang, Sang Maha Pengampun. Ia memberikan harapan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, ampunan yang seluas-luasnya sebagai tanda kasih-sayang-Nya kepada seluruh umat manusia. Allah SWT tidak menghendaki rasa putus-asa menyelimuti hati mahluk yang dicintai-Nya.


Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 25/9/2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Kata Islam berasal dari akar kata Salima yang berarti selamat, damai, sentosa. Sedangkan Islam adalah berarti tunduk, patuh, berserah diri, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik, Sang Pencipta Alam Semesta dan segala isinya, agar tercapai keselamatan dan kedamaian di muka bumi. Oleh karenanya perintah utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul kepada umat manusia sejak zaman nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, tidak pernah berubah yaitu memurnikan ketundukkan, penyembahan dan penghambaan hanya kepada-Nya, tidak ada yang selain-Nya. Ini adalah ajaran Tauhid. Jadi sesungguhnya semua agama yang diturunkan melalui perantaraan para Nabi dan Rasul pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam. Yang berbeda hanyalah syariat, cara penyembahan, yang sesuai dengan zaman dimana Sang Rasul diturunkan ditengah masyarakatnya.

Yang disebut Islam yang dikenal sekarang ini adalah agama Islam yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW 14 abad silam dengan kitabnya Al-Qur’an. Didalam kitab ini diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi penutup yang diutus untuk seluruh umat yang ada di dunia ini. Allah SWT tidak akan mengutus lagi seorangpun Nabi maupun Rasul setelah itu. Artinya syariat yang dikehendaki dan diridhoi setelah adanya ajaran Muhammad SAW hingga akhir zaman nanti hanyalah ajaran yang dibawanya tersebut. Sedangkan ajaran dan syariat yang dibawa para Nabi dan Rasul terdahulu hanya berlaku untuk masa yang telah lalu dan umat tertentu pula.

Para Nabi dan Rasul ini mengajarkan bahwa dibalik kehidupan di dunia ini terdapat kehidupan akhirat. Semua kitab yang dibawa para utusan tersebut menerangkan hal ini dengan sangat jelas.

”dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.
(QS.Al-Baqarah(2):4-5).

Ironisnya, kehidupan akhirat ini jauh lebih kekal daripada kehidupan dunia. Dan kehidupan akhirat terbagi dua, yaitu surga dan neraka. Surga adalah kehidupan yang menyenangkan dan penuh kenikmatan sebaliknya neraka adalah kehidupan yang penuh kesengsaraan, penuh siksaan dan penderitaan. Celakanya lagi, kehidupan dunia inilah yang menentukan kehidupan akhirat nanti, tentu saja atas izin-Nya.

Maha Suci Allah, Ia tidak menginginkan hambanya masuk neraka. Sesungguhnya neraka dan siksaan yang ditunjukkannya hanyalah ancaman dan peringatan agar hamba-Nya berhati-hati dalam menjalani kehidupan dunianya, agar ia tidak tersesat dengan hanya mengikuti hawa nafsu serta menuruti godaan syaitan terkutuk. Untuk itulah Ia mengutus para Nabi dan Rasul lengkap dengan Kitab Petunjuknya. Dan untuk itu pula Allah SWT memerintahkan para utusan-Nya untuk memerangi hamba-hamba-Nya yang tersesat, bila mereka tidak mau dan tidak bisa didakwahi secara baik-baik. Itu semua demi keselamatan hamba yang dicintai-Nya dari siksa neraka yang sangat mengerikan!

Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar. Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan.

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud, Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya.

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri. Kemudian setelah Islam berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Tetapi dengan syarat pihak yang akan diperangi harus didakwahi terlebih dahulu secara damai. Bila mereka menolak dan ingin tetap pada pendiriannya semula, mereka tidak boleh menghalangi apalagi mengganggu ajaran Islam. Jika ia berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, orang-orang seperti itu tetap berhak mendapat hak perlindungan. Namun sebagai gantinya mereka harus membayar jiziah. (zakat bagi penduduk Muslimin). Tetapi bila mereka menolak apalagi mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus.

” Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”.(QS.Al-Anfal(8):39).

Tetapi harus diingat, perang dalam Islam bukan untuk kepentingan politik, kelompok, ras maupun golongan tertentu. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Jadi tujuan perang bukan untuk mencari korban dan asal membunuh saja. Hal ini jelas tercermin dari jumlah korban selama peperangan yang terjadi pada masa hidup Rasulullah. Tercatat selama 23 tahun itu telah terjadi kurang lebih 20 perang besar. Dr. Muhammad Imarah, seorang cendekiawan Muslim Mesir terkenal melakukan penelitian. Ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire, seorang filsuf Perancis yang hidup antara tahun 1694-1778 jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan. Bandingkan juga dengan jumlah korban yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tanah airnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 yang jumlahnya mencapai ratusan ribu.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itu yang diucapkan Rasulullah SAW ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena ia merasa tak mampu terus menerus melindungi keponakan tercintanya karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Ajakan ini pulalah yang terus dikumandangkan para utusan Allah sejak dahulu kala, agar manusia terhindar dari siksa api neraka.

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109).

Sayangnya, kebanyakan orang tidak mau lagi memikirkan Hari Akhirat. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan serta takut akan mati membuat pandangan dan pikiran menjadi picik dan sempit. Kebebasan berpendapat dan segala macam ideologi yang hanya sebatas pada kepentingan yang sifatnya duniawiyah dan hanya menguntungkan kelompok tertentu terus bermuncullan. Padahal hukum yang seperti ini akhirnya hanya akan memunculkan Hukum Rimba, siapa kuat dialah yang menang. Sungguh orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang merugi dan sangat patut di belas-kasihani.


Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 4/4/2008.
Vien AM.

Read Full Post »

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusu’(tenang), doa yang yang tidak didengar dan dari nafsu yang tidak pernah puas”

Begitulah bunyi salah satu doa yang diajarkan Rasulullah dalam mencari ilmu. Namun ilmu yang bagaimanakah yang dimaksud Rasulullah tidak berguna itu? Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih, mengkajinya adalah jihad dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, di-Esa-kan dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya Allah mengangkat bangsa-bangsa lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan,cahaya dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda :” Aku bertanya pada Jibril,’Apakah kepemimpinan itu?’ Jibril menjawab, ‘Akal”.

Dari kedua hadis diatas maka dapat disimpulkan bahwa ilmu yang bermanfaat yang dimaksud Rasulullah itu adalah ilmu yang dicari karena mengharap ridho Allah SWT dan yang disebabkannya seseorang menjadi bertambah dekat kepada-Nya. Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia itu ada empat: Pertama, yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Ia adalah alim, maka ikutilah. Kedua, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Ia adalah orang yang tertidur, maka bangunkanlah. Ketiga, yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang yang mencari bimbingan, maka ajarilah. Keempat, yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang bodoh, maka waspadailah.”. Sedangkan Al-Ghazali berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.” Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis berikut : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

” Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.(QS.Qaaf(50):22).

Saat ini ilmu pengetahuan telah berkembang dengan amat pesat. Berbagai cabang ilmupun banyak dipelajari orang. Kita bahkan dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia hanya dengan duduk didepan televisi. Namun apakah dengan adanya berbagai penemuan itu hidup menjadi mudah, tenang dan damai? Bukankah salah satu tujuan memperdalam ilmu agar kwalitas hidup meningkat? Kenyataannya dimana-mana masih terlihat berbagai kasus mulai kelaparan, kemiskinan, bunuh diri hingga penyakit fisik seperti demam berdarah, kanker, AIDS, chikungunya, flue burung dan yang terbaru liptospirosis, maupun penyakit mental seperti penyimpangan prilaku seksual seperti pemerkosaan, pedofili dan homoseksual. Juga munculnya berbagai masalah dunia seperti peperangan, isu nuklir, pemanasan global, krisis energi hingga adanya perubahan iklim, rusaknya lapisan Ozon, naiknya permukaan laut yang semuanya itu sebagai akibat dari pencemaran udara disebabkan makin tingginya konsentrasi gas rumah kaca (CO2 gas buang baik dari kendaraan maupun pabrik), diexploitasinya perut bumi secara berlebihan dan juga musibah banjir yang disebabkan penebangan liar dan pembuangan sampah yang sembarangan kemudian juga ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum lemah. Lalu dimanakah manfaat berbagai lmu mereka itu?

Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah bumi dan sebagai konsekwensinya ia harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya itu kepada Sang Pemberi mandat dan dengan demikian manusia juga sekaligus adalah hamba Allah. Sebagai khalifah bumi ia diberi kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan bumi agar hidupnya menjadi mudah dan tenang namun dengan syarat tidak merusak keseimbangan alamnya. Allahlah yang telah menetapkan segala hukum sebab-akibat yang ada di alam ini.

“………… dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Tampaknya inilah yang sedang terjadi saat ini. Alam menjadi murka karena manusia tidak lagi memegang amanah yang dipikulkan kepadanya yaitu untuk memelihara dan menjaga keseimbangan alam. Kerusakan terjadi karena ulah manusia. Maka atas izin-Nya akibatnya harus kita terima. Untuk itulah manusia harus berilmu. Dan hanya dengan akal dan keimanan sajalah manusia akan berhasil menggali ilmu yang menuju kebenaran. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, kebahagiaan dunia saja, kebahagiaan akhirat saja atau yang paling tinggi derajatnya yaitu kebahagiaan dunia-akhirat. Ini yang paling disukai-Nya.

“………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (QS.Al-Mujadillah(58:11).

Salah satu sifat Allah SWT yang harus kita imani adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman atau Maha Pengasih ini diberikan-Nya kepada seluruh mahluk ciptaannya tanpa kecuali sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi umatnya yang mau tunduk kepada perintah-Nya, yaitu kaum muslimin( kaum yang berserah–diri ). Hukum alam atau Sunatullah, yaitu kunci yang memperlihatkan hukum sebab-akibat atas aturan-aturan Allah SWT agar manusia dapat mengenal dan menaklukkan alam adalah salah satu nikmat dan bukti ke-ArRahman-anNya. Itulah sebabnya semua orang, baik muslim atau bukan, yang mau berusaha mencari ilmu berdasarkan hukum alam yang banyak tersebar di muka bumi ini, atas izin-Nya, akan mendapatkan kemudahan dan kesenangan dunia. Sebaliknya bagi ilmuwan muslim, kemudahan dan kebahagiaan dunia adalah ‘bonus’ karena tujuan utama seorang muslim adalah kebahagiaan akhirat. Karena seorang muslim menyadari bahwa dunia adalah jembatan menuju suatu tujuan, sedang tujuan adalah akhirat yang mempunyai dua ujung yaitu surga dan neraka.

“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi ……”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT. Dengan ilmu manusia dapat lebih merasakan sekaligus mengagumi kekuasaan dan kebesaran-Nya. Rasulullah bersabda:” Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Ilmu yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan, harta dan pangkat tidak akan sampai kepada hakekat hidup yang sebenarnya. Menurut Al-Ghazali pengetahuan indrawi tunduk dibawah ilusi dan kesesatan. Sebagai contoh, ia mengemukakan betapa matahari dan bintang-bintang di langit terlihat begitu kecil, ia hanya bagaikan dinar dinar yang berserakan di atas hamparan kebiruan padahal sesungguhnya ia adalah benda raksasa di langit, bahwa apa yang diterima oleh mata adalah hanya bayangan terbalik, bagaimana fatamorgana telah menipu penglihatan. Bukankah penglihatan kita ini terbentur hanya sebatas dinding atau paling jauh hanya sebatas cakrawala? Demikian pula seluruh panca-indra kita, sesungguhnya ia hanya memiliki kemampuan yang amat sangat terbatas. Oleh sebab itu, masih menurut Al-Ghazali, pengetahuan indrawi patut diragukan kebenarannya.

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. ……(QS.An-Naml(27):88).

Bagaimana pula halnya dengan pengetahuan rasional berdasarkan akal? Seperti diketahui, sains berkembang melalui pengamatan, penelitian dan berbagai percobaan berdasarkan data yang ditangkap oleh pancaindera baik langsung maupun dengan bantuan alat deteksi karena manusia memang tidak memiliki kemampuan melihat yang ghaib. Namun karena sains telah sejak lama dikuasai oleh bangsa Barat yang sebagian besar Atheis, yang tidak mempercayai yang ghaib, yang tidak meyakini keberadaan Allah dan tidak menjadikan Al-Quran sebagai pegangan maka sains berkembang hanya sebatas akal mereka saja.

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.(QS.An-Najm(53):28).

Padahal sebagai ganti atas keterbatasan indera dan akal manusia, Allah SWT telah memberikan kita hati. Dan hati yang senantiasa bersih akan selalu siap menerima cahaya ilahi. Dengan bantuan cahaya inilah manusia akan dibimbing untuk menemukan dan mengenal kebenaran yang hakiki. Namun hati perlu dirawat, ia bagaikan cermin yang harus selalu dibersihkan. Dengan apa ia harus dibersihkan? Tentu saja bukan dengan lap yang kotor karena hal tersebut hanya malah akan membuat cermin menjadi buram sehingga pantulan yang diberikanpun menjadi tidak sesuai dengan kebenaran. Itulah perumpamaan ilmu yang sesat. Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Karena tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena Islam bukanlah sekedar agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya sebagaimana kebanyakan agama, ia melainkan adalah nafas kehidupan yang memperlihatkan segala yang ada di alam semesta termasuk hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam. Islam adalah juga sains.

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?(QS.Al-Anbiya(21):30).

“ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. “(QS.Al-Anbiya(21):104).

Kedua ayat diatas dalam dunia sains membuktikan akan kebenaran teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta atau kiamat. Itu semua terjadi atas kehendak Allah SWT, atas izin-Nya.

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Jadi sungguh menyesatkan bila selama ini berkembang teori yang mengatakan ‘karena hukum alam’ tanpa menyebut kata Allah SWT atau ‘secara kebetulan’ ataupun ‘dengan sendirinya’ seperti halnya dalam proses penciptaan alam semesta dan evolusi. Ini jelas sebuah penolakan terhadap keberadaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Alangkah congkaknya !

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS.Yaasin(36):77).

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa“. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(QS.Al-Fushilat(41):11).

Itulah hukum alam atau sunatullah, ia tunduk-patuh kepada perintah-Nya. Ironisnya, ajaran tersebut beredar luas di berbagai buku IPA pegangan siswa SMP dan SMA di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim! Maka sebaiknya kita sebagai orang tua harus selalu waspada dalam mengawasi pendidikan anak-anak kita yaitu dengan membekali mereka dengan Al-Quran dan As-Sunnah sedini mungkin sebagai bekal keimanan mereka. Sehingga ketika mereka dewasa kelak, apapun ilmu yang dipelajarinya akan memberinya manfaat, tidak malah menyesatkannya.

Rasulullah bersabda : “Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada ilmunya.”

Wallahu’alam.

Jakarta, 5/2/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

Manusia pada umumnya amat mencintai kehidupan dunianya. Untuk mencapai itu semua ia rela bersusah-payah bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah. Ia merasa hidupnya menderita bila kebutuhan hidupnya tidak semua terpenuhi. Ia merasa kurang sempurna bila tidak memiliki keturunan. Ia merasa terhina bila dirinya tidak mendapat penghargaan dari orang lain. Namun demikian pada kenyataannya, tidak semua orang yang kebutuhan materi dan dunianya terpenuhi merasa bahagia dan tenang hidupnya. Jika demikian dimanakah sebenarnya letak permasalahannya?

Sebagai orang beriman, kita tentunya tahu dan yakin bahwa kita ini hidup karena Allah SWT. Dialah yang menciptakan kita. Dengan demikian tentu Dia pulalah yang mengetahui segala kebutuhan kita. Dialah yang berkuasa atas segala yang ada pada diri kita termasuk diantaranya kemudahan rezeki, kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Oleh sebab itu disamping bekerja keras seharusnya kita selalu bermohon kepada-Nya agar usaha kita tersebut memberikan hasil yang terbaik. Kita mohon ridho-Nya. Allah dengan jelas telah memberikan petunjuk bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada-Nya.

“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabut(29):45).

Allah mewajibkan setiap umatnya agar menikah dan berkeluarga. Demikian pula hadist rasulullah. Karena dengan berkeluarga hidup akan lebih tenang dan tentram.Masing-masing anggota keluarga mempunyai kewajiban dan hak. Seorang laki-laki yang telah menikah adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia wajib bekerja dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Ia juga harus bertanggung-jawab atas prilaku dan moral istri dan anak-anaknya itu.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS.Taahaa(20):132)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.At-Tahriim(66):6).

Sedangkan seorang perempuan sebagai istri, ia wajib menjaga diri dan mematuhi suaminya.

“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nuur(24):31)

Ayah dan ibu adalah dua orang yang harus paling bertanggung-jawab terhadap anak-anaknya. Allah telah memilih mereka berdua agar menyayangi, menjaga serta mendidik putra-putrinya. Adalah tugas keduanya untuk mengingatkan bahwa kehidupan di dunia adalah cobaan. Bahwa tempat kembali kelak adalah akhirat.  Alkisah terjadi percakapan di alam ruh sebagai berikut :

Bayi : “ Ya Allah kenapa aku harus meninggalkan surga yang begitu indah ini ?”

Allah swt :  “ Karena aku ingin mengujimu

Bayi : “ Tapi siapa yang kelak akan menjaga dan menyayangiku seperti Kau menjaga dan menyayangiku ? ”

Allah swt: “ Aku akan mengirimkanmu malaikat yang akan menjaga dan menyayangimu”.

Bayi : “ Namun bagaimana bila aku rindu pada-Mu?” , rengek si bayi dengan nada penuh keberatan.

Allah swt : “ Malaikatmu itulah yang akan mengajarimu bagaimana kau dapat menghubungiku”.

Bebe: “ Kalo begitu katakanlah padaku, siapa malaikat  yang akan menjagaku,menyayangiku dan mengajariku ketika aku rindu pada-Mu , Ya Allah ?”

Allah swt : “ Malaikat itu adalah AYAH dan IBU-mu”.

Jadi sungguh berat tugas kedua orang tua itu. Di tangan merekalah nasib dan masa depan mereka berada.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan suci dan islam, yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi adalah orang tuanya“. (HR.Al-Bukhori).

Namun dalam kenyataannya, berapa banyak orang-tua yang lebih marah dan kecewa ketika mendapati anaknya tinggal kelas, malas belajar atau bahkan ‘hanya’ lupa menggosok gigi dibanding anaknya yang lupa mengerjakan  shalat, menghafal ayat-ayat Al-Quran atau bahkan menutup auratnya dengan baik.

Karenanya wajib bagi seorang anak agar menyayangi keduanya, terutama ibu yang telah dengan susah-payah mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Itu sebabnya Allah SWT memerintah seorang anak agar menghargai dan menghormati ibu tiga kali lebih besar dari ayahnya.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. ” Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi.“Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.(QS.Luqman(31):14).

Al-Quran menyebutkan manusia yang tidak mau menjalankan perintah Allah bagaikan seekor binatang bahkan lebih buruk lagi. Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali neraka jahanam.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(QS.Al-Araf(7):179).

Kemudian kelak ketika ajal menjelang, ketika diperlihatkan neraka sebagai tempat mereka kembali ,mereka amat menyesal dan ingin diberi kesempatan sekali lagi agar dapat memperbaiki cara hidup mereka. Namun semuanya telah terlambat.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(QS.Al-Mu’minuun(23):99-100).

Seperti kita ketahui, umur manusia rata-rata pada zaman sekarang tidak lebih dari 100 tahun bahkan 80 tahunpun jarang. Setelah itu kita akan dikembalikan kepada Sang Pemilik yang telah menciptakan kita dan kita harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia. Kemudian setelah itu kita akan memasuki babak baru yaitu babak kehidupan setelah mati, kehidupan akhirat yang kekal, yaitu surga atau neraka. Maka alangkah meruginya manusia yang hanya sibuk memikirkan kehidupan dunianya tanpa mempersiapkan kehidupan selanjutnya.

“Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim)

 

Wallahu’alam.

Jakarta, 6/12/2006.

Vien AM.

Read Full Post »

Perempuan2 Tangguh

Siapakah mereka itu? Ibu2 kitakah, para istri, anak2 perempuan kita, kakak2 kita atau adik2 kita atau teman2 perempuan kitakah? Semuanya bisa jadi akan tetapi perempuan yang bagaimanakah mereka itu? Biasanya bila orang menyebut kata perempuan maka yang ada di benak dan langsung terbayang adalah sosok seorang yang rapuh, sosok lemah, sosok yang mempunyai perasaan amat peka dan sensitive atas segala sesuatu, yang mudah dipermainkan oleh perasaan takut& khawatir dan yang tak jarang pula dianggap remeh oleh lawan jenisnya, yaitu kaum lelaki. Tetapi benarkah semua itu?

Bila demikian, marilah kita bayangkan sejenak ibu-ibu kita, ibu yang telah melahirkan kita ke dunia ini yang hanya dengan perantaraannyalah Sang Maha Pencipta mempercayakan kelahiran seorang manusia, semua manusia kecuali tentu saja manusia pertama yang langsung diciptakanNya dengan ‘Kun Fayakun’ maka jadilah ia, yaitu nabi Adam as.

Untuk sementara sisihkan dahulu bayangan ibu yang telah beranjak senja. Bayangkanlah ibu ketika beliau masih muda, ketika beliau mengandung dan harus menanggung beban dalam rahimnya selama lebih-kurang 9 bulan, dan kemudian bayangkanlah perjuangannya untuk melahirkan anak-anaknya. Kemudian disusuinya selama 2 tahun, dipelihara, dididik dan dibesarkannya dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang tanpa mengharap imbalan sedikitpun. Ibu yang tak mengenal lelah, siang dan malam bekerja di rumah demi menjaga keutuhan keluarganya. Bahkan tak jarang pula ibu yang terpaksa bekerja keras di luar rumah membanting tulang untuk membantu sang suami mencari nafkah. Maka mungkinkah kita katakan bahwa mereka itu mahluk yang lemah?

Maka untuk itu pulalah, sebagai imbalan atas jerih payahnya, Allah berfirman :

“Dan telah Kami perintahkan kepada manusia(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” .  (QS.Luqman( 31):14)

Perempuan tangguh juga adalah mereka yang berpendirian teguh,yang kuat tekadnya untuk mempertahankan keyakinan dan agamanya. Ia tidak mudah terpengaruh oleh apapun dan siapapun walau lingkungan disekitar menentangnya. Perempuan yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk berpikir apakah hakekat hidup ini, apakah tujuan hidup ini, mengapa ia hidup, siapa yang menghidupkannya, kepada apa dan siapa ia harus mempertanggung-jawabkan hidup ini. Yang kemudian untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ia mau mencari jawabnya. Perempuan yang dengan penuh keridhoan mau menerima ketetapan-Nya secara kaffah, tidak memilah-milah dan memisah-misahkan ayat2 mana yang disukainya dan mana yang tidak disukainya. Semua diyakininya.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS.Al-Baqarah( 2):208).

Mereka yang mau berpikir, mengapa hanya kaumnya saja yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan yang kemudian dapat menerima kodratnya sebagai perempuan. Maka dengan demikian ia tahu persis apa yang menjadi hak dan tanggung-jawabnya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu maupun sebagai anak perempuan. Sebagai istri misalnya, ia akan berani mengingatkan sang suami untuk terus berada di jalan yang benar tetapi dilain pihak tetap dapat menghormatinya sebagai kepala keluarga.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.At Taubah( 9):71)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan), dan karena mereka(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS.An Nisaa’( 4):34).

“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”.(QS.Al Baqarah( 2):233)

Rasullullah saw bersabda :“Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah,dinar yang kamu nafkahkan untuk budak,dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin dan dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.  “Yang lebih besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu”.

Perempuan_perempuan seperti inilah yang kelak akan mencetak manusia-manusia berkwalitas, manusia-manusia bermoral yang akan mampu memimpin sebuah bangsa besar. Mereka itu bagaikan bibit unggul yang akan menghasilkan benih-benih yang unggul pula. Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”. Karena sesungguhnya perkawinan bukanlah sekedar pemenuhan keinginan biologis & penyaluran dorongan hawa nafsu semata akan tetapi jauh lebih mulia. Rasullullah juga menambahkan :”Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan suci & mensucikan maka hendaklah ia mengawini wanita yang menjaga kehormatannya”.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”.(QS.An Nuur( 24):33).

Tampaknya pepatah yang berbunyi “ Maju-mundurnya sebuah bangsa tergantung kaum perempuannya” ataupun “ Surga dibawah telapak kaki ibu” tidaklah keliru.

Selain itu karena kehidupan dunia adalah bagaikan ladang untuk mencari amal-shaleh yang kemudian hasilnya akan dibawa kelak ke akhirat, maka perempuan-perempuan tangguh adalah juga mereka yang mau menuntut ilmu yang bermanfaat dan yang kemudian diamalkannya untuk kebaikan umat. Rasullulah menegaskan, tiga hal yang tidak terputus pahalanya dan terus mengalir bagi manusia walaupun ia telah tiada, yaitu : amal-shalehnya, ilmunya yang terus diamalkan untuk kebaikan umat dan doa anak yang shaleh.

Allah berfirman : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”.(QS.An-Nisaa’( 4):124)

Ada banyak perempuan tangguh yang patut dijadikan suri teladan, empat diantaranya adalah:

1.Siti Khadijah ra, istri Rasullullah saw, Ummul Mukminin.

Beliau adalah seorang perempuan kaya-raya bangsa Quraisy yang termasuk elite masyarakat Arab saat itu. Beliau adalah seorang perempuan yang cerdas yangmenguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik.Beliau adalah seorang saudagar perempuan yang sukses yang sangat dihormati dan amat dikenal. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya. Bahkan jauh sebelum kerasulan beliau telah amat menghormati suaminya itu walaupun usia Rasullullah jauh lebih muda dari beliau sendiri. Beliau rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk dakwah Rasullullah.

2.Siti Maryam, ibunda Isa as.

Beliaulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang atas kehendak dan mukzizat-Nya mengandung tanpa sedikitpun sentuhan lelaki. Beliau adalah seorang putri keluarga Imran,keluarga yang amat shaleh. Ketika ibunya dikabarkan akan melahirkan seorang bayi padahal usianya telah amat tua, maka beliau dinazarkan untuk menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Beliau dibesarkan dibawah pemeliharaan Zakaria as. Beliau menerima cobaan Allah untuk mengandung bayinya itu dengan pasrah dan berserah-diri.

3. Asiya, istri Firaun.

Beliau adalah istri Firaun,seorang raja Mesir yang menganggap dirinya Tuhan,seorang yang amat mengingkari Tuhannya. Tetapi Asiya dibawah kekuasaan suami yang zalim tetap bertahan menjadi hamba Allah yang shaleh.

4. Sumayyah, seorang budak yang hidup di zaman Rasulullah saw.

Bersama suami dan anaknya, Ammar, beliau termasuk orang-orang awal yang beriman dan mengakui kerasulan Muhammad saw. Beliau adalah perempuan yang berasal dari keluarga miskin. Beliau dan keluarganya disiksa oleh kaum musyrikin Mekah saat itu karena mempertahankan keimanannya tersebut. Beliau akhirnya ditikam bagian bawah perutnya dengan tombak oleh Abu Jahal hingga rahimnya koyak dan tewas saat itu juga. Beliaulah orang pertama yang mati syahid dalam Islam.

Ke-empat perempuan shalehah ini telah dijanjikan surga sebagai imbalan atas ketakwaan mereka.

Wallahu ‘alam bish shawab.

Paris, 20 januari 2009.
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »