Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Pada suatu hari Minggu, kami pergi mengunjungi Pay Basque. Provinsi di ujung Barat Daya Perancis yang berbatasan dengan Spanyol dan teluk Gasconi di Samudra Atlantik ini  ini terbagi menjadi 2, bagian utara milik Perancis dan bagian selatan dibawah kekuasaan Spanyol. Hendaye (Pay Basque Perancis ) dan Irrun ( Pay Basque Spanyol ) adalah dua kota  berdampingan yang menjadi batas  negara antara keduanya. Di Pay Basque yang dikuasai Spanyol sejak lama telah sering terjadi pembrontakan. Mereka  ingin lepas dari kekuasaan pusat karena merasa berbeda dalam segala hal, baik budaya maupun bahasanya.  Bahkan hanya dua hari setelah tulisan ini dibuat, sebuah bom kembali meledak di wilayah tersebut.

Tujuan pertama kami hari ini adalah La Rhune, puncak gunung terendah Pyrene ( 907 M). Jarak Pau dengan tempat ini tidak lebih dari 2 jam dengan kecepatan mobil rata-rata 120 km/jam.  Pemandangan disini  sungguh menakjubkan, saking dekatnya, laut dan pegunungannya seperti tak berjarak, . Pada musim dingin pegunungan yang dikenal dengan nama Pyrene ini menjadi tujuan kedua pecinta  olah raga ski dunia setelah Alpen. Pegunungan Pyrene terdiri lebih dari 30 puncak gunung. Sebagian diantaranya memiliki ketinggian diatas 3000 m.

puncak La RhuneUntuk mencapai La Rhune, dari St Jean De Luz kami menumpang ‘petit train’, kereta api mini yang dirancang khusus untuk para turis yang ingin mengunjungi gunung tersebut. Tak sampai 30 menit kemudian kami telah sampai di puncak gunung. Dari ketinggian ini kita dapat melihat perbatasan Perancis – Spanyol dengan sangat jelas. Dari sini bila mau, kita dapat turun dengan berjalan kaki selama 2 jam sambil menghirup udara segar pegunungan.

Setelah puas menikmati keindahan panoramanya kamipun turun dengan menumpang kereta yang sama yang siap melayani wisatawan setiap 30 menit sekali. Selanjutnya kami  menyusuri  ’ La Corniche ’ , jalan yang menghubungkan kota-kota di sepanjang pantai teluk Gasconi dari St Jean De Luz hingga Hendaye. Pay Basque ditambah dengan kecantikan bangunan kayunya yang khas gaya Basque rupanya hampir setiap waktu ramai dikunjunjungi wisatawan manca Negara. Kota-kota yang kami lewati, sekalipun kota kecil, tampak teratur dan tidak semrawut walaupun  kemacetan terjadi di sana sini. Tampak jelas  bahwa ekonomi negri ini telah merata hingga ke seluruh pelosok. Dua abad terakhir ini  Perancis atau Eropa secara umum memang telah jauh meninggalkan tehnologi dan peradaban Islam.

Namun dilihat dari segi peradaban, kesan tersebut segera hilang begitu kami  memasuki  pantai. Di tempat ini makhluk perempuan yang dalam pandangan Islam sangat dihormati, dengan teganya telah mempermalukan dan merendahkan diri mereka sendiri. Tidak cukup hanya dalam  bikininya, diantara mereka ini bahkan dengan santainya berjalan-jalan di tepi pantai  tanpa penutup dada !  Astaghfirulah…dalam hati saya berpikir apa bedanya mahluk terhormat yang diciptakan-Nya dengan sempurna ini dengan  (ups.. maaf.. ) anjing yang mereka bawa?? Bahkan binatang kesayangan peliharaan rata-rata orang Perancis ini  saja di beberapa tempat diharuskan memakai  penutup….

Menjelang sore, di sebuah kota kecil kami mencari restoran untuk makan siang. Namun mungkin karena sudah lewat waktu makan, hanya sedikit resto yang masih buka. Disamping itu banyak resto dan juga toko yang memang tutup dari jam 14.00 hingga jam 16.00. Karena tidak banyak pilihan, kamipun masuk ke salah satu resto terdekat yang masih buka. Setelah memperhatikan menu, sekilas saya bertanya apakah menu ayam yang tersedia tidak bercampur dengan babi. Dengan spontan sang pelayan yang asli bule Perancis itu segera  menjawab tentu saja tidak. Diluar dugaan ia malah menambahkan  bahwa restonya menyediakan menu  kebab yang pastinya halal.  Jadilah kami memesan 2 kebab  dan 2 menu sosis ayam . Namun ia segera menyela bahwa ia tidak yakin sosisnya tidak dicampur dengan daging babi. Terpaksa kamipun membatalkan pesanan sosis. Menu sosis diganti salad dengan ikan salmon untuk suami. Sementara saya sendiri kehilangan nafsu makan, jadi saya tidak memesan apapun.

Namun baru beberapa detik kami bernafas lega, anak muda tadi muncul lagi  di hadapan kami. Kali ini dengan raut wajah menyesal  ia berkata bahwa menurut bossnya isi kebab memang halal namun agar empuk rotinya diolah dengan bantuan minyak babi sebagai emulsi! Inna lillahi …..yaaahhh apa boleh buat, kebabpun batal. Akhirnya anak-anak terpaksa memesan baguette, roti panjang khas Perancis,namun  isinya tetap  daging kebab… Alhamdulillah bisa makan.

Namun yang membuat kami terheran-heran sekaligus kagum adalah sikap si pelayan tadi.  Dengan  besar hati dan sabar, tanpa takut kehilangan pelanggan, ia mau memberi tahu hal  yang sebenarnya. Disini terlihat bahwa ia sangat menghargai tamunya yang dalam hal ini tidak mengkonsumsi daging babi. Ia bahkan tahu mana yang halal dan haram bagi kami. Hal yang sangat patut untuk  dicontoh.  Kami angkat  topi untuknya.

Biarritz dari balik batu karang pantai
Biarritz dari balik batu karang pantai

Menjelang  pukul 6 sore kami tiba di Biarritz. Ini adalah kunjungan ke dua kami ke kota pantai tersebut. Sejak kunjungan pertama 6 tahun yang lalu, anak-anak sudah meng- ‘claim’ bahwa kota ini adalah kota favorit mereka. Belakangan kami baru tahu ternyata Biarritz adalah termasuk salah satu kota favorit dunia yang sering menjadi tuan rumah kejuaraan surfing dunia.

Sebelum turun, kami terlebih dahulu melaksanakan shalat zuhur dan ashar berjamaah yang diqodho, didahului dengan tayamum. Shalat terpaksa dilaksanakan  di dalam mobil.  ( Ketika itu Zuhur  sekitar pukul 14.00, Ashar  18.00, Magrib 21.50 dan Isya pukul 23.15). Kami memang hampir selalu melakukan shalat seperti ini ketika bepergian karena sulit menemukan Masjid. Untuk saya pribadi, pengalaman ini sungguh memberikan kesan yang sangat mendalam. Walaupun bisa jadi tidak semua orang setuju dengan shalat yang demikian.

Biarritz diantara laut & pegunungan
Biarritz diantara laut & pegunungan

Biarritz harus diakui memang sangat indah. Kota ini terletak  di sebuah teluk yang melengkung dengan latar belakang pegunungan. Hotel-hotel tinggi berdiri  berjejer di sepangjang pantai. Untuk menikmati keindahan pantai kita tidak harus turun dari kendaraan. Namun bila kita ingin menyusurinya dengan berjalan kaki tanpa kaki kita harus menjadi basahpun bisa. Jalan untuk pejalan kaki dibuat naik turun dan berkelok-kelok mengikuti garis pantai.

Di sebuah toko souvenir saya dan anak perempuan saya menyempatkan diri masuk dan melihat-lihat koleksinya . Namun tanpa disengaja anak saya menyenggol sebuah pajangan hingga mengalami sedikit kerusakan. Tanpa berkata sepatah katapun si penjaga segera menghampiri kami dan berusaha memperbaikinya.  Anak saya merasa serba salah. Saya sendiri perlahan-lahan keluar sambil berpikir apa yang sebaiknya kami lakukan. Anak saya juga menyusul keluar.

Tetapi  tak lama kemudian, merasa tidak nyaman, ia masuk lagi dan menanyakan apa yang harus dilakukannya. Dengan sopan si penjaga menjawab : ” Vous pouvez le remboursez ou bien se degager vite”, artinya kira-kira, dibeli atau mending buru-buru kabur aja!  Olala…g enak bener jawabnya… Terpaksa anak saya akhirnya membeli pajangan tersebut walaupun dengan mengomel pelan bahwa mungkin saja barang tersebut sudah rusak sebelum ia menyenggolnya…” Masa’ kesenggol pelan begitu aja udah patah…”, begitu keluhnya…:-(..

Belakangan anak saya bercerita, sambil membungkus barang yang sedikit rusak tadi sipenjual  berkomentar bahwa ibu kamu yang tadi berjilbab kan .? Aduuuh..untung anak saya segera memutuskan membeli barang tersebut, kalau tidak.. mau dikemanakan muka ini…  Yah itulah resikonya, tampaknya tidak ringan mengenakan jilbab, nama Islam adalah taruhannya..Ya Allah semoga Kau berikan aku kekuatan untuk istiqomah, amin.

Sunset di Biarritz
Sunset di Biarritz

Pukul 10 malam, setelah puas menikmati keindahan terbenamnya matahari di pantai, kami meninggalkan Biarritz menuju rumah dengan membawa sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. Alhamdulillahi robbil ’alamin, segala puji hanya bagi –Mu, Ya Allah .. begitu banyak tanda kekuasaan yang Kau berikan dan tunjukkan  kepada manusia..semoga hidayah senantiasa  menyertai para hamba yang pandai mensyukurinya, amin.

Pau- France, Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

20 Juli 2009 pukul 19.30 WIB, kami berempat telah  berada di dalam sebuah pesawat menuju Paris,  Perancis.  Di dalam pesawat ini kami  melaksanakan shalat magrib dan Isya dengan di-jama’. Wudhu’ terpaksa kami lakukan secara tayamum karena air sangat terbatas. Penerbangan yang membutuhkan  waktu  kurang lebih 17 jam termasuk transit di Singapore ini sebagian besar adalah pada malam hari. Pesawat seakan berjalan di tempat tak mampu ‘ mengejar’ matahari.

Akibatnya kami kesulitan menentukan waktu  subuh. Sebaliknya bila mau kita mempunyai kesempatan yang  sangat banyak untuk bertahajud sembari  duduk menikmati kegelapan  di dalam benda  yang terbang tinggi mengarungi  samudra langit  luas nan gulita dan  sesekali merasakan guncangan  ketika pesawat  harus menembus awan tebal. Sebuah keheningan  menakjubkan  yang membuat diri terasa  teramat kecil  dan tak berarti. Akhirnya  pesawatpun mendarat dengan selamat di Charles de Gaule Airport Paris, Perancis pada pukul 6.20 waktu Paris atau pukul 10.20 WIB. Alhamdulillah.

Beberapa jam kemudian setelah mendapat taxi dan menitipkan  koper di hotel, dengan menumpang metro kami pun tiba di pelataran Arc de Triomphe. Dari sini kami menyusuri Champs Elysee, salah satu  boulevard  paling terkenal di dunia yang setiap  hari selalu dipenuhi turis mancanegara. Kunjungan ke kota Paris kali ini sebenarnya  sebuah napak tilas. Tepat  sembilan  tahun yang lalu, kami berada di tempat ini. Bedanya   ketika itu kami berlima. Saat ini si sulung tidak bisa ikut bergabung karena sibuk dengan  pendaftaran program S2 di UI Jakarta. Dan lagi, dulu ayahnya anak-anak mendapat pos di Paris sedangkan kali  ini di Pau, sebuah kota di dekat perbatasan Perancis-Spanyol di kaki gunung Pyrene,  sekitar 800 km selatan Paris.  Seperti ketika di Paris, kali ini kami juga akan menetap di Pau selama 3 tahun.

Di sebuah kedai  roti yang menyediakan meja kursi di trotoir kami beristirahat sebentar,  menyantap baguette ; roti besar khas Perancis,  sambil menikmati keramaian di sekitarnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Place de La Concorde hingga kelelahan dan kembali ke hotel.

Esok sorenya  setelah mengunjungi  menara Eiffel , gedung pertunjukkan Opera yang cantik, Place de Tokyo; pelataran dimana si tengah dulu sering bermain papan seluncur, Sacre Coeur, gereja tua yang anggun di atas bukit yang merupakan tempat favorit si bungsu, kamipun pergi ke La Defense yang terkenal  dengan Grand  Arche-nya itu. Kami menutup perjalanan napak tilas sore itu dengan mampir ke Neuilly sur Seine, quartier elit dimana Sarkozy, presiden Perancis saat ini, dulu pernah menjadi  walikota. Di daerah inilah dulu kami tinggal.

Saya bersama si bungsu sedang duduk-duduk di taman  ketika seorang laki-laki setengah baya  ikut duduk di bangku di sebelah kami.  Setelah sedikit berbasa-basi, tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan tak terduga. Ia bertanya mengapa saya menutup rambut dan dada saya. Tentu saja dengan senang hati saya jawab bahwa agama saya yang memerintahkannya. Namun kemudian tanggapannya sungguh di luar dugaan. Ia berkata bagaimana mungkin orang zaman sekarang masih juga mempercayai kitab yang ditulis 14 abad yang lalu!  … Haaah?!?..kaget saya dibuatnya..

Apa boleh buat perdebatan ringanpun tak mungkin dihindari. Terus terang bahkan dalam bahasa ibupun bukan hal mudah untuk mempertahankan dan menerangkan  ajaran Islam. Apalagi dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa Perancis. Beruntung suami dan anak lelaki saya  kemudian juga ikut dalam perdebatan tersebut.  Namun ketika akhirnya saya bertanya apakah ia percaya pada kehidupan setelah mati dan jawabannya ‘ Non’, maka kami memutuskan untuk menghentikan perdebatan…Percuma.. Saya katakan  padanya : “ Oh, le pauvre..la  vie  n’est pas si simple , monsieur” ; hidup tidak sesederhana itu. Kemudian kami tinggalkan pria tersebut dalam keadaan tertegun-tegun. Alangkah malangnya, rupanya ia salah seorang diantara banyak orang Perancis yang atheis

Malam harinya, setelah sore itu kami pulang ke hotel dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan, ditemani si tengah suami,  pergi ke kedai kebab milik orang Turki yang terletak tidak berapa jauh dari hotel.  Mengetahui bahwa mereka berdua dari Indonesia dan muslim, mereka disambut dengan anthusias oleh si pemilik kedai. Sambil menunggu kebab siap dibawa pulang, keduanya diperkenalkan kepada para langganan yang sedang makan di tempat tersebut. Suasana akrab  menyelimuti mereka. Setelah berbasa basi mereka menanyakan tentang bom yang baru-baru ini meledak di Jakarta. Percakapan melebar hingga ke pertayaan mengapa Uztad Baasyir tidak juga dibebaskan dan  mengapa pula di Aceh yang katanya menerapkan syariah Islam tapi klub malam masih juga banyak bertebaran. ( ?1??)..apa ya jawabnya…

Percakapan berakhir ketika kebab siap. Si pemilik bermaksud memberikan potongan harga sementara  si pembeli berniat membayar lebih! Ikatan persaudaraan muslim terasa  sekali ditempat yang bermil-mil jauhnya  dari negri sendiri ini. Subhanallah…

Kunjungan ke Paris selama 3 hari tidak terasa usai sudah. Kami harus segera menuju Pau, besok suami sudah harus mulai bekerja kembali. Dengan mengendarai taxi kami menuju airport Orly, Paris. Didalam taxi inilah kami mengobrol dengan si sopir. Mungkin karena  saya memakai jilbab, sopir tersebut tanpa ditanya memperkenalkan dirinya  bahwa ia seorang Muslim. Walaupun ia lahir dan besar di Paris ia mengaku darah Aljazair dari kedua orang-tuanya tetap kental mengalir didalam tubuhnya. Dengan bangga ia menambahkan bahwa istrinya yang asli Perancis juga seorang Muslimah.Alhamdulilah…

Hari Jumat. Beberapa hari setelah kami tiba di Pau, suami mengajak saya dan kedua anak kami untuk shalat jumat di satu-satunya masjid di Pau. Masjid terletak di kawasan perumahan . Walaupun tidak terlalu besar tapi masjid terlihat bersih dan terawat. Ketika kami sampai disana khutbah baru saja dimulai. Sayangnya  khutbah diberikan dalam bahasa Arab(*). Saya perhatikan sebagian jamaah memang keturunan Arab.

Masjid Pau - France

Masjid Pau – France

Bagian perempuan  terletak di lantai atas. Khutbah disiarkan melalui layar tv yang dipasang di ruang ini. Kedatangan kami berdua, saya dan si bungsu,  rupanya cukup menarik perhatian. Selain karena jumlah jamaah yang tidak begitu banyak ( sekitar 50 an jamaah perempuan) hingga mereka hafal dan satu sama lain saling kenal  mungkin wajah kami juga asing bagi mereka. Beberapa diantara mereka melempar senyum ramah kepada kami. Suasana di dalam masjid hening. Kami perhatikan setiap kali penceramah bershalawat, jamaahpun ikut bershalawat dengan khidmat.

Shalat dilaksanakan setelah khutbah selesai. Imam membaca bacaan shalat dengan logat yang sangat kental  Arabnya  hingga saya merasa seperti di Mekah atau di Madinah saja. Hmm..sungguh syahdu. Usai  shalat, imam membacakan  syahadat beberapa kali dan diikuti seseorang. Rupanya siang  itu ada bule yang berikrar masuk Islam,  Allahuakbar!

Tak lama kemudian, sebelum bubar, tanpa kami duga seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan  menghampiri  kami  dan langsung mencium kedua pipi kami. Ia mengaku senang melihat kami berdua shalat di masjid tersebut. Perempuan berhidung mancung yang mengenakan abaya hitam itu berdarah Aljazair. Ia lahir dan besar di Perancis. Ia juga berbicara Perancis dengan fasih. Setelah sedikit berbasa-basi ia menanyakan apakah jumat depan kami akan kembali datang. Insya Allah..

( Bersambung)

(*) Pada kedatangan shalat Jumat berikutnya, kami baru menyadari ternyata khutbah yang kami dengar ketika itu adalah khutbah kedua. Khutbah pertama  dalam bahasa Perancis, Alhamdulillah..

Pau – France, 31 Juli 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

2001, Musim Dingin. Ini adalah musim Dingin kami kedua selama tinggal di rantau. Kali ini kami sepakat akan memanfaatkan libur panjang Noel, begitu orang Perancis menyebut Natal, dengan melancong ke Istanbul, Turki. Ayahnya anak-anak semula berniat mengendarai mobil sendiri seperti yang kami lakukan 2 tahun terakhir dikala musim libur tiba. Namun saya tidak  setuju. Karena walaupun sebagian Turki termasuk Eropa, jarak Istanbul – Paris terlalu jauh dan melelahkan untuk ditempuh melalui darat. Walau bagi orang Eropa yang gemar bepergian hal tersebut bukan hal yang mustahil. Akhirnya diputuskan perjalanan melewati udara.

Senin, 24 Desember pagi buta nan dingin itu kami berlima ( saya, suami dan ketiga anak kami) dengan menaiki taxi berangkat meninggalkan apartemen menuju Charles De Gaulle Airport. Pesawat Ryan Air yang kami tumpangi tinggal landas tepat pukul 7 pagi waktu Paris. Perjalanan makan waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 11 waktu setempat pesawat dengan mulus mendarat di Ataturk Airport, Istanbul. Waktu di Istanbul 1 jam lebih cepat dari di Paris.

Segera setelah urusan admintrasi, visa dan pengambilan koper beres, kamipun berbaur dengan rombongan yang sebagian besar terdiri dari bule2 Perancis. Dengan dipandu seorang guide Turki-Perancis kami menaiki bus besar dan menuju hotel. Tampaknya hotel ini adalah hotel langganan bagi pelancong asal negri empunya menara Eiffel. Ini terlihat karena disamping semua umbul2 selamat datangnya berbahasa Perancis, beberapa pegawainyapun piawai berbahasa tersebut.

Jarak dari airport menuju hotel lumayan jauh. Tampaknya bandara terletak di luar kota. Dengan demikian kami mempunyai kesempatan melihat tembok besar peninggalan Constantine, kaisar Romawi Timur, yang membentengi pusat kota. ( Nama lama Istanbul, Konstantinopel diambil dari nama kaisar tersebut). Tembok berwarna merah bata ini dulunya sekaligus berfungsi sebagai saluran irigasi kota. Saluran air atau aqueduct ini dibangun dibagian atas tembok. Bus langsung menuju hotel.

Setelah kunci kamar hotel dibagikan dan istirahat sejenak, turpun dimulai. Rombongan kembali menaiki bus. Temperatur ketika itu dingin sekali, ternyata hanya sekitar 1-2 derajat C! Brrr…. Di beberapa tempat masih terlihat adanya tumpukan salju. Pohon2 terlihat indah dengan ranting keringnya yang berwarna putih karena masih ditempeli sisa2 salju yang tampak seperti kapas. Sayang udara di luar kurang cerah bahkan hujan tampak mulai turun.

Kota Istanbul adalah sebuah kota yang memiliki beberapa keistimewaan. Yang pertama kota ini adalah satu-satunya kota di dunia yang menjadi bagian dari dua benua. Sisi barat merupakan bagian dari benua Eropa sedangkan sisi timur milik benua Asia. Yang kedua, kota ini sejak ribuan tahun telah menjadi kota yang diperebutkan banyak pihak dan bangsa. Athenian, Roman, Spartan, Persian, dan Macedonian adalah contohnya. Islam bahkan harus beberapa kali mencoba menaklukan kota sarat sejarah ini sebelum akhirnya berhasil menguasainya.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal]

Tampaknya hadis inilah yang menjadi penyemangat para pemimpin Muslim untuk menaklukkan Istanbul atau Konstantinopel.

Berfoto dengan latar belakang Fatih Sultan Mehmed Bridge

Berfoto dengan latar belakang Fatih Sultan Mehmed Bridge

Bus melintasi selat Borporus yang memisahkan Istanbul Eropa dari Istanbul Asia melalui Fatih Sultan Mehmed Bridge. Nama jembatan ini diambil dari nama sang penakluk Istanbul di tahun 1453 M. Ia adalah seorang sultan dari dinasti Otoman yang gagah perkasa. Ialah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul.

Dari kota ini pula kekhalifahan Islam memerintah selama lebih dari 400 tahun.  Sejak itu Istanbul terus membangun dan mempercantik dirinya hingga abad ke 18. Istanbul yang dipenuhi bukit, dengan menara masjid dan kubahnya yang khas serta pilar-pilarnya yang membumbung tinggi ke udara menambah keindahan dan kekhasan kota ini. Menurut data jumlah masjid di kota ini mencapai  ribuan.

Sebagian besar Istanbul Asia diperuntukkan bagi pemukiman. Sementara roda perekonomian dan pariwisata digerakkan dari Istanbul Eropa. Bus kembali menyeberangi selat menuju Istanbul Eropa. Kali ini melalui The Bridge of Borporus yang terletak di selatan jembatan sebelumnya. Jembatan gantung yang panjangnya 1510 m ini ketika dibangun pada tahun 1973 adalah merupakan jembatan terpanjang ke 4 di dunia. Di ujung selat sebelah selatan terlihat Menara Galatayang dahulu berfungsi sebagai menara pengintai dari serangan musuh yang datang dari Laut Marmara.

Bus kembali melintasi sebuah jembatan. Jembatan ini menyeberangi selat Golden Horn, pelabuhan kapal terbesar di Istanbul. Golden Horn sendiri adalah sebuah teluk. Dinamakan Horn karena menyerupai sebuah terompet. Sementara ketika matahari menjelang terbenam teluk terlihat berwarna keemasan. Golden Horn ini memisahkan Istanbul modern dari Istanbul tua.

Dari atas jembatan kubah-kubah masjid besar lebih jelas lagi terlihat. Diantaranya yaitu, Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan nama Blue Mosque, Yeni Mosque yang dikabarkan pembangunannnya memakan waktu lebih dari 60 tahun serta Sulemaniye Mosque dimana Sultan Sulemaniye Yang Agung, sultan terlama yang memegang pemerintahan Otoman dimakamkan di dalamnya.

Bus berbelok ke arah kiri, menyusuri tepi laut. Di ujung semenanjung yang terletak diantara selat Borporus dan laut Marmara inilah sebagian besar peninggalan bersejarah berada. Museum Topkapi, Blue Mosque dan  Aya Sophia terlihat berjajar dalam satu garis dengan latar belakang selat Borporus yang biru mempesona bertemu dengan laut Marmara. Area ini dikenal denga nama The Old Town.

Laut Marmara dihimpit oleh selat Borpurus di bagian utaranya serta Laut Tengah / Laut Mediterania di selatannya. Sementara selat Borporus ke arah utara bertemu dengan Laut Hitam/ Black Sea. Jadi secara geografis Istanbul dikelilingi oleh laut. Agaknya inilah yang membuat Istanbul menjadi incaran banyak pihak.

P1010744Begitu sopir bus memarkir kendaraannya di parkiran dengan tidak sabar kami segera turun dari bus. Beserta rombongan kami menyusuri  Sultan Mehmed Square, sebuah taman luas nan indah. Inilah jantung kota tua Istanbul. Selain dihiasi air mancur di taman ini berdiri pula Obelisk yang dibawa dari Mesir 3500 tahun yang lalu. Di tempat ini dahulu berdiri Hipodrome yaitu arena pertunjukan khas Romawi antaa manusia dan binatang buas !

P1010764Dari sini kami memasuki Aya Sophia. Aya Sophia adalah bangunan legendaris tertua di Istanbul. Bangunan ini didirikan pada tahun 325 M dibawah pemerintahan Constantine.. Semula bangunan ini adalah bangunan gereja namun ketika Islam masuk 11 abad kemudian bangunan ini kemudian diubah fungsinya menjadi masjid.

Empat menara tinggi yang ada sekarang adalah tambahan setelah gereja dijadikan masjid. Sejak saat itu Aya Sophiapun menjadi pusat penelitian dan perkembangan ilmu yang berkembang sangat pesat. Karena fungsi masjid pada masa kejayaan Islam memang bukan sekedar tempat ibadah saja. Namun sejak kejatuhan kekhilafahan pada tahun 1924, Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki yang sekuler bahkan syahdan dikabarkan Yahudi, memerintahkan masjid besar ini diubah fungsinya menjadi museum hingga yang kita saksikan hari ini.

http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/siapa-sebenarnya-mustafa-kemal-attaturk.htm#.V3ifBrh96Uk

P1010838P1010807P1010800P1010795Selanjutnya kami menyebrangi taman dan menuju The Blue Mosque yang merupakan satu diantara tujuan utama wisatawan mancanegara. Seluruh bagian dalam masjid yang didirikan pada sekitar 1609-1616  M dibawah perintah sultan Ahmad I ini didominasi oleh warna biru langit yang sangat indah. Bagian dalam masjid ini sangatlah cantik. Jauh dibanding bagian luarnya yang terlihat kusam dimakan usia. Dan seperti juga umumnya masjid pada zaman tersebut, masjid terdiri dari sekolah/madrasah, tempat pertemuan juga makam pendirinya.

P1010850Esoknya kami mengunjungi Museum Topkapi yang artinya adalah Gerbang Meriam. Disebut demikian karena dulunya didepan pintu utamanya berdiri sebuah meriam raksasa. Museum ini berada di atas bukit dengan latar belakang laut yang sungguh mempesona. Bangunan ini semula adalah istana para sultan. Istana yang luasnya mencapai 70 hektar dan dikelilingi tembok sepanjang 5 kilometer ini dihuni tidak kurang dari 4000 jiwa!

Dolmahbahce Palace

P1010871P1010862Istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi karena sering tertimpa gempa. Di tempat inilah berbagai upacara dan peristiwa penting kenegaraan dilakukan, termasuk upacara penerimaan para duta negara sahabat. Istana ini menjadi lambang kekuasaan dan pusat pendidikan keluarga istana. P1010864

P1010890P1010875Namun sejak abad 19 istana dipindahkan ke bangunan baru, yaitu istana Dolmahbahce yang didirikan di tepi selat Borporus. Istana dengan gaya gabungan Baroque, Rococo dan Ottoman klasik ini dikabarkan menghabiskan 35 ton emas. 14 ton diantaranya dibentuk menjadi bunga dan dedaunan untuk menghiasi langit-langitnya. Luas istana ini sekitar 15 hektar lengkap dengan masjidnya yang juga sangat indah.

miniatur Topkapi Palace

miniatur Topkapi Palace

Sementara istana lama menjadi terbengkalai. Hingga akhirnya pada tahun 1924 istana ini dijadikan museum nasional dengan nama The Topkapi Palace Museum. Di museum inilah disimpan berbagai benda-benda peninggalan bersejarah kerajaan seperti keramik, perhiasan, senjata dll. Yang paling menarik perhatian adalah salah satu ruangan dimana disimpan benda–benda peninggalan Rasullullah Muhammad saw dan para sahabat. Benda-benda ini ditempatkan di 2 buah ruangan khusus yang saling berhubungan. Kubah dengan keramik biru muda menaungi ruangan istimewa ini.

Di dalam ruang pertama yang dindingnya juga dihiasi dengan keramik biru ini ditempatkan antara lain pedang ke 4 khalifah. Pedang-pedang ini terlihat besar dan berat sekali. Terbayang bagaimana Ali Bin Abi Thalib ra yang dikenal sebagai jago pedang memainkan pedangnya melawan musuh –musuh Allah. Sementara diruang berikutnya, didalam beberapa lemari dan meja kaca khusus dipajang secarik surat yang ditujukan kepada Heraclius, raja Bizantium kala itu, mantel, pedang, tapak kaki dan kotak kecill dimana diletakkan gigi dan sehelai jenggot Rasulullah saw.

Memang tidak ada yang berani memastikan apakah benda-benda tersebut benar-benar milik Rasulullah saw. Namun tak urung, air mata ini tak mampu dibendung untuk tidak menetes keluar. Kenangan dan bayangan bagaimana Rasul dan para sahabat berjuang mati-matian demi menegakan ajaran Islam tak dapat dihapus begitu saja. Bahkan si bungsu yang ketika itu baru berumur 7 tahun sampai terheran-heran melihat ibunya menitikkan air mata. Ya Allah, Ya Robb semoga Engkau ridho membalas usaha dan perjuangan mereka dengan pahala yang tak habis-habisnya. Semoga juga umat ini mampu mempertahankan apa yang telah mereka perjuangkan, amin.

( Youtube Museum Topkapi :  http://www.youtube.com/watch?v=O5II5n1N3qQ&feature=related )

Setelah puas melihat keadaan sekitar Museum kamipun berfoto-foto. Di kejauhan terlihat jembatan Borporus. Sementara di bawah terlihat jelas tembok benteng tua yang melindungi istana museum ini dari serangan musuh. Setelah itu rombongan meneruskan perjalanan dengan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah.

Diantaranya yang paling menarik adalah  Suleimaniyah Mosque. Masjid ini dibangun antara tahun 1550-1557 M dibawah perintah Sultan Suleiman Yang Agung. Masjid ini merupakan karya terindah Istanbul pada masa itu. Kubah utama memang hanya satu namun dari area utama ini terlihat puluhan kubah kecil yang mengitarinya. Sayangnya, seperti juga sebagian besar masjid yang lain saat ini masjid tak terawat dengan baik. Disamping itu, kegiatan ibadah di masjid tampaknya tidak lagi menjadi bagian dan ruh dari bekas ibu kota kekhalifahan yang membentang luas ini.

Keesokan paginya, rombongan mengunjungi tempat pembuatan karpet. Kami diajak berkeliling. Di tempat tersebut diperagakan cara pembuatan karpet. Mulai dari desain gambar, pemilihan benang dan warnanya hingga proses pembuatan benang sutra. Setelah itu kami menyaksikan peragaan pakaian sambil minum teh atau kopi Turki. Dan terakhir, ini yang terpenting bagi mereka, yaitu penawaran karpet dengan harga yang bervariasi.

Usai makan siang di sebuah restoran, rombongan pergi mengunjungi Grand Bazaar. Ini adalah pasar tertutup terbesar yang pernah kami lihat. Tempat yang menyerupai gua raksasa dengan langit-langitnya yang berbentuk kubah berjajar ini telah berdiri sejak tahun 1461 M dibawah Sultan Mehmet II. Dikabarkan pasar ini memuat 4400 toko, 3000 perusahaan, 67 jalan, 25 ribu karyawan, empat air mancur, dua masjid, dan 22 gerbang masuk!

Waah… benar-benar serasa terperangkap dalam labirin raksasa. Kemungkinan tersesat dan berputar-putar didalamnya tanpa bisa keluar dari tempat ini besar sekali. Ditempat ini segala macam barang bisa didapat. Mulai dari jajan pasar, cendera mata seperti pajangan dari keramik, porselen, karpet, sajadah, pakaian hingga sepatu dan tas kulit. Di tempat ini si sulung merengek dibelikan jaket kulit dengan harga relatif miring dibanding di tempat lain.

Si bungsu berpose di pintu tram

Si bungsu berpose di pintu tram

Pada hari terakhir dengan menaiki kapal pesiar, rombongan menyusuri selat Borporus yang biru sendu karena hujan tetap mengguyur kota ini. Bangunan-bangunan cantik dengan disain campuran Timur dan Barat seperti istana Dolmabahce, kastil, villa serta museum di sepanjang selat menghiasi wajah kota.

Malamnya, pada acara bebas dimana sebagian anggota rombongan memilih pergi menyaksikan pertunjukan malam, kami mengakhiri perjalanan dengan berjalan-jalan di Taksim yang terletak di Istanbul modern.

Ini adalah pedestrian berbukit yang sangat panjang dengan toko2 dan butik kenamaan seperti Channel, Louis Vitton, Dior dll di kiri kanan jalannya. Orang bilang ini adalah Champs Elyse-nya Paris atau Malioboro-nya Yogya. Rasanya semua orang tumpah ruah di tempat ini. Belum lagi tram listrik kunonya yang membuat area ini makin crowded saja.

Esoknya kamipun bersiap-siap pulang ke Paris dengan membawa kenangan yang bercampur aduk. Bagi saya pribadi, Istanbul sebagai bekas ibukota kekhalifahan Islam yang selama berabad-abad pernah mengalami masa kejayaan sangatlah memprihatinkan.

Selama 5 hari berada kota ini, terlihat bahwa masjid sepi dari jamaah shalat. Perempuan-perempuan muda berpenampilan ke-barat-an berseliweran tanpa jilbab, lupa bahwa mereka adalah muslimah yang mustinya menutup aurat ketika bepergian meninggalkan rumah. Para muda-mudi ini terlihat jelas bergaul bebas seperti layaknya kehidupan di Barat. Minuman keras dipajang di berbagai tempat umum.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang“. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Pengalaman di atas memang terjadi 7 tahun yang lalu. Namun seiring dengan berlalunya waktu, pada tahun 2007 lalu PM Turki, Rajab Thayib Erdogan dengan partai Islamnya berhasil menggolkan kebijaksanaan baru. Pemakaian jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah sudah mulai diperbolehkan. Padahal jilbab telah dilarang sejak diproklamirkannya Republik Turki puluhan tahun yang lalu.

Tidak itu saja. Perdana menteri yang istrinya berjilbab ini ( hal yang samasekali baru bagi negri sekuler ini ) bahkan berani berkata terang-terangan langsung dihadapan Presiden Israel Shimon Peres bahwa Israel telah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat Palestina. Ini diungkapkannya ketika mereka bertemu di pertemuan tingkat tinggi di Davos, Swiss beberapa waktu lalu.

Tampaknya ucapan Rasulullah bahwa Konstantin atau Istanbul akan ditaklukkan untuk kedua kalinya sedang menuju kenyataan. Hadis ini menunjuk pada fenomena akhir zaman sesaat sebelum turunnya Dajjal, si Raja Pendusta.

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, Maret 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Banyak peninggalan bersejarah yang pantas dikunjungi di Yordania. Negara yang berbatasan dengan Suriah di sebelah utara, Arab Saudi di timur dan selatan, Irak di timur laut, serta Israel dan Tepi Barat di barat ini menyimpan sejarah para nabi. Karena letaknya yang menempel dengan Israel, Yordania yang beribu kota di Amman ini sejak lama telah menjadi negara tujuan terbesar bagi pengungsi Palestina. Rakyat Yordania adalah saksi dari dampak kekejaman Yahudi terhadap rakyat Palestina. Mereka telah lama hidup berdampingan dan mendengar serta menyaksikan sendiri penderitaan saudara-saudara mereka di pengungsian.

Melalui negara inilah sebagian besar orang yang ingin megunjungi Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Sakroh atau Dome Of The Rock di Yerusalem harus masuk. Setelah kunjungan ke Yerusalem yang hanya diperbolehkan (oleh pemerintah israel!)tidak lebih dari 1 malam usai, rombonganpun segera meninggalkan Palestina dan menuju Yordania untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi makam para nabi dan situs-situs penting yang tertulis di Al-Quran.

Tujuan pertama adalah makam nabi Musa as. Seperti yang telah dikisahkan dalam Al-Quranul Karim, Musa as beserta kaumnya terpaksa hidup terkatung-katung di padang Tiih dalam penantian selama 40 tahun karena kaumnya tidak berani memasuki tanah Palestina. Padahal nabi Allah ini telah membebaskan mereka dari kekejaman Fir-aun sekaligus memimpin mereka keluar dari negri Mesir.

” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.“(QS.Al-Maidah (5):24-26).

Masjid dimana makam Musa as berada

Makam nabi Musa as. Dalam keadaan berbaring saja setinggi orang dewasa, gimana kalau berdiri ya?

Dalam keadaan seperti inilah Musa as wafat dan kemudian kaumnya memakamkan beliau di sekitar tempat tersebut. Makam ini terletak 11 km selatan Jericho dan 20 km timur Yerusalem. Bus kecil yang kami tumpangi menyusuri jalan utama antara ke dua kota tersebut. Bus melaju di jalanan aspal yang mulus melalui perbukitan. Walaupun sepanjang jalan terlihat gersang namun sebenarnya sekali-sekali terlihat adanya pepohonan hijau diatas bebatuan diantara bukit pasir campur tanah tersebut. Udaranyapun sejuk tidak terlalu panas. Sebuah pemandangan yang sungguh unik dan mengesankan. Sekitar 2 km setelah melewati tanda yang menunjukkan ketinggian laut, buspun berbelok menuju makam nabi Musa. Makam ini ternyata terletak di salah satu ruang masjid yang berdiri di atas bukit.

Menurut Karim, guide berkebangsaan Palestina yang mendampingi kami, masjid yang memiliki 5 menara ini dibangun pada tahun 1269 M dibawah pemerintahan Abdul Al-Dhaher, seorang sultan Mameluk. Makam ini tidak tampak diperlakukan secara istimewa. Yang terlihat hanya peti yang dibungkus kain beludru hijau tua. Perbedaan mencolok yang terlihat hanyalah ukurannya saja yang lebih tinggi dan besar dari rata-rata peti mati pada umumnya. Masjid terlihat sepi. Hanya kami satu-satunya rombongan yang berkunjung pada hari itu. Setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid 2 rakaat, kami berkeliling melihat situasi masjid. Tiba-tiba muncul sepasang bule. ” Where is the tomb of Moses ?” tanya mereka. Dalam hati saya bertanya, bagaimana kira-kira perasaan mereka ya .. mengetahui bahwa makam nabi mereka itu ternyata berada di dalam sebuah masjid ! 

Setelah puas melihat-lihat keadaan sekitar kami kembali ke bus dan meneruskan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah makam nabi Syu’aib yang terletak tidak terlalu jauh dari makam nabi Musa. Namun karena untuk menuju makam nabi tersebut harus melewati Laut Mati ( Dead Sea) maka kami singgah dahulu di pantai yang terkenal karena kadar garamnya yang tinggi tersebut. Kawasan ini merupakan titik terendah di dunia, yaitu 422 meter di bawah permukaan laut. Untuk menghindari telinga agar tidak sakit, kami harus beberapa kali menelan ludah seperti ketika kita berada di pesawat terbang pada ketinggian tertentu. Air garam dan bau khas laut makin lama makin terasa. Dari kejauhan lautpun mulai menampakkan diri.

Laut yang memiliki luas sekitar 1050 km2 ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai danau karena memang seluruhnya dikelilingi tanah, tidak ada jalan keluar menuju laut lepas. Laut ini sebagian dikuasai Yordania , sebagian Tepi Barat dan sebagian lainnya dikuasai Israel. Yang kami kunjungi saat ini adalah yang milik Yordania. Mengapa dinamakan Laut Mati? Karena tak satupun mahluk hidup mampu hidup didalamnya. Ini disebabkan kandungan garamnya yang 22-25% padahal rata-rata air laut hanya mempunyai kandungan garam 4-6%. Kami tiba di tempat wisata ini sekitar pukul 2 siang. Udara sangat cerah dan matahari panas mencorong.

Tempat ini ditata secara apik dan bersih. Hotel-hotel mewah berdiri berjajar di sepanjang pantai. Juga tampak beberapa bangunan mewah tempat perawatan kesehatan dan kecantikan. Garam dan lumpur hitam yang diambil dari laut ini memang dikenal banyak manfaatnya. Keduanya dijadikan bahan kosmetika dan obat-obatan yang dikenal ke manca negara dan merupakan salah satu komoditi penting eksport negri yang dipimpin oleh raja Abdullah II ini. Sambil menikmati keindahan pantai, kami menyantap makanan yang dihidangkan restoran yang sudah menjadi paket perjalanan yang kami sewa ini.

Setelah itu kami segera mencoba mencemplungkan kaki ke laut dan sedikit mencicipi airnya. Wuuihh …bukan asin lagi ..tapi pahit! Makin sore makin banyak wisatawan datang. Dari jauh terlihat sebagian besar tamu lelaki melumuri badan mereka dengan lumpur hitam yang diambil dari pinggir dasar laut. Sebagian lain ‘merebahkan’ diri di atas air dan membiarkan dirinya mengapung dengan santai.

Masjid dimana makam Syuaib as berada

Masjid dimana makam Syuaib as berada

makam nabi Syuaib as

makam nabi Syuaib as

Sekitar pukul setengah 5 kami kembali meneruskan perjalanan. Tak sampai 20 menit kami telah tiba di makam nabi Syu’aib as, mertua nabi Musa as. Sama seperti makam nabi Musa, makam Nabi Syu’aib juga berada didalam sebuah masjid. Masjid ini terletak di ketinggian diantara bukit-bukit pasir yang mengitarinya. Tak tampak keistimewaan baik di makam maupun masjid. Tak tampak pula adanya kehidupan di sekitarnya. Lokasi ini jauh dari keramaian. Meski begitu keduanya terlihat terawat. Kaum Syu’aib adalah kaum yang diazab Allah karena tidak mau menyembah Allah swt serta suka mengurangi takaran dan timbangan dalam rangka mencari keuntungan berdagang.

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa”.(QS.Huud(11):94-95).

Selanjutnya kami menuju Gua Kahfi. Ada beberapa pendapat mengenai keberadaan gua yang kisahnya diabadikan di Al-Quran ini. Ada yang mengatakan gua tersebut berada di Suriah, ada pula yang mengatakan di Turki dan ada yang berpendapat di Yordania. Namun kebanyakan berpendapat bahwa gua yang di Yordania adalah yang paling benar. Wallahu’alam. Gua yang di Yordania inilah yang kami kunjungi.

pintu gua Alkahfi

pintu gua Alkahfi

Masjid Alkahfi

Masjid Alkahfi

Gua ini terletak di perkampungan Al-Rajib dan berjarak sekitar 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman. Di dekat gua tersebut sekarang telah berdiri sebuah masjid besar. Saat ini suasana di sekitar gua tidak mencerminkan bahwa dulunya gua ini jauh dari keramaian. Masjid kelihatan aktif digunakan dan guapun telah ditata apik. Bahkan didalam gua telah ditempatkan sebuah lemari kaca yang berisi peninggalan para penghuni gua. Tulang-belulang para penghuninyapun telah disimpan dengan baik di tempat aslinya yaitu di bawah tempat tidur batu mereka. Kemudian ditutup kaca serta diberi sedikit penerangan agar tulang tidak cepat rusak namun tetap bisa dilihat pengunjung.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka” .(QS.Al-Kahfi(18):22).

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Bergaya dengan jubah " Harry Potter" di depan gerbang gua Al-Kahfi

Prasasti gua Kahfi

Yang unik. Sebelum masuk gua, para pengunjung perempuan diharuskan memakai jubah hitam panjang yang disediakan penjaga gua. Lucu juga, seperti tokoh-tokoh sihir Harry Potter : – ) Menjelang magrib kami memasuki kota Amman, makan di restoran Thailand yang terkenal enak di kota tersebut kemudian masuk hotel dan istirahat, bersyukur telah diberi kesempatan melihat situs peninggalan beberapa nabi dan kisah yang diceritakan Al-Quran. Sayang kami batal mengunjungi makam nabi Ibrahim karena makam ini terletak di kota Hebron, Tepi Barat yang dijaga ketat tentara Israel. Juga lokasi kaum nabi Luth yang diazab karena hubungan sesama jenis merajalela. Kota itu diberi nama kota Soddom yang terletak ditepi Laut Mati, sekitar 60 km dari pantai yang kami kunjungi sore tadi. Sayang sekali….

Jakarta, 12/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Minggu, 25/5/2008 sekitar pukul 07.00 waktu Jeddah, pesawat dengan no penerbangan RJ 701 jurusan Amman dari Jeddah, Arab Saudi itu lepas landas. Setelah mengudara kurang lebih 2 jam lamanya, maka pesawatpun mendarat di lapangan terbang Queen Alia di Amman, Yordania. Dengan menggunakan bus resmi milik pemerintah Yordania yang dikemudikan oleh seorang sopir berseragam militer Yordania ( ?celana dan kemeja biru + pangkat di bahu) perjalanan langsung berlanjut. Bus melaju pasti menuju Yerusalem, yang diaku oleh Israel.

Setelah lolos dari pemeriksaan rutin di perbatasan oleh pihak pemerintah Yordania, bus terus berjalan mendekati ‘check point’ di Allenby Bridge. Menjelang memasuki daerah ini, kedua orang guide, baik guide lokal berkebangsaan Palestina maupun guide dari Travel tanah air, kembali mengingatkan untuk tidak memotret dan merekam daerah tersebut. Dari kejauhan terlihat banyak sekali gardu-gardu pos penjagaan bertiang tinggi lengkap dengan kamera pengintai dan senapan panjangnya. Dengan rasa was-was kami terus berdoa memohon kemudahan kepada Allah swt, semoga kami lolos dari pemeriksaan.

Bus berhenti sejenak di sebuah pos penjagaan. Dari balik pos tersebut tampak seraut wajah lumayan cantik namun dingin tak ber-ekspresi. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan terhadap pengemudi bus, bus berjalan kembali. Tak lama kemudian, kami tiba di tempat pemeriksaan. Terlihat beberapa orang sipil berkaca-mata gelap dengan menenteng senapan dan pistol di pinggang berjalan mondar-mandir. Di depan tempat tersebut digantungkan spanduk berukuran raksasa, mengumumkan sebuah nama Islami yang di’wanted’!

Kami semua harus turun dari bus, tak terkecuali semua barang bawaan termasuk air zam-zam!( kami melakukan perjalanan ini memang setelah ibadah umrah ). Dengan super teliti kami diperiksa satu persatu ( oleh petugas yang hampir kesemuanya perempuan yang memasang wajah angker !). Selanjutnya kami memasuki babak pemeriksaan surat-surat keimigrasian. Disini kami di uji kesabaran dalam menanti giliran pemeriksaan. Sebelumnya kami telah diingatkan, bahwa beberapa kemungkinan bisa terjadi. Pemeriksaan 1 jam, 2 jam, 3 jam atau lebih dan yang terparah bisa saja ditolak masuk!

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah ternyata kami hanya menghabiskan waktu 3 jam ditempat tersebut. Rupanya hanya orang-orang muda dan mereka yang mempunyai nama berbau Islam sajalah yang dihambat, mereka dianggap bermasalah. Mereka ini bolak balik di interogasi dengan berbagai pertanyaan. Tampaknya mereka ingin memastikan bahwa anak-anak muda tersebut tidak memiliki hubungan apapun dengan orang-orang yang mereka aggap teroris. Yaah begitulah bila orang suka menzalimi orang lain, bawaannya curiga teruus… dan akhirnya jadi Paranoid…

Kawasan Haram Asy-Syarif

Kawasan Haram Asy-Syarif

Setelah makan siang/sore di Jericho, sekitar pukul 4 kami memasuki Yerusalem Timur. Yerusalem adalah sebuah kota yang terletak di atas bukit Zaitun. Dan Masya Allah, dari kejauhan tampak jelas areal Haram as-Syarif yang selama ini hanya kami lihat fotonya saja. Dome Of the Rock / Qubbah As-Sakrah  dengan kubah emasnya dan Masjid Al- Aqsho’ yang berkubah kebiruan disebelah kirinya. Kawasan ini di kelilingi tembok kuno tinggi dan terletak lebih tinggi dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Kawasan ini sekaligus menjadi pemisah antara Yerusalem Barat dan Yerusalem Timur.

Perhatikan perbedaan antara Qubbah As-Sakrah dan Al- Aqsho’ karena saat ini sebagian besar Muslim tidak mengetahuinya dengan pasti.

(Click:  http://www.youtube.com/watch?v=_mQ6kYEfiXA&feature=player_embedded ).

Sebelum tahun 1967, yaitu pada peristiwa perang 6 hari / The Six Day War, sebelah barat dikuasai Israel dan sebelah timur dibawah otoritas Yordania. Sekarang secara illegal keduanya berada dibawah Israel karena berdasarkan sebuah resolusi internasional Israel seharusnya mundur dari daerah yang dijajahnya pada tahun 1967 tersebut. Ironisnya , dikabarkan bahwa pada tahun 1980 pemerintahan tersebut secara sepihak malah mengumumkan bahwa Yerusalem secara keseluruhan adalah ibu kota Israel ! Padahal rakyat Palestina sejak lama mendambakan Yerusalem Timur ini sebagai ibu kota wilayah mereka.

Kami baru memasuki kawasan Haram As-Syarif setelah ziarah ke makam Salman Al-Farisi, seorang sahabat yang banyak memberikan andil dalam sejarah Islam. Makam tersebut memang terletak tak begitu jauh dari kawasan Haram As-Syarif. Namun tampaknya, ada suatu hikmah yang ingin disampaikan sang guide. Salman Al-Farisi adalah orang Parsi (sekarang Irak, Iran dan sekitarnya). Sebagaimana penduduk daerah tersebut, mulanya Salman adalah seorang penganut Majusi, penyembah api. Melalui perjalanan panjang mencari sebuah kebenaran, akhirnya ia memeluk Islam.

Darinya Rasulullah menerima usulan dibangunnya parit pertahanan Madinah ketika orang-orang Quraisy yang bersekongkol dengan Yahudi Madinah serta beberapa suku lainnya berniat menyerang Madinah. (Itu sebabnya selain disebut Perang Ahzab (perang gabungan) perang ini dinamakan juga Perang Parit). Ketika itu banyak sahabat yang mempertanyakan kebijakan Rasulullah dalam menerima usulan yang dianggap datang dari orang asing (Parsi). Namun dengan bijaksana, Rasulullah menerangkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Masing-masing tidak boleh merasa lebih dan berbeda. Inilah rupanya perasaan dan semangat yang ingin ditularkan sang guide, Mr Karim, ketika kami memasuki kawasan Al-Aqsho’ nanti.

Dome of the Rock dengan kubah emasnya

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Maka sekitar pukul 5 sore, akhirnya kamipun memasuki kawasan ini. Kami masuk melalui satu-satunya pintu gerbang (dari 8 pintu yang dimiliki) yang dibuka untuk umum, yaitu The Lion’s Gate/St Stephen Gate. Itupun setelah melalui penjagaan ketat polisi Israel! Kami melaksanakan shalat tahiyatul masjid, lalu shalat Zuhur dan Ashar yang di jama’, di Qubbah As-Sakrah. Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah di Makkah ditentukan sebagai kiblat seluruh umat Islam.

Mulut gua batu terbang

Mulut gua batu terapung

Bagian dalam kubah As-Sakrah sedang di renovasi

Bagian dalam kubah As-Sakrah yg sedang di renovasi

Tak tampak adanya jemaah ataupun pengunjung lain selain kami di dalam masjid ini. Disana kami melihat dengan mata kepala sendiri batu As-Sakrah, batu terapung di bawah kubah Emas yang diyakini sebagai tempat Mi’rajnya Rasulullah saw ke Sidratul Muntaha di langit. Dibawah batu tersebut terdapat sebuah tempat mirip gua yang tak seberapa luas. Dikabarkan didalam gua inilah Rasulullah beserta para nabi melaksanakan shalat sebelum Mi’raj. Didalam gua kami menjumpai sejumlah gadis remaja Palestina sedang belajar mengaji. Batu raksasa tersebut sebenarnya menyembul hingga ke lantai di atasnya, tepat di bawah kubah masjid. Sayang ketika itu sedang ada renovasi.

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

2008-05 Umrah_67

Bagian depan Al-Aqsho, berfoto dengan guide kami

kubah masjidil Aqsho

kubah masjidil Aqsho

Setelah itu, kami menuju Masjdil Al-Aqsho’. Masjid ini terletak di sebelah selatan As-Sakrah di dalam pelataran yang sama, jaraknya lebih kurang hanya sekitar 30 meter. Diantara keduanya terdapat pelataran dan taman dengan sebuah gapura serta kolam untuk berwudhu dengan kursi-kursi kecil terbuat dari batu. Masjid ini terlihat lebih terawat dari pada Qubbah As-Sakrah.

Kami melaksanakan shalat Magrib pada awal waktu secara berjamaah bersama imam masjid dan Muslim Palestina. Jumlah mereka cukup banyak demikian pula Muslimahnya. Dikabarkan pada setiap shalat jumat, Masjid ini dipenuhi oleh Muslimin hingga seluruh pelatarannya, sementara kaum Muslimah turut berjamaah di Qubbah As-Sakrah. Namun pada waktu-waktu tertentu, acapkali pihak otoritas Israel melarang warga Palestina yang berusia diantara 17-40 tahun untuk memasuki kedua masjid! Padahal rumah mereka hanya dibatasi tembok saja ….

Di malam hari, udara di pelataran yang dihiasi dengan lampu-lampu taman ini sangat sejuk. Tak tampak bahwa kota ini menyimpan berbagai permasalahan dan kekerasan. Begitu pula ketika pada pagi dan siang harinya kami pergi menuju Bethlehem, tidak terlihat adanya tanda-tanda tersebut. Rumah-rumah tertata apik dan asri dengan jalan-jalan besar beraspal mulus nan bersih. Mobil-mobil sedan mewah berbagai merk dari Jepang berseliweran. Yang mencolok mata, hanya adanya bendera-bendera Israel yang kelihatannya secara provokatif dipajang di hampir semua rumah sepanjang jalan yang dilalui. Rumah-rumah indah bertembok putih itu memang telah lama berganti penghuni. Mereka adalah para Yahudi penyerobot rumah si empunya tanah!

Sementara sebagian besar pemilik tanah, yaitu orang Palestina, terutama Muslim Palestina tinggal di lorong-lorong sempit di dalam tembok Yerusalem Timur. Bahkan yang menempati kamp-kamp pengungsi diluar tembok dikabarkan lebih menyedihkan lagi keadaannya… Bahkan untuk melaksanakan shalatpun mereka terpaksa melakukannya di jalanan.

Wilayah yang direbut Israel pada perang 6 hari di tahun1967 adalah kawasan Tepi Barat / West Bank yang berbatasan langsung dengan Yerusalem barat. Wilayah ini terdiri dari 28 kota dan perkampungan Palestina, diantaranya adalah Yerusalem Timur, Bethlehem, Yericho, Hebron dan Ramalah. Pemerintah Israel secara mencolok membangun banyak sekali checkpoint. Setiap kali melewati checkpoint, pihak militer Yahudi melakukan pemeriksaan terhadap semua orang terutama rakyat Palestina. Saat ini sekitar 250.000 rakyat Palestina tinggal di Yerusalem Timur. Mereka ini dikenai pajak dan dianggap sebagai penduduk walaupun mereka bukan warga negara Israel. Pemerintah Israel memperlakukan mereka dengan sangat berbeda. Air dan pasokan listrik yang merupakan kebutuhan utama sangat minim dan dibatasi pula.Walaupun tempat tinggal mereka sebenarnya berdekatan namun mereka sama sekali tidak bersentuhan.

Sejak tahun 2003 pemerintah Israel mulai membangun sejumlah tembok yang memisahkan pemukiman Palestina dari pemukiman Yahudi. ( click here : http://www.bethlehemassoc.org/sub_pages/TheWallinBethlehem.htm). Walaupun Mahkamah Internasional telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan proyek yang dinilai melanggar HAM, Israel tetap meneruskannya dengan dalih bahwa tembok didirikan untuk melindungi warga Yahudi dari serangan bom bunuh diri warga Palestina. Namun sejatinya tembok-tembok tersebut telah memblokir penduduk Palestina dari kegiatan di dalam kota! Ini adalah salah satu cara Israel memperluas tanah jajahan mereka.

Dengan adanya pembatas ini, rakyat Palestina tidak dapat melaksanakan kegiatan sosial sehari-hari mereka dan pada akhirnya ekonomi merekapun berantakan. Untuk pergi bekerja, berusaha, bersekolah bahkan untuk berobatpun rakyat Palestina harus memutar puluhan km jauhnya. Saat ini tembok raksasa sepanjang hampir 400 km dari rencana 650 km telah berdiri tegak memisahkan Yerusalem Timur, dimana Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Saqroh berada didalamnya, dari Tepi Barat. Inilah cara Israel mencaplok Yerusalem Timur, areal Haram Asy-Syarif khususnya, yang memang menjadi target utamanya. Kepercayaan Yahudi mengatakan bahwa berdirinya kembali Bait Allah diatas areal ini akan mempercepat datangnya Sang Messiah, Al-Dajjal!

Banyak cara yang digunakan Israel untuk mengusir rakyat Palestina dari negrinya sendiri baik secara halus maupun kasar dengan secara sistimatis pula. Karim, guide kami, sebagai penduduk Bethlehem menceritakan bahwa keluarganya sejak puluhan tahun tidak mendapatkan hak meninggalkan kota mereka. Apalagi saat ini, setelah otorita Israel membangun tembok sepanjang 8 km mengelilingi Bethlehem, mereka makin terkurung di dalam kota. Hanya orang-orang berprofesi seperti dirinya, yaitu guide, yang masih mendapatkan kesempatan keluar kota. Itupun dengan izin otoritas Israel yang harus diperbarui setiap 3 bulan ! Bayangkan , bagaimana mereka harus mencukupi kebutuhan hidup mereka?

Yerusalem Timur

Yerusalem Timur

Otoritas Israel juga memberlakukan peraturan bahwa turis dilarang bermalam di Yerusalem Timur maupun Bethlehem. Dengan cara tersebut kedua kota ini tidak mendapatkan keuntungan dari kunjungan turis. Padahal jumlah turis di kota yang menjadi tempat suci ke tiga agama besar di dunia tersebut tidak terhitung banyaknya. Itu sebabnya kami hanya dapat mengunjungi Masjid Al Aqsho’ dan shalat didalamnya sekali saja. Padahal jauh-jauh kami datang karena shalat didalam masjid tersuci ketiga ini balasannya 500 kali lebih besar dari shalat di masjid lain! Yaah,nasib…. itu semua gara-gara Yerusalem tidak berada dibawah kekuasaan Muslim..

“Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Catatan penting:

Selama dalam perjalanan kami dapati ratusan bahkan mungkin ribuan pohon yang kelihatannya baru ditanam.  Anehnya pohon-pohon tersebut dari jenis yang sama. Mengapa hanya satu jenis , pikir saya dalam hati. Pohon apakah itu? Jangan2 ….

” Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka, sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau pohon, kemudian batu dan pohon itu berkata:” Wahai Muslim , wahai hamba Allah, ini orang yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia”, kecuali pohon gharqad, karena sesungguhnya pohon itu adalah pohon Yahudi “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, semoga mereka salah tanam….  semoga itu bukan pohon Gharqad yang dimaksudkan-Nya…

Untuk itu secara serius mereka memasarkan penjualan pohon-pohon tersebut ke seluruh pelosok dunia melalui web berikut : http://www.treesfortheholyland.com/order/ dan memberikan sertifikat sebagai tanda terima-kasih mereka ! Hebat bukan ….

Kabar terakhir:

( 22/11/2009) Israel, tanpa peduli terhadap reaksi negatif dunia, mulai membangun 3000 bangunan tempat tinggal warga Yahudi di Yerusalem Timur. Dan demi tercapainya ambisi besar mereka untuk membangun kembali Bait Yahudi yang pernah ada ribuan tahun silam, kini sebuah terowongan telah berdiri di bawah kawasan Haram Asy-Syarif. Terowongan ini jelas sangat beresiko merusak fondasi bangunan diatasnya.

( Click here :

https://www.youtube.com/watch?v=hmb8PGgbx8g

http://www.metacafe.com/watch/411371/in_search_of_tunnels_under_the_dome_of_the_rock/

(4/3/2014)

– Pemerintah Israel mengusulkan secara resmi agar orang Yahudi diizinkan memasuki Al-Aqsho 3.5 jam/hari, dengan dijaga polisi Israel .

– Uni Eropa meski tidak secara resmi, mulai berpikir bahwa Israel selayaknya di boikot secara ekonomi karena pada dasarnya kedudukan mereka di tanah Palestina adalah illegal! Yaah, semoga saja bukan gertak sambal belaka …

– Pemerintah Israel mengatur seberapa keras azan di seluruh pelosok masjid di Yerusalem boleh berkumandang, dengan alasan agar tidak mengganggu ketenangan warga Yahudi yang belakangan makin memenuhi kota, mendesak pemukiman warga Palestina yang telah ribuan tahun menetap di kota tersebut.

Jakarta, 19/6/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

 Untuk menunaikan rukun Islam ke 5, meskipun suami bekerja di perusahaan minyak asing yang relative bergaji lumayan cukup besar, tidaklah terlalu mudah bila kita tidak memprioritaskan kebutuhan tersebut dengan terencana. Pada tahun 1998, dengan asumsi menyisihkan sebagian gaji secara disiplin, kami memperkirakan baru dapat melaksanakan kewajiban tersebut 5 tahun mendatang. Namun nyatanya baru 2 tahun berlalu, Subhanallah tabungan kami telah mencukupi bahkan untuk 3 orang. Akhirnya pada April 2000, dengan mengajak ibu mertua yang waktu itu berusia 70 tahun, kami berangkat ke tanah suci. Kira-kira 4 bulan sebelum keberangkatan saya memutuskan untuk berhijab. Saya ingin menghapuskan kesan seolah berhijab hanya diwajibkan bagi seseorang yang telah berhaji.

Selang beberapa minggu setelah kami kembali ke tanah air, kami menerima kabar bahwa suami mendapat tugas baru di Paris, Perancis. Kabar tersebut kami sambut dengan suka-cita.Entah doa apa yang kami panjatkan sehingga Allah SWT berkenan memberikan kesempatan yang amat berharga ini. Kami hanya dapat memohon semoga kami sekeluarga dapat melewati cobaan yang menggembirakan ini dengan baik. Maka pada Agustus 2000 resmilah kami menjadi penghuni sebuah apartemen di daerah bergengsi di pinggiran sebelah barat laut Paris, dimana sebagian besar diplomat bertempat tinggal, termasuk duta besar Indonesia untuk Perancis.

Kendala yang langsung terasa begitu kami menetap di ibu kota Perancis ini adalah masalah ketiadaan PRT. Tetapi dengan adanya peralatan bantu elektronik seperti mesin pencuci piring dan microwave hal tersebut dapat segera diatasi. Kendala berikutnya adalah persoalan makan. Sangatlah sulit untuk mendapatkan restoran yang tidak memasak babi. Demikian pula halnya dengan makanan ringan seperti biskuit, jelli, es krim dll. Karena pada umumnya makanan2 tersebut menggunakan emulsifier dan lechytine yang berasal dari lemak babi. Bersyukur pada masa-masa awal, kami memiliki teman yang sangat peduli terhadap hal2 tersebut. Darinya kami memperoleh daftar kandungan makanan yang tidak halal yang dikeluarkan `Mosque de Paris`, mesjid besar yang bertanggung-jawab menangani hal2 yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslim.

Maka sejak saat itu kami termasuk anak2 terbiasa memeriksa kandungan suatu makanan sebelum membelinya. Beberapa kali, karena keteledoran, kami terpaksa membuang makanan yang baru kami beli karena ternyata mengandung zat yang meragukan. Dan dari teman kami itu pula kami mengetahui adanya `Boucheri Musulmane`, penjual khusus daging halal yang cukup banyak tersebar diberbagai sudut kota, terutama di daerah pemukiman muslim. Malah pada tahun ke 2 kami di Paris, di suatu superstore ternama, tempat kami biasa berbelanja, menyediakan counter khusus daging halal ini.

Firman Allah: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syeitan; karena sesungguhnya syeitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.(QS Al Baqarah (2:168))

Satu hal yang juga mengesankan, bila sesama muslim berpapasan (teridentifikasi berkat jilbabnya) mereka saling mengucapkan salam dengan spontan. Rasa persaudaraan terasa begitu kental. Beberapa kali seseorang menyapa hanya untuk sekedar menerangkan bahwa iapun muslimah walaupun ia tidak berhijab. Biasanya kemudian ia menanyakan asal negara kami namun tidak jarang pula ia langsung menyangka bahwa kami berasal dari Malaysia. Pernah suatu hari ketika kami sedang menunggu panggilan dokter di ruang tunggu, kami mengobrol dengan seorang perempuan Iran. Ia mengaku beragama Islam. Ia menanyakan apakah saya berhijab karena pemerintah setempat (maksudnya Indonesia) mewajibkannya. Tentu saja saya katakan tidak.

Allah berfirman : “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “ Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, ……”. (QS An Nuur (24:31)).

penulis ( paling kiri) berfoto bersama teman-teman di Hotel de Ville

penulis ( paling kiri) berfoto bersama teman-teman di Hotel de Ville

Selanjutnya ia menceritakan bahwa di negaranya, kaum perempuan diwajibkan berhijab. Dan masih menurutnya pula, itulah salah satu sebab mengapa ia dan banyak temannya satu negara memilih meninggalkan Iran dan pindah menjadi warga-negara Perancis. Saya menjadi teringat beberapa waktu yang lalu saya pernah melihat acara di TV lokal Perancis yang menyiarkan tayangan mengenai seorang perempuan Iran yang berbicara keras mengenai kebijaksanaan negaranya tersebut. Tentu saja hal ini kemudian menjadi berita hangat yang amat memojokkan kaum muslimin.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah ((2:256)).

Sejujurnya, ada satu hal lain yang sangat memalukan bagi kaum muslimin. Kejadiannya didalam sebuah supermarket ternama dan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri.Yaitu adanya sekelompok anak muda berwajah Arab yang sering kami pergoki sedang membuka bungkusan makanan, memakannya kemudian dilanjutkan dengan mengambil botol minuman dan langsung meneguknya. Semua itu dilakukannya sambil berjalan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tentu saja mereka tidak membayarnya! Astaghfirrullah… Perlakuan mereka ini bagaikan ‘racaille’ begitu orang Perancis menyebutnya atau kurang lebih ‘preman’ kita menamakannya. Memang harus dipisahkan secara jelas antara orang Arab dan Islam.

Yang juga mencengangkan, untuk memenuhi rasa keingin-tahuannya, orang Perancis kerap mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang mengaku beragama, baik ia Muslim,Kristen ataupun Yahudi,`Etes-vous Pratiquant?` untuk mengetahui apakah orang tersebut menjalankan ajaran agamanya atau tidak. Saya pernah beberapa kali dimintai keterangan mengapa saya mengenakan jilbab sedang teman lain yang juga mengaku beragama Islam tidak mengenakannya, mengapa kaum muslim dilarang makan babi dan minum alkohol. Suatu ketika saya menjawab bahwa itu semua karena perintah Allah yang disampaikan melalui ayat2 dalam Al-Quran. Tetapi ternyata ia malah mempertanyakan keorisinilan Al-Quran sebagaimana ia meragukan keorisinilan Injil, padahal ia sendiri mengaku sebagai penganut agama Kristen!

Firman Allah : “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin(Jibril) ke dalam hatimu(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu”.(QS Asy Syu`araa` (26:192-196)).

Tetapi pada umumnya, mereka lebih dapat menghargai kita, kaum muslimin, bila kita dapat menjawab pertanyaan mereka dan teguh dalam berpendirian dan berpendapat. Sebenarnya banyak diantara mereka yang mengenal Islam secara umum, seperti perintah shalat 5 waktu, berpuasa dan pergi haji. Mereka mengetahuinya dari tetangganya yang muslim atau saudaranya yang menikah dengan muslim, karena memang disana cukup banyak pendatang asal Maroko dan Aljazair yang telah puluhan tahun menjadi warga-negara Perancis. Suatu ketika saya dan beberapa teman muslim Indonesia menghadiri acara masak-memasak di rumah seorang Perancis. Ternyata mereka telah khusus mempersiapkan daging sapi sebagai ganti daging babi dan memasaknya tanpa tambahan alkohol dan dimasak secara terpisah pula.

Pengalaman lain yang juga cukup menarik adalah berinteraksi dengan kaum Yahudi. Di tanah-air, rasanya kaum Yahudi hanya dikenal melalui Al-Quran. Disana, anak perempuan bungsu kami yang berusia 8 tahun mempunyai sahabat Yahudi. Ibunya asli Perancis sedangkan ayahnya seorang Yahudi Rusia. Kami cukup akrab. Suatu kali ibunya bercerita bahwa ibu mertuanya, mengenakan penutup kepala sebagaimana perempuan muslim. Adik perempuannya menikah dengan seorang muslim Pakistan. Anak lelaki sulung kami yang berusia 16 tahun juga mempunya seorang teman Yahudi. Suatu kerika ia dan beberapa temannya makan siang di apartemen kami.Rupanya ia sangat tertarik dengan krupuk udang yang ada di atas meja. Ketika ia hendak mengambilnya, ia bertanya terbuat dari apakah itu. Namun ketika anak kami menerangkan bahwa itu berasal dari udang ia langsung mengurungkan niatnya.Ia mengatakan bahwa agamanya melarang memakan makanan yang berasal dari laut termasuk udang. Alangkah beruntungnya kita, kaum muslim hanya dilarang makan babi.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” . (QS.Al-Baqarah(2): 173)

Pengalaman yang cukup berat adalah pada waktu bulan Ramadhan, terutama bagi anak2. Karena sebagian besar teman-temannya tentu saja tidak berpuasa. Bahkan pada hari Raya Idul-Fitripun sekolah tidak libur. Jadi pada hari itu kami hanya dapat memintakan izin kepada gurunya agar anak2 dapat datang ke sekolah agak siang agar pagi harinya dapat melaksanakan shalat Ied. Shalat tarawih diselenggarakan di aula kedutaan oleh pihak KBRI 2x seminggu yaitu Rabu dan Sabtu. Tetapi selain itu kami secara bergantian dengan teman2 Indonesia satu kantor, setiap hari Sabtu menyelenggarakan shalat tarawih dari rumah ke rumah. Biasanya selalu diikuti makan malam bersama dengan menu masakan khas Indonesia yang dimasak secara gotong-royong. Tentu saja `Mosque de Paris` setiap hari menyelenggarakan shalat tarawih dengan penceramah kadang berbahasa Perancis kadang berbahasa Arab. Di luar Ramadhan, bila ada uztad yang kebetulan berdakwah di Eropa Barat, kami akan berusaha `menculik` beliau agar sudi memberikan siraman rohani di apartemen kami atau apartemen teman2 lain.

Sedangkan untuk shalat Jumat, suami melaksanakannya di suatu apartemen milik orang Arab yang telah disulap menyerupai mesjid kecil, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi kantor. Ia bercerita pada mulanya ia dan kawan2 selalu meng`amin`i setiap perkataan sang imam. Namun di belakang hari barulah mereka menyadari bahwa sang imam tidak sedang membacakan doa karena beliau memang memberikan ceramah dalam bahasa Arab! Akhirnya suami mengatakan bahwa hari Jumat sebelum shalat dimulai adalah `l`heure de prendre une petite sieste` alias `waktu untuk tidur siang sekejap` daripada salah `amin`.

Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang dapat kami petik selama kami di rantau. Maka untuk menyatakan rasa syukur kami, pada liburan musim panas 2002, tepat 2 tahun setelah kami di Paris, kami memutuskan untuk berumrah di tanah suci beserta ke 3 anak kami. Lebih kurang 1 tahun kemudian, kami kembali ke tanah air tercinta dengan membawa banyak kenangan yang tak terlupakan .

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS Adh Dhuhaa (93:11)).

Alhamdullillah, Ya Allah , hanya untuk-Mu segala pujian.

Jakarta,21 Mei 2006.

Vien AM

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »