Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Sulit  rasanya membayangkan bagaimana perasaan Soekarno, presiden pertama RI, ketika suatu hari di tahun 1956 tanpa sengaja melihat sebuah masjid berdiri di suatu kota besar di negara komunis terbesar dunia, Rusia.

Namun pagi itu, Sabtu, 28 Oktober 2012, bayangan itu dapat terhapus. Bangga, kagum, senang sekaligus terharu bercampur menjadi satu, Subhanallah Allahuakbar wa Alhamdulillah …

Ya, di pagi hari yang cerah itu Allah swt telah memberi kami berdua kesempatan untuk melihat dari dekat masjid Biru yang terletak di St Petersburg, sekitar 900 km dari Moskwa ke arah barat laut, mendekati perbatasan Finlandia. Itulah Masjid Soekarno. Namun nama tersebut sebenarnya hanya sebutan yang diberikan masyarat Indonesia yang ada di kota tersebut. Karena nama aslinya adalah Central Mosque atau St Petersburg Mosque.  Orang juga sering menyebutnya Masjid Jamul Muslimin.

Perjalanan Moskwa-Petersburg berlangsung sekitar 1 jam, dengan pesawat terbang.  Kami mendarat di kota ini pada pukul 7.30 waktu setempat, dengan sambutan salju dimana-mana. Beruntung pesawat bisa mendarat dengan selamat, karena beberapa waktu sebelumnya badai salju menerpa kota di belahan bumi  utara ini.

Kami juga sangat beruntung karena sopir taxi yang memperkenalkan diri dengan nama Blood ini fasih berbasa Inggris. Hal yang sangat jarang ditemui. Dan makin beruntung lagi karena pak sopir bule berambut pirang, bukan merah darah sebagaimana namanya, .. 🙂  .. rupanya punya hobby bercerita.  Terlihat jelas betapa bangganya ia terhadap kota kelahirannya ini. Plus bangga dengan kefasihannya berbahasa Inggris, karena beberapa kali kami memujinya. Eits, berpahala lho membuat hati orang senang, dengan catatan tidak mengada-ada dan ikhlas.

Darinya kami jadi tahu sekilas sejarah kota ini. St Petersburg adalah kota terbesar ke 2 di Rusia setelah Moskwa. Hampir 200 tahun lamanya kota ini pernah menjadi ibu kota Negara sebelum akhirnya dipindahkan ke Moskwa pada tahun 1918. Ia sempat beberapa kali berganti nama, yaitu Petrogad dan Leningrad.  Selama 67 tahun kota ini dikenal  dengan nama Leningrad.  Nama ini diambil dari Vladimir Lenin, bapak komunisme Rusia.  Leningrad kembali menjadi St Petersburg  setelah kejatuhan komunisme di tahun 1991.

P1020175P1020172IMG_3908IMG_3931St Petersburg dibangun pada tahun 1703 oleh tsar ( kaisar)  Rusia, Peter the Great. Kota ini dibangun di dalam benteng kuno Peter and Paul fortress yang terletak di sebuah pulau kecil atau tepatnya delta di sungai Neva. St Petersburg tercatat sebagai kota yang memiliki beberapa julukan karena kecantikannya, diantaranya yaitu Venice from the North. Ini disebabkan banyaknya kanal yang ada di kota ini.  Dalam membangun kota pelabuhan di tepi pantai Baltik ini, sang raja terinspirasi oleh kecantikan bangunan-bangunan di Eropa Barat yang sering dikunjunginya.

Taxi yang kami tumpangi pagi itu langsung meluncur menuju hotel yang terletak di St Petersburg selatan. Kami hanya satu hari satu malam di kota ini. Tujuan utama kami jelas, yaitu melihat masjid biru yang pernah dilihat presiden pertama  RI dulu.  Bes5ok pagi kami sudah harus meninggalkan kota menuju Kazan, ibu kota Tatarstan, salah satu Negara bagian Rusia.

Maka setelah cek-in hotel kami segera keluar lagi mencari stasiun metro, yang menurut peta kota tidak berapa jauh dari hotel. Sayangnya, meski udara cerah dan matahari bersinar terang namun udara terasa amat dingin, menggigit hingga ke tulang sumsum, brrr …  Ini masih ditambah dengan jalanan yang lumayan licin, karena  masih ada sisa-sisa salju yang turun subuh tadi.  Kami sempat beberapa kali terpeleset, hiks ..

Yang menarik, orang Rusia yang selama ini dikenal ‘dingin’ dan tidak bersahabat, mungkin karena kesan komunisnya yaa, ternyata tidaklah demikian. Beberapa kali tanpa ditanya mereka menawarkan bantuan melihat kami celingukan mencari arah dengan peta di tangan. Uniknya lagi, tanpa peduli bahwa percakapan kami tidak nyambung, karena mereka bertanya dalam bahasa mereka, Rusia, sementara kami tidak paham apa yang mereka katakan.

Berkat bantuan dua orang ibu setengah umur kami berdua akhirnya sampai di stasiun metro. Yang pertama adalah seorang ibu setengah umur. Ibu ini tidak cukup hanya menunjukkan arahnya saja namun mengajak kami berjalan mengikutinya karena kebetulan ia juga sedang menuju ke arah yang sama,  begitu kilahnya. Ibu ini hendak pergi ke sebuah bank. Kami berjalan berdampingan selama beberapa menit sambil mengobrol. Ia sempat bercerita bahwa ia pernah mengunjungi Malaysia. Kebetulan ibu yang satu ini bisa berbahasa Inggris. Kami berpisah di perempatan jalan setelah ia menunjukkan kemana kami harus menuju.

Selanjutnya kami berjalan mengikuti arahannya, dengan tetap memegang peta. Namun di tengah perjalanan seorang nenek menawarkan bantuannya. Bersamanya akhirnya kami tiba di depan pintu stasiun metro. Kali ini sang nenek hanya bisa berbahasa Rusia. Namun tampak jelas bahwa ia tidak ingin kami tersesat. Karena beberapa kali ia menunjuk ke arah pintu stasiun seolah kami tidak bisa membaca tulisan besar di atas pintu tersebut. Padahal memang tidak bisa, karena tulisannya dalam huruf akrilik .. 🙂

Sekitar 20 menit kami berada di dalam metro. Stasiun metro yang kami tuju adalah Gorkovskaya. Begitu keluar dari stasiun bawah tanah ini, angin sejuk langsung menerpa wajah kami. Segera saya menaikkan pull over tebal yang saya kenakan hingga leher dan menarik retsleting jaket dingin saya. Demikian pula suami saya. Selanjutnya kami segera mencari posisi dan mencocokannya dengan peta yang kami genggam erat sejak tadi.

Subhanallah .. Begitu kami mendongakkan kepala terlihat sebuah menara tinggi menatap kami. Tidak salah lagi, inilah menara masjid yang kami cari itu. Betapa senangnya hati ini melihat kenyataan bahwa bait Allah ini begitu mudah ditemukan.

IMG_3855Letak  masjid ini benar-benar strategis dan istimewa. Masjid terletak tidak jauh dari benteng Peters and Paul, yang merupakan pusat kota, selain sangat dekat dengan stasiun metro. Di dalam benteng inilah berdiri gereja dimana semua kaisar Rusia dimakamkan. Masjid terletak di pinggir jalan raya, di depan sebuah taman. Menaranya yang berjumlah 2 buah itu terlihat menyembul di antara ranting-ranting cantik pepohonan musim gugur yang sungguh mempesona. Sementara kubah birunya hampir tidak terlihat karena begitu menyerupai birunya langit yang pagi itu terlihar sangat cerah.

Kami terus berjalan mendekati masjid dengan hati berdebar senang. Namun rupanya untuk memasuki masjid, harus berputar, karena jalanan terlalu lebar untuk diseberangi. Kami berjalan hingga mencapai ujung jalan sebelum akhirnya menyebranginya.

IMG_3878IMG_3869Sayang ternyata masjid tidak seindah dari kejauhan. Tembok-temboknya sudah tua dan terlihat berlumut.  Meski tidak dapat dipungkiri detilnya tetap menawan. Masjid ini amat mirip dengan masjid-masjid di Bukhara, Uzbekistan, yang rata-rata berkubah biru itu.

Dan nyatanya, masjid yang dibangun pada tahun 1910 dan selesai pada tahun 1921 ini memang dibangun dalam  rangka peringatan 25 tahun berkuasanya Abdul Ahat Khan, penguasa kota Bukhara, Uzbekistan, saat itu. Pada waktu itu, umat Islam di St Petersburg diperkirakan berjumlah 8.000 jiwa, sebagian besar adalah para pekerja yang sedang membangun kapal di galangan Sungai Neva. Umumnya mereka datang dari Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan. Ini terjadi di era Rusia dibawah tsar Nicholas II, yang mengizinkan berdirinya masjid. Ini merupakan masjid terbesar di Eropa kala itu.

Penting untuk diketahui, pada tahun 1868, Bukhara yang merupakan kerajaan Islam jatuh ke tangan Rusia dibawah para tsar.  Sejak itulah umat Islam berbondong-bondong datang ke kota ini. Jadi ikatan keduanya memang sudah terjalin baik. Meski ajaran Islam itu sendiri sebenarnya telah ada di Rusia sebelum abad 8, yaitu berkat orang-orang Tatar yang pernah lama menguasai negri ini.

Selanjutnya, ketika komunisme berhasil menjatuhkan kekaisaran Rusia pada tahun 1917, Bukharapun direbut dan kerajaan ini ambruk pada tahun 1920. Bukhara adalah kota kelahiran ahli hadist kenamaan Bukhari ( 810 M – 870 M).

Sejak berkuasanya komunisme di negri ini, pintu-pintu keagamaanpun ditutup rapat. Tidak ada tempat bagi pemeluk agama di negri ini. Mereka ditekan dan ditindas luar biasa kejam. Kitab-kitab suci dibakar. Seluruh rumah ibadah ditutup, termasuk masjid yang baru saja selesai dibangun ini. Bahkan pada tahun 1940, masjid beralih fungsi menjadi gudang medis tentara komunis.

( Bersambung)

Click : https://vienmuhadi.com/2013/05/20/st-petersburg-dan-masjid-soekarno-2-tamat/

Read Full Post »

grand archKeluar dari Quatre Temps, mall yang kabarnya terbesar di Eropa itu, Grand Arch, tugu raksasa setinggi  110 meter yang dibangun pada tahun 1985 langsung menyongsong. Tugu ini merupakan duplikat Arch de Triomphe, dalam versi modernnya, sesuai dengan lingkungan sekitarnya, yaitu La Defense.

La Defense adalah bagian Paris modern dimana gedung-gedung tinggi pencakar langit layaknya Manhattan di New York, kokoh berdiri menantang langit. Disinilah selama 3 tahun suami tercinta berkantor, hanya dengan berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit.  Hal yang mustahil terjadi di Jakarta. Dari  stasiun metro La Defense, ujung metro line 1 ini pulalah kami pulang pergi melaksanakan berbagai kegiatan kami selama itu.

Arc_de_Triomphe,_Paris_21_October_2010Grand Arch bersama dengan Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel yang ukurannya lebih kecil lagi dari Arch de Triomphe,  membentuk satu garis lurus yang dikenal dengan nama Axe Historique, garis lurus bersejarah. Bulevard terkenal Champs Elysees dan Place de la Concorde yang fenomenal itu terletak diantara Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel.  Arch de Triomphe du Carousel sendiri berada di ujung akhir Jardin de Tuleries, persis di depan Pyramida kaca raksasa yang merupakan pintu gerbang Musee du Louvre .

Yang mengejutkan, adalah temuan bahwa Axe Historique ini ternyata menuju ke 1 titik, yaitu Ka’bah di Mekkah ! Paling tidak, itulah yang dikatakan Hanum putri Amien Rais dan suaminya , Rangga, dalam buku « 99 cahaya di Langit Eropa » karya pasangan muda tersebut. Ini berdasarkan keterangan seorang Muslimah, mualaf asli Perancis, peneliti yang bekerja di Institut du Monde Arab, Paris.

arch de triomp carouselEntahlah, apakah itu suatu kebetulan atau tidak. Yang pasti tugu kemenangan bernama Arch de Triomph du Carousel itu faktanya memang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte yang juga dikenal sebagai Napoleon 1.  Sementara sejumlah sumber  menyatakan bahwa Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang terkenal itu, pernah menyatakan kekagumannya atas Islam.  Ini berawal pada tahun 1798, ketika ia berkunjung ke Mesir dan menaklukan negri 1000 menara ini. Waktu itu ia belum menjadi kaisar.

« Puis enfin, à un certain moment de l’histoire, apparut un homme appelé Mahomet. Et cet homme a dit la même chose que Moïse, Jésus, et tous les autres prophètes : il n’y a qu’Un Dieu. C’était le message de l’Islam. L’Islam est la vraie religion. Plus les gens liront et deviendront intelligents, plus ils se familiariseront avec la logique et le raisonnement. Ils abandonneront les idoles, ou les rituels qui supportent le polythéisme, et ils reconnaîtront qu’il n’y a qu’Un Dieu. Et par conséquent, j’espère que le moment ne tardera pas où l’Islam prédominera dans le monde. »

“Lalu akhirnya, pada beberapa titik dalam sejarah, muncul seorang pria bernama Muhammad. Dan orang ini mengatakan hal yang sama bahwa Musa, Yesus dan nabi-nabi lainnya: hanya ada satu Tuhan. Itu adalah pesan Islam. Islam adalah agama yang benar. Makin banyak orang membaca makin banyak orang menjadi lebih cerdas, mereka menjadi akrab dengan logika dan penalaran. Mereka meninggalkan berhala, atau ritual yang mendukung politeisme, dan mereka mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan. Dan karena itu saya berharap bahwa suatu waktu nanti akan segera tiba waktunya Islam mendominasi dunia.

Tulisan di atas bukan satu-satunya bukti kekaguman Napoleon yang sangat hobby membaca ini, atas Islam. Ada sejumlah tulisan lain yang menerangkan kekaguman Napoleon pada Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat. Diantaranya yaitu pernyataan kekagumannya tentang keberhasilan penyebaran Islam, yang dalam waktu kurang dari 100 tahun telah manpu ‘meng-Islam-kan’ hampir separuh dunia.  Bahkan ada pula catatan bahwa  ketika berada di Mesir, Napoleon pernah bersyahadat ! Meski sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah bagian dari politik Napoleon. Wallahu’alam .. Napoleon memang dikenal sebagai tokoh besar yang kontroversial.

Tulisan diatas sendiri disadur dari Jurnal Sainte Helene, pada tahun 1815 – 1818. Sainte Helene atau Santa Helena adalah tempat Napoleon di asingkan pada tahun 1812, tak lama setelah kekalahannya. Pulau ini terletak di tengah lautan Atlantik sebelah selatan, 1900 kilo meter dari Afrika. Dibutuhkan 2.5 bulan untuk mencapai pulau ini, dengan menumpang kapal.

Sedangkan jurnal St Helene adalah catatan harian orang-orang yang menemani Napoleon selama di pengasingan. Sebagai informasi, selama di Santa Helena, Napoleon memang selalu mendiktekan biografi hidupnya kepada orang-orang dekat yang mendampinginya. Salah satunya adalah asisten pribadinya yang bernama Ali.

Di pulau terpencil nun jauh di ujung sana inilah Napoleon hidup selama 6 tahun hingga akhir hayatnya. Disinilah kabarnya ia menghabiskan waktunya untuk lebih mengenal Islam yang pernah dikaguminya, dan mungkin bersyahadat, secara serius …

german embassy 1Namun pagi ini saya mendapat surprised. Melalui Face Book, saya melihat sebuah foto hasil jepretan seorang teman di Paris. Foto tersebut adalah foto langit-langit sebuah ruangan dengan hiasan mirip kaligrafi. Tebakan saya kaligrafi tersebut berbunyi « La illaha illa Allah ».

Lalu apa surprisednya ? Bila tulisan tersebut berada di masjid atau tempat-tempat milik Muslim tentu hal biasa. Tapi bila tulisan tersebut berada di langit-langit salah satu ruangan di dalam rumah duta besar Jerman di Paris, tentu berbeda. Dan info yang saya dapat kemudian, ternyata bangunan tersebut awalnya adalah milik putri Napoleon 1 !  Subhanallah … Dapatkah ini dijadikan bukti bahwa Napoleon memang benar-benar telah bersyahadat jauh sebelum dipenjarakan di pengasingannya di Santa Helena? Wallahu’alam ..

Berikut video mengenai Napoleon dan Islam :

http://www.youtube.com/watch?v=bL6DTlAnwek

Adalah kenyataan, bahwa salah seorang jendral kepercayaan Napoleon yang ikut mendampingi Napoleon dalam ekspedisinya ke Mesir yaitu, jendral Francois Menou, telah bersyahadat. Jendral yang mempunyai julukan Baron de Boussay ini kemudian menikah dengan seorang Muslimah Mesir dan mengganti namanya menjadi Abdallah. Sebelum wafatnya pada tahun 1810, ia sempat menduduki jabatan gubernur jendral Tuscany dan Venezia.

Sementara orang terdekat Napoleon, Raza Roustam, yang senantiasa setia mendampingi Napoleon kemanapun sang kaisar pergi, adalah seorang Muslim sejati. Roustam yang ahli berkuda itu adalah seorang  Mesir kelahiran Georgia yang diberikan penguasa Mesir kepada Napoleon pada lawatannya ke Mesir. Dengan penuh rasa percaya diri, sang asisten pribadi istimewa ini selalu berpakaian ala Mameluk lengkap dengan sorbannya, hingga menarik perhatian siapapun yang melihatnya.

german embassy 2Dan sejumlah foto yang dipajang di salah satu ruangan rumah duta besar Jerman yang dilihat beberapa teman saya di Paris beberapa hari lalu itu, kabarnya memang foto para sahabat Muslim Napoleon dari Mesir. Orang-orang yang menginspirasi kebesaran dan kebenaran Islam.

Marion, demikian nama peneliti yang disebutkan Hanum dalam bukunya, juga berani berkata bahwa Napoleonic Code, hukum yang dibuat Napoleon sekembalinya dari Mesir itu, jika dicermati secara serius, sebenarnya senafas dengan syariah Islam.

Kini, melihat kenyataan bahwa Islam berkembang pesat di negri yang pernah dikuasainya, seperti yang pernah diimpikannya, bagaimana kira-kira perasaan Napoleon bila ia masih hidup, senangkah ia? Yang pasti, selang beberapa hari setelah kami meninggalkan Paris, pemerintahan Perancis dibawah kepresidenan Francois Holland telah mengirimkan tentaranya ke Mali, untuk menghancurkan pasukan Mujahidin Mali yang sedang berjuang untuk menerapkan hukum Islam di negaranya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS.Al-Jatsiyah(45):18).

Apakah aksi berlebihan pemerintah Perancis ini merupakan reaksi ketidak-senangan mereka terhadap perkembangan Islam di negaranya? Apakah berbagai larangan seperti pelarangan jilbab, pelarangan azan, pelarangan pembangunan masjid dll yang dilontarkan pemerintah terhadap umat Islam di negri itu berhasil menghentikan penyebaran agama yang diridhoi-Nya itu?

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”(QS.Ali Imran(3):54).

Entahlah. Yang jelas, kami berdua hanya dapat berharap dan berdoa semoga saudara-saudari kita di negri ini bisa tetap istiqomah menjalankan syariat agama ini meski hanya sebagai kaum minoritas.

Sebagai penutup, tulisan yang saya buat ini bukan dimaksudkan sebagai  ‘íming-iming’ agar para pembaca berkunjung ke Paris. Justru sebaliknya, saya berharap agar tulisan ini dapat cukup mewakili keinginan tersebut. Kecuali bila pembaca telah menunaikan kewajiban haji bila memang mampu dan masih memiliki kelebihan harta setelah melaksanakan kewajiban-kewajiban lain sebagai Muslim. Atau bila itu adalah memang tugas perusahaan, tentu saja. Itupun masih ditambah dengan tujuan untuk kepentingan dakwah, insya Allah.

eifel totindoAkhir kata, saya ucapkan banyak terima-kasih kepada sahabat-sahabat dan teman-teman yang telah membuat kami betah tinggal di kota ini, dengan segala suka dukanya. Teman-teman Totindo dimana kami secara rutin berkumpul untuk mengkaji ayat-ayat suci Al-Quranul Karim, baik melalui pengajian biasa maupun pengajian via Skype. Ataupun sekedar kumpul-kumpul sambil mencicipi masakan Indonesia yang memang top. Ataupun juga sekedar berjalan-jalan menikmati keindahan kota sambil berfoto-ria. …  🙂  ..

Au revoir “, kata dalam bahasa Perancis yang pada umumnya diartikan sebagai sampai bertemu kembali ini tampaknya kurang cocok untuk dijadikan judul dalam artikel ini.  Mungkin ” Good Bye” atau “A Dieu”  dalam bahasa Perancisnya,  lebih tepat. Meski “Dieu” yang artinya Tuhan itu kedengaran sedikit lebay, karena rata-rata orang Perancis tidak percaya Tuhan.  Tetapi ternyata kata itu tetap saja eksis  … 🙂

Terima-kasih ya Allah, telah Kau beri kami kesempatan untuk menyaksikan berbagai kejadian dan peristiwa di belahan barat bumi-Mu ini. Semoga kami memiliki kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari segala kejadian tersebut. Aamiin aamiin aamiin ya robbal álamin ..

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.(QS.Al-Mulk(67):15).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 April 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Apapun, masjid adalah tempat silaturahim yang baik. Disini pula suatu hari saya pernah mengantar seorang  reporter TV tanah air menemui direktur masjid ini. Dalam wawancaranya itu, beliau mengaku kagum dengan Muslim Indonesia yang terlihat kompak dan mudah diatur ketika berhaji. Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan salam ukhuwahnya untuk Muslim negri kita.

Yang juga cukup membanggakan, masjid ini terletak di lokasi yang cukup bergengsi. Masjid ini terletak di sudut  jalan, di depan Jardin de Plantes, yaitu kebun raya tanaman bio yang cukup luas  dan museum National d’Histoire Naturelle, museum yang menyimpan sejarah bintang langka, seperti Dinosaurus dll. Kedua situs ini banyak dikunjungi wisatawan dan hampir setiap hari selalu ramai.

Di sudut jalan ini berdiri sebuah restoran halal ala Maroko. Berbagai makanan khas Maroko seperti kuskus dan tajin yang banyak disukai bule  Perancis dijual di tempat ini. Di restoran ini terdapat  hamam, yaitu permandian air panas ala Maroko, yang dipisahkan antara laki2 dan perempuan. Jangan heran bila melihat antrian panjang bule-bule, mengantri di sudut masjid ini. Sekedar info, orang Perancis banyak yang sangat menyukai hal-hal yang eksotis – orientalis.

Bagi kaum Muslimin penggemar masakan khas Perancis juga ada kabar gembira. Restoran yang menyajikan masakan khas seperti crepe asin isi salmon, raclette dll dapat dijumpai tak jauh dari sini. Letaknya di belakang stasiun metro Place Monge.

Sementara itu di sudut lain masjid berdiri sebuah toko buku Islam dalam berbagai bahasa, selain toko buku di depan masjid yang hanya menjual buku dalam bahasa Perancis dan Arab. Di kedua toko ini dijual pula berbagai pernak pernik berbau  ‘islam’ seperti parfum Arab, Henna cat kuku dan rambut, gamis dll, disamping tentu saja sajadah dan tasbih.

Saya sempat mengobrol lumayan sering dengan  pemilik toko buku yang di ujung jalan itu. Ia adalah seorang pria setengah umur yang ramah dan sangat santun. Istrinya adalah orang bule asli Perancis  yang menutup auratnya dengan sangat sempurna. Cadar menutupi sebagian wajahnya. Hal yang banyak dilakukan mualaf asli negri ini. Sedangkan suaminya adalah orang Syria yang sejak lama telah tinggal di Perancis dan menjadi  warga Negara Perancis. Keduanya terlihat sangat sholeh dan sholehah.  Mereka sangat menjungjung tinggi agama Islam. Kagum saya pada mereka.

Kenangan yang juga tak patut dilupakan adalah keberadaan kedutaan Indonesia.  Disinilah masyarakat Indonesia sering bertemu. Tidak hanya ketika Ramadhan, Lebaran atau Natal. Namun juga ketika kebetulan sedang mengurus passport.  Bahkan persatuan ibu-ibu pejabat yang tergabung dalam Dharma Wanita juga menyelenggarakan arisan dan pertemuan rutin bulanan. Acara ini terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik yang sudah puluhan tahun tinggal di Paris dan menikah dengan bule maupun yang sedang tugas mendampingi suami,  seperti saya ini.

Di bagian belakang gedung perwakilan Negara ini berdiri pula semacam koperasi merangkap kantin. Disinilah berbagai keperluan dapur khas Indonesia seperti kecap, bumbu kacang, indomie  dll dapat ditemukan.  Begitu juga  masakan jadi khas Indonesia buatan masyarakat Indonesia di Paris.

Sayangnya, masakan tersebut belum tentu halal. Biasanya, untuk mengetahui kehalalan masakan tersebut kita harus mencari tahu dulu siapa yang memasak lauk pauk tersebut.  Beruntung tahun lalu, ada istri teman sekantor suami, seorang Muslmah,  yang hobby memasak dan mau menerima pesanan masakan. Jadi terjamin halal, Alhamdulillah …

Namun dalam urusan perut, sebenarnya kaum Muslimin tidak perlu terlalu khawatir. Sekarang ini banyak sekali toko daging ( mentah) halal di Paris, orang menamakannya “ Boucheri Musulman”, baik di pusat  kota maupun di banlieu, kota-kota satelit di sekitar Paris. Malah di supermarket besarpun tidak jarang ditemukan adanya stand daging halal.  Itupun bukan hanya sebatas daging sapi, kambing dan ayam tapi juga masakan siap saji seperti lasagne, pizza, ayam goreng, sandwich, burger dll.

Begitupun bumbu dapur dan rempah-rempah, selain di kedutaan, kita juga bisa berbelanja di china town, seperti super market Tang Freres yang terletak di Paris 13. Atau toko-toko kelontong kecil milik orang Cina atau orang India yang jumlahnya lumayan banyak, bisa menjadi alternatif menarik. Jadi tidak ada alasan tinggal di Paris itu bakal sulit makan nasi atau masak masakan khas daerah kesayangan suami. … 🙂 ..  Meski memang, tentu saja,  bumbunya tidak selengkap di tanah air.

IMG_4692Yang juga tak kalah menggembirakan, di objek-objek wisata resto halal juga tidak terlalu sulit ditemui. Di Musee du Louvre misalnya, di area food court museum ini , sejak beberapa waktu lalu telah tersedia sebuah counter resto halal. 2009-07 Paris_2198Juga di Sacre Couer, sebuah resto fast food halal yang menjual ayam goreng  ala Kentucky, bisa ditemui. Lumayan, untuk pengganjal perut setelah lelah berjalan mendaki bukit kecil dimana gereja tua berwarna putih ini berdiri. Bukit ini sering disebut sebagai atapnya Paris. Karena dari sini kita bisa memandang sebagian kota.

Sementara tak terlalu jauh dari Arc de Triomph, tugu pahlawan yang terletak di bundaran jalan dimana 12 jalan raya bertemu, salah satunya adalah Champs Elysees,  sebuah resto halal yang cukup enak boleh dijajal. Di dinding resto masakan  khas Perancis ini tergantung beberapa lukisan tokoh Turki. Pemilik resto ini memang orang Turki.

Kabarnya, tak jauh dari tugu dengan relief memukau ini juga ada restoran Indonesia. Sayang,  beberapa kali saya mencari tidak menemukannya. Yang saya tahu resto Indonesia yang berada di rue Vaugirard, tidak jauh dari Palais de Luxembourg,  Paris 6.

Bagi yang suka berbelanja di Galery Lafayette, mall mewah terkenal di Paris yang memiliki kubah biru nan elok itu,  juga tidak perlu resah. Sebuah resto halal yang menyajikan masakan Perancis milik seorang Muslim asal Maroko bisa ditemui tidak terjalu jauh dari galeri yang selalu dipadati turis ini.

Sedangkan di sekitar boulevard St Germain, salah satu jalan utama kota Paris yang dirancang secara apik oleh Haussmann di akhir abad 19, sebuah resto halal yang menyajikan masakan Cina dapat menjadi obat penawar kangen masakan Asia yang lumayan enak.  Resto ini terletak di rue Dauphine, tak berapa jauh dari toko bernama « Terima-Kasih ».  Surprised ya ? Begitu juga saya … 🙂

toko terimakasihItu sebabnya, saya segera masuk dan melihat-lihat toko yang ternyata berisi pernak pernik dan sejumlah furniture kayu khas Indonesia. Kebetulan saya bertemu dengan si pemilik, seorang asli Perancis.  Usut punya usut, si pemilik memang pecinta produk negri kita. Itu sebabnya tokonya ia beri nama Terima-kasih. Ia bercerita bahwa ia sering berkunjung ke Jakarta dan Surabaya. Selain untuk urusan bisnis, ia mengaku telah jatuh cinta kepada 2 kota besar itu, dengan segala hiruk pikuknya.

Begitupun di 4temps, pusat perbelanjaan modern di ujung Paris, yang terletak di La Defense, sebuah cafe halal siap saji a la Mc Donald bernama Lal’s cafe, siap melayani kaum Muslimin yang peduli akan kehalalan makanan yang masuk ke perut mereka.

Saya jadi teringat kepada 2 orang Muslimah yang di hari-hari terakhir menghampiri saya. Dari kejauhan mereka sudah melihat ke arah saya. Awalnya saya ragu, berpikir keras apakah saya mengenal kedua perempuan cantik berwajah Arab Aljazair tersebut.  Pertanyaan saya tak lama segera terjawab. Ternyata mereka hanya ingin menanyakan letak café halal tersebut.

Tadinya saya hanya memberi ‘ancer-ancer’nya saja. Tapi kemudian saya berubah pikiran, setelah teringat pengalaman tak terlupakan diantar saudara Muslim ketika suatu hari kami nyasar di negara orang. “Cari pahala ah, selagi masih ada kesempatan”. Maka jadilah saya berbalik arah, mengejar dan mengantar keduanya hingga terlihat papan arah penujuk jalan “Lal’s café”.  Indahnya persaudaraan ..

Namun sebenarnya, untuk mendapatkan makanan halal di kota ini sama sekali tidak sulit, minimal kebab, yang terbanyak adalah kebab Turki. Makanan ini ada hampir di semua sudut kota. Bahkan di tempat-tempat terbuka model pasar kaget kalau di Jakarta, kemungkinan hot dog atau jajanan lain halal yang semacamnya selalu ada. Kuncinya perhatikan dulu penjualnya.  Bila wajahnya menunjukkan ‘wajah Islam ‘,  seperti Aljazair, Maroko, Aljazair atau Turki, 4 etnis Muslim terbanyak di kota ini, cobalah beranikan diri bertanya, apakah makanan yang dijualnya itu halal. Tanyakan dengan suara pelan saja.

Beberapa kali saya melakukan hal itu. Dan ternyata benar. “ Oui, bien sure. Je suis musulman, je m’appelle Muhammad”.  Dengan semangat tanpa ditanya ia memperkenalkan diri, bahwa ia seorang Muslim dan bernama Muhammad.  Selanjutnya, ketika saya menanyakan mengapa tidak diberi tanda halal.  Ia menjawab bahwa resikonya terlalu berat, pelanggan bule bisa menjauh dan mencibir.  Apa boleh buat .. 😦

Ada juga beberapa resto, contohnya di sekitar Sacre Couer atau di sekitar St Michel, tempat dimana turis sering ngantri mencari makan. Meski resto tidak memasang tanda halal, namun begitu melihat ada perempuan berjilbab sedang celingukan mencari resto,  secara spontan sang penjual langsung berteriak bahwa restonya halal.  Ada juga beberapa resto yang  tanpa ditanya mengatakan bahwa ayamnya halal, namun tidak sapinya. Aneh yaa, tapi begitulah …

Lepas dari Lal’s café, sayapun melanjutkan langkah menuju arah lain 4 temps. Sore itu saya janji bertemu dengan seorang teman asal Azerbaijan yang juga sedang di Paris dalam rangka menemani suaminya bertugas. Seperti kebanyakan warga Negara bekas pecahan Rusia, teman saya ini juga Muslim. Sayang ilmu ke-Islam-annya amat minim. Ia mengaku bahwa dirinya belum bisa 100 % meninggalkan kebiasaannya  mengkonsumsi alcohol, terutama bila suaminya, yang juga Muslim menawarkannya, hiks ..

Ia juga bercerita bahwa dirinya baru mulai mengerjakan shalat setahun belakangan ini. Itu sebabnya pada perjumpaan terakhir ini saya menghadiahkan mukena untuknya. Plus buku cerita anak bergambar tentang kehidupan Rasulullah saw untuk kedua putrinya yang masih balita. Dengan harapan, semoga biografi  sederhana tersebut mampu mendekatkan mereka kepada nabi-Mu serta Islam yang tampak jauuh itu. Shalawat dan salam sejahtera bagimu ya Rasul …

“ Aduh bagus sekali, koq kamu tahu kalau saya hanya punya mukena satu, yang segera saya cuci ketika saya sedang haid”, sambutnya senang, dalam bahasa Perancis yang sangat fasih.

( Bersambung)

Read Full Post »

Seminggu menjelang berakhirnya masa tugas suami, apartemen yang selama ini kami tinggali sudah harus dikembalikan ke perusahaan. Kami diberi kebebasan mencari sendiri hotel apartemen, dengan tanggungan mereka. Dengan penuh semangat, saya usulkan agar suami memilih hotel di pusat keramaian kota. Ini adalah kesempatan baik dan mungkin terakhir, karena selama ini kami tinggal di apartemen di Courbevoie, tidak berapa jauh dari kantor suami di La Defense.

IMG_4637IMG_4638Maka selama seminggu itu, sungai Seine yang membelah kota Paris menjadi 2 bagian yaitu Rive Gauche ( bagian kiri ) dan Rive Droit ( bagian kanan) menjadi pemandangan kami begitu kami membuka jendela kamar kami, Alhamdulillah …

IMG_3829IMG_4787IMG_4879Stasiun metro St Michel dan stasiun Pont Neuf  terletak hanya beberapa  puluh meter  dari tempat ini. Meski sebenarnya untuk menjelajahi Quartier Latin yang terletak di Paris 5 ini, kita tidak perlu  menggunakan metro. Quartier Latin adalah  bagian tertua kota yang ramai dipadati turis. Dengan berjalan kaki, Place St Michel, Notre dame de Paris, bulevard St Germain, Sorbonne,  Pantheon bahkan Palais de Luxembourg yang agak jauh di selatanpun bisa dicapai. Menyeberangi sungai, ke arah utara, Hotel de Ville atau ke arah barat, musee du Louvre juga masih dapat digapai.

MadeleineDemikian juga Place de la Concorde, yang merupakan salah satu tempat paling bersejarah di negri ini. Pelataran terluas di Paris ini dikelilingi bangunan-bangunan penting seperti gedung Asembly National yang berhadapan dengan bangunan kembarannya yaitu gereja Madeleine, hotel Crillon, hotel paling bergengsi di Paris dimana tamu negara sering menginap serta jardin Tuleries yang fenomenal itu.

Pelataran ini juga dikelilingi oleh 8 patung yang melambangkan 8 kota besar yang menjadi batas Paris dengan kota-kota tersebut. 8 kota tersebut adalah Brest, Rouen, Lille, Strasbourg, Lyon, Marseille, Bordeaux dan Nantes. Pelataran ini terbuat dari paving block, memberi kesan kuno namun tetap cantik.

Paris de la ConcordeSementara persis di bagian tengahnya berdiri tugu Obelisk, tugu kuno peninggalan raja Ramses, yang merupakan hadiah dari raja Mesir Mohammad Ali pada tahun 1829 untuk Perancis, sebagai lambang persahabatan ke 2 negara. Tugu ini  diapit oleh 2 buah air mancur kembar nan indah mempesona, dengan patung-patung erotiknya, seperti biasa  ..

Ironisnya, dibalik kecantikan penampilannya, tempat ini menyimpan kenangan yang sungguh pahit. Disinilah raja Louis XVI dan permaisurinya, Marie Antoinette di guilotine alias hukum pancung pada tahun 1793.  Dengan cara yang sama, ratusan orang menjadi korban keganasan dan kemarahan rakyat  yang merasa terzalimi selama bertahun-tahun hidup mereka dibawah tirani kerajaan.

Alexandre Dumas, seorang penulis kenamaan Perancis berhasil mengabadikan tragedi berdarah ini melalui novelnya yang berjudul La Femme au collier de velours . Hasil karyanya ini dipublikasikan pada tahun 1850.

Suatu hari di hari-hari akhir itu, saya berjalan-jalan ke arah Chatelet, tujuan saya Centre Pompidou yang terletak di Paris 4. ( Paris terbagi atas 20  wilayah / arrondissement). Biasanya di tempat ini, tepatnya di depan pelataran di depan perpustakaan Pompidou yang merupakan perpustakaan terbesar di Eropa,  sering ada atraksi gratis. Ternyata benar, hari itu saya berkesempatan menonton pesulap Canada beraksi.  Ia menutup sulapnya dengan atraksi yang cukup memukau.  Dengan gaya lucu, khas interpreneur profesional,  di atas sepeda  tingginya ia memainkan atraksi berbahaya, yaitu melempar pisau secara bergantian di antara dua tangannya.

Pertunjukkan yang berlangsung hampir 1 jam lamanya itu diakhiri dengan tepuk tangan panjang penonton. Berkali-kali sang maestropun membungkukkan badannya dalam-dalam sambil mengucapkan « Thank you .. Thank You “. Setelah itu iapun melemparkan topinya ke atas, menangkapnya kembali lalu berkeliling mendekati penonton.

This is free, of couse .. But the trip from Canada to French is not “, serunya sambil mengedipkan mata penuh arti. “ If you are satisfied,  half euro or even 20 euro doesn’t matter”, lanjutnya lagi dengan nada kocak, memancing tawa penonton.  Sekedar info, rata-rata orang memberi setengah euro untuk pertunjukkan seperti itu.

Alhasil, topi sang maestro yang digeletakkan di lantai itupun akhirnya penuh terisi koin- koin euro,    menjadi tanda sukses pertunjukkannya hari itu. Satu hal yang lazim terjadi di kota ini. Atraksi semacam ini memang hal biasa dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis manca negara.

Setelah itu penontonpun bubar, berpencar mencari hiburan lain. Demikian juga saya. Pandangan saya tertumbuk pada bendera Palestina yang sedang berkibar, tidak jauh dari tempat saya berdiri. Saya segera mendekati tempat tersebut.  Ternyata ini aksi solidaritas untuk kemerdekaan Palestina. Sejumlah poster dan foto-foto kekejaman tentara Israel dipajang di tempat tersebut.  Sementara sebuah meja panjang dengan beberapa kursi terlihat dipenuhi pengunjung. Di atas meja terlihat sebuah kotak berisi postcard dan sebuah kotak pos bertuliskan : » Mr le president de la republique », dengan alamat lengkap istana Elysees, istana resmi kepresidenan.

Usut punya usut, ternyata ini semacam poling/ jejak pendapat terhadap berdirinya Palestina merdeka. Pengunjung dipersilahkan memilih satu atau lebih post card yang tersedia di atas meja, kemudian menuliskan apa yang ingin dikatakannya tentang post card yang dipilihnya itu.

Seperti poster dan foto-foto  yang dipajang di sekitar lokasi, post card-post card tersebut menggambarkan berbagai kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Yang lebih menarik, post card pilihan pengunjung tersebut ditujukan kepada presiden Perancis, dan tanpa perangko, karena penyelenggara yang akan langsung menyerahkannya kepada orang no 1 negri tersebut.

Tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga  tersebut. Kapan lagi bisa menulis surat kepada presiden, isinya tentang penderitaan saudara-saudari kita di Palestina dan harapan bagi kemerdekaan mereka pula.

Dari  An-Nu’man B. Basyir ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

 “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bantu-membantu itu seperti suatu jasad. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain akan turut merasakan sakitnya, dengan tanpa dapat tidur dan demam.” (Shahih Muslim, no. 2586. Bab: Mencintai orang-orang beriman, bantu-mebantu, dan saling kerjasama)

11078058_10152950765662054_4149501251067377125_nTidak itu saja, penyelenggara juga menjual T-shirt bertuliskan « Boycot Israel”di bagian depan dan “Go to Hell Israel”di bagian belakangnya.  Sesuatu yang rasanya mustahil terjadi tanah air.  T-shirt berwarna hijau yang hari itu dijadikan seragam penyelenggara itu dijual dengan harga 8 euro.

Namun jangan salah duga. Aksi tersebut tidak berarti bahwa penyelenggara berpihak kepada kaum Muslimin. Ini hanyalah salah satu bentuk toleransi  mereka. Sama halnya ketika mereka berteriak  bahwa kaum LGBT ( Lesbian  Gay Biseksual Transgender) juga mempunyai hak untuk hidup dan dihormati … 😦

Oya, tidak jauh dari tempat saya berdiri ini, berdiri patung baru yang cukup menarik perhatian.  Patung tembaga tersebut adalah patung raksasa Zinedine Zidane,  sedang menyeruduk  lawannya. 😦  ..Kejadian menghebohkan ini terjadi pada tahun 2006 di pesta kejuaraan sepak bola di Berlin.  Meski keberadaan patung raksasa setinggi 5 meter ini berhasil menarik pengunjung, saya yakin, pasti sang pahlawan persepak-bolaan Perancis kelahiran  Aljazair ini tidak senang  dirinya diabadikan dalam posisi seperti itu.

Pasti ia sakit hati, sama seperti sakitnya hati ini, dan juga mungkin kawan-kawan lainnya, karena kabarnya, Zidane terprovokasi melakukan tindakan kasar tersebut karena lawannya yang asal Itali itu selama pertandingan berlangsung terus membuntutinya sambil membisikan kata-kata ejekan terhadap saudara perempuannya  yang berjilbab. Zidane memang berasal dari keluarga Muslim. Betul-betul taktik busuk yang berhasil …

Lepas dari Centre Pompidou, saya segera menuju stasiun metro. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Artinya sebentar lagi masuk waktu Asar. Tujuan saya adalah Mosquee de Paris, masjid terbesar yang ada di kota ini. Masjid ini terletak di, 39 rue Geoffrey Saint-Hilaire, Paris 5.  Jika ingin naik metro dari tempat ini, kita harus menumpang metro  no 7 dan berhenti di stasiun Place Monge.

Mosquee de Paris46443_426522137053_685982053_5062294_6303357_nmosquee de parisIMG_4690Masjid ini dibangun pada tahun 1926 untuk menghormati 70.000  pahlawan Muslim Perancis yang gugur dalam perang melawan Jerman pasca perang Dunia I. Arsitektur masjid ini mirip dengan arsitektur istana Alhambra di Spanyol, lengkap  dengan Patio de Leons yang terkenal itu. Tapi ini tanpa Leons atau singanya.

Disinilah saya selama 2 tahun lebih melaksanakan shalat Jumat, bersama ratusan Muslimah Perancis. Benar-benar sebuah kenangan yang sangat indah, mendengarkan kutbah Jumat tausiyah di tanah orang kafir. Sayang, tausiyah tersebut diberikan dalam bahasa Arab. Padahal saya perhatikan meski mayoritas jamaah adalah turunan Arab, harap maklum, Maroko, Alajazair dan Tunisia adalah Negara bekas jajahan Perancis,  namun anak-anak mudanya yang merupakan generasi ke 2, ke 3 atau bahkan mungkin ke 4, tidak lagi begitu mampu berbahasa Arab.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah ini disengaja, karena saya pernah mendengar bahwa masjid agung ini sangat berbau pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah melarang menggunakan tausiyah dalam bahasa Perancis, supaya orang Perancis tidak paham. ??!?

“ Katakanlah: “… … , kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. … … “.(QS.Al-Baqarah(2):217).

Atau mungkinkah saya saja yang su’udzon, karena  sebelum khutbah resmi, katanya, ringkasan khutbah telah diberikan dalam bahasa Perancis. Maklumlah Islamphobia di Perancis sudah sangat akut. Yang pasti, masjid lain yang ada di negri ini tidak mau mengikuti aturan masjid agung ini. Bahkan kebijaksanaan UOIF, organisasi Islam terbesar di negri ini, sering bersebrangan dengan keputusan dan aturan mesjid ini. Dan sering kali melawan kebijaksanaan pemerintah. Bisa dibilang masjid agung ini adalah milik pemerintah.

Namun sebagai masjid terbesar dan masjid yang paling mudah dicapai oleh Muslim yang tinggal di pusat Paris, masjid ini tetap ramai dikunjungi jamaah. Meski, seperti apa yang telah diprediksi Rasulullah, sebagai salah satu tanda akhir zaman, setiap hari mesjid ini membuka dirinya untuk turis, untuk dilihat-lihat dan berfoto ria. Meski kalau kita mau usnudzon, bisa saja ini menjadi dakwah tersendiri.

( Bersambung).

Read Full Post »

Tanpa terasa, nyaris 3 bulan sudah kami meninggalkan Paris, Perancis. Begitu banyak kenangan, suka dan duka  kami lalui. Berbagai macam pengalaman kami rasakan dan saksikan. Dari sana, banyak hikmah yang dapat kami petik. Alhamdulillah …

Jakarta dan Paris tentu saja tidak sama. Hal mencolok yang paling terasa, transportasi ! Tanpa perlu dibahas panjang lebar semua orang juga tahu betapa parahnya sistim transportasi di ibu kota Jakarta ini. Jangankan bicara kendaraan umum, untuk berjalan kakipun sungguh tidak nyaman.

Selain tidak tersedia trotoar polusipun bisa bikin sesak nafas. Pejalan kaki benar-benar tidak punya hak di kota ini. Pilihan hanya 2, naik kendaraan umum yang sama sekali tidak nyaman dan tidak terjadwal atau naik kendaraan pribadi. Kalau mau diperluas, ada taxi atau sepeda motor/ ojek. Dengan kondisi, semua maceeeet .

Namun demikian tidak perlu kita terlalu berkecil hati. Karena persamaannya juga ada, yaitu sama-sama ibu kota negara .. 🙂 . Supaya lebih lega, bolehlah saya tambahkan, sama-sama banyak rampok ! 😦 ..

Saya tidak bergurau, saya benar-benar mengalaminya sendiri. Bayangkan, hanya beberapa bulan sebelum usai tugas suami, ban mobil kami, raib digondol maling. Tidak tanggung-tanggung pula, ke-empat-empatnya! Ironisnya lagi, kejadian tersebut  terjadi di garasi pribadi apartemen kami sendiri, yang beberapa hari terakhir itu memang sedang rusak, sehingga terbuka lebar, sepanjang siang dan malam.

Suami mengetahui musibah ini sekitar pukul 4 pagi, ketika hendak pergi ke mesjid untuk shalat subuh berjamaah. Pikiran pertama yang terlintas di benak suami ketika itu “ Untung rampoknya udah kabur”.    Tak dapat dibayangkan apa yang terjadi jika suami datang dan memergoki rampok sedang beraksi … Astaghfirullah hal ladzim …  Rupanya Allah swt masih melindunginya, Alhamdulillah …

Sebenarnya bukan sekali ini saja kami mengalami musibah di kota pusat mode dunia ini. Pada tahun 2001 kaca mobil pernah dipecah orang. Gara-garanya hanya sebuah tas anak kami yang masih SD ‘nampang’di jok depan mobil. Ketika itu saya baru saja menjemput anak kami tersebut. Kami berdua tidak langsung meninggalkan parkiran yang terletak  di depan sekolah melainkan berjalan-jalan dulu di taman luas yang berada di samping sekolah. Saya ingat betul namanya, Parc Monceau.

Sekembali dari jalan-jalan itulah saya melihat bahwa kaca mobil kami telah dipecah orang dari luar. Dan yang diambil ya hanya tas anak kami itu. Kebetulan tas tersebut memang rada élit’, sedikit mirip tas kantoran. Pasti si maling tadi tidak menyangka bahwa tas tersebut hanya tas yang berisi buku-buku anak SD.  Saya akui, saya memang lalai tidak menyembunyikan tas tersebut. Namun siapa yang menyangka bahwa orang Paris ‘doyan’dan gampang tergiur barang seperti itu.

Yang kedua, terjadi pada tahun 2003, yaitu 2 bulan sebelum berakhirnya masa penugasan suami, persis seperti yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Suatu hari seperti biasa saya pergi kursus bahasa Perancis. Karena siangnya kami ada acara bersama AVF, suatu kelompok sosial untuk mengenal kehidupan kota di Perancis dimana kami tinggal, maka saya pulang dulu, untuk salin dsb.

Namun setiba di apartemen dimana kami tinggal, pintu tidak bisa dibuka. Bahkan anak kuncinya tidak berhasil saya masukkan. Tiba2 saja hati saya berdebar kencang. Pasti ada yang tidak beres. Saya segera turun dan menelpon suami di kantor, membayangkan ada orang asing di dalam sana, hiii ..

Suami berpesan untuk mengawasi saja apartemen dari luar, sambil menanti kedatangannya. Tak lama kemudian ia datang dan berusaha membuka paksa apartemen, tanpa hasil. Akhirnya kamipun melaporkan kejanggalan tersebut ke SAMU, semacam 911 nya Perancis. Tak sampai setengah jam kemudian, bantuanpun tiba. Pintu dibongkar dan kamipun segera masuk.

Astaghfirullah hal ladzim, ternyata apartemen kami telah dirampok, di siang hari bolong .. Uniknya, rampok tersebut hanya mengambil perhiasan, itupun hanya yang asli, yang imitasi dibiarkan saja tergeletak dikasur.  Bahkan kamera yang harganya lumayan mahalpun tidak disentuhnya. Rampok tersebut membongkar laci2 lemari kamar kami, dapur dan vase2 yang ada di ruang tamupun dijugkir balikkan.

Menurut beberapa teman, memang ada sebagian orang yang suka menyembunyikan perhiasan di tempar beras di dapur dan di dalam vase kembang. Hemm, rupanya, benar2 rampok perhiasan professional ini. Yang menjadi pertanyaan dari mana ia tahu kami memilki sejumlah perhiasan ? Saya  jarang sekali mengenakkan perhiasan yang memang jumlahnya tidak seberapa itu dan perhiasan tersebut bukanlah perhiasan permata berlian yang mencolok pula. Yang saya miliki hanyalah perhiasan emas berlian sederhana pemberian orang tua saya ketika kami menikah dulu.

Menurut keterangan polisi, daerah tempat kami tinggal yaitu, Neuilly sur Seine,  memang daerah yang telah lama menjadi incaran rampok perhiasan. Harap maklum, daerah ini adalah daerah elitenya Paris. Ketika kami tinggal di tempat ini, Sarkozy, mantan Presiden Perancis yang sejak kecil memang tinggal di daerah ini, adalah wali kotanya. Ketika itu ia belum terpilih sebagai presiden. Yaaah nasiiib, namanya juga cuma apartemen kontrakan kantor, mana tahu kami semua itu.

Ile st LouisGrand PalaisOpera HouseNamun Paris tetaplah Paris. Daya tarik kota ini memang benar-benar mengagumkan. Banyak sekali obyek turis yang pantas untuk dikunjungi. Kota ini memilki banyak sekali museum, yang minimal, bagi mereka yang tidak menyukai museum, bangunannyapun sudah cukup untuk dijadikan obyek berfoto-ria. Arsitektur bangunan kota ini, memang sangat patut diacungi jempol. Bahkan jembatan-jembatannyapun tak kurang indahnya dari bangunannya sendiri. IMG_4877IMG_4916IPont Alexadre 3

Alangkah beruntungnya kami ini, diberi Sang Khalik kesempatan untuk menikmati kota ini, 2 kali pula, yaitu dari tahun 2000-2003 dan 2009 hingga akhir 2012.  Lebih enaknya lagi,  buat kami kaum Muslimah, berjalan-jalan menimati keindahan kota, hanya karena kita berjilbab saja, bisa menjadi dakwah tersendiri.  Bagaimana tidak ?

Mengenakan jilbab di tanah air tentu bukan hal aneh. Tetapi di negri dimana Islam hanya minoritas bahkan sering diidentikkan dengan terorisme atau Arabisme, tentu saja berbeda.  Apalagi dibanding bule-bulenya yang biasa berpakaian buka-bukaan dimana-mana. Biarlah mereka menilai sendiri bagaimana prilaku kita, Muslimah Asia, Indonesia, tepatnya …

“ Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” .(QS.Al-Ahzab(33):59).

Jangan biarkan mereka terus berprasangka buruk terhadap kita, dengan hanya melihat misalnya, sebagian pemuda berwajah Arab yang suka berbuat kerusuhan atau Muslimah yang meminta-minta meski terpaksa. Karena seharusnya mereka juga menyadari bagaimana akibat perang, dengan Afganistan atau Irak misalnya, bukankah Barat yang menyerang dan mengeroyok Negara tersebut, hingga menyebabkan penduduknya terpaksa mengungsi dan menjadi imigran gelap yang kerap dikejar-kejar petugas?

IMG_4889Paris, seperti juga kota-kota metropolitan lain di dunia ini, memang amat rawan. Metro, alat transportasi masal terbesar kota yang telah berumur seratus tahun lebih itu tak terkecuali. Hampir setiap hari maling beroperasi di tempat ini. Biasanya turis asing yang jumlahnya amat sangat banyak itu yang menjadi sasaran utamanya.

Bagi yang sudah terbiasa menumpang Metro, maling-maling ini sebenarnya mudah dikenali. Jangan dulu membayangkan bahwa maling tersebut adalah preman bertubuh kekar dengan wajah seram. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka adalah imigran gelap dari Eropa Timur,  ABG putri pulak ! Biasanya mereka berkelompok, sekitar 4-5 orang, namun masuk metro secara berpencar.

Pernah suatu hari saya memergoki seseorang, tangannya sedang merogoh tas teman saya, yang kebetulan memang tidak tertutup rapat. Reflek, saya langsung meloncat dari bangku dimana saya duduk dan segera menangkap tangan gadis tersebut.  Namun dasar maling, ia pura-pura tidak tahu dan berlaga tidak mengerti apa yang saya katakan.  Heuh …

Champs ElyseeSelain metro, tempat yang sering dijadikan objek incaran maling adalah tempat-tempat yang ramai dikunjungi turis.  Contohnya adalah bulevard Champs Elysees dengan Arc de Triomphnya yang terkenal itu. Di sepanjang boulevard yang memiliki trotoar sangat lebar ini berjejer puluhan rumah mode milik desainer kenamaan tingkat dunia, Louis Vitton, Hermes, Prada, Yves St Laurent dll semua ada di sini. Surga buat para pemburu belanja kelas dunia.

Namun yang paling menyedihkan, sekaligus  memalukan, adalah makin banyaknya peminta-minta perempuan berjilbab di sepanjang bulevard tersebut. Tak jarang, mereka ini mengemis dengan posisi sujud di sela-sela berjubelnya  turis yang lalu-lalang, tak peduli bahkan ketika saljupun sedang turun.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan di bawah adalah tangan peminta-minta”.(HR. Muslim).

Meski sedih juga hati ini, karena mereka pasti kenal betul hadist diatas, kalau tidak karena terpaksa saya yakin pasti merekapun enggan melakukan hal memalukan tersebut.  Harap maklum, mereka adalah para pengungsi, korban berbagai perang dan kerusuhan yang melanda Negara mereka; Afganistan, Yugoslavia, Negara-negara bekas jajahan Rusia, Syria dan Negara-negara timur tengah lainnya adalah contohnya.

2010-12 l'hiver a la Tour Eiffel_15Selain Champs Elysees, lokasi sekitar menara Eiffel yang merupakan ikon Paris juga tak luput dari incaran para  maling. art islamJuga museum terbesar di Perancis bahkan mungkin di Eropa, Musee du Louvre, yang baru beberapa bulan lalu membuka departemen barunya, yaitu Art Islam. Di tengah antrian masuk yang panjang itu, para pengunjung harus tetap awas, karena malingpun suka menyelinap diantara pengunjung.

2010-10 Chateau de Versailles_832010-10 Chateau de Versailles_46Demikian pula di Chateau de  Versailles, istana kebanggaan rakyat Perancis , dimana Napoleon Bonaparte dan Louis XIV, dua raja Perancis yang terkenal itu, pernah tinggal. Di tempat ini, tas saya pernah nyaris digerayangi copet  kalau saja suami dan anak saya tidak segera memergoki tingkah laku mereka.

Belum lagi dengan tingkah para gembel dan pemabuk yang sering terasa mengganggu kenyamanan turis dalam menikmati keindahan dan kecantikan kota ini. Ironismya, gembel-gembel yang baunya benar-benar tidak sedap itu doyan membeli miunuman keras dan bisa memelihara anjing. Mereka bau, maaf,  bukan saja karena jarang mandi tapi juga suka mabuk dan muntah sembarangan, di dalam metro sekalipun. … 😦 .  Kalau saja mereka mau memahami dan mengimani ayat berikut …

« Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”…. , »(QS.Al-Baqarah(2) :219).

Kabarnya, mereka memelihara anjing memang disengaja, dengan suatu tujuan. Anjing yang merupakan binatang kesayangan sebagian besar orang Perancis itu digunakan sebagai tameng.  Artinya, petugas tidak bisa leluasa menangkapi gembel dengan alasan siapa nanti yang memelihara anjing mereka ??

 ( Bersambung)

Read Full Post »

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tahun ini adalah tahun ke 4 kami berada di Perancis. Selesai sudah akhirnya masa tugas suami. Begitu banyak pengalaman, suka dan duka yang kami alami selama kami berada di negri ini, baik sebagai Muslim minoritas maupun sebagai warga Indonesia di perantauan.

Disamping menjelajahi kota-kota cantik di Perancis kami juga memanfaatkan waktu kami untuk bepergian mengunjungi kota-kota lain di Negara tetangga. Inilah salah satu nikmatnya hidup di Eropa.  Kita dapat melancong ke Negara-negara tetangga ( Eropa Barat) tanpa harus mengeluarkan ongkos terlalu banyak. Perjalanan dapat dilakukan melalui darat, tanpa visa dan tidak perlu menukar uang.

Spanyol, Inggris, Belanda, Jerman, Switzerland dan Italia yang merupakan tetangga terdekat maupun Irlandia, Austria, Yunani, Turki bahkan Rusia yang lumayan jauh dari Perancispun, atas izin-Nya, sudah kami tandangi, Alhamdulillah …

« Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya … … ».(QS. Al-Mulk(67) :15).

« Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu“.(QS.Nuh(71) :19-20).

P1010795P1010875Kehl2IMG_4497P1020214IMG_3868IMG_0413

Masjid Lyon, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Mosquee de ParisIMG_6986

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau – France

london mosque

london mosque

Bahkan sebagian rumah-Nya sempat pula kami sambangi. Disanalah kami bersua  saudara-saudari seiman dari berbagai bangsa, berbincang  dan saling mengucapkan salam. Dari sana pula kami dapat mendengar sendiri bagaimana suka dan dukanya Muslim yang hidup sebagai minoritas di tengah kaum yang mayoritas Ahli  Kitab ataupun Ateis.

Dan ternyata Muslim Perancis lebih beruntung daripada saudara mereka Muslim di Yunani. Karena di Yunani pemerintah sama sekali tidak mengizinkan pembangunan masjid. Demikian juga pemotongan daging halal. Meski kalau dibanding Muslim di Belanda atau Jerman, Muslim Perancis tetap kalah. Di kedua negara tersebut murid-murid SMP dan SMA dapat mengenakan jilbab ke sekolah tanpa kesulitan.

Terima-kasih Ya Allah ya robbi, telah Kau berikan kami kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudari kami seiman di Eropa ini. Sungguh banyak pelajaran yang Kau berikan pada kami melalui mereka. Semoga Kau beri pula kami kemampuan untuk  memetik hikmah segala kejadian yang kami alami di benua ini.

Dari Abu Hurairah Ra berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesama muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”

Namun saat ini yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah saat ‘packing’, alias bebenah  .. Betapa tidak, setelah nyaris 4 tahun berada di 2 kota di Perancis ini yaitu Pau, di Perancis Selatan perbatasan Spanyol dan Paris, ibu kota Negara, diberi-Nya kami kesempatan untuk ‘menguasai’ sejumlah harta benda-Nya. Hingga tiba saatnya kami harus menyortir, mana barang yang masih bisa dan bakal terpakai di tanah air nanti, mana yang lebih terpakai orang-orang disini. Baju dingin, sepatu boot dan selimut tebal adalah contohnya.

Ternyata, ‘jatah’ angkutan yang diberikan perusahaan kepada pegawainya, termasuk kami ini, ada hikmahnya. Karena dengan demikian kita harus berhati-hati memilah barang titipan tersebut. Bila tidak maka kita harus siap membayar kelebihan ‘jatah’tersebut dengan harga yang tidak murah.

Disamping itu, perlu juga diperhitungkan apakah tempat tinggal tujuan kami nanti bakal bisa memuat barang-barang pindahan tersebut. Selain itu masih ada sortir lain, yaitu barang yang mau dibawa sendiri dan yang menyusul. Karena angkutan kapal laut bisa makan waktu 2 bulan.

Kesimpulannya, sortir atau memilah-milah barang ternyata adalah hal yang paling berat. Meski sebenarnya kepulangan tersebut sudah kami perkirakan 6 bulan sebelumnya. Tiba-tiba saja hal ini mengingatkan saya akan “panggilan pulang” oleh-Nya.

Panggilan ini tidak ada peringatannya. Sewaktu-waktu Yang Maha Kuasa bisa saja memanggilkan kita. Paling sakit keras dan ketuaan yang kadang bisa menjadi tanda-tandanya. Namun itupun tidak menjadi jaminan dan kepastian.

Dapat dibayangkan bagaimana repotnya menghadapi hal ini. Bagi orang yang tidak percaya akan adanya kehidupan akhirat mungkin tidak begitu masalah. Neraka, pasti adalah tempatnya. Namun bagi kita, orang beragama,  yang yakin akan hal tersebut tentu lain ceritanya.

Kita tahu bahwa kehidupan akhirat hanya dua, yaitu surga dan neraka. Kesanalah tempat kita kembali. Sementara tiket kepulangan tersebut hanya amal ibadah kita. Lalu bagaimana dengan harta benda kita yang menumpuk tersebut ?? Kita pulang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Berarti kita tidak punya waktu untuk menyortir barang-barang yang kita miliki, yang dapat dianggap sebagai amal ibadah. Padahal kita tentu tidak ingin dijebloskan ke neraka, bukan ?

Allah swt tidak melarang hamba-Nya untuk menjadi kaya dan ‘menguasai’ serta merasakan sebagian kecil kekayaan yang merupakan titipan-Nya itu. Namun karena Ia telah menetapkan bahwa tiket ke surga hanyalah amal ibadah, maka tidak ada jalan lain, harta kekayaan tersebut harus bisa ‘berubah’menjadi amal yang dimaksudkan-Nya. Kesimpulannya, alangkah beruntungnya orang yang mendapat kesempatan memiliki kekayaan melimpah, selama ia dapat memanfaatkan kekayaan tersebut.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.(QS. Al-Qashosh(28):77).

Sebaliknya, demi mengantisipasi ‘panggilan mendadak’ dari Yang Maha Memiliki,  alangkah baiknya bila secara rutin kita senantiasa menyortir harta kekayaan tersebut. Jangan hanya puas dengan zakat yang 2.5 % saja. Jangan biarkan diri kita jalan tertatih-tatih membopong harta benda kita dan mengantri di pintu gerbang surga menjalani pemeriksaan panjang tak berkesudahan sementara harumnya surga sudah begitu dekat. Jangan sampai harta yang pada awalnya adalah kenikmatan akhirnya malah menjadi petaka.  Na’udzubullah min dzalik …L …

Akhir kata, jangan sampai kita menyesali nikmat hidup ini, yang pada hakekatnya teramat sangat pendek dan singkat. Perumpamaannya hanya satu sore atau pagi di antara tahun-tahun yang panjang.

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. (Qs. An-Naziat(79):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 10 Desember 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »