Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 1st, 2009

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS. AL Hijr (15):9).

Firman Allah swt diatas direalisasikan melalui empat tahapan berikut :

I. Pada masa Rasulullah Muhammad saw.

Bangsa Arab pada masa-masa  turunnya Al-Qur’an walaupun sebagian besar masih buta huruf adalah bangsa yang sangat kuat daya ingatnya. Sejak dulu mereka  menyukai syair dan puisi. Oleh karenanya mereka sangat menghargai para pujangga dan penyair. Mereka juga terbiasa merekam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti peperangan, peristiwa alam dan sebagainya dalam bentuk syair-syair yang indah yang kemudian  dihafalnya. Masa haji adalah masa dimana banyak orang berdatangan untuk memamerkan kebolehan mereka bersyair. Pesertanyapun beragam, mereka datang dari segala penjuru tanah Arab.

Dengan cara ini pula Al-Qur’an mulanya dipelihara. Para sahabat akan  berlomba menghafal begitu ayat turun. Disamping itu, Rasulullah saw juga memerintahkan beberapa sahabat yang dapat menulis agar segera menuliskan ayat-ayat tersebut  ke atas ’kertas’. Kertas ( al-qirthas) yang ada saat itu tidaklah sama dengan kertas yang ada sekarang ini. Kertas yang  dimaksud pada masa itu adalah benda atau bahan yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk ditulis diatasnya, seperti kulit binatang, daun, batu yang tipis dan licin, tulang binatang dll.

Dengan petunjuk Jibril as, Rasulullah kemudian menerangkan sekaligus mengatur tertib urutan ayat-ayat yang turun tersebut. Untuk menghindari kesalahan Rasulullah melarang keras menuliskan  apa yang selain ayat Al-Qur’an. Rasulullah dengan jelas menerangkan dan memisahkan antara ayat Al-Qur’an, hadis Qudsi dan  hadis. Sekali setahun Jibril as melakukan pengecekan terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan sekaligus mendengarkan kebenaran hafalan Rasulullah. Bahkan  pada tahun wafatnya Rasulullah pengecekan dilakukan 2 kali.  Hal yang sama dilakukan Rasulullah. Secara berkala beliau memeriksa hafalan dan apa yang telah ditulis para sahabat. Rasulullah menganjurkan agar ayat-ayat tersebut selalu dibaca, dihafal dan disunahkan membacanya ketika shalat kecuali surah Al-Fatihah yang wajib dibaca.

 Dengan cara seperti itu makin waktu makin banyak orang yang hafal ayat Al-Qur’an. Sebagai penghargaan dan untuk memotivasi mereka Rasulullah bersabda : ” Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada ”. Allah  berfirman:” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (QS. Al-Qalam (68):1).  Bahkan pada masa peperangan tawanan yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang tetapi pandai baca – tulis, sebagai ganti mereka diwajibkan mengajar menulis dan membaca sepuluh orang Muslim. Disamping itu Rasullah juga sering mengirim  utusan dan sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran ke tempat dimana ajaran Islam baru masuk.

Dengan demikian ketika Rasulullah wafat kurang lebih 12 tahun setelah hijrah, seluruh ayat-ayat Al-Qur’an telah selesai dituliskan oleh para sahabat. Bahkan telah dihafal oleh ribuan manusia.  Maka selesai pulalah tugas Rasulullah. Tidak ada lagi satupun ayat yang turun. Ajaran Islam  telah selesai dengan sempurna sesempurna kitabnya, Al-Quran.

II.Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra.

Tak lama sesudah wafatnya Rasulullah banyak orang Islam yang murtad, terutama di Nejed dan Yaman. Mereka bahkan menolak  kewajiban membayar zakat yang sebelumnya biasa mereka setorkan ke Madinah. Disamping itu banyak pula orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan utusan Allah. Terlihat jelas bahwa keimanan dan pengetahuan mereka akan ajaran Islam masih sangat dangkal.

Hal ini dihadapi Abu Bakar sebagai khalifah pertama dengan tegas. Ia khawatir bila fenomena tersebut dibiarkan akan diikuti oleh yang lain. Setelah tidak dapat diperingatkan secara halus maka Abu Bakarpun mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka. Terjadilah  perang yang dikenal dengan nama Perang Yamamah. Dalam perang ini 70 orang penghafal Al-Quran ikut gugur.

Oleh karenanya, Umar bin Khatab menjadi sangat khawatir. Ia lalu menganjurkan Abu Bakar agar mengumpulkan Qur’an yang ada di tangan para sahabat. Mulanya Abu Bakar menolak dengan dalih mengapa harus mengerjakan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah. Namun setelah terus didesak dengan berbagai alasan kebaikan akhirnya Abu Bakar menyetujuinya. Iapun segera memanggil Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang pada masa Rasulullah selalu ditugasi menulis wahyu yang turun. Mulanya ia juga menolak tetapi setelah diajukan alasannya maka iapun menyetujuinya pula.

Kemudian ia segera mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang tertulis di daun, pelepah kurma, batu, tulang unta dll. Namun sekalipun ia hafal seluruh ayat secara berurutan sesuai ajaran Rasulullah ia tetap merasa perlu adanya saksi dalam pelaksanaan tugas suci dan berat tersebut. Iapun mencocokkan hafalannya dengan sahabat-sahabat kepercayaan yang baik hafalannya. Setelah itu dengan sangat hati-hati dan teliti disaksikan 2 orang saksi ia menyalin ulang kumpulan ayat-ayat tersebut dan mengikatnya menjadi satu menjadi sebuah mushaf.

Kemudian mushaf diserahkan dan disimpan Abu bakar hingga beliau meninggal. Selanjutnya mushaf disimpan Umar bin Khatab sebagai khalifah penerus Abu Bakar. Sesudah beliau juga wafat, mushaf disimpan di rumah Hafsah, putri Umar hingga tibanya masa Usman bin Affan membukukan Al-Qur’an.

III.Pada masa khalifah Usman bin Affan

Pada masa ini umat Islam telah tersebar ke berbagai penjuru, dari Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur hingga Tripoli di barat, dari Yaman di sebelah selatan  hingga perbatasan sungai Yarmuk di Syria. Umat Islam dimanapun berada selalu tergantung pada ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka memang terus  menghafalnya dan banyak yang menyimpan naskah yang masih tertulis di atas daun-daunan dan sebagainya. Cara membaca merekapun beragam sesuai dengan daerah dan dialek masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah dan mendapatkan pengajaran langsung dari  beliau. Mereka khawatir bila keadaan seperti itu terus dibiarkan, akan mengakibatkan perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan hingga dapat merusak persatuan umat.

Oleh karenanya Usman bin Affan sebagai pemimpin dan penanggung-jawab umat, ia segera meminta Hafsah untuk memberikan mushaf yang disimpannya. Kemudian Usman membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdulrahman bin Harits bin Hisyam. Tugas mereka adalah membukukan Al-Quran berdasarkan mushaf yang disimpan sejak Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sementara itu lembaran-lembaran, dedaunan dan segala yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an  harus dibakar.

Buku yang ditulis oleh panitia diatas ada 5 buah dan disebut Al-Mushaf. Buku-buku ini dikirim masing-masing ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah. Sedang satu  yang disimpan di Madinah dinamai Mushaf Al-Imam. Dengan mencontoh  ke 5 mushaf ini kemudian Al-Qur’an disalin, dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok negri di dunia ini.

IV.Pada masa sekarang.

Di Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, contohnya di Mesir, sekolah-sekolah Awaliyah mewajibkan murid-muridnya hafal Al-Quran bila ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Indonesia hal ini hanya berlaku di sekolah-sekolah tertentu,  pesantren dan madrasah. Pada peringatan Nuzulul-Quran dan 1 Muharam  umat Islam terbiasa mengadakan lomba membaca Al-Quran ( Tilawatil Qur’an). Ini juga adalah salah satu bentuk pemeliharaan Al-Qur’an. Sedangkan untuk menjaga kemurnian Al-Quran yang diterbitkan di Indonesia ataupun yang didatangkan dari luar negri, pemerintah cq Departemen Agama mempunyai panitia yang bertugas memeriksa Al-Qur’an yang akan dicetak dan diedarkan.

Walahu’alam bishshawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Advertisements

Read Full Post »

Makna bacaan dalam shalat

Pada suatu malam lebih kurang satu tahun sebelum Hijrah, Rasulullah diberangkatkan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina untuk kemudian dibawa naik ke langit dengan menunggangi seekor Bouraq, ditemani malaikat Jibril.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.Al-Isra(17):1).

Disanalah Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan shalat sehari 5 waktu.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim).

Jadi dapat disimpulkan betapa tinggi dan istimewanya kedudukan shalat dimata Allah SWT. Namun untuk mengerjakan perintah ini sesungguhnya diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar shalat tersebut diterima dan mendapatkan ridho’ Allah SWT.

Ibnu Mas’ud berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Pekerjaan apakah yang paling utama?. Beliau bersabda : “Shalat tepat waktu”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Berjihad dijalan Allah”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda,”Berbuat baik kepada ibu-bapak”.

Ketika shalat, kita diwajibkan untuk membaca surah Al-Fatihah. Surat ini juga dinamai Ummul-Quran yang berarti ibu atau inti Quran. Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah rukun shalat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :“Barangsiapa yang mendirikan shalat tanpa membaca Ummul-Quran maka shalatnya tidak sempurna”; “Tidaklah berpahala shalat yang didalamnya tidak dibaca Ummul-Quran”.

Allah bersabda :”Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung”. (QS.Al-hijr(15):87).

Surat yang dimaksud dalam ayat diatas ini adalah surat Al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat, yang wajib dibaca pada setiap rakaat oleh kaum Muslimin ketika shalat.

” Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS.Al-Faatihah(1):1-7).

Surat ini memiliki makna yang amat padat dan mendalam; suatu penghambaan yang dimulai dengan menyebut sifat utamanya, yaitu Pengasih dan Penyayang, pujian yang hanya milik-Nya, yang menguasai hari Pembalasan, yang hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan agar kita tidak tersesat, memohon hidayah dan bimbingan sebagaimana yang telah Ia berikan kepada para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh dan memohon agar kita terhindar dari jalan kebathilan, sebagaimana yang ditempuh kaum Yahudi yang dimurkai-Nya karena tidak memiliki amal dan banyak membunuh para nabi maupun kaum Nasrani yang tersesat karena tidak memiliki pengetahuan yang benar. Jadi sesungguhnya jalan yang dikendaki dan diridho’i-Nya adalah jalan yang berdasarkan pengetahuan yang benar beserta pengamalannya, bukan hanya salah satunya.

Jepang adalah suatu negara yang dikenal luas akan kedisiplinannya. Rupanya masyarakat negri matahari terbit ini sejak lama telah memiliki kebiasaan mengulang-ngulang kalimat tertentu seperti kalimat “ Aku juara! ” seratus kali dalam sehari. Teori ini disebut “Repetitive Magic Power’ yang terbukti mampu merealisasikan apa yang diucapkan tersebut dan menjadikannya motivasi untuk mencapai suatu cita-cita.

Begitu pula dengan shalat. Bacaan yang diulang-ulang yang dimengerti maknanya, apalagi bila dilaksanakan secara khusu’, teratur dan berkesinambungan pasti akan melahirkan manusia-manusia yang penuh ketakwaan. Jadi shalat sebenarnya adalah suatu pembinaan diri yang nantinya akan memberi keuntungan bagi pelakunya, yang dapat memberinya ketenangan batin, kedekatan akan Tuhannya.

Bacaan Syahadat dalam shalat, bacaan yang diucapkan minimal 9 kali dalam sehari dimaksudkan agar kita selalu ingat akan janji untuk hanya menyembah kepada-Nya dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Sedangkan makna dibalik ucapan “Allahu Akbar” yang mengawali sahnya shalat seseorang yang berarti “Allah Maha Besar” bila direnungkan dengan penuh kesadaran, sesungguhnya mengandung hikmah suatu penghambaan mutlak hanya kepada-Nya. Dialah yang Maha Besar, kita, manusia adalah kecil. Apapun yang terjadi pada diri kita ini sesungguhnya atas izin dan kehendak-Nya. Kita adalah kecil karena kita tidak memiliki kekuasaan maupun kekayaan apapun dibanding Dia. Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu yang kita miliki tidak ada artinya dengan apa yang dimiliki-Nya. Semua yang ada pada kita sesungguhnya hanya titipan-Nya yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan. Bahkan kitapun tidak memiliki kuasa untuk menolak ketika Ia memanggil kita untuk kembali kepada-Nya dimanapun dan dalam keadaan apapun kita berada. Maka dengan demikian sungguh hanya kepada-Nya kita patut menyembah, memohon bantuan dan berserah diri atas ketetapan-Nya.

Bacaan Allahu-Akbar ini terus kita ulang-ulang paling tidak 5 kali dalam satu rakaat atau berarti minimal 85 kali dalam sehari. Bacaan ini dibaca setiap kali kita merubah gerakan. Hal ini memberi makna bahwa dalam keadaan apapun seperti berdiri, duduk, berbaring, sujud maupun ruku’, ketika kita dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat kita harus senantiasa mengingat kebesaran-Nya.

Demikian pula bacaan lain seperti do’a Iftitah yang dibaca setelah takbiratul Ikhram, sebagai berikut : “…Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS.Al-An’aam(6:162) yang diucapkan dalam shalat kita minimal 5 kali dalam sehari . Adakah kita benar-benar memahami makna ikrar, janji kita tersebut?

Setelah membaca do’a Iftitah, surat Al-fatihah dan salah satu surat ataupun ayat Al-Quran  kita rukuk sambil membaca bacaan yang mem-besar-kan nama-Nya. Begitu bangun dari rukuk kita membaca ” Sami’ Allahu liman hamidzah” yang artinya : Allah mendengar siapa yang memuji-Nya“.   Artinya kita diingatkan agar dalam shalat bersungguh-sungguhlah karena Ia mendengar kita! Ini harus benar-benar kita yakini.

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “.(QS. Asy-Syu’ara(26):217-219).

Berikutnya adalah do’a yang kita ucapkan ketika dalam posisi duduk diantara dua sujud yang diucapkan minimal 17 kali dalam sehari sebagai berikut “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan cukupilah aku dan tinggikanlah aku dan berilah rizki padaku dan tunjukilah aku jalan dan berilah aku sehat dan maafkanlah aku”.

Sadarkah kita bahwa sebenarnya rezeki, kesehatan, jabatan, kemuliaan maupun petunjuk yang ada pada kita ini adalah wujud atau buah dari permintaan dan permohonan yang setiap hari kita mintakan secara berulang kali, yang kemudian dikabulkan-Nya?

Selanjutnya adalah bersujud. Posisi menempelkan dahi, yang merupakan bagian paling bergengsi manusia, ke permukaan terendah di muka bumi ini yaitu, tanah adalah melambangkan tanda syukur kita sebagai mahluk yang sangat  kecil dan amat bergantung kepada Sang Pencipta Yang Maha Tinggi  diatas sana. Bacaan ‘” Subhana Robbiyal ‘Ala” yang berarti  ”  Segala Puji hanya milik Rob Yang Maha Tinggi “ ini jelas mengisyaratkan hal tersebut.

Shalat ditutup dengan membaca Tahiyatul-akhir, sementara Tahiyatul- awal diselipkan pada rakaat ke  2 untuk shalat-shalat  yang ber-rakaat lebih atau sama dengan  2. Bacaan ini berfungsi untuk mempertegas dan mengulang ikrar kita sebagai umat Islam, yaitu bacaan Syahadat.  Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi, memohon kepada Allah agar  junjungan kita Muhammad saw mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana nabi Ibrahim as.  Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada sang Rasul yang telah berjasa mengajak manusia kepada jalan  yang benar, menjauhkan kita dari kesesatan dan kegelapan.

Begitulah shalat yang diajarkan Rasulullah sebagaimana dicontohkan malaikat Jibril as atas izin-Nya.

Dengan menyadari hal-hal diatas maka seharusnya shalat mampu mengubah prilaku dan cara berpikir seseorang.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabuut(29):45).

Disamping itu penting untuk diingat, bahwa Rasulullah, seorang nabi kesayangan yang walau telah dijanjikan baginya surga, beliau tidak hanya menjalankan shalat wajib yang 5 waktu saja. Beliau banyak mengerjakan shalat sunnah seperti shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang menyertai shalat wajib baik yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah shalat wajib, shalat duha, shalat qiyamul lail, tahajud maupun shalat sunnah lainnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 19/4/2007

Vien AM.

Referensi: – Tafsir Ibnu Katsir

– Kumpulan Materi hafalan dan terjemahnya oleh KH As’ad Humam.

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

Read Full Post »