Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 2nd, 2009

Kesombongan dan terapinya

Awalnya Iblis adalah salah satu mahluk Allah disamping para malaikat yang banyak bersujud dan mengingat Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Namun ketika suatu saat Allah mengujinya dengan sebuah cobaan, bangkit rasa kesombongannya. Ia telah berbuat lancang ( id-lal) terhadap Sang Pemberi Nikmat yaitu dengan merasa diri lebih baik dan lebih terhormat dari yang lain. Perasaan ini kemudian melahirkan rasa bangga (ujub). Ia mengira bahwa dengan kelebihan itu berarti Allah lebih memuliakan dan menyayanginya. Maka lahirlah kesombongan. Ini yang menyebabkan murka Allah hingga berakibat turunnya laknat kepada Iblis. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. ”Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.(Terjemah QS.Al-A’raaf(7):12-13).

Perbuatan sombong adalah perbuatan yang hina dan keji. Orang sombong adalah orang yang suka melecehkan dan menolak kebenaran. Allah amat membenci mahluk yang demikian ini. Sifat sombong sangat berbahaya karena akan mejadi penyebab hilangnya rasa hormat dan rasa saling menghargai diantara sesama manusia. Situasi seperti ini selanjutnya dapat memunculkan kezhaliman, kemarahan dan pelanggaran hak yang pada puncaknya akan menimbulkan keributan dan permusuhan.

Kesombongan dapat dibagi menjadi dua yaitu kesombongan batin ( Kibr) dan kesombongan zhahir ( Takabbur). Kibr adalah sifat merasa bahwa dirinya lebih dari yang lain hingga timbul keinginan dalam hati untuk memperlihatkan kelebihannya tersebut. Inilah yang memunculkan ketakabburan. Dan dengan ketakabburannya ini seseorang merasa berhak mendapatkan kedudukan dan penghormatan yang lebih. Orang-orang seperti ini menuntut untuk didahulukan, didudukkan di tempat yang lebih terhormat, tidak mau memulai memberikan salam, jika berdiskusi tidak mau ditolak pendapatnya dan jika dinasehati tidak mau menerima.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan ujub terjadi. Imam Al-Ghazali membaginya menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah :

1. Ujub dengan fisiknya, misalnya kecantikan, postur tubuh, suara yang indah dll.

Pengobatan ujub jenis ini yaitu dengan tafakur ( berpikir) bahwa apa yang ada pada dirinya tidaklah kekal. Bahwa pada saatnya nanti ia akan kembali menjadi tanah dan membusuk dimakan cacing di dalam kubur dan menjijikkan.

2.Ujub dengan kekuatan. Padahal kekuatan tidak selalu mendatangkan kemenangan. Kekuatan bahkan dapat melahirkan kecerobohan dan kelalaian. Terapinya yaitu dengan memikirkan bahwa meriang sehari saja dapat menghilangkan segala kekuatan.

3. Ujub dengan intelektualitas. Pengalaman membuktikan bahwa orang berilmu seringkali sulit menerima pendapat orang yang tidak sejalan dengan pikirannya. Bahkan tidak jarang orang berilmu malah jauh dari hidayah. Untuk mencegahnya orang-orang seperti ini harus banyak bersyukur atas karunia yang diterimanya tersebut. Ia juga harus menyadari bahwa ilmunya tidak seberapa dibanding ilmu Allah. Sesungguhnya akal dan ilmunya itu hanya terbatas. Disamping itu ia juga harus selalu mawas diri bahwa dengan sedikit gangguan saja di otak dapat membuatnya kehilangan ingatan.

4.Ujub dengan nasab/turunan keluarga yang terhormat. Terapi orang-orang seperti ini adalah dengan menyadari bahwa apa yang didapat nenek-moyangnya itu dengan ilmu. Mereka mendapat kemuliaan karena keta’atan, ilmu serta sifat yang terpuji bukan karena nasab. Dan sebagai tanggung jawabnya ia harus meneladani sifat nenek buyutnya tersebut bukan malah mencorengnya dengan kebodohan dan kesombongan.

5.Ujub dengan nasab para penguasa dan pejabat yang zhalim. Ini adalah puncak kebodohan. Pengobatannya adalah dengan cara merenungkan diri akan kerusakan dan kesengsaraan yang ditimbulkan para penguasa tersebut terhadap rakyat dan bawahannya. Memikirkan bahwa orang-orang seperti ini adalah merusak agama dan menimbulkan murka Allah SWT.

6.Ujub dengan harta. Terapi terhadap orang-orang yang bangga terhadap harta kekayaan adalah dengan merenungkan tentang keburukan harta kekayaan itu sendiri. Karena dengan semakin banyaknya harta sesungguhnya selain makin banyak pula tanggung jawab yang harus ditunaikannya juga semakin banyak pula orang yang dengki terhadapnya. Disamping itu mereka juga sebaiknya banyak mengingat bahwa orang fakir pada hari Kiamat nanti akan masuk surga terlebih dahulu. Mereka tidak perlu dihisab kekayaannya karena memang tidak memilikinya. Sebaliknya orang berharta harus terlebih dahulu mempertanggung-jawabkan harta miliknya ; darimana ia mendapatkannya, untuk apa saja digunakan hartanya tersebut. Selain itu orang berharta harus menggotong kekayaannya ketika menuju mahkamah peradilan akhirat. Sehingga makin banyak hartanya makin terseok-seok pula jalannya.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,(Terjemah QS.An-Nisaa’(4):36).

Wallahu a’lam bishshawab.

Jakarta, 30/4/2008.

Vien AM.

Diambil dari Intisari Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali ”Mensucikan jiwa ” yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Advertisements

Read Full Post »

Mengenal Al-Quranul Karim

Al-Quran adalah kitab suci milik  kaum Muslimin. Kitab ini berisi firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui malaikat Jibril as. Kitab ini  merupakan panduan hidup yang memberitahukan manusia apa arti hidup, mengapa kita hidup, apa tujuannya, kemana kita akan pergi setelah mati, siapa yang menciptakan kita, bagaimana kita harus menghadapi hidup dan segala macam permasalahannya dan lain sebagainya.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz. Sedangkan Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga orang-orang Kafir.

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah saw. Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat adalah bila dihitung semua ayat-ayatnya.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab sesuai dengan utusan yang membawanya, yaitu Rasulullah Muhammad saw, sebagian di Makkah dan sebagian lainnya di Madinah. Ayat yang diturunkan di Makkah dinamakan ayat Makiyyah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut ayat Madaniyyah. Ayat Makiyyah biasanya pendek-pendek, menerangkan tentang aqidah dan keimanan  sedangkan ayat Madaniyyah panjang-panjang dan pada umumnya mengajarkan tentang hukum. Disamping itu ayat Al-Quran juga bisa dibagi  atas 2 macam kelompok, yaitu kelompok ayat Mutasyabihat dan ayat Muhkamat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7).

Dari ayat diatas kita ketahui bahwa ayat Mutasyabihat adalah rahasia Allah yang tidak mungkin dapat kita artikan secara pasti. Kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya saja, tidak perlu mencari-cari maknanya. Contoh ayat ini diantaranya adalah : Alif Laam Miim, Alif Laam Raa,Yaasiin, Shot dan sebagainya.

Al-Quran terdiri atas  114 surat dan dibagi menjadi 30 juz / bagian. 19/30 bagiannya turun di Makkah. Surat pertama adalah surat Al-Fatihah yang berarti Pembukaan. Surat ini merupakan inti Al-Quran, ia adalah satu-satunya  surat yang wajib dibaca umat Islam ketika shalat. Sedang surat terakhir adalah surat An-Naas yang berarti Manusia.  Al-Quran  ini dijamin kesuciannya, ia tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman. Kandungannyapun dijamin akan selalu sesuai pada segala zaman. Allah juga berjanji akan memudahkan siapa yang mau mengimaninya,  membacanya, menghafalkannya apalagi mengamalkannya.

Ali ra mengatakan :” Barangsiapa yang membaca Al-Quran dalam keadaan berdiri saat shalat, baginya setiap huruf 100 hasanah. Barangsiapa membacanya sambil duduk dalam shalat,  baginya setiap huruf 50 hasanah. Barangsiapa membacanya di luar shalat dalam keadaan berwudhu,  baginya setiap huruf 25 hasanah. Dan barangsiapa membacanya tanpa wudhu,  baginya setiap huruf 10 hasanah”.

Jadi sungguh beruntung orang yang mengerti betapa tinggi kedudukan membaca Al-Quran walaupun ia tidak faham. Karena hikmah yang paling utama adalah dalam rangka membersihkan dan menenangkan  hati. ( Baca juga :https://vienmuhadi.com/2009/10/20/why-do-we-read-quran-even-we-cant-understand-arabic/ ).

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”.QS. Az-Zumar (39): 23).

Apalagi bila kita memahami, meyakini dan kemudian mengamalkannya. Inilah yang  lebih utama.

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.( QS. Al-Baqarah (2):2-5).

“ Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ”. (QS. Al-A’raf (7): 204).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Read Full Post »