Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2009

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan ‘ajaib’ tentang konsep keber-agama-an, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrikin penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing.

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Selama periode tersebut dakwah Islam memang terus berlangsung namun tanpa paksaan. Allah swt menghendaki semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima peringatan dan kebenaran dari-Nya karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan(3):138).

Sebaliknya bagi orang yang telah menerima Islam, mau tidak mau, terpaksa ataupu tidak, mereka harus menerima konsekwensinya. Allah menjamin keselamatan kaum Muslimin selama mereka taat dalam menjalankan hukum dan perintah-Nya.

“ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Tagut* dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al Baqarah (2):256).

Pengusiran terhadap kaum Yahudi akhirnya terjadi karena mereka terus-menerus merongrong dan bahkan tidak saja mengancam jiwa Muhammad saw namun juga kelangsungan ajaran agama yang masih berumur sangat muda tersebut.

Namun di Indonesia saat ini, toleransi antar agama tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dialog antar agama kerap dilakukan para pemuka dan cendekiawan agama tetapi hasilnya baru sebatas menghindari perselisihan saja., tidak mencapai substansi yang mendasar. Hal ini terbukti dengan malah munculnya berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme (Semua agama sama), Sekularisme (Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari)dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Padahal demi mencapai suatu kebenaran, perdebatan kadang memang harus terjadi. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah.menang ataupun mengalah.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159).

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya.

“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, tidak merubah-rubah kitab mereka yaitu Taurat ataupun Injil yang dibawa Musa AS dan Isa AS.

“ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85).

Hal ini tentu akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya orang-orang seperti ini cenderung hanya mementingkan keimanan saja tanpa merasakan keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat……….”.(QS.Al-Baqarah(2):110)

“……Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS.An-Nisaa(4):103).

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.(QS.Al-Maidah(5):5).

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.(QS.An-Nuur(24):52).

Dari Abu Hurairah ra, Rasululah bersabda: “Bangsa Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu”. Kemudian para sahabat pun bertanya: “Siapa mereka ya Rasulullah?”. Rasullah menjawab: “Mereka yang mengikutiku dan sahabat-sahabatku”.


Wallahu’alam bishawab.

Jakarta,2/10/2006.

Vien AM.

Referensi : – Hegemoni Kristen-Barat” (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

Read Full Post »

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-‘Aalimul Ghoib wa Syahaadah) , Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rohmaan) lagi Maha Penyayang (Ar-Rohiim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Maalik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salam) , Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(Al-Azis), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbaar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Khaaliq), Yang Mengadakan (Al-Baari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Al-Hasyr(59):22-24).

Ilmu Pengetahuan dan Sains menyatakan bahwa cahaya Matahari adalah sumber kehidupan bagi manusia, binatang dan tumbuhan yang ada di dunia ini. Tanpanya berbagai bakteri dan virus akan bebas menyerang dan mengancam kehidupan. Tidak ada keraguan didalamnya, setiap orang mengetahui dan meyakini hal tersebut. Cahaya matahari ini dipancarkan setiap hari dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya. Di pagi dan siang hari inilah manusia dan segala hewan serta tumbuhan memanfaatkan keberadaan matahari dan sinarnya secara maksimal.

Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari agar terjadi proses pembentukan hijau daun yang berfungsi sebagai dapur umumnya. Demikian pula manusia. Pada waktu itu manusia tidak hanya pergi bekerja mencari nafkah. Namun yang terpenting manusia tanpa disadari sesungguhnya sedang menyempurnakan proses perkembangan hidupnya. Pada saat itu dengan bantuan cahaya matahari, sel-sel manusia atas izin-Nya bekerja menyempurnakan perkembangan tubuhnya, tulang dan sendi adalah diantaranya. Betapa banyak penyakit yang disebabkan oleh kekurangan cahaya matahari.

Sebaliknya terus menerus dibawah sorotan cahaya matahari yang terik juga berbahaya bagi kesehatan. Cahaya matahari dapat dihindari, dapat terhalang dan dihalangi oleh sesuatu. Ketika matahari sedang terik-teriknya kita bisa menggunakan bantuan payung atau topi untuk melindungi diri kita. Cahaya matahari juga bisa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi di kota ataupun terhalang oleh gunung-gunung. Bahkan di kutub terutama kutub selatan, orang jarang sekali menerima cahaya matahari.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.An-Nuur(24):35).

Namun tidak demikian dengan cahaya Allah. Cahaya Allah berlapis-lapis dan kekal. Cahaya ini menembus hingga ke segenap penjuru dan sudut jagat raya. Bumi, bulan, bintang, langit dan seluruh galaksi yang jumlahnya diperkirakan mencapai milyaran ini semuanya menerima cahaya Allah. Sebaliknya benda-benda kecil yang tersembunyi seperti semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam di dalam gua di hutan rimba belantara ketika malam gelap gulitapun dapat ditembusnya. Demikian pula hati manusia. Oleh sebab itulah Allah mengetahui apa yang berada dibalik hati manusia dan apa yang dibisikkannya. Itulah Allah SWT, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Tinggi.

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (QS.Ali Imran(3):29).

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS.Al-An’am (6):59).

Di bawah kekuatan Maha Dasyat inilah diatur dan ditata-Nya seluruh jagat raya ini hingga sedemikian rupa. Semua benda-benda ini tunduk patuh terhadap kemauan-Nya. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Inilah kerajaan Allah, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Pemelihara, Yang Ghaib, Yang Maha Benar.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44).

Cahaya Allah ini begitu sempurna dan indah. Namun sebagaimana sifat cahaya yang menyilaukan, bila cahaya matahari saja manusia tak sanggup menatapnya apalagi menatap Sang Maha Pemilik Cahaya. Inilah yang terjadi terhadap Nabi Musa as ketika ia memohon Allah SWT agar diizinkan menatap-Nya.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Allah, Dialah Yang Maha Bercahaya, Yang Maha Indah, Sang Pemancar Kasih Sayang, Sang Pembawa Kebaikan, Yang Maha Sabar, Yang Memberi Rezeki, Yang Maha Menentukan. Allah, Dialah yang menunjuki manusia cahaya kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Sesungguhnya mengenal dan menyembah hanya kepada-Nya adalah fitrah manusia namun bila hati manusia kotor maka cahaya-Nya tidak menampakkan diri, tertutup oleh kotoran yang menyelimutinya. Namun bila manusia mau bertobat dan membersihkan diri maka Dia akan mengampuni dan memaafkannya. Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Pemberi Taubat.

”Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Tiada kecintaan yang lebih dalam, lebih murni dan lebih suci daripada kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Bukan hanya karena Dia telah memberikan segalanya kepada mahluknya namun terlebih karena Dialah kita menjadi ada. Dia yang memberi kehidupan hingga dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat kita mengenal dan mengetahui arti sebuah kehidupan, Dia yang mengajari segala kebaikan, kelembutan dan kasih sayang. Dia yang mengajari arti sebuah kesabaran sekaligus ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang tidak pernah bosan merahmati mahluknya, membimbing serta menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.

Rasulullah bersabda bahwa kenikmatan tertinggi di surga adalah kenikmatan memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab : “ Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda : “ Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

Dia yang dengan setia setiap waktu dan senantiasa mau menyediakan waktu-Nya untuk mendengar keluh kesah apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang selalu siap memberikan maaf-Nya betapapun besar kesalahan dan kotornya jiwa ini. Dia Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi. Hanya kepada-Mu lah semua mahluk kembali. Maka kembalikanlah kami kelak ke tempat kembali yang mulia, disisi-Mu Ya Allah, disisi kekasih-Mu Muhammad SAW, disisi para Rasul, disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah permohonan kami ini, amin Ya Robbal ’Alamin.

Sabda Rasulullah : “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – tidaklah menghafalnya kecuali akan dimasukkan kedalam surga, Allah itu ganjil (tunggal ) dan menyukai yang ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang banyak kesedihan atau gundah gulana lalu berdo’a : “Yaa Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang engkau namakan kepada-Mu atau yang telah engkau ajarkan kepada seseorang dari mahluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan didalam kitab-Mu atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu, jadikanlah Al-Quran sebagai pelipur lara hatiku dan cahaya dadaku dan penghapus kesedihan dan kerisauanku”, maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya dan diberikannya jalan keluar”. (HR Ahmad).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Desember 2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Akhlak dan Ketakwaan

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itulah silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik. Silaturahmi dijalankannya antara lain dengan saling mengunjungi, menjenguk yang sakit, saling membantu, saling menghormati dan tidak berbuat fitnah. Dengan adanya hubungan dan silaturahmi yang baik, maka ia akan mengantarkan manusia kepada kemudahan, ketenangan dan kedamaian di dunia. Allah SWT sangat murka melihat seorang yang tidak mau melaksanakan silaturahmi, apalagi bila orang itu memiliki kekuasaan.

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (QS.Muhammad(47):22-23).

Demikian pula terhadap orang yang sombong. “ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.(QS An-Nisaa’(4):36).

Rasulullah bersabda :” Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak.”; “Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna akhlaknya.” ; “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”( HR Bukhari – Muslim) ;

“ Tidak dikatakan beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya”(HR Bukhori) ; “ Bukanlah orang Mukmin orang yang selalu mencela, mengutuk, berkata keji dan berkata kotor”.(HR Muslim). Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga. Rasulullah menjawab : “Akhlak yang baik.”. Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka. Rasulullah menjawab:” Mulut dan kemaluan”. (HR Tirmidzi).

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Seorang laki-laki yang telah memutuskan menikah maka ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga ia wajib menafkahi dan mengayomi anak dan istrinya. Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing. Seorang istri wajib mendidik dan memberikan kasih-sayang, perhatian dan kelembutannya kepada anak-anaknya, menjaga harta dan kesuciannya serta menghormati suaminya. Sedangkan bagi seorang anak, wajib baginya menghormati dan menyayangi kedua orang-tuanya.

“…… hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS.Al-Isra’a(17):23-24).

Melalui perut seorang ibulah manusia dilahirkan. Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : “ Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbuat baik?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “ Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

Sebaliknya Ia menyukai orang yang mau segera bertaubat, menyadari dan memperbaiki kekhilafan seraya meminta sekaligus memafkan kesalahan orang lain.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imraan(3:133-134).

Berbuat baik kepada sesama manusia memang tidak mudah. Bahkan Allah SWT mengumpamakannya sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Namun itulah jalan bagi orang-orang golongan kanan, yaitu golongan orang-orang yang disayangi-Nya.

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”.(QS.Al-Balaad(90):12-18).

Rasulullah bersabda :“Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah dekat kepada Allah bahkan ia akan tambah jauh dari-Nya”.“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.
(Q S.Ath-Talaaq(65):2-3).

Maka untuk itu seharusnya kita berusaha agar akhlak kita sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya, akhlak yang mendekatkan kepada ketakwaan. Yaitu dengan cara sebagai berikut :

1.Mencari ilmu (yang dapat membedakan mana akhlak yang baik dan mana yang buruk). Walaupun sesungguhnya setiap manusia memiliki naluri yang sama untuk menilai suatu perbuatan, apakah itu baik atau buruk. Karena akhlak adalah fitrah.

Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa itu adalah yang tidak nyaman dalam dirimu dan engkau tidak suka dilihat oleh orang lain” . (HR Muslim).

2. Mengokohkan nilai-nilai iman. Keinginan berakhlak mulia yang selalu disandarkan karena Allah SWT bukan karena sebab lain.

3. Melatih diri. Yaitu dengan cara memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat sunnah, puasa sunnah dll.

4. Bergaul dengan orang shaleh. Yaitu dengan mencari lingkungan yang baik dan meninggalkan lingkungan yang buruk.

5. Mengambil teladan yang baik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

6. Membiasakan diri untuk mau menerima nasehat yang baik.

Doa Rasulullah : “Allahummahdinii ihsanil ahklak fainnahu laa yahdiil ahsaniha illa Anta, washrif annii sayyiahaa fainnahu laa yashrifu annii sayyiahaa illa Anta.” (Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik sesungguhnya tiada yang memberi petunjuk kepada akhlak yang baik kecuali Engkau, palingkanlah aku dari akhlak yang buruk sesungguhnya tiada yang memalingkan kecuali Engkau).

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 25/7/2007.

Vien AM.

Disarikan diri : Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah.

Read Full Post »

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata: “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”.

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantarasesama umat Islam memang tidakdapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahanapalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begituRasulullah memasuki hari-hari akhirnya.

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupundengan redaksi berbeda.

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatantersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Mirza Gulam Ahmad adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah sawdan mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.Ia lahir di India pada tahun1835 dan meninggal pada1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya mereka anggap sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuanutamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij, Syi’ah dan sejumlah aliran yang bernuansa sufistik adalah diantaranya. Khowarij adalah sebuah pemikiranyang sudah ada sejak Rasulullah saw masih hidup. Suatu ketika Rasululah membagi ghonimah (harta rampasan perang). Dalam pembagian tersebut ada yang mendapat bagian banyak ada pula yang sedikit, tentunya dengan kebijakan Rasul. Kemudian muncullah seseorang yang bernama Dzulkhuwaishiroh. Ia tidak terima dengan pembagian yang dilakukan Rasul. Ia berkata “Berbuat adillah wahai Muhammad, karena sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak ikhlas!”

Maka Nabi bersabda, “Celaka engkau, siapa lagi yang bisa berbuat adil jika saya saja sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh celaka dan rugi saya jika saya tidak bisa berbuat adil.” Tatkala itu Umar Bin Khattab ra meminta izin pada Nabi untuk memenggal leher orang tersebut. Namun Rasul bersabda, “Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut yang menganggap kecil sholat kalian dibanding sholat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka (Mereka adalah ahli ibadah, -ed). Mereka membaca Alqur’an tetapi tidak sampai tenggorokan mereka. Mereka telah keluar dari batas-batas agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” (HR. Bukhori – Muslim ).

Aliran ini memiliki sifat khas cenderung mudah meng-kafir-kan saudaranya serta suka memberontak terhadap pemerintahan yang dinilainya dzalim. Jadi aliran memiliki sifat meledak-ledak.

Syiah terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesaradalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lainUmar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.

Aliran-aliran bersifat sufisme beragam jenisnya. Ciri aliran ini sangat berlebihan dalam memikirkan kesucian jiwa/bathin. Ajaran ini sejatinya lebih mendekati ajaran Budhisme dari pada ajaran Islam. Pendapat umum mengatakan bahwa Sufisme berasal dari kata Suf, bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan para pengikut Sufisme di abad 9 M. Dasar pemikiran aliran ini adalah pembersihan jiwa dan kesederhanaan hidup dalam rangka menjauhi kemewahan duniawi menuju ke-zuhud-an. Ekstrimnya, menurut ajaran ini manusia dapat mencapai suatu tingkatan hingga menyatu dengan Tuhannya! Padahal Islam dengan jelas mengajarkan bahwa manusia adalah hanya hamba Allah yang sangat kecil dan hina. Islam juga mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Sebagai khalifah, manusia bahkan dituntut untuk mengelola, memelihara dan memimpin bumi dan isinya agar terbentuk masyarakat yang adil danmakmur.

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung ”.(QS.Al-Jumuah(62):10).

Penyimpangan dan perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Syariah Islam terus dicoba diguncang dengan berbagi isu. Belakangan ini muncul pula ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakanbahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diobok-obok. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran dan sunah Rasulullah serta mempelajari shirah nabawiyah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikan syaitan dari jenis iblis dan manusia.

Wallahu’alam bishawab

Jakarta, Oktober 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Shalat Yang Lalai

Seperti apakah shalat yang lalai itu? Mengapa dalam ayat 4 surah Al-Maa’uun Allah SWT berfirman : ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat ”? Bukankah shalat adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT ? ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”.(QS. Al-Maa’uun(107):4-5).

Allah SWT memang menjanjikan pahala dan kemudahan dalam segala urusan bagi orang yang mengerjakan shalat. Namun ada persyaratannya. Jadi bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang diterimanya bukan pahala apalagi kemudahan melainkan malah kesengsaraan. Karena rahmat Allah akan menjauh darinya. Inilah yang dimaksud kecelakaan dalam ayat diatas. Allah SWT memerintahkan ’mendirikan/menegakkan ’ shalat (aqooma – yuqiimu ) bukan sekedar ’melaksanakan’ shalat ( sholla – yusholli). Menegakkan atau mendirikan shalat maknanya, dalam mengerjakan shalat harus ada niat, ada kesungguhan.

Kata ” Saahuun ” yang berarti lalai berarti adalah mengabaikan shalat, diantaranya adalah wudhu’ yang tidak sempurna, gerakan shalat ( rukuk, sujud dll yang tidak sempurna), meng-akhirkan shalat (tidak meng-awalkannya) tanpa alasan yang dapat diterima. Termasuk orang yang shalat namun tidak meyakini bahwa dengan shalat Allah akan memberinya kemudahan hidup, bahwa dengan shalat Allah SWT akan memberinya pahala. Orang-orang seperti ini shalatnya tidak khusuk dan cenderung terburu-buru.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” . ( QS.Al-Mukminun (23):1-2).

Orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Sebaliknya shalat yang terburu-buru / lalai sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bathin serta tidak akan pula melahirkan ahklak yang baik. Padahal seharusnya dengan shalat akan muncul prilaku yang sempurna, akhlakul khorimah. Karena kunci ibadah adalah shalat. Orang yang akhlaknya buruk dapat dipastikan shalatnya juga buruk. Allah SWT bahkan memasukkan orang-orang yang lalai ini ke dalam golongan orang Munafik. Sama halnya dengan orang yang mengerjakan shalat dengan riya’, yaitu yang mengerjakan shalat bukan karena mencari ridho’Nya melainkan untuk dilihat orang lain. Ini adalah salah satu ciri orang Munafik. Akhlak mereka buruk padahal ahklak adalah cerminan hati. Lebih jauh lagi, Allah akan memasukkan orang seperti ini sebagai golongan orang yang mendustakan hari Pembalasan.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Shalat yang paling berat bagi orang Munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengerti pahala yang terdapat pada dua shalat itu, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak ”.( HR Bukhari dan Muslim).

Termasuk juga dalam kategori lalai adalah laki-laki yang menghindari shalat berjamaah di dalam masjid atau musholla, terutama shalat Isya dan Subuh.

Dari Abu Musa ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat di dua waktu dingin (Subuh dan Isya’ secara berjamaah ) niscaya dia akan masuk surga“. ( HR Bukhari Muslim).

Hanya dengan alasan tertentu sajalah diantaranya uzur dan sakit, orang diizinkan tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Bahkan sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang shalat berjamaah namun shafnya tidak rapat saja maka berdosalah ia. Perumpamaannya seperti perempuan yang tidak menutup auratnya dengan baik.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “ Ada seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata :”Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid”. Maka Rasulullah memperkenankan  (memberinya keringanan). Namun setelah ia hendak pulang, Rasululah memanggilnya kembali dan bertanya : ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda :”Kalau begitu datanglah.” (HR Muslim).

Satu hal penting yang harus diingat, salah satu sifat Allah yang harus kita imani adalah sifat cemburu. Allah SWT tidak ridho’ ketika seorang hamba dalam keadaan shalat namun dalam hatinya ada sesuatu yang lain disamping-Nya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda bahwa sifat cemburu Allah jauh lebih besar dari cemburunya Sa’ad, seorang sahabat. Diriwayatkan bahwa Sa’ad segera akan mengeluarkan pedangnya begitu melihat ada lelaki yang memandang dan mendekati istrinya. Sesungguhnya sifat cemburu adalah sifat yang baik. Karena hal ini menunjukkan kebesaran cinta dan kasih-sayang seseorang. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT melaknat dan murka kepada orang yang menduakan-Nya. Tidak ada kecintaan apapun yang boleh menyamai apalagi mengalahkan kecintaan kepada-Nya, sekalipun itu cinta seorang suami / istri terhadap pasangannya maupun cinta terhadap anak atau orang tua.

Wallahu’alam bishshawab.
Jakarta, 18/2/2008.
Vien AM.

Read Full Post »

Pulang’ dan ‘Pergi’ adalah sepasang kata yang memiliki makna berlawanan. Kata ‘Pergi’ bermakna meninggalkan suatu tempat asal menuju suatu tempat sementara, misal pergi ke kantor, ke pasar, ke sekolah dsb. Sedangkan kata ‘Pulang’ bermakna meninggalkan suatu tempat sementara menuju tempat asal atau dengan kata lain ‘tempat kembali’, misal pulang ke rumah, pulang kampung. Bila dalam kehidupan sehari-hari, kita temui seseorang berkata bahwa ” Aku baru pulang dari kerja”, tentu secara otomatis kita membayangkan bahwa orang tersebut ketika pulang akan membawa nafkah (rezeki) karena pada umumnya bekerja adalah untuk mencari rezeki. Begitu pula ketika seorang ibu berkata, ” Ibu pulang dari pasar “, mestinya ia pulang membawa hasil belanjaan.

Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga `Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, (QS.Shaad(38):49-50).

Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.(QS.Ali IMraan(3):151).

Berdasarkan ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tempat kembali ada 2, yaitu surga dan neraka. Jadi sesungguhnya kita ini sedang bepergian ke alam dunia dan setiap yang pergi pasti akan kembali. Dan sebagaimana seorang ayah yang pulang kerja membawa uang (rezeki), seorang ibu pulang dari pasar membawa hasil belanjaan, maka seorang yang pulang dari duniapun membawa hasil pekerjaan yang dibebankan Tuannya, yaitu Allah SWT. Hasil inilah, dengan izin-Nya, yang akan menentukan tempat kembali kita, surga atau neraka.

Namun tidak seperti kehidupan keseharian di dunia, untuk pulang ke kampung akhirat ternyata tidaklah mudah. Ibnul Jauzy berkata bahwa kematian lebih pedih daripada sabetan pedang. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Dimulai dari kedua telapak kakinya yang terasa dingin, betis, paha kemudian terus hingga ke kerongkongan.

“…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

Berikut kisah Nabi Idris as. Beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak tersebut naik ke langit setiap malam. Hal ini sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.Maka bermohonlah ia kepada Allah SWT agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah SWT, mengabulkan permohonan tersebut.

Maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris. Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu kerumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris memperlakukan Malaikat Izrail dengan penuh hormat. Dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris mengajaknya makan bersama, namun di tolak. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah SWT sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Singkat cerita, keesokan harinya setelah melewati beberapa perbincangan kecil, akhirnya Nabi Idris penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

Siapakah engkau sebenarnya?”, tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail“, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?“, selidik Nabi Idris as serius.
Tidak”, senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu“, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
Aku punya keinginan kepadamu”, tutur Nabi Idris as.
“Apa itu? Katakanlah !”, jawab Malaikat Izrail.
Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada
Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku
kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”
, pinta Nabi Idris as.
Tanpa seizin Allah, aku tak kuasa melakukannya“, tolak Malaikat Izrail.

Ternyata Allah SWT mengizinkan Malaikat Izrail untuk mengabulkan permintaan Nabi Idris tersebut. Maka dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris. Tak lama setelah itu, sesuai janji-Nya, Allah SWT segera menghidupkannya kembali.

Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?“, tanya Malaikat Izrail.
Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”, jawab Nabi Idris as.
Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, jelas Malaikat
Izrail prihatin. Subhaanallah.

Bagaimana pula kita ini, yang jauh dari cara ibadah beliau?

Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar. Al-Ghazali berkata : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”. Jasad akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah seseorang memasuki liang kubur.

Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut. Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil ruh dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil pula andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “ Demi Allah yang tiada Illah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “ Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata: ” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

Rasulullah bersabda : “Kubur itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhari-Muslim).

Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “ Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”.

Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “ Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuat kepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga.

Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzi).

Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, 24/8/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »