Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Bila orang Perancis biasa menyapa dengan kata “Bonjour”  maka “Ola” adalah sapaan yang akrab terdengar di telinga ketika kita pergi mengunjungi  kota-kota di Spanyol. Namun demikian warga Andalusia, wilayah Spanyol yang terletak diujung selatan semenanjung Iberia ini, meng-klaim bahwa mereka adalah warga Spanyol yang paling ramah dan hangat dibanding saudara-saudara  mereka yang tinggal di wilayah lain. Dan ini memang terbukti. Karena selama kurang lebih satu minggu kami berada di Andalusia, mulai dari penjaga pintu tol, resepsionis hotel hingga orang-orang yang kami temui dan tanyai ketika kami tersesat atau membutuhkan informasi, tanggapan dan sambutan mereka selalu baik dan ramah.

Perjalanan ke Andalusia yang dikenal dengan peninggalan dan sejarah Islamnya yang sangat kental ini, dimulai dari Pau- Perancis Selatan, dimana kami tinggal untuk sementara. Tujuan utama adalah kota Malaga. Berhubung  tidak ada penerbangan langsung dari Pau maka dengan mengendarai kendaraan pribadi kami melaju  ke Bilbao – Spanyol, sekitar 250 km ke arah barat Pau. Setelah menitipkan kendaraan di airport,   kamipun terbang menuju Malaga selama 1 jam 20 menit. Pesawat take off pada pukul 9 malam. Ini adalah satu-satunya penerbangan Bilbao – Malaga. Apa boleh buat kami harus merelakan satu malam untuk istirahat di hotel sebelum memulai perjalanan panjang.

Esoknya dengan kendaraan sewaan yang kami ambil di airport Malaga, kami menuju Granada. Jarak Granada – Malaga sebenarnya hanya sekitar 120 km. Namun karena jalan yang kami pilih bukan autoroute  maupun jalan toll karena kami ingin melihat keindahan kota-kota sepanjang pantai yang bakal kami lalui maka diperlukan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke tujuan.

Granada adalah sebuah kota sarat sejarah. Wilayah ini selama 8 abad lamanya berada dibawah kekuasaan kerajaan Islam, yaitu sejak tahun 749 M – 1492M. Setelah kerajaan yang tadinya bersatu kemudian terpecah-pecah Granada adalah merupakan kerajaan kecil  Islam di Eropa yang terakhir kali jatuh. Kota ini berkembang pesat dibawah pemerintahan dinasti Almoravid dan Almohad yang memerintah antara tahun 1090 M – 1238 M.

Adalah Abdul Rahman ad-Dakhil bin Muawiyah, raja terakhir bani Umayyah yang pada masa akhir kejatuhannya berhasil lari dari kejaran bani Abbasiyyah. Tujuannya adalah semenanjung Iberia yang ketika itu telah ditaklukan oleh panglima Muawiyah, Thariq bin Ziyad . Dengan menyeberangi selat yang memisahkan antara benua Afrika dan benua Eropa, bersama panglima besar Musa bin Nushair, Thariq berhasil mengalahkan raja Ludzrig dari kerajaan Wisigoth, pada tahun 710 M. Selat tersebut dikemudian hari dikenal dengan nama selat Jibraltar. ( Berasal dari kata Jabar dalam bahasa Arab berarti gunung dan Thariq. Di selat tersebut memang berdiri sebuah gunung karang ).

Abdul Rahman menjadi raja Andalusia dengan menjadikan Cordoba sebagai ibu kota kerajaajannya pada tahun 755 M. Kerajaan Andalusia makin lama makin berkembang hingga akhirnya pada tahun 976 M meliputi seluruh semenanjung Iberia. ( Saat ini adalah wilayah yang meliputi Spanyol dan Portugal).

Namun tidak sampai seratus tahun kemudian karena rajanya yang lemah Andalusia terpecah-pecah menjadi lebih dari 20 kerajaan kecil yang terpencar-pencar ( taifa atau muluk thawaif’ ) hingga sedikit demi sedikit  jatuh  ke tangan raja Kristen Spanyol. Ini dikarenakan kerajaan-kerajaan tersebut selalu bertikai, saling fitnah dan selalu dalam peperangan antar mereka sendiri. Meskipun secara ekonomi, sains dan peradaban mereka maju pesat.

Kelihatannya mereka lupa pada hadits tentang pentingnya kesatuan, persaudaraan dan silaturahmi. Padahal dalam shalat berjamaah yang dipimpin oleh seorang imam dan hukumnya fardhu ‘ain bagi kaum lelaki ini terutama ketika Isya dan Subuh tersirat hikmah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan pimpinan.

Abdullah bin Umar RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: “Orang muslim adalah saudara bagi saudaranya yang lain, tidak berbuat zalim kepadanya dan tidak menghinakannya. Barang siapa peduli pada kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak “.. ( Hadits Riwayat Mutafakkun ‘Alaih).

Yang dimaksud Andalusia saat ini adalah provinsi paling selatan Spanyol yang meliputi kota-kota seperti Malaga, Granada, Cordoba, Sevilla, Ronda, Almeira, Marbella  dll. Napak tilas dimulai dari istana Alhambra yang dalam bahasa Arab berarti Istana Merah.

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Alhambra20Alhambra8Istana yang dibangun pada sekitar tahun 1240 M ketika Granada berada dibawah pemerintahan  dinasti Nasrid ini terletak di ketinggian di sebelah Timur Laut kota. Dengan tembok tuanya  yang terbuat dari bata merah lengkap dengan 27 buah menara pengawasnya yang tinggi menjulang, istana kelihatan sangat mencolok. Selain sebagai pembatas, tembok sepanjang 1,4 km ini berfungsi sebagai benteng pertahanan ( Alcazaba ) pusat pemerintahan. Dari sinilah segala kebijaksaan kerajaan diambil.

Kecantikan istana yang kental dengan nilai seni Islam yang amat tinggi ini terlihat begitu kita memasuki pintu gerbangnya. Makin kedalam kecantikan tersebut semakin memukau. Kaligrafi yang sungguh menakjubkan dengan detil gambar bunga dan dedaunan diantara huruf-hurufnya ini tampak menghiasi seluruh permukaan dinding dan langit-langitnya.

Alhambra9Alhambra6Alhambra12Alhambra13Alhambra14Bahkan beberapa ruang menampilkan seni yang teramat tinggi. Kaligrafi berwarna biru muda dan putih yang dibuat di langit-langit yang tinggi sedemikian rupa hingga menyerupai sarang lebah yang bertingkat-tingkat. Ukirannya begitu halus dan detil.

Alhambra4Alhambra5Alhambra11Tak syak lagi, pasti dibutuhkan tidak saja ketelitian dan seni yang tinggi namun juga perhitungan matematis yang akurat. Yang lebih menakjubkan lagi di setiap dinding selalu dibuat kaligrafi yang berbunyi “ La illaha illa Allah”, bisa vertikal bisa  juga horizontal. Hebatnya lagi, ukiran-ukiran tersebut masih jelas dan nyata terbaca padahal umurnya telah dari 700 tahun !! Subhanallah ….

Albaycin dari jendela Alhambra

Albaycin dari jendela Alhambra

pasar GranadaSetelah puas menikmati keindahan istana, keesokan harinya kami mengunjungi Kathedral dan Albaycin. Keduanya terletak tidak jauh dari Alhambra. Albaycin adalah kawasan pemukiman Granada tertua dimana umat Islam dulu bertempat tinggal. Ini adalah satu-satunya pemukiman yang tetap terjaga hingga saat ini. Disini pula kini berdiri satu diantara dua masjid di Granada yang kembali berdiri setelah ratusan tahun lamanya dilarang. Sementara gereja raksasa Kathedral Granada dibangun dilokasi bekas masjid raya yang terletak ditengah-tengah pemukiman. Bahkan mihrabnyapun hingga detik ini masih bertahan didalam gereja tersebut. Karena ketika itu masjid berubah fungsi begitu kerajaan jatuh ke tangan Kristen tanpa mereka perlu merubah apa yang ada di dalamnya.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang hidup di masa tersebut. Bagaimana dengan perasaan tertekan  mereka terpaksa merelakan masjid yang biasa mereka pergunakan untuk shalat sehari-hari tiba-tiba dijadikan rumah ibadah agama lain. ( Dalam hati saya bertanya-tanya  inikah nasib yang bakal dialami masjid Aqsho dan Masjid Kubah Batu di Yerusalem bila kita terus saja diam membisu ketika pihak Israel dengan diam-diam terus merangsek kedalam kedua masjid agung tersebut ?? Astaghfirullah … ).

Tidak cukup itu saja, umat Islam Granada ini bahkan dipaksa meninggalkan ajaran Islam dan berganti agama bila mereka ingin bertahan hidup dan tinggal di kota kelahiran  mereka. ( click   “ https://vienmuhadi.com/2009/08/21/menilik-jejak-islam-yang-hilang-di-eropa-1-%e2%80%93-aragon/ “  untuk mengetahui sejarah Andalusia yang lebih lengkap). Maka sejak saat itulah musnah sikap toleransi dan saling menghargai antar agama yang telah susah payah dibangun umat Islam di Spanyol. Saat ini dapat kita buktikan dengan adanya perbandingan jumlah gereja dan masjid yang ada di Indonesia yang mayoritas Muslim dan Negara-negara Barat yang mayoritas Kristen.

IMG_3234Namun demikian kesedihan hati ini sedikit terobati ketika kami melewati sebuah toko kecil yang dimiliki oleh seorang Muslimah ( awalnya terlihat dari jilbabnya). Dari percakapan ala tarzan inilah , karena ia hanya bisa sedikit berbahasa Inggris, akhirnya kami tahu bahwa jumlah Muslim di Granada saat ini cukup banyak. Bahkan kami juga sempat mendengar alunan ayat suci Al-Quran yang keluar dari salah satu toko souvenir yang berada di sepanjang jalan menuju Alhambra. Alhamdulillah….

Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir “. (QS. Al-Anfal(8):18).

( Bersambung, ke  “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (3) – Andalusia ( Ronda) , click di sini).

Wallahu’alam bi shawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 10 November 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan dari Suka Duka Muslim di Perancis (4)).

Bepergian dan mengenal bangsa, bahasa dan budaya negara lain bagi sebagian besar orang tentu hal yang sangat diimpikan. Apalagi bila kemudian kita bisa mengambil hikmahnya. Kita contoh adab dan kebiasaan mereka yang baik dan kita buang hal-hal yang negative dan berpotensi memalingkan kita dari mengingat Sang Khalik. Diantara prilaku bangsa Barat yang baik adalah kebiasaan mengantri, disiplin ( menghargai waktu), menjaga kebersihan serta mengucap salam ( mungkin ini hanya orang Perancis) . Sedangkan sikap yang tidak patut ditiru adalah terlalu materialistis dan yang terparah tidak mau mengakui keberadaan-Nya alias Atheis!

Namun berbicara diluar ke-Atheisme-an mereka, jujur, dibanding kita sebenarnya sifat dan sikap orang Barat lebih banyak baiknya daripada buruknya. Sikap buruk seperti hubungan bebas antara lelaki dan perempuan, berpesta dan bermabuk-mabukan yang ada pada mereka pada dasarnya karena mereka tidak mau memegang aturan agama. Itu sebabnya ketika orang Barat bersyahadat biasanya mereka sangat serius, pasrah sepenuhnya kepada aturan-Nya. Berbeda dengan kebanyakan dari kita yang meskipun mengaku beriman dan berislam namun ternyata dalam penerapannya tidak serius. Contohnya diantaranya ya itu tadi, kurang dalam menjaga kebersihan dan kedisiplinan.

Padahal Rasulullah bersabda : “ Kebersihan adalah bagian Keimanan” ?; “ Bukanlah orang Mukmin orang yang selalu mencela, mengutuk, berkata keji dan berkata kotor”.(HR. Muslim)

Buat saya pribadi, hal yang paling menyusahkan ketika bepergian ke negri dimana Muslim adalah kaum minoritas adalah dalam hal makanan. Padahal sebagian diantara kita ada yang salah satu tujuan bepergian adalah demi kuliner atau mengenal masakan negri yang dikunjunginya. Perancis adalah negara yang terkenal diantaranya karena masakannya. Orang Perancis memang dikenal sebagai pemuja makanan lezat. Bahkan dalam acara jamuan makan mereka bisa betah berjam-jam menghabiskan waktu untuk menikmati tahapan demi tahapan makan sambil membicarakan makanan tersebut. Mulai dari bahan dasarnya, cara pembuatannya hingga akhirnya berkembang ke segala macam pembicaraan bahkan perdebatan. Jangan lupa orang Perancis benar-benar hobby berdebat dalam segala hal!

Namun yang membuat kita susah adalah karena disamping mereka penggemar masakan yang terbuat dari daging babi mereka juga hampir selalu menambahkan alkohol, baik itu jenis wine, rhum maupun jenis lainnya. Bahkan saladpun yang kelihatannya hanya ‘sayuran’ tetap saja sausnya dicampur dengan alkohol jenis tertentu. Begitupun ‘entrée’ ;

Quiche Lorraine

Quiche Lorraine

Tarte Aux Pommes

Tarte Aux Pommes

makanan kecil pembuka dan dessert ; makanan penutup seperti quiche , tarte tatin, sorbet, joghurt dll yang sungguh tidak bakal mampu menahan air liur kita untuk tidak keluar …nyammm… Bila tidak menggunakan alkohol bisa jadi gelatinnya yang musti dipertanyakan. Itu sebabnya saya lebih memilih membeli makanan kecil pembuka dan penutup di supermarket daripada di restoran walaupun mungkin rasanya tidak seenak di resto. Mengapa? Karena di supermarket biasanya dicantumkan isi dan kadungannya.. Lebih aman kan?

Sorbet a La Fraise

Sorbet a La Fraise

” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. ( QS. Al-Maidah (5):90).

Yaah pikir-pikir jihad deh..jauh kan dibanding musti berperang seperti misalnya rakyat Palestina yang tertindas di negrinya sendiri atau rakyat Afganistan dll… Yaahh. g ada apa-apanya lah..

Hal lain adalah soal shalat karena sulitnya mencari masjid. Jalan keluarnya paling-paling ya digabung alias diqadha. Itupun hanya dikerjakan di dalam mobil atau duduk dimana saja yang memungkinkan. Namun bagi anak perempuan saya yang saat ini duduk di Lycee atau SMA agak berbeda kasusnya. Di musim panas dimana waktu siang amat panjang karena matahari baru terbenam pukul 9 – 10 malam, ia bisa meng-qodho zuhur dan asar sepulang sekolah. Meskipun terus terang saya agak kurang setuju karena kita bakal tinggal di negri ini hingga 3 tahun-an. Masalahnya adalah ketika musim dingin dimana.jam 5 matahari sudah mulai terbenam. Padahal sekolah baru bubar pukul 6 an.

Dengan alasan tersebut akhirnya saya berdua suami datang menghadap wali kelas dimana anak saya bersekolah. Ketika itu ia memang tidak langsung menjawab. Ia hanya mengatakan bahwa selama bertahun-tahun mengajar belum pernah ada permintaan seperti itu. Padahal sekolah memiliki cukup banyak murid Muslim, akunya. Hal yang cukup mengejutkan bagi kami. Karena kami pikir anak kami satu-satunya murid Muslim di sekolah tersebut. Namun demikian ia berjanji akan menyampaikannya kepada kepala sekolah. Beberapa hari kemudian anak saya menyampaikan bahwa ia mendapat izin menggunakan ruang wali kelas untuk shalat… Alhamdulillah.

Namun esok harinya anak saya kembali dipanggil guru lain. Katanya anak saya tidak mungkin menggunakan salah satu ruang untuk shalat karena nanti yang lain juga pasti menuntut hal yang sama. Ini kan sekolah Kristen, tambahnya . Kalau kamu memaksa silahkan saja shalat di halaman sekolah. Yaah bener juga , pikir saya. Siapa suruh sekolah di sekolah Kristen… Pertimbangan kami ketika itu disamping karena masuk sekolah negri lebih sulit juga karena di sekolah negri murid-muridnya lebih tidak ber-akhlak. Di sekolah Kristen minimal mereka mengenal Tuhan. Jadi otomatis mereka mengenal kata dosa ..

Hal lain adalah ketika suatu ketika saya harus cek kesehatan di kantor Imigrasi Paris. Ini adalah prosedur standard bagi pendatang. Karena suami datang ke negri ini lebih awal maka ia sudah cek lebih dulu. Ia mengingatkan saya untuk minta dipriksa oleh dokter perempuan karena berdasarkan pengalamannya pasien hanya diperbolehkan mengenakkan penutup bagian bawah tubuh seperti rok atau celana sementara bagian atas harus terbuka kecuali ( maaf…. ) kutang untuk kaum hawa!. Dan ini berlaku tidak hanya ketika dokter memeriksa tubuh pasien saja namun begitu kita memasuki ruang dokter untuk konsultasi..Astagfirullah..persis ‘ketek’ alias monmon, keluh saya.

Ironisnya lagi, permintaan saya untuk diperiksa oleh dokter perempuan ditolak walaupun sampai tiga kali saya memohon kepada tiga perawat yang berbeda. Alasannya dokter hanya 4 yang perempuan hanya satu. Jadi tidak bisa pilih-pilih. Yaah.. saya hanya bisa pasrah dan terus berdoa semoga saya kebagian dokter perempuan. Saya terus menghitung urut-urutan pasien sebelum saya dengan hati berdebar. Hingga tiba saatnya salah satu pintu ruang dokter lelaki terbuka ( sementara di dalam ruang dokter perempuan pasien belum juga keluar). Mata saya tidak berkedip mengikuti langkah sang dokter menuju ruang dimana setumpuk file pasien menanti. Menurut urutan normal mustinya itu giliran saya. Dokter mengambil satu file. Namun ntah mengapa tiba-tiba ia berbalik lagi. Meletakkan file, pergi sebentar kemudian mengambil file lagi kemudian memanggil sebuah nama. Pandangan saya sudah mulai agak kabur ketika tiba-tiba saya tersadar bahwa bukan nama saya yang dipanggil! Saya benar-benar tercengang karena yang dipanggil adalah nama pasien perempuan lain yang datang setelah saya. Allahu Akbar…” Trima-kasih Ya Allah”, bisik saya..

Selanjutnya tatapan saya beralih ke pintu ruang dokter perempuan yang belum juga terbuka. “ Kliik..”, tiba-tiba terdengar pintu ruang lain yang terbuka. “ Yaah.. g selamet deh”, pikir saya lagi. Tapi ternyata tidak juga. Dokter memanggil pasien lain lagi. Tak lama kemudian dokter perempuan yang amat saya harapkanpun keluar, pergi menuju ruang file dan memanggil nama …saya. Alhamdulillah..saya langsung tersenyum ceria seolah ada beban berat yang tiba-tiba menghilang. Saya tidak peduli apa yang ada dalam pikiran dokter yang telah menyelamatkan saya itu hingga pasiennya koq bisa seceria itu …Yang jelas sebelum saya keluar sang dokter sempat berkata “ Selamat jalan” sambil tersenyum simpul… Loh..koq ngomong bahasa Indonesia….

Beberapa menit kemudian sayapun telah berada didalam taxi menuju airport Charles De Gaulle – Paris. Ketika itulah saya menyaksikan dengan kepala sendiri seorang peminta-minta menyelinap di tengah jalanan yang macet di kota Paris. Ironisnya lagi, peminta-minta tersebut adalah seorang Muslimah! Dan saya yakin pasti orang tersebut adalah pengungsi korban perang salah satu Negara Muslim atau tepatnya bukan korban perang melainkan korban kerusuhan yang memang sengaja ditimbulkan musuh-musuh Islam! Hal yang beberapa tahun yang lalu tidak pernah saya saksikan. Fenomena ini dulu juga sudah ada. Namun biasanya mereka hanya duduk di perempatan jalan bawah tanah ( Metro) dimana di hadapan mereka tergeletak sebuah kotak untuk menaruh uang receh plus karton yang berisi tulisan bahwa mereka perlu untuk uang makan padahal mereka punya beberapa anak yang harus dihidupi. Disamping itu mereka juga bukan satu-satunya pengemis karena banyak juga orang Perancis asli yang hidup dengan cara seperti itu.

Camp Pengungsi Callais

Camp Pengungsi Callais

Tiba-tiba saya teringat peristiwa beberapa hari yang lalu dimana polisi Perancis menggelar operasi besar-besaran untuk membongkar paksa camp pengungsian di sebuah hutan di Callais, perbatasan Inggris- Perancis. Camp yang dihuni sekitar 270 orang pengungsi Afganistan ini, lebih dari separuhnya dikabarkan adalah anak-anak dibawah umur, sebenarnya telah ada sejak beberapa bulan lamanya. Berkat bantuan para relawan hingga saat penggebrekan beberapa waktu lalu mereka masih tetap aman. Mereka bahkan masih bisa menjalankan shalat berjamaah.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka dapat bertahan hidup di dalam tenda terbuka di hutan dengan segala keterbatasannya. Apalagi sebentar lagi musin dingin akan tiba. Saya pikir penggerebekan polisi kali ini adalah salah satu bentuk pertolongan-Nya. Karena biasanya di Perancis orang yang tertangkap karena tidak memiliki tempat tinggal akan ditempatkan di tempat penampungan. Separah-parahnya.paling lelaki dewasa akan dideportasi dengan biaya di tanggung pemerintah Perancis. Sekali lagi ini adalah cara Allah swt mengatur para hamba-Nya. Menurut Islam lelaki dewasa wajib meneruskan jihad mempertahankan negara dan agamanya setelah ia mengantar para perempuan yang lemah dan anak2 ke tempat yang lebih aman. Allahu Akbar..

Sementara dilihat dari sisi lain, disamping para pelajar, mahasiswa, expatriate dan para imigran Muslim sebenarnya keberadaan pengungsi (Muslim) ke belahan dunia Barat adalah bagian dari cara penyebaran Islam. Dengan cara ini minimal tuan rumah menjadi tahu bahwa Islam itu eksis. Adalah tugas mulia bila para pengungsi ini dapat membawa ajaran Islam dengan baik walaupun mereka hidup serba kekurangan dan mungkin kurang dihargai. Ini adalah cobaan sekaligus jihad bagi mereka. Patut diingat, bila boleh dan bisa memilih tentu tak ada seorangpun di dunia ini yang mau menjalani hidup seperti itu. Jadi sungguh beruntung kita yang tidak mengalami nasib seperti mereka.

Sebaliknya bagi pihak/negara penerima pengungsi. Harus diingat bahwa ‘ perang’ Afganistan, penindasan, kerusuhan dan kekacauan di berbagai negara Islam seperti Palestina, Irak dll jelas bukan perang. Afganistan misalnya. Negara ini ramai-ramai di’satroni’ dan dikeroyok Barat dengan alasan demi memerangi terorisme. Padahal nyatanya bukankah justru pengeroyokan itulah yang menyebabkan rakyat menderita, bukan? Demikian juga rakyat Palestina yang jelas-jelas ditindas di atas tanah negrinya sendiri…Apa sebenarnya motif di belakang ini semua? Minyak dan kekayaan alam Timur Tengah? Egoisme Yahudi ( dengan kendaran Amrik-nya) demi mendirikan negaranya? Atau gabungan antara keduanya….

Jadi sudah sepantasnya bila negara-negara yang saat ini didatangi para pengungsi itu mustinya bertanggung-jawab atas apa yang mereka lakukan. Namun bagaimana dengan tanggung –jawab dan reaksi para negara saudara seiman seperti Arab Saudi dll ??

 “ Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

Wallahu’alam bi shawab.

Pau-France, 28/9/2009.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan dari  Suka Duka Muslim di Perancis (3)).

Berdasarkan perkiraan kasar, dari total penduduk Perancis yang berjumlah sekitar 65 juta jiwa, sebanyak 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah Muslim. Data ini tidak akurat karena sejak tahun 1992 negri ini tidak pernah lagi mengadakan angket untuk menghitung jumlah Muslim di negrinya. Kelihatannya mereka tidak berani menerima kenyataan bahwa Islam terus berkembang pesat di Perancis.

Ini terlihat jelas dengan banyaknya majalah yang membahas keberadaan Muslim di negri tersebut. Mulanya saya terkejut sekaligus senang mendapati sejumlah majalah dengan cover tentang Islam. Namun setelah dipelajari ternyata tidak semua berkomentar positif. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai ancaman! Muslim di negri produksi parfum terbesar di dunia ini memang tercatat sebagai yang terbesar di Eropa. Di Perancis sendiri agama Islam menempati posisi  ke dua setelah Kristen walaupun bedanya sangat jauh. Meskipun begitu tetap jauh diatas jumlah pemeluk Protestan dan Yahudi.

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau - France

Namun demikian jumlah masjid yang ada di seluruh negri ini sangat jauh lebih sedikit dibanding pemeluknya. Begitu pula di Pau. Karena masjid hanya ada 1 maka umat Muslim terpaksa berdesak-desakan ketika harus melaksanakan shalat Jumat. Begitupun ketika shalat Ied. Karena pemerintah tidak memberi izin Muslim untuk melakukan kegiatan di lapangan terbuka sebagaimana yang diperintahkan maka umat terpaksa melaksanakannya di dalam masjid. Bila dilihat dari jumlah orang yang melaksanakan shalat Ied beberapa hari yang lalu, jumlah Muslim di Pau mungkin sekitar 1000-an.

Di dalam sejumlah masjid ini pula dari tahun ke tahun terutama di bulan Ramadhan,  sejumlah warga Perancis bersyahadat. Bahkan tahun ini dikabarkan sekitar 3.000 muslim Perancis merayakan Iedul Fitri dengan berumrah Ramadhan di Mekkah!

Mosque de Tarbes

Mosque de Tarbes

Ada pengalaman yang cukup menarik. Suatu hari di bulan Ramadhan kami pergi ke kota Tarbes, sekitar 1 jam perjalanan dari Pau bila melalui tol. Sebelumnya kami mendapat informasi bahwa di kota tersebut terdapat masjid yang lebih besar dari masjid di Pau. Singkat cerita kami shalat Magrib, Isya dan Tarawih setelah sebelumnya dipaksa pengurus  masjid agar berbuka ( dengan masakan Maroko yang menurut saya cukup lezat …nyamm..)  di  masjid Tarbes tersebut. Namun baru saja kami selesai mengucap salam, tiba-tiba seorang ibu setengah baya menghampiri, menyalami sembari mencium pipi kami berdua. Sebenarnya hal yang biasa saja.

 Yang tidak biasa adalah ketika ia bertanya apakah kami mengenal temannya seorang Indonesia yang menikah dengan seorang polisi Perancis. Nah.pertanyaannya, bagaimana ia  yakin bahwa  kami adalah orang Indonesia !. “ Dari busana yang dipakai anak perempuan kamu. Teman saya juga selalu memakai busana seperti itu ketika shalat “,  jawabnya.  Maksudnya mukena! Oo.. kami berduapun tertawa. Memang tidak ada di dunia ini muslimah yang memakai busana khusus ketika hendak shalat seperti mukena ini kecuali orang Indonesia , pikir saya geli.

 Dari pembicaraan tersebut akhirnya kami tahu ternyata ibu tadi adalah seorang Mualaf . Ia beserta suami, 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki2nya memeluk  Islam sejak beberapa tahun yang lalu. Allahuakbar…Ia menambahkan setiap  Ramadhan di kotanya hampir selalu ada saja orang  Perancis yang bersyahadat. Sekarang ketiga anak gadisnya bahkan mengenakkan jilbab. Saya komentar kepada anak perempuan saya “ Ternyata orang Perancis kalau memakai jilbab jadi mirip orang Arab de ya… cantik sekali ”. Begitu  pula kaum lelakinya, ketika mereka memanjangkan jenggotnya, sulit untuk membedakan bahwa mereka bukan orang  Arab.

 Di dalam bulan suci ini pula, tiba-tiba hampir di seluruh supermarket besar dan kecil di kota-kota Perancis dimana didalamnya terdapat Muslim, bermuncullan counter-counter daging halal. Yang juga mengejutkan di sekelilingnya berdiri pula  rak yang memuat Al-Quran lengkap dengan terjemahnya, hadis dan sejumlah buku tentang Rasulullah Muhammad saw dan  Islam. Dari sini tampak jelas bahwa kebutuhan beragama yang benar tidak mungkin dihambat apalagi dilarang.

 Suatu hari ketika sedang menunaikan shalat di masjid Pau, saya berbincang dengan beberapa remaja muslimah. Dari pembicaraan tersebut saya jadi tahu ternyata mereka menanggalkan jilbab hanya begitu memasuki area sekolah. Selebihnya seperti biasa kemana-mana mereka menutup auratnya dengan baik.…Subhanallah..     

 Cahaya Allah dan pertolongan-Nya makin terlihat benderang. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa wali kota Creteil, kota yang terletak sebelah Tenggara Paris, setelah 15 tahun dinantikan, akhirnya memberikan izin pendirian masjid di kota tersebut. Creteil adalah kota berpenduduk Muslim terbanyak tidak saja di Perancis namun juga di Eropa , yaitu 20 % dari 88 ribu penduduknya. Maket yang disetujui tersebut dikabarkan bakal memiliki  81 buah menara serta  berdaya tampung 2500 jamaah ! Ini adalah  sebuah “ kebijakan pengecualian “ yang sangat menggembirakan. Hanya atas izin-Nya semua ini bisa terjadi. Allahuakbar …

Namun sebetulnya ini bukan satu-satunya “surprised” . Karena sejak tahun 2003 di Lille, sebuah kota beberapa  km Utara Paris, telah didirikan sebuah sekolah Islam setingkat SMA,  Lycée Averroès. Averroès adalah  nama seorang cendekiawan Arab Andalusia di abad 12, Abdul Walid Ibn Rousyid. Di sekolah ini sekitar 80 muslimah bebas mengenakan jilbab mereka tanpa sedikitpun rasa  khawatir diganggu.

Di Pau sendiri saat ini dapat kita temui sejumlah ‘ Boucherie Musulmane’ alias  toko daging halal dan banyak sekali restoran khusus “Kebab”, daging halal khas Timur Tengah dengan sangat mudah. Namun sungguh disayangkan kedai-kedai ini tetap menyuguhkan minuman keras dalam menu mereka. Tadinya saya pikir mungkin untuk memenuhi permintaan pengunjung. Karena banyak juga bule non Muslim yang menyukai hidangan ini. Selidik punya selidik, ternyata sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak masa Mudejar, Muslim Muallaf Spanyol yang memperkenalkan Islam ke Perancis, telah terbiasa meneruskan tradisi minum minuman keras  sekalipun  telah bersyahadat dan melaksanakan shalat! Sungguh patut disayangkan.

Padahal banyak diantara mualaf yang tertarik pada ajaran Islam justru karena adanya larangan mengkonsumsi minuman keras dan juga karena kewajiban muslimah menutup aurat dengan jilbabnya. Para perempuan mualaf  ini mengaku merasa muak dengan kebiasaan mereka di masa lalu yang suka mengumbar aurat dan nafsu seksual mereka tanpa batas dan aturan. Mereka yakin bahwa jilbab adalah bentuk rasa kasih sayang dan perhatian Sang Khalik terhadap hamba-hamba-Nya…. Alhamdulillah..

( Bersambung)

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/29/suka-duka-muslim-di-perancis-5/

 Wallahu’alam bi shawab.

 Pau – France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Pau adalah ibu kota salah satu propinsi/departemen di Perancis yang dinamakan  Pyrene Atlantik. Kota ini terletak di kaki pegunungan Pirenea yang menjadi batas negara Perancis di selatan dengan Spanyol. Di kota ini terdapat beberapa lokasi stasiun ski. Pirenea memang merupakan pegunungan ke 2 di Eropa setelah Alpen yang menjadi sasaran liburan warga Eropa baik ketika musim dingin untuk bermain ski maupun untuk berbagai jenis olah raga di musim panas.

jalanan di pusat kota

jalanan di pusat kota

Selain sebagai tempat singgah menuju Pirenea, Pau juga dikenal sebagai kota pelajar. Di kota ini berdiri Universite de Pau dimana tercatat sekitar 19000 mahasiswa menimba ilmu di dalamnya. Berkat penemuan sumber minyak dan gas pada tahun 1949 di Lacq, beberapa km utara Pau, saat ini berdiri sebuah lembaga penelitian dan pengembangan minyak dan gas yang terbesar di Perancis. Untuk kepentingan itulah secara berkala lembaga ini mendatangkan sejumlah tenaga ahli / expatriate dari berbagai negara  termasuk Indonesia.

Berkat letak geografisnya yang penuh tanjakan dan kelokan Pau juga dikenal oleh para penggemar olahraga sepeda. Bahkan sejak tahun 1930 kota ini telah ditunjuk menjadi salah satu tempat, etape dalam seri Tour de France, lomba balap sepeda paling terkenal di Perancis yang diikuti sejumlah negara  besar dunia. Namun jauh sebelum itu sebenarnya Pau secara rutin telah menjadi tuan rumah balap mobil yang terkenal hingga saat ini, yaitu Grand Prix Formula. Balapan ini pertama kali diselenggarkan di Pau pada tahun 1901.

Saat ini tercatat lebih dari 270 ribu orang menempati Pau. Warga menyebut diri mereka dengan sebutan Palois. Mereka sangat bangga dengan kotanya diantaranya  karena kota ini telah melahirkan 2 orang besar Perancis.

Yang pertama adalah Jean Baptiste Jules Bernadotte. Ia mengawali karir panjangnya sebagai tentara Perancis. Beberapa tahun kemudian oleh Napoleon I  ia diangkat menjadi Marshall / kepala polisi. Pengabdiannya untuk negara berakhir ketika ia menjadi raja Swedia dan Norwegia ! Kejadian langka ini terjadi pada tahun 1818. Uniknya, ia dipilih dan diangkat oleh rakyat Swedia dan Norwegia bukan karena hasil perebutan kekuasaan atau peperangan. Ia dipilih karena rakyat  menganggapnya sebagai diplomat sekaligus tentara yang adil, baik budi dan simpatik bahkan terhadap tawanan  yang waktu itu ditaklukannya. Disamping itu, raja Swedia ketika itu memang sedang putus asa karena kedua putra mahkotanya meninggal dalam usia sangat muda. Bernadotte yang di Swedia dikenal dengan nama Karl XIV Johan,  tetap menjadi raja hingga akhir hayatnya.

Chateau de Pau

Chateau de Pau

Yang kedua  adalah raja Henry IV. Ia dilahirkan di Chateau de Pau, sebuah kastil cantik yang semula adalah benteng yang dimaksudkan untuk melindungi kota dari serbuan musuh. Dari dalam benteng ini, Gave De Pau, sungai yang mengaliri kota, terlihat jelas. Benteng ini didirikan pada abad 11. Bila dilihat dari sejarah dan bentuk menaranya yang bergaya Mudejar, kelihatannya benteng ini adalah peninggalan Islam yang pada abad 7 hingga abad 14  pernah menguasai Spanyol dan Perancis bagian selatan.

Sebelum diangkat menjadi raja Perancis pada tahun 1598 – 1610, Henry IV adalah seorang raja Navarre, yang menguasai Aragon, Spanyol bagian utara. Ia adalah raja Perancis pertama yang menanda-tangani perjanjian kesepakatan toleransi antara pemeluk Katolik dan Protestan. Dibawah perjanjian inilah pemeluk Protestan akhirnya bebas menjalankan keyakinannya setelah sebelumnya dimusuhi dan dikucilkan. Meski untuk itu sang raja sendiri terpaksa harus berpindah keyakinan, dari Protestan menjadi Katolik. Ironisnya lagi, di akhir hayatnya ia juga harus meninggal di tangan seorang penganut fanatik salah satu pemeluk agama tersebut.

Seperti diketahui negri ini selama ratusan tahun ( sejak tahun 1562 – 1787 ) walaupun tidak secara terus menerus pernah dilanda krisis brutal perang antar kedua pemeluk agama yang memiliki akar yang sama yaitu, Kristen. Pembantaian pemeluk Protestan oleh pemeluk Katolik pada tahun 1572 yang ketika itu menjadi agama resmi kerajaan yang dikenal dengan nama Le Massacre de la Saint Barthelemy adalah contohnya.

Diperparah lagi dengan adanya campur tangan Inggris yang mendukung pemeluk Protestan dan Spanyol yang mendukung pemeluk Katolik, Perancis menjadi ajang pertempuran berdarah yang sungguh memilukan. Selama 200 tahun  walaupun telah berkali-kali ditanda-tangani kesepakatan toleransi antar keduanya, perang tetap tidak dapat dihentikan. Bahkan ketika di bawah raja Louis XIV pada tahun 1681, para penganut Protestan dibawah ancaman senjata dipaksa berpindah menganut Katolik.  Hasilnya, dalam  waktu 4 tahun pemeluk Protestan di negri tersebut hanya tinggal 15 % saja karena sebagian besar terpaksa melarikan diri dari negrinya sendiri ke berbagai negara tetangga bahkan hingga ke Amerika Utara dan Afrika Selatan. Di kemudian hari peristiwa ini dikenal dengan nama Dragonnade.

Sejak itu pula Perancis mengalami kemorosotan tidak saja moral namun juga ekonomi.  Karena sebagian besar pemeluk Protestan ketika itu adalah para pemegang perekonomian  yang dikenal handal. Akibatnya kelaparan merajalela dimana-mana sementara gereja dan keluarga kerajaan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan di kediaman resmi raja Louis XVI dan permaisuri Marie Antoinette di istana Versailles makin sering diadakan pesta-pesta yang  menghamburkan banyak sekali uang. Ini  yang akhirnya memicu lahirnya Revolusi Perancis di tahun 1789 yang cenderung tidak menginginkan adanya pengaruh dan kekuasaan agama dalam pemerintahan. Ini pulalah awal lahirnya konsep Laicite atau Sekulerisasi. Menurut konsep ini kebebasan beragama dijamin namun tidak untuk diperlihatkan kepada umum. Pada dasarnya konsep ini berpegang bahwa agama adalah urusan pribadi.

Inilah yang menjadi pegangan  mengapa sejak Maret 2004 simbol-simbol agama termasuk jilbab dilarang di negri ini meskipun hanya sebatas didalam lingkungan gedung pemerintahan termasuk sekolah negri. Meskipun pada kenyataannya sekolah swastapun melarang penggunaan jilbab. Bahkan dikabarkan sejumlah politikus belakangan ini telah mengajukan permohonan agar pemakaian jilbab di tempat-tempat  umum seperti di jalanan juga dilarang!

Namun lucunya, ketika dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Kairo Juni 2009 lalu, Barrack Obama,  Presiden Amerika Serikat, menyarankan bahwa sebaiknya Barat tidak perlu terlalu khawatir terhadap keberadaan Muslim, termasuk tidak perlu ikut mengatur busana apa yang pantas dikenakan seorang Muslimah, Sarkozy segera bereaksi bahwa negri  yang dipimpinnya  itu memberi kebebasan warganya untuk berbusana apa saja. “ Perancis adalah Negara Demokrasi , seorang Muslimah tidak dilarang memakai jilbab selama bukan karena dipaksa” , begitu tambahnya. Namun dengan catatan bahwa prinsip negrinya  adalah ‘Laicite’. Maksudnya …??

 Tiba-tiba saya teringat ketika beberapa  tahun yang lalu saya menyaksikan acara televisi Perancis  tentang pengakuan seorang perempuan Afganistan dan Iran yang menceritakan bahwa perempuan di negrinya akan ditangkap pihak penguasa bila ketahuan berjalan-jalan ditempat umum tanpa memakai  Burqa ataupun Jilbab. Saya terkesiap..Rupanya para perempuan  tersebut menutup aurat mereka karena terpaksa bukan karena keyakinannya… Astaghfirullah..

Saat itu kedua perempuan tersebut tampil di layar televisi  tanpa menutup auratnya. Mereka telah merubah penampilan layaknya perempuan Barat. Namun foto mereka ketika masih memakai Burqa dan Jilbal tentu saja tidak lupa  ditampilkan.

Ya Allah, Ya Robbi …bila yang bersangkutan  saja merasa seperti itu dan kemudian bahkan  membuat pernyataan terbuka di hadapan non Muslim yang notabene memang tidak menyukai ajaran Islam, apa yang dapat kita katakan …Benar-benar memalukan  …..

 ( Bersambung ke Suka Duka Muslim di Perancis (4))

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/22/suka-duka-muslim-di-perancis-4/

Pau-France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Adalah Aragon, sebuah propinsi paling utara Spanyol yang berbatasan langsung dengan Perancis. Di sejumlah tempat di propinsi ini ternyata masih tercecer kenangan sejarah Islam. Beruntung kami sekeluarga yang kebetulan mendapat kesempatan tinggal di Pau, sebuah kota di Perancis Selatan, atas izin-Nya, berhasil merekam keberadaan kota-kota tersebut.

Torla, Alquezar dan Ainsa. Ketiga kota ini masuk kedalam wilayah propinsi Aragon. Walaupun baru tiga kota ini yang berhasil kami kunjungi namun jejak Islam sudah tampak di wajah ketiganya. Selama abad 13, 14 dan 15 bangunan dan menara khas gaya Mudejar memang tetap dipertahankan di hampir seluruh pelosok Spanyol.

Tujuan pertama kami adalah kota kecil bernama Torla. Kota ini berada di salah satu puncak gunung pegunungan Pirenia Spanyol yang berjarak hanya sekitar beberapa puluh km dari perbatasan Perancis. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional yang dilindungi Negara dan merupakan warisan dunia yang dilindungi.

Menurut saya pribadi, pegunungan yang memiliki lebih dari 30 puncak gunung ini bermuka dua. Bagian yang menghadap Perancis kelihatan lebih hijau, subur dan teduh sementara sisi yang menghadap Spanyol terlihat kering, gersang dan panas. Batu-batu cadas besar yang menghiasi pegunungan ini terlihat gagah dan angker, mengingatkan suasana perjalanan dari Mekah ke Madinah ketika pergi haji atau umrah. Ketika itu temperatur mencapai 38 derajat Celcius!! Saya membayangkan tentu pasukan Muslim Arab yang dahulu berjihad menaklukkan negri ini demi tersebarnya Islam amat bersyukur mendapati kesamaan suasana dan cuaca daerah ini dengan negri asal mereka yang jaraknya ratusan km itu. Allahuakbar…

tora - Sepanyol

Tora , Aragon – Spanyol

Kota Torla berada di sisi kiri jalan menuju Taman Nasional. Puncak gunungnya yang berwarna putih kapur menjadi latar belakang pemandangan kota tua ini. Sementara menara gereja dengan salibnya yang dipasang di ujungnya terlihat mendominasi kota tersebut. Namun demikian warna Islam tetap terlihat melalui bentuk dan tata cara pengaturan kotanya. Bahkan menara gereja terlihat bahwa dulunya adalah menara dimana muazin mengumandangkan azan. Saya membayangkan suatu ketika dulu, ratusan tahun yang lalu mustinya penduduk kota ini, di jam-jam seperti ini sedang berduyun-duyun berjalan menuju masjid yang sudah berubah menjadi gereja tersebut demi memenuhi panggilan azan untuk shalat, mengagungkan nama-Nya. Masya Allah …

Sore harinya kami bermaksud langsung bertolak ke Alquezar. Namun karena perjalanan dari Torla ke Alquezar adalah jalan pegunungan yang jaraknya lumayan jauh maka kami memutuskan menginap di salah satu kota yang kami lalui. Kota tersebut adalah Ainsa.

Mulanya saya tidak begitu peduli dengan nama tersebut. Yang ada dalam benak saya hanya ” Aneh juga nama kota ini” . Namun ketika suami saya berkomentar ” Jangan-jangan dulunya nama kota ini An-Nisa ya..”.An-Nisa dalam bahasa Arab berarti perempuan. Ya..siapa tahu….” Cari informasi ah..”, jawab saya ketika itu.

Namun karena malam telah tiba, kami tidak sempat memperhatikan apalagi mencari informasi seputar kota Ainsa ini. Kami langsung mencari hotel, makan dan istirahat, tidur..Walau begitu selintas saya sempat melihat adanya semacam bangunan di atas bukit..mungkin benteng, yang diberi lampu penerangan cukup mencolok.

Belakangan saya baru tahu, ternyata tempat tersebut adalah landmark Ainsa, namanya La Plaza Mayor. Tempat ini diabadikan diberbagai macam suvenirnya, seperti asbak, gelas, hiasan dinding dsb. La Plaza Mayor adalah bekas benteng kuno yang dibangun kembali oleh raja Philip II pada tahun 1515-1516 untuk melindungi kota dari serangan musuh. Tak ayal lagi, benteng ini dulunya pasti milik Islam. Merekalah yang membangunnya ratusan tahun sebelum pembangunannya kembali.

Dari Ainsa, kami menuju Alquezar. Perjalanan sungguh menegangkan. Kendaraan berjalan menyusuri jalanan kecil yang meliuk-liuk tajam diatas bukit dengan jurang-jurangnya yang sangat dalam dan berbatu besar nan tajam. Beberapa kali saya terpaksa memejamkan mata sambil terus berdoa saking takutnya. Kurang lebih 2 jam kemudian akhirnya kamipun tiba di tujuan.

Alquezar,Spanyol

Alquezar, sebuah nama berbau Arab Al-Qashar yang tampaknya diserap ke dalam bahasa Spanyol dengan arti istana, sama dengan bahasa aslinya, adalah sebuah istana tua berbenteng yang berdiri di atas bukit di pegunungan ‘ Sierra Guarra’, Aragon. Istana ini dibangun oleh Jalaf ibn Rasid pada awal abad ke 9 dan sekaligus berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi ibu kota Barbastro yang terletak beberapa km dari Alquezar dari ancaman kerajaan Kristen Sobrarbe. Istana ini jatuh pada tahun 1069 M dibawah raja Sancho I yang kemudian menjadikannya sebagai tempat pertahanannya.Jalanan di dalam kota Alquezar

Bangunan dan rumah-rumah tuanya yang terbuat dari batu bata merah, jalan-jalannya yang kecil meliuk dan menanjak serta pintu kota dan benteng lengkap dengan gemboknya. Semua ini adalah bangunan khas gaya Mudejar yang sengaja dipertahankan dan menjadi kebanggaan penduduk setempat hingga kini. Ini jelas terlihat karena mereka memang menuliskannya di papan yang dipasang di depan pintu masuk kota untuk menarik perhatian pengunjungnya. Namun demikian saat ini tak ada satupun peninggalan Islam yang tertinggal di dalam kota benteng  ini.

Ingatan sayapun melayang  jauh ke belakang, ke beberapa  ratus tahun yang telah silam.

Pada tahun 711 M, Thariq ibn Ziyad, seorang panglima bani Umayah tiba di semenanjung Iberia ( Spanyol-Portugal) melalui selat Gibraltar. ( Nama ini berasal dari 2 kata yaitu Gibral/Jabal yang berarti gunung dan Tar dari Thariq, sang penakluk, dengan pengucapan lidah barat). Setahun kemudian daratan yang semula berada dibawah kekuasaan kerajaan Kristen Visigothic ini jatuh ke tangan dinasti Umayah. Ketika itu sebagian besar daratan Eropa masih berada didalam kegelapan. Mereka masih hidup terbelakang dan belum mengenal peradaban.

Dari semenanjung inilah sedikit demi sedikit pasukan Umayah berhasil memperluas kekuasaan hingga mencapai sebagian besar wilayah Pay Basque di pegunungan Pirenia-Perancis hingga 200 tahun lamanya. Mereka bahkan hampir menguasai pedalaman Perancis bila saja pada pertempuran di Poitier pada tahun 733 M tidak berhasil dikalahkan pasukan Perancis dibawah raja Frank Charles Martel.

Sementara itu pada tahun 755 M dinasti Umayah di Syam jatuh ke tangan dinasti Abbasiyah yang beraliran Syiah. Abdul Rahman ad-Dakhil, penguasa terakhir dinasti Umayyah berhasil lolos dari kejaran Abbasiyah dan menyelamatkan diri ke Spanyol. Di negri ini ia berhasil mempertahankan satu-satunya kekuasaan dinasti Umayah yang tertinggal dan mendirikan kerajaan Andalusia yang lepas dari kekuasaan pusat Abasiyah.

Dibawah kekuasaan Abdul Rahman an-Nashir, yang berkuasa antara tahun 912-961, Andalusia mencapai kejayaan pada segala bidang kehidupan. Kerajaan ini secara mutlak menguasai seluruh semenanjung Iberia selama 275 tahun, yaitu hingga tahun 1030 M. Sayang setelah itu ia terpecah menjadi lebih dari 20 ‘ muluk thawaif’ atau kerajaan-kerajaan kecil yang lemah dan menyebar diseluruh Iberia. Yang terkenal diantaranya adalah kerajaan Seville ( 1056-1147) dan Granada ( 1237-1492) sebelum akhirnya benar-benar lenyap setelah ditaklukkan kerajaan Kristen dibawah raja Castilla, Ferdinand II. Kerajaan-kerajaan kecil Islam ini jatuh disebabkan tidak adanya persatuan di dalam tubuh mereka.

Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam”. (HR Bukhari).

Jadi pihak Kristen sebenarnya hanya memanfaatkan kelemahan tersebut. Orang Spanyol menamakan peristiwa kemenangan mereka itu ‘Reconquista’ yang berarti Penaklukan Kembali. Namun berbeda dengan ketika pasukan Islam berhasil menaklukkan Spanyol dan sekitarnya. Ketika itu penguasa Muslim memberikan 2 pilihan kepada penduduk yang dikalahkannya ; memeluk Islam atau membayar jiziyah ( semacam zakat yang khusus dikenakan kepada non Muslim/kaum dzimmi). Tetapi ketika penguasa Kristen mengalahkan Islam, sebagian besar penduduknya dibantai. Antisemitisme ( budaya membenci orang Yahudi), pengusiran dan pembantaian Muslim adalah hal yang biasa terjadi pada era tersebut.

Padahal selama 700 tahun kekhalifahan Islam berkuasa, kekhalifahan ini berhasil memperkenalkan tidak saja sains, seni, budaya dan ekonomi namun juga toleransi beragama yang sangat tinggi ke dalam kehidupan negri di ujung selatan Eropa tersebut. Pemeluk ketiga agama samawi yang mendominasi negri tersebut, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi hidup harmonis dan saling menghargai.

Demikian pula sains dan ilmu pengetahuan yang pada masa keemasan kerajaan Andalusia telah mencapai kejayaan mengalami kemunduran. Keduanya bahkan dianggap menentang dan menjatuhkan wibawa gereja di mata umum. Gereja dan para pemimpin agama ( Kristen ) terus berupaya memaksa rakyat agar menjadikan mereka sebagai pimpinan tertinggi yang harus ditaati secara mutlak. Pada zaman ini pula Perang Salib mulai diperkenalkan. Gereja berhasil memprovokasi timbulnya kebencian dan rasa permusuhan yang dalam terhadap Islam.

Akhirnya budaya tahayulpun berkembang pesat menggantikan ilmu pengetahuan dan sains. Kehidupan negri Kristen ini kembali mundur ke belakang. Sementara itu di belahan dunia lain yang tetap dikuasai Islam, yaitu Mamaluk dan kemudian kekhalifahan Otoman yang berpusat di Istambul sedang mengalami kebesaran dan kejayaannya. Itu sebabnya banyak orang Eropa berdatangan ke kota-kota Islam untuk menimba berbagai ilmu pengetahuan. Pada era ini pula muncul para orientalis, yaitu orang-orang Kristen dan Yahudi yang datang ke Yerusalem dan kota-kota besar Islam lainnya untuk belajar tentang Islam dan tradisi Arab namun sayangnya dengan tujuan untuk menjatuhkan dan mengalahkan Islam.

Perlu menjadi catatan, kejatuhan terakhir kerajaan Islam Granada pada 1492 M sebenarnya lebih disebabkan oleh raja terakhirnya, Abu Abdullah Muhammad bin Ali, yang kurang memperhatikan salah satu ayat penting dalam Al-Quran. Suatu ketika ia menggabungkan pasukannya kedalam pasukan raja Ferdinand II untuk berperang melawan musuh. Namun apa lacur setelah gabungan pasukan ini menang, Ferdinand berbalik menyerang dan merebut kekuasaan sang raja. Seluruh kekayaannya dirampas hingga ia terpaksa pergi meninggalkan istananya menuju Afrika dan hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan.

Dibawah raja Ferdinand II dan istrinya ratu Isabelle inilah kaum Muslimin dan Yahudi mengalami pengusiran secara besar-besaran.

« Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” .(QS.An-Nisa(4):138-139).

Di kemudian hari dunia menyebut penduduk asli Andalusia yang memeluk Islam pada era ketika Muslim berkuasa dengan sebutan Moor / Muladi / Muwallad. Sementara mereka yang tetap ingin memeluk Kristen, agama lama mereka disebut dengan panggilan Mozarab. Kemudian pada era ketika Kristen berkuasa, orang-orang Islam yang tidak mau memeluk Kristen disebut sebagai kaum Mudejar. Kaum ini dikenal sebagai kaum terpelajar. Sayang mereka hanya dapat bertahan beberapa tahun di negri ini sebelum akhirnya diusir dan terpaksa harus meninggalkan tanah Iberia untuk selama-lamanya.

Namun demikian, atas izin-Nya, peninggalan kejayaannya hingga detik ini tidak berhasil begitu saja dihapuskan. Andalusia dengan istana ‘Alhambra’-nya yang megah di Granada, Cordoba dengan ‘ Mezquita’-nya dan Sevilla dengan berbagai bangunannya adalah sebagian contohnya.

Pandangan saya kembali ke tebing-tebing  tinggi yang mengitari Alquezar. Saat ini disamping karena sejarahnya, Alquezar menarik banyak pengunjung karena geografisnya. Istana ini dikelilingi oleh tebing-tebing kapur tinggi yang sangat digandrungi pencinta alam untuk berolah raga ‘canyoning’, seperti memanjat canyon, terjun, renang serta menjelajahi sungai Ebro yang mengalir diantara jurang-jurang tingginya yang sempit. Pemandangan didalam celah tebing tersebut memang sungguh menakjubkan.

Wallahu’alam bishawab.
Semoga bermanfaat.
Pau-France, 21 Agustus 2009.

Vien AM.

Referensi :

“ L’Islam en Europe” oleh Herscher.
“ Sejarah Islam” oleh Ahmad al-Usairy
http://en.wikipedia.org/wiki/Umayyad_conquest_of_Hispania
http://www.xmission.com/~dderhak/index/moors.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Mudejar
http://es.wikipedia.org/wiki/Torla Torla

Bersambung ke : https://vienmuhadi.com/2009/11/10/menilik-jejak-islam-di-eropa-2-andalusia/

Read Full Post »

Mei  2008. Setelah Masjidil Aqsho, kunjungan ke Kairo adalah merupakan tujuan terakhir dari paket umrah kami kali ini. Pesawat Air Jordan yang kami tumpangi terbang lumayan rendah  diatas gurun Sinai di perbatasan  Yordania-Mesir. Lautan pasir gersang tersebut terlihat angker dengan bukit-bukit batu  cadas disana sini. Bayangan nabi Musa as dan saudaranya nabi Harun as secara spontan terlintas di benak saya.    Tak dapat dibayangkan betapa beratnya perjuangan kedua nabi Allah itu ketika harus memimpin bani Israil lari dari kejaran tentara Firaun. Entah berapa lama perjalanan yang mereka butuhkan hingga sampai ke gurun Sinai. Di tempat ini pulalah Musa as dan kaumnya terpaksa harus menetap selama 40 tahun disebabkan sifat pengecut dan tidak setianya bani Israil. Mereka enggan memenuhi perintah rasul-nya untuk  memasuki tanah Palestina yang ketika itu dijanjikan Tuhannya.

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (QS.Al-Maidah (5):22).

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. …“(QS.Al-Maidah (5):26).

Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak pula laut Merah yang memisahkan benua Asia dari benua Afrika. Saya berusaha keras membayangkan bahwa laut tersebut berwarna merah sesuai dengan namanya namun tidak berhasil. Dari pesawat udara laut tersebut memang  tidak sebiru seperti umumnya laut tetapi juga tidak merah.

Pikirannya saya kembali menerawang , kira-kira bagian mana  laut tersebut yang berabad-abad tahun yang lalu pernah   terbelah dan menenggelamkan  Fir’aun dan bala tentaranya.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”.(QS.Al-Baqarah(2):50).

Ingatan saya kembali ke Palestina, tepatnya ke makam nabi Musa as yang terletak sekitar 11 km dari kota Jericho.  Kalau dipikir sungguh keterlaluan kaum Yahudi ini. Mereka sama sekali tidak tahu berterima-kasih. Musa as yang telah demikian bersusah payah berjuang membawa keluar bani Israil dari kekejaman Firaun, penguasa Mesir ketika itu , ternyata  makamnya amat sangat sederhana. Padahal kaum yang dulunya hanya diperlakukan sebagai budak belian itu sekarang telah menjadi kaum yang berpendidikan tinggi dan terkaya di dunia.

Modern Kairo

Modern Kairo

Tak lama kemudian pesawatpun  mendarat di bandara Kairo.  Suhu udara di ibu kota Mesir tersebut sangat panas dan berdebu.  Mula-mula perjalanan dari bandara menuju pusat kota melalui jalan utama Kairo cukup mengesankan. Jalan raya  dengan jalur hijau yang ditanami pohon palem terlihat relatif teduh dan bersih. Bangunan-bangunan disepanjang jalan juga tertata rapi bahkan ada sedikit kesan ‘eropa’di sana sini.  Apalagi menjelang jembatan utama yang menyeberangi sungai Nil, kota Kairo terlihat indah, tak kalah dengan kota-kota besar dunia lain, khas kota metropolis.

Namun makin lama makin terlihat wajah asli kota Kairo seperti yang dilukiskan Habibul Rahman dalam novel “ Ayat-ayat Cinta”nya. Kairo terlihat ‘crowded’   dan kumuh.  Berbagai jenis angkutan umum bercampur baur lengkap dengan klaksonnya yang memekakkan telinga. Para pejalan kaki menyebrang  sembarangan. Saya teringat apa yang dikatakan guide kami tentang trik menyebrang jalan di kota ini. Satu, tutup telinga, tutup mata. Dua mantapkan hati untuk menyebrang dan terakhir baca doa! Alhasil, saya dan suamipun sampailah di mal yang terletak diseberang hotel walaupun dengan hati ketar-ketir karena memang kami nyaris tertabrak!

Dilihat dari sejarah dan bentuk bangunannya, Kairo terbagi menjadi 2, yaitu Kairo modern dan Kairo kuno. Pemerintah tampaknya tidak mungkin merenovasi wajah Kairo kuno karena selain sarat sejarah juga padatnya penduduk. Namun di sisi lain ia tetap ingin menggunakan kota tersebut sebagai ibu kota. Oleh karenanya dapat kita saksikan sekarang adanya berkilo-kilo meter bangunan tua dan kumuh sepanjang jalan yang sudah tidak digunakan dan akhirnya dimanfaatkan penduduk sebagai kuburan dan ditinggali penduduk miskin sebagai penjaganya.

Hal pertama yang bagi sebagian besar wisatawan sebuah surprise adalah kenyataan bahwa  pyramid raksasa ‘The Great Pyramid of Giza’ ternyata  hanya terletak beberapa km dari pusat kota. Bahkan ketika kami sedang menyantap makan siang di hari pertama kunjungan kami, ujung pyramid terlihat dari meja makan kami. Namun demikian keadaannya  langsung berubah begitu mendekati lokasi. Piramid berdiri kokoh  menjulang di gurun tinggi berpasir dan berdebu  tebal dengan ‘Sphink’nya, patung singa berkepala manusia, yang dengan  gagah perkasa seolah sedang menjaga agar lokasi tetap eksis tanpa harus bercampur dengan  riuh rendahnya suasana kota.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Malam  harinya pemandangan tampak lebih mengesankan lagi. Dengan bantuan beberapa lampu sorot yang diarahkan ke pyramid dan sang body guard ‘ sphink’ , para wisatawan dapat  duduk-duduk  di kursi yang ditata rapi menghadap pyramid sambil menghayal dan membayangkan kehidupan beribu-ribu tahun yang lampau.

Piramid Giza yang merupakan 1 dari 97 piramid yang ada di seluruh Mesir ini merupakan piramid terbesar dengan tinggi 146 m. Piramid ini terdiri dari 3 bangunan pyramid. Yang terbesar dibangun oleh  Raja Cheops (Khufu) pada 2500 an SM dalam waktu 20 tahun. Sedangkan pyramid kedua dibangun oleh putanya, raja Chepren ( Khafra’). Piramid selain menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raja konon juga dimaksudkan sebagai tangga menuju hidup abadi di singgasananya yang tertinggi yaitu di langit. Karena para fir’aun menganggap dirinya Tuhan.

Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.(QS.Al-Qashash(28):38).

Esok harinya kami pergi mengunjungi museum of Cairo. Berbagai peninggalan sejarah Mesir kuno terlihat di museum ini. Peradaban negri yang telah tumbuh subur sejak 7000 tahun silam ini memang menarik. Namun yang paling menarik adalah sejarah dan cerita tentang Fir’aun. Menurut sejarah, Mesir kuno pernah diperintah oleh 330 Fir’aun yang terbagi menjadi 31 dinasti. Setelah itu Mesir sempat takluk dibawah Iskandar Agung, Romawi dan kemudian Yunani sebelum akhirnya ditaklukkan Islam dibawah kepemimpinan panglima ‘Amru bin ‘Ash pada tahun 641 M pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab ra.

Adalah Tutankhamon, firaun yang diperkirakan meninggal dalam usia amat muda, yaitu 18 tahun. Makamnya ditemukan di ‘Lembah Para Raja’ atau ‘Valley Of The King’ pada tahun 1922 lalu setelah diperkirakan terkubur selama lebih 3220 tahun! Tidak hanya itu, para arkeolog bahkan  berhasil menemukan harta karun yang disimpan di sejumlah peti bersama jasadnya yang telah dimumikan. Harta yang berupa berbagai pajangan dan patung besar dan kecil yang terbuat dari emas dan marmer, perhiasan emas dan permata bahkan sejumlah kursi yang ditatah emas dan permata yang sungguh nilainya tak terkira itu sekarang memenuhi seluruh lantai 2 Museum Kairo.

Ironisnya, di lantai berikutnya dipajang pula keranjang kecil sederhana yang konon menyimpan jasad rakyat miskin yang tidak mempunyai apa-apa untuk menemaninya di alam berikutnya. Selanjutnya ada pula peti dengan gambar berbagai macam makanan, buah-buahan dan sayur mayur sebagai teman si mati yang hanya mampu membuat gambar apa yang dibutuhkannya di alam berikut.

Esoknya, karena pihak travel tidak mengadakan jadwal khusus kunjungan, saya,suami dan salah seorang diantara rombongan setanah air memutuskan mengunjungi piramid tertua di Mesir. Piramid yang berada di padang pasir Sakkara, 25 Km Kairo ini dibangun oleh Raja Zoser. Di lokasi pyramid ini masih terlihat adanya peninggalan bangunan kuno dengan pilar-pilar besar dengan berbagai lukisan yang menghiasi dinding marmernya yang berwarna merah muda kecoklatan.

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

Perjalanan dengan kendaraan pribadi milik seorang mahasiswa Al-Azhar yang hari itu merangkap menjadi guide sekaligus sopir kami ini berlanjut ke Memphis. Disini dapat kita temui patung raksasa Ramses II. Sayangnya, ntah mengapa patung setinggi 13 m ini tidak berhasil dibuat berdiri oleh para pembuatnya sehingga pengunjung hanya bisa melihatnya dalam keadaan terbaring.

Anehnya lagi, dari sekian banyak patung yang kami jumpai, sebagian besar hidungnya dalam keadaan rusak. Menurut beberapa guide, konon, mereka mempunyai anggapan bahwa orang yang telah meninggal pada suatu saat  dengan kembalinya roh si mati, ia akan hidup kembali. Dan melalui hidung inilah roh akan masuk ke jasad. Oleh karenanya untuk menghalangi agar mayit tidak hidup lagi, para musuh seringkali  merusak hidung patung musuh-musuhnya!

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Pada hari terakhir  kami mengunjungi peninggalan sejarah Islam. Kairo memiliki lebih dari 150 masjid bersejarah,diantaranya adalah Benteng Salahudin, Masjid Amr Bin Ash, Masjid Ahmad Ibnu Talon, Masjid Muhammad Ali Pasha,  Masjid Saiyedah Zenab, dan Masjid Al-Azhar. Masjid Amr Bin Ash tercatat sebagai masjid tertua di Mesir yang didirikan Gubernur Islam pertama di negeri itu, Panglima Amr Bin Ash, pada tahun 21 Hijriyah atau 721 Masehi.

Masjid Ali Pasha

Masjid Ali Pasha

Masjid Muhammad Ali Pasha yang berada didalam kompleks Benteng Salahuddin adalah peninggalan Islam pertama yang kami kunjungi. Masjid dengan arsitektur Turki ini sangat mirip dengan masjid Biru, Blue Mosque di Istambul. Masjid ini terlihat sangat menonjol karena selain memang megah dan besar juga terletak di ketinggian. Nama Ali Pasha sendiri diambil dari nama seorang panglima berdarah Albania yang ditugasi sultan Turki Ottoman untuk memerintah Mesir pada tahun  1800an. Sedangkan benteng Salahuddin adalah benteng yang dibangun oleh Sultan Salahuddin Al-Ayubbi pada abad 10 dari ancaman serangan pasukan Salib  ke negri tersebut. Meskipun ternyata pasukan ini pada akhirnya tidak pernah sampai ke daerah pusat kekuasaan sultan yang sangat dikenal keadilannya itu.

Selanjutnya adalah masjid Al-Azhar. Masjid yang hingga kini dikenal sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam ini dibangun  pada tahun 970M dan merupakan bagian dari universitas Al-Azhar. Di masjid ini kami sempat melaksanakan shalat Jumat yang diikuti banyak sekali jamaah perempuan.

Sayangnya, dari sekian banyak masjid dan peninggalan Islam hanya sebagian saja yang masih terlihat terawat dengan baik.

Jadwal acara malam terakhir kunjungan kami ke Kairo yang telah disusun pihak travel adalah makan malam di kapal pesiar. Namun kami mendengar bocoran bahwa di atas kapal tersebut biasanya di suguhkan acara tari perut ! Tentu saja kami protes. Bagaimana mungkin mereka tega mengotori wisata umrah ini dengan hal-hal yang tidak pantas.

Setelah melalui pembicaraan yang lumayan alot, orang Mesir memang terkenal dengan sifat keras kepalanya, akhirnya disepakati bahwa ketika penari akan masuk kami akan segera diberi kode. Dengan demikian kami bisa pergi keluar ke dok kapal.

Yang juga cukup mencengangkan adalah soal makanan. Makanan yang disediakan di kapal sungguh luar biasa buanyaknya. Namun ternyata orang Arab, yang merupakan tamu terbanyak di kapal, mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan tersebut dalam jumlah yang juga banyak hingga ada saja tamu yang tidak kebagian makanan. Namun apa yang terjadi? Makanan-makanan tersebut disisakan begitu saja di dalam piring hingga terbuang percuma…

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya ”.(QS. Al-Isra(17):26-27).

Esok paginya, kamipun pulang ke Jakarta dengan transit beberapa jam  di Bangkok dengan membawa kenangan dan hikmah yang banyak, Insya Allah…Terima-kasih Ya Allah …

Jakarta, Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »