Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Suka Duka Muslim di Perancis’ Category

Belum genap 4 bulan kami menetap di Pau, Perancis Selatan namun kembali kami telah dapat memetik satu lagi hikmahnya, Alhamdulillah… Terima kasih, Ya Allah..

Ini berkaitan dengan sistim pendidikan setingkat SMA, orang Perancis menyebutnya Lycee.  9 tahun yang lalu ketika kami untuk pertama kali menetap di Perancis ( Paris), kami memang tidak begitu merasakan hal ini. Mungkin selain karena si sulung ketika itu bersekolah di internasional school, kesadaran kami sebagai orang –tua juga belum begitu tinggi.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya …………”.(QS.Al-Baqarah (2):286).

Kali ini adalah si bungsu yang berusia 15 tahun. Karena di Pau tidak ada internasional school untuk tingkat SMA, akhirnya kami memutuskan menyekolahkan anak gadis kami tersebut ke sekolah Kristen dengan harapan minimum ia mendapatkan pelajaran akhlaknya. Ada beberapa point yang ingin saya ‘share’ disini, dari sudut positif maupun sudut negatifnya.

Pertama, masalah mutu pendidikan.

Di tanah air, adalah aib bila murid / anak sampai tidak naik kelas. Hampir bisa dipastikan yang harus menanggung malu tidak saja si anak namun juga orang tua, guru bahkan bisa jadi sekolahnya. Saya yakin itu sebabnya sebagian anak menjadi tidak merasa bersalah alias ‘biasa-biasa’ saja ketika ia ‘nyontek’  ketika diadakan tes atau ulangan. Karena targetnya memang jelas, jangan sampai tinggal kelas !!

Nah disini perbedaannya. Di Perancis, tidak naik kelas bukan aib. Karena targetnya adalah anak harus menguasai pelajaran yang diberikan sekolah. Jadi bila murid memang belum menguasai, mengulang atau tinggal kelas tidak masalah. Itu sebabnya ketika anak lulus SMA, ia sudah memiliki bekal cukup memadai hingga ia dapat langsung bekerja. Tentu saja bila si anak tidak ingin meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian ia tidak merasa rendah diri.  Disamping itu, pendapatannyapun memang mencukupi. Ini karena peran pemerintah yang serius mengurus rakyatnya. Standar gaji minimum yang memadai dan  jaminan kesehatan adalah salah satu contohnya.

Jelas ini sangat islami, amat sesuai dengan nilai dan ajaran Islam. Karena pada akhirnya  orang Perancis tidak suka membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin, sarjana atau bukan,  bos atau sopir bahkan tukang sampah sekalipun. Mereka saling menghargai. Mereka sama-sama menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS.Az- Zukhruf(43):32).

Yang Kedua, sikap memusuhi Muslim.

Ini adalah sudut negative yang sungguh menyakitkan. Mulanya saya tidak menyadari hal ini karena sikap ini bukan sikap pribadi melainkan justru sikap pemerintah !! Tentu kita tidak lupa bahwa Perancis, bersembunyi dibalik jargonnya yang ‘laic’ yaitu tidak berpihak kepada agama apapun, adalah negara yang pertama kali secara terang-terangan melarang pemakaian  jilbab di seluruh instansi negrinya. Ini terjadi pada tahun 2004 lalu.

Secara pribadi, saya sebagai muslimah berjilbab, memang tidak begitu merasakan dampak negatifnya. Saya baru benar-benar merasakan permusuhan  ketika baru-baru ini anak saya mendapat tugas sekolah.  Tugas tersebut adalah membaca, mempelajari serta membuat resume sebuah novel yang setelah saja ikut pelajari isinya ternyata memberi kesan buruk Islam. Hebatnya lagi, novel tersebut  mendapat penghargaan khusus dari pemerintah dan menjadi salah satu bacaan wajib murid SMA!! Astaghfirullah …

Dapat dibayangkan bagaimana orang Perancis memandang Muslim bila sejak remaja telah dicekoki pandangan dan pikiran buruk dan keliru seperti itu. Ini adalah bagian dari Perang Pemikiran (Al-Gawzl Fikri) yang amat menakutkan.Apa yang dapat kita perbuat ? Ini bukan hanya tugas berat saudara-saudari kita muslim/muslimah Perancis ataupun saudara-saudari kita yang menetap di negri yang memusuhi Islam. Namun juga tugas seluruh muslim/muslimah diseluruh belahan bumi ini.

Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Dengan masih banyaknya orang atau negara yang memusuhi Islam berarti ajaran Rasulullah saw saat ini belum sepenuhnya mencapai sasaran. Padahal para sahabat di masa lalu dengan susah payah telah berhasil menyebarkan Islam ke hampir separuh dunia. Seluruh jazirah Arab, Asia Tengah, Asia Kecil, Afrika Utara, Spanyol, Portugal, sebagian Perancis Selatan, sebagian Italia Selatan, sebagian Yugoslavia, sebagian Rusia Selatan ( Kazhastan, Uzbekistan ) hingga sebagian barat Cina dan Negri kita Indonesia telah menerima ajaran Islam.  Bahkan sebetulnya sebagian daratan Amerika yang dulunya milik suku Indianpun pernah dijajagi para sahabat. Saat itu Islam berada di puncak kejayaannya. Sains, seni dan filsafat berkembang dengan amat pesat. Sebaliknya barat berada dalam kegelapan. Terbalik dengan sekarang.

Saat ini dunia Islam memang sedang mengalami kemunduran. Namun ini tidak berarti kita tidak mampu berbuat banyak. Kita hidup ditengah era komunikasi yang super canggih meskipun tehnologi tersebut bukan milik kita. Ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin ; buku, telpon, sms,  chatting, Internet ( web, blog, Facebook, Indoface, MSN dll). Janji Allah pasti benar. Atas kehendak dan izin-Nya, di akhir zaman ini Islam bakal tersebar ke seluruh permukaan bumi, dengan atau tanpa partisipasi kita.

Adalah Marseille, sebuah kota pelabuhan terbesar di Eropa setelah Roterdam di Belanda. Setelah sekian lama menanti akhirnya kota dimana hidup sekitar 20 % Muslim ini dijanjikan bakal memiliki sebuah masjid dengan kapasitas 3000 jamaah lengkap dengan menaranya yang memiliki ketinggian 25m. Masjid ini diperkirakan akan siap menyelenggarakan shalat Ied Fitri pada pertengahan tahun depan, Alhamdulillah …

Namun belakangan, dengan ditanda-tanganinya sebuah referendum di Swis, yang isinya larangan bagi umat Islam untuk mendirikan menara masjid di negara tersebut, Muslim Marseillepun mulai was-was terhadap dampaknya. Akankah pemerintah Perancis latah mengikuti jejak Swis?

Sementara itu di Swedia, para imigran yang sebagian besar adalah Muslim terpaksa harus mengurut dada karena dipersalahkan menjadi penyebab berbagai kerusuhan dan kemunduran ekonomi di negara Skandinavia tersebut. Padahal mereka telah cukup lama menetap, bekerja dan berkarya di negri ini. Bahkan banyak yang telah beranak-cucu.

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. (QS.Ali Imran (3): 119).

Mengapa semua ini bisa terjadi? Disamping sifat iri dan benci kaum kafir terhadap ajaran Islam sebagaimana ayat diatas, tidak ada salahnya bila kita berkaca diri.

Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Tanpa bermaksud menjelek-jelekan saudara sendiri, saya sering melihat sekelompok anak muda Arab yang bergerombol sambil berteriak-teriak. Bahkan tidak jarang mereka ini dalam keadaan mabuk. Suami saya  juga bercerita bahwa beberapa temannya ( Muslim Indonesia dan beberapa bule non Muslim ) bahwa mobil mereka sering dilempari botol kosong minuman keras ketika malam hari mereka melewati perumahan Arab di seputar masjid !!

Begitu pula di Marseille yang sebagian besar warganya penggemar fanatik sepakbola. Tidak jarang mereka berbuat kerusuhan ketika tim kesayangan mereka yang datang dari Aljazair ( Muslim) kalah dalam pertandingan. Persis seperti para penggemar bola di Indonesia yang doyan berbuat keributan. Sungguh memalukan …

Bagaimana ini ? Bukankah Islam mengajarkan bahwa akhlak dan budi pekerti adalah cerminan Muslim? Bahwa Islam adalah agama yang santun ?

 “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh).

“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan ahlak yang mulia”.

“Tidaklah Aku utus engkau wahai Muhammad kecuali sebagai rakhmat seluruh alam.” “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki akhlak yang agung.”

Tampaknya umat Islam saat ini banyak yang lupa akan ayat dan hadis di atas. Padahal Muslim itu seharusnya layaknya pohon yang dapat memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain, bukan malah kebencian dan ketakutan. Umat Islam jumlahnya memang banyak tetapi seperti buih di lautan. Artinya tidak bermanfaat.

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Rasulullah saw telah memperingatkan hal ini, tinggal kita yang memilih ; menjadi buih yang pantas dibuang begitu saja atau menjadi inti yang penuh manfaat ? Cahaya Allah, dengan atau tanpa partisipasi kita tetap akan terus bersinar. Kitalah yang membutuhkan-Nya.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.(QS. As-Shaf (61): 8).

Wallahu’alam bishawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 2 Desember 2009.

Vien AM.

Catatan penting :

Masjid di seluruh Perancis tidak diizinkan untuk mengumandangkan azan. Namun berkat teknologi, atas izin-Nya, umat Islam tetap dapat mendengar panggilan shalat tersebut melalui komputer di rumah atau dikantor serta hp mereka. Subhanallah …

Read Full Post »

( Sambungan dari Suka Duka Muslim di Perancis (4)).

Bepergian dan mengenal bangsa, bahasa dan budaya negara lain bagi sebagian besar orang tentu hal yang sangat diimpikan. Apalagi bila kemudian kita bisa mengambil hikmahnya. Kita contoh adab dan kebiasaan mereka yang baik dan kita buang hal-hal yang negative dan berpotensi memalingkan kita dari mengingat Sang Khalik. Diantara prilaku bangsa Barat yang baik adalah kebiasaan mengantri, disiplin ( menghargai waktu), menjaga kebersihan serta mengucap salam ( mungkin ini hanya orang Perancis) . Sedangkan sikap yang tidak patut ditiru adalah terlalu materialistis dan yang terparah tidak mau mengakui keberadaan-Nya alias Atheis!

Namun berbicara diluar ke-Atheisme-an mereka, jujur, dibanding kita sebenarnya sifat dan sikap orang Barat lebih banyak baiknya daripada buruknya. Sikap buruk seperti hubungan bebas antara lelaki dan perempuan, berpesta dan bermabuk-mabukan yang ada pada mereka pada dasarnya karena mereka tidak mau memegang aturan agama. Itu sebabnya ketika orang Barat bersyahadat biasanya mereka sangat serius, pasrah sepenuhnya kepada aturan-Nya. Berbeda dengan kebanyakan dari kita yang meskipun mengaku beriman dan berislam namun ternyata dalam penerapannya tidak serius. Contohnya diantaranya ya itu tadi, kurang dalam menjaga kebersihan dan kedisiplinan.

Padahal Rasulullah bersabda : “ Kebersihan adalah bagian Keimanan” ?; “ Bukanlah orang Mukmin orang yang selalu mencela, mengutuk, berkata keji dan berkata kotor”.(HR. Muslim)

Buat saya pribadi, hal yang paling menyusahkan ketika bepergian ke negri dimana Muslim adalah kaum minoritas adalah dalam hal makanan. Padahal sebagian diantara kita ada yang salah satu tujuan bepergian adalah demi kuliner atau mengenal masakan negri yang dikunjunginya. Perancis adalah negara yang terkenal diantaranya karena masakannya. Orang Perancis memang dikenal sebagai pemuja makanan lezat. Bahkan dalam acara jamuan makan mereka bisa betah berjam-jam menghabiskan waktu untuk menikmati tahapan demi tahapan makan sambil membicarakan makanan tersebut. Mulai dari bahan dasarnya, cara pembuatannya hingga akhirnya berkembang ke segala macam pembicaraan bahkan perdebatan. Jangan lupa orang Perancis benar-benar hobby berdebat dalam segala hal!

Namun yang membuat kita susah adalah karena disamping mereka penggemar masakan yang terbuat dari daging babi mereka juga hampir selalu menambahkan alkohol, baik itu jenis wine, rhum maupun jenis lainnya. Bahkan saladpun yang kelihatannya hanya ‘sayuran’ tetap saja sausnya dicampur dengan alkohol jenis tertentu. Begitupun ‘entrée’ ;

Quiche Lorraine

Quiche Lorraine

Tarte Aux Pommes

Tarte Aux Pommes

makanan kecil pembuka dan dessert ; makanan penutup seperti quiche , tarte tatin, sorbet, joghurt dll yang sungguh tidak bakal mampu menahan air liur kita untuk tidak keluar …nyammm… Bila tidak menggunakan alkohol bisa jadi gelatinnya yang musti dipertanyakan. Itu sebabnya saya lebih memilih membeli makanan kecil pembuka dan penutup di supermarket daripada di restoran walaupun mungkin rasanya tidak seenak di resto. Mengapa? Karena di supermarket biasanya dicantumkan isi dan kadungannya.. Lebih aman kan?

Sorbet a La Fraise

Sorbet a La Fraise

” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. ( QS. Al-Maidah (5):90).

Yaah pikir-pikir jihad deh..jauh kan dibanding musti berperang seperti misalnya rakyat Palestina yang tertindas di negrinya sendiri atau rakyat Afganistan dll… Yaahh. g ada apa-apanya lah..

Hal lain adalah soal shalat karena sulitnya mencari masjid. Jalan keluarnya paling-paling ya digabung alias diqadha. Itupun hanya dikerjakan di dalam mobil atau duduk dimana saja yang memungkinkan. Namun bagi anak perempuan saya yang saat ini duduk di Lycee atau SMA agak berbeda kasusnya. Di musim panas dimana waktu siang amat panjang karena matahari baru terbenam pukul 9 – 10 malam, ia bisa meng-qodho zuhur dan asar sepulang sekolah. Meskipun terus terang saya agak kurang setuju karena kita bakal tinggal di negri ini hingga 3 tahun-an. Masalahnya adalah ketika musim dingin dimana.jam 5 matahari sudah mulai terbenam. Padahal sekolah baru bubar pukul 6 an.

Dengan alasan tersebut akhirnya saya berdua suami datang menghadap wali kelas dimana anak saya bersekolah. Ketika itu ia memang tidak langsung menjawab. Ia hanya mengatakan bahwa selama bertahun-tahun mengajar belum pernah ada permintaan seperti itu. Padahal sekolah memiliki cukup banyak murid Muslim, akunya. Hal yang cukup mengejutkan bagi kami. Karena kami pikir anak kami satu-satunya murid Muslim di sekolah tersebut. Namun demikian ia berjanji akan menyampaikannya kepada kepala sekolah. Beberapa hari kemudian anak saya menyampaikan bahwa ia mendapat izin menggunakan ruang wali kelas untuk shalat… Alhamdulillah.

Namun esok harinya anak saya kembali dipanggil guru lain. Katanya anak saya tidak mungkin menggunakan salah satu ruang untuk shalat karena nanti yang lain juga pasti menuntut hal yang sama. Ini kan sekolah Kristen, tambahnya . Kalau kamu memaksa silahkan saja shalat di halaman sekolah. Yaah bener juga , pikir saya. Siapa suruh sekolah di sekolah Kristen… Pertimbangan kami ketika itu disamping karena masuk sekolah negri lebih sulit juga karena di sekolah negri murid-muridnya lebih tidak ber-akhlak. Di sekolah Kristen minimal mereka mengenal Tuhan. Jadi otomatis mereka mengenal kata dosa ..

Hal lain adalah ketika suatu ketika saya harus cek kesehatan di kantor Imigrasi Paris. Ini adalah prosedur standard bagi pendatang. Karena suami datang ke negri ini lebih awal maka ia sudah cek lebih dulu. Ia mengingatkan saya untuk minta dipriksa oleh dokter perempuan karena berdasarkan pengalamannya pasien hanya diperbolehkan mengenakkan penutup bagian bawah tubuh seperti rok atau celana sementara bagian atas harus terbuka kecuali ( maaf…. ) kutang untuk kaum hawa!. Dan ini berlaku tidak hanya ketika dokter memeriksa tubuh pasien saja namun begitu kita memasuki ruang dokter untuk konsultasi..Astagfirullah..persis ‘ketek’ alias monmon, keluh saya.

Ironisnya lagi, permintaan saya untuk diperiksa oleh dokter perempuan ditolak walaupun sampai tiga kali saya memohon kepada tiga perawat yang berbeda. Alasannya dokter hanya 4 yang perempuan hanya satu. Jadi tidak bisa pilih-pilih. Yaah.. saya hanya bisa pasrah dan terus berdoa semoga saya kebagian dokter perempuan. Saya terus menghitung urut-urutan pasien sebelum saya dengan hati berdebar. Hingga tiba saatnya salah satu pintu ruang dokter lelaki terbuka ( sementara di dalam ruang dokter perempuan pasien belum juga keluar). Mata saya tidak berkedip mengikuti langkah sang dokter menuju ruang dimana setumpuk file pasien menanti. Menurut urutan normal mustinya itu giliran saya. Dokter mengambil satu file. Namun ntah mengapa tiba-tiba ia berbalik lagi. Meletakkan file, pergi sebentar kemudian mengambil file lagi kemudian memanggil sebuah nama. Pandangan saya sudah mulai agak kabur ketika tiba-tiba saya tersadar bahwa bukan nama saya yang dipanggil! Saya benar-benar tercengang karena yang dipanggil adalah nama pasien perempuan lain yang datang setelah saya. Allahu Akbar…” Trima-kasih Ya Allah”, bisik saya..

Selanjutnya tatapan saya beralih ke pintu ruang dokter perempuan yang belum juga terbuka. “ Kliik..”, tiba-tiba terdengar pintu ruang lain yang terbuka. “ Yaah.. g selamet deh”, pikir saya lagi. Tapi ternyata tidak juga. Dokter memanggil pasien lain lagi. Tak lama kemudian dokter perempuan yang amat saya harapkanpun keluar, pergi menuju ruang file dan memanggil nama …saya. Alhamdulillah..saya langsung tersenyum ceria seolah ada beban berat yang tiba-tiba menghilang. Saya tidak peduli apa yang ada dalam pikiran dokter yang telah menyelamatkan saya itu hingga pasiennya koq bisa seceria itu …Yang jelas sebelum saya keluar sang dokter sempat berkata “ Selamat jalan” sambil tersenyum simpul… Loh..koq ngomong bahasa Indonesia….

Beberapa menit kemudian sayapun telah berada didalam taxi menuju airport Charles De Gaulle – Paris. Ketika itulah saya menyaksikan dengan kepala sendiri seorang peminta-minta menyelinap di tengah jalanan yang macet di kota Paris. Ironisnya lagi, peminta-minta tersebut adalah seorang Muslimah! Dan saya yakin pasti orang tersebut adalah pengungsi korban perang salah satu Negara Muslim atau tepatnya bukan korban perang melainkan korban kerusuhan yang memang sengaja ditimbulkan musuh-musuh Islam! Hal yang beberapa tahun yang lalu tidak pernah saya saksikan. Fenomena ini dulu juga sudah ada. Namun biasanya mereka hanya duduk di perempatan jalan bawah tanah ( Metro) dimana di hadapan mereka tergeletak sebuah kotak untuk menaruh uang receh plus karton yang berisi tulisan bahwa mereka perlu untuk uang makan padahal mereka punya beberapa anak yang harus dihidupi. Disamping itu mereka juga bukan satu-satunya pengemis karena banyak juga orang Perancis asli yang hidup dengan cara seperti itu.

Camp Pengungsi Callais

Camp Pengungsi Callais

Tiba-tiba saya teringat peristiwa beberapa hari yang lalu dimana polisi Perancis menggelar operasi besar-besaran untuk membongkar paksa camp pengungsian di sebuah hutan di Callais, perbatasan Inggris- Perancis. Camp yang dihuni sekitar 270 orang pengungsi Afganistan ini, lebih dari separuhnya dikabarkan adalah anak-anak dibawah umur, sebenarnya telah ada sejak beberapa bulan lamanya. Berkat bantuan para relawan hingga saat penggebrekan beberapa waktu lalu mereka masih tetap aman. Mereka bahkan masih bisa menjalankan shalat berjamaah.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka dapat bertahan hidup di dalam tenda terbuka di hutan dengan segala keterbatasannya. Apalagi sebentar lagi musin dingin akan tiba. Saya pikir penggerebekan polisi kali ini adalah salah satu bentuk pertolongan-Nya. Karena biasanya di Perancis orang yang tertangkap karena tidak memiliki tempat tinggal akan ditempatkan di tempat penampungan. Separah-parahnya.paling lelaki dewasa akan dideportasi dengan biaya di tanggung pemerintah Perancis. Sekali lagi ini adalah cara Allah swt mengatur para hamba-Nya. Menurut Islam lelaki dewasa wajib meneruskan jihad mempertahankan negara dan agamanya setelah ia mengantar para perempuan yang lemah dan anak2 ke tempat yang lebih aman. Allahu Akbar..

Sementara dilihat dari sisi lain, disamping para pelajar, mahasiswa, expatriate dan para imigran Muslim sebenarnya keberadaan pengungsi (Muslim) ke belahan dunia Barat adalah bagian dari cara penyebaran Islam. Dengan cara ini minimal tuan rumah menjadi tahu bahwa Islam itu eksis. Adalah tugas mulia bila para pengungsi ini dapat membawa ajaran Islam dengan baik walaupun mereka hidup serba kekurangan dan mungkin kurang dihargai. Ini adalah cobaan sekaligus jihad bagi mereka. Patut diingat, bila boleh dan bisa memilih tentu tak ada seorangpun di dunia ini yang mau menjalani hidup seperti itu. Jadi sungguh beruntung kita yang tidak mengalami nasib seperti mereka.

Sebaliknya bagi pihak/negara penerima pengungsi. Harus diingat bahwa ‘ perang’ Afganistan, penindasan, kerusuhan dan kekacauan di berbagai negara Islam seperti Palestina, Irak dll jelas bukan perang. Afganistan misalnya. Negara ini ramai-ramai di’satroni’ dan dikeroyok Barat dengan alasan demi memerangi terorisme. Padahal nyatanya bukankah justru pengeroyokan itulah yang menyebabkan rakyat menderita, bukan? Demikian juga rakyat Palestina yang jelas-jelas ditindas di atas tanah negrinya sendiri…Apa sebenarnya motif di belakang ini semua? Minyak dan kekayaan alam Timur Tengah? Egoisme Yahudi ( dengan kendaran Amrik-nya) demi mendirikan negaranya? Atau gabungan antara keduanya….

Jadi sudah sepantasnya bila negara-negara yang saat ini didatangi para pengungsi itu mustinya bertanggung-jawab atas apa yang mereka lakukan. Namun bagaimana dengan tanggung –jawab dan reaksi para negara saudara seiman seperti Arab Saudi dll ??

 “ Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

Wallahu’alam bi shawab.

Pau-France, 28/9/2009.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan dari  Suka Duka Muslim di Perancis (3)).

Berdasarkan perkiraan kasar, dari total penduduk Perancis yang berjumlah sekitar 65 juta jiwa, sebanyak 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah Muslim. Data ini tidak akurat karena sejak tahun 1992 negri ini tidak pernah lagi mengadakan angket untuk menghitung jumlah Muslim di negrinya. Kelihatannya mereka tidak berani menerima kenyataan bahwa Islam terus berkembang pesat di Perancis.

Ini terlihat jelas dengan banyaknya majalah yang membahas keberadaan Muslim di negri tersebut. Mulanya saya terkejut sekaligus senang mendapati sejumlah majalah dengan cover tentang Islam. Namun setelah dipelajari ternyata tidak semua berkomentar positif. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai ancaman! Muslim di negri produksi parfum terbesar di dunia ini memang tercatat sebagai yang terbesar di Eropa. Di Perancis sendiri agama Islam menempati posisi  ke dua setelah Kristen walaupun bedanya sangat jauh. Meskipun begitu tetap jauh diatas jumlah pemeluk Protestan dan Yahudi.

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau - France

Namun demikian jumlah masjid yang ada di seluruh negri ini sangat jauh lebih sedikit dibanding pemeluknya. Begitu pula di Pau. Karena masjid hanya ada 1 maka umat Muslim terpaksa berdesak-desakan ketika harus melaksanakan shalat Jumat. Begitupun ketika shalat Ied. Karena pemerintah tidak memberi izin Muslim untuk melakukan kegiatan di lapangan terbuka sebagaimana yang diperintahkan maka umat terpaksa melaksanakannya di dalam masjid. Bila dilihat dari jumlah orang yang melaksanakan shalat Ied beberapa hari yang lalu, jumlah Muslim di Pau mungkin sekitar 1000-an.

Di dalam sejumlah masjid ini pula dari tahun ke tahun terutama di bulan Ramadhan,  sejumlah warga Perancis bersyahadat. Bahkan tahun ini dikabarkan sekitar 3.000 muslim Perancis merayakan Iedul Fitri dengan berumrah Ramadhan di Mekkah!

Mosque de Tarbes

Mosque de Tarbes

Ada pengalaman yang cukup menarik. Suatu hari di bulan Ramadhan kami pergi ke kota Tarbes, sekitar 1 jam perjalanan dari Pau bila melalui tol. Sebelumnya kami mendapat informasi bahwa di kota tersebut terdapat masjid yang lebih besar dari masjid di Pau. Singkat cerita kami shalat Magrib, Isya dan Tarawih setelah sebelumnya dipaksa pengurus  masjid agar berbuka ( dengan masakan Maroko yang menurut saya cukup lezat …nyamm..)  di  masjid Tarbes tersebut. Namun baru saja kami selesai mengucap salam, tiba-tiba seorang ibu setengah baya menghampiri, menyalami sembari mencium pipi kami berdua. Sebenarnya hal yang biasa saja.

 Yang tidak biasa adalah ketika ia bertanya apakah kami mengenal temannya seorang Indonesia yang menikah dengan seorang polisi Perancis. Nah.pertanyaannya, bagaimana ia  yakin bahwa  kami adalah orang Indonesia !. “ Dari busana yang dipakai anak perempuan kamu. Teman saya juga selalu memakai busana seperti itu ketika shalat “,  jawabnya.  Maksudnya mukena! Oo.. kami berduapun tertawa. Memang tidak ada di dunia ini muslimah yang memakai busana khusus ketika hendak shalat seperti mukena ini kecuali orang Indonesia , pikir saya geli.

 Dari pembicaraan tersebut akhirnya kami tahu ternyata ibu tadi adalah seorang Mualaf . Ia beserta suami, 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki2nya memeluk  Islam sejak beberapa tahun yang lalu. Allahuakbar…Ia menambahkan setiap  Ramadhan di kotanya hampir selalu ada saja orang  Perancis yang bersyahadat. Sekarang ketiga anak gadisnya bahkan mengenakkan jilbab. Saya komentar kepada anak perempuan saya “ Ternyata orang Perancis kalau memakai jilbab jadi mirip orang Arab de ya… cantik sekali ”. Begitu  pula kaum lelakinya, ketika mereka memanjangkan jenggotnya, sulit untuk membedakan bahwa mereka bukan orang  Arab.

 Di dalam bulan suci ini pula, tiba-tiba hampir di seluruh supermarket besar dan kecil di kota-kota Perancis dimana didalamnya terdapat Muslim, bermuncullan counter-counter daging halal. Yang juga mengejutkan di sekelilingnya berdiri pula  rak yang memuat Al-Quran lengkap dengan terjemahnya, hadis dan sejumlah buku tentang Rasulullah Muhammad saw dan  Islam. Dari sini tampak jelas bahwa kebutuhan beragama yang benar tidak mungkin dihambat apalagi dilarang.

 Suatu hari ketika sedang menunaikan shalat di masjid Pau, saya berbincang dengan beberapa remaja muslimah. Dari pembicaraan tersebut saya jadi tahu ternyata mereka menanggalkan jilbab hanya begitu memasuki area sekolah. Selebihnya seperti biasa kemana-mana mereka menutup auratnya dengan baik.…Subhanallah..     

 Cahaya Allah dan pertolongan-Nya makin terlihat benderang. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa wali kota Creteil, kota yang terletak sebelah Tenggara Paris, setelah 15 tahun dinantikan, akhirnya memberikan izin pendirian masjid di kota tersebut. Creteil adalah kota berpenduduk Muslim terbanyak tidak saja di Perancis namun juga di Eropa , yaitu 20 % dari 88 ribu penduduknya. Maket yang disetujui tersebut dikabarkan bakal memiliki  81 buah menara serta  berdaya tampung 2500 jamaah ! Ini adalah  sebuah “ kebijakan pengecualian “ yang sangat menggembirakan. Hanya atas izin-Nya semua ini bisa terjadi. Allahuakbar …

Namun sebetulnya ini bukan satu-satunya “surprised” . Karena sejak tahun 2003 di Lille, sebuah kota beberapa  km Utara Paris, telah didirikan sebuah sekolah Islam setingkat SMA,  Lycée Averroès. Averroès adalah  nama seorang cendekiawan Arab Andalusia di abad 12, Abdul Walid Ibn Rousyid. Di sekolah ini sekitar 80 muslimah bebas mengenakan jilbab mereka tanpa sedikitpun rasa  khawatir diganggu.

Di Pau sendiri saat ini dapat kita temui sejumlah ‘ Boucherie Musulmane’ alias  toko daging halal dan banyak sekali restoran khusus “Kebab”, daging halal khas Timur Tengah dengan sangat mudah. Namun sungguh disayangkan kedai-kedai ini tetap menyuguhkan minuman keras dalam menu mereka. Tadinya saya pikir mungkin untuk memenuhi permintaan pengunjung. Karena banyak juga bule non Muslim yang menyukai hidangan ini. Selidik punya selidik, ternyata sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak masa Mudejar, Muslim Muallaf Spanyol yang memperkenalkan Islam ke Perancis, telah terbiasa meneruskan tradisi minum minuman keras  sekalipun  telah bersyahadat dan melaksanakan shalat! Sungguh patut disayangkan.

Padahal banyak diantara mualaf yang tertarik pada ajaran Islam justru karena adanya larangan mengkonsumsi minuman keras dan juga karena kewajiban muslimah menutup aurat dengan jilbabnya. Para perempuan mualaf  ini mengaku merasa muak dengan kebiasaan mereka di masa lalu yang suka mengumbar aurat dan nafsu seksual mereka tanpa batas dan aturan. Mereka yakin bahwa jilbab adalah bentuk rasa kasih sayang dan perhatian Sang Khalik terhadap hamba-hamba-Nya…. Alhamdulillah..

( Bersambung)

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/29/suka-duka-muslim-di-perancis-5/

 Wallahu’alam bi shawab.

 Pau – France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Pau adalah ibu kota salah satu propinsi/departemen di Perancis yang dinamakan  Pyrene Atlantik. Kota ini terletak di kaki pegunungan Pirenea yang menjadi batas negara Perancis di selatan dengan Spanyol. Di kota ini terdapat beberapa lokasi stasiun ski. Pirenea memang merupakan pegunungan ke 2 di Eropa setelah Alpen yang menjadi sasaran liburan warga Eropa baik ketika musim dingin untuk bermain ski maupun untuk berbagai jenis olah raga di musim panas.

jalanan di pusat kota

jalanan di pusat kota

Selain sebagai tempat singgah menuju Pirenea, Pau juga dikenal sebagai kota pelajar. Di kota ini berdiri Universite de Pau dimana tercatat sekitar 19000 mahasiswa menimba ilmu di dalamnya. Berkat penemuan sumber minyak dan gas pada tahun 1949 di Lacq, beberapa km utara Pau, saat ini berdiri sebuah lembaga penelitian dan pengembangan minyak dan gas yang terbesar di Perancis. Untuk kepentingan itulah secara berkala lembaga ini mendatangkan sejumlah tenaga ahli / expatriate dari berbagai negara  termasuk Indonesia.

Berkat letak geografisnya yang penuh tanjakan dan kelokan Pau juga dikenal oleh para penggemar olahraga sepeda. Bahkan sejak tahun 1930 kota ini telah ditunjuk menjadi salah satu tempat, etape dalam seri Tour de France, lomba balap sepeda paling terkenal di Perancis yang diikuti sejumlah negara  besar dunia. Namun jauh sebelum itu sebenarnya Pau secara rutin telah menjadi tuan rumah balap mobil yang terkenal hingga saat ini, yaitu Grand Prix Formula. Balapan ini pertama kali diselenggarkan di Pau pada tahun 1901.

Saat ini tercatat lebih dari 270 ribu orang menempati Pau. Warga menyebut diri mereka dengan sebutan Palois. Mereka sangat bangga dengan kotanya diantaranya  karena kota ini telah melahirkan 2 orang besar Perancis.

Yang pertama adalah Jean Baptiste Jules Bernadotte. Ia mengawali karir panjangnya sebagai tentara Perancis. Beberapa tahun kemudian oleh Napoleon I  ia diangkat menjadi Marshall / kepala polisi. Pengabdiannya untuk negara berakhir ketika ia menjadi raja Swedia dan Norwegia ! Kejadian langka ini terjadi pada tahun 1818. Uniknya, ia dipilih dan diangkat oleh rakyat Swedia dan Norwegia bukan karena hasil perebutan kekuasaan atau peperangan. Ia dipilih karena rakyat  menganggapnya sebagai diplomat sekaligus tentara yang adil, baik budi dan simpatik bahkan terhadap tawanan  yang waktu itu ditaklukannya. Disamping itu, raja Swedia ketika itu memang sedang putus asa karena kedua putra mahkotanya meninggal dalam usia sangat muda. Bernadotte yang di Swedia dikenal dengan nama Karl XIV Johan,  tetap menjadi raja hingga akhir hayatnya.

Chateau de Pau

Chateau de Pau

Yang kedua  adalah raja Henry IV. Ia dilahirkan di Chateau de Pau, sebuah kastil cantik yang semula adalah benteng yang dimaksudkan untuk melindungi kota dari serbuan musuh. Dari dalam benteng ini, Gave De Pau, sungai yang mengaliri kota, terlihat jelas. Benteng ini didirikan pada abad 11. Bila dilihat dari sejarah dan bentuk menaranya yang bergaya Mudejar, kelihatannya benteng ini adalah peninggalan Islam yang pada abad 7 hingga abad 14  pernah menguasai Spanyol dan Perancis bagian selatan.

Sebelum diangkat menjadi raja Perancis pada tahun 1598 – 1610, Henry IV adalah seorang raja Navarre, yang menguasai Aragon, Spanyol bagian utara. Ia adalah raja Perancis pertama yang menanda-tangani perjanjian kesepakatan toleransi antara pemeluk Katolik dan Protestan. Dibawah perjanjian inilah pemeluk Protestan akhirnya bebas menjalankan keyakinannya setelah sebelumnya dimusuhi dan dikucilkan. Meski untuk itu sang raja sendiri terpaksa harus berpindah keyakinan, dari Protestan menjadi Katolik. Ironisnya lagi, di akhir hayatnya ia juga harus meninggal di tangan seorang penganut fanatik salah satu pemeluk agama tersebut.

Seperti diketahui negri ini selama ratusan tahun ( sejak tahun 1562 – 1787 ) walaupun tidak secara terus menerus pernah dilanda krisis brutal perang antar kedua pemeluk agama yang memiliki akar yang sama yaitu, Kristen. Pembantaian pemeluk Protestan oleh pemeluk Katolik pada tahun 1572 yang ketika itu menjadi agama resmi kerajaan yang dikenal dengan nama Le Massacre de la Saint Barthelemy adalah contohnya.

Diperparah lagi dengan adanya campur tangan Inggris yang mendukung pemeluk Protestan dan Spanyol yang mendukung pemeluk Katolik, Perancis menjadi ajang pertempuran berdarah yang sungguh memilukan. Selama 200 tahun  walaupun telah berkali-kali ditanda-tangani kesepakatan toleransi antar keduanya, perang tetap tidak dapat dihentikan. Bahkan ketika di bawah raja Louis XIV pada tahun 1681, para penganut Protestan dibawah ancaman senjata dipaksa berpindah menganut Katolik.  Hasilnya, dalam  waktu 4 tahun pemeluk Protestan di negri tersebut hanya tinggal 15 % saja karena sebagian besar terpaksa melarikan diri dari negrinya sendiri ke berbagai negara tetangga bahkan hingga ke Amerika Utara dan Afrika Selatan. Di kemudian hari peristiwa ini dikenal dengan nama Dragonnade.

Sejak itu pula Perancis mengalami kemorosotan tidak saja moral namun juga ekonomi.  Karena sebagian besar pemeluk Protestan ketika itu adalah para pemegang perekonomian  yang dikenal handal. Akibatnya kelaparan merajalela dimana-mana sementara gereja dan keluarga kerajaan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan di kediaman resmi raja Louis XVI dan permaisuri Marie Antoinette di istana Versailles makin sering diadakan pesta-pesta yang  menghamburkan banyak sekali uang. Ini  yang akhirnya memicu lahirnya Revolusi Perancis di tahun 1789 yang cenderung tidak menginginkan adanya pengaruh dan kekuasaan agama dalam pemerintahan. Ini pulalah awal lahirnya konsep Laicite atau Sekulerisasi. Menurut konsep ini kebebasan beragama dijamin namun tidak untuk diperlihatkan kepada umum. Pada dasarnya konsep ini berpegang bahwa agama adalah urusan pribadi.

Inilah yang menjadi pegangan  mengapa sejak Maret 2004 simbol-simbol agama termasuk jilbab dilarang di negri ini meskipun hanya sebatas didalam lingkungan gedung pemerintahan termasuk sekolah negri. Meskipun pada kenyataannya sekolah swastapun melarang penggunaan jilbab. Bahkan dikabarkan sejumlah politikus belakangan ini telah mengajukan permohonan agar pemakaian jilbab di tempat-tempat  umum seperti di jalanan juga dilarang!

Namun lucunya, ketika dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Kairo Juni 2009 lalu, Barrack Obama,  Presiden Amerika Serikat, menyarankan bahwa sebaiknya Barat tidak perlu terlalu khawatir terhadap keberadaan Muslim, termasuk tidak perlu ikut mengatur busana apa yang pantas dikenakan seorang Muslimah, Sarkozy segera bereaksi bahwa negri  yang dipimpinnya  itu memberi kebebasan warganya untuk berbusana apa saja. “ Perancis adalah Negara Demokrasi , seorang Muslimah tidak dilarang memakai jilbab selama bukan karena dipaksa” , begitu tambahnya. Namun dengan catatan bahwa prinsip negrinya  adalah ‘Laicite’. Maksudnya …??

 Tiba-tiba saya teringat ketika beberapa  tahun yang lalu saya menyaksikan acara televisi Perancis  tentang pengakuan seorang perempuan Afganistan dan Iran yang menceritakan bahwa perempuan di negrinya akan ditangkap pihak penguasa bila ketahuan berjalan-jalan ditempat umum tanpa memakai  Burqa ataupun Jilbab. Saya terkesiap..Rupanya para perempuan  tersebut menutup aurat mereka karena terpaksa bukan karena keyakinannya… Astaghfirullah..

Saat itu kedua perempuan tersebut tampil di layar televisi  tanpa menutup auratnya. Mereka telah merubah penampilan layaknya perempuan Barat. Namun foto mereka ketika masih memakai Burqa dan Jilbal tentu saja tidak lupa  ditampilkan.

Ya Allah, Ya Robbi …bila yang bersangkutan  saja merasa seperti itu dan kemudian bahkan  membuat pernyataan terbuka di hadapan non Muslim yang notabene memang tidak menyukai ajaran Islam, apa yang dapat kita katakan …Benar-benar memalukan  …..

 ( Bersambung ke Suka Duka Muslim di Perancis (4))

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/22/suka-duka-muslim-di-perancis-4/

Pau-France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada suatu hari Minggu, kami pergi mengunjungi Pay Basque. Provinsi di ujung Barat Daya Perancis yang berbatasan dengan Spanyol dan teluk Gasconi di Samudra Atlantik ini  ini terbagi menjadi 2, bagian utara milik Perancis dan bagian selatan dibawah kekuasaan Spanyol. Hendaye (Pay Basque Perancis ) dan Irrun ( Pay Basque Spanyol ) adalah dua kota  berdampingan yang menjadi batas  negara antara keduanya. Di Pay Basque yang dikuasai Spanyol sejak lama telah sering terjadi pembrontakan. Mereka  ingin lepas dari kekuasaan pusat karena merasa berbeda dalam segala hal, baik budaya maupun bahasanya.  Bahkan hanya dua hari setelah tulisan ini dibuat, sebuah bom kembali meledak di wilayah tersebut.

Tujuan pertama kami hari ini adalah La Rhune, puncak gunung terendah Pyrene ( 907 M). Jarak Pau dengan tempat ini tidak lebih dari 2 jam dengan kecepatan mobil rata-rata 120 km/jam.  Pemandangan disini  sungguh menakjubkan, saking dekatnya, laut dan pegunungannya seperti tak berjarak, . Pada musim dingin pegunungan yang dikenal dengan nama Pyrene ini menjadi tujuan kedua pecinta  olah raga ski dunia setelah Alpen. Pegunungan Pyrene terdiri lebih dari 30 puncak gunung. Sebagian diantaranya memiliki ketinggian diatas 3000 m.

puncak La RhuneUntuk mencapai La Rhune, dari St Jean De Luz kami menumpang ‘petit train’, kereta api mini yang dirancang khusus untuk para turis yang ingin mengunjungi gunung tersebut. Tak sampai 30 menit kemudian kami telah sampai di puncak gunung. Dari ketinggian ini kita dapat melihat perbatasan Perancis – Spanyol dengan sangat jelas. Dari sini bila mau, kita dapat turun dengan berjalan kaki selama 2 jam sambil menghirup udara segar pegunungan.

Setelah puas menikmati keindahan panoramanya kamipun turun dengan menumpang kereta yang sama yang siap melayani wisatawan setiap 30 menit sekali. Selanjutnya kami  menyusuri  ’ La Corniche ’ , jalan yang menghubungkan kota-kota di sepanjang pantai teluk Gasconi dari St Jean De Luz hingga Hendaye. Pay Basque ditambah dengan kecantikan bangunan kayunya yang khas gaya Basque rupanya hampir setiap waktu ramai dikunjunjungi wisatawan manca Negara. Kota-kota yang kami lewati, sekalipun kota kecil, tampak teratur dan tidak semrawut walaupun  kemacetan terjadi di sana sini. Tampak jelas  bahwa ekonomi negri ini telah merata hingga ke seluruh pelosok. Dua abad terakhir ini  Perancis atau Eropa secara umum memang telah jauh meninggalkan tehnologi dan peradaban Islam.

Namun dilihat dari segi peradaban, kesan tersebut segera hilang begitu kami  memasuki  pantai. Di tempat ini makhluk perempuan yang dalam pandangan Islam sangat dihormati, dengan teganya telah mempermalukan dan merendahkan diri mereka sendiri. Tidak cukup hanya dalam  bikininya, diantara mereka ini bahkan dengan santainya berjalan-jalan di tepi pantai  tanpa penutup dada !  Astaghfirulah…dalam hati saya berpikir apa bedanya mahluk terhormat yang diciptakan-Nya dengan sempurna ini dengan  (ups.. maaf.. ) anjing yang mereka bawa?? Bahkan binatang kesayangan peliharaan rata-rata orang Perancis ini  saja di beberapa tempat diharuskan memakai  penutup….

Menjelang sore, di sebuah kota kecil kami mencari restoran untuk makan siang. Namun mungkin karena sudah lewat waktu makan, hanya sedikit resto yang masih buka. Disamping itu banyak resto dan juga toko yang memang tutup dari jam 14.00 hingga jam 16.00. Karena tidak banyak pilihan, kamipun masuk ke salah satu resto terdekat yang masih buka. Setelah memperhatikan menu, sekilas saya bertanya apakah menu ayam yang tersedia tidak bercampur dengan babi. Dengan spontan sang pelayan yang asli bule Perancis itu segera  menjawab tentu saja tidak. Diluar dugaan ia malah menambahkan  bahwa restonya menyediakan menu  kebab yang pastinya halal.  Jadilah kami memesan 2 kebab  dan 2 menu sosis ayam . Namun ia segera menyela bahwa ia tidak yakin sosisnya tidak dicampur dengan daging babi. Terpaksa kamipun membatalkan pesanan sosis. Menu sosis diganti salad dengan ikan salmon untuk suami. Sementara saya sendiri kehilangan nafsu makan, jadi saya tidak memesan apapun.

Namun baru beberapa detik kami bernafas lega, anak muda tadi muncul lagi  di hadapan kami. Kali ini dengan raut wajah menyesal  ia berkata bahwa menurut bossnya isi kebab memang halal namun agar empuk rotinya diolah dengan bantuan minyak babi sebagai emulsi! Inna lillahi …..yaaahhh apa boleh buat, kebabpun batal. Akhirnya anak-anak terpaksa memesan baguette, roti panjang khas Perancis,namun  isinya tetap  daging kebab… Alhamdulillah bisa makan.

Namun yang membuat kami terheran-heran sekaligus kagum adalah sikap si pelayan tadi.  Dengan  besar hati dan sabar, tanpa takut kehilangan pelanggan, ia mau memberi tahu hal  yang sebenarnya. Disini terlihat bahwa ia sangat menghargai tamunya yang dalam hal ini tidak mengkonsumsi daging babi. Ia bahkan tahu mana yang halal dan haram bagi kami. Hal yang sangat patut untuk  dicontoh.  Kami angkat  topi untuknya.

Biarritz dari balik batu karang pantai
Biarritz dari balik batu karang pantai

Menjelang  pukul 6 sore kami tiba di Biarritz. Ini adalah kunjungan ke dua kami ke kota pantai tersebut. Sejak kunjungan pertama 6 tahun yang lalu, anak-anak sudah meng- ‘claim’ bahwa kota ini adalah kota favorit mereka. Belakangan kami baru tahu ternyata Biarritz adalah termasuk salah satu kota favorit dunia yang sering menjadi tuan rumah kejuaraan surfing dunia.

Sebelum turun, kami terlebih dahulu melaksanakan shalat zuhur dan ashar berjamaah yang diqodho, didahului dengan tayamum. Shalat terpaksa dilaksanakan  di dalam mobil.  ( Ketika itu Zuhur  sekitar pukul 14.00, Ashar  18.00, Magrib 21.50 dan Isya pukul 23.15). Kami memang hampir selalu melakukan shalat seperti ini ketika bepergian karena sulit menemukan Masjid. Untuk saya pribadi, pengalaman ini sungguh memberikan kesan yang sangat mendalam. Walaupun bisa jadi tidak semua orang setuju dengan shalat yang demikian.

Biarritz diantara laut & pegunungan
Biarritz diantara laut & pegunungan

Biarritz harus diakui memang sangat indah. Kota ini terletak  di sebuah teluk yang melengkung dengan latar belakang pegunungan. Hotel-hotel tinggi berdiri  berjejer di sepangjang pantai. Untuk menikmati keindahan pantai kita tidak harus turun dari kendaraan. Namun bila kita ingin menyusurinya dengan berjalan kaki tanpa kaki kita harus menjadi basahpun bisa. Jalan untuk pejalan kaki dibuat naik turun dan berkelok-kelok mengikuti garis pantai.

Di sebuah toko souvenir saya dan anak perempuan saya menyempatkan diri masuk dan melihat-lihat koleksinya . Namun tanpa disengaja anak saya menyenggol sebuah pajangan hingga mengalami sedikit kerusakan. Tanpa berkata sepatah katapun si penjaga segera menghampiri kami dan berusaha memperbaikinya.  Anak saya merasa serba salah. Saya sendiri perlahan-lahan keluar sambil berpikir apa yang sebaiknya kami lakukan. Anak saya juga menyusul keluar.

Tetapi  tak lama kemudian, merasa tidak nyaman, ia masuk lagi dan menanyakan apa yang harus dilakukannya. Dengan sopan si penjaga menjawab : ” Vous pouvez le remboursez ou bien se degager vite”, artinya kira-kira, dibeli atau mending buru-buru kabur aja!  Olala…g enak bener jawabnya… Terpaksa anak saya akhirnya membeli pajangan tersebut walaupun dengan mengomel pelan bahwa mungkin saja barang tersebut sudah rusak sebelum ia menyenggolnya…” Masa’ kesenggol pelan begitu aja udah patah…”, begitu keluhnya…:-(..

Belakangan anak saya bercerita, sambil membungkus barang yang sedikit rusak tadi sipenjual  berkomentar bahwa ibu kamu yang tadi berjilbab kan .? Aduuuh..untung anak saya segera memutuskan membeli barang tersebut, kalau tidak.. mau dikemanakan muka ini…  Yah itulah resikonya, tampaknya tidak ringan mengenakan jilbab, nama Islam adalah taruhannya..Ya Allah semoga Kau berikan aku kekuatan untuk istiqomah, amin.

Sunset di Biarritz
Sunset di Biarritz

Pukul 10 malam, setelah puas menikmati keindahan terbenamnya matahari di pantai, kami meninggalkan Biarritz menuju rumah dengan membawa sejuta kenangan yang tak akan terlupakan. Alhamdulillahi robbil ’alamin, segala puji hanya bagi –Mu, Ya Allah .. begitu banyak tanda kekuasaan yang Kau berikan dan tunjukkan  kepada manusia..semoga hidayah senantiasa  menyertai para hamba yang pandai mensyukurinya, amin.

Pau- France, Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

20 Juli 2009 pukul 19.30 WIB, kami berempat telah  berada di dalam sebuah pesawat menuju Paris,  Perancis.  Di dalam pesawat ini kami  melaksanakan shalat magrib dan Isya dengan di-jama’. Wudhu’ terpaksa kami lakukan secara tayamum karena air sangat terbatas. Penerbangan yang membutuhkan  waktu  kurang lebih 17 jam termasuk transit di Singapore ini sebagian besar adalah pada malam hari. Pesawat seakan berjalan di tempat tak mampu ‘ mengejar’ matahari.

Akibatnya kami kesulitan menentukan waktu  subuh. Sebaliknya bila mau kita mempunyai kesempatan yang  sangat banyak untuk bertahajud sembari  duduk menikmati kegelapan  di dalam benda  yang terbang tinggi mengarungi  samudra langit  luas nan gulita dan  sesekali merasakan guncangan  ketika pesawat  harus menembus awan tebal. Sebuah keheningan  menakjubkan  yang membuat diri terasa  teramat kecil  dan tak berarti. Akhirnya  pesawatpun mendarat dengan selamat di Charles de Gaule Airport Paris, Perancis pada pukul 6.20 waktu Paris atau pukul 10.20 WIB. Alhamdulillah.

Beberapa jam kemudian setelah mendapat taxi dan menitipkan  koper di hotel, dengan menumpang metro kami pun tiba di pelataran Arc de Triomphe. Dari sini kami menyusuri Champs Elysee, salah satu  boulevard  paling terkenal di dunia yang setiap  hari selalu dipenuhi turis mancanegara. Kunjungan ke kota Paris kali ini sebenarnya  sebuah napak tilas. Tepat  sembilan  tahun yang lalu, kami berada di tempat ini. Bedanya   ketika itu kami berlima. Saat ini si sulung tidak bisa ikut bergabung karena sibuk dengan  pendaftaran program S2 di UI Jakarta. Dan lagi, dulu ayahnya anak-anak mendapat pos di Paris sedangkan kali  ini di Pau, sebuah kota di dekat perbatasan Perancis-Spanyol di kaki gunung Pyrene,  sekitar 800 km selatan Paris.  Seperti ketika di Paris, kali ini kami juga akan menetap di Pau selama 3 tahun.

Di sebuah kedai  roti yang menyediakan meja kursi di trotoir kami beristirahat sebentar,  menyantap baguette ; roti besar khas Perancis,  sambil menikmati keramaian di sekitarnya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Place de La Concorde hingga kelelahan dan kembali ke hotel.

Esok sorenya  setelah mengunjungi  menara Eiffel , gedung pertunjukkan Opera yang cantik, Place de Tokyo; pelataran dimana si tengah dulu sering bermain papan seluncur, Sacre Coeur, gereja tua yang anggun di atas bukit yang merupakan tempat favorit si bungsu, kamipun pergi ke La Defense yang terkenal  dengan Grand  Arche-nya itu. Kami menutup perjalanan napak tilas sore itu dengan mampir ke Neuilly sur Seine, quartier elit dimana Sarkozy, presiden Perancis saat ini, dulu pernah menjadi  walikota. Di daerah inilah dulu kami tinggal.

Saya bersama si bungsu sedang duduk-duduk di taman  ketika seorang laki-laki setengah baya  ikut duduk di bangku di sebelah kami.  Setelah sedikit berbasa-basi, tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan tak terduga. Ia bertanya mengapa saya menutup rambut dan dada saya. Tentu saja dengan senang hati saya jawab bahwa agama saya yang memerintahkannya. Namun kemudian tanggapannya sungguh di luar dugaan. Ia berkata bagaimana mungkin orang zaman sekarang masih juga mempercayai kitab yang ditulis 14 abad yang lalu!  … Haaah?!?..kaget saya dibuatnya..

Apa boleh buat perdebatan ringanpun tak mungkin dihindari. Terus terang bahkan dalam bahasa ibupun bukan hal mudah untuk mempertahankan dan menerangkan  ajaran Islam. Apalagi dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa Perancis. Beruntung suami dan anak lelaki saya  kemudian juga ikut dalam perdebatan tersebut.  Namun ketika akhirnya saya bertanya apakah ia percaya pada kehidupan setelah mati dan jawabannya ‘ Non’, maka kami memutuskan untuk menghentikan perdebatan…Percuma.. Saya katakan  padanya : “ Oh, le pauvre..la  vie  n’est pas si simple , monsieur” ; hidup tidak sesederhana itu. Kemudian kami tinggalkan pria tersebut dalam keadaan tertegun-tegun. Alangkah malangnya, rupanya ia salah seorang diantara banyak orang Perancis yang atheis

Malam harinya, setelah sore itu kami pulang ke hotel dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan, ditemani si tengah suami,  pergi ke kedai kebab milik orang Turki yang terletak tidak berapa jauh dari hotel.  Mengetahui bahwa mereka berdua dari Indonesia dan muslim, mereka disambut dengan anthusias oleh si pemilik kedai. Sambil menunggu kebab siap dibawa pulang, keduanya diperkenalkan kepada para langganan yang sedang makan di tempat tersebut. Suasana akrab  menyelimuti mereka. Setelah berbasa basi mereka menanyakan tentang bom yang baru-baru ini meledak di Jakarta. Percakapan melebar hingga ke pertayaan mengapa Uztad Baasyir tidak juga dibebaskan dan  mengapa pula di Aceh yang katanya menerapkan syariah Islam tapi klub malam masih juga banyak bertebaran. ( ?1??)..apa ya jawabnya…

Percakapan berakhir ketika kebab siap. Si pemilik bermaksud memberikan potongan harga sementara  si pembeli berniat membayar lebih! Ikatan persaudaraan muslim terasa  sekali ditempat yang bermil-mil jauhnya  dari negri sendiri ini. Subhanallah…

Kunjungan ke Paris selama 3 hari tidak terasa usai sudah. Kami harus segera menuju Pau, besok suami sudah harus mulai bekerja kembali. Dengan mengendarai taxi kami menuju airport Orly, Paris. Didalam taxi inilah kami mengobrol dengan si sopir. Mungkin karena  saya memakai jilbab, sopir tersebut tanpa ditanya memperkenalkan dirinya  bahwa ia seorang Muslim. Walaupun ia lahir dan besar di Paris ia mengaku darah Aljazair dari kedua orang-tuanya tetap kental mengalir didalam tubuhnya. Dengan bangga ia menambahkan bahwa istrinya yang asli Perancis juga seorang Muslimah.Alhamdulilah…

Hari Jumat. Beberapa hari setelah kami tiba di Pau, suami mengajak saya dan kedua anak kami untuk shalat jumat di satu-satunya masjid di Pau. Masjid terletak di kawasan perumahan . Walaupun tidak terlalu besar tapi masjid terlihat bersih dan terawat. Ketika kami sampai disana khutbah baru saja dimulai. Sayangnya  khutbah diberikan dalam bahasa Arab(*). Saya perhatikan sebagian jamaah memang keturunan Arab.

Masjid Pau - France

Masjid Pau – France

Bagian perempuan  terletak di lantai atas. Khutbah disiarkan melalui layar tv yang dipasang di ruang ini. Kedatangan kami berdua, saya dan si bungsu,  rupanya cukup menarik perhatian. Selain karena jumlah jamaah yang tidak begitu banyak ( sekitar 50 an jamaah perempuan) hingga mereka hafal dan satu sama lain saling kenal  mungkin wajah kami juga asing bagi mereka. Beberapa diantara mereka melempar senyum ramah kepada kami. Suasana di dalam masjid hening. Kami perhatikan setiap kali penceramah bershalawat, jamaahpun ikut bershalawat dengan khidmat.

Shalat dilaksanakan setelah khutbah selesai. Imam membaca bacaan shalat dengan logat yang sangat kental  Arabnya  hingga saya merasa seperti di Mekah atau di Madinah saja. Hmm..sungguh syahdu. Usai  shalat, imam membacakan  syahadat beberapa kali dan diikuti seseorang. Rupanya siang  itu ada bule yang berikrar masuk Islam,  Allahuakbar!

Tak lama kemudian, sebelum bubar, tanpa kami duga seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan  menghampiri  kami  dan langsung mencium kedua pipi kami. Ia mengaku senang melihat kami berdua shalat di masjid tersebut. Perempuan berhidung mancung yang mengenakan abaya hitam itu berdarah Aljazair. Ia lahir dan besar di Perancis. Ia juga berbicara Perancis dengan fasih. Setelah sedikit berbasa-basi ia menanyakan apakah jumat depan kami akan kembali datang. Insya Allah..

( Bersambung)

(*) Pada kedatangan shalat Jumat berikutnya, kami baru menyadari ternyata khutbah yang kami dengar ketika itu adalah khutbah kedua. Khutbah pertama  dalam bahasa Perancis, Alhamdulillah..

Pau – France, 31 Juli 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts