Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

III. Masa Khulafaur Rasyidin.

Suatu ketika Rasulullah saw bersabda : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”.( HR.Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Dzahabi dan Hakim).

Kekhilafahan dibawah pimpinan sahabat terdekat dan terbaik Rasulullah, yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib adalah masa pemerintahan terbaik dan teradil setelah masa kenabian. Para pemimpin memberikan keteladanan sesuai syariah. Akhlak mereka sesuai tuntunan Rasullullah demikian pula hukum yang diterapkan. Sayang masa ini sangat singkat, yaitu hanya sekitar 30 tahunan.

Hal terpenting yang patut dicatat pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar adalah peristiwa dimana sebagian besar masyarakat murtad. Ada  yang kembali kufur ada yang mengaku-ngaku sebagai nabi dan ada pula yang menolak membayar zakat. Mulanya sebagian sahabat menasehatinya agar tidak memerangi mereka. Namun dengan tegas Abu Bakar berkata : ” Demi Allah, andaikan mereka tidak mau menyerahkan tali unta yang mereka pernah serahkan kepada Rasulullah pasti aku akan berjihad melawan mereka”. 

Maka berkat ketegasannya dalam menegakkan hukum inilah, Islam dapat berkembang pesat hingga kini. Padahal Abu Bakar dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut. Sebaliknya bagi Umar Bin Khattab. Sebelum menjadi khalifah orang mengenalnya sebagai pribadi yang kokoh dan keras. Namun pada peristiwa penaklukan Al-Quds di Palestina, Amirul Mukminin pertama ini  justru memperlakukan penduduk kota yang sebagian besar adalah ahli kitab itu dengan penuh kelembutan. Tidak ada korban pada peristiwa tersebut. Bahkan kedalam tangannya sendiri, pendeta Kristen pimpinan kota tersebut menyerahkan kunci kota dengan penuh kedamaian. Sang Khalifah hanya menuntut agar mereka bersedia membayar jizyah sebagai jaminan kemanan mereka. Selanjutnya mereka  bebas menjalankan ajaran agamanya tanpa harus sembunyi-sembunyi.

IV. Kekhilafahan Islamiyah dan para Diktator .

Telah datang suatu masa kenabian atas kehendak Allah kemudian berakhir.  Setelah itu akan datang masa Khilafah Rasyidah sesuai dengan jalan kenabian, atas kehendak Allah, kemudian akan berakhir. Lalu, akan datang masa kekuasaan yang terdapat di dalamnya banyak kezhaliman, atas kehendak Allah, kemudian berakhir pula.  Lantas, akan datang zamannya para diktator (mulkan adludan), atas kehendak Allah, akan berakhir juga. Kemudian (terakhir), akan datang kembali masa Khilafah Rasyidah yang mengikuti jalan kenabian. (HR. Imam Ahmad dan Al Bazzar)

Bila ditinjau dari sudut sains dan pengetahuan, masa kekhilafahan ( Umawiyah, Abbasiyah dan Ustmaniyah )  adalah masa keemasan Islam. Ilmu berkembang sangat pesat, ilmuwan bermunculan dimana-mana. Pembangunan berjalan begitu pesat. Tidak hanya masjid yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk menuntut ilmu namun juga madrasah sebagai lembaga pendidikan perguruan tinggi dan penelitian, pembangunan kota  mengalami puncak keindahan dan kemegahan Islam. Pendek kata, Islam telah berada di masa kejayaan dan keemasannya pada segala bidang.

Ironisnya bersamaan dengan kemajuan tersebut, dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan yang berarti juga semakin menumpuknya kekayaan ( termasuk dari ghonimah / pampasan perang) akhlak sebagian para pemimpinnyapun semakin lama semakin buruk. Kebudayaan Barat mulai masuk dan merusak aqidah para pemimpin. Mereka mulai tidak menjalankan tugasnya sesuai amanah, hukum dan peraturan ditegakkan dengan kurang adil. Akibatnya masyarakat mulai hidup dalam kemiskinan dan kebodohan. Akhirnya jatuhlah kekhalifahan ke tangan barat dan masyarakat Islampun hidup bercerai berai tanpa hukum Islam yang adil.

Sejak itu bermunculan negara-negara kecil yang dipimpin para diktator yang mengaku dirinya Islam namun memimpin negaranya tanpa hukum Islam yang adil. Hak rakyat terdzalimi sementara korupsi meraja-lela. Para pemimpin ini  bahkan tunduk kepada hukum Barat yang sekuler. Ironisnya lagi, dengan berbagai dalih dan alasan, ayat-ayat Al-Quran agar tidak memilih pemimpin dari golongan non Muslim malah diabaikan oleh sebagian besar kaum Muslimin. Mereka lebih memilih hukum sekuler dan meninggalkan hukum serta peraturan Islam yang adil yang secara fitrahpun sebenarnya tidak memihak pada golongan tertentu. Inilah yang saat ini sedang terjadi dihadapan  kita.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Maidah (3):51).

V. Penutup.

Berdasarkan pengamatan sejumlah ulama, saat ini kita sedang berada di ujung masa kediktatoran yang dzalim dan sedang menuju ke masa peralihan antara  zaman  tersebut dengan masa menjelang kembalinya kekhilafahan yang mengikuti jalan kenabian. Wallahu’alam.

Namun kekhilafahan tidak harus sama persis dengan kekhilafahan zaman Khulafaur Rasyidin ataupun kekhilafahan sesudahnya. Keadaan dunia saat ini telah berubah banyak. Sebagian besar umat yang mengaku diri Islam sesungguhnya tidak lagi benar-benar menjunjung ajaran, hukum bahkan ruh Islam yang murni. Pemikiran dan ideologi barat yang telah jauh merasuk  sejak jatuhnya kekhilafahan pada tahun 1923 masih melekat dalam hati sanubari dan pikiran umat.

Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit agar umat Islam mau kembali mempelajari hukum agamanya, agar umat ini bangga dan percaya diri akan hukum Islam yang adil sebagaimana dicontohkan Rasulullah pada periode Madinah 14 abad silam.

Saat ini perkembangan ke arah tersebut mulai terlihat. Jilbab dan busana Muslimah yang telah terbukti jelas dapat melindungi hak perempuan dari pelecehan seksual serta sebaliknya mampu membentengi lelaki dari godaan daya tarik perempuan, tampak mulai digunakan kembali oleh para Muslimah. Sementara bank syariah yang juga jelas berpotensi melindungi seluruh lapisan masyarakat dari kedzaliman  mulai bermunculan dan masyarakat mulai pula meninggalkan bank konventional yang menerapkan sistim Riba yang diharamkan dalam hukum Islam.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”( QS.Al-Baqarah(2):275).

Demikian pula dengan bermunculannya partai-partai Islam yang dengan berani menonjolkan ke-Islam-annya serta terbukti pula mulai mendapat dukungan masyarakat luas. Semoga dengan cara bertahap, hukum Islam yang terbukti adil dan tidak memihak akan melahirkan kembali kekhilafahan Islam yang diridhoi-Nya, amin. Karena hanya dengan cara inilah bumi dan isinya termasuk seluruh penduduknya akan mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang hakiki.

…. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu( Al-Qur’an). Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)” (QS.Asy-Syura’(42):14-15)

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Maret 2009

Vien AM.

Sumber :

1. Manhaj Dakwah Rasulullah oleh Prof. DR. Muhammad Amahzun.

2. Sejarah Islam oleh Ahmad Al-Usairy.

3.http://www.dataphone.se/~ahmad/uudmadin.htm

4.http://www.muallaf.com/index.php?view=article&id=497%3Amereka-bicara- tentang-piagam-madinah&option=com.content&Itemid=92

Read Full Post »

I. Mukaddimmah.

Sebagai umat Islam seharusnya kita menyadari bahwa tidak ada contoh dan keteladanan yang lebih baik dan lebih sempurna kecuali mencontoh dan meneladani apa yang telah diperbuat Rasulullah Muhammad saw, sebagai utusan Allah yang telah diberi kehormatan agar menyampaikan Al-Quranul Karim yang berisi perintah dan larangan dari Sang Khalik Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, Allah swt. Piagam Madinah yang dibuat beberapa saat setelah hijrah Rasulullah ke Madinah adalah contoh nyata yang mustinya di terapkan oleh para pemimpin dan penguasa Muslim dimanapun berada di belahan dunia ini. Sebagaimana telah kita ketahui, Islam bukanlah sebuah ajaran yang sekedar menerangkan bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hanya mengajarkan bagaimana cara melaksanakan sebuah ibadah, sebuah ritual tata cara penyembahan terhadap Tuhannya. Lebih dari itu, Islam adalah sebuah pandangan hidup, way of life.

Oleh sebab itu, ajaran ini menuntut agar pengikutnya membentuk sebuah masyarakat yang juga Islami yaitu masyarakat yang memiliki tatanan, aturan dan hukum yang bernafaskan ajaran Islam. Masyarakat yang seperti inilah yang dijanjikan-Nya bakal menuai kemakmuran, keadilan, ketentraman serta kebahagiaan tidak saja di akhirat namun juga dunia. Ini adalah janji Allah yang pasti. Banyak contoh negara, masyarakat maupun kaum yang mencapai kemajuan dan kemakmuran ketika mereka mentaati dan menerapkan hukum Allah.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik “. (QS. An Nur(24):5 5).

Keluarga adalah satuan terkecil dalam tatanan sebuah masyarakat. Selanjutnya keluarga-keluarga ini membentuk kelompok yang saling berinteraksi secara sosial. Mereka saling membantu dan menolong agar kepentingan mereka dapat terpenuhi. Dalam ajaran Islam saling membantu dan menolong hanya diperbolehkan dalam kerangka menegakkan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Itupun atas dasar kecintaan dan ketakwaan kepada-Nya.

Oleh karenanya demi menghindari perbedaan pikiran dan persepsi, hukum yang dijadikan pijakan harus pula hukum Islam, yaitu hukum-Nya bukan hukum yang didasarkan atas kebenaran pikiran dan pendapat sekelompok golongan atau bangsa maupun ras tertentu.. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa penduduk non Muslim otomatis harus pula menerapkan hukum Islam. Pun ketika penduduk Non Muslim tersebut hanya minoritas! Inilah keistimewaan yang jarang sekali ditemukan di negara manapun di dunia ini sekalipun negara yang memproklamirkan diri bahwa negaranya adalah Negara demokrasi seperti Amerika Serikat misalnya.

II. Pendirian Negara Madinah.

Penduduk Yatsrib, nama lama kota Madinah, sebelum hijrahnya Rasulullah selalu berada dalam perselisihan. Menurut beberapa sumber, penduduk kota ini adalah para pendatang dari Yaman, semenanjung Arab bagian Selatan. Mereka adalah suku Aus dan suku Khazraj yang termasuk kedalam bani Qailah. Mereka berbondong-bondong berpindah dan menetap di Yatsrib sejak ambruknya bendungan raksasa Ma’arib yang sebelumnya telah menjadi sumber kehidupan negri tersebut.

Kedua suku tersebut segera mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Mereka hidup dengan mengandalkan kemampuan lama mereka yaitu bertani. Hal ini menyebabkan kaum Yahudi yang telah lebih awal menetap di Yatsrib merasa tidak senang. Dengan sekuat tenaga mereka terus berusaha mengadu domba kedua suku yang ketika itu masih menyembah berhala ini. Mereka berhasil. Hampir setiap waktu suku Aus dan Khazraj terus bertikai dan berperang. Keduanya baru bersatu dan berdamai setelah Islam datang.

Selanjutnya mereka mendapat sebutan penghormatan sebagai kaum Anshor. Ini disebabkan jasa mereka yang telah dengan suka rela mau membantu dan menampung kaum Muhajirin yang diusir dari kota kelahiran mereka, Mekkah. Sejak itu nama kota Yatsribpun berubah menjadi Madinah Al-Munawarah. Di kota inilah Rasulullah mulai menata kehidupan masyarakat Madinah berdasarkan petunjuk Allah swt yang disampaikan melalui malaikat Jibril dan tertulis dalam kitab-Nya, Al-Quranul Karim.

Hal pertama yang dilakukan Rasulullah begitu beliau menginjakkan kaki di kota Madinah adalah mendirikan masjid. Masjid ini tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah ritual melainkan juga sebagai pusat segala aktifitas masyarakat Islam, baik dalam bidang spiritual maupun keduniaan. Di dalam lingkungan masjid inilah masyarakat Madinah menimba berbagai ilmu pengetahuan. Mulai ilmu pengetahuan keagaamaan hingga ilmu pengetahuan umum. Tempat ini selalu terbuka untuk umum, siapa saja, besar kecil, kaya miskin, lelaki atau perempuan, berhak masuk dan menerima pengajaran baik langsung dari Rasulullah maupun dari para sahabat.

Barangsiapa mendatangi masjidku ini dan ia tidak mendatanginya melainkan untuk mempelajari suatu kebaikan dan mengajarkannya maka kedudukannya laksana pejuang fi sabilillah. Namun barangsiapa datang bukan dengan tujuan tersebut maka ia seperti orang yang melihat harta orang lain” (HR Bukhari).

Langkah selanjutnya Rasulullah mempersaudarakan kaum Anshor dan kaum Muhajirin.

Tujuan adalah :

1. Menciptakan rasa kebersamaan dan persatuan.

2. Menyatukan arah dan pikiran pada satu tujuan yang sama.

3. Menanamkan solidaritas sosial diantara keduanya.

4. Menenangkan perasaan kehilangan kaum Muhajirin atas putusnya persaudaraan mereka di Mekah.

Disamping itu Rasulullah juga mengatur hukum dan tata cara pergaulan dan hubungan antar sesama penduduk Madinah, baik antar Muslim, antar Yahudi maupun antara Muslim dengan Yahudi. Hal ini sangat penting karena masyarakat Arab sejak dahulu telah dikenal sebagai bangsa yang memiliki sifat kesukuan yang teramat kental. Rasulullah menyadari bahwa hal tersebut tidak boleh dibiarkan karena hal yang demikian berpotensi menjadi penghalang persatuan umat.

Secara detail Rasulullah bahkan menuangkan segala peraturan dan hukum tersebut dalam sebuah perjanjian yang terkenal dengan nama Piagam Madinah. Sebagai produk yang lahir dari rahim peradaban Islam, piagam ini belakang hari diakui sebagai piagam yang mampu membentuk sekaligus menciptakan perjanjian dan kesepakatan bersama bagi membangun masyarakat yang plural, adil dan berkeadaban.

Hal ini diakui sejumlah sejarahwan dan sosiolog Barat diantaranya adalah Robert N. Bellah, seorang sosiolog jebolan Harvard University, Amerika Serikat. Ia menilai bahwa piagam Madinah adalah sebuah konstitusi pertama dan termodern yang pernah dibuat di zamannya.

Isi Piagam Madinah antara lain  adalah sebagai berikut :

1. Kaum Muslimin, baik yang berasal dari Quraisy, Madinah maupun dari kabilah lain yang bergabung dan berjuang bersama-sama adalah satu umat.

2. Semua Mukminin dari kabilah mana saja harus membayar diyat (denda) orang yang terbunuh di antara mereka dan menebus tawanan sendiri dengan cara yang baik dan adil antar sesama mukmin.

3. Kaum Mukmin tidak boleh membiarkan siapa saja diatara mereka yang tidak mampu membayar utang atau denda. Mereka harus membantunya untuk membayar utang atau denda tersebut.

4. Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.

5. Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang (olehnya).

6. Di saat menghadapi peperangan orang-orang Yahudi turut memikul biaya bersama-sama kaum Muslimin.

7. Jika diantara orang-orang yang terikat perjanjian ini terjadi pertentangan  atau perselisihan yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, perkaranya dikembalikan kepada Allah swt dan Muhammad Rasulullah.

8. Sesungguhnya Allah swt yang akan melindungi pihak yang berbuat kebajikan dan takwa.

( Baca lengkap : http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg02993.html ).

Itulah substansi dari Piagam Madinah. Piagam yang dibuat Rasulullah, terkait dengan posisi penduduk Madinah yang menunjukkan bahwa kelompok non-Muslim memperoleh jaminan keadilan dalam menjalankan agamanya. Hal ini akan menjaga integritas bangsa Madinah yang terdiri dari berbagai suku dan penganut agama, meskipun kaum Muslimin merupakan mayoritas. Piagam Madinah adalah jaminan integrasi bangsa dan persamaan hak dan kewajiban bagi masyarakat plural.

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. ( QS.An-Nur (24):52).

( Bersambung ke bagian 2) .

Read Full Post »

Pegunungan Apennis adalah rantai pegunungan sepanjang 1000 km di Italia yang membentang dari Italia bagian utara hingga Italia bagian selatan. Secara geografis pegunungan ini dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu Apennis utara, Appenis Tengah dan Apennis Selatan. Di Appenis Selatan inilah berdiri 2 gunung berapi teraktif  di Eropa yaitu gunung Etna ( 3330 m) dan gunung Vesuvius ( 1281 m ).

Gunung Etna tercatat sebagai salah satu gunung paling berbahaya di dunia. Hampir setiap tahun gunung ini memperlihatkan kemarahannya dengan menumpahkan lahar merah panasnya. Bahkan hingga detik ini pemerintah Italia belum bisa mengendurkan pengawasannya terhadap kegiatan berbahaya gunung yang terletak di pulau Sisilia  itu.

Sementara gunung Vesuvius yang terletak di teluk Naples di pantai Tirrenia tercatat sebagai gunung paling terkenal di dunia karena akibat letusannya mampu mengubur kota Pompei dan sekitarnya plus ribuan penduduknya yang tidak berhasil menyelamatkan diri.  Ironisnya lagi, bekas dan sisa kejadian memilukan yang  terjadi pada tahun 79 M ini hingga kini masih dapat kita saksikan. Mayat-mayat bergelimpangan di seluruh penjuru kota dengan berbagai posisi mengerikan. Dari ekspresi wajahnya jelas tampak bahwa mereka ini meninggal dunia dalam keadaan menahan sakit luar biasa. Para peneliti menemukan fakta bahwa leher dan rongga pernafasan korban disesaki lumpur dan debu ! Astaghfirullahaladzim ..

( Youtube Pompei, The Lost City, click :  http://www.youtube.com/watch?v=gmwylbF3-CA&feature=related )

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.(QS.Ali-Imran (3):137).                

Masyarakat Romawi dibawah raja Nero Claudius pada awal Masehi adalah masyarakat pagan. Mereka menyembah dewa dewi seperti Isis, Eleusis dan Mithras. Nero sendiri diangkat sebagai raja pada tahun 54 M pada usia 17 tahun.. Ia dikenal sebagai raja yang amat kejam. Bahkan kakak tiri dan ibunya sendiri dikabarkan dibunuh atas perintahnya ! Nero juga adalah raja yang mempopulerkan adu antara manusia dengan singa sebagaimana film The Gladiator yang mengerikan itu. Ironisnya, ia sendiri meninggal bunuh diri karena khawatir dibantai rakyatnya. Ini terjadi ketika militer melakukan kudeta terhadap kekuasaannya pada tahun 68 M.      

Yerusalem sebelum datangnya nabi Isa as.

Yerusalem di bawah kekuasan nabi Daud dan nabi Sulaiman  ( King Solomon) pada 1000 SM berada pada masa puncak kejayaan Yahudi. Sayang masa keemasan kerajaan ini hanya berlangsung tidak lebih dari 80 tahun saja. Setelah nabi Sulaiman wafat, kerajaan terpecah-pecah dibawah para raja yang zalim. Mereka tidak lagi mau mentaati dan menjadikan bekas raja mereka yang sholeh itu sebagai panutan. Perintah Allah yang tertulis pada kitab suci Taurat yang dibawa nabi Musa as tidak dijalankan dengan baik. Bahkan sebagian besar ayat-ayat tersebut mereka sembunyikan dan diputar balikan.

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?”….”.(QS. Al-An’am(6):91).

Akibatnya pertolongan Allahpun menjauh. Yerusalem kini menjadi bulan-bulanan para penguasa asing yang datang menjajah mereka.  Syria, Assyria, Babylon, Mesir dan  Romawi adalah diantaranya. Bahkan orang-orang Yahudi ini beberapa kali harus mengulangi sejarah pahit sebagai budak belian, persis seperti ketika mereka berada dibawah kekuasaan Fir’aun di Mesir pada masa nabi Musa as. Mereka hidup sebagai budak di negrinya sendiri, dibawa ke berbagai negri yang menjajahnya sebagai budak atau dipaksa pergi meninggalkan negrinya dan hidup terlunta-lunta. Inilah yang di kemudian hari dikenal dengan istilah Diaspora.

Bahasa Aramaic, bahasa asli bangsa Yahudi juga terkena dampaknya. Sedikit demi sedikit bahasa ini punah digantikan oleh bahasa Yunani. Ironisnya, kitab Tauratpun tak bisa mereka pertahankan dalam bahasa aslinya. Kitab ini diterjemahkan kedalam bahasa Yunani, diutak atik dan diubah disana sini hingga akhirnya jauh dari aslinya.      

Setelah beberapa ratus tahun berlalu, bangsa Yahudi akhirnya dapat kembali dan berkumpul di Yerusalem. Dengan sangat antusias mereka kembali mendirikan tempat peribadatan yang dulu sempat dihancurkan para penguasa. Ajaran Yahudi kembali dihidupkan walaupun sebenarnya telah mengalami penyimpangan. Namun tak lama   kemudian Yerusalem jatuh ke tangan kekaisaran Romawi. Pada masa inilah ajaran Yunani yang pagan masuk kedalam ke ajaran Yahudi. Karena penguasanya ketika itu memang memerintahkan hal tersebut.

Tentu saja para ulama dan penganut fanatik Yahudi memberontak. Namun dengan tangan besi mereka ini ditangkapi dan dikucilkan. Bahkan dibawah raja Herod I, raja Yahudi penguasa Yerusalem yang diangkat Romawi, mengeluarkan perintah agar seluruh anak lelaki Yahudi yang berumur dibawah 2 tahun dibasmi. Ini dilakukannya agar Romawi tetap memberinya kepercayaan sebagai penguasa Yerusalem. Herod I memegang tampuk pemerintahan tertinggi antara tahun 37 SM hingga  4 M.

Pada masa inilah Allah swt mengutus nabi Isa as ke kota Yerusalem. Ia diutus kepada  bangsa Yahudi agar mereka kembali ke jalan yang lurus. Yang menjadi raja Yerusalem ketika itu adalah pengganti Herode I yaitu Pontius Pilate yang naik tahta karena ditunjuk Romawi. Dibawah kekuasaannya bangsa Yahudi benar-benar mengalami penderitaan berat. Siapapun yang menentang kebijaksanaan Romawi harus dibunuh dengan cara disalib atau dibakar hidup-hidup !

Nabi Isa as dengan susah payah mengingatkan kaumnya agar tetap bertahan dan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah swt. Namun hingga akhir hayatnya murid setianya hanya 12 orang. Itupun salah satunya mengkhianatinya. Nabi Isa  dijebak dan difitnah hingga akhirnya penguasa menangkap dan memutuskan bahwa beliau harus dihukum salib. Namun atas izin-Nya Isa as diselamatkan-Nya dari kematian yang hina tersebut. Peristiwa ini terjadi pada tahun 33 M.     

“ dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.(QS. An-Nisa (4):157).

Meletusnya Gunung Vesuvius.

Hingga wafatnya nabi Isa as tidak berhasil mengajak kaumnya ke jalan yang benar. Baik penduduk Yerusalem maupun penduduk Romawi, keduanya sama. Mereka bergelimang dalam kesesatan. Ritual dan penyembahan dewa dewi terjadi dimana-mana. Akhlak merekapun sungguh bejat. Perebutan kekuasaan, fitnah, saling bunuh dan kemaksiatan terus saja terjadi. Sementara pengikut nabi Isa yang hanya sedikit itupun terus diburu dan dibunuh. Murkakah Sang Khalik akan hal tersebut ??

Sejarah mencatat bahwa pada masa kekuasaan raja Nero, yaitu pada tahun 62 M terjadi gempa hebat di kota Pompei dan sekitarnya. Sejak itu gempa terjadi hampir  setiap tahun dan mengakibatkan kerusakan yang tidak sedikit. Ketika itu belum diketahui apa penyebabnya. Selanjutnya pada suatu malam ditahun 64 M, terjadi kebakaran besar di kota Roma. Kebakaran hebat yang hanya menyisakan 4 dari 14 distrik Roma ini berlangsung hingga 6 hari tujuh malam.    

Puncaknya adalah bulan Agustus tahun 79 M. Sumur-sumur dan sumber air mengering. Disusul dengan terjadinya gempa selama 4 hari yang makin lama makin kuat. Kemudian tepat satu hari sebelum Vulcanalia, perayaan hari besar dewa api Yunani, terjadi letusan hebat gunung Vesuvius yang terletak tidak jauh dari Naples. Letusan ini didahului dengan terjadinya hujan batu runcing hingga menutupi permukaan tanah Pompei setebal 2.8 m.  Ini terjadi hanya dalam waktu 2 jam yaitu pukul 18.00 hingga 20.00 !.

Setelah itu baru keluar awan panas yang membakar apa saja yang ditemuinya. Gunung Vesuvius meletus. Debu super tebal berterbangan dan mengubur habis kota Pompei, Herculanum, Oplontis dan Stabies berikut penduduknya  yang tidak mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. 

Dan hingga detik ini atas kehendak-Nya kita dapat menyaksikan Pompei yang diselimuti debu dan lumpur tebal berikut jasad-jasad dengan berbagai posisi  masih utuh ditempatnya. Betulkah ini azab Allah swt ? Wallahu’alam ..

 “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong”. (QS.Ali Imran (3):55-56).

Lalu bagaimana pula dengan berbagai bencana yang akhir-akhir ini terus bermunculan di sekitar kita. Apakah ini tanda-tanda  kemurkaan-Nya?  Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat-Nya apalagi mengingkarinya .. Astaghfirullahaladzim ..  

Lebih ironis lagi, ratusan tahun kemudian kitab yang dibawa nabi Isa as ( Injil) malah disatukan dengan Taurat yang jelas-jelas sudah diselewengkan itu. Taurat dinamakan perjanjian lama dan Injil disebut perjanjian baru. 

Wallahu’alam bishawab.

Pau – France, 11 Februari 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

( dari milis tetangga,  OASE IMAN Eramuslim ).

An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa was up early sitting at the kitchen table reading his Qur’an. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in everyway he could.

One day the grandson asked, “Grandpa, I try to read the Qur’an just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?”

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.” The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again.

This time the boy ran faster, but again the basket was empty before he returned home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just not trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try again.

At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show this grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty.

Out of breath, he said, “See Grandpa, it’s useless!”
So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.” The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal-basket and was now clean, inside and out.

Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You might not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah (SWT) in our lives.”

Read Full Post »

Belum lagi trauma gempa yang terjadi di Yogya dan gempa yang mengakibatkan gelombang tsunami raksasa di Aceh pada tahun 2005 hingga menyebabkan hilangnya nyawa ratusan ribu orang, gempa kembali terjadi susul menyusul di bumi kita tercinta, Indonesia. Di Padang, di Kuningan, di Sulawesi dan ntah dimana lagi selanjutnya. Mengapa kita harus terus menerus dalam duka nasional yang begitu mendalam ? Ada apakah ini sebenarnya? Dan apa pula hikmah dibalik semua ini?

Harus disadari bahwa Indonesia adalah negara yang rawan gempa. Karena tanah  air kita  ini selain memang terletak di pertemuan dua gugusan pegunungan api aktif dunia juga terletak di atas pertemuan patahan lempeng bumi. Sementara  itu perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia demikian rawannya terhadap bencana alam. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami adalah satu diantaranya.

Namun betulkah semua ini semata-mata bencana alam ataupun takdir yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan prilaku kita, manusia ?  Pernahkah kita terpikir siapa sebenarnya yang kuasa mengatur semua ini ?

Sebagai negri yang mayoritas beragama Islam tentu kita yakin bahwa  prilaku kita tak pernah sedikitpun luput dari pengawasan-Nya, bukan ? Yaitu dengan adanya malaikat Munkar dan Nakir yang selalu mencatat amal perbuatan kita.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS.Qaaf(50):16-17).

Kita juga tahu bahwa Allah swt mewajibkan kita agar shalat  5 waktu  dalam sehari, membayar zakat dan infak, berpuasa dalam bulan Ramadhan serta menunaikan haji bila mampu. Dan yang tak kalah pentingnya, semua ini harus dilakukan dalam rangka ketundukkan serta ketaatan kita kepada-Nya. Bukan karena riya/pamer  atau hal lainnya. Karena ibadah yang  dilaksanakan bukan dalam rangka ketakwaan hanya akan menghasilkan keburukan seperti kesombongan, korupsi, penindasan dll. Namun tahukah atau pedulikah kita akan akibat dan konsekwensinya bila kita tidak melakukan perintah tersebut?

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”.(QS.Al-An’am ( 6: 42 ).

Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu agar kita dapat mengambil hikmahnya. Allah swt sengaja menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan  dengan tujuan agar mereka mau memohon pertolongan dan  bantuan kepada-Nya. Dengan cara bagaimana ? Yaitu dengan cara tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Menyadari bahwa diri mereka hanyalah hamba yang amat tergantung kepada kekuasaan dan kemauan-Nya. 

Namun bagaimana bila mereka tidak mau menuruti perintah tersebut?  Bahkan mereka menjadi sombong dan congkak! Merasa diri berkuasa, serba pintar dan serba tahu. Padahal semua  yang berada di langit, bumi dan diantaranya itu semua bertasbih, memuja kebesaran-Nya. Mereka ini bergerak hanya sesuai kehendak dan perintah-Nya. Bumi berputar mengelilingi matahari, angin bergerak karena adanya perbedaan tekanan udara, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, adanya gravitasi bumi yang membuat manusia tidak terpental keluar angkasa dsb.

Ini semua adalah aturan-Nya yang sengaja diperlihatkan kepada kita agar kita mau berpikir dan bisa mengambil pelajaran. Allah swt amat menghargai dan bahkan mengangkat derajat orang yang mau mencari ilmu dan pengetahuan. Namun agar mereka lebih bersyukur dan membesarkan-Nya bukan malah menentangnya ! Kesombongan inilah yang menyebabkan hati menjadi keras hingga syaitanpun masuk dan membisiki hati kita bahwa apa yang kita lakukan tersebut adalah baik dan benar.    

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan .(QS.Al-An’am ( 6: 43).

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.(QS.Al-An’am ( 6: 44-45).

Na’udzubillah min dzalik.. Inikah yang saat ini sedang terjadi di bumi pertiwi?? Betulkah kita telah mengabaikan peringatan-Nya? Adakah satu diantara kita yang tidak melaksanakan perintah shalat 5 waktu ? Adakah saudara-saudara kita yang tidak menyalurkan zakat dan infak kepada yang berhak? Adakah diantara kita yang mampu namun terus menunda-nunda keberangkatannya ke tanah suci? Bagaimana pula dengan peringatan keras Rasulullah agar para lelaki shalat secara berjamaah di masjid, setidaknya ketika  shalat Subuh dan Isya? Berapa banyakkah yang telah melaksanakannya? Belum lagi para muslimah yang masih saja senang mempertontonkan auratnya dengan penuh kebanggaan pula … Ya Allah Ya Robb, bukalah hati dan pikiran kami untuk mau memikirkan hal-hal tersebut.

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya marilah bersama kita mengingat-ingat adakah kita telah menerima dan menikmati pintu-pintu kesenangan yang telah dibukakan-Nya lebar-lebar bagi kita? Betapa banyak buah-buahan, sayur-mayur, padi, kentang dll yang Kau tumbuhkan hingga kami tidak menderita kelaparan…  Betapa berlimpahnya kekayaan terpendam bumi pertiwi ini seperti minyak, gas, tambang, mas dll yang Kau tanamkan hingga pihak asing berdatangan dan berebut mengelolanya.  Yang dengannya sebagian dari kami menjadi gembira karena dapat hidup berkecukupan bahkan berkelebihan..Inikah yang dimaksud Istidraj itu ?

Imam Ahmad meriwayatkan dari Uqbah bin Amr bahwa Rasulullah saw bersabda : “ JIka kamu melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba yang bermaksiat sesuai kesenangannya maka itu merupakan Istidraj..”

Ya Allah Ya Tuhan kami.. itukah sebabnya Kau izinkan gunung-gunung memuntahkan isinya, lempengan bumi bergesekan, bumi yang makin hari makin panas serta gempa yang susul menyusul ini ? Kau musnahkan saudara-saudara kami di berbagai tempat dengan sekonyong-konyong hingga ke akar-akarnya…

Inikah peringatan-Mu bahwa hari Akhir  sudah makin dekat sementara kami masih saja terlena dan terbuai akan kenikmatan duniawi yang begitu memabukkan?? Ya Allah Ya Robbi mengapa kami tidak mampu mendengar firman-Mu yang begitu jelas, yang telah Kau sampaikan melalui Rasul-Mu Muhammad saw di dalam kitab suci Al-Quran yang mustinya kami baca setiap waktu dan kami  pelajari baik-baik…

Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  mengapa kami tidak juga mampu mengambil hikmah atas apa yang bolak balik terjadi di bumi kami Indonesia tercinta ini…. Haruskah kami menunggu hingga kesengsaraan dan petaka ini terjadi terhadap keluarga dekat kami atau bahkan diri kami sendiri agar kami sadar atas teguran-Mu??     

Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa“. (QS.Al-An’am(6):69).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 19 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Bukan lagi rahasia bahwa belajar Piano ( klasik) dipercaya mampu meningkatkan intelegensia seseorang, terutama pada anak usia sekitar 10 tahun. Itu sebabnya sejak lama banyak orang tua berlomba memasukkan anaknya ke sekolah musik untuk belajar piano. Mereka ini minimal meyakini bahwa musik mampu membantu mengoptimalkan sekaligus menyeimbangkan antara kemampuan otak kanan dan kemampuan otak kiri. Mereka beranggapan bahwa pendidikan di negri kita yang terlalu berlebihan dalam memberi pengajaran matematika ( IPA) hanya mampu mengasah kemampuan otak kiri. Sementara otak kanan yang mengatur masalah kreativitas, emosi, pengenalan waktu, dan ruang kurang diperhatikan.

Musik klasik akan membawa otak pada gelombang alpha. Gelombang itu menstimulasi serabut-serabut neuron korteks hingga bekerja maksimal. Selain itu gelombang ini mampu membuat suasana menjadi rileks sehingga orang lebih aware, sadar dalam menerima informasi. Nah, itulah yang disebut Efek Mozart” , begitulah salah satu difinisi yang diberikan para pakar musik mengenai Efek Mozart.

Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) adalah satu diantara komponis besar dunia sekelas Haydn, Beethoven dan Bach. Jenis musik pada masa mereka ini dianggap memiliki keunggulan karena iramanya yang teratur dan teksturnya yang sederhana. Hal ini mampu membuat jantung berdenyut dengan normal selain juga dapat membangkitkan perasaan dan ingatan. Sejumlah peneliti menemukan bahwa siswa yang secara teratur mendengarkan musik klasik, terutama karya Mozart, tampak lebih mudah menyimpan informasi dan memperoleh nilai IQ lebih tinggi. Namun mengapa Mozart?

Adalah Dr. Alfred A Tomatis, seorang dokter spesialis THT yang membuat penelitian hubungan antara telinga, suara dan sistim syaraf otak. Ilmuwan Perancis inilah yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa karya Mozart memiliki kemampuan menyembuhkan sekaligus meningkatkan kemampuan otak. Ayah Tomatis adalah seorang penyanyi opera kenamaan. Ialah yang memperkenalkan teman2nya sesama penyanyi ketika mereka mendapat masalah terhadap suara emas mereka.

Berdasarkan pemeriksaan inilah akhirnya Tomatis mengambil kesimpulan bahwa “Suara tidak menghasilkan kecuali apa yang didengarnya”. Selanjutnya iapun berkeyakinan bahwa musik klasik terutama karya Mozart terbukti paling mampu memberikan efek positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Berdasarkan penelitiannya itu, melalui bukunya “Pourquoi Mozart?” yang diterbitkan pada tahun 1991, ia mempopulerkan istilah “ Efek Mozart”.

Benarkah temuannya ini ? Entahlah…. Yang jelas hingga kini teorinya ini masih banyak diperdebatkan orang. Ini pengalaman saya pribadi. Ketika kecil saya pernah belajar bermain piano meski hanya sebentar sekali dan tidak seintensif orang lain atau taruhlah adik saya yang dapat bertahan lebih dari 6 tahun kursus piano di sebuah sekolah musik terkenal di Manggarai, Jakarta Selatan. Saya tidak ingat, atas sebab apa saya tidak serius dan tidak melanjutkannya. Sebaliknya saya justru benar-benar jatuh cinta kepada (suara ) piano setelah dewasa.

Namun pelajaran penting yang dapat saya petik dikemudian hari yang utama adalah keseriusan. Untuk dapat memainkan musik klasik melalui piano seseorang wajib menguasai not balok. Not ini sebenarnya tidak sulit. Yang diperlukan hanyalah konsentrasi. Sementara untuk menguasai hitungan sebuah not diperlukan banyak latihan dan kesabaran. Tetapi untuk menjadi lihai itu saja tidak cukup. Diperlukan adanya keterlibatan emosi, yaitu dengan banyak mendengar karya-karya klasik komponis besar. Padahal untuk mendengar musik jenis ini diperlukan ‘kekhusyukan’ dalam arti, tidak dalam keadaan tergesa-gesa dan brisik. Perlu suasana yang tenang.

Sekarang mari kita bandingkan dengan mendengar dan membaca Al-Quranul Karim. Membaca Al-Quran jelas ada aturannya. Yang pasti kita harus kenal huruf, sifat dan cara pengucapannya yang benar dan tepat. Setelah itu kita harus tahu hitungan panjang pendeknya ; 2, 3, 4 atau 5 harakat. Atau singkatnya Tajwidnya. Dengan mengetahui harakat inilah akhirnya akan terbentuk nada indah suatu ayat. Untuk membaca Al-Quran dengan benar diperlukan keseriusan. Kita dituntut untuk awas. Karena sebelum selesai membaca huruf yang ada dihadapan kita, kita sudah harus tahu huruf, panjang dan sifat huruf selanjutnya. Kita juga dituntut untuk tahu dimana kita harus berhenti, sebaiknya berhenti atau jangan berhenti. Karenanya kita diminta untuk membaca kitab suci ini dengan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa.

 “…. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.(QS.Al-Muzammil (73):4).

Sebagian diantara kita mungkin pernah mengetahui adanya anjuran agar ibu yang sedang mengandung banyak mendengar ayat-ayat Al-Quran. Kita juga tentu tahu adanya perintah untuk diam ketika ayat-ayat suci dilantunkan, bukan?

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.(QS.Al-‘Araf(7):204).

Demikian juga ketika kita shalat, Allah memerintahkan kita agar membaca ayat-ayat dengan suara yang sedang, tidak terlalu keras hingga mengganggu orang lain tetapi juga tidak terlalu pelan. Para ulama sepakat cukup terdengar oleh telinga kita.

 “ Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu“(QS.Al-Isra (17):110).

Mengapa Allah swt memerintahkan yang demikian ? Seorang Muslim yang taat dan patuh tentu tidak memerlukan jawaban. Karena ia yakin dibalik semua perintah-Nya pasti ada hikmah terselubung. Namun dengan adanya temuan Dr. Tomatis diatas sekarang kita tahu persis apa hikmah terselubung tersebut. Yaitu bahwa pendengaran, suara dan syaraf adalah sebuah mata rantai yang saling berkaitan secara amat  istimewa.

Saya sering mendengar kabar bahwa orang tua / uzur yang rajin membaca Al-Quran meskipun ia tidak memahaminya jauh lebih baik daya ingatnya dibanding orang tua yang jarang atau tidak pernah membaca Al-Quran. Mereka lebih sehat dan tidak cepat pikun bahkan dibanding orang yang dulunya aktif bekerja sekalipun.

Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan.”

Saya juga pernah membaca berita tentang cara pengobatan baru di sebuah rumah sakit di  Belanda dimana terapis ( bukan Muslim ) melatih pasien ( yang juga bukan Muslim) untuk melafalkan kata ‘Allah ‘ dengan pengucapan khas Muslim sebanyak mungkin. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Kemampuan syaraf mereka yang tadinya terganggu menjadi membaik !

Jadi jelas, hikmah dari membaca Al-Quran secara teratur dan benar sekalipun tidak mengerti maknanya ternyata tidak hanya mendatangkan pahala di akhirat nanti namun juga bermacam kebaikan, diantaranya yaitu tadi, dapat meningkatkan daya ingat, membersihkan,  menentramkan sekaligus  melembutkan hati baik si pembaca maupun si pendengar.

…. Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia“, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“.(QS.Al-Baqarah( 2):200-201).

Akhir kata, semua kembali kepada niat kita. Allah akan mengabulkan permohonan dan usaha seseorang sesuai dengan niatnya ; duniawi, akhirat atau keduanya. Alangkah beruntungnya manusia yang meminta kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Sungguh Al-Quran itu petunjuk sekaligus obat dan penyembuh baik penyakit fisik maupun mental.

 “ …… Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”.(QS.An-Nahl(16):69.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.(QS.Yunus (10):57).

Sayang Dr Tomatis tidak sempat ( atau tidak mau ?) meneliti hal ini. Kalau sempat saya yakin pasti ia akan langsung mengakui kebesaran-Nya dan  ber-syahadat !

Berikut tulisan menarik dari milis tetangga, click here.

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 13 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »